Jumat, 28 Desember 2018

Bagaimana jadinya kalau Petinggi Organisasi Gagal Paham

Jakarta, 28 Desember 2018. Ada satu pengalaman baru terjadi ketika diajukan suatu fakta kepada petinggi Barisan Atlet Tenis Veteran Indonesia yang baru naik jabatan sebagai orang kedua diinduk organisasi tersebut.. Tetapi karena salah tanggap dikiranya ingin ngerecohin justru langsung menyatakan kalau AFR dianggap LOYALITAS nya diragukan oleh nya.

Kesimpulan kalau bacar chatting nya ada gagal paham yang awamnya yang ditudingkan kepada  AFR yang gagal aham dalam berorganisasi. Itulah fakta yang terjadi. 

Langsung memberitahukan  soal keabsahan organisasi tersebut seolah olah hanya organisasi Barisan tersebut yang sah dimata Pemerintah karena sudah mempunyai AD ART . Dan penyelenggara turnamen veteran lainya diluar organisasinya diangap liar. 
Tetapi karena minim pengalaman karena baru satu dua tahun ikut dalam organisasi olahraga Barisan ini maka sudah merasa super tahu. Langsung juga diingatkan kalau Pelti (persatuan tenis seluruh Indonesia) itu juga sudah punya AD ART dan sudah mendapatkan pengakuan dari Kementrian Hukum dan HAM sebagai badan resmi olahraga tenis di Indonesia.. Dan Pelti terdaftar di KONI Pusat maupun Kemenpora,  

Rabu, 26 Desember 2018

Mimpi Pembinaan Tenis Indonesia

Jakarta, 26 Desember 2018. Bagaimana hasil pembinaan tenis di Indonesia?  Demikian muncul pertanyaan  sehari hari, baik datang dari rekan2 lama maupun dalam diri sendiri. Memang suatu mimpi yang indah jikalau bisa ikut aktip langsung dalam pembinaan tenis di Indonesia. Bukan berarti harus duduk dalam organisasi tenis yaitu Pelti tetapi sebagai masyarakat tenis diluar oragnisasi tentunya bisa berbuat sesuatu karena tenis adalah olahraga individu.

Masalah saat ini adalah mindset pelaku tenis yang harus diubah  karena sudah terlalu cepat puas dan juga berkeinginan semuanya instant. Hal yang tidak mungkin suatu pembinaan olahraga khususnya tenis serba instant.
Terlalu cepat puas untuk mendapatkan hasil. Khususnya jika mengharapkan dana yang sudah dikeluarkan segera dikembalikan sebagai imbal baliknya. Bisa dilihat jikalau ada multi event maka pelaku tenis berlomba lomba baik itu pelatih maupu orangtua atlet, untuk bisa mendapatkan penawaran tertinggi. Ini katanya sebagai imbal balik pembinaan yang sangat butuh modal dana besar. Tetapi apa lacur sudah ketika sudah mendapatkan bonus hasil dalam multi event yang jumlahnya ratusan juta rupiah maka hilang sudah program pembinaan yang selama ini didengung dengungkan kesulitan dana. Seharusnya dana yang didapat sebagai modal investasi pembinaan kedepan. Tetapi harus dimaklumi karena atlet tidak bisa berpikir sebagai manager bagi dirinya dalam pengelolaan dana yang didapat. 
Jika berkeinginan tenis sebagai karier maka mindset sanga atlet juga perlu diubah. Konsentrasi dalam turnamen Po Circuit dimana ada prize moneynya maka turnamen itu ladang pencari nafkah.

Disinilah letak permasalahan sebenarnya. Jika sudah merupakan ' Goals" dari setiap atlet melalui orangtua maupun pelatihnya dimana seharusnya diubah menjadi Go International agar bisa menjadi atlet elite alias internasional. 

Selasa, 25 Desember 2018

Bagaimana Nasib RemajaTenis di 2019 ?

Jakarta, 25 Desember 2018. Menjelang akhir tahun 2018, banyak pertanyaan muncul terhadap kelangsungan pelaksanaan RemajaTenis di tahun 2019. Ini akibat dari ketidak senangan rekan rekan pelaksana turnamen sejenis terhadap perilaku dari petinggi iinduk organisasi tenis di Indonesia. Informasi simpang siur terhadap keinginan rekan rekan untuk menghentikan kegiatan turnamen tersebut di tahun 2019 mendatang , cukup menggoda hatipara orangtua petenis yunior.
Bahkan anjuran agar tetap jalankan program turnamen tersebut karena sebagian besar tidak terlalu peduli terhadap kategiri TDP Junior tersebut. " Kami butuh Turnamen." itulah jawaban mereka.

Ketika ditanyakan kepada August Ferry Raturadang selaku pemekarsa RemajaTenis sejak 2009, maka tentunya timbul keragu raguan karena belum mengenal visi dan misi dari awal tentang RemajaTenis. Langsung dijawab apakah diragukan komitmen AFR tehadap pertenisan Indonesia. " Apakah saya harus istrahat dari pertenisan Nasional ?" ujarnya dilapangan tenis Marinir Cilandak.

Untuk kedepannya so pasti dilihat jadwal keseluruhannya. Tapi harus diakui kalau kelesuan itu juga ada akibat seperti dialami rekan rekan semuanya, tetapi disatu sisi tentunya ingat kembali sejarah lahirnya konsep RemajaTenis maka konsistensi tetap akan dipertahankan juga.
Tetapi ambisai AFR terhadap pelaksanaan RemajaTenis belum mencakup keseluruh Indonesia masih menyala nyala.Karena saat ini baru 22 Provinsi dan Indonesia itu ada 34 provinsi.

Bahkan bermimpi akan juga ikut dalam pembinaan selain turnamen jikalau memungkinkan. Penasaran terhadap hasil selama ini pertenisan Indonesia belum berhasil mendunia. Sudah ada yang muncul dikalangan yunior secara aktip ikuti ITF Junior World Ranking diluar negeri tetapi jumlahnya hanya 2 atlet saja yaitu Priska Nugroho dan Janice Tjen, tetapi untungnya dikelompok putri yang aktip ikuti ITF Pro Circuit sudah ada 3 yang jumlahnya masih termasuk minim, yaitu Aldila Sutjiadi, Beatrice Gunmuya, Jessy Rompies. Yang menyeduihkan justru putranya dimana hanya Christopher Rungkat masih konsisten berkecimpung diturnamen internasional khususnya bertanding gana saja.

" Kemana putra putra lainnya ? ".

Jumat, 21 Desember 2018

Baru 2 Tahun Sudah Mulai Goncang

Jakarta, 20 Desember 2018. Upaya menggeser posisi sesorang didalam organisasi olahraga sering terjadi dengan berbagai cara. Hal seperti ini terjadi juga di dunia Tenis Indonesia.

Terlihat di Barisan Atlet Veteran Tenis Indonesia  yang baru berusia 2 tahun, karena telah memisahkan diri dari PP Pelti.

Jika diikuti dari beberapa bulan lalu sudah mulai terlihat ketidak senangan terhadap rekan sendiri didalam kepengurusan tersebut. Hal ini sering diungkapkan setiap rapat dimana rekan yang dimaksud tidak hadir.  Penyebab ketidak hadiran tidak mau dilihat karena sudah menuju kepada keinginan sekelompok saja bukan kepentingan keseluruhannya.
Memang kalau dilihat sejak ada kegiatan maka mulailah terlihat hal hal yang cukup subjektip akibat ketidak senanganan belaka. Kegiatan apa saja bisa terjadi sebagai sumber ketidak cocokan antar pengurus.

Kurang lebih seminggu yang lalu muncullah kejadian yang kurang etis sebenarnya. Karena dalam rapat resmi  yang sebenarnya mutlak harus diikuti anggota pengurus tetapi masih tampak ada beberapa anggota rapat yang ternyata bukan anggota pengurus. Ini sedikit aneh tapi nyata terjadi.

Bulan September lalu terbentuk tim yang tugasnya mengevaluasi kinerja dari anggota pengurus yang ternyata perlu diganti bahkan ada yang dicoret. Kejadian yang sama juga di PP Pelti dimana sejak 1 Oktober 2018 jabatan sekjen diganti dengan muka baru. Pergantian ini adalah sah sah saja.

Tim yang terdiri dari beberapa person dimana hanya satu saja mewakili bidang organisasi yang seharusnya berperan penuh tetapi ternyata diketuai oleh Ketua Harian Pengurus Pusat.

Sabtu, 15 Desember 2018

Desember Ceria


Jakarta, 15 Desember 2018. Memasuki akhir  tahun 2018 yang mempunyai kenangan manis dalam kehidupan sehari hari khususnya didunia pertenisan Indonesia. Tepat sudah setahun lalu kenangan manis dimulai dari awal Desember (2017). Mulai dari tilpon salah satu rekan tenis yang juga beberapa hari sebelumnya ikut berperan diajang Musyawarah Nasional Persatuan Tenis seluruh Indonesia (PELTI) dikota Banjarmasin, tepatnya 25 Nopember 2017.

Dalam percakapan tilpon disebutkan kalau AFR kena fitnah. Info berkembang dikubu pemenang pemilihan Ketua Umum PP Pelti 2017-2023. AFR dikatakan masuk sebagai tim sukses GW. Yang menyebarkan berita tersebut adalah salah satu pelatih yang dikenal baik oleh AFR.
" Bukan masalah bagi saya. Biarkan saja dan saya tidak berambisi duduk dalam kepengurusan PP Pelti sekarang." ujar August Ferry Raturandang menanggapi pemberitahuan pertilpon tersebut.

Sebelum Munas kedua kubu mencoba mendekati AFR. Yang pertama datang yaitu awal Juli 2017 grup RAA yang sekarang menjadi pemenang Munas. Diundang kerumah orang kepercayaannya  di Bogor. Hasil pertemuan mendapat dukungan kegiatan AFR dalam turnamen RemajaTenis didaerah saat itu di Kalimantan Tengah dalam bentuk sponsor dana. Wajar saja menjelang Munas ikut sponsor turnamen2 tenis yang sedang digandrungi masyarakat sebagai bentuk kepedulian untuk menarik simpati. Ada beberapa turnamen sudah disponsorinya juga selain RemajaTenis. Saat itu AFR hanya beri anjuran kepada salah satu tim suksesnya yaitu kerja keras karena ada alasan  saat itu.dimana peserta Munas adalah utusan Pengda tidak menghendaki calon Ketua Umum datang dari kalangan birokrat. Langsung ditanyakan kapan pensiunnya.

Kamis, 13 Desember 2018

Kriteria Seleksi Atlet Diperbincangkan

Jakarta,  11 Desember 2018. Dalam pertemuan singkat  yang tidak direncanakan antara pelatih tenis dan juga ada mantan ketua umum PP Pelti terjadi dialog yang cukup menarik karena keprihatinannya terhadap dunia pertenisan nasional saat ini.

Kriteria pemilihan pemain untuk masuk dalam tim nasional baik untuk kelompok umur 12 tahun dan keatas dibahas bersama. Sedangkan mantan ketua umum mengatakan dieranya sudah dibuat kriteria kriteria tersebut dan diumumkan jauh jauh hari. Sebagai contoh untuk 2019 maka bulan Oktober 2018 sudah dibuat edaran ke Pengda Pengda kriteria seleksi masuk dalam tim nasional untuk 2019.

Tetapi informasi dari salah satu pelatih mengatakn kalau saat ini sudah ada kriteria kriteria tersbut yang diawali dengan berdasarkan ATP-WTA Tourrank sebagai persyaratan pertama kemudian nomor duanya ITF ranking kemudian PNP  Tetapi yang dianggap lucu adalah ada ketentuan performance selama setahun. Ini yang jadi lebih subjektip. Alangkah indahnya jika keinginan pengurus yang bertanggung jawab kebetulan juga profesi sebagai pelatih aktip bisa diperhalus dengan istilah wild card saja . Karena wild card itu adalah hak penyelenggara.

Yang jadi pertanyaan jika sudah ada kriteria yang dibuat, tetapi tidak disebar luaskan ke masyarakat tenis melalui Pengda Pelti. Sebenarnya website Pelti juga bisa digunakan sebagai sarana komunikasi tercepat. 

Senin, 10 Desember 2018

Peringkat Dunia Petenis Nasional diakhir Tahun 2018 memprihatinkan

Jakarta, 10 Desember 2018. Menutup tahun 2018 perlu juga dievaluasi hasil kerja PP Pelti 2017-2022 yang baru setahun memimpin pertenisan nasional Indonesia. Awal tahun menunjukan tanda tanda positive bagi pertenisan nasional dengan keberhasilan tim Fed Cup, Davis Cup dan ditutup dengan medali emas di Asian Games 2018. Harus diakui kalau sudah lama medali emas belum kembali ke Indonesia tetapi sewaktu jadi tuan rumah petenis nasional bisa memanfaatkan peluang yang didapat. Itu berhasil.

Setelah keluar peringkat dunia baik oleh ATP-Tour maupun WTA-Tour, maka harus mulai membuka mata karena sangat mencengangkan sekali. Belum lagi upaya mengatasi masalah pembinaan  selama ini sudah bertahun tahun petenis Indonesia berteriak teriak jika butuh turnamen internasional baik putra maupun putri. Upaya menggelar ditahun 2018 sudah ada sebagai kelanjutan program PP Pelti 2012-2017
Di tahun 2018 sempat diadakan 6 turnamen ITF untuk putra dan putri . Ini menunjukkan masih meneruskan program yang telah dilakukan oleh PP Pelti 2012-2017. Alangkah indahnya jika ditahun 2019 juga diteruskan dan bisa ditingkatkan jumlahnya. Tahun 2018 sudah 3 turnamen Pro Circuit $ 15,000 untuk putra di Jakarta kemudian ditambah 3 turnamen Pro Circuit untuk putri diselenggarakan di Jakarta. Memang tidak sedikit beaya dikeluarkan untuk keenam turnamen tersebut. Apalagi dilaksanakan untuk selama 3 minggu berturut turut  baik putra maupun putri.

PELTI Ingin Tertib Organisasi

Jakarta, 10 Desember 2018. Organisasi tenis Indonesia dikenal dengan Persatuan Tenis seluruh Indonesia (Pelti) menginginkan tertib organisasi, seperti yang diungkapkan oleh Wakil Ketua Umum PP Pelti kepada AFR saat sore ini berkunjung ke sekretariat PP Pelti Senayan,
Tujuan ke sekretariat PP Pelti ada dua hal yang ingin ditanyakan langsung yaitu masalah SK TDP RemajaTenis Sumsel XVII dan Kalender TDP (tentative) 2019

Disaat berbincang dengan administrator Pertandingan PP Pelti sambil melihat kalender TDP 2019 di komputer muncullah Wakil Ketua Umum PP Pelti yang langsung berbicara kepada administrator Pertandingan PP Pelti. " Semua info keluar harus mendapatkan ijin dari sekjen PP Pelti, kita mau tertib organisasi. Pak Ferry sebagai orang luar belum bisa dapat jika belum dapat ijin dari sekjen PP Pelti. Kecuali pak Ferry dapat bocoran."  Gaya seperti ini bukan hal yang asing bagi AFR

Tertib organisasi memang sudah lama didengung dengungkan oleh Wakil Ketua Umum PP Pelti, hanya yang jadi masalah sekarang apakah kalender TDP 2019 itu juga harus melalui birokrasi seperti hal diatas. Jikalau memang kehendaknya seperti itu maka masyarakat tenis harus sudah siap menerima keterlambatan terus yang tidak habis habis.

Minggu, 09 Desember 2018

Sering Kedaerah Terungkaplah Kinerja Pelti

Jakarta, 9 Desember 2018. Makin sering berkunjung kedaerah makin sering dapatkan informasi tenis didaerah daerah tersebut bahkan bisa juga kedaerah lainnya. Muncul kesadaran masyarakat didaerah akan kebutuhan akan turnamen. Harus diakui saat ini populasi tenis didaerah juga sudah berkembang. Hanya disayangkan induk organisasi tenis didaerah masih sangat lemah kinerjanya. Baik ditingkat Pengda maupun Pengcab. Jarang sekali terlihat kinerja Pengcab lebih baik daripada Pengda tetapi ada saja Pengcab yang lebih aktip dibandingkan Pengdanya.
Kunjungan kedaerah lebih menyenangkan apalagi jika dilakukan kedaerah daerah yang belum pernah dikunjungi. Hal seperti ini menambah ketertarikan bagi pelaku tenis yang memang berniat memajukan tenis didaerah daerah. Harus diakui banyak sekali lips service yang muncul disaat diadakan mpemilihan Ketua baik ditingkat Pusat maupun Daerah dan Cabang.

Tahun 2018, muncul beberapa Pengda sudah lakukan Musyawarah Daerah Pelti dengan memiliih ketua barunya dan bahkan masih ada lagi menunggu kepastian Musda tersebut. Kenapa kelihatan kurang tanggap adakan Musda ataupun Muscab. Kendalanya hanyalah Dana saja sehingga lupa akan kewajiban setelah habis masa berlakunya , harus bisa lakukan Musda ataupun Muscab Pelti.
Sehari yang lalu di Pekanbaru telah terpilih Ketua Pengda Pelti Riau masa 2018-2023, sedangkan Pengda Pelti Jawa Barat masih menunggu waktu yang tepat. Yang dimaksud yang saatadalah menunggukepastian calon Ketua baru. Sehingga tidak lain dibutuhkan dana pelaksanaan Musda tersebut mau dilimpahkan ke calon ketua baru tersbut. Kasihan.
'Setelah terbentuk kepengurusan tersebut, kira kira apa programnya. 

Turnamen Veteran diselenggarakan oleh Baveti dan Pelti

Jakarta, 9 Desember 2018. Tenis di Indonesia saat ini lagi on fire. Kenapa demikian karena jika dilihat didaerah daerah ,meakin semarak kejuaraan tenis VETERAN disamping yuniornya. Siapa pelaksananya, ternyata rekan rekan Pengcab Pelti didaerah daerah tersebut. Mulai di Sumatera kemudian di Jawa pun hampir setiap 2 bulan ada kegiatan turnamen veteran. Bahkan saat RemajaTenis di Blora Jawa Tengah diselenggarakan pula turnamen veteran bersamaan dengan yunior, berkat kerjasama dengan Pengcab Pelti Blora.

Nah, di Indonesia ada 2 badan yang mengurusi tenis Veteran yaitu Pelti dan Baveti. Awalnya dalam kepengurusan Pelti terdapat komite veteran kemudian menjadi badan badan seperti juga dengan badan kepelatihan pelatih Pelti. Tetapi sejak kepengurusan PP Pelti 2012-2017, Badan Veteran yang saat itu bernama Badan Veteran Tenis Indonesia (BAVETI) dihapuskan dalam struktur kepengurusannya. Entah dari mana datang inisiatip penghapusan tersebut sehingga hilang dari daftar pengurus pusat  Pelti. Tetapi Baveti sendiri saat itu masih giat adakan kegiatan kegiatan turnamen sehingga semaraknya tenis di Indonesia tetap mewarnai pertenisan nasional, walaupun di sektor selain veteran saat itu sangat lesu.

Tetapi sejak 2016, Baveti melepaskan diri dari PP Pelti akibat perlakukan yang tidak bisa diterima oleh pengurus Baveti sendiri. Salah satu contoh saat itu, Baveti minta ruangan untuk berkantor sekretariat Baveti ke sekretariat PP Pelti, mendapatkan sambutan tidak simpatik. Akibatnya Baveti langsung menyatakan berdiri sendiri dengan membuat Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sendiri. Bahkan kepanjangan Baveti yang awalnya Badan Veteran Tenis Indonesia berubah menjadi Barisan Atlet Veteran Tenis Indonesia. 
Bahkan PP Baveti mendaftarkan ke Kemenhukam RI untuk mendapatkan pengakuannya.

Rabu, 05 Desember 2018

Sikap Sok Tahu

Jakarta, 5 Desember 2019. . Jika Anda mendengar istilah “Sok Tahu “, tentunya punya bermacam macam penafsiran. Bisa negatip dan bisa positip, tergantung lihat dengan kacamata apa. Bahkan jika Anda dikatakan Sok Tahu tentunya punya berbagai sikap. Bisa marah besar tetapi bisa juga justru membanggakan. Kalau saya sendiri justru sering praktekkan dalam kehidupan sehari hari sejak dulu berkecimpung dipertenisan khususnya internasional.
AFR  pribadi sering bersikap “sok tahu” karena tentunya tidak mau dikatakan tidak tahu. Karena dengan “sok tahu”, digunakan sebagai senjata terhadap orang luar (asing), sehingga akan ada respek yang datang dari phak asing. Bisa dikatakan senjata pamungkas terhadap serangan terhadap dirinya.

Sering dalam perjalanan pelaksanaan turnamen internasional, AFR berkomunikasi dengan tenaga tenaga yang ahli dipertenisan dunia. Komunikasi ini bisa digunakan sebagai pembelajaran  terhadap pertenisan internasional.
Jadi sok tahu ini bukanlah AFR gunakan untuk masyarakat tenis Indonesia.
Setiap pelaksanaan turnamen tenis internasional, AFR sering berdiskusi dengan ITF Referee yang datang ke Indonesia. Didalam pembicaraan mengenai peraturan maka disinilah AFR beraksi sebagai sok tahu itu. Dampaknya tenaga ITF tersebut jadi respek bahkan sampai saat ini komunikasi dengan ITF Referee jika punya kesempatan bertemu.

Kejadian muncul  adu argumentasi dengan petugas ITF Referee diturnamen Men’s Futures di Balikpapan (Mr. Puneet Gupta) . Sewaktu dipertanyakan dalam pembicaraan telpon saat itu  Referee mengatakan tidak bisa. Tapi karena penasaran juga, esoknya di Kemayoran ada Women’s Circuit dimana Refereenya berbeda dan maka kesepatan bertnaya akibat penasaran dengan jawaban Referee di Balikpapan, maka  ingin dapat jawaban secapatnya.

PNP Dikelola Pihak Ketiga ??

Jakarta, 5 Desember 2018. Pelti telah mengeluarkan salah produknya adalah Peringkat Nasional Pelti atau PNP. Setiap Turnamen Diakui Pelti (TDP) menghasilkan angka angka masuk kedalam PNP. Setiap Referee ditugaskan melaporkan hasil TDP ke PP Pelti dalam waktu 3 hari setelah pelaksanaannya. Dikirim langsung ke PP Pelti 
Yang jadi pertanyaan saat ini sebelum dikeluarkan secara resmi harus diketahui dulu oleh penangung jawab PNP.

Dulu sempat PNP dikeluarkan oleh salah satu wasit yang cukup kompeten soal perkomputeran karena jebolan sekolah komputer. Kebijakan ini di tahun 2012-2017.  Walaupun dikerjakan oleh pihak ketiga tetapi yang berhak mengeluarkan secara resmi tetap PP Pelti.

AFR pernah diminta oleh masyarakat tenis agar membuat Peringkat sendiri tetapi dengan pertimbangan agar tidak membingungkan masyarakat sendiri maka permintaan tersebut ditolak. Cukup hanya satu saja peringkat nasional tenis yaitu oleh PP Pelti.

Yang jadi pertanyaan sekarang, justru website Pelti PNP yang dicantumkan diwebsite resmi Pelti sangat terlambat. Bisa dibayangkan saat ini yang keluar PNP 1 April 2018.
Tetapi kalau didunia maya bisa didapatkan PNP terakhir yang justru lebih update dibandingkanPP Pelti. Justru pihak ketiga salah satu website bisa mengeluarkan PNP tersbut. Hal seperti ini sangatlah membahayakan PP Pelti sendiri karena bisa jadi dibuat keinginan sponsor maka bisa berabe.

" Dari mana Pelti Dapatkan Dana ? "

Jakarta, 5 Desember 2018. Ada satu pertanyaan muncul fari masyarakat tenis di Indonesia. " Dari mana Pelti mendapatkan dana? "  Karena dipikiran masyarakat tenis kalau Pelti mendapatkan dana rutin dari Pemerintah. Idealny begitu, tetapi ada kira2 49 Cabang Olahraga di Indonesia. Aktivitas setiap cabang olahraga berbeda beda. Ada yang bisa memanfaatkan dana Pemerintah sebaik mungkin,

Bantuan Pemerintah sudah pasti ada, hanya saja apakah dana tersebut bisa mengatasi beaya operasional cabang olahraga. Seperti Pelti, setiap tahun terima dana sekitar Rp 80 juta khusus untuk dana sekretariat. Ada yang merasa cukup tetapi untuk Pelti yang mempunyai akitivitas cukup tinggi tentunya tidak bisa tinggal diam. 
Bisa dibayangkan Pelti sendiri beaya operasional saja mencapai Rp 25 juta perbulannya. Mungkin sekarang bisa lebih besar. Itu beaya sekitar Rp 25 juta terjadi 7 tahun silam.

Ada suara miring justru kehadiran  dua yayasan yang dibnetuk sejak tahun 1990 yaitu Yayasan Pengembangan Olahraga Tenis Indonesia (Yaporti) dan Yayasan Mitra Kencana. Saat ini kedua Yayasan tersebut kurang jelas peranannya terhadap Pelti. Jika Yaporti sudah dikenal hasilnya dengan keberadaan dari Pusat Tenis Kemayoran yang saat ini sudah tidak berbekas karena menjadi Athlete's Village sewaktu Asian Games dan Asian Paragames 2018. Dana telah terkumpul mencapai miliaran sedangkan Mitra Kencana sepertinya terkubur tanpa terlihat aktivitasnya atau peranannya terhadap pertenisan nasional yang sangat butuh dana besar.

Melihat contoh dari International Tennis Federation (ITF) sumber dana didapat justru dari kegiatan turnamen disamping ada iuran anggota ITF yang besarnya berbeda beda tergantung kemampuan setiap National Association. Karena ada dampak lainnya jika hendak meminta VOTE . Pelti sendiri saat ini jika tidak berubah telah mendapatkan 5 Vote. Ini pengaruhnya jika ada pemilihan President ITF. Jadi setiap negara beda Votes. Dan keuntungan lainnya adalah bantuan kembali ke setiap negara tergantung besar kecilnya Votes tersebut.

Selasa, 04 Desember 2018

Ketelitian Referee Sangat Dibutuhkan

Jakarta, 3 Desember 2018. Disetiap pelaksanaan turnamen nasional khususnya kelompok yunior, sering terjadi hal hal yang sebenarnya bisa diatasi jika ada kerjasama maupun ketelitian bagi panitia dengan petugas Referee selaku penanggung jawab yang ditunjuk oleh PP Pelti.
Di tahun 2008, ada 2 kasus yang masuk dalam laporan langsung kepada August Ferry Raturandang dari lapangan disaat setelah undian dilakukan oleh Referee. Kedua kasus ini terjadi di kota yang sama, yaitu Bandung.. Koordinasi antara petugas Referee dengan Panitia dibawah komando Direktur Turnamen sehingga tujuan awal melayani petenis sebagai peserta agar tidak dirugikan bisa terealiser dengan baik. Jika hal ini dilakukan dengan baik, maka tidak perlu terjadi peserta yunior sudah merasa mendaftar dengan telah membayar entry fee tetapi namanya tidak ada di draw yang sudah dikeluarkan keesokan harinya. Disini perlu ketelitian bagi seorang Referee, sebelum dilakukan undian sebagai tugas mutlaknya ditempat (referee on site), maka pengecekan nama nama peserta sudah harus dilakukan sendiri.
Kasus pertama yaitu sewaktu turnamen internasional yunior Oneject Indonesia akhir Juni 2008. Ada 4 petenis putra asal Jepang sudah hadir ditempat tetapi tidak ada namanya di draw yang dibuat Referee. Masalahnya adalah keempat petenis tersebut sudah membayar dan ada bukti buktinya,sedangkan ada 4-5 tempat kosong (bye) dibabak kualifikasi tersebut. Kenapa bisa terjadi demikian. Referee merasa tugasnya hanya di persiapan undian yaitu dialkukan sign-in, sedangkan bendahara melalui tugas Direktur Turnamen menerima uang masuk. Banyak pihak terutama petugas Referee merasa tidak perlu atau tidak mau tahu apakah peserta sudah bayar atau belum. Jika hal ini yang terjadi maka menunjukkan tidak ada kerjasama yang baik dengan Panitia dan Referee. Hal ini tidak perlu terjadi, jika Referee mau kerjasama dengan baik. Hal ini sering dilakukan Referee asing yang bertugas di Indonesia. Kerjasama ini selalu ditonjolkan, bukan berarti panpel bisa mengatur tugas Referee.

Sebaiknya RemajaTenis dikembangkan

Jakarta, 3 Desember 2018 "Sebaiknya RemajaTenis dikembangkan." ujar rekan Johannes Susanto   kepada saya disiang yang indah ini diawal tahun 2010. Memang keinginan mengembangkan bukan hanya RemajaTenis tetapi juga ke turnamen tenis lainnya sudah ada didalam pemikiran selama ini . Bahkan saya sudah mulai mengembangkan turnamen turnamen diluar DKI Jakarta, dan Puji Tuhan sudah beberapa daerah mau mengikuti anjuran saya.
Yang jadi masalah semua ini saya kerjakan sendiri, mulai dari membuat konsep sampai persiapannya. Tapi inilah seninya, untuk mengisi waktu luang bisa berbuat sesuatu.

Suatu saat diawal tahun 2010  sayapun menerima telpon dari rekan Muhammad di Tarakan. Dia itu kalau tidak salah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kotamadya Tarakan. Keinginan Muhammad menyambut baik inisiatip saya agar dikota Tarakan diselenggarakan lagi turnamen yunior skala nasional. Konsep saya dengan RemajaTenis bisa diterimanya. Memang kota Tarakan setiap tahun selenggarakan turnamen internasioal Women's Circuit dan tahun lalu pernah selenggarakan turnamen nasional yunior.

Sepengetahuan saya, setiap daerah punya keinginan yang sama hanya bedanya mereka itu tidak tahu bagiamana caranya. Sebagai contoh setelah saya perkenalkan Remaja Tenis di Medan, hari ini saya juga terima SMS dari Medan salah satu rekan yang juga pengurus Pelti kota Medan. Minta ijin mau selenggarakan Remaja Medan Bangkit seri kedua dengan menggunakan nama Remaja Medan Bangkit-2. Bagi saya bukan masalah karena kepentingan tenis di Medan itu lebih penting daripada kepentingan sendiri.

Optimalkan Potensi Pengcab Pelti

Jakarta, 4 Desember 2018. Mengoptimalkan potensi Pengcab Pelti sebagai salah satu solusi atas mandeknya pembinaan tenis di Indonesia. Di era otonomi daerah saat ini sudah bisa memanfaatkannya. Kenapa anjuran ini harus dilakukan. Karena induk organisasi tenis yaitu Persatuan Tenis seluruh Indonesia alias Pelti telah memiliki Pokok Pokok Program Kerja untuk 5 (lima ) tahun mendatang.Program Kerja ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pertenisan di Indonesia dalam rangka menunjang sumber daya manusia pada umumnya. Pelaksanaan program kerja selama 5 tahun dirinci dalam rencana  kegiatan operasional tahunan serta pelaksanaan kegiatan insidential lainnya, Oleh karena itu pokok pokok program kerja ini harus dapat dilaksanakan secara simultan dan integral oleh semua jajaran Pelti dengan menggunakan prinsip prinsip koordinasi, informasi dan kesederhanaan,

Pelti bertanggung jawab sebagai administratr, regulator, fasilitator dan juga sebagai event organizer kegiatan.

Seperti telah diketahui kalau ada Pengurus Pusat Pelti, Pengurus Daerah Pelti dan Pengurus Cabang Pelti. Nah, PP Pelti sebagai komando dan Pengda ada 34 sedangkan Pengcab ada 514 sesuai dengan banyaknya Kabupaten dan Kotamadya yang ada.

Senin, 03 Desember 2018

Bagaimana Caranya agar efisien

Jakarta, 3 Desember 2018. Muncul satu pertanyaan datang mengenai bantuan Pemerintah terhadap Induk Organisasi cabang olahraga Tenis selama ini. Semua pihak bertanya tanya sampai dimana peranan Pemerintah dalam mendukung kegiatan Induk Organisasi Olahraga di Indonesia. Karena tentunya induk olahraga ini sebagai NGO atau LSM yang selama ini ada bantuannya dari Pemerintah melalui Kemenpora.
Sudah pasti bantuan tersbut pernah diperbincangkan bersama Ketua Umum PP Pelti saat mendapatkan sambungan tilpon langsung dibulan Nopember lalu. Ketika era Martina Widjaja selaku Ketua Umum PP Pelti dikatakan adanya Yayasan Pengembangan Olahraga Tenis (Yaporti) cukup membantu kendalan dana bagi PP Pelti. Tetapi saat ini tentunya PP Pelti tidak ada jalur khusus kecuali mendapatkan sponsor dari rekan rekan yang ada.
Yang jadi pertanyaan adalah bagaimana keadaan Yaporti dan Yayasan Mitra Kencana yang keduanya keberadaannya sampai saat ini masih ada dan dana yang dihimpunyapun masih ada.

Dari pertanyaan diatas harus diakui kalau dana operasional Pelti sendiri sangat besar jika dibandingkan dengan bantuan Kemenpora, sehingga harus ada upaya mencari dana mengatasi kesulitan budget operasional Pelti.
Kebanggan ada karena sampai saat ini PP Pelti masih boleh berkantor di Gelora Bung Karno. Ini bukan berati tanpa bayar, tetapi tetap ada seanya yang cukup besar.

Minggu, 02 Desember 2018

Apakabar KTA Pelti dan PNP ?

Jakarta, 2 Desember 2018. Disaat bertanya ke petinggi PP Pelti tentang Kartu Tanda Anggota  (KTA ) Pelti maka akan mendapatkan berbagai jawaban. Kenapa pertanyaan ini muncul karena KTA Pelti (versi baru) sudah cukup lama dikeluarkan tetapi baru diedarkan kepada anggota PP Pelti saja. Nah yang jadi pertanyaan begitu lamanya belum beredar ke masyarakat tenis. KTA Pelti versi baru itu ada keistimewaannya tidak seperti KTA yang dikeluarkan PP Pelti era 2002-2012. Istimewanya kali ini kerjasama dengan Bank BRI sehingga KTA Pelti itu bisa digunakan sebagai pembayaran elektronik, Jadi sudah mode saat ini kartu angota seperti INAPGOC itu bekerjasama dengan Bank Mandiri sehingga ada isinya bisa digunakan untuk e-toll.

Waktu awal kepengurusan sempat diberi masukan untuk mempercepat pencapaian ke masyarakat tenis yang sebagi pengguna terbesar adalah peserta TDP. Yaitu melalui turnamen turnamen pendafataran KTA Pelti baru. Ini kerja mulai dari nol, karena dulu sudah pernah dikeluarkan sekitar 3.000 an lebih KTA Pelti. Pentingnya saat itu keberadaan KTA adalah agar tidak memberatkan peserta TDP Nasional untuk membawa Akte Kelahiran putra putri mereka sehingga jika sudah memiliki KTA maka tidak dibutuhkan lagi membawa Akte Kelahirannya. Resiko besar kalau bawa akte kelahiran tersbut. Maka dengan cara mempercepat keluarnya KTA maka dilakukan pendaftaran melalui setiap penyelenggara. Saat itu semua fotocopy akte kelahiran diperiksa maka dalam 6 (enam) bulan bisa ditemuksan ekitar 30 an pemalsuan akte kelahiran petenis yunior Indonesia.

Official Ball Pelti ??????

Jakarta, 2 Nopember 2018. Ketika pertanyaan langsung kepetingi PP Pelti masalah nama dari Official ball Pelti saat ini, maka keluar jawabannya adalah HEAD tennis balls. Ini sudah menjelang akhir tahun 2018 sedangkan selama tahun 2018 sudah cukup banyak bola yang digunakan dalam TDP Nasional di Indonesia. Coba dilihat dari data TDP Nasional 2018 ada bola bola tenis yang digunakan seperti Babolat, Dunlop, Nassau, Shine, Yonex. Jikalau digunakan dalam kegiatan TDP Nasional maka otomatis bola tersbut diakui sebagai official ball Pelti. Karena yang memiliki TDP Nasional adalah PELTI (Persatuan Tenis Seluruh Indonesia). Yang dimaksud Pelti disini adalah mulai dari Pengurus Pusat kemudian Pengurs Daerah dan akhirnya Pengurus Cabang .

Apakah Pelti sendiri kecolongan terhadap masalah ini. ? Ini suatu pertanyaan tersendiri.

Pelti melakukan pendataan bola bola tenis mulai era Ketua Umum PB Pelti Moerdiono (alm) saat itu ketua komite pertandingan Martina Widjaja. Dikumpulkannya produsen bola untuk disosialisasikan masalah ketentuan Sanction Ball Pelti yang bisa digunakan sebagai promosi bola tersebut kepada konsumen. Ini alat promosi bagi produsen bola. Jadi ada win win solution. Idea ini muncul karena sebagai pedagang Martina Widjaja bisa menyampaikan kepada produsen bola. Saat itu setiap produsen bola yang mau diakui sebagai bola resmi Pelti dikenakan beaya Rp 10 juta saja dan kewajiban memberikan bola gratis kepada TDP  . Saat itu yang diakui sebagai bola resmi Pelti adalah DUNLOP,  NASSAU,  TENS , POIN , INDOBALL dan WILSON . Saat itu kalender TDP Nasional dibagikan dan dibagi rata kewajiban produsen bola untuk sebagai sponsor bola di TDP

Kemudian beberapa produsen mulai mundur karena masalah internalnya seperti TENS, INDOBALL dan POIN. Kemungkinan gulung tikar karena produknya tidak kelihatan dipasarannya Ternyata sampai saat ini yang bertahan adalah Dunlop dan Nassau.

Kinerja Pelti masih Amburadul

Jakarta, 2 Desember 2018. Melihat aktivitas pertenisan Indonesia saat ini cukup cerah sehingga banyak hal yang perlu diperbaiki. Diawali dengan masalah organisasi didalamnya mulai dari tingkat Pusat sampai ke Daerah maupun Pengcabnya. Penggunaan teknologi masa kini diperkenlakannya website induk organisasi Pelti yang sudah muali diperkenalkan 20 tahun silam. Hanya saja ganti kepengurusan maka ganti pula webhostingnya.
Walaupun sudah dikenal masyarakat tenis tetapi tetap saja mulai 2018 dengan kepengurusan baru webhostingnya. Sehingga menuenya tentu berbeda. Tetapi yang penting ada isi baik daam bentuk foto dengan sangat minim beritanya. Tapi harap dimaklumi saja. Karena makiin canggih website maka makin besar beayanya.
Yang timbul pertanyaan sampai saat ini setelah setahun lebih 7 hari terpilih di Musyawarah Nasional Pelti (MUNAS) yang tepatnya 25 Nopember 2017 di Banjarmasin, belum muncul juga revisi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Pelti sebagai amanat MUNAS Pelti tersebut Bisanya dalam amanat Munas diberi waktu 3 (tiga) bulan , tetapi sampai saat ini beluma da juga pengesahan revisi AD ART Pelti untuk dipakai sebagai landasan kerja PP Pelti kedepan. Akibatnya bisa terlihat betapa kesan amburadul yangmuncul kepermukaan. Sempat direncanakan sebagai ajang pengesahan AD ART Pelti di Munaslub bulan Juli 2019 tetapi ternyata dibatalkan
Saat ditanyakan langsung ke wakil ketua umum PP Pelti dapat jawaban akan dilaksanakan bersamaan dengan Rakernas Pelti 2019.  Ketika dikatakan kesulitan dana untuk Munaslub maka tidak  dijawabnya cukup dengan senyum. 

Kamis, 29 November 2018

Petenis Potensial Asset Tenis Sumsel

Jakarta, 29 Nopember 2019. Dari perhelatan Kejurnas RemajaTenis Sumsel-XVII di Palembang ada beberapa poin yang mendapatkan perhatian. Yaitu munculnya Muba sebagai juara umum jika diginakan dimulti event. Karena mengondol 6 gelar juara dari 10 gelar yang dipertandingkan. Begitu pula denga Baturaja muncul dengan sisa sisa atlet yang dimilikinya, Lahat sama hasilya dengan Baturaja. Bahkan Palembang mulai tergerak dengan muka muka baru mulai muncul diajang RemajaTenis Sumsel XVII.

Tetapi yang lebih jadi perhatian adalah munculnya atlet Muba Jones Pratama yang juara tunggal 18 tahun. Bukan karena keluar sebagai juara tetapi yang jadi perhatian adalah cara bermainnya. Teringat akan petenis legendari asal Amerika Serikat, John McEnroe. Pola mainnya sudah lama ditinggalkan setelah munculnya Roger Federer dengan attacking baseliner nya. 
Jones memperlihatkan permaian serve and volley nya. Bahkan diperlihatkan the flying backhandnya untuk mengattack lawannya.
Jones Pratama kelahiran 2003 menunjukan prestasinya meningkat ditahun 2018. Berhasil keluar sebagai finalis tunggal 16 tahun di Piala Tugu Muda 2018 di Ambarawa dan juga sebagai tulang pungung tuan POPWIL Sumse 2018 di Solo berhasil menyisihkan tim DKI Jakarta 201 dan keluar sebagai finalis sehingga lolos ke POPNAS 2019 di Papua 

Memang permainan Jones masih belum matang, tetapi pola bermainnya tersbut sebaiknya dimatangkan juga. Harusnya diperkuat dengan servis yang keras atau canon servis bisa dikembangkan lagi dengan fokus lebih utama sebagai prioritas 

Selasa, 27 November 2018

Tilpon Langsung Dari Ketua Umum PP Pelti

Jakarta, 27 Nopember 2018. Cukup menarik selama di Palembang sempat berkomunikasi dengan Ketua Umum PP Pelti Rildo Ananda Anwar.Kenapa sampai Ketua Umum PP Pelti menilpon langsung dan berdiskusi masalah pertenisan Indonesia. Saat itu setelah berkunjung ke Jakabaring secara langsung kirimkan laporan tentang kebijakan PT JSC terhadap venue di Jakabaring.
Kebijakan PT JSC adalah tidak diperkenankannya semua Pengda Cabr (cabang olahraga) untuk berkantor di venue Jakabaring. Langsung dibalas oleh Ketua Umum PP Pelti yaitu " Kebijakan yang sama untuk Gelora Bung karno, akan dibangunkan di satu gedung disamping lapangan tembak, yang punya kantor di GBK saat ini cuma Pelti. Diakuinya kalau jawaban ini sedikit sombong.

Kebijakan tersebut perlu karena kebanyakan cabor mau enak sendiri dan tidak punya tanggung jawab. Tidak ada upaya untuk berdiari sehingga tunggu tungu droping. Dapat jawabn lagi, Dan tidak mau bayar sewa, cuma Pelti yang tertib bayar sewa, Harus diakui sejak dulu Pelti berkantor di stadion tenis GBK itu bukan gratis tetapi bayar sewa. Ini wajar dan wajib ditiru sebenarnya.

Tidak lama kemudian tilponpun masuk dari Ketua Umum PP Pelti. Dari hasil pembicaraan tilpon disampaikan kepada nya beberapa masukan untuk diketahui yaitu

Nasib TDP Nasional Yang Tertunda, Dimana Permasalahannya

Jakarta, 27 Nopember 2018. Jikalau selama ini belum bisa dipastikan secara rutin melaksanakan kegiatan turnamen maka hal ini tidak perlu jadi masalah. Karena kendala yang selalu muncul adalah minimnya dana alias sponsor. Tetapi yang jadi masalah jika ketidak mampuan dari induk organisasi tenis alias Pelti untuk menjamin keberadaan kegiatan turnamen yang merupakan salah satu programnya sendiri.
Tidaklah mudah membuat suatu perencanaan bagi induk organisasi tenis. Disaat awal kepengurusan harus dimaklumi semangat bekerja muncul dari anggota pengurus tersebut yang muka muka baru. Apalagi jika baru pertama kali terlibat dalam kepengurusan. Sehingga semangat tinggi belum ditunjang dengan kemampuan organisasi untuk memanagenya . Pengalaman selama ini sering kali pelaksanaan kegiatan turnamen nasional bisa tertunda bahkan hilang sama sekali.
Sebagai contoh diawal tahun kalau membaca kalender TDP yang resmi dikeluarkan oleh PP Pelti tanpa diperhitungkan kondisi kota pelaksanaan tersebut. Tetapi saat ini justru rencana dalam kalender tersebut sudah hilang tanpa bekas. 

Sempat terlontar suatu pertanyaan ditujukan ke petinggi PP Pelti tentang kondisi lapangan tenis dikota Ternate yang sudah jelas belum pernah dikunjunginya. Tetapi jika sudah pernah melihat maka akan berpikir sepuluh kali selenggarakan kegiatan kejurnas dikota tersebut. Bukan berarti tidak sepakat diselenggarakan TDP Nasional di Ternate, tetapi untuk menarik atlet nasional berlaga di Ternate maka dibutuhkan beaya besar. Bisa dengan prize money diatas seratus juta diikuti pemberiaan fasilitas akomodasi selama bertanding. Lebih bijak lagi jika dibuat target pelaksanaan adalah untuk atlet atlet di Indonesia Timur dengan cara prize moneynya tidak perlu diatas seratus juta.

Tetapi ketika mendapatkan jawaban akan keterlibatan instansi pemerintah pusat yang tidak perlu diragukan kemampuannya  maka pertanyaan tersebut sepertinya sudah terjawab. Ternyata setelah 10 bulan , kejurnas tenis kelompok umum tersebut hilang dari kalender TDP 2018. Tetapi ada yang lebih menyedihkan sekali yaitu rencana pelaksanaan Kejurnas di Jakarta bulan Agustus 2018 dengan memperebutkan ratusan juta ruiah sebagai hadiahnya

Gaya Serve n Volley Muncul kembali

Palembang, 25 Nopember 2018. Dari pelaksanaan Kejurnas RemajaTenis Sumsel XVII di lapangan tenis Pemkot Palembang, ada satu kesan cukup menarik. Karena lihat dari prestasi saat ini yaitu keberhasilan petenis Musi Banyuasing (Muba) menggondol 6 gelar juara dari 10 event yang dipertandingkan. Selama ini pertenisan di Sumatera Selatan itu terbagi dengan aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat tenis di Kabupaten Lahat, Kabupaten Muba, Baturaja dan Lubuklinggau.
Tetapi yang sangat menonjol justru datang dari Muba dengan program PPLP tenis .
Pembinaan melalui PPLP cukup menghasilkan setelah beberapa tahun dilakukannya.
Tetapi disamping itu pula dari atlet2 yang berlaga, salah satu cukup mendapatkan perhatian yaitu bukan karena berhasil keluar sebagai juara tetapi dilihat dari cara bermain dalam pertandingan tersbut.
Selama ini permainan tenis itu dikenal dengan bertahan alias bertanding dibaseline dengan cara attacking baseliner. Hal ini juga dilakukan oleh petenis Indonesia pada umumnya.
Kali ini permainan Jones Pratama agak lain dibandingkan permainan masa kini. Yaitu serve and volley seperti John McEnroe petenis legendaris Amerika Serikat.

Kunjungan ke Jakabaring Sport City

Palembang, 25 Nopember 2018. Dalam kunjungan ke Palembang untuk pelaksanaan Kejurnas RemajaTenis Sumsel XVII di Palembang, pada 23 Nopember 2018 menyempatkan diri berkunjung ke Jakabaring Sport City dan bertemu dengan Vice President PT Jakabaring Sport City, Peter Sutandi diruang kantornya. didampingi rekan dari Pengcab Pelti kota Palembang Bambang Harsono.

Tujuannya untuk mendapatkan masukan maupun berikan masukan masalah stadion tenis Jakabaring yang baru selesai digunakan untuk Tenis diajang Asian Games XVIII bulan Agustus 2018. Menyempatkan diri melihat atap lapangan tenis ex SEA Games yang hancur beberapa minggu lalu kena angin puting beliung. Terlihat masih belum diperbaiki . Dugaan belum diatasinya kemungkinan masalah dananya.

Terlepas dari persoalan atap lapangan , kebijakan dari management PT JSC adalah Pengda cabang olahraga di Sumsel tidak diperkenankan menggunakan venue di Jakabaring sebagai kantornya. Hal yang sama juga di Gelora Bung Karno Jakarta.

Selasa, 20 November 2018

Turut campur PP Pelti terhadap Calon Ketua Pengda

Jakarta, 20 Nopember 2018. Tahun 2018 beberapa Pengurus Daerah (Pengda) Pelti  berakhir masa jabatannya setelah 5 (lima) tahun. Indikasi muncul terjadi ikut campurnya petinggi PP Pelti didalam memenuhi keinginan pribadi anggota PP Pelti sendiri. Selama ini tidak pernah terjadi ikut campurnya anggota PP Pelti didalam memrekomendasikan calon ketua Pengda Pelti. Atau bisa diokatakan menjagokan calonnya.
Sangat menonjol terjadi di Bandung  untuk Pengda Pelti Jawa Barat yang habis masa jabatannya ditahun 2018. Lazimnya inisiatip datang dari Pengda Pelti tetapi justru saat itu terbalik datang dari petinggi Pelti . Bahkan event BAVETI dikota Bandung, oleh ketua panitia pelaksana Kejurnas Tenis Veteran 2018 yang juga anggota PP Pelti memanfaatkan event tersebut dengan mengundang Pengcab Pelti Jawa Barat untuk diberi pencerahan oleh Ketua Umum PP Pelti ditempat sedang berlangsungnya kegiatan kejurnas tenis veteran tersebut.. Tetapi kenyataannya justru digunakan untuk promosi kandidat yang dijagokan oleh petinggi PP Pelti  

Sangat tidak etis sekali kalau memanfaatkan event Baveti yang Pelti sendiri tidak ikut campur didalamnya, hanyalah ada beberapa petinggi PP Pelti duduk juga didalam kepengurusan PP Baveti.
Bahkan Baveti sendiri sudah lepas dari PP Pelti dengan mempunyai AD ART sendiri dan tidak menghendaki gabung kembali dengan PP Pelti. Yang jadi pertanyaan apakah kegiatan tersbut medapatlan restu dari PP Baveti selaku pemilik kegiatan Kejurnas Tenis Veteran 2018. Ada indikasi justru tidak atau belum mendapatkan restu PP Baveti

Minggu, 18 November 2018

Dibutuhkan Petunjuk Pelaksanaan TDP

Jakarta, 18 Nopember 2018. Jikalau sudah beberapa kali selenggarakan TDP Nasional, sebagai contoh selama 3-5 tahun selengggrakan secara rutin TDP Nasional maka kadang kala suka lalai juga sehingga bisa terjadi tidak tercantum dalam Kalender TDP ditahun berikutnya. Hal seperti ini sering terjadi, apalagi jika dilaksanakan diluar Jakarta.

Dalam ketentuan TDP disebutkan setiap TDP diwajibkan untuk didaftarkan dengan mengisi formulir pendaftaran TDP yang disediakan PP Pelti. 
Sebelum tahun 2018 selesai biasanya dibulan Nopember 2018, PP Pelti sudah harus siapkan kalender TDP 2019. PP Pelti akan mengirimkan surat ke pelaksana TDP baik itu Pengda Pelti atau Pengcab Pelti maupun pihak ketiga lainnya dengan mengirimkan formulir pendaftaran TDP yang disiapkan sebelumnya.
Surat tersebut minta konfirmasi tentang jadwal TDP tersebut agar bisa dicantumkan dalam kalender TDP 2019
Prosedur seperti ini dulu sudah dilaksanakan tetapi lima tahun terakhir tidak dilaksanakan dengan baik.
Formulir pendaftaran TDP itu perlu diisi untuk dilengkapi tentang  venues, waktu pertandingan, size of draw dan penanggung jawab TDP (Direktur Turnamen) yang bisa dan sering berbeda beda setiap tahunnya  Surat Keputusan TDP dikeluarkan jika sudah memenuhi kewajiban membayar sanction fee yang disebutkan untuk TDP Nasional Yunior sebesar Rp 1 juta untuk TDP 7 hari sedangkan TDP 3 hari hanya Rp 500.000.
Sebelumnya ada diwacanakan bagi penyelengara TDP yang sering kali dilaksanakan atau banyak diselengarakan oleh penyelenggara, yang biasanya TDP 3 hari akan diberi kompensasi sebagai wujud kemudahan dalam bentuk potongan harga. Tetapi itu baru sampai lips service belaka.

Permasalahan Kategori TDP Nasional

Jakarta, 18 Nopember 2018. Muncul suatu pertanyaan tentang kategori TDP Nasional yang cukup menarik untuk diangkat karena masih banyak pendapat yang tentunya berbeda beda.
Seperti diketahui ada TDP Internasioanl yang juga mempertandingkan TDP Nasional. Awalnya itu TDP Internasional ITF Junior hanya mempertandingkan Kelompok umur 18 tahun. Persyaratan peserta untuk TDP Internasional adalah minimal usia 13 tahun atau sudah berusia 13 tahun sampai 18 tahun. Oleh Pelti saat itu diberi kesempatan bagi atlet lainnya maka dipertandingkan juga kelompok umur lainnya seperti KU 10 tahun, 12 tahun bahkan 14 tahun dan 16 tahun

Jika dipertandingkan maka mayoritas atlet yang memenuhi persyaratan ikut KU 18 tahun atau turnamen internasional memanfaatkan event tersbut untuk memacu prestasinya sehingga bisa mendapatkan peringkat dunia yunior. Kira kira siapa saja yang berani ikut, maka didapatkan mayoritas yang memiliki PNP dikelompoknya. Akibatnya yang ikuti TDP Nasionalnya adalah atlet yang tidak ikut di TDP Internasional tersebut. Sekarang apa masalahnya? Artinya kualitas peringkat nasionalnya di kelompok 16 tahun maupun 14 tahun lebih rendah dibandingkan TDP Nasional lainnya dimana diikuti seluruh petenis yang memiliki PNP terbaik.

Sekarang jadi pertanyaan apakah kategori TDP Nasional Kelompok yunior itu diberikan kepada masing masing kelompok umur atau hanya satu kelompok yaitu KU 18 tahun atau yang tertinggi kelompok uyang dipertandingkan karena banyak TDP tidak pertandingkan KU 18 tahun sehingga yang tertinggi KU 16 tahun. Sehingga kategori tersebut berlaku juga untuk kelompok umur dibawahnya.

Sabtu, 17 November 2018

Tidak Kenal Ketentuan TDP Maka Apa Yang Terjadi

Jakarta, 17 Nopember 2018. Saat Persatuan Tenis seluruh Indonesia (PELTI) tingkat Pengurus Cabang atau Pengcab selenggarakan Turnamen tenis maka seharusnya mengenal dulu akan tata cara pelaksanaannya baik dari peratutran tenisnya yang selama ini dikenal yaitu Rules of Tennis dan Tournament Regulations sebagai acuan dari International Tenis Federation (ITF).
Oleh Pelti Pusat telah diberikan petunjuk pelaksanaan dengan nama Ketentuan TDP (Turnamen Diakui Pelti) dengan berpegang juga kepada ITF Rules of Tennis maupun ITF Tournament Regulations yang wajib dilaksanakan.

Yang jadi masalah saat ini adalah pengetahuan terhadap ketentuan tenis tersebut diatas belum dikuasai oleh rekan rekan di tingkat cabang tersebut, bahkan ditingkat Daerah sekalipun tidak menjamin mengenal ketentuan yang sudah dibuat sejak tahun 1989 lalu
Dengan berjalannya waktu maka sering terjadi muka muka baru dikepengurusan baik tingkat Cabang, Daerah dan Pusat sekalipun,  yang ada berbekal sebagai petenis, pelatih dan bahkan ada yang baru belajar bermain tenis dimana dibutuhkan tenaganya untuk membantu pertenisan diwilayah masing masing. Bahkan sering terjadi wadah Pelti digunakan sebagai wadah penampung massa dikancah perpolitikan saat ini.

Ada Pengcab maupun Pengda baru terbentuk kemudian akibat kurang mengenal Ketentuan TDP tersebut sebagai gebrakan pertama agar terlihat ada kegiatan awalnya dengan menggelar turnamen tenis yang disebutnya Kejuaraan Nasional dengan label logo Pelti dicantukan sebagai bentuk keterlibatan Pelti setempat.

Prediksi Mundurnya Organizer TDP di Tahun 2019

Jakarta, 17 Nopember 2018. Masukan dari rekan rekan tenis di Jakarta cukup mengejutkan tetapi bisa juga diprediksi sebelumnya. Isu tersebut mengatakan rencana tahun 2019 beberapa pelaksana TDP yang mengikuti jejak AFR RemajaTenis akan berhenti beroperasi, khususnya di Jakarta. Berita ini sangat disayangkan sekali jika memang akan terjadi karena pembinaan tenis itu butuh turnamen turnamen lokal.
Awalnya keinginan AFR agar bisa muncul rekan rekan lainnya ikuti jejak AFR RemajaTenis dan dibeberapa tahun berhasil maka di Jakarta muncullah 2 pelaksana (organizer) kemudian berkembang menjadi  3 pelaksana baru  maka bisa disebutkan setiap minggu di Jakarta selalu ada kegiatan TDP 3 hari. Ini keuntungan atlet tenis yunior di Jakarta. Karena tidak butuh keluarkan dana besar jika keluar kota Jakarta maupun bolos sekolah sesuai dengan solusi TDP 3 hari terhadap kendala TDP 7 hari
Yang jadi pertanyaan adaah kenapa harus terjadi dimana sudah berjalan lancar selama setahun duatahun.

Memang menjalankan kegiatan TDP itu tidaklah mudah apalagi jika misinya sebelumnya itu tidak jelas sehingga kelanggengan TDP tidak bisa dipertahankan. Seperti semula jika bentuk dari pelaksana TDP tersebut merupakan badan hukum maka rumusnya adalah Profit oriented. Keuntungannya bisa mencari sponsor lebih banyak sebagai bentuk pertangung jawabannya kepada sponsor maka harus jelas pertangung jawabannya,

Harus diakui pada semester kedua 2017, kecendrungan jumlah peserta makin menurun dan harus diakui masalah ini akan membuat kerugian besar bagi pelaksana TDP tersebut,
Tetapi ada dugaan muncullah kekecewaan pelaksana TDP akibat perlakuan yang dilakukan oleh PP Pelti sendiri sebagai kendala. Ini bisa dipakai sebagai pemicu kekecewaan dari organizer TDP tersebut. Tetapi harus diakui kalau petinggi Pelti sendiri tidak menyadari betapa sulitnya rekan rekan kita ini dalam menjalankan salah satu program PP Pelti .

Kamis, 15 November 2018

Peranan Petenis Kawanua di Tingkat Nasional

Jakarta, 16 Nopember 2018. Ada satu anjuran dari salah satu rekan wartawan senior  yang juga sering membuat sejarah tentang Sulawesi Utara. Anjuran agar membuat tulisan mengenai peranan petenis Kawanua di pertenisan nasional. Idea yang cukup brilian, apalagi belum lama ini ada pernyataan dari rekan tenis di Jakarta tentang peranan orang Manado di tenis Indonesia.

Harus diakui kalau ditelesuri mulai dari sekarang kebelakang mudah mudahan bisa tercatat dalam tulisan ini. Pemegang medali emas Asian Games 2018 adalah Aldila Sutjiadi berpasangan dengan Christopher Rungkat. Sedangkan Christopher Rungkat sendiri ayahnya berdarah Manado sedangkan ibunya berdarah Padang. Ini disektor putra di tim nasional Indonesia. Disektor putri tim nasional  muncul nama Yessy Rompies yang juga ayahnya berdarah Manado sedangkan ibunya berdarah putri Jakarta,

Sebelum era Christopher Rungkat dan Yessy Rompies ada nama Andrian Raturandang yang juga telah membawa nama Indonesia dikancah Internasional seperti Davis Cup dan lain lainnya. Andrian dengan ayahnya berdarah Manado pula dengan ibunya berdarah campuran Jakarta dan Indo .

Kemudian ada nama Donald Wailan Walalangi yang juga menjadi petenis nasional cukup dikenal dalam kancah Davis Cup maupun multi event lainnya. Munculnya nama Donald Wailan Walalangi yang mulai berkiprah datang dari Papua kemudian hijrah ke Jakarta, dimana kedua orangtuanya berasal dari Tondano Sulawesi Utara.Begitu pula adik kandung Wailan Walalangi yaitu WAaya Walalangi.

Apakah Penyelenggara Turnamen Harus PELTI ?

Jakarta, 15 Nopember 2018. Ada satu pertanyaan muncul yaitu apakah penyelenggara turnamen tenis itu harus PELTI ? Ini pertanyaan yang menarik untuk diungkapkan karena banyak pihak yang tidak atau belum mengenal Ketentuan Turnamen Diakui Pelti atau TDP. Lahirnya Ketentuan TDP itu diera ketua umum PB Pelti Moerdiono (1986-1990).
Kenapa ketentuan yang sudah lama diperkenalkan itu masih banyak yang belum mengenalnya. Harus dimaklumi karena munculnya banyak muka muka baru didalam kepengurusan Pelti baik dari tingkat Pengcab kemudian Pengda maupun Pengurus Pusat sendiri. Tetapi seharusnya ketentuan ini bisa dibaca di website resmi Pelti sehingga tidak perlu lagi dipertanyakan. Ini salah satu kelemahan kepengurusan Pelti saat ini.

Intinya adalah dalam ketentuan tersebut dicantumkan adalah siapa saja bisa sebagai penyelengara mulai dari perorangan, klub, Pelti maupun badan hukum. Saat ini kita bisa lihat beberapa turnamen diselenggarakan oleh perorangan seperti AFR RemajaTenis, kemudian BNTP.dan AGS International Junior Champs. Jika klub sebagai penyelengara bisa dilihat seperti FIKS, Maesa Paskah . Kalau badan hukum seperti CBR Junior oleh CBR Foundataion, kemudian Sportama oleh Perusahaan Terbatas (PT) . Yang lainnya oleh Pelti baik itu Pengcab , Pengda dan PP Pelti 

Sebagai perseorangan bisa sebagai penyelenggara langsung tetapi tetap melalui jalur organisasi Pelti juga yang ikut menaunginya. Kalau untuk ITF baik Junior dan Pro Circuit maka semua yang daftarkan ke ITF harus Pelti. AFR sendiri dulu pernah sebagai penyelengara VOLVO Women's Open ($ 25,000) dimana yang daftarkan adalah Pelti. Tetapi untuk turnamen profesional diatas kurang lebih USD 100,000 bisa dilakukan langsung ke ITF oleh badan hukum dan diketahui oleh Pelti/

Rabu, 14 November 2018

Ketentuan Turnamen Beda dengan Ketentuan Seleknas

Jakarta, 15 Nopember 2018. Disuatu kesempatan so pasti selalu ada perbedaan persepsi dikepengurusan masalah PNP (Peringkat Nasional Pelti). dan Ketentuan TDP (Turnamen Diakui Pelti). Kenapa bisa terjadi demikian. Apalagi saat ini munculnya muka muka baru dengan semangat tinggi mau memajukan pertenisannya dengan cara masing masing. Inilah masalah yang akan timbul.
Satu sisi ada yang tidak bisa membedakan antara Ketentuan TDP dengan ketentuan Seleksi Nasional. Ini dua hal yang berbeda.
Ada pula yang mau merubah soal aturan PNP. Bisa saja terjadi tetapi yang lebih penting adalah masing masing pelaku tenis didalam kepengurusan Pelti harus mengerti juga mengenai kedua ketentuan tersebut.

Ada yang menghendaki agar PNP diperbaiki karena dianggap sudah tua. Ini cara pikir bisa benar dan bisa juga tidak benar. Kenapa. Karena saat ini yang paling penting adalah kehadiran PNP sendiri masih belum bisa dijamin TEPAT Waktu. Bahkan sering molor tidak sesuai dengan ketentuannya. Karena saat ini bisa dikatakan setiap bulan selalu ada TDP Nasional khususnya kelompok yunior. Tetapi karena ditangani semau gue(kesannya) sehingga dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal yaitu lagi sibuk dengan Asian Games atau Asian Paragames. Apa urusannya demikian Karena melupakan unsur pelayanan lebih penting sebagai induk organisasi harus dilakukan.

" Yang Bikin Ramai Tenis adalah Orang Manado "

Jakarta, 15 Nopember 2018. Dalam suatu kesempatan berjumpa dengan rekan tenis veteran di Jakarta, Husni Madjid dilapangan tenis UMS, ada satu pernyataan yang mengejutkan disampaikan olehnya. Karena dia sendiri mendapatkan pernyataan tersebut datang dari salah satu " pelatih " tenis di Jakarta.

" Yang bikin ramai tenis itu orang Manado ".: ujarnya yang tentunya tidak bisa dipungkiri . Katanya barusan dapat pernyatan tersbut dari rekan lainya Darminto. Lihat saja turnamen yang paling sering dilakukan di Indonesia itu datang dari orang Manado. Disebutkan pula keberadaan Baveti yang mengurusin turnamen tenis veteran di Indoneia dipimpin putra Kawanua Theo Sambuaga jug cukup semarak.

Baru kali ini dikatakan anggota pengurus PP Pelti tidak ada orang Manadonya. Ini statemen tambahanya. Memang faktanya demikian.

Coba ditelusuri kegiatan tenis di Indonesia kecuali dikota Manado. tetapi bisa dilihat di Jakarta ada AGS International yang merupakan gagasan dari rekan Aga Soemarno yang mengkhususkan diri di turnamen ITF Junior dalam setahun ada 2 event yang dibuatnya sejak 2013  sedangkan yang lainnya tambahan ada 2 ITF Junior Internasional yaitu Piala Thamrin diselengarakan oleh Pengda Pelti DKI Jakarta dan Piala Wodjojo Soejono oleh Pengda Pelti Jawa Timur.

Selasa, 13 November 2018

Pembinaan Bukan Pembinasaan

Jakarta, 14 Nopember 2018. Ketika PP Pelti edarkan undangan masalah National Junior Trainning Camp diakhir Nopember 2018 di Magelang, muncullah berbagai pertanyaan datang dari masyarakat tenis baik itu orangtua maupun pelatih. Bahkan dari kalangan pelatih sudah menganggap cara yang dilakukan oleh PP Pelti adalah bukan pembinaan tenis tetapi pembinasaan. Ini sangat ekstrim kesan tersebut.
Melihat surat edaran tersebut tanpa disebutkan kriteria pemilihan atlet maupun tujuannya maka dimaklumi saja muncullah berbagai tanggapan negatip. Ini perlu mendapatkan perhatian bagi pemangku jabatan pembinaan sebagai pelaksana program tersebut. Harus diakui kalau program tersebut cukup bagus kedepannya hanya saja tata cara atau kriteria atlet yang diundang itu yang tidak jelas bahkan pelatih siapa yang akan menanganainya. Kesannya akan dilakukan oleh pelatih asing asal Belanda Frank  tetapi andaikan tidak jadi oleh pelatih asal Belanda tersebut maka kekecewaan akan muncul,.
Sebagai organisasi tentunya diawali dengan pemberitahuan awal atau jauh hari sebelumnya tentang program tersebut dan dijelaskan tujuan program tersebut dan dilakukan oleh pelatihnya siapa saja.. 
Kesan yang muncul sangatlah memojokkan PP Pelti sendiri karena ketika ditanyakan kepada penanggung jawabnya maka akan muncul berbagai tanggapan yang berbeda beda jika yang bertanya berbeda orang pula.

Peranan Humas Pelti Sangatlah Lemah

Jakarta, 14 Nopember 2018. Jika menghendaki  pertenisan nasional menarik perhatian sponsor maka peranan Humas dari induk organisasi perlu mendapatkan perhatian serisu. Dalam dua era kepemimpinan PP Pelti akhir akhir ini peranan Humas induk organisasi sangatlah lemah bahkan dera 2012-2017 terjadilah tumpang tindih didalam humas tersbut karena lebih menonjol peranan humas panitia penyelenggara turnamen yang dikelola oleh PP Pelti dibandingkan dengan Humas PP Pelti.

PP Pelti telah memiliki website resmi tetapi sejak 2013 sampai saat ini sangatlah lemah. Bahkan sejak 2018, ada edikiti perubahan dalam menue website tersebut. Tetapi informasi yang diberikan masih sangat lemah. . Sehingga bagi masyarakat tenis jika menghendaki berita tenis Indonesia maka akan menghadapi menu yang sudah basi. Begitu juga program kerja PP Pelti tidak dihamparkan dalam website tersbut. Termasuk produk yang dikeluarkan PP Pelti yaitu Peringkat Nasional Pelti.
Entah dimana letak kelemahan ini tetapi jika dibiarkan maka tenis Indonesia hanya menungu prestasi atlet saja yang didambakan agar menarik investor dalam pertenisan Indonesia.

Sebenarnya keberadaan humas di PP Pelti juga harus bisa berperan didalam website Pelti tersbut. Tetapi saat ini masih belum kelihatan peranannya. Bahkan komunikasi dengan Pengda sekalipun sangat lemah. Salah satu tugas Humas juga selain external communication perlu juga menciptakan internal communication yang lebih kondusip.

Sabtu, 10 November 2018

Pembatalan Mendadak Mempunyai Dampak Positive juga

Jakarta, 11 Mopember 2018. Ketika sedang mempersiapkan kejurnas RemajaTenis Sumsel-XVII (16-18 Nopember 2018)  di Palembang sudah membuka pendaftaran peserta dan pula sudah terdaftar peserta dari Bengkulu, Pangkal Pinang, Pekanbaru  dan Manado, terima kabar kalau tanggal 11-18 Nopember 2018 diadakan Pekan Olahraga Kotamadya Palembang . Tentunya akan digunakan lapangan tenis Pemkot Palembang untuk cabang olahraga Tenis. Yang tidak habis pikir rencana RemajaTenis Sumsel XVII itu sudah beberapa minggu lalu diketahui oleh Pengkot Pelti Palembang, Anehnya kok diam diam saja ketika mendapatkan berita rencana RemajaTenis Sumsel XVII tersebut.
Sedangkan rekan kami yang juga ikut membantu rencana pelaksanaan tersebut baru ttahu hari Jumat 9 Nopember 2018 sedangkan dia anggota Pengkot Pelti Palembang.

Alasannya , kalau awalnya tenis dianggap tidak banyak pesertanya maka dianggap tidak jadi dilaksanakan, tetapi akhirnya diputuskan tetap dilaksanakan cabor Tenis. Andaikan tidak dilaksanakan tenis di PORKOT maka itu tanggung jawab Pengkot Peltio yang boleh dianggap gagal membina tenis di Palembang, Tetapi bersyukur akhirnya tenis tetap dipertandingkan.

Dengan pemberitahuan tersebut, akhirnya RemajaTenis Sumsel XVII diundurkan waktunya saja ke 23-25 Nopember 2018.

Kamis, 08 November 2018

Masalah Mudah Tidak Perlu Dipersulit

Jakarta, 9 Nopember 2018. Dalam dua hari berturut turut terima telon dari 2 petinggi induk organisasi Pelti dengan permasalahan berbeda. Yang pertama datang dari Wakil Ketua Umum yang juga Ketua Bidang Pembinaan PP Pelti. Ternyata setelah menerima masukan dari masyarakat tenis maupun wakilnya di Binpres, Wakil Ketua Umum menyampaikan secara organisasi Pelti tidak bisa berbuat apa apa atas kasus dugaan ketidak sportipan atlet ataupun  orangtua yang juga pelatih putrinya.

Disingung pula sudah berkoordinasi dengan bidang Legal diinduk organisasinya. Tetapi ketika didesak bahwa yang gampang tidak perlu dipersulit. Karena dugaan adanya pemalsuan usia atlet ini sudah ada buktinya. Diminta untuk sebagai pelapor atas kasus ini baru mau ditelusuri.

Saat itu juga disampaikan pengalaman AFR ketika 10 tahun silam dalam 6 bulan bisa membuktikan ada sekitar 30 atlet yunior yang memalsukan usia. Semua itu setelah ada konfirmasi dari Lembaga Negara yang sebagai tempat mengeluarkan surat dokumen negara yang asli. Dia katkan kalau sudah diminta kepada orangtuanya untuk berikan bukti, dimana diberikan fotocopy Kartu Keluarga. Yang diutamakan adalah Kartu Akte Kelahiran , bukan Kartu Keluarga sebagai peserta TDP dan ini ada ketentuannya.

Selasa, 06 November 2018

Dipertanyakan Tim Keabsahan PON

Jakarta, 17 Nopember 2018. Ada satu pertanyaan diberikan oleh salah satu anggota Pengurus Pelti didaerah masalah dibentuknya Tim Keabsahan oleh PP Pelti untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional XX di Papua.
Alasannya saat ini dengan diberlakukan e-KTP maka dianggap tidak perlu ada tim keabsahan oleh PP Pelti. Disebutkan dalam e-KTP tersebut dicantumkan juga tanggal adanya e-KTP tersebut sehingga bisa dianggap tanggal tersebut sudah tidak bisa ditawar tawar lagi. Ini sebagai masukan karena dikuatirkan dalam tim keabsahan tersebut duduk person yang tidak menguasai masalah tersebut dalam bahasa tenis.

Harus diakui kalau KONI Pusat sebagai pemilik Pekan Olahraga Nasional atau PON telah mengeluarkan ketentuan persyaratan peserta PON yang selama ini selalu jadi biang keributan karena perpindahan atlet.
Aturan Mutasi tersebut jika belum ada perubahan maka tetap berlaku seperti yang sudah sudah yaitu minimal 2 (dua) tahun batas perpindahan domisili,

Sebenarnya e-KTP bisa dipakai sebagai acuan, tetapi yang jadi pertanyaan apakah setiap cabang olahraga itu selalu mematuhi ketentuan mutasi terebut. Kok bisa petinggi cabor melanggar ketentuan tersebut, ini akibat ada "oknum" petinggi cabor tersebut terlibat sebagai " makelar" jual beli atlet yang sudah dikenal dalam olahraga khususnya tenis. Jadi ada kepentingan pribadi.