Sabtu, 09 Desember 2017

Diundang oleh INAPGOC ke Solo

Jakarta, 8 Desember 2017. Kembali teringat disaat diundang sebagai sport expert menghadiri acara Inapgoc (Indonesia Paragames Organizing committee ) dikota Solo untuk persiapan pembuatan Technical Handbook Wheelchair Tenis (THB) selama dua hari. Hadir dalam ruangan tersbut wakil dari NPC (National Paralympic Indonesia) rekan Yasin Onasie dan Maimun yang mewakili Tenis Kursi Roda di NPC. Saat itu bingung juga karena kehadiran saya sebagai pribadi bukan mewakili induk organisasi tenis di Indonesia sebagaimana lazimnya. Saat itu sempat bertanya kepada salah satu panpel status saya sebagai apa. Ternyata sebagai sport expert. Jadi jelas, dan selama kegiatan ataupun penyusunan THB saya duduk bersamaan dengan kedua wakil NPC tanpa berkomunikasi membahas masalah THB karena masing masing merasa lebih berhak. Begitu pula saat presentasi ke Panpel keduanya lebih aktif dan saya hanya sebagai pendengar saja kecuali ditanya baru berikan masukan saja.
Disini terlihat ada keinginan seperti info yang saya dapatkan dari rekan di kantor Menpora kalau NPC berkeinginan mereka yang jadi panpelnya sedangkan kantor Kemenpora menghendaki berbeda.

Minggu, 15 Oktober 2017

Kerja LO Ngawur

Jakarta, 16 Oktober 2017. Ada peristiwa yang saya angap lucu dan rada konyol di Kuala Lumpur. Dalam tugas sebagai Technical Delegate saya bernagkat dengan Air Asia pada pagi hari Jumat 15 September 2017 jam 06.00. Bisa dibayangkan harus berangkat dari rumah jam 03,00 pagi sekali .

TENIS : TINGGAL MENUNGGU HARI

Jakarta, 10 October 2017. Tidak disangka sangka pertenisan Indonesia dlm masa penentuan nasib bagi pemangku keputusan kebijakan kebijakan masa depan . Tepatnya tgl 25 November 2017 dikota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Acara Musyawarah nasional Pelti. Tinggal menunggu hari Karena sisa waktu 46 hari.
Kesepian melanda suasana masyarakat tenis yang saat ini menunggu nasib pertenisan Indonesia sesuai dengan sepinya prestasi didapat oleh PP PELTI 2012-2017. Jadi tidaklah heran jika ketidak pedulian masyarakat tenis terhadap Musyawarah nasional Persatuan Tenis seluruh Indonesia atau PELTI.
Teringat 5 tahun silam tepatnya Agustus 2012 sudah ada calon Ketua umum PP PELTI yang diorbitkan melalui media massa yaitu nama mantan Atlet nasional yang membuat PP Pelti saat itu terbangun kesadarannya. Karena tidak rela jika tongkat estafet kepemimpinan jatuh kepada calon ketua umum mantan petenis nasional tersebut yang dianggap tidak layak memimpin induk organisasi.

Tugas tugas Yang Ribet

Jakarta, 16 Oktober 2017. Saya mulai membuka blogger ini setelah lama terlupakan akibat kesibukan mengurus beberapa keggiatan tenis di Indonesia maupun Luar Negeri.
Di tahun 2017 ini saya ketiban urusan pertenisan di Indonesia dan juga di Kuala Lumpur. Kok yang ada juga di Kuala Lumpur. Ini ceritanya panjang.
Diawali di bulan Nopember 2016, saya terima tawaran dari Asean Para Sport Federation yang berkedudukan di Singapore. Ditanyakan apakah bersedia jadi Technical Delegate untuk acara Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Timbul pertanyaan ada apa nih kok ditengah jalan diundang, biasanya sudah lama dipersiapkan. So pasti ada yang tidak beres.
Lsngsung minta dikirimkan surat resmi penunjukkannya sehinga sebagai dasar mulai urus paspor karena sudah expired 2015.

Selasa, 04 Juli 2017

Ketemu tim Nasional sedang Latihan

Jakarta, 4 Juli 2017. Hari ini saya mencoba bertemu dengan atet pelatnas yang dipersiapkan untuk menghadapi SEA Games 2017 dirumah Martina Widjaja. Bertemu dengan atlet2 yang dipersiapkan seperti Sunu Wahyu Trijati, David Agung Susanto, Aditya Hari Sasongko dan beberapa atlet putra yang tidak masuk dalam pelatnas yaitu Anthony Susanto, Panji Untung dan dua lagi. Sedangkan atlet putri ada Jessy Rompies, Beatrice Gumulya, Lavinia Tananta dan Aldila Sutjiadi.
Dari atlet pelatnas yang tidak ada adalah Christopher Rungkat (sedang try out ke LN) , Justine Barki dan Deria Nurhaliza. Ketidak beradaan mereka saya tidak mau bertanya.

Minggu, 11 Juni 2017

Tulisan tentang tenis di Sulut

Jakarta, 4 Juni 2017. Kejurnas tenis Manado Open 2017 telah berakhir , tepatnya tgl 14 Mei 2017 yang lalu. Dari hasil kejurnas tenis tersebut terlihat sudah potensi petenis yunior dan kelompok umum baik kuantitas maupun kualitas.
Masa depan pertenisan di Sulawesi Utara bisa diukur dari saat ini jika tidak cepat diantisipasi maka hanya mimpi bisa muncul kembali prestasi yang buruk akan tetap menghantui tenis Sulut. Ini akibat dari kelengahan terhadap pembinaan tenis di Sulawesi Utara sehingga bertahun tahun diabaikan berakibat minimnya prestasi maupun minat terhadap dunia olahraga tenis di Sulawesi Utara. 

Dari hasil kejurnas tenis Manado Open khususnya kelompok yunior, keberadaan petenis asal Tondano sedikit memberikan asa terhadap pembinaan tenis Sulawesi Utara.

Minggu, 04 Juni 2017

Rakernasus itu Sah atau Tidak

Jakarta, 4 Juni 2017. Dalam suatu pertemuan dikantor PP Pelti sempat ketemu dengan Ketua Umum PP Pelti bersama sama ketua Bidang Pertandingan dan Ketua Bidang Pembinaan yunior. Memang sore itu tepatnya tanggal 1 Juni 2017, diadakan rapat persiapan panpel Asian Games 2018 khusus tenis. Kebetulan saya dilibatkan bersama sama rekan rekan pengurus PP Pelti. Ini suatu kehormatan saya diajak dalam kepanitiaan cabor tenis diajang Asian Games 2018 mendatang.

Setelah melaporkan persiapan kepada Ketua Umum PP Pelti, disaat rileks maka sayapun bertanya masalah Musyawarah Nasional Pelti 2017 dan  ketentuan Pekan Olahraga Nasional (PON) tentang batasan usia. Jawabannya adalah Munas Pelti tetap di Nopember 2017 sedangkan untuk ketentuan PON   mendatang maka telah diputuskan dalam Rapat Kerja Nasional Khusus (Rakernasus) Pelti tahun 2014 lalu kalau bebas usia.

Minggu, 28 Mei 2017

Kalau sudah tidak percaya, maka Curiga jadinya

Jakarta, 28 Mei 2017 Ada satu masalah penting disaat akan selenggarakan suatu kegiatan didaerah yaitu kepercayaan atas penawaran kerjasama. Ini sangat penting sehingga semuanya bisa berjalan dengan mulus. Saat itu sewaktu direncanakan kegiatan ke kampung halaman , saya sendiri sewaktu didalam kepanitian pernah mengungkapkan masalah tersebt kepada rekan rekan yang mau bekerjasama untuk meningkatkan pertenisan dikampung halaman sesuai gagasan awal yang saya lemparkan ke teman teman sedaerah atau sekampung halaman istilah kerennya.

Pengalaman saya selama ini baik sewaktu masih duduk dalam kepengurusan Pelti Pusat maupun saat sudah tidak menjabat diinduk organisasi jika ingin kerjasama dengan tuan rumah baik itu adalah para orangtua petenis ataupun klub tenis maupun induk organisasi, maka unsur " trust" itu sangatlah penting. Dan selama ini saya belum pernah merasakan kesulitannya.