Selasa, 10 November 2009

Turnamen Merupakan Kebutuhan

Nusa Dua, 9 Nopember 2009. Selama berada di Nusa Dua, banyak ketemu rekan rekan tenis daerah yang ikut menyaksikan acara besar Sony Ericsson WTA Tour Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009. Ketemu ketua Pengprov Pelti Bali Gede Nurjaya, Andre Kanginnadhi yang juga pengurus Pelti Bali, Chandra Widhiartha dari Singaraja.
Disamping itu juga berkenalan dengan rekan rekan yang baru pertama kali bertemu seperti Rai Arya.
Tetapi tidak lupa pula bertemu dengan Tanri Abeng bersama jajaran direksi Telkom seperti Nyoman W yang Direktur Komersial Telkom, bersama Judi Achmadi Deputy EGM Commerce TELKOM yang memanfaatkan bermain tenis di lapangan tenis Westin Hotel. Hanya karena saya tidak membawa sepatu tenis sehingga belum bisa bergabung bermain tenis.
Kesiapan saya juga menghadapi kemungkinan hadirnya Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI Andi Alfian Mallarangeng dimana harus berkoordinasi dengan penyelenggara. Tetapi kepastian kehadirannya baru diketahui Sbatu malam sehingga besoknya langsung beritahukan kepada Kevion Livesey dan Willy Walla.

Pertemuan dengan Alwi salah satu pelaku tenis di Denpasar yang berkeinginan kerjasama dengan dengan saya untuk selenggarakan turnamen nasional di Denpasar. Sayapun memberikan masukan masukan kepadanya untuk selenggarakan turnamen nasional dimasa mendatang.
Begitu juga pembicaraan dengan Pengprov Pelti Bali, masalah kegiatan turnamen di Bali masih terasa minim di Bali jika melihat potensi yang ada. Merekapun menyadari hal ini. Kelihataannya kesibukannya masing masing membuat hal ini belum terpikirkan dengan baik. "Saya siap membantu kegiatan ini di Bali." ujar saya menawarkan kepada mereka . Mereka sendiri menyadari kalau turnamen merupakan kebutuhan atlet tenis. ini.
Saya menerima telpon dari Surabaya, keluhan dari salah satu orangtua asal luar Surabaya. Mereka menyampaikan kekecewaannya terhadap pelaksanaan Widjojo Soejono Semen Gresik , karena diberitahukan kalau sign-in KU 10 dan 12 tahun baru dilakukan hari Kamis mendatang. Setelah saya jelaskan semuanya itu akhirnya mau mengerti. Ini salah satu kejadian dari setiap pelaksana TDP khususnya kelompok yunior. Pemberitahuan jadwal kegiatan seharusnya sudah disebar luaskan jauh jauh hari sebelumnya. Memang turnamen ini mempertandingkan kelompok internasional dan nasional. Jika yang internasional selalu telah disiapkan fact sheet sehingga sudah diketahui sebelumnya. Hal yang sama untuk KU 16 tahun dan 14 tahun,. Yang jadi masalah KU 12 tahun dan 10 tahun, dimana suka dilupakan dicantumkan dalam factsheet turnamen sehingga peserta sudah datang jauh jauh ternyata pertandingannya baru dilaksanakan hari Jumat.

Ditraktir oleh Ginting

Nusa Dua, 8 Nopember 2009. Mencari waktu yang tepat bersama istri keluar dari acara Commonwealth Bank Tournament of Champions baru bisa terlaksana pada Minggu pagi. Karena keponakan dari istri ada yang bertugas di Bali , maka ada keinginan untuk melihat dan bertemu.
Keponakan yang satu bertugas sebagai Pendeta di kota Negara, Jembrana dan yang satu lagi bekerja di Denpasar. Kedua keponakan ini kakak beradik putri dari Johannes Raintung , kakak dari istri saya.

Berangkat ke Denpasar untuk bertemu dengan salah satu keponakan yang bekerja di Denpasar Ade Raintung, bisa bertemu disalah satu restoran di Denpasar. Tiba direstoran tersebut ternyata Ade sedang bersama kakaknya Tya Raintung yang seorang pendeta GPIB.
Bertemu dengan kedua keponakan, yang sedang makan siang bersama sama. Ternyata Pendeta Tya Raintung sedang bersama keluarga lainnya ikut bersama sama makan siang. Ngobrol melepaskan kerinduan dengan kedua keponakan mulai dari keadaan keluarga di Semarang , Manado dan Jakarta.
Karena waktu sangat singkat, saya harus kembali ke Nusa Dua karena acara pertandingan final mulai pukul 14.30 sedangkan saya mengatur tiket VIP yang datang bersama dengan Tanri Abeng mantan Ketua Umum PB Pelti . Akhirnya harus meninggalkan restoran tersebut untuk ke Nusa Dua.

Begitu mau membayar makan siang tersebut, ternyata sudah dibayar oleh teman teman dari Pendeta Tya Raintung. Sehingga sayapun hanya bisa menyampaikan terima kasih. Yang membayar adalah Nyonya Ginting yang datang bersama kedua putra putranya. Nyonya Ginting yang sudah ditinggalkan suaminya karena telah dipanggil Tuhan , berdomisili di Denpasar." Nanti di Jakarta saja Om yang traktir." begitulah candanya kepada saya

Senin, 09 November 2009

Cipika Cipiki dengan CEO Sony Ericsson WTA Tour

Nusa Dua, 8 Nopember 2009. Bertemu pertama kali dengan Ms Stacey Allaster Chairman & CEO Sony Ericsson WTA Tour di Gala Dinner malam ini di Karangasem Room Hotel Grand Hyatt cukup menyenangkan. Diperkenalkan oleh Kevin Licesey selaku Direktur Turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009 didepan Willy Walla selaku Chairman turnamen dan Barry Woods salah satu penulis tenis terkenal asal London yang bedomisili di Bangkok dalam beberapa tahun terakhir. Bersalaman dengan Stacey Allaster langsung cipika cipiki seperti teman lama saja, padahal baru pertama kali bertemu. Minggu lalu saya sempat bertemu dengan Presdient Sony Ericsson WTA-Tour David Shoemaker di Jakarta.

"Terima kasih banyak telah membantu kami." ujarnya kepada saya setelah mendapatkan penjelasan dari Kevin.
Didalam pembicaraan malam ini saya sempat menyinggung masalah jadwal turnamen ini sangat kurang tepat karena bertepatan dengan jadwal Fed Cup, sehingga USA tidak diperkuat oleh Williams Bersaudara. " Memang akan dibicarakan oleh WTA-Tour masalah penjadwalan ulang ditahun 2010." ujarnya.

Gala Dinner malam ini cukup mendapatkan perhatian dengan 12 peserta yang ikut berbusana beda dengan sehari hari dilapangan. Cukup cantik cantik dengan gaun malamnya. Diiringi oleh band setempat malam ini pula disertai acara lelang beberapa barang olahraga seperri gaunnya Maria Sharapova, sepatu tenis NIKE Serena Williams dan Venus Williams, sepatu tenis Adidas Kimiko Date Krumm, porselin vas dengan tanda tangan peserta turnamen.
Malam ini yang menarik perhatian adalah Kimiko Date-Krumm, tampil cantik sekali dengan penampilannya. Banyak permintaan foto bersama oleh masyarakat tenis yang hadir malam ini. Acara dimulai dengan minum diluar ruangan sambil berdiri ngobrol, kemudian 30 menit kemudian langsung diminta memasuki ruangan untuk acara gala dinner dimulai.
Acara barus elesai pukul 23.00, langsung kembali ke hotel Westin di Nusa Dua.

Sabtu, 07 November 2009

Ke Nusa Dua Nonton Tenis Commonwealth Bank

Nusa Dua, 6 Nopember 2009. Tiba dengan selamat di Bandara Ngurah Rai Bali bersama istri untuk menyaksikan turnamen tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009 yang berlangsung di Convention Center Westin Resort Nusa Dua Bali. Kegiatan ini hampir setiap tahun saya menyempatkan diri hadir menyaksikan adu kekuatan petenis putri yang cantik cantik di lapangan tenis. Hanya tahun ini tempatnya berbeda di dalam ruangan (indoor) sedangkan sebelumnya di lapangan terbuka (outdor). Biasanya dilaksanakan di Grand Hyatt Nusa Dua Bali.
Turnamen ini awalnya berjudul Wismilak International yang berjalan selama 10 tahun kemudian limatahun silam menjadi Commonwealth Bank Tournament.

Kehadiran kali ini dianggap istimewa, saya mendapatkan undangan khusus selayaknya tamu istimewa bagi penyelenggara. Biasanya setiap tahun Pelti mendapatkan jatah tiket menonton dari awal, dimana saya selama ini hanya menyempatkan diri di semifinal dan final saja bisa hadir. Dan sudah 3 kali saya mendapatkan hadiah dari Wismilak karena berhasil menang di turnamen Wismilak Nostalgia yang biasanya dilaksanakan bulan Agustus. Hadiahnya berupa tiket nonton dan pesawat dari Jakarta ke Bali pp berdua dan menginap di Grand Hyatt Hotel.Semenjak mendapatkan sponsor utama Commonwealth Bank, Pelti tetap diberikan jatah untuk menontonnya. Tetapi tidak mendapatkan fasilitas akomodasi yang menjadi tanggungan sendiri.
Kali ini saya menjadi tamu istimewa, karena diberikan fasilitas akomodasi dan penjemputan di bandara, dan tempat duduk special di tempat VVIP. Selama ini tiket menonton seperti penontona lainnya yaitu disis samping lapangan. Ini kejadian aneh tetapi tentunya ada alasannya sehingga mendapatkan perlakuan khusus.

Dua-tiga minggu lalu saya sibuk membantu penyelenggara dengan bolak balik ke kantor Imigrasi di Rasuna Said. Untuk membantu pengurusan Visa atlet peserta. Keberhasilan ini mendapatkan apresiasi dari Kevin Livesey selaku Direktur Turnamen dan Willy Walla yang pertama kali merintis turnamen ini di Indonesia, sehingga diberikan undangan khusus. Terima kasih banyak Willy Walla dan Kevn Livesey.

Selama pengurusan visa ini saya banyak berbohong kepada rekan rekan di Jakarta khususnya kepada media massa, karena sangat kuatir akan muncul hal hal yang mengganggu jalannya pertandingan. Tetapi kebohongan yang saya lakukan saya komunikasikan dengan Martina Widjaja juga. Bahkan Presiden WTA-Tour David Shoemaker sendiri turun tangan berkomunikasi dengan saya. Memonitor bertemu di Jakarta maupun dengan telpon seluler. Hal yang sama dengan Willy Walla maupun Kevin Livesey.

Setelah check-n langsung menuju gedung convention center disamping hotel melihat pertandingan Marion Bertoli melawan Shahar Peer.

Kesibukan berikutnya adalah memantau rencana kedatangan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng yang disampaikan oleh Tanri Abeng akan hadir di Nusa Dua. Ketemu dengan Kevin Livesey dikantornya, begitu juga istri Kevin yatu Ani. Ungkapan terima kasih bertubi tubi diberikan keduanya kepada saya. Apa yang saya sampaikan adalah semua ini saya lakuka untuk tenis. "That's all"

Senin, 02 November 2009

Keinginan Daerah Adakan TDP


Jakarta, 1 Nopember 2009. Keinginan meningkatkan kegiatan khususnya turnamen ternyata sudah mendapatkan respons cukup besar. Yang jadi masalah nagi masyarakat tenis di daerah adalah ketidak tahuan dari mana mau mulai. Hal ini saya sadari maka sayapun harus berperan aktip atau istilah lainnya adalah menjemput bola ke masyarakat tenis didaerah daerah.

Sayapun langsung kirimkan SMS merupakan jalan pintas yang saya anggap cukup efektip. Kirimkan SMS ke Gorontalo, Palu, Pontianak, Bogor, Sumatra Barat, Medan dan beberapa kota lainnya yang ada nomernya di telpon seluler saya.
Respons juga datang baik langsung berkomunikasi dengan telpon bahkan ada yang datang ke Senayan. Salah satunya datang dari Tuban, rekan dr. Hari Wahyono rekan alumnus FK Unair Surabaya. Kedatangannya tidak saya duga, dan saya pernah bertemu 6 tahun silam di Surabaya saat saya sebagai penyelenggara turnamen antar dokter.
Tuban berkeinginan selenggarakan turnamen Veteran dan kelompok umum, tetapi saya lebih cenderung ke yunior. Dr. Hari Wahyono yang peduli dengan tenis bukan anggota Pengkab Pelti Tuban tetapi mau peduli dengan tenis sudah merupakan aset bagi pertenisan kita. Direncanakan ada turnamen veteran dan kelompok umum dibulan Januari 2010.

Begitu juga saya kedatangan tamu dari Pariaman Sumatra Barat. Ir. Fitrias Bakar bersama kedua rekannya. Bertemu dan menyampaikan keinginanmemajukan daerahnya yang barusan kena gempa. "Kami sekarang duduk di KONI Kabupaten Pariaman." ujarnya.
Diceritakan saat ini punya 60 petenis yunior yang ditampung oleh klubnya yang dibentuk sebagai kecintaan terhadap prestasi pemuda dan pemudi di Pariaman. Kegiatan Persami sudah merupakan agenda setaiap 3 bulan dilaksanakan di Pariaman . Pembicaraan cukup hangat karena saya bersama mereka mempunyai visi kedepan yang sama. Sama sama "gila" tenis, begitulah istilah yang tepat. "Ini yang dibutuhkan oleh tenis kita." ujar saya kepada mereka. Pertemuan dilanjutkan dengan foto bersama didepan kantor PP Pelti Senayan.

Ketua Pelti Bogor Dr. Purnomopun menyambut baik SMS saya dan bahkan berkeinginan bertemu untuk merealiser keinginan agar Bogor punya Turnamen nasional. Direncana secepatnya saya ketemu dengan dr.Purnomo di Bogor. Ya, sayapun ingin sekali agar keinginan pelaku pelaku tenis didaerah bisa terealiser . Semoga !

Pelanggaran Code of Conduct di Mini Tenis


Jakarta, 31 Oktober 2009. Menyaksikan pertandingan mini tenis dalam rangka Festival Sport Menpora di halaman kantor Mengepora Jakarta, ada beberapa kejadian yang sudah harus mendapatkan perhatian khusus bagi orangtua, pelatih dan pelaksana pertandingan. Saya melihat anak anak usia 8 tahun bertanding cukup mengasyikkan sekali karena terjadi adu reli reli panjang yang jarang sekali bisa didapatkan diturnamen kelompok umur. Dengan gunakan raket plastik dengan bola lebih ringan dan ukuran lapangan cukup kecil sehingga tidak ada kesulitan bagi anak anak usia 8 athun ini bisa bermain tenis.

Kejadian yang sudah perlu mendapatkan perhatian adalah dua atau tiga atlit dalam pertandingan sering keluarkan yel yel sendiri yang sebenarnya positip untuk dirinya tetapi akhirnya sudah menjurus mengganggu konsentrasi lawannya. Andaikan dilakukan untuk menaikkan semangatnya , itu bukan masalah, tetapi sejak mulai menunjukkan suatu tindakan provokasi langsung kepada lawannya, ini sudah melanggar ketentuan yang ada di pertandingan tenis. Ini terdapat dalam Code of Conduct, yaituUnsportsmanlike conduct. Disebutkan kalau setiap petenis dalam bertanding selalu harus berlaku sportip. "Players shall at all times conduct themselves in a sportmanlke manner and give due regard to the authority of officials and the rights of opponents, spectators and others." Ini cukup jelas aturan ini yang berlaku mulai dari pemain sudah masuk lapangan melakukan pemanasan sampai dengan pertandingan selesai dan pemain meninggalkan lapangan.

Ada dugaan cara cara ini dianjurkan oleh pelatih dari atlet tersebut. Andaikan ini benar tentunya sangat disayangkan sekali. Memang dimaklumi cara ini dengan menteror langsung bisa membuat mental lawannya anjlog. Tetapi disayangkan sekali cara cara ini diterapkan kepada anak anak usia dini, yang sudah jelas melanggar aturan aray code of conduct.
Bagaimana seharusnya dilakukan sebagai tindakan preventive. Yaitu mulai kepada orangtua dan juga pelatih harus diberitahukan atas tindakan seperti ini tidak diperkenankan di pertenisan. Begitu juga para wasit sudah harus mengetahui pelanggaran tersebut. Hanya bedanya untuk menegurnya secara baik baik sehingga anak anak bisa mengertinya.

Trend ini sangat berbahaya sekali kalai tidak segera diambil tindakan segera, jangan sampai terlambat !

Jumat, 30 Oktober 2009

"Saya ini Pengurus Pelti "


Jakarta, 30 Oktober 2009. " Mana yang dari Pelti " ujar Menegpora Dr.Andi Mallarangeng kepada panitia. Kebetulan saya duduk dibelakngnya. "Saya ini pengurus Pelti." katanya sambil berjabat tangan. Pembukaan Festival Sport Menegpora hari ini oleh Menegpora yang baru Andi Mallarangeng di halaman Kantor Menegpora. Ini hari pertama saya bertemu dengan Andi Mallarangeng semenjak menjadi Menteri Negara Pemuda dan Olahraga R.I. Sewaktu acara serah terima jabatan dengan Menegpora yang lama Adhyaksa Dault , saya tidak sempat hadir karena terlambat akibat macet dijalan dari Rasuna ke Senayan.

"Saya lihat ini, teringat masa kecil saya. Main bola kemudian tenis. Ikut turnamen di Malang. Beda dengan Om yang anaknya dibawah angkatan saya." ujar Andi Mallarangeng kepada saya. Begitulah ungkapan yang diceritakan disela sela pembukaan Festival Sport Menegpora.

Kemudian diceritakannya kalau dulu sewaktu ikut turnamen bersama adiknya Rizal Mallarangeng di turnamen nasional yunior dikota Malang, diajak Totok Gani latihan di Mojokerto. "Saya pernah latihan sama Deddy Tedjamukti. Tapi saya tidak pernah juara, tidak seperti adik saya Rizal." ujarnya. Kemudian saya ralat. "Maksudnya Deddy Prasetyo." ujar saya kepadanya. " Oh ya maksud saya Deddy Prasetyo." ujarnya didepan wartawan yang mewancarainya. Karena saya tahu Deddy Prasetyo itu berasal dari Mojokerto sebelum ke Jakarta.

Andi Mallarangeng sempat menanyakan mengenai Maesa. " Apa masih ada turnamen tenis Maesa." pertanyaan yang disampaikannya. Setelah saya jelaskan tentang Maesa yang saat ini telah berusia 85 tahun, masih tetap eksis setiap tahun selenggarakan turnamen tenis." Memang orang Manado suka main tenis." ujarnya
Begitulah pertemuan sore ini disela sela Menegpora Sport Festival yang mempertandingkan cabang cabang olahraga seperti Mini Tenis, Futsal, Bola basket ( 3 on 3) dan renang dimana putra putri bangsa ikut dilibatkan. Terlihat cukup ramai suasana anak anak sekolah bermain futsal yang dibukan dengan tendangan pertama oleh Menegpora Andi Mallarangeng.

Kamis, 29 Oktober 2009

Mini Tennis is The best way for children to learn TENNIS

Jakarta, 29 Oktober 2009. Teringat akan "MINI TENNIS IS THE BEST WAY FOR CHILDREN TO LEARN TENNIS. IT IS ESSENTIAL FOR CHILDREN UP TO THE AGE OF 10 YEARS TO LEARN THE PHYSICAL SKILLS OF RUNNING, JUMPING, BALANCE, CO-ORDINATION, THROWING AND CATCHING AS WELL AS BASIC TENNIS SKILLS IF THEY ARE TO REACH THEIR FULL SPORTING POTENTIAL." saya harus persiapkan juga salah satu kegiatan membantu rekan Hudani Fajri yaitu Kejuaraan Mini Tenis yang awalnya direncanakan tanggal 30 Okt - 1 Nopember 2009 di halaman Kantor Menegpora, Jakarta.Kemudian diubah menjadi 31 Okt-1 Nop 2009 ditempat yang sama.
Tetapi surat pemberitahuan yang dikirimkan kedaerah daerah tidak mendapatkan respons , hanya respons datangnya dari sekolah sekolah tenis yang berminat, yaitu sekolah FIKS Bandung, KTC Jakarta dan beberapa sekolah tenis di Jakarta. Ini membuat masalah karena rencananya pertandingan beregu antar sekolah tenis. Melihat hasilnya kurang memuaskan sekali maka format dirubah menjadi kejuaraan perorangan dan wajtunya cukup 2 hari saja. Langsung kirim SMS lebih cepat dibandingkan komukiasi dengan surat. Ternyata SMS ini membuahkan hasil yaitu mulailah berdatangan pendaftaran dari Bandung, Cirebon,Padang, Bogor dan Jakarta.

Melihat panduan dari ITF, persoalan belajar tenis termudah sebenarnya melalui mini tenis kemudian dikembangkan menjadi Play and Stay. Tetapi kenapa program Mini Tenis ini yang sudah diperkenalkan di Indonesia saat ini kurang mendapatkan respon. Ya, menurut saya sebenarnya tergantung kepada pelaku pelaku tenis di organisasi maupun dilapangan. Menurut pendapat saya, terlalu besar keinginan belajar tenis langsung ke tenis alias instan, tanpa melalui proses dari bawah maksudnya tidak melalui mini tenis kemudian Play and Stay. Mereka lupa kalau main tenis itu butuh waktu lama butuh proses yang panjang. Yang terjadi sekarang, makin berkurangnya peminat main tenis dikalangan remaja atau anak2. Ini yang harus dipecahkan. Sedangkan bentuk permainan diluar tenis sangat banyak yang menggiurkan dibandingkan tenis sendiri.
Menyadari hal ini oleh ITF diberikan bimbingan berdasarkan penelitian mereka. Sehingga dibuatkan konsep mini tenis kemudian Play and Stay , begitu juga turnamennya tidak disamakan dengan turnamen dewasa. Ada perubahan bentuk lapangan, bola dan raket. Unsur enjoy merupakan salah satu unsur penting yang ditonjolkan sehingga anak2 tidak cepat bosan. Pengamatan saya sendiri didalam pertandingan KU 10 tahun ataupun dibawahnya, tidak ada reli reli panjang didalamnya. Satu dua kali pukulan sudah selesai. Ini bukan harapan anak anak sebenarnya. Ini harapan pelatih ataupun orangtua yang berkeingian untuk menang diutamakan. Ini keliru besar menurut saya. Karena anak anak belum menikmati permainannya sudah selesai. Saya sendiri melihat video permainan anak2 dibawah usia 10 tahun dengan menggunakan format lapangan, raket dan bola yang dimodifikasi, terlihat reli reli panjang dilakukan anak anak. Ini salah satu contoh. Karena dengan adanya relireli panjang akan akan terlatih sudah koordinasi, footwork, konsistensi dan lain lainya tanpa perlu diajarkan , cukup dilaksanakan langsung dilapangan.

Sekarang kembali kepada kita pelaku pelaku olahraga tenis, maukah berbuat lebih baik dengan mempopulerkan mini tenis yang sekaligus tenis secara utuh kepada masyarakat tenis ?
Melihat kondisi seperti ini sayapun harus bisa mencoba bukan hanya menghimbau. Sayapun akan mulai mencoba berbuat daripada hanya mengeritik saja. Saya langsung teringat rencana selenggarakan RemajaTenis di Cirebon pada tanggal 18-20 Desember 2009. Diakhir acara bersamaan dengan babak finalnya, akan saya buat konsep permainan mini tenis. Syaratnya akan mengundang anak anak disekolah sekolah SD di Cirebon yang belum mengenal tenis secara seutuhnya. Mudah mudahan rencana ini bisa direstui semua pihak.