Kamis, 19 Januari 2017

Mari Galakkan Tenis dari Turnamen

Jakarta, 20 Januari 2017. Saya teringat disaat tahun 1989 sudah mendapatkan tugas di kepengurusan Pelti disaat ketua umumnya Moerdiono (alm). Terima kalender turnamen di Australia itu sudah tercantum sekitar 100 turnamen yunior dalam setahun. Oleh karena itu langsung bertekadi Indonesia harus bisa juga meniru negara tetangga yang tenisnya jauh lebih maju daripada Indonesia.
Itulah awal dari "kegilaan" saya agar makin banyak turnamen di Indonesia, baik waktu masih duduk dikepengurusan maupun setelah diluar kepengeurusan PP Pelti.

Setelah bisa kembangkan turnamen dipulau Jawa, maka teringat sewaktu masa muda bermain tenis diluar Jawa yaitu Bali, Singaraja dimana tenis mulai saya kenal karena orangtua sendiri sebagai petenis mewakili Nusa Tenggara diajang PON II Jakarta-PON IV Makassar

Rabu, 18 Januari 2017

AFR Mau Dituntut Ke Polisi Pencemaran Nama Baik

Jakarta, 18 Januari 2017. Ada satu kasus yang perlu saya catat disini ditahun 2016 yang belum saya catat. Ketika itu sedang kalau tidak salah bulan Agustus 2016 . Dalam grup WA yang saya bentuk dengan tujuan untuk saling berikan informasi tentang tenis rencana awalnya tetapi kadang kala dimanfaatkan untuk berbicara agama. Mengingatkan akan Tuhan dari masing masing Agama. Ada yang protes dan ada juga yang setuju. Tetapi yang ingin saya angkat adalah satu peristiwa dimana saya buat statement di Forum Komunitas Tenis

Pro Kontra Prize Money Turnamen Yunior ( 3 )

Jakarta, 18 Januari 2017.  Dalam beberapa hari ini saya sempat berkomunikasi melalui WA dengan rekan rekan didaerah. Baik yang sudah pernah kenal maupun yang belum kenal. Biasanya kalau yang duduk di Pengda sebagian besar masih atau sudah kenal sama saya. Tetapi bukan berarti saya tidak berkomunikasi dengan rekan rekan di Pengcab Pelti. Tetap ada.
Ada yang menarik dalam komunikasi minggu ini Karena saya bertaya mengapa daerahnya minim turnamen (bukan berarti tidak ada, karena dalam catatan saya setahun kira2 1-2 turnamen). Yaitu ada pengakuan kalau didaerahnya (Sumatra), diutamakan ada hadiah prize money untuk turnamen yunior.
Dalam hal ini saya hanya sampaikan masalah ketentuan yang dibuat oleh Pelti maupun ITF dan tentunya ITF buat ketentuan ada tujuannya.
Saya juga katakan kalau daerah tetangganya itu juga sering kemukakan kalau berminat adakan turnamen nasional. Tetapi menurut saya hanya lip service saja, Faktanya sudah ada 3 orang dari 3 kota yang kemukakan sejak 2 tahun silam. Realisasinya tidak ada. Bukan masalah bagi saya.

Pro Kontra Prize Money Turnamen Yunior (2)

Jakarta, 18 Januari 2017. Kira kira bulan Desember 2016 saya sempat bertemu dengan Ketua Bidang Pembinaan Junior PP Pelti Aga Soemarno dilapangan tenis Hotel Sultan disaat ada kejuaraan nasional tenis (PGN).
Ada satu pernyataan dari Aga masalah prestasi petenis yunior Indonesia, Yang dipermasalahkan adalah mindset para orangtua kita, Yaitu tidak bisa membedakan masalah junior dan senior. Kalau junior tentunya tidak boleh ada hadiah uang tetapi kalau senior tentunya hadiahnya adalah uang. Akibatnya sering kali yang dicari adalah turnamen berhadiah uang yang  beredar diluar jangkauan Pelti. Tetapi bagi para orangtua yang mengejar prestasi tentunya bukan turnamen tersebut yang dikejar, kecuali pada waktu itu tidak ada jadwal turnamen TDP.

Pro Kontra Prize Money Turnamen Yunior ( 1)

Jakarta, 18 Januari 2017. Ada suatu masalah mendasar terjadi dipertenisan yunior Indonesia. Masalah tersebut kelihatannya sepele tetapi ini mendasar. Pernah juga dalam suatu rapat kecil sekelompok masyarakat tenis dikalangan klub Maesa di Jakarta. Oleh salah satu rekan mantan petenis yunior yang pernah menjadi petenis daerah memberikan suatu pernyataan yang dalam rapat tersebut sedang membicarakan rencana selenggarakan turnamen nasional yunior di Manado. Karena letaknya di Manado maka butuh beaya besar kalau mau ikut. Sehinga timbul gagasan agar menarik perhatia peserta maka diberikan hadiah besar dalam bentuk uang cash. Disni saya tentang dengan punya dasar kuat yaitu Ketentuan TDP.

" Sudah bukan jamannya lagi kalau bikin turnamen yunior tanpa hadiah uang. Karena jaman sudah berubah." Begituah pernyataan tersebut muncul. Kemudian saya kemukakan ini masalah aturan atau peraturan resmi dari Persatuan Tenis seluruh Indonesia (PELTI) yang dikenal dengan Ketentuan Turnamen Diakui Pelti (TDP)

Selasa, 17 Januari 2017

Weakness AFR ternyata juga bisa menjadi Strength

Jakarta, 18 Januari 2017. Dalam percakapan saya dengan rekan bisnis sewaktu masih diluar Pelti , saya sempat berbincang bincang dan diapun sempat bertanya, apa yang saya dapatkan selama ngurus tenis di Pelti. Jawaban saya cukup singkat, yaitu Kepuasan.
.
Nah, kalau sudah itu jawabannya maka sudah tidak ternilai lagi sehingga sulit dijabarkan.

Memang sudah ada rekan rekan yang ikut bantu dalam menjalankan RemajaTenis karena selama saya duduk di Pelti rasanya kurang etis kalau saya yang jalankan sendiri, maka saya serahkan ada rekan yang mau bantu dan karena ada waktu. Dari 2009 sampai saya lengser di Pelti akhir 2012, rekan tersebut sanggup menjalankan dengan baik. Saya salut. 

Kenapa Bisa Ada RemajaTenis diluar Jawa

Jakarta, 18 Januari 2017. Kalau melihat peta Indonesia yang terdiri dari 34 Provinsi maka kesimpulannya sebenarnya animo tenis cukup besar. Dari 34 Provinsi tersebut yang sudah pernah saya lihat sarana lapangan tenisnya yaitu Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu, Sumsel, Lampung dan Bangka Belitung. Jadi seluruh Sumatra sudah pernah saya lihat bukan hanya di Ibukota Provinsi tetapi juga sampai ke kabupatennya, seperti Sumbar yaitu Payakumbuh, kemudian Riau sampai Kab Pelalawan, dan Sumsel ada 3 tempat yaiti Baturaja. Tanjung Enim/Muara Enim, Muba. Lampung bahkan ke Kabupaten Lampung Tengah. 

Senin, 16 Januari 2017

Jangan cari Makan di Tenis

Jakarta, 17 Januari 2017. Dalam suatu percakapan dengan salah satu orangtua atlet peserta AFR RemajaTenis , muncul suatu kekuatiran dari yang bersangutan tentang hasil pemantauannya didalam grup WA masalah cari untung di Tenis.
Memang saya sering baca keluhan atau ocehan bagi masyarakat tenis yang diungkapkan kepada masyarakat adalah janganlah cari untung di tenis. Yang sebenarnya ditujukan kepada anggota Pengurus PELTI.

Memang konotasinya sangat negatip sekali.Tetapi saya tetap berpikiran positip saja  karena motivasi yang berbicara masalah ini dan sering digembar gemborkan itu lupa diri atau seharusnya mengaca dulu.  Disini saya mau bedakan dari percakapan tersebut. Jangan cari untung jika selenggarakan turnamen. Nah, pengalaman selama ini sejak duduk aktip di kepengurusan Pelti sejak 1987, ternyata hasil turnamen itu selalu berlebihan sehingga dari turnamen bisa mendanai bidang pembinaan.