Jakarta, 6 Februari 2010. Disela sela turnamen nasional RemajaTenis yang berlangsung di lapangan tenis GOR Rawamangun Jakarta Timur, bertemu dengan sesama rekan tenis baik itu pelatih, orangtua maupun pendatang baru cukup menarik hati bagi saya. Bertemu muka dengan berbagai cara, baik duduk maupun berdiri menyempatkan diri berdiskusi (istilah kerennya) mengenai pertenisan Indonesia.
Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu datangnya dari salah satu pelatih tenis yaitu Handono Murti. "Mana hasil kerja dari pelatih ITF Level-2 Indonesia.?ujarnya didepan pelatih Pudjo Prayitno, Ariawan Poerbo dan saya sendiri. Mengingat beberapa hari lagi di Senayan diadakan National ITF Level-1 Coaches Course yang cukup menarik perhatian pelatih pelatih daerah sehingga bisa menolak pendaftar yang terlambat.
Kenapa menarik perhatian saya, karena sebenarnya menurut saya ini salah satu kendala prestasi petenis muda ini adalah lemahnya pengetahuan pelatih Indonesia. Handono sendiri mengakuinya pula. Kenapa bisa demikian. Sepengetahuan saya dari data pelatih tenis yang terdaftar di induk organisasi Pelti melebihi angka 1.000 pelatih. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak sedikit sudah ada. Sekarang kita pertanyakan kembali, dari 1.000 pelatih terdaftar itu ada berapa orang yang aktip melatih, khususnya anak anak. Menurut pengamatan saya tidak lebih dari 10 %. Kok bisa begitu. Ini yang perlu dikaji bersama.
Mayoritas pelatih tenis yang terdaftar tidak seratur prosen menjadi PELATIH sebagai PROFESInya, artinya predikat pelatih hanya diperlukan untuk membantu profesinya yang lain khususnya sebagai PNS, dibutuhkan berbagai sertifikat yang bisa mengangkat status kepegawaianya. Ini dia masalahnya. Cukup besar kalau tidak dibenahi.
Mayoritas calon pelatih jika ingin ikut kepelatihan pelatih hanya membutuhkan SERTIFIKAT belaka. Walaupun sertifikat keikut sertaan itu sangat besar pengaruhnya. Padahal kepelatihan sekarang kebanyakan ada ujiannya.Bukan seperti seminar. Maka dari itu jika ada kepelatihan pesertanya cukup membludak, karena yangdikejar adalah sepotong kertas belaka.
Kembali kepertanyaan pelatih Handono Murti. Dimana hasil dari pelatih berpredikat ITF Level-2 yang jumlahnya terbatas di Indonesia, yaitu 13. Tecatat nama nama dari Jakarta seperti Agustina Wibisono, Hudani Fajri, Rani Jacob, Roy Morison, Peter Susanto, Marieke Gunawan, Tjahjono dan Alfred Raturandang. Dari Bandung ada Wibowo Hadisubroto, dari Jogja ada Ngatman Suwito, dari Surabaya ada Irmantara Soebagyo, Patricia Budiono dan Raymond Alimwidodo.
Kembali ke pribadi masing masing pelatih yang telah menyandang predikat pelatih ITF.
Sabtu, 06 Februari 2010
Rabu, 03 Februari 2010
Berdayakan Pelatih tenis

Jakarta,3 Februari 2010. Berbicara masalah prestasi tenis melibatkan berbagai unsur sebagai pendukungnya. Mulai dari orangtua kemudian atletnya sendiri, pelatih dan program programnya dan akhirnya adalah dana, karena tanpa dana maka sulit mendapatkan prestasi.
Minggu depan Tabloid Tennis bersama Pelti didukung oleh Kantor Menegpora RI, diadakanlah National ITF Level-1 Coaches Course. Respons cukup besar datang dari Papua, Sumbawa, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Riau, Kepulauan Riau dll.
Yang mnejadi pertanyaan sekarang adalah kenapa olahraga Indonesia bisa menurun prestasinya. Kecendrungan menurun sudah lama terlihat hampir disemua cabang olahraga termasuk tenis. Apa yang bisa dilakukan. Khususnya tenis, kegiatan turnamen yang merupakan salah satu program pembinaan bukan menurun tetapi meningkat.
Ada satu pemikiran agar prestasi tenis Indonesia bisa berkembang dengan baik dimana selama ini saya perhatikan hampir dilupakan. Peningkatan kualitas atlet sudah dijalankan kemudian peningkatan kualitas pelatih melalui penataran penataran pelatih yang hampir setiap tahu diadakan di Indonesia.
Berita bagus, dengan diusulkannya ketentuan pembatasan umur di kegiatan akbar PON XVIII tahun 2010. Yaitu kelahiran tahun 1991. Ini tentunya membuka peluang bagi atlet yunior bisa berkembang. tetapi ada yang dilupakan yaitu pelatih. Coba diperhatikan kualitas pelatih Indonesia saat ini. Dari ketentuan ITF ada tingkatan pelatih tenis Internasional. Mulai dari ITF Level-1 kemudian diatasnya Level-2 dan seterusnya Level-3. Sampai saat ini Indonesia baru sampai ke Level-2 yang jumlahnya terbatas pula. Sisanya Level-1.
Kita seharusnya bisa meniru ITF, karena sesuai ketentuan ITF, setiap kegiatan kejuaraan beregu yunior diminta pelatih pendamping adalah yang bersertifikat ITF Level-1 (minimal). Berarti menghargai programnya sendiri yaitu mengangkat pelatih ITF . Nah bagaimana dengan Indonesia.
Ada pemikiran saya, kegiatan beregu cukup banyak di 33 provinsi Indonesia ini. Setiap 2 tahun ada yang disebut Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan sekarang menjadi Pekan Olahraga Provinsi yang pesertanya adalah dari Kotamadya, Kabupaten. Setelah itu ada PON .
Alangkah manisnya kalau Pelti bisa memberdayakan pelatih pelatih yang ada,. Mulai dari setiap PON pelati pendamping adalah bersertifikat ITF Level-1 atau Level-2. Karena Indoneia belum memiliki pelatih ITF Level-3.
Sehingga setiap provinsi akan terpacu memiliki pelatih ITF Level-1 ini. Begitu juga jika tingkatProvinsi, bisa juga menggunakan pelatih dibawahnya yang diakui Pelti seperti pelatih dasarPelti dan seterusnya.
Begitulah kira kira pemikiran saya dikegiatan multi event, dimana dilakukan pemberdayaan pelatih yang dimilikinya.
Selasa, 02 Februari 2010
Terbuka sudah kasus catut umur atlet KUDUS
Jakarta, 2 Februari 2010. Hari ini saya menerima jawaban dari instansi penerbit Akte Kelahiran Kabupaten Kudus yang menjawab surat PP Pelti tentang keabsahan satu atlet asal Kudus yang sempat diributkan di turnamen nasional Pemalang Open akhir Desember 2009. Memang saat turnamen berlangsung saya ditilpon oleh salah satu pelatih dari Sumatra mempertanyakan masalah usianya yang diragukan karena masih umur 12 tahun tetapi sudah kelas 2 SMP. Saat itu saya langsung buka file yang ada di Kartu Tanda Anggota Pelti. Waktu itu saya melihat kecurigaan atas fotocopy Akte Kelahiran dan juga cipy Buku rapor SD dan SMP yang dikirimkan ke PP Pelti. Tetapi saya harus lihat akte kelahiran yang asli begitu juga yang buku rapor. Sebelum turnamen New Armada di Magelang , saya sudah minta Panpel New Armada (Januari 2010) untuk menghubungi atlet tersebut untuk membawa yang asli walaupun yang bersangkutan ikut di KU 14 tahun. Pelanggaran terjadi di Pemalang Open.
Karena tidak berhasil Referee membuktikan karena kurang faham sehingga bisa lolos. Tetapi ini tidak mengurangi kecurigaan saya karena model copy Aktenya saya ragukan keasliannya. Maka sayapun kirim surat ke Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus mempertanyakan copy akte No. 2465/1966 tertanggal 15 Oktober 1996 dan juga Nomor 2973/1997 tanggal 30 Oktober 1997 . Klarifikasi yang kami minta ternyata mendapatkan jawaban dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kudus tertanggal 25 Januari 2010 dengan Nomor 474.1/66/1203 yang menyatakan kedua kutipan akta kelahiran tidak dikenal dan tidak dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus.
Nah kalau begini jawabannya maka apa maksudnya. Pengertian saya so pasti PALSU. Nah kecurigaan makin menjadi jadi, maka saya akan buka file atlet atlet yang secara kasep mata saya bisa katakan mencurigakan. Ini sepengetahuan saya waktu tahun 2007 saya sudah kumpulkan filenya tetapi saya lupa letakkan dimana. Tetapi karena sudah tekad saya maka akan saya cari dan publikasikan segera.
Kali ini sudah tidak bisa menghindar maka akan segera dilaporkan untuk ditindak.
Sesuai ketentuan TDP yang dikeluarkan PP Pelti maka hukumannya adalah 1 (satu) tahun tidak bisa bertanding disemua TDP baik kelompok yunior maupun kelompok umum. Tinggal menunggu siapa gerangan korban berikutnya ? Masih banyak jawabannya !
Karena tidak berhasil Referee membuktikan karena kurang faham sehingga bisa lolos. Tetapi ini tidak mengurangi kecurigaan saya karena model copy Aktenya saya ragukan keasliannya. Maka sayapun kirim surat ke Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus mempertanyakan copy akte No. 2465/1966 tertanggal 15 Oktober 1996 dan juga Nomor 2973/1997 tanggal 30 Oktober 1997 . Klarifikasi yang kami minta ternyata mendapatkan jawaban dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kudus tertanggal 25 Januari 2010 dengan Nomor 474.1/66/1203 yang menyatakan kedua kutipan akta kelahiran tidak dikenal dan tidak dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus.
Nah kalau begini jawabannya maka apa maksudnya. Pengertian saya so pasti PALSU. Nah kecurigaan makin menjadi jadi, maka saya akan buka file atlet atlet yang secara kasep mata saya bisa katakan mencurigakan. Ini sepengetahuan saya waktu tahun 2007 saya sudah kumpulkan filenya tetapi saya lupa letakkan dimana. Tetapi karena sudah tekad saya maka akan saya cari dan publikasikan segera.
Kali ini sudah tidak bisa menghindar maka akan segera dilaporkan untuk ditindak.
Sesuai ketentuan TDP yang dikeluarkan PP Pelti maka hukumannya adalah 1 (satu) tahun tidak bisa bertanding disemua TDP baik kelompok yunior maupun kelompok umum. Tinggal menunggu siapa gerangan korban berikutnya ? Masih banyak jawabannya !
Senin, 01 Februari 2010
Pelti dikatakan " DO NOTHING "
Jakarta, 2 Februari 2010. Tudingan PELTI "DO NOTHING" kepada altetnya dilemparkan oleh Ketua Forkopi kepada Danny Walla Ketua Bidang Pembinaan Yunior PP Pelti yang disaksikan juga oleh Christian Budiman langsung dibantah oleh Danny Walla.
Cukup menarik perhatian saya karena sebagai pendamping kedua rekan saya karena Johannes Susanto sedang berhalangan hadir dalam pertemuan ini, disela sela Seleksi Nasional KU 16 tahun yang berlangsung di Pusat Tenis Kemayoran Jakarta.
Entah darimana asal mulanya sehingga muncul tudingan seperti itu. Saya banyak mendengar tudingan dilontarkannya hanya berdasarkan asumsi, dugaan atau penafsiran sendiri sehingga banyak pula dimentahkan oleh Danny Walla.
"Do Nothing", salah satunya dan langsung diminta buktinya. Diberinya contoh pengalamannya baru baru ini ke Australia, dimana asosiasi memberikan bea siswa kepada atletnya. Langsung disampaikan oleh Danny Walla, diberikannya beasiswa karena sudah ada PRESTASI baru asosiasi membantunya. Bukannya belum apa apa sudah menuntut asosiasi memberikan bantuannya. Langsung diberikan contoh contoh dimana peranan Pelti cukup besar kepada atletnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tudingan itu seharusnya cepat cepat diralat, bukan asal bunyi.
Menarik juga kalau saya menilai pembicaraan ini karena beberapa hal yang diungkapkan tidak selamanya benar. Kedengarannya benar bagi orang awam, tetapi sebaliknya bagi yang sudah mengenalnya.
Begitu juga jikalau setiap orang sudah berbuat baik tetapi masih dituding yang tidak tidak apalagi yang menuding punya interest tertentu, maka bisa saja yang bersikap awalnya tenang bisa menjadi gelombang besar. Hal ini juga terjadi sewaktu dikatakan SALAH maka secara otomatis dibantahnya dengan katakan KAMU yang salah. Begitulah dialog sekelumit yang saya dengar, cukup menarik bagi saya, sebagai pendengar yang baik.
Ada ada saja setiap seleknas selalu muncul perdebatan dengan masing masing keinginannya sendiri sehingga kadang kala selalu mendeskreditkan pihak lawannya.
Satu sisi Pelti akan mencoba memperbaiki sistemnya jikalau dianggap keliru, bukan salah. Marilah kita dengan kepala dingin saling membantu memberikan solusi dengan baik sehingga pertenisan bisa maju.
Pengalaman selama ini yang selalu ribut adalah bagi atlet yang ternyata urutan 7-10 besar, bukannya urutan 5 besar.
Kemarin saya baru ikuti Seminar Kecil Pengarusutaan Olahraga Menuju Kebangkitan Prestasi Olahraga Nasional di kantor Kementerian Negara Pemuda Olahraga. Hadir teknokrat berasal dari berbagai instansi. Banyak teori dikeluarkan para ahli dari Perguruan Tinggi disampaikan untuk Menteri Pemuda dan Olahraga DR Andi Alfian Mallarangeng.
Sehingga ada pemikiran agar Pelti bisa juga membuat seminar untuk tenis dimana pelatih ataupun tenaga ahli dari Perguruan Tinngi diundang menyumbangkan pemikirannya. Ini baru idea saya saja, apakah mungkin dan adakah yang mau menjadi sponsornya karena tentunya perlu dana juga.
Cukup menarik perhatian saya karena sebagai pendamping kedua rekan saya karena Johannes Susanto sedang berhalangan hadir dalam pertemuan ini, disela sela Seleksi Nasional KU 16 tahun yang berlangsung di Pusat Tenis Kemayoran Jakarta.
Entah darimana asal mulanya sehingga muncul tudingan seperti itu. Saya banyak mendengar tudingan dilontarkannya hanya berdasarkan asumsi, dugaan atau penafsiran sendiri sehingga banyak pula dimentahkan oleh Danny Walla.
"Do Nothing", salah satunya dan langsung diminta buktinya. Diberinya contoh pengalamannya baru baru ini ke Australia, dimana asosiasi memberikan bea siswa kepada atletnya. Langsung disampaikan oleh Danny Walla, diberikannya beasiswa karena sudah ada PRESTASI baru asosiasi membantunya. Bukannya belum apa apa sudah menuntut asosiasi memberikan bantuannya. Langsung diberikan contoh contoh dimana peranan Pelti cukup besar kepada atletnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tudingan itu seharusnya cepat cepat diralat, bukan asal bunyi.
Menarik juga kalau saya menilai pembicaraan ini karena beberapa hal yang diungkapkan tidak selamanya benar. Kedengarannya benar bagi orang awam, tetapi sebaliknya bagi yang sudah mengenalnya.
Begitu juga jikalau setiap orang sudah berbuat baik tetapi masih dituding yang tidak tidak apalagi yang menuding punya interest tertentu, maka bisa saja yang bersikap awalnya tenang bisa menjadi gelombang besar. Hal ini juga terjadi sewaktu dikatakan SALAH maka secara otomatis dibantahnya dengan katakan KAMU yang salah. Begitulah dialog sekelumit yang saya dengar, cukup menarik bagi saya, sebagai pendengar yang baik.
Ada ada saja setiap seleknas selalu muncul perdebatan dengan masing masing keinginannya sendiri sehingga kadang kala selalu mendeskreditkan pihak lawannya.
Satu sisi Pelti akan mencoba memperbaiki sistemnya jikalau dianggap keliru, bukan salah. Marilah kita dengan kepala dingin saling membantu memberikan solusi dengan baik sehingga pertenisan bisa maju.
Pengalaman selama ini yang selalu ribut adalah bagi atlet yang ternyata urutan 7-10 besar, bukannya urutan 5 besar.
Kemarin saya baru ikuti Seminar Kecil Pengarusutaan Olahraga Menuju Kebangkitan Prestasi Olahraga Nasional di kantor Kementerian Negara Pemuda Olahraga. Hadir teknokrat berasal dari berbagai instansi. Banyak teori dikeluarkan para ahli dari Perguruan Tinggi disampaikan untuk Menteri Pemuda dan Olahraga DR Andi Alfian Mallarangeng.
Sehingga ada pemikiran agar Pelti bisa juga membuat seminar untuk tenis dimana pelatih ataupun tenaga ahli dari Perguruan Tinngi diundang menyumbangkan pemikirannya. Ini baru idea saya saja, apakah mungkin dan adakah yang mau menjadi sponsornya karena tentunya perlu dana juga.
Jumat, 29 Januari 2010
Sanggupkah FORKOPI ?
Jakarta, 29 Januari 2010. Pertemuan hari ini antara FORKOPI dengan PP Pelti cukup ramai juga karena ada ketidak puasan atas kebijakan PP Pelti terhadap Seleknas KU 16 tahun, yang dipandang perlu mendapatkan masukan sebelum memberikan keputusan.
Tetapi bagi saya yang lebih banyak diamnya, dibandingkan banyak bicara, kecuali diminta oleh pimpinan rapat Johannes Susanto. Lebih cenderung menganalisa mau kemana arah pembicaraan tersebut. Yang sebenarnya saya sudah tahu betul maksud dan tujuannya.
Sebelum semua pembicaraan selesai, maka saya minta ijin kepada Johannes Susanto selaku yang mengundang mereka untuk menyampaikan sedikit anjuran.
Sayapun menghargai pertemuan seperti ini yang sudah memasuki untuk kedua kalinya. Dan saya sangat menghormati upaya yang dilakukan oleh rekan rekan yang mengatas namakan sebagai wadah resmi bagi para orangtua petenis di Indonesia, yaitu FORKOPI. Dan Pelti sebagai induk organisasi lebih senang jika bisa dikoordiner sesuai harapan masyarakat banyak atas sepak terjang FORKOPI ini. Saya sendiri sebenarnya masih meragukan sepak terjang mereka karena dalam pengamatan saya ini lebih cenderung memikirkan kepentingan anak sendiri dibandingkan kepentingan anak orang lain.
Sayapun minta bantuan sebagai bentuk kerjasama lebih bermanfaat antara FORKOPI dengan Pelti karena selama ini biang kerok kekacauan penyelenggaraan turnamen tenis adalah akibat ulah orangtua sebagai biang protes , yang anggota FORKOPI (Forum Komunikasi Orangtua Petenis Indonesia) ini , bahkan peristiwa terakhir di Surabaya Ketua FORKOPI mengata ngatai petugas pertandingan dengan kata MONYET. Seharusnya sadar fungsi mereka di setiap turnamen yaitu PENONTON saja. Laporan dari Referee justru yang beri contoh Ketuanya. Disamping itu juga saya minta tolong kepada organisasi ini dalam kasus CURI UMUR atlet tenis dimana pelakunya adalah orangtua petenis, yang juga sebagai anggota FORKOPI ini. Permintaan saya ini sepertinya tidak mau dilayani karena ketidak mampuannya dan dengan mengalihkan ke cerita lainnya. " Apakah saudara saudara SANGGUP apa tidak? "
Ternyata permintaan saya untuk mendapatkan jawaban SANGGUP tidak berani dikeluarkan. Bahkan sudah ditambah oleh Johannes Susanto." Seharusnya sanggup." Toh tidak berani menjawabnya. Bahkan saya bisa bantu mereka menunjukkan fotocopy akte kelahiran yang MERAGUKAN. Tidak perlu semua petenis diperiksanya, cukup yang mencurigakan. Jangan hanya ribut ribut di turnamen yang bikin kesal Referee yang bertugas. Sayapun katakan Pelti tidak sanggup, coba bantulah kami. Sayapun sempat memukul meja karena masing masing berbicara tidak menjawab pertanyaan saya. Ini sikap keras saya karena saya sedang serius.
Permintaan ini sebenarnya sudah pernah saya kirimkan dengan email kepada mereka dan tidak ditanggapi. Kekecewaan saya dengan keberadaan FORKOPI bisa membantu permasalahan pertenisan kita semua tetapi hasilnya masih dipertanyakan. Yang saya ketahui hanyalah kalau ada keputusan PP Pelti selalu muncul dengan protes protes mengatasnamakan FORKOPI yang sebenarnya menurut saya pribadi hanyalah trik trik Ketuanya untuk mencari perhatian belaka.
Setelah keluar dari ruang rapat saya bertemu tamu salah satu orangtua lainnya yang bertamu ingin bertemu saya. "Apa itu FORKOPI" itulah pertanyaannya membuat saya heran karena putrinya juga salah satu petenis DKI yang aktip disetiap turnamen tetapi tidak tahu ataupun tidak mau tahu. Ini yang saya kurang tahu.
Bahkan ada pertanyaan dari rekan lainnya, yaitu " Kapan sih dan dimana berdirinya FORKOPI."
Hal yang sama ketika berbicara dengan pelatih Bunge Nahor soal FORKOPI, justru mengatakan tidak mengakui keberadaan FORKOPI. Kesimpulan saya FORKOPI itu hanyalah milik segelintir orang saja di Jakarta. Saya hanya kuatir saja bahwa sepak terjang oknum tertentu dengan berlindung diwadah organisasi. Karena nyatanya justru biang ributnya adalah salah satu petingginya seperti laporan yang saya terima dari rekan Referee.
Masalah seleksi nasional KU 14 tahun, sempat masuk berita kalau akan diambil alih oleh FORKOPI inisiatip seleksi, sedangkan Pelti sudah memutuskan kalau tidak ada seleksi. Berita menyebar kepara orangtua untuk tujuan tertentu. Sedangkan sikap Pelti tetap tidak berubah. "Silahkan seleksi sendiri." Ternyata keinginan itu tidak dapat tanggapan dari orangtua. Dan akhirnya keputusan tetap ditangan PP Pelti.
Akhirnya saya terima SMS dari salah satu orangtua petenis . " Kiapa deng tu FORKOPI ? Kt liat2 so tarlalu byk dikase angin jd makin jadi..."
Tetapi bagi saya yang lebih banyak diamnya, dibandingkan banyak bicara, kecuali diminta oleh pimpinan rapat Johannes Susanto. Lebih cenderung menganalisa mau kemana arah pembicaraan tersebut. Yang sebenarnya saya sudah tahu betul maksud dan tujuannya.
Sebelum semua pembicaraan selesai, maka saya minta ijin kepada Johannes Susanto selaku yang mengundang mereka untuk menyampaikan sedikit anjuran.
Sayapun menghargai pertemuan seperti ini yang sudah memasuki untuk kedua kalinya. Dan saya sangat menghormati upaya yang dilakukan oleh rekan rekan yang mengatas namakan sebagai wadah resmi bagi para orangtua petenis di Indonesia, yaitu FORKOPI. Dan Pelti sebagai induk organisasi lebih senang jika bisa dikoordiner sesuai harapan masyarakat banyak atas sepak terjang FORKOPI ini. Saya sendiri sebenarnya masih meragukan sepak terjang mereka karena dalam pengamatan saya ini lebih cenderung memikirkan kepentingan anak sendiri dibandingkan kepentingan anak orang lain.
Sayapun minta bantuan sebagai bentuk kerjasama lebih bermanfaat antara FORKOPI dengan Pelti karena selama ini biang kerok kekacauan penyelenggaraan turnamen tenis adalah akibat ulah orangtua sebagai biang protes , yang anggota FORKOPI (Forum Komunikasi Orangtua Petenis Indonesia) ini , bahkan peristiwa terakhir di Surabaya Ketua FORKOPI mengata ngatai petugas pertandingan dengan kata MONYET. Seharusnya sadar fungsi mereka di setiap turnamen yaitu PENONTON saja. Laporan dari Referee justru yang beri contoh Ketuanya. Disamping itu juga saya minta tolong kepada organisasi ini dalam kasus CURI UMUR atlet tenis dimana pelakunya adalah orangtua petenis, yang juga sebagai anggota FORKOPI ini. Permintaan saya ini sepertinya tidak mau dilayani karena ketidak mampuannya dan dengan mengalihkan ke cerita lainnya. " Apakah saudara saudara SANGGUP apa tidak? "
Ternyata permintaan saya untuk mendapatkan jawaban SANGGUP tidak berani dikeluarkan. Bahkan sudah ditambah oleh Johannes Susanto." Seharusnya sanggup." Toh tidak berani menjawabnya. Bahkan saya bisa bantu mereka menunjukkan fotocopy akte kelahiran yang MERAGUKAN. Tidak perlu semua petenis diperiksanya, cukup yang mencurigakan. Jangan hanya ribut ribut di turnamen yang bikin kesal Referee yang bertugas. Sayapun katakan Pelti tidak sanggup, coba bantulah kami. Sayapun sempat memukul meja karena masing masing berbicara tidak menjawab pertanyaan saya. Ini sikap keras saya karena saya sedang serius.
Permintaan ini sebenarnya sudah pernah saya kirimkan dengan email kepada mereka dan tidak ditanggapi. Kekecewaan saya dengan keberadaan FORKOPI bisa membantu permasalahan pertenisan kita semua tetapi hasilnya masih dipertanyakan. Yang saya ketahui hanyalah kalau ada keputusan PP Pelti selalu muncul dengan protes protes mengatasnamakan FORKOPI yang sebenarnya menurut saya pribadi hanyalah trik trik Ketuanya untuk mencari perhatian belaka.
Setelah keluar dari ruang rapat saya bertemu tamu salah satu orangtua lainnya yang bertamu ingin bertemu saya. "Apa itu FORKOPI" itulah pertanyaannya membuat saya heran karena putrinya juga salah satu petenis DKI yang aktip disetiap turnamen tetapi tidak tahu ataupun tidak mau tahu. Ini yang saya kurang tahu.
Bahkan ada pertanyaan dari rekan lainnya, yaitu " Kapan sih dan dimana berdirinya FORKOPI."
Hal yang sama ketika berbicara dengan pelatih Bunge Nahor soal FORKOPI, justru mengatakan tidak mengakui keberadaan FORKOPI. Kesimpulan saya FORKOPI itu hanyalah milik segelintir orang saja di Jakarta. Saya hanya kuatir saja bahwa sepak terjang oknum tertentu dengan berlindung diwadah organisasi. Karena nyatanya justru biang ributnya adalah salah satu petingginya seperti laporan yang saya terima dari rekan Referee.
Masalah seleksi nasional KU 14 tahun, sempat masuk berita kalau akan diambil alih oleh FORKOPI inisiatip seleksi, sedangkan Pelti sudah memutuskan kalau tidak ada seleksi. Berita menyebar kepara orangtua untuk tujuan tertentu. Sedangkan sikap Pelti tetap tidak berubah. "Silahkan seleksi sendiri." Ternyata keinginan itu tidak dapat tanggapan dari orangtua. Dan akhirnya keputusan tetap ditangan PP Pelti.
Akhirnya saya terima SMS dari salah satu orangtua petenis . " Kiapa deng tu FORKOPI ? Kt liat2 so tarlalu byk dikase angin jd makin jadi..."
Serangan SMS dari Surabaya
Jakarta, 29 Januari 2010. Hari ini saya terima 4 SMS berturut turut dari nomor 0813 574 153 92, yang tidak pernah saya tanggapi lagi karena sudah pasti orang yang sama. Kritikan maupun masukan dari siapa saja selalu saya terima dengan lega dan tidak perlu kepala panas. Karena nomor ini bukan untuk pertama kali, sehingga saya simpan dengan kode GILA.
Yang pertama muncul “ Dgn tidak adanya sponsor buat persami di Jatim, mjdi indikasi bhw dukungan kpd FR meluntur krn FR mau as a commander (not manager) thd smua prmasalahan tenis nas & daerah & gerak PP Pelti shg FR cenderung one man show & otoriter. Ada yg katakana FR merasa mampu sekali &/ato mngkn FR pengin tena !. Maaf.”
Dan dilanjutkan lagi SMS berikutnya “ Krn meluntur, so hendaknya FR mau brhitung JIKA mau ambisi jagokan diri lagi pada pemilihan 2012. Semoga FR bisa memahami indikasi melunturnya dukungan tsb secara bijaksana dan mampu legowo hatinya utk bersikap madeg pandhito ratu, sehingga nama baik FR tetap terjaga & terhormat. Mohon maaf.. Tks.”
Yang ketiga saya buka, bunyinya demikian.” Ada yg katakan JIKA FR masih tetap ambisi jagokan diri lagi maka FR pakai prinsip BONEK = BONdo NEKat atau ANYER = Asal NYERuduk… Maaf.”
Yang keempat bunyi demikian. Saya sampaikan ini krn saya tahu semua dan saya masih “dibelakang layer” panggung tenis Indonesia. & agar FR tetap dalam nama baik ketika ada penyerahan estafet.. Semoga menjadi bahan renungan ..MAAF & TKS.
Begitulah kejadian hari ini yang saya sadari sekali masih ada orang orang yang tidak senang ataupun tidak puas kepada Pelti tetapi dilimpahkannya kepada saya pribadi. Bukanlah hal yang aneh sekali bagi saya masalah ini. Saya pernah ketemu di Senayan dugaan saya orang ini yang bernama P asal Surabaya, dengan sering menggunakan berbagai nama di dunia maya.
Kalau didunia lain, serangan fajar sering terjadi. Kalau saya adalah serangan SMS, begitulan saking canggihnya dunia ini sehingga bisa dengan mudah menyamapaikan ketidak puasannya dengan cara sendiri sendiri. Sayapun tidak akan membalas SMS tersebut. Yang saya bisa lakukan adalah “delete “ bikin penuh inbox HP.
Yang pertama muncul “ Dgn tidak adanya sponsor buat persami di Jatim, mjdi indikasi bhw dukungan kpd FR meluntur krn FR mau as a commander (not manager) thd smua prmasalahan tenis nas & daerah & gerak PP Pelti shg FR cenderung one man show & otoriter. Ada yg katakana FR merasa mampu sekali &/ato mngkn FR pengin tena !. Maaf.”
Dan dilanjutkan lagi SMS berikutnya “ Krn meluntur, so hendaknya FR mau brhitung JIKA mau ambisi jagokan diri lagi pada pemilihan 2012. Semoga FR bisa memahami indikasi melunturnya dukungan tsb secara bijaksana dan mampu legowo hatinya utk bersikap madeg pandhito ratu, sehingga nama baik FR tetap terjaga & terhormat. Mohon maaf.. Tks.”
Yang ketiga saya buka, bunyinya demikian.” Ada yg katakan JIKA FR masih tetap ambisi jagokan diri lagi maka FR pakai prinsip BONEK = BONdo NEKat atau ANYER = Asal NYERuduk… Maaf.”
Yang keempat bunyi demikian. Saya sampaikan ini krn saya tahu semua dan saya masih “dibelakang layer” panggung tenis Indonesia. & agar FR tetap dalam nama baik ketika ada penyerahan estafet.. Semoga menjadi bahan renungan ..MAAF & TKS.
Begitulah kejadian hari ini yang saya sadari sekali masih ada orang orang yang tidak senang ataupun tidak puas kepada Pelti tetapi dilimpahkannya kepada saya pribadi. Bukanlah hal yang aneh sekali bagi saya masalah ini. Saya pernah ketemu di Senayan dugaan saya orang ini yang bernama P asal Surabaya, dengan sering menggunakan berbagai nama di dunia maya.
Kalau didunia lain, serangan fajar sering terjadi. Kalau saya adalah serangan SMS, begitulan saking canggihnya dunia ini sehingga bisa dengan mudah menyamapaikan ketidak puasannya dengan cara sendiri sendiri. Sayapun tidak akan membalas SMS tersebut. Yang saya bisa lakukan adalah “delete “ bikin penuh inbox HP.
Etika Pergaulan
Jakarta, 29 Januari 2010. Hari ini saya menerima satu peristiwa yang sangat diluar dugaan. Ada pemberitahuan dari rekan Johannes Susanto bahwa ada keinginan pelatih bertemu muka dengan pembawa keputusan atas rencana seleksi nasional KU 16 tahun. Semalam saya terima telpon dari rekan Christian Budiman yang ikut dalam pemegang keputusan soal seleksi nasional memberitahukan bahwa ada pertemuan tersebut.
Setelah tiba di kantor PP Pelti saya baru sadar ada pertemuan antara FORKOPI dengan PP Pelti dimana akan hadir petinggi FORKOPI seperti Ketua, Humas dll. Pukul 14.00 saya memasuki ruangan rapat sudah hadir rekan orangtua pemain, Freddy Rumambi , pelatih Roy Morison dan Achmad Saefullah orangtua petenis Ramdhani Khadafi dan dari Pelti ada Johannes Susanto dan Slamet Utomo didampingi Slamet Widodo. Selesai memberikan salam kepada yang hadir sayapun duduk ditempat yang kosong. Tidak lama kemudian masuklah salah satu orangtua petenis yunior, Indriatno Sutjiadi (Humas). Langsung memberikan salam kepada yang hadir dengan berjabat tangan. Tidak lama kemudian masuklah HG , dan satu persatu diberikan jabat tangan sebagai salamnya. Setelah Slamet Utomo yang duduk disamping saya, ternyata yang bersangkutan pergi tanpa memberikan salam kepada saya. Saat itu saya sedang menerima telpon duduk disamping Slamet Utomo dan memperhatikan kedatangannya. Sayapun terheran heran mendapati perilaku yang tidak biasa terjadi dikampung saya Sulawesi Utara. Saya baru sadar kalau dia itu memandang musuh dengan saya , sedangkan saya tidak demikian. Apakah karena perbedaan etika pergaulan. Atau karena pendidikan saya lebih rendah. Biarlah tidak semuanya yang rendah itu jelek. Ada contoh, yang baik adalah rendah hati.
Salah satu karakter yang harus dimiliki orang yang ’ berlabel Kristen ’ adalah murah hati. Hal ini disampaikan Yesus saat Ia mengajar orang banyak di atas bukit: ” Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” ( Matius 5:7 ).
Sebagai umat beragama hanya sabar dan sabarlah. "Orang sabar dikasihi Tuhan." Begitulah kata kata orang bijak kepada saya.
Setelah tiba di kantor PP Pelti saya baru sadar ada pertemuan antara FORKOPI dengan PP Pelti dimana akan hadir petinggi FORKOPI seperti Ketua, Humas dll. Pukul 14.00 saya memasuki ruangan rapat sudah hadir rekan orangtua pemain, Freddy Rumambi , pelatih Roy Morison dan Achmad Saefullah orangtua petenis Ramdhani Khadafi dan dari Pelti ada Johannes Susanto dan Slamet Utomo didampingi Slamet Widodo. Selesai memberikan salam kepada yang hadir sayapun duduk ditempat yang kosong. Tidak lama kemudian masuklah salah satu orangtua petenis yunior, Indriatno Sutjiadi (Humas). Langsung memberikan salam kepada yang hadir dengan berjabat tangan. Tidak lama kemudian masuklah HG , dan satu persatu diberikan jabat tangan sebagai salamnya. Setelah Slamet Utomo yang duduk disamping saya, ternyata yang bersangkutan pergi tanpa memberikan salam kepada saya. Saat itu saya sedang menerima telpon duduk disamping Slamet Utomo dan memperhatikan kedatangannya. Sayapun terheran heran mendapati perilaku yang tidak biasa terjadi dikampung saya Sulawesi Utara. Saya baru sadar kalau dia itu memandang musuh dengan saya , sedangkan saya tidak demikian. Apakah karena perbedaan etika pergaulan. Atau karena pendidikan saya lebih rendah. Biarlah tidak semuanya yang rendah itu jelek. Ada contoh, yang baik adalah rendah hati.
Salah satu karakter yang harus dimiliki orang yang ’ berlabel Kristen ’ adalah murah hati. Hal ini disampaikan Yesus saat Ia mengajar orang banyak di atas bukit: ” Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” ( Matius 5:7 ).
Sebagai umat beragama hanya sabar dan sabarlah. "Orang sabar dikasihi Tuhan." Begitulah kata kata orang bijak kepada saya.
Kamis, 28 Januari 2010
Goblok Untuk PP Pelti

Jakarta, 28 Januari 2010. Kata GOBLOK adalah kata yang kurang tepat diberikan kepada siapa saja. Selama ini saya sudah pernah mendengar pelatih maupun orangtuanya menggunakan kata GOBLOK sebagai ungkapan kekecewaannya kepada anak anak.
Siang ini saya menerima telpon juga dari rekan Johannes Susanto.Dan menyampaikan kalau ada orangtua petenis yang mengatakan GOBLOK kepada pengurus-pengurus Pelti. Kenapa sampai terungkapkan kata kata mutiara seperti itu datang dari orangtua yang cukup berpendidikan. Keluhan ini datang dari rekan Johanes Susanto disampaikan pertilpon. Masalahnya apa ya !. Ternyata permasalahan datang dari rencana PP Pelti adalan Seleknas KU 16 tahun yang diputuskan kemarin dalam rapat koordinasi antar biang PP Pelti. Selama ini sudah sering dilakukan PP Pelti seleknas baik putra dan putri bersamaan waktunya. Apakah yang dipermasalahkan itu pemberitahuan ini mendadak karena biasanya seleknas KU 16 tahun itu dilakukan paling cepat akhir Februari bahkan Maret ataupun April. Ataukah yang dipermasalahkan perubahan waktu event Junior Davis Cupnya. Saya cukup sedih sekali kalau sampai itu terjadi. Sedih kenapa. Karena seharusnya cari tahu dulu alasan rencana seleknas putra dan putri digabung waktunya bersamaan sedangkan turnamen Junior Davis Cup (putra 16 th) lebih awal daripada Junior Fed Cup( putri 16 th) .
Begitu mudahnya mengeluarkan kata kata mutiara seperti itu. Yang dikatai Goblok itu jauh lebih tua usianya. Sedih dan prihatin rasanya kalau mendengar kata kata mutiara ini. Tapi begitulah situasi dinegara tercinta ini yang sangat terkenal dengan ramah tamahnya. Bukan hanya didunia politik terjadinya tetapi di pertenisanpun bisa terjadi.
Pagi ini setelah sibuk kirimkan informasi, saya juga disibukkan dengan permintaan salah satu orangtua yang lain atas keputusan seleknas KU 16 tahun tersebut.
Wajar saja orangtua itu menanyakan permasalahannya, karena merasa ada kekeliruan dalam perhitungannya, sehingga putrinya tidak ikut diundang PP Pelti ikuti Seleknas tersebut. Ketegangan sempat terjadi saya dengar ketika orangtua itu berbincang bincang di telpon dengan rekan Christian Budiman Wakil Ketua Bidang Pembinaan Yunior dan Ketua Bidang yaitu Danny Walla. Memang tujuannya untuk mencari tahu permasalahan apa yang menyebabkan putrinya tidak masuk dalam 10 petenis yang diundang tersebut. Ketegangan muncul terdengar dari suara suara dengan nada tinggi dari yang muda kepada yang llebih tuan. Tetapi akhirnya dia sadar kalau ada kekeliruan didalam penyampaiannya. Permintaan maaf langsung didepan saya per telpon disampaikan kepada Danny Walla.
Saat itu saya harapkan sabar saja sampai Christian Budiman datang karena dia yang membawa datanya.
Sewaktu bertemu antara keduanya, saya sedang tidak ON masalah ini karena masih ada permasalahan lain dan sedang siapkan bahan bahan untuk surat jawaban kepada Gubernur Sumatra Selatan. Saya mau ketemu Ketua Umum PP Pelti dikantornya. Jadi saya lihat keduanya sibuk berdiskusi.
Akhirnya sayapun sampaikan jikalau ada kekeliruan sebaiknya kita perbaiki. Tetapi yang jadi masalah adalah keputusan rapat jikalau ingin diperbaiki juga dalam rapat. Bukan saat ini, asalkan membawa datanya. Jadi tidak bisa saya dan Christian yang perbaiki. Akhirnya saya sampaikan kepada Christian dalam menjawab permintaannya itu kita tampung dulu kemudian dibawa kepada rekan rekan lainnya yang ikut dalam rapat terakhir antar bidang.
Langgan:
Entri (Atom)
