Jumat, 20 Desember 2019

Kenapa Atlet Putra Kurang Berprestasi

Jakarta, 21 Desember 2019. Setelah berhasil SEA Games 2019 di Filipina maka harus bisa dievaluasi kenapa yang berhasil membawa pulang medali emas adalah pemain diatas 20 tahun kecualia Priska Nugroho masih 16 tahun, Yang berhasil adalah Aldila Sutjiadi , Christopher Rungkat /Aldila Sitjiadi, Beatrice Gumulya/Jessy Rompies dan Priska Nugroho( medali perunggu), David Agung Susanto / Beatrice Gumulya (medali perungu).

Disni terlihat jelas bagi atlet yng lebih sering bermain di luar negeri menung=jukkan prestasi tersebut. Kenapa petenis muda yang masuk dalam pelatnas tidak membawa hasil karena minimnya try out sebagai jawabannya.

Sepengetahuan selama ini dalam persiapan SEA Games ada yang disebut budget try out, tapi menurut salah satu orang tua pemain budget tersebut tidak ada. Apa sudah berubah sistemnya

Rabu, 11 Desember 2019

Persoalan Prize Money dan Wasit

Jakarta , 13 Desember 2019. Dalam pembicaraan dengan salah satu rekan tenis mengenai kejadian kejadian yang perlu dicatat.

Pertama laporan yang masuk masalah prize money peserta Kejuaraan tenis Bank BNI 2019 bulan November 2019. Cukup heboh kejuaraan Bank BNI menyediakan prze money Rp 250 juta. Info datang dari orangtua peserta Yaitu sudah sekitar 3 minggu prize money tidak keluar atau belum masuk rekening peserta. Kemudian AFR lemparkan masalah ini langsung ke Petinggi Pelti dan dapat tanggapan dari sekitar 3 petinggi Pelti. Ini masalah sebenarnya tidak perlu terjadi kalau negosiasi Pelti dengan Bank BNI lebih baik. Hal ini sangat tidak lazim di pturnamen tens nasional dan internasional.

Karena sekitar tahun 1990 pernah ada juga Kejuraan Bank BNI dan prize money telah tersedia dan diserahkan ditempat Jadi kesimpulannya, kok mau disetir oleh sponsor karena ini masalah tehnis. Tidak tahu bagaimana bentuk Proposal yang ditawarkan. Maklumi saja karena PP Pelti menggunakan rekening yang aktip adalah Bank bukan BNI padahal rekening Bank BNI masih ada

Perbedaan Pendapat dalam Grup WA

Jakarta, 13 Desember 2019. Ada kejadian dalam grup WA yang sengaja dibentuk untuk bisa berkomunikasi. Salah satunya grup WA Maesa Paskah yang saya bentuk agar tidak melupakan event tertua yang dimiliki tenis Indonesia. Pertama kali diperkenalkan tahun 1924 jadi bayangkan sudak lama sekali, 






Dalam percakapan itu dimuali dengan kekecewaan salah satu pelatih anggita grup terhadap Pengprov Pelti Sulut kemudian disambut oleh pelatih lainnya tetapi sudah menjurus kepada kebencian pribadi dengan kata kata yang tidak sopan bagi yang membacanya . Walaupun dalam dialek Manado sekali pun sudah kurang etis lagi didengar, 

Daerah Lebih Banyak selenggarakan Non TDP

Jakarta, 13 Desember 2019. Beberapa hari yang lalu sempat berkomunikasi dengan salah satu anggota Pengurus Provinsi Pelti diluar Jawa, yang kebetulan dikenal sewaktu masih sebagai petenis daerah. Saat ini setelah menjadi anggota Pengurus mau berikan sesuatu bagi tenis Indonesia. Kendala yang dihadapi adalah tidak ada atau visi dan misi dalam kepengurusan tersebut. Atau juga kebiasaan lama tunggu petunjuk dari ketua. 

Dia menyampaikan bahwa akan ada kegiatan tenis didaerahnya. Yang ternyata lebih banyak untuk veteran.
Ini juga terjadi bagi daerah daerah lainnya. Dibanding kan turnamen yunior yang sangat didambakan oleh petenis yunior tersebut Memang untuk tahun 2019 banyak kegiatan didaerah tersebut tetapi tidak  didaftarkan sebagai Turnamen Diakui Pelti (TDP). Betapa pentingnya TDP bagi petenis daerah karena selama ini kalau mendapatkan PNP (Peringkat Nasional Pelti ) harus terbang ke pulau Jawan. Tentunya butuh beaya besar apalagi yunior tentunya orangtua atlet iut mendampainginya. Bayangkan untuk atlet 10-12 tahun so pasti didampingi ortunya maka dibutuhkan puluhan juta uantuk datang ke Jakarta. Dan hanya bisa lakukan sekali dua kali saja.