Minggu, 02 Desember 2018

Apakabar KTA Pelti dan PNP ?

Jakarta, 2 Desember 2018. Disaat bertanya ke petinggi PP Pelti tentang Kartu Tanda Anggota  (KTA ) Pelti maka akan mendapatkan berbagai jawaban. Kenapa pertanyaan ini muncul karena KTA Pelti (versi baru) sudah cukup lama dikeluarkan tetapi baru diedarkan kepada anggota PP Pelti saja. Nah yang jadi pertanyaan begitu lamanya belum beredar ke masyarakat tenis. KTA Pelti versi baru itu ada keistimewaannya tidak seperti KTA yang dikeluarkan PP Pelti era 2002-2012. Istimewanya kali ini kerjasama dengan Bank BRI sehingga KTA Pelti itu bisa digunakan sebagai pembayaran elektronik, Jadi sudah mode saat ini kartu angota seperti INAPGOC itu bekerjasama dengan Bank Mandiri sehingga ada isinya bisa digunakan untuk e-toll.

Waktu awal kepengurusan sempat diberi masukan untuk mempercepat pencapaian ke masyarakat tenis yang sebagi pengguna terbesar adalah peserta TDP. Yaitu melalui turnamen turnamen pendafataran KTA Pelti baru. Ini kerja mulai dari nol, karena dulu sudah pernah dikeluarkan sekitar 3.000 an lebih KTA Pelti. Pentingnya saat itu keberadaan KTA adalah agar tidak memberatkan peserta TDP Nasional untuk membawa Akte Kelahiran putra putri mereka sehingga jika sudah memiliki KTA maka tidak dibutuhkan lagi membawa Akte Kelahirannya. Resiko besar kalau bawa akte kelahiran tersbut. Maka dengan cara mempercepat keluarnya KTA maka dilakukan pendaftaran melalui setiap penyelenggara. Saat itu semua fotocopy akte kelahiran diperiksa maka dalam 6 (enam) bulan bisa ditemuksan ekitar 30 an pemalsuan akte kelahiran petenis yunior Indonesia.


Kelihatannya, PP Pelti mau menggunakan teknologi canggih dengan cara pendaftaran online. Tetapi persiapan untuk membuat online belum juga sehingga penyelesaian KTA Pelti masih tertunda tunda. Sebenarnya jika ada dana maka persoalan teklnologi akan cepat terselesaikan.
Coba dilihat bagaimana bentuk website Pelti yang mau digunakan sebagai pendaftaran online. Disamping itu sebenarnya website resmi Pelti juga sebagai sumber informasi pertenisan Indonesia. Ternyata harapan masyarakat maupun petingi Pelti sendiri belum bisa terpuaskan.

Data atlet sudah ada, baik sekolah tenis diberbagai daerah. Tapi sampai saat ini cukup prihatin jika membuka website Pelti Karena sangat minim informasi kecuali kalender TDP yang juga belum sempurna sekali. Jika mau cari sekolah tenis di Indonesia. Ternyata hanya ada data di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tapi jika diteusuri data di Jakarta hanya 8 sekolah tenis, Jabar hanya 6 , Jateng 1 dan Jatim 1. Sebenarnya di website Pelti yang lama lebih banyak data sekolah tenis di Indonesia. Bisa dibayangkan seperti Pelti lupa kalau di Bandung ada sekolah FIKS yang termasuk tertua saat ini justru tidak terdaftar dalam website Pelti. 

Selain turnamen ada lagi yang sering dibuka oleh masyarakat tenis yaitu Peringkat Nasional Pelti. Jika dibuka sudah ada tetapi hebatnya saat ini bulan Desember sedangkan diwebsite tercatat PNP 1 April 2018. Ini baru kejutan ! 

Tidak ada komentar: