Selasa, 10 Maret 2009

Komunikasi dengan Penggila Tenis Yogya


Jakarta, 11 Maret 2009. Kebiasaan menerima telpon setiap hari dari insan tenis yang sangat peduli terhadap pertenisan Indonesia merupakan salah satu aktivitas rutin saya terima dengan senang hati. Bahkan kadang kadang ada yang menjengkelkan juga karena terlalu memikirkan diri sendiri tanpa mau tahu kesibukan yang dihadapi pihak yang diajak berbicara di telpon. Mulai dari yang minta wild card, minta bantuan seolah olah saya ini punya power menentukan wild card sampai yang juga menanyakan kebenaran suatu berita yang berkembang diluar Senayan.

Hari ini terima telpon dari salah satu rekan baru ketemu sewaktu di Solo, karena selama ini komunikasi sering melalui telpon genggam maupun internet. Rekan ini bernama Joko Wahyono yang ketemu di lapangan tenis Manahan bersama Komunitas Tenis DIY. Sayapun baru mengenal Joko bersama teman teman di Solo tanpa perantara dari pelaku tenis di Jawa Tengah maupun DIY. Bahkan selama ini saya mengenal namanya Joko. W. "Mas, mau tanya nama lengkapnya apa?" ini pertanyaan saya yang jarang saya lakukan karena biasanya saya dapat informasi nama lengkap dari rekan rekan lainnya. Tapi karena tanya kepada salah satu rekan asal Yogya tidak dapat yang pasti karena ada beberapa dengan nama Joko juga.
Ternyata namanya Joko Wahyono. "Kalau di Solo saya kenal Jokowi yaitu Walikota." guyonan saya kepadanya.

Keinginan Joko bersama teman teman adakan turnamen di kota Yogjakarta sangat penting bagi saya walaupun kadang kadang muncul ketidak senangan pihak pihak lain yang lebih dulu kenal dan sudah lakukan kerjasamanya. "Konspirasilah." kata kerennya. Ini semua berawal dari Negative thinking sampai bisa terjadi.

"Bagaimana kalau kami adakan semacam seminar semua pihak di tenis. Kami akan mengakomodir." ini tawaran cukup menarik , hanyalah yang kurang menarik kalau dikatakan mempersatukan kubu kubu yang ada."Tidak ada kubu kubuan, sayapun harus netral baik kepada semua pihak, demikian pula induk organisasi tenis disemua daerah."

Pembicaraan melalui telpon seluler cukup panas karena tempel ke telinga , dialihkan ke telpon biasa sehingga bisa berlama lama pembicaraannya. Kemudian ditanggapinya pula tulisan saya di blogger ini tentang "Jangan Ada Dusta Diantara Kita." suatu nyanyian yang saya dengar sewaktu berada di Medan. Mendengar lirik liriknya cukup romantis sekali sebagai bentuk ekspolitasi terhadap percintaan mahluk didunia ini.

Sayapun menyampaikan kalau saya tidak bisa melihat dan mendengar jika ada rekan rekan di tenis memberikan informasi yang salah apalagi menyesatkan. Ini tidak boleh terjadi. Koreksi bisa saja karena tidak semua orang yang sempurna. Yang sempurna adalah Tuhan saja. Ini mutlak. Tidak perlu mengexploitasi kekurangan pihak lainnya sebagai senjata publikasi diri. Sayapun mengerti dalam Public Relations itu ada yang termasuk PR campaign dengan cara cara menyampaikan berita negatip . Dikampung saya juga mengerti kalau Bad news is a good news too.

Tidak ada komentar: