Kamis, 22 Januari 2009

Penjelasan dari Bantaeng


Jakarta, 22 Januari 2009. Seleksi nasional usia 14 tahun sudah berlangsung sejak 21-25 Januari 2009 di Temanggung Jawa Tengah. Udara sejuk kota Temanggung bukan berarti suasana panas tidak terjadi sewaktu atlet peserta Seleknas membawa persyaratan administrasi yang diminta pelaksana seleknas. Awalnya juga semua ini adalah ulah dari pelaku pelaku tenis sendiri. Kecurigaan atas usia salah satu peserta juga membuat sejuknya kota Temanggung terasa hangat juga.


Sehari sebelumnya pelaksanaan seleknas August Ferry Raturandang menerima SMS dari salah satu pelatih di Jakarta Sulistyono mengenai masalah kecurigaan atas usia slah satu peserta seleknas yang berasal dari Bantaeng Sulawesi Selatan. Dikemukakan tentang alasan tentang Tsunami atau gempa membuat atlet tersebut baru buat Akte Kelahiran tahun 2006 dan juga buku rapornya mencurigakan. Sehingga orangtua lainnya harus percaya. Begitu juga SMS masuk dari pelatih Bunge Nahor yang sangat mengharapkan apa yang sudah dilakukan August Ferry raturandang dalam hal kasus pencurian umur ditegakkan juga oleh rekan rekannya di PP Pelti.


Mengingat ada hubungan email dengan salah satu anggiota pembina di Bantaeng Sulawesi Selatan tempat asal Nur Adim bernaung, maka August Ferry Raturandang langsung kirim email minta penjelasan tentang alasan masalah akte kelahiran baru dibuat tahun 2006, yang berarti Nur Adim baru dibuatkan akte kelahiran setelah berusia 11 tahun artinya setelah mengenal tenis. Jadi kepada pembina klub, Syahrul Bayan dimintakan kejujurannya.


Hari ini terima balasan atas pertanyaan tersebut. Ternyata Syahrul Bayan sendiri berada di Temanggung sehingga bisa menjelaskan duduk persoalannya. Dikatakan pula akte kelahiran pemutihan yang ditunjukkannya adalah hasil legalisasi yang dibuat tahun 1995, dimana menggunakan nama Nur Adim Ramdani. Hanya karena menginginkan nama lengkap dengan nama famili atau orangtua sehingga dibuatlah akte kelahiran pemutihan. Ini sah sah saja dan bukan masalah menurut August Ferry Raturandang tetapi tidak bagi orangtua lainnya. Begitu juga masalah rapor. Ada pengakuan jujur dari Syahrul Bayan sebagai pembinanya yang tidak bermaksud menutup nutupi karena memiliki data lengkap sejak tahun 2005.


Penjelasan ini cukup memuaskan karena August Ferry Raturandang yang sangat anti terhadap pemalsuan umur dan tanpa sungkan2 mengungkapkan keseluruh masyarakat tenis nama nama atlet bermasalah ini. Begitu juga rekan rekan di induk organisasi Pelti, karena menjunjung tinggi sportivitas setiap pelaku pelaku tenis sehingga tidak perlu mencurigai atlet2 tersebut karena sudah banyak atlet yang bermasalah, prestasinya juga ikut terhenti begitu masuk ke usia yang lebih tinggi.


Yang perlu mendapatkan perhatian adalah munculnya inisiatip catut umur sebagian besar berasal dari pelatih bukan dari orangtua. Dari pemantauan August Ferry Raturandang dari kenyataan ada pelatih mempunyai siswa yang dilatihnya ternyata ada kecurigaan atas usianya dari bentuk fisiknya. Pernah suatu saat August Ferry Raturandang membuka file Persami FR diluar Jakarta menemukan Formulir Pendaftaran dari salah satu atlet putri yang data tahun kelahirannya berbeda dengan Akte Kelahiran yang ditunjukkan kepadanya. Ini atlet termasuk yang dicurigai orangtua lainnya. Tapi masalahnya file tersebut lupa diletakkan dimana. Mudah mudahan isi Formulir Pendaftaran Piala FR tesebut yang salah. Entah siapa yang menulisnya , yang pasti itu bukti yang ada.


Berita dari Temangung, masuk kepadanya soal masih ada juga orangtua peserta yang mau mecampuri urusan tugas Referee dalam penentuan pelaksanaannya. "Biarkan saja, nanti bosan sendiri. Itu urusan Referee dan Diektur Turnamen yang sudah berada ditempat. " komentarnya kepada Johannes Susanto atas ulah tersebut.

Tidak ada komentar: