Kamis, 09 April 2009

Humor Setelah Menyontreng

Jakarta, 9 April 2009. Setelah selesai jalankan tugas sebagai warganegara yang baik adalah ikut mensukseskan pemilu yang merupakan salah satu program dari Pemerintah, sayapun membuka email yang ada. Terkesan dengan kiriman dari tetangga milis yang cukup lucu dan cukup mengena. Tadi setelah mendapatkan nomer 129, butuh waktu karena giliran yang sedang menyontreng nomer 101. Selama ini tidak pernah melihat daftar nama2 caleg yang begitu banyak.Capek deh, lebih enak baca humor.

KUDA SOMBONG
Seorang mahasiswa yang segera akan menyelesaikan pendidikan seminarinya mengikuti kegiatan field school atau KKN (kuliah kerja nyata) di sebuah daerah pelosok yang jauh dari kota. Penempatan di daerah pedalaman ini antara lain untuk pendidikan mental pemuda yang agak sombong ini karena dia berasal dari keluarga berada di kota besar.Dalam perjalanan dengan bis penumpang umum menuju sebuah desa dia duduk berdekatan dengan seorang ibu petani yang terus memangku sebakul jagung.“Bu, hanya sebakul jagung saja sampai dipangku seperti itu.
Kenapa tidak ditaruh di lantai saja?” kata pemuda kota ini.“Ini makanan pokok kami yang paling berharga,” jawab ibu petani itu.“Makanan berharga? Kalau di kota, jagung hanya untuk makanan kuda,” ujarnya dengan nada sombong.Saat bis mulai memasuki jalan menurun yang berkelok-kelok, pemuda tersebut mulai terserang pusing dan mual sampai akhirnya termuntah-muntah. Rupanya pagi hari itu dia sempat sarapan bubur sayur campur jagung yang kini terlontar keluar.“Supir, berhenti! Ada kuda muntah di samping saya!” teriak ibu petani.

(Pesan moral: Pepatah lama mengatakan, setiap kesombongan selalu ada harganya! Kerap kali kesombongan mesti dibayar dengan uang, terkadang dengan rasa malu. “Tuhan itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh” Mzm. 138:6.)***

CALON INTEL
Badu, seorang remaja putus sekolah, berambisi menjadi petugas intel kepolisian. Demikianlah pada hari yang ditentukan dia menghadap perwira penguji untuk ujian pengetahuan umum secara lisan.
Penguji: Soal pertama, geografi. Sebutkan kota di pulau Jawa yang selalu mendapat nilai 7?
Badu: Salatiga, pak. Sebab kalau salah dua nilainya pasti 8!
Penguji: Jawabanmu masuk akal, meski bukan itu yang dimaksud. Sekarang Bahasa Indonesia. Uraikan kalimat “Apa sebabnya dinamakan nasi goreng.
”Badu: Sebab Dina lapar.
Penguji: Apa maksud kamu?
Badu: Jawaban sesuai bunyi pertanyaan bapak, “Apa sebabnya Dina makan nasi goreng.
”Penguji: Hmm…boleh juga argumentasi kamu. Lanjut dengan soal fisika. Apa sebabnya suhu udara di Indonesia belakangan ini semakin panas?
Badu: Sebab Matahari buka cabang di mana-mana!
Penguji: Kamu main-main atau mau bercanda, ha?
Badu: Tidak pak. Saya menjawab secara jujur, karena saya orang Kristen!
Penguji: Kalau kamu benar-benar orang Kristen, siapa yang membunuh Habel?
Badu: Ehm…ehmm… (tergagap).
Penguji: Kalau begitu sekarang juga kamu pulang dan cari tahu!
Ketika Badu tiba di rumah dia sudah ditunggu oleh ibunya dan beberapa teman. “Bagaimana, berhasil? Apa kamu lulus diterima jadi intel?”
“Wah, tidak disangka saya langsung mendapat tugas penting,” jelas Badu dengan bangga. “Saya diperintahkan segera mencari pembunuh korban bernama Habel!”

(Pesan moral: Terkadang sulit memisahkan antara keganjilan berpikir dengan kedunguan. Namun, kecerdasan menurut dunia bisa jadi kebodohan bagi surga. “Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat” 1Kor. 3:18.)***

HITAM JUGA, PUTIH JUGA
Seorang gembala di Palestina sedang menggembalakan domba-dombanya di padang ketika lewat seorang wartawan yang tertarik pada kawanan ternaknya yang sebagian berwarna hitam dan sebagian lagi putih.“Dombamu cukup banyak. Bolehkah saya bertanya sesuatu?” tanya wartawan itu.“Tentu saja boleh,” balas gembala.“Sampai seberapa jauh ente menggembalakan domba-domba itu setiap hari?”“Domba yang mana, yang hitam atau putih?”“Yang hitam.”“Tiap hari mereka berjalan sampai sekitar lima kilometer,” jelas gembala.“Kalau yang berwarna putih?”“Yang putih juga.”“Seekor domba makan berapa banyak rumput dalam sehari?”“Domba yang mana, yang hitam atau putih?”“Yang hitam.”“Rata-rata domba yang hitam makan sebakul rumput dalam sehari.”“Kalau yang putih?”“Yang putih juga.”“Berapa pon wol dapat dihasilkan seekor domba dalam setahun?”“Domba yang mana, yang hitam atau putih?”“Yang hitam..”“Biasanya dalam setahun domba yang hitam menghasilkan 5-6 pon wol.”“Kalau yang putih?”“Yang putih juga.” Wartawan menjadi penasaran lalu bertanya, “Mengapa setiap kali saya bertanya, ente selalu membedakan antara domba yang hitam dan yang putih?”Jawab si gembala,
“Tentu saja, karena domba yang hitam itu milik saya.”“Kalau yang putih?”“Yang putih juga!”

(Pesan moral: Banyak orang memiliki kebiasaan berpikir dikotomis, suka membeda-bedakan orang berdasarkan atribut tertentu, meski pada hakikatnya semua manusia adalah sama di mata Tuhan. Kemajemukan umat Tuhan bukan untuk dipisah-pisahkan melainkan untuk diintegrasikan. “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang” Kis. 10:34
__._,_.___

Tidak ada komentar: