Kamis, 11 Februari 2010

Wacana Kepelatihan Versi Baru


Jakarta,11 Februari 2010. Saat ini sedang diselenggarakan penataran pelatih tenis atau dikenal dengan National ITF Level-1 Coaches Course di Senayan. Dalam perbincangan saya dengan Dr. Pung, staf dari Kentor Menegpora RI, saya sampaikan kalau saat ini jumlah pelatih tenis yang bersertifikat yang dikeluarka oleh PP Pelti sebelumnya sudah mencapai lebih dari angka 1.000. Tetapi dari sejumlah tersebut, adakah yang masih aktip sebagai pelatih ? Itu pertanyaan saya, dan saya memprediksi adalah hanya 10 % saja. Bisa dibayangkan kondisi seperti ini sangat memprihatinkan.

Harus diakui kegiatan penataran pelatih yang dilakukan sudah memakan beaya cukup besar, yang hasilnya sangat bertentangan sekali. Sehingga sayapun mulai berpikir, kondisi seperti ini sudah harus diperbaiki demi peningkatan pretasi tenis Indonesia.
Selama ini setiap calon pelatih termotivasi ikuti penataran resmi disebabkan kebutuhan pribadi bukan sebagai pelatih tenis, tetapi lebih banyak kepada kebutuhan akan secarik kertas atau Piagam yang dikeluarkan oleh penyelenggara atau Pelti.
Bahkan akhir Januaria sayapun menerima permintaan untuk membeli sertifikat yang akan dikeluarkan Pelti. Ini sangat memalukan sekali.

Ada pemikiran mengatasi permasalahan seperti ini. Pelatih itu sangat diperlukan begitu juga kualitas pelatih juga harus mendapatkan perhatian. Sehingga saya mau mencoba selenggarakan penataran pelatih berdasarkan kriteria yang lain dari yang lain. Kalau selama ini lebih ditekankan bisa bermain tenis, minimal SMA, dan mengerti bahasa Inggris. Maka saya akan tambahkan lagi persyaratan baru. Yaitu setiap pelatih harus mempunyai murid petenis yunior. Dan sewaktu ikut penataran harus dibawa. Ini ada keuntungannya adalah langsung bisa memperbaiki atau ikuti hasil penataran dengan melihat perkembangan atletnya sendiri.

Ada satu lagi yang menurut saya harus dirubah juga yaitu setiap peserta mendapatkan Piagam keikutsertaan dan bagi yang lulus akan terima Sertifikat Kelulusan sehingga berhak menjadi PELATIH. Andaikan Sertifikat keikutsertaan ini tidak dikeluarkan dan hanya Sertifikat dikeluarkan jika Lulus. Ini seperti juga di Pendidikan formal lainnya. Ini baru pemikiran saya sendiri, belum tentu diterima semua pihak
.

Tidak ada komentar: