Jumat, 29 Februari 2008

Belum Dikenalnya Program Kerja PELTI



Bencana tsunami melanda Aceh ternyata menarik perhatian seluruh dunia, bahkan Amerika Serikat sampai mengirimkan utusan mantan presiden Bush dan Clintton datang khusus melihat Aceh. Hal yang menarik perhatian saya, hadirnya 2 mantan presiden yang semasa pemilihan president merupakan saingan besar dari 2 kubu partai Republik dan Demokrat. Kita akui Negara yang cukup dikenal dengan demokrasinya.
Apa kaitannya dengan tenis Indonesia. Tentunya ada sehingga saya mencoba kembali menulis karena saya sudah cukup lama tidak menulis tentang pertenisan dimedia cetak untuk membantu pertenisan Indonesia
Munculnya tulisan dari rekan-rekan sendiri yang menyesatkan tentang pertenisan kita ini sehingga saya terpanggil memberikan informasi sesuai dengan apa yang saya ketahui sehingga masyarakat bisa menilai. Agar tidak terlalu apriori tentang pertenisan kita.
Saya teringat kembali masa pemilihan presiden asosiasi tenis Indonesia alias Ketua Umum PB Pelti di Musyawarah Nasional (Munas) 2002 di tempat kelahiran , Makassar.
Saat itu ada 2 kandidat calon Ketua Umum PB Pelti, Permana Agung dan Martina Widjaja. Kedua kubu saling sibuk berkampanye baik kedaerah daerah, sampai saatnya Martina terpilih mutlak oleh utusan Pengda Pelti. Masyarakat tenis mengharapkan selesai Munas kita semua insan tenis saling membantu untuk kepentingan pertenisan Indonesia sendiri. Hal sama juga disampaikan Martina sebelum Munas , keinginannya untuk semua insan tenis bersatu, agar saling mendukung sehingga pertenisan kita bisa maju. Himbauan ini ternyata belum bisa diterima oleh rekan rekan kita sendiri yang waktu Munas termasuk membela kandidat Ketua Umum yang gagal. Masalah Munas lalu sudah terlupakan tetapi sebaliknya oleh pelaku pelaku yang sama disaat Munas masih menganggap perseteruan belum selesai.

Sayapun teringat kembali saat awal kepengurusan tahun 2003, saya sempat diberitahu oleh salah satu rekan sendiri yaitu Benny Mailili (alm) yang juga masuk dalam tim yang gagal dan juga anggota Pengda Pelti DKI, yang menyampaikan agar tidak memberi peluang dia menulis yang menyerang PB Pelti. Ini berarti sudah punya niat, ya susah dong. Karena setiap langkah PB Pelti akan dicari peluang kelemahannya sebelum membaca hasil Munas 2002 yaitu perubahan AD/ART dengan lembaran Pokok-pokok Program Kerja Pelti 2002-2007 yang sudah disebar luaskan ke Pengda maupun Pengcab Pelti.
Teman teman kita termasuk juga sebagai peserta Munas, yang sudah sepakat dengan mengeluarkan Pokok-pokok Program Kerja Pelti 2002-2007 yang harus dikerjakan oleh PB Pelti disusun sebagai kelanjutan dari kegiatan pertenisan yang telah dicapai dalam Program Kerja Pelti 1998-2002.

Program ini diarahkan untuk meningkatkan kualitas pertenisan dengan menunjang sumber daya manusia. Harapannya dapat diselenggarakan secara simultan dan integral oleh semua jajaran PELTI, dengan menggunakan prinsip koordinasi, informasi dan kesederhanaan. Dibahas pula permasalahan yang ada yaitu yang mendasar adalah kepelatihan, program kemandirian, yunior dan tim nasiional. Kendalanya semua ketahui adalah kesulitan mencari sponsor terutama untuk try out. Begitu juga minimnya tenaga wasit, referee disamping itu pula lapangan tenis yang tersedia masih belum memenuhi standar internasional.

Disadarai pula di era otonomi daerah, diperlukan pembinaan tenis yang teratur mulai dari daerah sampai regional , nasional dan internasional yang meliputi atlit, wasit, ofisial dan sarana dan prasarana. Pentingnya peranan pelatih mendapatkan perhatian. Apa yang dikiprahkan oleh petenis dalam pertandingan merupakan cerminan dari apa yang telah diberikan oleh pelatihnya dalam latihan. Kualitas atlit sangat bergantung pada kualitas pelatihnya. Menyadari hal ini telah dilakukan dalam 2 tahun ini adalah pelatihan pelatih baik ITF Level-1 di Bandar Lampung, Medan, Pontianak, Batam, Bandung, Makassar, Balikpapan, Semarang, Ponorogo dll. Begitu juga ITF Level-2 di Jakarta. Dari perwasitanpun diadakan di Bandung, Jakarta, Makassar, Balikpapan dll. Turnamenpun meningkat tahun 2003 mencapai 44 TDP sedangkan 2005 menjadi 63 TDP , fantastic sekali.
Mengenai pemain, disebutkan peningkatan kuantitas dan kualitas atlit serta penyebaran atlit dari segala lapisan masyarakat serta disiplin dan ber sportivitas tinggi. Pembinaan diawali dari usia dini dikenal dengan mini tenis, dan hasil kerjasama dengan Depdinas RI, masuklah mini tennis kedalam program Depdiknas. Program pembinaan diharapkan berjenjang dan berkesinambungan, mulai dari usia dini sampai top nasional. Harus diakui kita belum mampu membangun landasan pembinaan yang kuat, sedangkan proyeksi pembinaan harus sampai pada tingkat dunia. Perencanaannya memerlukan persyaratan seperti fasilitas berlatih yang memadai dengan metode pelatihan yang mutahir. Semua ini membutuhkan dana besar dan pengorbanan pelakunya.
Tidak kalah penting program kemandirian yang merupakan usaha organisasi memandirikan pemain menjadi pro, sehingga organisasi lebih focus kepada peningkatan prestasi petenis yunior. Mandiri disini dimaksudkan adalah pembinaan prestasi pemain diserahkan kepada perorangan, badan maupun klub tenis.
Jika kita semua menyadari hal seperti ini, marilah kita konsentrasi kepada pembinaan yang mandiri, biarkan PB Pelti lebih konsentrasi ke pembinaan prestasi petenis yunior. Tahun 2005, merupakan berita besar bagi Davis Cup. Lihat saja sejarah menunjukkan dibabak pertama Piala Davis 2005 tim Amerika Serikat maupun Spanyol juara Davis Cup bisa tumbang. Sama nasibnya dengan tim Indonesia.

Tidak ada komentar: