Rabu, 15 Juli 2009

" Saya Tidak Cari Makan Di Tenis "

Jakarta, 15 Juli 2009. Saya menerima 2 peristiwa atau statement yang berbeda dari dua orangtua petenis yunior di Indonesia. Yang satu mengatakan, “Saya tidak cari makan di Tenis.” Dan yang satu lagi mengatakan “Kalau buat turnamen adalah untuk pembinaan atlet, bukan untuk yang lainnya.”

Kedua statement ini cukup menarik perhatian saya maupun rekan rekan lainnya. Karena yang pertama diungkapkan dalam suasana tidak sehat artinya dalam keadaan emosi dilontarkan sebagai pembelaan diri maka langsung mendapatkan tanggapan dari rekan rekan yang mendengar cerita tersebut. Karena yang melontarkan itu adalah pelaku tenis yang berkecimpung dalam penyelenggaraan turnamen maka langsung disambar oleh rekan saya lainnya dengan katakan.”Kalau gitu , jangan dong tarik entry fee kalau buat turnamen. Bebasin saja, sehingga tidak ada kesan cari untung.”
Akhirnya maksud statement itu sayapun berkesimpulan, jika ingin selenggarakan turnamen bukan untuk cari keuntungan.

Kemampuan selenggarakan turnamen akan terbatas sekali, itupun kita sadari sekali. Kemampuan khususnya finansial sangatlah penting. Banyak orang punya kemampuan finansial sehingga sebenarnya sangatlah mudah bagi penyelenggara turnamen. Karena disatu sisi atlet butuh sarana pertandingan. Tetapi yang jadi pertanyaan kenapa turnamen masih kurang juga.
Menyadari hal itu, sayapun mencoba mencari jalan keluar agar bisa terselenggarakan turnamen. Mulai dari menghimbau masyarakat tenis agar lebih concern kepada turnamen turnamen. Dan sudah mulai kelihatan hasilnya, sudah banyak turnamen diselenggarakan oleh bukan induk organisasi tenis di Indonesia (PELTI). Kemudian mulai memangkas beaya beaya yang tidak perlu tetapi tidak melanggar peraturan turnamen tenis. Sehingga muncullah beberapa macam turnamen yang sangat membantu pembinaan tenis.

Masalah cari untung, atau lebih tepat dikatakan kalau buat turnamen tidak mau rugi, seperti yang saya pribadi tekankan dalam pelaksanaan turnamen Piala FR maupun nasional sekalipun. Dampaknya adalah turnamen tersebut akan berlanjut secara rutin seperti kehendak atlet sendiri. Selama ini kita selalu sangat kental sekali terhadap keluhan keluhan minimnya turnamen membuat prestasi tidak maju maju. Coba kita lihat didaerah daerah yang tidak ada turnamen, apakah ada atlet prestasinya. Kebanyakan atlet2 tersebut hijrah ke Ibukota.

Sedangkan statement kedua, yang menghendaki agar buat turnamen adalah untuk pembinaan atlet, bukan maksud lainnya. Saya tidak bertanya dengan kata maksud lainnya itu karena pembicaraan pertilpon. Mungkin yang dimaksud dengan maksud lainnya adalah cari keuntungan.
Harus diketahui kalau turnamen adalah bagian dari pembinaan. Sehingga jika ada turnamen maka ada pembinaan. Sedangkan turnamen akan berkelanjutan secara rutin dan sebanyak mungkin jika tidak rugi. Sebagai organisasi tentunya merupakan kewajiban selenggarakan turnamen . Baik organisasi itu dalam bentuk klub ataupun induk organisasi sehingga ada kelanjutannya sebagai fungsi fasilitator. Tetapi saya selaku pribadi tentunya selenggarakan turnamen tidak mau rugi. Salah satu contoh, pelaksanaan turnamen Piala Ferry Raturandang sampai ke 67 kalinya disebabkan juga dalam pelaksanaan tanpa sponsor ini saya tidak mengalami kerugian. Begitu juga saya dalam melaksanakan turnamen Persami sejak 1996 sebelum berubah nama jadi Piala FR. Kalau dihitung sudah bisa mencapai angka diatas 200 Persami selama ini saya kerjakan sendiri selaku pribadi. Jikalau dikatakan impas , pengeluaran dan pemasukan sudah merupakan hal yang lumrah dan suka terjadi pula tetapi tidak membuat patah arang, justru semangat membina dari luar tetap ada. Maklum putra dan putri sendiri sudah bukan petenis prestasi lagi. Nah sayapun menghimbau kepada pelaku pelaku tenis khususnya para orangtua, agar bersatu buat turnamen tenis sebanyak mungkin khususnya dikota masing masing. Karena so pasti akan lebih murah pembeayaannya dibandingkan harus try out keluar kotanya sendiri. Ini sebagai anjuran saja, mau diterima syukurlah, tidak diterima yaaa apa boleh buat
.

2 komentar:

winto mengatakan...

Agar mendapatkan kejelasan dari Bapak AFR Yth. Kemarin pada bulan Juni 2009 di UGM Yogyakarta telah dilaksanakan Kejuaraan AFR yg sudah berakhir, tetapi Finalis kelompok usia 16 thn dan 14 thn PU sampai dengan sekarang penghargaan hadiah belum di serahkan (Finalis nama Soraya Yurenclin >< Tutik Wijayanti usia 16 thn dan 14 thn Sonya Windi K >< Nuur) agar segera dapat kejelasan nya.? Tereima kasih.

AFR mengatakan...

Terima kasih atas pertanyaan ini. Memang agak terlambat tetapi piagam sudah dikirim dengan pos ke Yogya, dan Piala juga
Harap diterima dengan baik. Dari August Ferry Raturandang