Sabtu, 04 Januari 2014

Jadi Dokter atau Pedagang. Bukan jadi Dokter Pedagang

Jakara, 5 Januari 2014. Hari ini saya terima telpon dari salah satu pembina dari luar Jawa yang pernah saya kunjungi beberapa tahun silam (2-3 tahun lalu) karena ingin dapatkan informasi masalah salah satu atlet tenis di Jawa yang ingin ikuti PON membela daerahnya. "Saya diminta oleh Ketua Umum KONIDA untuk kontak AFR karena terima telpon dari salah satu orangtua atlet yang berkeinginan ikuti PON membela daerah tersebut." Wow, kenapa kepada saya ya. Apakah karena saya kenal dengan Ketua Umum KONIDA tersebut ya. Karena instruksi Ketua Umum KONIDA tersebut maka pembina ini yang tidak pernah telpon saya langsung beraksi juga.
Dibulan Desember 2013, saya juga terima telpon dari salah satu orangtua petenis di Jogja, minta agar anaknya dibantu untuk masuk ikuti PON mendatang. Kenapa lari ke AFR ya, katanya sewaktu orangtua tersebut minta ke daerah yang dimaksud, maka disampaikan agar menghubungi AFR saja. Wow, keren juga ya saya dikenal sebagai penasehat atau apa ya.


Begitu juga saya terima telpon dari salah satu orangtua di Jakarta yang anaknya ingin ikuti PON tapi minta masukan dari AFR cara caranya. Wow, sudah jadi consultant tenis ya. Kalau gitu wani piro ya. He he.

Ya, semua itu saya sampaikan kepada mereka kalau saya itu tidak mau ikut serta dalam jual beli atlet. Tapi saya bisa bantu memberikan program pembinaan bagi daerah maupun orangtua atlet saja.

Ini berbeda dengan jual beli atlet yang dilakukan oleh banyak pelatih tenis di Indonesia. Karena banyak pelatih yang siswa asuhan begitu banyak dan berprestasi maka kesempatan menjual kepada daerah daerah yang mayoritas terbuai dengan rayuan tersebut. Kebetulan saya tahu betul aktivitas pelatih2 d Jakarta yang paling aktif lakukan penawaran kedaerah daerah, bahkan ada yang duduk dalam kepengurusan daerah lain, dan ada juga yang sudah jadi pelatih resmi disuatu daerah tertentu. Semua itu tidak diketahui oleh daerah yang ditawari oleh mereka ini.

Sayapun teringat dengan pesan dari kolega senior saya. Yaitu harus dibedakan jadi DOKTER atau PEDAGANG.   Harus dipilih salah satu saja , mau jadi dokter atau pedagang. Yang jadi masalah dan tidak dibenarkan adalah DOKTER PEDAGANG. Apa jadinya ya. Akan berubah motivasinya, So pasti.

Tidak ada komentar: