Senin, 17 Mei 2010

Mempersipkan National Youth Training Camp


Jakarta, 17 Mei 2010. Beberapa tahun silam, Martina Widjaja selaku Ketua Umum PP Pelti pernah menyampaikan secara langsung kepada saya keinginannya membuat training center khusus untuk petenis 12 tahun kebawah. Hanya saat itu saya berpikiran kalau anak 12 tahun di masukkan dalam TC belum memungkinkan karena usia seperti ini anak perlu kedkatannya atau pengawasan dari orangtuanya. Bisa dibayangkan kalau anak tersebut berasal dari luar kota, tinggal berbulan bulan di Jakarta. Tanggapan saya itu akhirnya bisa menahan keinginannya untuk membuat TC khusus petenis usia dibawah 12 tahun. Saya menyadari obsesi Martina selama ini belum terpenuhi yaitu menghasilkan petenis dunia (top 10), sehinga tidak akan mematikan semangatnya tetap memajukan tenis Indonesia. Itu saya sadari sekali, walaupun kadang kala suka mendengar kalau dia itu sudah capek mengurus Tenis Indonesia.

Kemudian beliau konsentrasi dengan TC untuk petenis nasional dan berjalan seperti biasanya. Sayapun keasyikan mengadakan turnamen RemajaTenis awalnya di Jakarta kemudian berkembang ke D.I.Y, Cirebon, Medan dan Jakarta di tahun 2009. Di Tahun 2010 mulai dari Mataram, Jakarta, Bandung, Solo, Palu, Sumbawa Besar. Kebetulan sewaktu berada di Sumbawa saya mengundang adik saya Alfred Raturandang selaku pelatih untuk adakan coaching clinic di Sumbawa Besar dengan tujuan membantu Pelti NTB memantau petenis NTB yang bisa dimasukkan kedalam tim persiapan PON 2012 mendatang.
Saya tertarik melihat permainan petenis putri usia 10 tahun. Sayapun teringat beberapa tahun silam dengan salah satu peserta Persami yang saya adakan di Kemayoran. Petenis Cianjur dengan postur tubuh yang kecil tetapi memiliki gaya permainan sepertinya sangat lengkap. Gaya permainannya cukup menawan. Namanya Tria Riski Amalia. Nah, di Sumbawa Besar saya langsung panggil Alfred untuk memperhatikan permainan petenis putri asal Lombok Timur di kelompok umur 10 tahun. Tapi saya melihat ada yang kurang sreg juga. Saya juga ikuti perkembangan kepelaltihan oleh ITF khususnya usia dini, dimana untuk pembinaan usia dini itu berbeda dengan yang diatasnya. Apalagi saat ini diperkenalkan Play n Stay. Nah kejanggalan yang saya lihat adalah bentuk raketnya menurut pendapat saya sudah melebihi untuk ukuran tubuhnya. Size raket cukup besar yang memang sangat membantu power waktu memukulnya. Tetapi menurut pendapat saya anak seperti ini tidak perlu menggunakan bentuk raket tersebut.
Jadi kesimpulan saya, anak ini menggunakan raket yang tidak tepat. Ibaratnya membawa raketnya saja seperti diseret. Tapi saya memakluminya karena pelatihnya sendiri belum mengikuti kepelatihan tenis terbaru. Memang beberapa bulan lalu pelatih dari Lombok Timur ini mau ikuti ITF Level1 coaches course di Jakarta, tetapi dia terlambat mendaftar dan sudah ditutup.
Sehingga akhirnya saya sering bercerita dengan rekan rekan di Jakarta kalau masih banyak potensi tenis diluar Jakarta ini, khususnya diluar Jawa. Saya mulai tertarik setelah melihat secara langsung di Sumbawa Besar. Di DIY, Medan, Mataram maupun Palu saya tidak terlalu memperhatikan secara langsung permainan atlet KU 10 tahun ataupun 12 tahun, karena sedang sibuk dengan pelaksanaan turnamennya.

Tiba tiba Martina Widjaja menyampaikan keinginannya kepada saya seperti beberapa tahun silam, dan berdasarkan pembinaan di China dianggap berhasil, kenapa di Indonesia tidak bisa. Memang betul kenapa kita tidak belajar dari negara yang sudah berhasil dengan pembinaan usia dini. Di Indonesia yang sudah ada sarana pertandingan usia dini tingkat nasional setahun sekali diselenggarakan oleh Diknas. Bedanya di China, petenis tersebut dijadikan anak negara, artinya jaminan masa depan dijamin oleh negara.
Tapi karena bentuk kepelatihannya berbeda, bukan TC beberapa bulan atau tahun , hanya dalam 2 minggu, maka saya anggap bisa dilakukannya. Maka langsung saya teringat dengan atlet di Sumbawa Besar Langsung saya nominasikan 10 atlet dari NTB yang terdiri 7 dari Lombok Timur, 1 Dompu, Bima dan Mataram. Saya ambil dari yang juara dan runner up saja sebagai dasar.
Sayapun melihat hasil RemajaTenis di Palu, saya nominasikan atlet Palu, Donggala, Makassar dan Balikpapan.
Sayapu bercerita dengan rekan rekan pengurus lainnya dengan memeberkan keinginan beliau ini. Sehingga teman teman jadi bingung karena selama ini sudah mengetahui kalau beliau sudah capek mengurus tenis. Tapi lupa ada keinginan diakhir masa kepengurusan seharusnya meninggalkan hasil yang baik. Disegala bidang.

Langsung saya sampaikan kepada Pelti NTB dan rekan Pelti NTB sangat berterima kasih adanya kepercayaan diberikan kepada 10 atlet NTB. Tetapi ternyata tidak mudah mengundang mereka ini. Awalnya dari Lombok Timur sangat senang dan bersedia sewaktu saya kontak melemparkan wacana tersebut, tetapi setelah saya kirimkan surat resmi ternyata mereka tidak bersedia karena alasan jadwal sekolahnya maupun disaat yang sama sedang ikuti seleksi O2SN untuk ke Jakarta dibulan Juli mendatang.
Tetapi saya sudah siapkan cadangan beberapa nama petenis setelah berkonsultasi dengan rekan Aga Soemarno yang cukup mengetahui perkembangan petenis yunir di Jawa ini. Maka keluarlah nominasi petenis yunior dari D.I.Y, Jawa Tengah, Jawa Barat dan DKI Jakarta. Hasilnya ada yang bersedia dan ada yang tidak karena terbentur dengan jadwal ulangan sekolah.
Menarik juga menyusun program ini karena ada yang mau mengorbankan jadwal ulangannya karena menganggap training camp ini lebih penting. Tapi saya tidak memaksakan mereka, bahkan ada orangtua yang bingung untuk memilih jadwal seleksi O2SN atau training camp, tetapi saya serahkan kepada mereka untuk memutuskannya. Karena masih ada kesempatan keduakalinya dimasa mendatang. Hal ini saya ketahui setelah berbincang dengan Martina selaku penggagas training camp. Jika program ini berhasil maka ada kelanjutannya. Apalagi dibulan Juli ada O2SN seluruh Indonesia khusus anak Sekolah dasar dari seluruh Indonesia. Kesempatan memantau perkembangan anak SD tersebut dan bisa diundang kembali ke Jakarta bergabung dengan 10 petenis yang berhasil seleksi tahap pertama tersebut.
Ini idea cukup brilian karena akan dilakukan pendataan secara ilmiah, melibatkan Laboratorium UNJ untuk diukur kekuatan otot maupun tulang dari setiap atlet yang lolos seleksi tahap pertama ( kurang lebih 10 atlet). Yang cukup menarik jika terlaksana dengan baik, kedua pelatih asing ini diminta membuat report secara tertulis menyimpulkan hasilnya dan rekomendasi perbaikan baik fisik maupun tehnik kepada pelatih ataupun orangtua maupun Pelti asalnya. Ya, semoga idea ini bisa membantu mendongkrak pertenisan nasional. Karena menurut saya selama ini dilakukan pembinaan baik ditingkat dasar sampai tingkat advance masih out of date, kalau kita jujur pasti akan mengakuinya. Mudah udahan pandangan saya ini tidak menimbulkan ketidak senangan pelatih yang aktip membina atlet tenis. Semoga !

Tidak ada komentar: