Senin, 08 November 2010

Kunjungan Pertama kali ke Ambon

Jakarta, 1 Nopember 2010. Hari ini pertama kali menginjakkan kaki dikota Ambon Maluku. Berangkat dari Jakarta dengan Lion Air pkl. 01.30, artinya saya tidak usah tidu karena pkl. 24.00 waktunya check in di Bandara Soekarno Hatta. Ya, terpaksa berangkat dari Kemayoran karena mobil saya titipkan di Pusat Tenis Kemayoran agar pulangnya lebih mudah ambil kendaraan langsung bisa kerja.

Antara tidur dan tidak tidur selama perjalanan diudara, tetapi ternyata lebih banyak tidak tidurnya karena tidak biasa tidur dikursi. Maklum masih duduk di kelas ekonomi.
Tiba dengan selamat pkl. 07.00 waktu setempat artinya pukul 05.00 waktu Indonesia Barat. Karena belu pernah ke Ambon sehari sebelumnya saya kontak teman teman yang ada di Ambon yaitu Adolf Saleki dan Frengky Mewar yang masing masing sebagai Sekretaris dan Ketua Pengprov Pelti Maluku.
Karena kesibukan rekan Adolf belum bisa menjemput , hanya Frengky yang rumanya dekat dengan bandara Pattimura yang menjemputnya.
Kesan awal mengenai kota Ambon yang 10 tahun silam( kalau tidak salah) pernah mengalami peristiwa yang memprihatinkan karena kerusuhan akibat etnis menjadi religius sehingga kota Ambon dikabarkan hancur total, baik bangunan bangunannya. Ada keragu raguan atas akibat peristiwa tersebut.


Dari Bandar Pattimura dibawanya kekota Ambon yang terletak diujung karena pulaunya berbentuk U dimana perjalanan bisa makan waktu maksimum 1 jam dengan kebndaraan. Maka diambil jalan potong naik ferry keseberang yang cuma makan waktu 5 menit perjalanan menyeberang laut. Ukuran jalan cukup besar dari bandara kekota. Hampir sama juga dengan pulau lainnya, ada pohon kelapanya.
Masuk ke hotel Widjaja -2 yang terletak dekat pasar, sehingga macet sewaktu mau memasuki kompleks hotel terebut.

Makan siang hari ini, saya dibawa makana laut karena Ambon ini terkenal juga dengan sea foods nya. Pergilah ke resto Ratu Gurih. Dipilihnya kepiting yang cukup besar dan ikan Goropah. Lumayan juga makan bertiga bersam Frengky Mewar dan Yusuf (Makassar). Sebenarnya ingin mencoba makanan khas Maluku yaitu papeda. Masih ada hari esok siang akan dicari makanan ini.
Kesan hancurnya kota Ambon ternyata sudah berbeda sekali dari kenyataan. Kotanya sudah kembali normal khususnya kehidupan masyarakat multi etnis maupun bangunan bangunan baru mulai kelihatan dengan aopik. Saya bisa hitung dengan jari saja sisa sisa kehancuran kota Ambon pasca kerusuhan tersbut.

Kedatangan ke kota Ambon sebenarnya sudah saya tunggu tunggu, karena dari keluarga hanya ibunda (alm) saya yang pernah ke Ambon di antara tahun 1955-1959. Baru tahun 2010 adik saya (Joan) juga pernah ke Ambon. Sekarang saya, dan akan dinikmati baik baik selama berada di Ambon.
Melihat lapangan tenis di Karang Panjang, ada 4 lapangan dimana 1 lapangan belang belang artinya tidak layak digunakan untuk pertandingan. Hebatnya ada lampunya. Tidak semua daerah yang saya kunjungi memiliki fasilitas lampu seperti di Ambon, dan club housenya ada air panasnya kalau habis main tenis bisa mandi langsung.

Tidak ada komentar: