Jumat, 27 Juni 2014

Makin Marak Jual Beli Atlet Yunior untuk PON

Jakarta, 28 Juni 2014. Hari ini saya terima telpon dari salah satu orangtua petenis yang sudah akrab dengan saya. Yang diceritakan masalah perbuatan pelatih yang juga anggota Pengurus Pelti. Sebenarnya sudah lama saya ketahui tetapi itu haknya. Wajar dimatanya, tetapi tidak etis dilakukan kalau jadi pengurus Pelti baik di Pusat maupun di Daerah 
Kalau beberapa hari lalu saya terima telpon dari salah satu orangtua di Jawa Timur menceritakan masalah yang sama, yaitu dialami di Jawa Timur. Diberitakan kalau daerahnya punya Pelatda tetapi masih juga membeli atlet dari Jakarta dan Jawa Tengah termasuk pelatih dari Jakarta. Ini rada aneh dilakukan oleh daerah di pulau Jawa, dan memang sudah terjadi. Ada 2 daerah di Jawa yang saya indikasikan membeli atlet tenis dari luar daerah. Kalau yang satu membeli atlet dari luar daerah tetapi latihannya di daerahnya, jadi dianggap normal saja tetapi daerah yang satu lagi jelas jelas beli dari luar daerah dengan dana yang besar sekali. Termasuk beli satu paket dengan pelatihnya. wow, keren juga tidak tanggung tanggung ya, demi RUPIAH.
Disinilah kelihaian pelatih kita yang seharusnya mendidik atlet dengan benar agar bisa go international tetapi fokusnya justru ke masalah DUIT dengan memanfaatkan kebingungan KONI daerah tersebut dengan cara pembinaan pintas saja yaitu beli atlet yang sudah jadi untuk Pekan Olahraga Nasioal (PON).
Memang atlet berhak mendapatkan dana pembinaannya yang selama ini dilakukan sendiri, sehingga dianggap sah sah saja.
Nah, saya coba menyoroti daerah yang beli atlet tersebut. Ternyata kedua daerah tersebut memiliki atlet yunior cukup banyak tapi maklum minim kegiatan atau turnamen nasional yang datang dari inisiatip sendiri.
Yang jadi pertanyaan sekarang adalah kenapa tidak ada penghargaan dari daerahnya atas atletnya sendiri. Tetapi disini saya lihat tidak ada koordinasi antara Pengda Pelti dengan KONIDAnya sehingga pelatih pelatih tersebut main pintas dengan hubungan baik dengan KONIDAnya. Berarti ada miskomunikasi saja


Tidak ada komentar: