Jakarta, 25 Februari 2012. Pagi ini ketika baca Harian Kompas, saya sempat kaget juga dengan munculnya nama putra saya Dino Raturandang dalam pemberitaan nasional. Hanya saja ada kesalahan penulisan nama Dino yaitu Dino NATURANDANG, bukannya Raturandang. Ini kesalahan penulisan nama saja. Dihalaman terakhir tertulis berita tentang band putri SHE, yang disebutkan dalam rangka HUT nya hari ini. Disebutkan idea keberadaan SHE ini karena mantan manajernya yaitu Dino Naturandang yang maksudnya Raturandang. Rupanya group SHE tidak melupakan keberadaan Dino putra tertua saya.
Kalau diingat ingat sewaktu Dino kuliah di UNPAR (Universitas Parahyangan) di Bandung pernah merepotkan orang rumah karena muncul semua dirumah karena akan siaran di RCTI waktu itu. Bisa dibayangkan yang muncul 4 dara manis dengan crewnya cowok2. Menjadi manajer group band SHE tidak pernah saya bayangkan karena selama ini Dino saya mau coba meneruskan apa yang saya pernah lakukan didalam menjalankan turnamen tenis. Memang waktu itu pernah minta saya duit untuk beli pakaian grup SHR tersebut.
Saya pernah coba dia jalankan turnamen tenis Persami Piala Ferry Raturandang beberapa tahun silam, kemudian pernah 1-2 kali jalankan turnamen RemajaTenis. Kelihatannya dia bisa jalankan tetapi tidak terlalu serius sehingga tidak bisa berlangsung terus.Ya, apa boleh buat kalau memang bukan jalannya.
Beberapa minggu lalu, saya dikejutkan munculnya Dino diacara TransTV yaitu Sabtu malam acara Pas Mantap dengan Sule,Parto, Andre. Kok bisa. Ternyata dia sekarang yang termasuk pencetus munculnya grup band Cherybell. Waduh muncul lagi dunia TV cukup membanggakan karena sudah bisa mengganti saya yang sudah sering muncul dilayar kaca. Hanya bedanya dia didunia musik, sedangkan saya di tenis. Kalau saya ikuti dia sudah dua kali muncul di TV dengan kedudukan sebagai promotor dari Cherybell
Sabtu, 25 Februari 2012
Jumat, 24 Februari 2012
Muncul turnamen nasional baru di 2012
Jakarta, 24 Februari 2012. Sekarang disibukkan dengan rencana pelaksanaan sikuti nasional tenis yang dicanangkan untuk 10 kota yaitu Jakarta, Bandung, Samarinda, Balikpapan, Singaraja, Surabaya, Solo , Jogja , Palembang dan Pekanbaru.
Teringat saya di Palembang setelah Pra-PON dilaksanakan, sempat berbincang bincang dengan Ketua Umum PP Pelti yang saya tahu sangat anthusias terhadap pertenisan nasional kita. "Apa yang akan dilakukan setelah Pra_PON dimana terpilih 4 daerah putra dan 4 daerah putri lolos ke PON XVIII 2012 di Pekanbaru, Riau." Hal yang sama say lakukan kepada Pelti Provinsi yang lolos ke PON tersebut.
Kemudian saya ajukan kepada Ketua Umum PP Pelti untuk meningkatkan kualitas petenis yang lolos ke PON dengan adakan turnamen turnamen nasional didaerahnya sendiri. Tujuannya untuk peningkatan PNP mereka dengan sendirinya akan meningkatkan prestasi mereka. Idea ini diterima dengan baik. Kemudian ditanyakan berapa besar beayanya turnamen tersebut. Disni saya melihat ada peluang maka dalam benak saya tentunya tidak mau besar besar beayanya. Maka saya kemukakan kalau cukup dengan Rp 20 juta saja. Beliaupun kaget betapa ringannya. Dan saya kemukakan kalau prize moneynya cukup Rp. 20 juta untuk putra sedangkan putri cukup Rp. 10 juta.
Kemudian saya kemukakan cukup di 5 kota saja. Berarti budget cukup 250 juta.
Setelah beberapa bulan di tahun 2012, ditunjuknya kepanitiaan terdiri 4 orang saja yaitu Susan Soebakti, Christian Budiman, Hudani Fajri dan a=saya sendiri..
Teringat saya di Palembang setelah Pra-PON dilaksanakan, sempat berbincang bincang dengan Ketua Umum PP Pelti yang saya tahu sangat anthusias terhadap pertenisan nasional kita. "Apa yang akan dilakukan setelah Pra_PON dimana terpilih 4 daerah putra dan 4 daerah putri lolos ke PON XVIII 2012 di Pekanbaru, Riau." Hal yang sama say lakukan kepada Pelti Provinsi yang lolos ke PON tersebut.
Kemudian saya ajukan kepada Ketua Umum PP Pelti untuk meningkatkan kualitas petenis yang lolos ke PON dengan adakan turnamen turnamen nasional didaerahnya sendiri. Tujuannya untuk peningkatan PNP mereka dengan sendirinya akan meningkatkan prestasi mereka. Idea ini diterima dengan baik. Kemudian ditanyakan berapa besar beayanya turnamen tersebut. Disni saya melihat ada peluang maka dalam benak saya tentunya tidak mau besar besar beayanya. Maka saya kemukakan kalau cukup dengan Rp 20 juta saja. Beliaupun kaget betapa ringannya. Dan saya kemukakan kalau prize moneynya cukup Rp. 20 juta untuk putra sedangkan putri cukup Rp. 10 juta.
Kemudian saya kemukakan cukup di 5 kota saja. Berarti budget cukup 250 juta.
Setelah beberapa bulan di tahun 2012, ditunjuknya kepanitiaan terdiri 4 orang saja yaitu Susan Soebakti, Christian Budiman, Hudani Fajri dan a=saya sendiri..
Minggu, 19 Februari 2012
Anti 3 D
Jakarta, 19 Februari 2012. Hari Minggu 19 Februari 2012 saya janjian ketemu salah satu rekan anggota pengurus Pelti dari salah satu provinsi. Kenapa saya janjian dengan dia, karena sebelumnya kira2 minggu lalu saya sempat kirimkan SMS kepadanya kalau saya ada rencana mau adakan turnamen nasional tenis atau TDP Nasional diwilayahnya. Saya sering mendengar cara dia memimpin daerahnya agak berbeda yang saya masih penasaran atas sikap yang tidak mendukung pertenisan didaerah tersebut. Saya sering degar cerita negatip tentang dirinya, tetapi saya masih menghormati dan tidak mau ikut campur masalahnya. Bisa dibayangkan ketika saya kirimkan SMS kesalah satu pelatih di daerahnya memberikan informasi ada turnamen RemajaTenis di Jakarta. Dia merasa tersinggu , karena SMS itu tidak ditujukan kepadanya. Anehkan sikap seperti ini. Tapi begitulah dia.
Sewaktu saya kirim SMS kepadanya maka saya mendapatkan tanggapan yang sudah saya duga sebelumnya. Beberapa kali SMS sama dia , justru dia ingin bertemu sebelum niat saya terwujud dan itu diungkapkannya. Kesannya cukup banyak birokrasi yang harus saya temui. Tetapi sayapun sadar karena beliau itu mantan petinggi di provinsi tersebut, sehingga gaya nya masih seperti menjabat didaerah tersebut. Semua keinginan harus melalui dianya. Bahkan dalam pesan singkatnya kalau urusan sponsor didaerahnya serahkan sama dia, dan saya seolah olah mencari sponsor dari luar daerah tersebut. Kalau memang dia bisa cari sponsor didaerahnya kenapa tidak pernah adakan turnamen nasional.
Karena jawaban ini membuat saya ingin sekali bertemu dan mewujudkan keinginan agar daerah tersebut harus ada turnamen nasional. Apalagi tahun 2012 masa kepengurusan saya duduk di PP Pelti akan berakhir maka saya berkeinginan ada turnamen nasional didaerah tersebut. Saya harus kerja keras supaya pertemuan ini menghasilkan demi kebaikan tenis didaerah tersebut.
Saya segera sampaikan kalau selama 10 tahun duduk di PP Pelti maka saya ingin ada turnamen didaerah tersebut. Saya kemukakan dari 10 provinsi dipulau besar ternyata 1 daerah tidak punya Turnamen nasional. Jadi saya kemukakan kalau saya terobsesi agar didaerahnya ada turnamen nasional. Langsung dia kemukakan masalah klasik menurut saya, yaitu tidak ada dukungan dari pemerintah daerah mulai dari tingkat provinsi sampai kotamadya.
Kemudian saya minta izin jika saya bisa cari sponsor dari daerahya seperti yang sudah pernah saya lakukan didaerah lainnya. Kita harus bisa ciptakan sponsor daerah sendiri. Dan saya katakan kalau saya akan bawa crew turnamen sendiri tanpa gunakan tenaga setemat karena dia menyebutkan 3 nama insial D untuk tidak boleh dilibatkan dalam turnamen tersebut. Dan juga jika ada sponsor lokal agar beritahu dia dulu karena kuatir saya dibohongin. Ya gitulah saya terima permintaannya untuk sementara waktu.
Sewaktu saya kirim SMS kepadanya maka saya mendapatkan tanggapan yang sudah saya duga sebelumnya. Beberapa kali SMS sama dia , justru dia ingin bertemu sebelum niat saya terwujud dan itu diungkapkannya. Kesannya cukup banyak birokrasi yang harus saya temui. Tetapi sayapun sadar karena beliau itu mantan petinggi di provinsi tersebut, sehingga gaya nya masih seperti menjabat didaerah tersebut. Semua keinginan harus melalui dianya. Bahkan dalam pesan singkatnya kalau urusan sponsor didaerahnya serahkan sama dia, dan saya seolah olah mencari sponsor dari luar daerah tersebut. Kalau memang dia bisa cari sponsor didaerahnya kenapa tidak pernah adakan turnamen nasional.
Karena jawaban ini membuat saya ingin sekali bertemu dan mewujudkan keinginan agar daerah tersebut harus ada turnamen nasional. Apalagi tahun 2012 masa kepengurusan saya duduk di PP Pelti akan berakhir maka saya berkeinginan ada turnamen nasional didaerah tersebut. Saya harus kerja keras supaya pertemuan ini menghasilkan demi kebaikan tenis didaerah tersebut.
Saya segera sampaikan kalau selama 10 tahun duduk di PP Pelti maka saya ingin ada turnamen didaerah tersebut. Saya kemukakan dari 10 provinsi dipulau besar ternyata 1 daerah tidak punya Turnamen nasional. Jadi saya kemukakan kalau saya terobsesi agar didaerahnya ada turnamen nasional. Langsung dia kemukakan masalah klasik menurut saya, yaitu tidak ada dukungan dari pemerintah daerah mulai dari tingkat provinsi sampai kotamadya.
Kemudian saya minta izin jika saya bisa cari sponsor dari daerahya seperti yang sudah pernah saya lakukan didaerah lainnya. Kita harus bisa ciptakan sponsor daerah sendiri. Dan saya katakan kalau saya akan bawa crew turnamen sendiri tanpa gunakan tenaga setemat karena dia menyebutkan 3 nama insial D untuk tidak boleh dilibatkan dalam turnamen tersebut. Dan juga jika ada sponsor lokal agar beritahu dia dulu karena kuatir saya dibohongin. Ya gitulah saya terima permintaannya untuk sementara waktu.
Senin, 23 Januari 2012
Masuknya SMS selama di Solo
Solo, 23 Januari 2012. Membuat suatu aturan baru belum tentu bisa dipahami oleh masyarakat. Kenapa bisa demikian? Karena sudah merupakan kebiasaan lama sehingga ada keinginan untuk ditawar dulu.
Dalam pelaksanaan Turnamen RemajaTenis yang merupakan gagasan saya selama ini dijalankan oleh tim sendiri, saya sering menerima SMS yang menanyakan ataupun mengusulkan sebagai pendapat pribadinya. Tetapi ada juga yang kurang mau terima aturan yang dibuat tersebut.
Selama ini diturnamen nasional yunior, dilakukan sign-in dan entry fee dibayar saat sign-in, yang biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Perubahan yang saya lakukan di turnamen RemajaTenis, adalah tidak ada sign-in karena pendaftaran melalui email atau SMS. Penutupan pendaftaran sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan diwajibkan entry fee ditransfer langsung memalui bank.
Sewaktu pelaksanaan RemajaTenis Solo-1 tahun 2012 tanggal 20-22 Januari 2012 di lapangan tenis Manahan Solo, saya menerima SMS yang mempertanyakan masalah perubahan tersbut.
Ada yang mengatakan, kalau bisa dengan jalan mulus kenapa musti jalan yang berbelit belit. Dipakailah contoh turnamen yang baru dilaksnakan minggu sebalumnya di Magelang. Dikatakan pesertanya lebih banyak dibandingkan peserta RemajaTenis di Solo.
Sayapun memberikan jawaban dengan baik, yaitu kalau RemajaTenis itu merupakan dibuat agar bisa dipakai sebagai solusi terhadap pelaksanaan turnamen nasional yunior lainnya dimana sering kurang lancar dihari pertama akibat sistemnya tidak dirubah. "Konsep RemajaTenis itu dibuat lebi efisien dan efektip dibandingkan turnamen sebelumnya. Sebagai contoh peserta tidak perlu datang sehari sebelum turnamen, karena akan makan beaya besar seperti akomodasi dan konsumsinya. Kalau RemajaTenis sudah bisa diikuti diinternet melalui www.remajatenis.blogspot.com.". Tapi hebatnya dapat jawaban kalau dia di Solo tidak diperlukan beaya akomodasi karena tingalnya dekat Solo. Sayapun menjawab SMS tersebut dengan menyebutkan kalau saya tidak memikirkan hanya satu orang tetapi seluruh peserta punya kepentingan.
Ada lagi SMS lainnya menyebutkan masalah entry fee Rp. 200.000 tanpa kaos sedangkan turnamen lainnya hanya Rp. 150.000 dan mendapatkan kaos sebagai sovenir. Masalah kaos merupakan pertanyaan menarik yang saya sering terima selama pelaksanaan RemajaTenis. Memang diawal pelaksanaan RemajaTenis sering disediaka kaos untuk peserta dengan tujuan promosi turnamennya.
Menjawab turnamen tersebut saya cukup katakan kalau saya juga heran turnamen dengan Rp. 150.000 plus kaos hanya mampu setahun sekali sedangkan RemajaTenis (entry fee Rp. 200.000 tanpa kaos) mampu selenggarakan 18 kali selama tahun 2011. Setelah itu tidak ada tanggapan.
Pelaksanaan RemajaTenis di Solo diselingi oleh turunnya hujan. Sehingga saya menerima SMS dari orang yang tidak saya kenal karena belum terdaftar dalam tilpon genggam saya. SMSnya itu seharusnya datang dari peserta luar kota tetapi ini kalau melihat nomor flexinya itu nomor kota Solo. Disebutkan kesan dia pelaksana RemajaTenis menunjukkan tidak profesional. Kasian peserta anak2 menunggu terlalu lama, padahal sudah ada order of play yang diumumkan melalui internet, sehingga menurut saya tidak tungu dari pagi sedangkan jadwalnya sore. Kemudian dari nomor yang sama kirim lagi sms yang menyatakan AFR tidak mampu melobi pemili lapangan karena lapangan ternyata masih ada pelanggan sehingga tidak bisa digunakan. Tidak tahu kalau memang RemajaTenis mengajukan permintaan penggunaan lapangan itu mulai pukul 10.00 karena menghindar dari pemakai lapangan.
Anehnya sewaktu saya tanya siapa namanya, tidak dijawabnya padahal saya ingin berkenalan dan menyampaikan soal RemajaTenis dengan konsepnya.
Sayapun langsung menjawab kalau saya memang tidak mampu melobi pengelola lapangan dan minta tolong kalau dia bisa bantu saya.Dan tidak dijawabnya. Begitu juga sewaktu uturun hujan , dia sibuk SMS saya untuk cepat bertindak jangan biarkan atlet menunggu . Padahal saya sudah siapkan lapangan indoor untuk digunakan.
Menurut saya sendiri kalau hujan tidak perlu panik, karena turnamen masih bisa dilaksanakan dengan penambahan sehari alias ditunda sehari. Inipun disampaikan oleh Referee kepada saya masalah turunnya hujan. Sayapun katakan kita harus jalankan sesuai aturannya. Begitu pula ada orangtua seaktu bertanya masalah penyelesaian pertandingan karena hujan. Jawaban saya cukup katakan ditunda sehari, apalagi hari Senin 23 Januari 2012 hari libur.
Dalam pelaksanaan Turnamen RemajaTenis yang merupakan gagasan saya selama ini dijalankan oleh tim sendiri, saya sering menerima SMS yang menanyakan ataupun mengusulkan sebagai pendapat pribadinya. Tetapi ada juga yang kurang mau terima aturan yang dibuat tersebut.
Selama ini diturnamen nasional yunior, dilakukan sign-in dan entry fee dibayar saat sign-in, yang biasanya dilakukan sehari sebelumnya.
Perubahan yang saya lakukan di turnamen RemajaTenis, adalah tidak ada sign-in karena pendaftaran melalui email atau SMS. Penutupan pendaftaran sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dan diwajibkan entry fee ditransfer langsung memalui bank.
Sewaktu pelaksanaan RemajaTenis Solo-1 tahun 2012 tanggal 20-22 Januari 2012 di lapangan tenis Manahan Solo, saya menerima SMS yang mempertanyakan masalah perubahan tersbut.
Ada yang mengatakan, kalau bisa dengan jalan mulus kenapa musti jalan yang berbelit belit. Dipakailah contoh turnamen yang baru dilaksnakan minggu sebalumnya di Magelang. Dikatakan pesertanya lebih banyak dibandingkan peserta RemajaTenis di Solo.
Sayapun memberikan jawaban dengan baik, yaitu kalau RemajaTenis itu merupakan dibuat agar bisa dipakai sebagai solusi terhadap pelaksanaan turnamen nasional yunior lainnya dimana sering kurang lancar dihari pertama akibat sistemnya tidak dirubah. "Konsep RemajaTenis itu dibuat lebi efisien dan efektip dibandingkan turnamen sebelumnya. Sebagai contoh peserta tidak perlu datang sehari sebelum turnamen, karena akan makan beaya besar seperti akomodasi dan konsumsinya. Kalau RemajaTenis sudah bisa diikuti diinternet melalui www.remajatenis.blogspot.com.". Tapi hebatnya dapat jawaban kalau dia di Solo tidak diperlukan beaya akomodasi karena tingalnya dekat Solo. Sayapun menjawab SMS tersebut dengan menyebutkan kalau saya tidak memikirkan hanya satu orang tetapi seluruh peserta punya kepentingan.
Ada lagi SMS lainnya menyebutkan masalah entry fee Rp. 200.000 tanpa kaos sedangkan turnamen lainnya hanya Rp. 150.000 dan mendapatkan kaos sebagai sovenir. Masalah kaos merupakan pertanyaan menarik yang saya sering terima selama pelaksanaan RemajaTenis. Memang diawal pelaksanaan RemajaTenis sering disediaka kaos untuk peserta dengan tujuan promosi turnamennya.
Menjawab turnamen tersebut saya cukup katakan kalau saya juga heran turnamen dengan Rp. 150.000 plus kaos hanya mampu setahun sekali sedangkan RemajaTenis (entry fee Rp. 200.000 tanpa kaos) mampu selenggarakan 18 kali selama tahun 2011. Setelah itu tidak ada tanggapan.
Pelaksanaan RemajaTenis di Solo diselingi oleh turunnya hujan. Sehingga saya menerima SMS dari orang yang tidak saya kenal karena belum terdaftar dalam tilpon genggam saya. SMSnya itu seharusnya datang dari peserta luar kota tetapi ini kalau melihat nomor flexinya itu nomor kota Solo. Disebutkan kesan dia pelaksana RemajaTenis menunjukkan tidak profesional. Kasian peserta anak2 menunggu terlalu lama, padahal sudah ada order of play yang diumumkan melalui internet, sehingga menurut saya tidak tungu dari pagi sedangkan jadwalnya sore. Kemudian dari nomor yang sama kirim lagi sms yang menyatakan AFR tidak mampu melobi pemili lapangan karena lapangan ternyata masih ada pelanggan sehingga tidak bisa digunakan. Tidak tahu kalau memang RemajaTenis mengajukan permintaan penggunaan lapangan itu mulai pukul 10.00 karena menghindar dari pemakai lapangan.
Anehnya sewaktu saya tanya siapa namanya, tidak dijawabnya padahal saya ingin berkenalan dan menyampaikan soal RemajaTenis dengan konsepnya.
Sayapun langsung menjawab kalau saya memang tidak mampu melobi pengelola lapangan dan minta tolong kalau dia bisa bantu saya.Dan tidak dijawabnya. Begitu juga sewaktu uturun hujan , dia sibuk SMS saya untuk cepat bertindak jangan biarkan atlet menunggu . Padahal saya sudah siapkan lapangan indoor untuk digunakan.
Menurut saya sendiri kalau hujan tidak perlu panik, karena turnamen masih bisa dilaksanakan dengan penambahan sehari alias ditunda sehari. Inipun disampaikan oleh Referee kepada saya masalah turunnya hujan. Sayapun katakan kita harus jalankan sesuai aturannya. Begitu pula ada orangtua seaktu bertanya masalah penyelesaian pertandingan karena hujan. Jawaban saya cukup katakan ditunda sehari, apalagi hari Senin 23 Januari 2012 hari libur.
Sabtu, 14 Januari 2012
Kasus Catut Umur Muncul lagi
Jakarta, 14 Januari 2012. Saya paling sering terima masukan dari masyarakat tenis yang datang dari berbagai kota. Keluhan itu terhadap kejadian kejadian disekitar turnamen maupun kebijakan Pelti yang kurang mengena dihati mereka.
Tapi yang terbanyak adalah mengenai kejadian kejadian diturnamen. Baik yang mengenai kasus dugaan catut umur sampai yang terakhir ada informasi KTA Pelti yang diperlihatkan itu diragukan keasliannya. Tapi karena saya tidak berada diturnamen tersebut maka saya tidak bisa berbuat apa apa.
Sewaktu turnamen di Bandung diakhir tahun 2011, ada SMS masuk mengenai salah satu atlet putri asal dari Kudus (RF) yang dari postur tubuhnya tidak bisa dipercaya kalau masih masuk KU 10 tahun. Mulai dari pengakuan asal usulnya berbeda beda katanya.
Kali ini diawal tahun di Magelang saya masih menerima sms dari masyarakat tenis di Jawa Tengah. Masalah KTA Pelti dari 2 atlit yang pernah kena skorsing dari PP Pelti karena terbukti catut umur.
Ternyata atlet tersebut sudah dibuatkan KTA Pelti dimana saat itu belum ketahuan catut umur. Setelah ketahuan, PP Pelti lupa menarik KTA tersebut untuk diganti dengan KTA baru. Dikatakan pula orangtua atlit tersebut menunjukan KTA baru dengan tahun yang diperbaiki tetapi warna KTA tersebut agak berbeda, seperti sudah luntur. Timbul tanda tanya lagi, tapi karena saya tidak melihat bentuk nyatanya maka saya tidak bisa berkomentar.
Kemudian ada lagi masukan terhadap atlet yang sama asal Kudus, dilaporkan yang bersangkutan sampai tidak tahan akhirnya mengundurkan diri, karena kuatir ketahuan, Tapi kalau memang sudah bertanding dan bisa dibuktikan kasus catut umur maka bisa saja kena sangsi seperti tahun 2011 lalu.
Apakah masih ada lagi kasus seperti ini ditahun 2012 ? Sayang ya kalau sampai masih ada. Memang saya katakan walaupun sudah ada KTA tetapi dalam perjalannnya terbuti aktenya palsu maka sangsi tetap akan kena.
Oh ya, sewaktu saya ke Magelang bertemu dengan atlit DKI yang KTAnya sengaja saya simpan tidak dipublikasikan karena sewaktu keluar KTA nya dengan akte yang benar tetapi kemudian sewaktu mau ikut turnamen di Magelang dia menggunakan fotocopy akte baru alias pemutihan dimana dia mau main di KU 16 athun. Karena dia tidak tercatat ada KTA (padahal saya simpan) maka dia harus isi formulir KTA yang saya bawa. Langsung saya katakan kalau kami punya juga fotocopy akte berbeda. "Mana yang betul" tanya saya kepadanya. Diapun mencoba kalau dia itu tidak pernah punya akte yang saya maksud. Karena saya kasihan juga ini anak, maka saya hanya katakan kepadanya sebaiknya ikut KU 18 tahun saja karena umurnya sudah lewat. Kalau tidak tapi main di KU 16 tahun yang sebenarnya dia tidak berhak, maka akan kena hukuman. "Pilih mana?"
Akhirnya dia takut juga dan karena sudah datang jauh jauh dari Jakarta ke Magelang kemudian tidak main maka dia sms saya kalau main di KU 18 tahun.
Tapi yang terbanyak adalah mengenai kejadian kejadian diturnamen. Baik yang mengenai kasus dugaan catut umur sampai yang terakhir ada informasi KTA Pelti yang diperlihatkan itu diragukan keasliannya. Tapi karena saya tidak berada diturnamen tersebut maka saya tidak bisa berbuat apa apa.
Sewaktu turnamen di Bandung diakhir tahun 2011, ada SMS masuk mengenai salah satu atlet putri asal dari Kudus (RF) yang dari postur tubuhnya tidak bisa dipercaya kalau masih masuk KU 10 tahun. Mulai dari pengakuan asal usulnya berbeda beda katanya.
Kali ini diawal tahun di Magelang saya masih menerima sms dari masyarakat tenis di Jawa Tengah. Masalah KTA Pelti dari 2 atlit yang pernah kena skorsing dari PP Pelti karena terbukti catut umur.
Ternyata atlet tersebut sudah dibuatkan KTA Pelti dimana saat itu belum ketahuan catut umur. Setelah ketahuan, PP Pelti lupa menarik KTA tersebut untuk diganti dengan KTA baru. Dikatakan pula orangtua atlit tersebut menunjukan KTA baru dengan tahun yang diperbaiki tetapi warna KTA tersebut agak berbeda, seperti sudah luntur. Timbul tanda tanya lagi, tapi karena saya tidak melihat bentuk nyatanya maka saya tidak bisa berkomentar.
Kemudian ada lagi masukan terhadap atlet yang sama asal Kudus, dilaporkan yang bersangkutan sampai tidak tahan akhirnya mengundurkan diri, karena kuatir ketahuan, Tapi kalau memang sudah bertanding dan bisa dibuktikan kasus catut umur maka bisa saja kena sangsi seperti tahun 2011 lalu.
Apakah masih ada lagi kasus seperti ini ditahun 2012 ? Sayang ya kalau sampai masih ada. Memang saya katakan walaupun sudah ada KTA tetapi dalam perjalannnya terbuti aktenya palsu maka sangsi tetap akan kena.
Oh ya, sewaktu saya ke Magelang bertemu dengan atlit DKI yang KTAnya sengaja saya simpan tidak dipublikasikan karena sewaktu keluar KTA nya dengan akte yang benar tetapi kemudian sewaktu mau ikut turnamen di Magelang dia menggunakan fotocopy akte baru alias pemutihan dimana dia mau main di KU 16 athun. Karena dia tidak tercatat ada KTA (padahal saya simpan) maka dia harus isi formulir KTA yang saya bawa. Langsung saya katakan kalau kami punya juga fotocopy akte berbeda. "Mana yang betul" tanya saya kepadanya. Diapun mencoba kalau dia itu tidak pernah punya akte yang saya maksud. Karena saya kasihan juga ini anak, maka saya hanya katakan kepadanya sebaiknya ikut KU 18 tahun saja karena umurnya sudah lewat. Kalau tidak tapi main di KU 16 tahun yang sebenarnya dia tidak berhak, maka akan kena hukuman. "Pilih mana?"
Akhirnya dia takut juga dan karena sudah datang jauh jauh dari Jakarta ke Magelang kemudian tidak main maka dia sms saya kalau main di KU 18 tahun.
Selasa, 10 Januari 2012
Awal Tahun Terima ancaman
Jakarta, 9 Januari 2012. Hari Senin 8 januari 2011 saya terima SMS dari rekan di Bandung. Isinya cukup mengkagetkan karena diluar dugaan. Intinya adalah melarang saya selenggarakan satu penataran pelatih yang sudah 2 tahun saya selenggarakan di Jakarta.
Ini baru kejutan karena tidak sesuai dengan keinginan semua pihak. Tapi karena ini wewenang dari salah satu badan di PP Pelti maka saya bisa terimanya.
Banyak pihak merasa cara itu tidak benar karena selama ini badan yang dipimpinnya itu tidak lakukan kegiatan penataran pelatih tersebut sedangkan saya setiap tahun sudah selenggarakan penataran tersebut. Pernah juga dua tahu lalu saya melihat mereka lakukan penataran di Jakarta dengan mendapatkan sponsor tetapi yang mengikutinya tidak banyak bahkan setengah dari apa yag saya kerjakan dimana saya bisa menolak pendaftar yang terlambat mendaftar. Bisa dibayangkan bisa menolak pesertanya.
Tapi yang hebatnya setelah saya balas SMS tesebut dengan menyampaikan kalau sudah saya promosikan dan sudah ada yang mendaftar, maka dijawabnya tidak boleh. Kemudian lebih gila lagi saya terima telpon dimana ada ancaman kepada saya kalau tetap saya laksanakan. Tetapi karena saya ingat ini tahun akhir dari kepengurusan PP Pelti (tepatnya Nopember 2012) maka saya ikuti saja apa keinginan Ketua Umum PP Pelti agar kita tidak ribut ribut. Jadi lebih baik mengalah saja.
Ada beberapa alasan yang diberikan kepada saya dalam percakapan telpon disebutkan saya tidak pernah buat surat permintaan selama ini kalau mau buat penataran tersbut. Waduh, ini kesalahan besar kalau betul saya tidak pernah buat surat. Karena selama inis aya tetap melalui prosedur resmi, mengajukan permintaan penataran tersebut dan bahkan dijawab dengan sebutkan nama Tutornya. Apa perlu dibantah, saya kira tidak perlu.
Tetapi kalau saya ingat ancaman tersebut hati saya panas juga karena saya tahu banyak kelemahan atau kecurangan dia selama ini. "Biarkan sajalah."
Saya teringat lagi sewaktu malam apresiasi tenis Indonesia , sempat ketemu dan dia diserang oleh rekan saya yang mengatakan seharusnya dia itu berterima kasih karena saya buat tanpa minta uang sepeserpun dari dia. Kenapa saya diwajibkan harus bayar yang besarnya cukup lumayan yaitu Rp. 3 juta. Dengan alasan beaya fotocopy satu buku terjemahan seharga Rp. 100 ribu. Saya berpikir dia yangbikin fotocopynya dan saya terima beres, ternyata terbalik dimana saya yang gandakan materi tersebut dan saya harus bayar lagi. Ini memang edan. Tapi bergitulah kalau bepikiran selaku PENGUASA...
Ada sedikit atau banyak hardfeeling kepada saya karena saya menungak bayarRp 3 juta kepada nya selama beberapa bulan. Setelah SEA Games baru saya lunasin karena ternyata dia tidak mau keluarkan seritifikat bagi yang lulus karena saya menunggak. Ha ha ha....
Ini baru kejutan karena tidak sesuai dengan keinginan semua pihak. Tapi karena ini wewenang dari salah satu badan di PP Pelti maka saya bisa terimanya.
Banyak pihak merasa cara itu tidak benar karena selama ini badan yang dipimpinnya itu tidak lakukan kegiatan penataran pelatih tersebut sedangkan saya setiap tahun sudah selenggarakan penataran tersebut. Pernah juga dua tahu lalu saya melihat mereka lakukan penataran di Jakarta dengan mendapatkan sponsor tetapi yang mengikutinya tidak banyak bahkan setengah dari apa yag saya kerjakan dimana saya bisa menolak pendaftar yang terlambat mendaftar. Bisa dibayangkan bisa menolak pesertanya.
Tapi yang hebatnya setelah saya balas SMS tesebut dengan menyampaikan kalau sudah saya promosikan dan sudah ada yang mendaftar, maka dijawabnya tidak boleh. Kemudian lebih gila lagi saya terima telpon dimana ada ancaman kepada saya kalau tetap saya laksanakan. Tetapi karena saya ingat ini tahun akhir dari kepengurusan PP Pelti (tepatnya Nopember 2012) maka saya ikuti saja apa keinginan Ketua Umum PP Pelti agar kita tidak ribut ribut. Jadi lebih baik mengalah saja.
Ada beberapa alasan yang diberikan kepada saya dalam percakapan telpon disebutkan saya tidak pernah buat surat permintaan selama ini kalau mau buat penataran tersbut. Waduh, ini kesalahan besar kalau betul saya tidak pernah buat surat. Karena selama inis aya tetap melalui prosedur resmi, mengajukan permintaan penataran tersebut dan bahkan dijawab dengan sebutkan nama Tutornya. Apa perlu dibantah, saya kira tidak perlu.
Tetapi kalau saya ingat ancaman tersebut hati saya panas juga karena saya tahu banyak kelemahan atau kecurangan dia selama ini. "Biarkan sajalah."
Saya teringat lagi sewaktu malam apresiasi tenis Indonesia , sempat ketemu dan dia diserang oleh rekan saya yang mengatakan seharusnya dia itu berterima kasih karena saya buat tanpa minta uang sepeserpun dari dia. Kenapa saya diwajibkan harus bayar yang besarnya cukup lumayan yaitu Rp. 3 juta. Dengan alasan beaya fotocopy satu buku terjemahan seharga Rp. 100 ribu. Saya berpikir dia yangbikin fotocopynya dan saya terima beres, ternyata terbalik dimana saya yang gandakan materi tersebut dan saya harus bayar lagi. Ini memang edan. Tapi bergitulah kalau bepikiran selaku PENGUASA...
Ada sedikit atau banyak hardfeeling kepada saya karena saya menungak bayarRp 3 juta kepada nya selama beberapa bulan. Setelah SEA Games baru saya lunasin karena ternyata dia tidak mau keluarkan seritifikat bagi yang lulus karena saya menunggak. Ha ha ha....
Senin, 09 Januari 2012
Jalan jalan ke Magelang
Jakarta, 9 Januari 2012. Ketika berkunjung ke Magelang kemarin (8 /01) atas inisiatip sendiri saya menyempatkan diri melihat suasana persiapan turnamen New Armada di Magelng. Sayapun berniat melihat sendiri kendala kendala yang akan dialami penyelenggara sehubungan dengan keinginan PP Pelti menertibkan penyelenggara Turnamen didalam menjalankan ketentuan TDP yang dibuat sendiri. Salah satu masalah yang sedang hangat adalah masalah Kartu Tanda Anggota (KTA) Pelti yang sudah jelas merupakan persyaratan peserta Turnamen Diakui Pelti. Ketentuan ini sudah lama dberlakukan tetapi dalam perjalanannya tidak diperhatikan oleh pelaksana Turnamen termasuk petugas yang ditunjuk oleh PP Pelti yaitu Referee.
Sewaktu berada di Magelang di lapangan indoor New Armada saya menyempatkan diri berbincang dengan Referee masalah KTA yang harus dimiliki oleh peserta Turnamen. Hal ini sebelumnya sudah saya sebar luaskan kepada petugas Referee melalui IT.
Yang saya kaget jawaban dari petugas Referee yang ditunjuk oleh PP Pelti ketika saya beritahukan bahwa PP Pelti tidak main main lagi karena tahun 2012 akan ditertibkan turnamen turnamen yang tidak jalankan ketentuan TDP tersebut. Jawaban yang diberikan kesannya sangat sulit dijalankan. Saya melihat hal ini merupakan kendala aturan bisa berjalan bukan datang dari pihak luar tetapi dari pihak petugas yang ditunjuk oleh PP Pelti sendiri. Ini yang harus diamankan. Langsung saya katakan kepadanya, jika tidak dijalankan maka yang akan ditindak petugas Refereenya. Dengan nada yang agak keras. Tetapi saya harus beri contoh kepada mereka cara memecahkan masalahnya.
Saya sudah siap dengan blanko Formulir Kartu Tanda Anggota Pelti dan juga nomor KTA Pelti sehingga saat itu juga yang belum punya KTA bisa diurus dan boleh ikut pertandingan. Ternyata saya bisa kumpulkan 50 peserta baru untuk buat KTA Pelti.
Padahal persyaratannya cukup ringan yaitu isi formulir KTA dan bawa fotocopy Akte Kelahiran dan pasfoto.
Kebetulan ada satu peserta yang mendaftarkan atau sign-in untuk petenis dari Purwokerto yang belum hadir tetapi sudah membayar. " Ini anaknya masih di Purwokerto Pa. Saya tidak bawa fotocopy Akte Kelahiran dan pasfotonya." ujarnya seolah olah minta kebijaksanaan saya agar bisa ikut serta. Tapi kalau seperti ini dibiarkan maka tidak akan tuntas permasalahannya. Langsung saya sampaikan saat ini bahwa tidak ada halangan masalah komunikasi. " Biarpun dia dari Papua bisa kirim dengan fax fotocopy akte tersebut dan pasfoto kirim dengan email, langsung sampai. Apa masalahnya lagi? Kalau tidak maka tidak bisa ikut walaupun sudah bayar entry fee."
Begitu juga ada yang katakan anaknya ada dhotel, maka sayapun suruh hara dilengkapi persyaratan peserta tersebut. Sayapun sampaikan kepada salah satu panitia masalah ini sudah merupakan keharusan penyelenggara menjalankan aturan yang sudah baku.
Saya sendiri datang dari jam 12.00 sampai jam 18.00 duduk membantu masalah KTA tersebut dan setelah itu kembali ke Jogjakarta karena besok pagi2 jam 06.10 sudah kembali ke Jakarta. Banyak juga rekan2 kaget cepat sekali kembali ke Jakarta. Ada yang bertanya, untuk apa saya datang." Untuk jalan jalan saja ke Magelang."
Sewaktu berada di Magelang di lapangan indoor New Armada saya menyempatkan diri berbincang dengan Referee masalah KTA yang harus dimiliki oleh peserta Turnamen. Hal ini sebelumnya sudah saya sebar luaskan kepada petugas Referee melalui IT.
Yang saya kaget jawaban dari petugas Referee yang ditunjuk oleh PP Pelti ketika saya beritahukan bahwa PP Pelti tidak main main lagi karena tahun 2012 akan ditertibkan turnamen turnamen yang tidak jalankan ketentuan TDP tersebut. Jawaban yang diberikan kesannya sangat sulit dijalankan. Saya melihat hal ini merupakan kendala aturan bisa berjalan bukan datang dari pihak luar tetapi dari pihak petugas yang ditunjuk oleh PP Pelti sendiri. Ini yang harus diamankan. Langsung saya katakan kepadanya, jika tidak dijalankan maka yang akan ditindak petugas Refereenya. Dengan nada yang agak keras. Tetapi saya harus beri contoh kepada mereka cara memecahkan masalahnya.
Saya sudah siap dengan blanko Formulir Kartu Tanda Anggota Pelti dan juga nomor KTA Pelti sehingga saat itu juga yang belum punya KTA bisa diurus dan boleh ikut pertandingan. Ternyata saya bisa kumpulkan 50 peserta baru untuk buat KTA Pelti.
Padahal persyaratannya cukup ringan yaitu isi formulir KTA dan bawa fotocopy Akte Kelahiran dan pasfoto.
Kebetulan ada satu peserta yang mendaftarkan atau sign-in untuk petenis dari Purwokerto yang belum hadir tetapi sudah membayar. " Ini anaknya masih di Purwokerto Pa. Saya tidak bawa fotocopy Akte Kelahiran dan pasfotonya." ujarnya seolah olah minta kebijaksanaan saya agar bisa ikut serta. Tapi kalau seperti ini dibiarkan maka tidak akan tuntas permasalahannya. Langsung saya sampaikan saat ini bahwa tidak ada halangan masalah komunikasi. " Biarpun dia dari Papua bisa kirim dengan fax fotocopy akte tersebut dan pasfoto kirim dengan email, langsung sampai. Apa masalahnya lagi? Kalau tidak maka tidak bisa ikut walaupun sudah bayar entry fee."
Begitu juga ada yang katakan anaknya ada dhotel, maka sayapun suruh hara dilengkapi persyaratan peserta tersebut. Sayapun sampaikan kepada salah satu panitia masalah ini sudah merupakan keharusan penyelenggara menjalankan aturan yang sudah baku.
Saya sendiri datang dari jam 12.00 sampai jam 18.00 duduk membantu masalah KTA tersebut dan setelah itu kembali ke Jogjakarta karena besok pagi2 jam 06.10 sudah kembali ke Jakarta. Banyak juga rekan2 kaget cepat sekali kembali ke Jakarta. Ada yang bertanya, untuk apa saya datang." Untuk jalan jalan saja ke Magelang."
Sabtu, 07 Januari 2012
"Targetnya ikut seleksi atau prestasi "
Jakarta, 7 Januari 2012. Seringkali mendengar ketidak puasan orangtua atas keputusan Pelti dalam memilih atlet yang ikut seleksi nasional yunior. Dan biasanya yang suka ribut adalah orangtua yang anaknya di peringkat diatas 8 besar karena selama ini biasanya dipilih seleksi nasional 8 atau 10 atlet.
Baru baru ini ada atlet yang anaknya waktu itu di PNP bulan Nopember 2011 di peringkat 5 KU 14 tahun. Karena merasa aman maka turnamen selanjutnya ikut di KU 16 tahun. Dan hasilnya di KU 16 tahun kurang berhasil maka peringkat di KU 16 tahun tidak ada artinya. Dan lucunya sewaktu diumumkan peringkat Desember 2011 anak tersebut turun bukan di nomor 5 lagi.
"Kalau saya tahu saya mainkan dikelompok 14 tahun saja biar perinkatnya bisa bertahan." ujarnya. Alasannya waktu itu ikut dikelompok umur diatasnya adalah untuk prestasi.
Sayapun sering ditanya orangtua masalah seperti ini. Dan sayapun sering katakan jika kejar prestasi maka matangkan dulu dikelompok umurnya dulu. Jika belum pernah jadi juara jangan dulu naik kekelompok diatasnya.
Nah, kalau targetnya adalah ikut seleksi ditahun berikutnya maka orangtua atau seharusnya pelatih yang lakukan. Maka matangkan dulu dikelompok umurnya sampai jadi nomor satu, baru kedudukan aman. Untuk kejar prestasi bisa diselang seling ikut kelompok umurnya. Tergantung kategori turnamennya. Kalau sudah sanggup juara diturnamen yang kategorinya tinggi maka so pasti peringkatnya anak diatas sekali atau nomor satu Setelah itu baru ikuti kelompok umur diatasnya untuk turnamen yang kelasnya masih rendah. Tetapi yang saya sering dengar orangtua membanggakan kalau anaknya bisa sampai semifinal doang, bukannya seharusnya banggakan keluar sebagai juara. Itu baru juara sejati.
Sewaktu ada orangtua yang sampaikan masalah itu maka saya berkesimpulan kalau orangtua tersebut belum mempunyai strategi menghadapi targetnya sendiri. Tapi ada juga orangtua yang anaknya dipilih dikelompok umurnya menolak karena sudah menganggap bisa berprestasi dikelompok umur diatasnya, dan ini dibuktikan. Nah seperti ini yang kita cari.
Baru baru ini ada atlet yang anaknya waktu itu di PNP bulan Nopember 2011 di peringkat 5 KU 14 tahun. Karena merasa aman maka turnamen selanjutnya ikut di KU 16 tahun. Dan hasilnya di KU 16 tahun kurang berhasil maka peringkat di KU 16 tahun tidak ada artinya. Dan lucunya sewaktu diumumkan peringkat Desember 2011 anak tersebut turun bukan di nomor 5 lagi.
"Kalau saya tahu saya mainkan dikelompok 14 tahun saja biar perinkatnya bisa bertahan." ujarnya. Alasannya waktu itu ikut dikelompok umur diatasnya adalah untuk prestasi.
Sayapun sering ditanya orangtua masalah seperti ini. Dan sayapun sering katakan jika kejar prestasi maka matangkan dulu dikelompok umurnya dulu. Jika belum pernah jadi juara jangan dulu naik kekelompok diatasnya.
Nah, kalau targetnya adalah ikut seleksi ditahun berikutnya maka orangtua atau seharusnya pelatih yang lakukan. Maka matangkan dulu dikelompok umurnya sampai jadi nomor satu, baru kedudukan aman. Untuk kejar prestasi bisa diselang seling ikut kelompok umurnya. Tergantung kategori turnamennya. Kalau sudah sanggup juara diturnamen yang kategorinya tinggi maka so pasti peringkatnya anak diatas sekali atau nomor satu Setelah itu baru ikuti kelompok umur diatasnya untuk turnamen yang kelasnya masih rendah. Tetapi yang saya sering dengar orangtua membanggakan kalau anaknya bisa sampai semifinal doang, bukannya seharusnya banggakan keluar sebagai juara. Itu baru juara sejati.
Sewaktu ada orangtua yang sampaikan masalah itu maka saya berkesimpulan kalau orangtua tersebut belum mempunyai strategi menghadapi targetnya sendiri. Tapi ada juga orangtua yang anaknya dipilih dikelompok umurnya menolak karena sudah menganggap bisa berprestasi dikelompok umur diatasnya, dan ini dibuktikan. Nah seperti ini yang kita cari.
Langganan:
Postingan (Atom)