Bandung 4 Februari 2011. Sewaktu menyaksikan hari pertama Turnamen RemajaTenis di lapangan tenis Caringin, Bandung sempat ketemu orangtua petenis asal Garut yang kecewa tidak diterima ikut serta turnamen tersebut. Tetapi sebelumnya petugas pertandingan sempat dibuat pusing dengan keinginan mereka untuk ikuti turnamen.
Sayapun sempat menjelaskan kepada salah satu orangtua didampingi pelatihnya yang saya sudah kenal lama. Komunikasi selama ini baik untuk beritahukan masalah turnamen saya lakukan kepada pelatih tersebut.
Setelah dijelaskan orangtua petenis asal Garut mau menerimanya. Dan sayapun pergi sebentar meninggalkan lapangan tenis karena ada perlu mengambil paket yang dikirim dari Jakarta. Tetapi sebelumnya saya sempat menanyakan kepada Referee Eko Supriyatna masalah keempat petenis tersebut. Keputusannya adalah tidak bisa diterima ikut serta.
Disini yang jadi masalah si pelatih merasa sudah kirim pendaftaran melalui SMS dan dijawab okey.
Sewaktu saya diluar lapangan sempat ditilpon agar cepat kembali kelapangan karena kelihatannya mereka ini masih belum puas dengan keputusan tersebut.
Sayapun terpaksa tidak bisa santai lagi dan kembali secepatnya ke lapangan Caringin.
Saya minta agar orangtua yang tidak puas itu (ternyata ada satu yang belum puas) agar dikumpulkan agar saya tidak dua kali lagi menerangkan permasalahan tersebut.
Sayapun menjelaskan bahwa informasi turnamen dikirimkan kepada salah satu orangtua tersebut dan diapun menerimanya. Dalam informasi disebutkan kalau pendaftaran dikirim dengan fax atau email ke remajatenis@yahoo.com. Panitia menerima jawaban dari pelatih tersebut sehari setelah penutupan pendaftaran bahwa mau daftar 6 petenis dengan sebutkan nama nama dan kelompok umurnya. Tetapi nama nama yang dikirim hanya nama panggilan sehingga dikirimlah SMS sebagai jawaban agar di sebutkan nama lengkap. Ternyata dijawabnya nanti hari Minggu ( 30 Jan) sore dia ketemu atlet2 tersebut dan akan diberitahukan. Disini Panitia masih mentolerer kepada peserta dari Garut sebalum diundi. Hari Senin 31 Januari Panitia kirim SMS kepada pelatih tersebut minta kepastiannya. Karena sampai hari Selasa 1 Februari tidak ada jawabannya maka panitia langsung mengundi. Teryata hari Rabu 2 Februari saya terima telpon dari pelatih tersebut dan katakan akan kirim 4 petenis di KU 10 tahun. Sayapun katakan sudah tidak bisa lagi karena sudah diundi dan sudah diumumkan melalui remajatenis.blogspot.com Ternyata mereka datang juga dengan harapan bisa diterima. Kali ini kena batunya, karena tidak diterima apapun alasannya.
Ketegasan diperlukan didalam mendidik kepada masyarakat tenis tentang disiplin didalam pendaftaran yang selama ini sangat disepelekan oleh sebagian pelaku tenis.
Kali ini RemajaTenis membuat trobosan yang kurang simpatik karena pendaftaran diterima setelah entry fee sudah ditransfer. Tetapi masih saja ada yang minta pengecualian..
Jumat, 04 Februari 2011
Jumat, 28 Januari 2011
Tidak Mudah Merubah Kebiasaan Lama
Jakarta, 28 Januari 2011. Tidak mudah merubah suatu kebiasaan lama ke yang baru. Hal ini sering saya alami jika membuat suatu ketentuan yang berbeda selama ini. Kali ini saya mencoba dan sebenarnya sudah diterapkan pertama kali di RemajaTenis 4-7 Desember 2010 di Bandung. Pertimbangan saya selama ini adalah berdasarkan pengalaman selama ini dan yang terakhir saya alami paling parah yaitu RemajaTenis 6-8 Agustus 2010 di Kemayoran Jakarta. Yang daftar 220 peserta tetapi ternyata yang hadir hanya 180. Bisa dibayangkan waktu itu saya sediakan 240 pcs kaos sebagai sovenir peserta. Berarti saya masih simpan 60 pcs yang tidak bisa diberikan ke turnamen lainnya karena designnya khusus untuk tanggal tersebut. Disamping itu bagi perencanan jadi berantakan. Oleh karena itu karena RemajaTenis merupakan konsep penyelenggara turnamen nasional yang low cost. Bukan hanya penerbangan saja yang menawarkan low cost tetapi turnamenpun bisa kita lakukan karena yang lebih penting adalah turnamen itu kebutuhan atlet. Apakah hanya karena kesulitan sponsor sehingga tidak ada turnamen sama sekali ? Tentunya kita yang sudah berkecimpung dipertenisan tidak bisa menerima begitu saja keadaan seperti ini.
Diawal tahun 2011, saya sedang persiapkan RemajaTenis dikota Bandung tanggal 3-6 Februari 2011 sebagai pembuka tahun 2011 kemudian disusul di Ambarawa dan Jakarta ditanggal 12-15 Februari.
Untuk melancarkan maka dibuatlah ketentuan entry fee ditransfer ke rekening penyelenggara, sehingga sebelum turnamen sudah bisa dibuatkan drawnya maupun order of playnya. Tetapi seperti yang lalu muncullah permintaan datang dari rekan pelatih yang selama ini aktif mendaftarkan anak asuhnya. Maklumlah seperti kita ketahui salah satu kebiasaan dari pelatih ini aktif daftarkan atletnya diturnamen tanpa berkonsultasi ke orangtua atletnya. Akibatnya sering terjadi disaat turnamen orangtua atletnya ada acara lain sehingga putra atau putrinya tidak bisa ikut turnamen. Yang lebih parah, penyelenggara tidak diberitahu pembatalannya.
Inisiatip untuk entry fee ditransfer datangnya juga dari pelatih/orangtua atlet, tetapi kenyataannya justru yang minta agar dibayar ditempat pertandingan datangnya juga dari mereka ini. Ada juga yang lebih ekstrim sewaktu menyarankan cara melaksanakan pertandingan agar lebih apik, sudah dijalankan ternyata pelatih tersebut juga yang minta dispensasi karena tidak bisa ikuti aturan yang pernah dia sarankan. Ini namanya cuma bisa koreksi kerja orang lain.
Mentransfer entry fee ke rekening bank sebenarnya cara termudah, tetapi tidak mudah bagi yang enggan ke Bank atau berdomisili diluar kota yang jauh dari bank tertentu. Tetapi sebenarnya di era sekarang dengan bermodalkan telpon seluler sudah disediakan juga m-banking. Saya sendiri sedang belajar gunakan m-banking BCA untuk memudahkan melihar saldo rekening tetapi saat ini telpon seluler saya tidak ada M3 aksess sehingga masih menunggu telpon Nokia N-71 ini diperbaiki.
Tetapi namanya turnamen kelompok umur maka kita harus maklumi ini turnamen pengembangan saja atau turnamen pembelajaran bagi atlet tenis sendiri. Kita harus sabar saja didalam melaksanakannya.
Diawal tahun 2011, saya sedang persiapkan RemajaTenis dikota Bandung tanggal 3-6 Februari 2011 sebagai pembuka tahun 2011 kemudian disusul di Ambarawa dan Jakarta ditanggal 12-15 Februari.
Untuk melancarkan maka dibuatlah ketentuan entry fee ditransfer ke rekening penyelenggara, sehingga sebelum turnamen sudah bisa dibuatkan drawnya maupun order of playnya. Tetapi seperti yang lalu muncullah permintaan datang dari rekan pelatih yang selama ini aktif mendaftarkan anak asuhnya. Maklumlah seperti kita ketahui salah satu kebiasaan dari pelatih ini aktif daftarkan atletnya diturnamen tanpa berkonsultasi ke orangtua atletnya. Akibatnya sering terjadi disaat turnamen orangtua atletnya ada acara lain sehingga putra atau putrinya tidak bisa ikut turnamen. Yang lebih parah, penyelenggara tidak diberitahu pembatalannya.
Inisiatip untuk entry fee ditransfer datangnya juga dari pelatih/orangtua atlet, tetapi kenyataannya justru yang minta agar dibayar ditempat pertandingan datangnya juga dari mereka ini. Ada juga yang lebih ekstrim sewaktu menyarankan cara melaksanakan pertandingan agar lebih apik, sudah dijalankan ternyata pelatih tersebut juga yang minta dispensasi karena tidak bisa ikuti aturan yang pernah dia sarankan. Ini namanya cuma bisa koreksi kerja orang lain.
Mentransfer entry fee ke rekening bank sebenarnya cara termudah, tetapi tidak mudah bagi yang enggan ke Bank atau berdomisili diluar kota yang jauh dari bank tertentu. Tetapi sebenarnya di era sekarang dengan bermodalkan telpon seluler sudah disediakan juga m-banking. Saya sendiri sedang belajar gunakan m-banking BCA untuk memudahkan melihar saldo rekening tetapi saat ini telpon seluler saya tidak ada M3 aksess sehingga masih menunggu telpon Nokia N-71 ini diperbaiki.
Tetapi namanya turnamen kelompok umur maka kita harus maklumi ini turnamen pengembangan saja atau turnamen pembelajaran bagi atlet tenis sendiri. Kita harus sabar saja didalam melaksanakannya.
Kamis, 27 Januari 2011
Tanya aturan dan sangsi
Jakarta, 27 Januari 2011. Hari ini terima SMS dari salah satu rekan tenis di Jogjakarta. Mempertanyakan masalah aturan aturan di PP Pelti tentang domisili dan sangsi bagi yang pindah pindah tempat bisa ikuti beberapa event seperti PORPROV dalam setahun atau beberapa bulan berurutan.
Memang harus diakui sekali sering terjadi perpindahan atlet dari satu daerah kedaerah lainnya. Apakah ini disalahkan?
Perpindahan semu, begitulah sebenarnya. Kenapa ? Karena ternyata pindah kota hanya sesaat saja, sampai setelah selesai kegiatan membela daerah tertentu kemudian kembali lagi keasalnya. Begitulah setiap kali menjelang multi event seperti PORPROV, PON.
Karena saya paling sering menerima pertanyaan maka sayapun hanya bisa mengingatkan bahwa adanya aturan mutasi yang dikeluarkan oleh KONI Pusat.Tata cara mutasi cukup jelas dan bisa dimengerti walaupun banyak pelatih/orangtua yang membaca dengan kacamata sendiri dan berakibat keributan tersebut. Tetapi akibat yang saya terima saat itu adalah ada ketidak senangan terhadap diri saya dari rekan sendiri di Jakarta. Bahkan lebih sadis ditudingkan kalau saya menghasut daerah lain agar tidak melepas salah satu atletnya ke daerah lain sebagai tuan rumah multi event yang berambisi mengejar sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi juga.
Kalau saya ingat ingat di tahun 2010 paling banyak ada Pekan Olahraga Provinsi di Indonesia ini. Dan coba perhatikan peserta khusus tenis. Ada petenis yang ikuti satu PORPROV kemudian ikuti juga PORPROV berikutnya yang jangka waktunya kurang dari sebulan.
Saya bisa ikuti karena setiap ada masalah didalam PORPROV tersebut maka muncullah pertanyaan langsung kepada saya melalui telpon. Menurut pengamatan saya yang paling banyak lakukan hal ini adalah tuan rumah. Yang menghendaki sukses pelaksanaan dan juga sukses prestasi. Nah ini biangnya. Tapi semua itu sah sah saja. Karena tidak ada aturannya. Oleh karena itu PP Pelti sedang menerapkan KTA PELTI (Kartu Tanda Anggota PELTI). Tetapi walaupun ada KTA Pelti masalah ini tetap saja bisa dilanggar. Kenapa? Karena sebagai penyelenggara PORPROV itu bukan PELTI tetapi KONI. Dimana peranan Pelti disini. Ternyata disetiap multi event ini Pelti hanya bisa mengacu kepada Rules of Tennis dan Tournament Regulation (Ketentuan TDP) yang tidak mengatur masalah status persyaratan pemain kecuali batas umurnya saja. Biasanya KONI menerapkan persyaratan peserta adalah domisili (yang paling sering dilanggar karena begitu mudahnya mendapatkan KTP baru, apakah benar bisa mendapatkan KTP baru?)
Ada suatu kejutan di lakukan oleh salah satu Pelti didaerah, dimana salah satu anggota pengurusnya yang juga pelatihnya diminta mundur dari kepengurusan Pelti karena terlibat langsung dengan membantu tuan rumah membawa atlet dari Jawa Tengah tanpa ikuti prosedur yang benar. Dikatakan melanggar komitmen mereka sendiri di kepengurusan tersebut.
Saya secara pribadi cukup sedih mendengar begitu banyak petenis yunior yang ditawarkan kedaerah daerah untuk multi event tersebut. Alasannya, katanya butuh pertandingan , tetapi sebenarnya bukan itu karena turnamen yunior di Indonesia ada sekitar 30, artinya setiap bulan ada minimal 2-3 turnamen. Alasan sebenarnya menurut saya adalah DUIT. Seharusnya yang dikejar adalah JUARA. Baru bisa menghasilkan prestasi. Memang betul untuk mengejar PRESTASI dibutuhkan DUIT. Tetapi jangan lupa jika sudah dapat itu PRESTASI maka DUIT akan datang dengan sendirinya. Coba kita lihat petenis elit sekarang sudah berada diposisi selebriti. Bayangkan saja masih yunior dimanfaatkan oleh orangtua untuk cari duit. Itu juga tidak salah atau bisa dikatakan sah sah saja. Tetapi jangan harapkan bisa berprestasi mendunia. Karena masih yunior sianak sudah mengejar DUIT bukan JUARA. Akibatnya turnamen dikampung kampung istilah kerennya dikejar karena ada duitnya. Ya, so pasti bisa menang karena lawan lawannya petenis kampung juga akhirnya. Ya begitulah nasib petenis kita jadinya akibat terlalu cepat puas.
Memang harus diakui sekali sering terjadi perpindahan atlet dari satu daerah kedaerah lainnya. Apakah ini disalahkan?
Perpindahan semu, begitulah sebenarnya. Kenapa ? Karena ternyata pindah kota hanya sesaat saja, sampai setelah selesai kegiatan membela daerah tertentu kemudian kembali lagi keasalnya. Begitulah setiap kali menjelang multi event seperti PORPROV, PON.
Karena saya paling sering menerima pertanyaan maka sayapun hanya bisa mengingatkan bahwa adanya aturan mutasi yang dikeluarkan oleh KONI Pusat.Tata cara mutasi cukup jelas dan bisa dimengerti walaupun banyak pelatih/orangtua yang membaca dengan kacamata sendiri dan berakibat keributan tersebut. Tetapi akibat yang saya terima saat itu adalah ada ketidak senangan terhadap diri saya dari rekan sendiri di Jakarta. Bahkan lebih sadis ditudingkan kalau saya menghasut daerah lain agar tidak melepas salah satu atletnya ke daerah lain sebagai tuan rumah multi event yang berambisi mengejar sukses penyelenggaraan dan sukses prestasi juga.
Kalau saya ingat ingat di tahun 2010 paling banyak ada Pekan Olahraga Provinsi di Indonesia ini. Dan coba perhatikan peserta khusus tenis. Ada petenis yang ikuti satu PORPROV kemudian ikuti juga PORPROV berikutnya yang jangka waktunya kurang dari sebulan.
Saya bisa ikuti karena setiap ada masalah didalam PORPROV tersebut maka muncullah pertanyaan langsung kepada saya melalui telpon. Menurut pengamatan saya yang paling banyak lakukan hal ini adalah tuan rumah. Yang menghendaki sukses pelaksanaan dan juga sukses prestasi. Nah ini biangnya. Tapi semua itu sah sah saja. Karena tidak ada aturannya. Oleh karena itu PP Pelti sedang menerapkan KTA PELTI (Kartu Tanda Anggota PELTI). Tetapi walaupun ada KTA Pelti masalah ini tetap saja bisa dilanggar. Kenapa? Karena sebagai penyelenggara PORPROV itu bukan PELTI tetapi KONI. Dimana peranan Pelti disini. Ternyata disetiap multi event ini Pelti hanya bisa mengacu kepada Rules of Tennis dan Tournament Regulation (Ketentuan TDP) yang tidak mengatur masalah status persyaratan pemain kecuali batas umurnya saja. Biasanya KONI menerapkan persyaratan peserta adalah domisili (yang paling sering dilanggar karena begitu mudahnya mendapatkan KTP baru, apakah benar bisa mendapatkan KTP baru?)
Ada suatu kejutan di lakukan oleh salah satu Pelti didaerah, dimana salah satu anggota pengurusnya yang juga pelatihnya diminta mundur dari kepengurusan Pelti karena terlibat langsung dengan membantu tuan rumah membawa atlet dari Jawa Tengah tanpa ikuti prosedur yang benar. Dikatakan melanggar komitmen mereka sendiri di kepengurusan tersebut.
Saya secara pribadi cukup sedih mendengar begitu banyak petenis yunior yang ditawarkan kedaerah daerah untuk multi event tersebut. Alasannya, katanya butuh pertandingan , tetapi sebenarnya bukan itu karena turnamen yunior di Indonesia ada sekitar 30, artinya setiap bulan ada minimal 2-3 turnamen. Alasan sebenarnya menurut saya adalah DUIT. Seharusnya yang dikejar adalah JUARA. Baru bisa menghasilkan prestasi. Memang betul untuk mengejar PRESTASI dibutuhkan DUIT. Tetapi jangan lupa jika sudah dapat itu PRESTASI maka DUIT akan datang dengan sendirinya. Coba kita lihat petenis elit sekarang sudah berada diposisi selebriti. Bayangkan saja masih yunior dimanfaatkan oleh orangtua untuk cari duit. Itu juga tidak salah atau bisa dikatakan sah sah saja. Tetapi jangan harapkan bisa berprestasi mendunia. Karena masih yunior sianak sudah mengejar DUIT bukan JUARA. Akibatnya turnamen dikampung kampung istilah kerennya dikejar karena ada duitnya. Ya, so pasti bisa menang karena lawan lawannya petenis kampung juga akhirnya. Ya begitulah nasib petenis kita jadinya akibat terlalu cepat puas.
Rabu, 26 Januari 2011
Ingin adakan Seminar Kepelatihan
Jakarta, 26 Januari 2011. Saat ini sedang berlangsung penataran pelatih National ITF Level-1 Coaches Course yang saya jalankan sendiri. Dasar saya, karena melihat masih banyak tenaga pelatih dibutuhkan di pertenisan Indonesia. Terbukti tahun 2011 saat saya edarkan informasi melalui SMS keseluruh Indonesia mulai dari Aceh sampai Papua/Papua Barat ternyata masih banyak permintaan yang tidak bisa saya layani karena keterbatasan tempat. Kalau tidak salah sudah banyak dilakukan penataran seperti ini dilakukan oleh Pelti didaerah daerah. Tetapi kelanjutannya tidak ada yang mengevaluasinya. Apakah mereka yang sudah lulus dan menyandang sertifikat ITF Level-1 sudah menerapkan ilmunya yang didapat dan apakah mereka ini mempunyai murid tenis. Ini pertanyaan perlu dikaji ulang sedalam mungkin. Menurut pendapat saya ada kemungkinan masih banyak yang belum menerapkan ilmu yang didapat. Disamping itu menurut saya yang perlu mendapatkan perhatian adalah bagaimana peningkatan populasi petenis di Indonesia. Apakah bertambah atau berjalan seperti biasanya. Ini salah satu tugas kita bersama untuk menarik perhatian masyarakat agar bermain tenis. ITF (International Tennis Federattion) sendiri menyadari ada kecenderungan menurun minat terhadap tenis.
Oleh karena itu diperkenalkan bukan lagi MINI TENIS tetapi Play & Stay in Tennis. Untuk itu saya kira semua pelatih perlu mendalami program ini yang sangat penting. Disini untuk menarik perhatian adalah bagaiman menarik minat masyarakat untuk bermain tenis. Coba kita lihat lapangan tenis di Jakarta. Mulai di Senayan, beberapa puluh tahun silam jika masuk ke lapangan gravel Senayan, kegiatan tenis masih berlangsung sampai pukul 11.00. Tetapi sekarang terlihat hampir kosong. Kenapa ?
Menyadari hal ini terpikir saya untuk lakukan semacam seminar kepelatihan. Hal ini tereungkap setelah saya bertemu hari ini dengan salah satu pelatih dari Bengkulu yang bertemu di Senayan disela sela kegiatan ITF Level-1 ini. Namanya Didi Buchary dari Bengkulu. Didi menyampaikan keinginan reuni dengan teman teman Level-1 coaches.
Sayapun menyambut keinginan tersebut. Saya mulai membuat salah satu program dan mencari waktu yang tepat dan mulai menghitung beaya yang akan keluar.
Bagaimana membuat seminar ini menjadi menarik? Tentunya harus dipikirkan adalah pembicara yang akan diundang. Tetapi yang penting adalah menentukan dulu goalsnya dulu. Setelah itu mengemasnya sedemikian rupa agar menarik dan bisa membantu atau menambah pengetahuan kepelatihannya.
Materi seminarpun harus mulai dipikirkan, salah satu adalah memperkenalkan ITF Play & Stay in Tennis.
Oleh karena itu diperkenalkan bukan lagi MINI TENIS tetapi Play & Stay in Tennis. Untuk itu saya kira semua pelatih perlu mendalami program ini yang sangat penting. Disini untuk menarik perhatian adalah bagaiman menarik minat masyarakat untuk bermain tenis. Coba kita lihat lapangan tenis di Jakarta. Mulai di Senayan, beberapa puluh tahun silam jika masuk ke lapangan gravel Senayan, kegiatan tenis masih berlangsung sampai pukul 11.00. Tetapi sekarang terlihat hampir kosong. Kenapa ?
Menyadari hal ini terpikir saya untuk lakukan semacam seminar kepelatihan. Hal ini tereungkap setelah saya bertemu hari ini dengan salah satu pelatih dari Bengkulu yang bertemu di Senayan disela sela kegiatan ITF Level-1 ini. Namanya Didi Buchary dari Bengkulu. Didi menyampaikan keinginan reuni dengan teman teman Level-1 coaches.
Sayapun menyambut keinginan tersebut. Saya mulai membuat salah satu program dan mencari waktu yang tepat dan mulai menghitung beaya yang akan keluar.
Bagaimana membuat seminar ini menjadi menarik? Tentunya harus dipikirkan adalah pembicara yang akan diundang. Tetapi yang penting adalah menentukan dulu goalsnya dulu. Setelah itu mengemasnya sedemikian rupa agar menarik dan bisa membantu atau menambah pengetahuan kepelatihannya.
Materi seminarpun harus mulai dipikirkan, salah satu adalah memperkenalkan ITF Play & Stay in Tennis.
Jumat, 21 Januari 2011
RemajaTenis Diminta didaerah daerah
Jakarta, 21 Januari 2011. Setelah mereda keseganan saya terhadap pelaksanaan turnamen RemajaTenis diawal tahun dimana sempat saya batalkan walaupun sudah diumumkan untuk RemajaTenis tanggal 3-6 Februari 2011 di Bandung, maka kembali keinginan tersebut muncul agar RemajaTenis bisa berkembang diseluruh Indonesia
Ini sisebabkan setelah saya menerima beberapa pendaftaran yang sudah terlanjur ditransfer maka hati sayapun mulai luluh dan kembali berniat selenggarakan RemajaTenis di Bandung.
Kemudian sayapun mendapatkan penawaran dari masyarakat tenis agar bisa diselenggarakan turnamen RemajaTenis di Jakarta, kemudian dari Jawa Tengah ada permintaan di Tegal, Ambarawa. Tetapi yang saya tidak duga datang permintaan melalui SMS kepada saya agar dibikin juga di kota Blora Jawa Tengah.
Waduh, sayapun harus mencari waktu yang tepat untuk selenggarakan turnamen RemajaTenis sesuai dengan keinginan kota kota tersebut. Tetapi sebelumnya sayapun mendapatkan SMS dari kota Palu yang menyatakan akan diselenggarakan kembali RemajaTenis di Palu. Datang pula telpon dari Banjarmasin. Nah kalau sudah begini repot juga mencari waktu yang tepat karena konsep RemajaTenis ini adalah agar meminimalkan jumlah bolos sekolah bagi petenis yang masih berstatus pelajar.
Tetapi dsamping itu pula saya sempat berkomunikasi dengan rekan saya di Filipina. Maksud saya menyatakan kesediaan sebagai host turnamen SOFT TENNIS di Indonesia yang sedang direncanakan oleh South East Asia Soft Tennis Federation. Saya katakan saya berminat selenggarakan tingkat Asia agar lebih ramai. Ternyata disetujui mereka. Nah sayapun mau mencoba kembali karena kalau tidak salah saya pernah ikut sebagai penyelenggara turnamen internasional Soft Tennis di Senayan. ,
Ini sisebabkan setelah saya menerima beberapa pendaftaran yang sudah terlanjur ditransfer maka hati sayapun mulai luluh dan kembali berniat selenggarakan RemajaTenis di Bandung.
Kemudian sayapun mendapatkan penawaran dari masyarakat tenis agar bisa diselenggarakan turnamen RemajaTenis di Jakarta, kemudian dari Jawa Tengah ada permintaan di Tegal, Ambarawa. Tetapi yang saya tidak duga datang permintaan melalui SMS kepada saya agar dibikin juga di kota Blora Jawa Tengah.
Waduh, sayapun harus mencari waktu yang tepat untuk selenggarakan turnamen RemajaTenis sesuai dengan keinginan kota kota tersebut. Tetapi sebelumnya sayapun mendapatkan SMS dari kota Palu yang menyatakan akan diselenggarakan kembali RemajaTenis di Palu. Datang pula telpon dari Banjarmasin. Nah kalau sudah begini repot juga mencari waktu yang tepat karena konsep RemajaTenis ini adalah agar meminimalkan jumlah bolos sekolah bagi petenis yang masih berstatus pelajar.
Tetapi dsamping itu pula saya sempat berkomunikasi dengan rekan saya di Filipina. Maksud saya menyatakan kesediaan sebagai host turnamen SOFT TENNIS di Indonesia yang sedang direncanakan oleh South East Asia Soft Tennis Federation. Saya katakan saya berminat selenggarakan tingkat Asia agar lebih ramai. Ternyata disetujui mereka. Nah sayapun mau mencoba kembali karena kalau tidak salah saya pernah ikut sebagai penyelenggara turnamen internasional Soft Tennis di Senayan. ,
Selenggarakan Penataran Pelatih Tenis
Jakarta, 21 Januari 2011. Sebelum akhir tahun saya melihat adanya kebutuhan peningkatan kualitas pelatih dirasakan oleh masyarakat tenis Indonesia.Maka sayapun mencoba untuk kembali selenggarakan penataran pelatih atau dikenal dengan National ITF Level-1 Coaches Course. Maka sayapun mencari waktu yang tepat dengan menghubungi Tutor yang biasa digunakan PP Pelti. Setelah mendapatkan waktu yang tepat maka sayapun segera menghitung beaya beaya keseluruhannya. Untuk itu saya pun langsung kirim SMS keseluruh Indonesia disamping kirim surat ke Pengprov Pelti seluruh Indonesia. Karena saya tahu masih banyak kekuranagan di tempat Pelti Provinsi maka saya langsung kirimkan SMS maupun pengumuman melalui Jaringan sosial yang dikenal dengan facebook sebagai sarana promosi.
Kebetulan telpon seluler saya ada sekitar 2.600 alamat maka dengan SMS yang berulang ulang saya kirimkan kepada pelatih maupun orangtua petenis dari Sabang sampai Merauke. Info melalui sms lebih ampuh dan langsung saya terima pendaftarannya. Tapi agak berbeda cara pendaftaran karena saya mencoba dengan cara baru yaitu siapa yang daftar dengan transfer uang pendaftarannya memalui Bank baru dianggap sudah diterima pendaftarannya. Kenapa demikian, karena sudah jadi kebiasaan asal mendaftar tapi belum ada uangnya sehingga akan menutup kesempatan yang benar benar mau ikut tapi sudah tertutup karena kuota pesertanya terbatas. Sering terjadi asal daftar tapi no show dihari H nya.
Sebelum waktu pendaftaran ( 15 Januari) ditutup saya sudah menerima pendaftaran yang sudah melunasi , maka saya umumkan pendaftaran ditutup. Akibatnya ada sekitar 10 calon peserta yang terlambat saya tolak, Bahkan tadi pagipun ada permintaan dari salah satu klub di Sumatra yang memohon agar ada kebijaksanaan karena alasannya baru terima pemberitahuan. Padahal saya sudah kirim SMS kepada Pelti setempat yang juga satu naungan dengan kantor Pelti setempat.
Pengalaman pertama saya selenggarakan penataran pelatih National ITF Level-1 coaches course ditahun 2009 di Jakarta dan tahun 2010 dan termasuk sukses karena pesertanya cukup banyak 30 orang. Dan ini yang ketiga kalinya.
Kebetulan telpon seluler saya ada sekitar 2.600 alamat maka dengan SMS yang berulang ulang saya kirimkan kepada pelatih maupun orangtua petenis dari Sabang sampai Merauke. Info melalui sms lebih ampuh dan langsung saya terima pendaftarannya. Tapi agak berbeda cara pendaftaran karena saya mencoba dengan cara baru yaitu siapa yang daftar dengan transfer uang pendaftarannya memalui Bank baru dianggap sudah diterima pendaftarannya. Kenapa demikian, karena sudah jadi kebiasaan asal mendaftar tapi belum ada uangnya sehingga akan menutup kesempatan yang benar benar mau ikut tapi sudah tertutup karena kuota pesertanya terbatas. Sering terjadi asal daftar tapi no show dihari H nya.
Sebelum waktu pendaftaran ( 15 Januari) ditutup saya sudah menerima pendaftaran yang sudah melunasi , maka saya umumkan pendaftaran ditutup. Akibatnya ada sekitar 10 calon peserta yang terlambat saya tolak, Bahkan tadi pagipun ada permintaan dari salah satu klub di Sumatra yang memohon agar ada kebijaksanaan karena alasannya baru terima pemberitahuan. Padahal saya sudah kirim SMS kepada Pelti setempat yang juga satu naungan dengan kantor Pelti setempat.
Pengalaman pertama saya selenggarakan penataran pelatih National ITF Level-1 coaches course ditahun 2009 di Jakarta dan tahun 2010 dan termasuk sukses karena pesertanya cukup banyak 30 orang. Dan ini yang ketiga kalinya.
Prima Pratama Yang Belum Dikenal
Jakarta, 21 Januari 2011. Tak kenal maka tak disayang. Itulah yang perlu diketahui. Karena secara diam diam salah satu program Pemerintah untuk mencapai sasarannya adalah Youth Olympic Games 2014 maka disiapkan atlet atlet yunior.
Maka dipilihlah 15 petenis yang berasal dari Padang,Banjarmasin, Bandung, Depok, Jakarta, Pati, DIY, Kudus dll. Disamping itu dipilih pula 3 pelatih dengan 1 pelatih kepala.
Muncullah banyak pertanyaan setelah keluar berita masalah nama nama atlet di www.remajatenis.blogspot.com. Pertanyaan baik melalui sms ataupun email dll. Tidak heran yang dipertanyakan adalah alasan putra atau putrinya tidak terpilih padahal dari materi petenis yang diterima itu masih kalah dibandingkan putra dan putrinya. Begitu juga pertanyaan lainnya adalah kenapa pelatih yang dipilih itu adalah Meiske Wiguna (Bandung), Poernomo (Tegal) dan Roy Morison (DKI).
Sewaktu pertanyaan itu datang kepada saya yang sebenarnya tahu adanya program tersebut, maka sayapun berpura pura tidak mengetahuinya. Agar selesai sudah yang bertanya tidak berkelanjutan dan juga pertanyaan ini muncul disaat yang tidak tepat atau nyaman bagi saya untuk menjawab. Kemudian saya dengar ada juga yang langsung bertanya kepada rekan rekan lainnya dikepengurusan PP Pelti yang tidak menguasai permasalahannya. Kenapa tidak menguasai karena saat dibicarakan dalam raoat PP Pelti yang bersangkutan tidak hadir. Entah apa pertanyaannya dan jawabannya saya tidak ketahui.
Untuk itu sayapun menyampaikan agar masyarakat tenis kalau ingin bertanya sebaiknya langsung saja kepada bidang yang berkompeten. Agar tidak mendapatkan informasi yang salah. Saya dulu sering dengar keluhan dari masyarakat tenis tentang masalah telah berhubungan dengan PP Pelti tetapi tidak tahu siapa orang yang dihubunginya karena melalui telpon. Saya sendiri pernah melihat dan mendengar adanya tamu dari luar masuk ke kantor PP Pelti bertanya tentang pertandingan. Kebetulan dikantor Pelti juga ada tamu lainnya yang sedang bermain yag sering berkecimpung di turnamen tenis.Langsung saja yang bersangkutan menyambut kedatangan tamu dengan memberikan jawaban jawaban terhadap pertandingan tersebut. Saat itu saya melihat hal itu terjadi maka sayapun memanggil tamu yang baru masuk untuk masuk kedalam kantor dan sampaikan kalau mereka itu bukan petugas PP Pelti tetapi tahu masalah turnamen. Langsung saya perkenalkan siapa siapa saja yang berkompeten untuk melayani tamu tersebut.
Kenapa hal ini perlu diketahui masayarakat tenis, sebagai contoh di turnamen tenis. Banyak yang menganggaop sudah minta ijin kepada petugas pertandingan tetapi bukan Referee. Padahal yang berhak memberikan ijin adalah petugas Referee.
Maka dipilihlah 15 petenis yang berasal dari Padang,Banjarmasin, Bandung, Depok, Jakarta, Pati, DIY, Kudus dll. Disamping itu dipilih pula 3 pelatih dengan 1 pelatih kepala.
Muncullah banyak pertanyaan setelah keluar berita masalah nama nama atlet di www.remajatenis.blogspot.com. Pertanyaan baik melalui sms ataupun email dll. Tidak heran yang dipertanyakan adalah alasan putra atau putrinya tidak terpilih padahal dari materi petenis yang diterima itu masih kalah dibandingkan putra dan putrinya. Begitu juga pertanyaan lainnya adalah kenapa pelatih yang dipilih itu adalah Meiske Wiguna (Bandung), Poernomo (Tegal) dan Roy Morison (DKI).
Sewaktu pertanyaan itu datang kepada saya yang sebenarnya tahu adanya program tersebut, maka sayapun berpura pura tidak mengetahuinya. Agar selesai sudah yang bertanya tidak berkelanjutan dan juga pertanyaan ini muncul disaat yang tidak tepat atau nyaman bagi saya untuk menjawab. Kemudian saya dengar ada juga yang langsung bertanya kepada rekan rekan lainnya dikepengurusan PP Pelti yang tidak menguasai permasalahannya. Kenapa tidak menguasai karena saat dibicarakan dalam raoat PP Pelti yang bersangkutan tidak hadir. Entah apa pertanyaannya dan jawabannya saya tidak ketahui.
Untuk itu sayapun menyampaikan agar masyarakat tenis kalau ingin bertanya sebaiknya langsung saja kepada bidang yang berkompeten. Agar tidak mendapatkan informasi yang salah. Saya dulu sering dengar keluhan dari masyarakat tenis tentang masalah telah berhubungan dengan PP Pelti tetapi tidak tahu siapa orang yang dihubunginya karena melalui telpon. Saya sendiri pernah melihat dan mendengar adanya tamu dari luar masuk ke kantor PP Pelti bertanya tentang pertandingan. Kebetulan dikantor Pelti juga ada tamu lainnya yang sedang bermain yag sering berkecimpung di turnamen tenis.Langsung saja yang bersangkutan menyambut kedatangan tamu dengan memberikan jawaban jawaban terhadap pertandingan tersebut. Saat itu saya melihat hal itu terjadi maka sayapun memanggil tamu yang baru masuk untuk masuk kedalam kantor dan sampaikan kalau mereka itu bukan petugas PP Pelti tetapi tahu masalah turnamen. Langsung saya perkenalkan siapa siapa saja yang berkompeten untuk melayani tamu tersebut.
Kenapa hal ini perlu diketahui masayarakat tenis, sebagai contoh di turnamen tenis. Banyak yang menganggaop sudah minta ijin kepada petugas pertandingan tetapi bukan Referee. Padahal yang berhak memberikan ijin adalah petugas Referee.
Selasa, 18 Januari 2011
Bayar Tapi belum sign-in masih terjadi juga
Jakarta, 18 Januari 2011. Hari ini terima telpon dari rekan tenis di Tegal, yang ingin memberikan masukan dan saling tukar pikiran masalah pertenisan kita ini. Ini sih hal yang biasa bagi saya untuk menampung semua keluhan keluhan tersebut. Tetapi kalau sudah menyangkut kejadian kejadian di suatu turnamen, saya sendiri sedang mencari solusi agar kegiatan turnamen itu bisa berjalan lancar. Yang sering terjadi adalah masalah dihari pertama dimana dilakukan undian pertandingan tersebut.
Informasi yang saya terima karena ada kejadian di salah satu turnamen nasional diawal tahun 2011 di Jawa Tengah. Disampaikan ada 2 petenis yang sudah membayar uang pendaftaran tetapi lupa sign-in sehingga gagal ikut turnamen. Tetapi kemudian diakhir Desember 2010 saya juga terima SMS dari salah satu pelatih di Jakarta memberikan laporan kalau anaknya sudah membayar uang pendaftaran tapi tidak sign-in (mungkin lupa) sehingga gagal bertanding. Harus disadari Referee baru akan lakukan undian jika sudah selesai sign-in peserta.
Ini berarti saya mendapatkan 3 masukan dari kota yang berbeda.Beberapa tahun silam di Bandung waktu itu tahun 2008 ada turnamen internasional. Ada 2-4 petenis asing yang sudah bayar tapi belum sign-in sehingga gagal ikut bertanding. Ketahuannya hari berikutnya setelah pertandingan sudah berjalan.
Terlepas dari kejadian tersebut saya mencoba menganalisa dan menelaah kejadian tersebut dengan memikirkan cara terbaik didalam pelaksanaannya. Mulai dari pelaksana pertandingan baik itu Referee maupun Tournament Committeenya. Perlu kesadaran dari masing masing pihak akan kerjasamanya. Memang kita ketahui ada kewajiban setiap petenis sudah harus sign-in sebelum diundi. Apapun alasannya kalau tidak sign-in maka tidak bisa bertanding ini prinsip dasarnya.
Saya melihat bagaimana kerja dari Referee asing dalam menjalankan tugasnya....TELITI merupakan keharusan. Pertama meja duduk Referee dengan petugas penerima entry fee sudah harus berdampingan. Cara pertama pemain lapor Referee untuk sign-in dan pemain langsung tanda tangan kemudian oleh Referee diminta agar melunasinya. Mungkin agak repot kalau jumlah eventnya cukup banyak ( KU 10 th, 12 th, 14 th,16 th dan 18 th). Andaikan satu event lebih mudah.
Cara kedua adalah pemain kemeja penerima uang pendaftaran dan setelah itu langsung ke meja Referee untuk sign-in.
Dari kedua belah pihak baik itu Referee maupun petugas penerima pembayaran harus ada kerjasama , setelah selesai sign-in sesuai waktu yang ditentukan, maka kedua pihak ini saling check and re-check sehingga bisa diketahui apakah ada yang masih lolos atau tidak. Kira kira begitulah. Sewaktu di Bandung itu sebenarnya petugas penerima pembayaran sudah meminta kepada Referee agar dilihat nama nama yang sudah sign-in tapi ditolak oleh Referee. Saya tidak tahu kenapa demikian sikap Referee.
Ya, saya akui tidak mudah selenggarakan turnamen yunior karena banyak eventnya. Suatu saat akan terjadi atlet akan memilih milih turnamen yang waktunya bersamaan. Jadi yang diperhatikan adalah kualitas turnamennya dalam memberikan pelayanan kepada peserta. Tapi saat ini jika dalam waktu yang sama ada 2 turnamen yang berbeda provinsi saja maka turnamen yang sudah lebih lama akan protes karena tidak ingin turnamennya disamakan waktunya dengan turnamen lain, karena so pasti jumlah pesertanya akan berkurang. Ini masalah lain lagi.
Nah, jika kita ingin memperbaiki kualitas pelaksanaannya maka sudah harus belajar memperbaikinya. Kecuali sudah tidak minat memperbaikinya, itu lain ceritanya.
Informasi yang saya terima karena ada kejadian di salah satu turnamen nasional diawal tahun 2011 di Jawa Tengah. Disampaikan ada 2 petenis yang sudah membayar uang pendaftaran tetapi lupa sign-in sehingga gagal ikut turnamen. Tetapi kemudian diakhir Desember 2010 saya juga terima SMS dari salah satu pelatih di Jakarta memberikan laporan kalau anaknya sudah membayar uang pendaftaran tapi tidak sign-in (mungkin lupa) sehingga gagal bertanding. Harus disadari Referee baru akan lakukan undian jika sudah selesai sign-in peserta.
Ini berarti saya mendapatkan 3 masukan dari kota yang berbeda.Beberapa tahun silam di Bandung waktu itu tahun 2008 ada turnamen internasional. Ada 2-4 petenis asing yang sudah bayar tapi belum sign-in sehingga gagal ikut bertanding. Ketahuannya hari berikutnya setelah pertandingan sudah berjalan.
Terlepas dari kejadian tersebut saya mencoba menganalisa dan menelaah kejadian tersebut dengan memikirkan cara terbaik didalam pelaksanaannya. Mulai dari pelaksana pertandingan baik itu Referee maupun Tournament Committeenya. Perlu kesadaran dari masing masing pihak akan kerjasamanya. Memang kita ketahui ada kewajiban setiap petenis sudah harus sign-in sebelum diundi. Apapun alasannya kalau tidak sign-in maka tidak bisa bertanding ini prinsip dasarnya.
Saya melihat bagaimana kerja dari Referee asing dalam menjalankan tugasnya....TELITI merupakan keharusan. Pertama meja duduk Referee dengan petugas penerima entry fee sudah harus berdampingan. Cara pertama pemain lapor Referee untuk sign-in dan pemain langsung tanda tangan kemudian oleh Referee diminta agar melunasinya. Mungkin agak repot kalau jumlah eventnya cukup banyak ( KU 10 th, 12 th, 14 th,16 th dan 18 th). Andaikan satu event lebih mudah.
Cara kedua adalah pemain kemeja penerima uang pendaftaran dan setelah itu langsung ke meja Referee untuk sign-in.
Dari kedua belah pihak baik itu Referee maupun petugas penerima pembayaran harus ada kerjasama , setelah selesai sign-in sesuai waktu yang ditentukan, maka kedua pihak ini saling check and re-check sehingga bisa diketahui apakah ada yang masih lolos atau tidak. Kira kira begitulah. Sewaktu di Bandung itu sebenarnya petugas penerima pembayaran sudah meminta kepada Referee agar dilihat nama nama yang sudah sign-in tapi ditolak oleh Referee. Saya tidak tahu kenapa demikian sikap Referee.
Ya, saya akui tidak mudah selenggarakan turnamen yunior karena banyak eventnya. Suatu saat akan terjadi atlet akan memilih milih turnamen yang waktunya bersamaan. Jadi yang diperhatikan adalah kualitas turnamennya dalam memberikan pelayanan kepada peserta. Tapi saat ini jika dalam waktu yang sama ada 2 turnamen yang berbeda provinsi saja maka turnamen yang sudah lebih lama akan protes karena tidak ingin turnamennya disamakan waktunya dengan turnamen lain, karena so pasti jumlah pesertanya akan berkurang. Ini masalah lain lagi.
Nah, jika kita ingin memperbaiki kualitas pelaksanaannya maka sudah harus belajar memperbaikinya. Kecuali sudah tidak minat memperbaikinya, itu lain ceritanya.
Langganan:
Postingan (Atom)