Rabu, 11 November 2009

Jadi turis di Bali


Jakarta,11 Nopember 2009. Hari ini dimanfaatkan dengan bermain tenis di lapangan gravel Gelora Bung Karno. Tiba agak terlambat karena macet diperjalanan dari rumah ke Senayan , habis 1,5 jam perlananan.

"Fer, you jadi turis ya di Bali." ujar Soebronto Laras setiba didalam lapangan. Begitulah guyonan Soebronto Laras kepada saya hari ini. Memang kali ini kedatangan saya ke Nusa Dua merupakan tamu istimewa Commonwealth Bank Tourament of Champions 2009. Banyak keistimewaan yang diberikan kepada saya selama di Nusa Dua. Mulai dari akomodasi di Westin Resort Nusa Dua selama 3 malam. Begitu juga diberikan tiket VVIP disamping itu juga terima undangan Gala Dinner di Grand Hyatt oleh penyelenggara. Undangan langsung diberikan oleh Annie George Livesey istri dari Direktur Turnamen Kevin Livesey.
Rekan rekan dari PP Pelti yang tidak tahu permasalahannya akan kaget juga. Hadir rekan rekan Johannes Susanto, Kent Widhyasetiabudi, Danny Walla, Slamet Utomo, Christian Budiman, Hudani Fajri dari jajara PP Pelti begitu juga rekan rekan mantan pengurus seperti Enggal Karjono, Irma, Betty M.
Martina Widjaja sendiri mengakui kalau saya harus dapat undangan khusus, karena saya sudah membantu menyelesaikan kesulitan penyelenggara.
Kebetulan Ketua Umum dan Sekjen PP Pelti absen kali ini tidak hadir selama pertandingan. Sehingga saya sendiri sempat guyon dengan rekan rekan lainnya kalau Ketua Umum dan Sekjen berhalangan hadir maka saya mewakilinya. Padahal ini hanya bercanda. Walaupun keduanya hadir maka sayapun tetap akan mendapatkan undangan khusus.
Bertemu dengan CEO Sony Ericsson WTA Tour Stacey Allaster diacara Gala Dinner, begitu juga teman teman lama dari Malaysia Ms Nora , Annie George Livesey, maupun dari Indonesia sendiri.
Saya sendiri sempat bercanda dengan Annie George Livesey yang juga istri dari Kevin Livesey. "Baru kali ini saya perintah ke Kevin, segera ke Singapore malam ini." ujar saya kepadanya. Diapun mendengar itupun ikut tertawa, karena kalau tidak segera ke Singapore maka permasalahan yang dihadapinya akan lebih lambat.

Hanya satu keluhan datang dari istri saya yang ikut hadir di Nusa Dua, yaitu "datang kesini mau nonton atau mau ngobrol2." karena saya lebih senang keluar dari tribun untuk ketemu teman teman diluar daripada duduk nonton. Hanya pertandingan yang menarik saya mau nonton seperti pertandingan Marion Bartoli vs Shahar Peer dihari Jumat sore, kemudian Kimiko Date v Marion Bartoli dan final hari terakhir.

Ada kesibukan lainnya setelah mendengar kalau Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng mau hadir. Info datang dari Tanri Abeng yang juga hadir di Westin Resort bersama Nyoman W, Direktur Komersial TELKOM , Yudi Achmadi bersama Jimmy Sutjiawan salah satu rekanan Telkom didampingi petenis Husni Madjid. Persiapan tempat duduknya di VIP, sehingga belum sempat jalan jalan keluar Nusa Dua dihari Jumat maupun Sabtu. Tetapi akhirnya berita tidak bisa hadir, hanya Tanri Abeng, Nyoman, Yudi Achmadi ditambah salah satu Ketua DPP Partai Demokrat Dr Djaffar bersama istri , sayapun diminta tolong untuk diberikan tempat duduk di VIP. Semuanya itu sudah saya jalankan dengan baik.

Selasa, 10 November 2009

Cari Uang atau Prestasi


Jakarta,10 Nopember 2009. " Mau cari uang atau prestasi." ini pertanyaan muncul melihat gejala gejala petenis yunior mulai melirik ke turnamen nasional kelompok umum. Ini sah sah saja, menurut saya. Siapa saja berhak mau ikut turnamen kelompok umum yang menyediakan hadiah uang, asal usia sudah mencapai 14 tahun.
Oleh induk organisasi telah disiapkan sarana untuk peningkatan prestasi atlet dalam bentuk turnamen. Turnamen nasional maupun turnamen internasional. Disediakan turnamen internasional dengan tujuan agar atlet nasional bisa mengikutinya. Karena keterbatasan dana sehingga ada ketidak mampuan atlet untuk menikmati turnamen internasional di luar Indonesia. Sehingga keberadaan turnamen internasional di Tanah Air, tentunya diharapkan bisa diikuti oleh petenis nasional. Momen ini wajib dimanfaatkan.
Tetapi ada dua kejadian di tahun 2009 ini, saya mencatat dua kejadian dengan pelaku penyelenggara yang sama.
Dibulan Juni 2009 ada turnamen internasional Thamrin Cup dan Piala Kapolri yang waktu pelaksanaannya bersamaan. Dua turnamen yang satu yunior dan satu lagi kelompok umum yang menyediakan prize money yang menggiurkan. Penyelenggara tetap ngotot mempertahankan waktunya tidak mau diubah. Entah alasan apa yang digunakan oleh penyelenggara. Akibatnya banyak petenis yunior yang sudah terdaftar di Thamrin Cup melirik keberadaan Piala Kapolri, dengan mengabaikan aturan aturan internasional sehingga khususnya petenis putri ada yang membatalkan diri keikut sertaannya di Thamrin Cup. Akibatnya TDP Piala Kapolri khususnya putri tidak diakui oleh PP Pelti. Saya sendiri mendapatkan cemohan dari rekan Dali Safari sewaktu bertemu di rapat KONI Pusat. Kesannya Pelti tidak membantu mereka. Ada sponsor yang mau selenggarakan salah satu program PP Pelti kenapa tidak didukungnya.
Dimana letak kesalahannya, karena Piala Thamrin sudah terjadwal jauh jauh hari sedangkan Piala Kapolri sebagai TDP baru. Saya sendiri sewaktu memberikan Formulir Pendaftaran TDP kepada salah satu anggota Panpel Daryadi, sudah menyampaikan sebaiknya diundur karena ada TDP Thamrin Cup. Tanggapan yang diberikan adalah satu turnamen yunior dan satu lagi turnamen senior.
Kejadian ini terulang lagi dibulan Nopember ini. Karena ada turnamen internasional yunior pengganti Solo Open di Jakarta bertepatan waktunya dengan Piala Manggabarani yang menyediakan prize money Rp. 150 juta di Jakarta.

Saya mendapatkan laporan beberapa petenis yunior yang terdaftar di turnamen internasional yunior ikut juga mendaftar di Piala Manggabarani. Secara sepintas bukan masalah. Yang jadi masalah jika unggulan di internasional membatalkan diri mau ikuti turnamen kelompok umum . Ada aturan pembatalan sehingga otomatis akan kena penalti. Disamping itu pula, maksud ikuti turnamen internasional yunior adalah meningkatkan peringkat dunianya bisa tidak tercapai.

Dalam membina atlet tentunya semua itu harus berjenjang. Awalnya harus dari bawah, tanpa peringkat , berlomba lomba mengejar peringkat lebih tinggi. Bahkan seharusnya mengejar peringkat dunia lebih diutamakan. Jikalau peringkat dunia masih dibawah standar sebaiknya lebih utama ikuti turnamen yunior internasional. Kalau berlomba diturnamen kelompok umum, tentunya yang dikejar adalah prize moneynya. Disayangkan sekali ada turnamen internasional yang didambakan disepelekan karena ada aturan yang menyatakan tidak diperkenankan ikuti 2 turnamen dalam minggu yang sama
.

Turnamen Merupakan Kebutuhan

Nusa Dua, 9 Nopember 2009. Selama berada di Nusa Dua, banyak ketemu rekan rekan tenis daerah yang ikut menyaksikan acara besar Sony Ericsson WTA Tour Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009. Ketemu ketua Pengprov Pelti Bali Gede Nurjaya, Andre Kanginnadhi yang juga pengurus Pelti Bali, Chandra Widhiartha dari Singaraja.
Disamping itu juga berkenalan dengan rekan rekan yang baru pertama kali bertemu seperti Rai Arya.
Tetapi tidak lupa pula bertemu dengan Tanri Abeng bersama jajaran direksi Telkom seperti Nyoman W yang Direktur Komersial Telkom, bersama Judi Achmadi Deputy EGM Commerce TELKOM yang memanfaatkan bermain tenis di lapangan tenis Westin Hotel. Hanya karena saya tidak membawa sepatu tenis sehingga belum bisa bergabung bermain tenis.
Kesiapan saya juga menghadapi kemungkinan hadirnya Menteri Negara Pemuda dan Olahraga RI Andi Alfian Mallarangeng dimana harus berkoordinasi dengan penyelenggara. Tetapi kepastian kehadirannya baru diketahui Sbatu malam sehingga besoknya langsung beritahukan kepada Kevion Livesey dan Willy Walla.

Pertemuan dengan Alwi salah satu pelaku tenis di Denpasar yang berkeinginan kerjasama dengan dengan saya untuk selenggarakan turnamen nasional di Denpasar. Sayapun memberikan masukan masukan kepadanya untuk selenggarakan turnamen nasional dimasa mendatang.
Begitu juga pembicaraan dengan Pengprov Pelti Bali, masalah kegiatan turnamen di Bali masih terasa minim di Bali jika melihat potensi yang ada. Merekapun menyadari hal ini. Kelihataannya kesibukannya masing masing membuat hal ini belum terpikirkan dengan baik. "Saya siap membantu kegiatan ini di Bali." ujar saya menawarkan kepada mereka . Mereka sendiri menyadari kalau turnamen merupakan kebutuhan atlet tenis. ini.
Saya menerima telpon dari Surabaya, keluhan dari salah satu orangtua asal luar Surabaya. Mereka menyampaikan kekecewaannya terhadap pelaksanaan Widjojo Soejono Semen Gresik , karena diberitahukan kalau sign-in KU 10 dan 12 tahun baru dilakukan hari Kamis mendatang. Setelah saya jelaskan semuanya itu akhirnya mau mengerti. Ini salah satu kejadian dari setiap pelaksana TDP khususnya kelompok yunior. Pemberitahuan jadwal kegiatan seharusnya sudah disebar luaskan jauh jauh hari sebelumnya. Memang turnamen ini mempertandingkan kelompok internasional dan nasional. Jika yang internasional selalu telah disiapkan fact sheet sehingga sudah diketahui sebelumnya. Hal yang sama untuk KU 16 tahun dan 14 tahun,. Yang jadi masalah KU 12 tahun dan 10 tahun, dimana suka dilupakan dicantumkan dalam factsheet turnamen sehingga peserta sudah datang jauh jauh ternyata pertandingannya baru dilaksanakan hari Jumat.

Ditraktir oleh Ginting

Nusa Dua, 8 Nopember 2009. Mencari waktu yang tepat bersama istri keluar dari acara Commonwealth Bank Tournament of Champions baru bisa terlaksana pada Minggu pagi. Karena keponakan dari istri ada yang bertugas di Bali , maka ada keinginan untuk melihat dan bertemu.
Keponakan yang satu bertugas sebagai Pendeta di kota Negara, Jembrana dan yang satu lagi bekerja di Denpasar. Kedua keponakan ini kakak beradik putri dari Johannes Raintung , kakak dari istri saya.

Berangkat ke Denpasar untuk bertemu dengan salah satu keponakan yang bekerja di Denpasar Ade Raintung, bisa bertemu disalah satu restoran di Denpasar. Tiba direstoran tersebut ternyata Ade sedang bersama kakaknya Tya Raintung yang seorang pendeta GPIB.
Bertemu dengan kedua keponakan, yang sedang makan siang bersama sama. Ternyata Pendeta Tya Raintung sedang bersama keluarga lainnya ikut bersama sama makan siang. Ngobrol melepaskan kerinduan dengan kedua keponakan mulai dari keadaan keluarga di Semarang , Manado dan Jakarta.
Karena waktu sangat singkat, saya harus kembali ke Nusa Dua karena acara pertandingan final mulai pukul 14.30 sedangkan saya mengatur tiket VIP yang datang bersama dengan Tanri Abeng mantan Ketua Umum PB Pelti . Akhirnya harus meninggalkan restoran tersebut untuk ke Nusa Dua.

Begitu mau membayar makan siang tersebut, ternyata sudah dibayar oleh teman teman dari Pendeta Tya Raintung. Sehingga sayapun hanya bisa menyampaikan terima kasih. Yang membayar adalah Nyonya Ginting yang datang bersama kedua putra putranya. Nyonya Ginting yang sudah ditinggalkan suaminya karena telah dipanggil Tuhan , berdomisili di Denpasar." Nanti di Jakarta saja Om yang traktir." begitulah candanya kepada saya

Senin, 09 November 2009

Cipika Cipiki dengan CEO Sony Ericsson WTA Tour

Nusa Dua, 8 Nopember 2009. Bertemu pertama kali dengan Ms Stacey Allaster Chairman & CEO Sony Ericsson WTA Tour di Gala Dinner malam ini di Karangasem Room Hotel Grand Hyatt cukup menyenangkan. Diperkenalkan oleh Kevin Licesey selaku Direktur Turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009 didepan Willy Walla selaku Chairman turnamen dan Barry Woods salah satu penulis tenis terkenal asal London yang bedomisili di Bangkok dalam beberapa tahun terakhir. Bersalaman dengan Stacey Allaster langsung cipika cipiki seperti teman lama saja, padahal baru pertama kali bertemu. Minggu lalu saya sempat bertemu dengan Presdient Sony Ericsson WTA-Tour David Shoemaker di Jakarta.

"Terima kasih banyak telah membantu kami." ujarnya kepada saya setelah mendapatkan penjelasan dari Kevin.
Didalam pembicaraan malam ini saya sempat menyinggung masalah jadwal turnamen ini sangat kurang tepat karena bertepatan dengan jadwal Fed Cup, sehingga USA tidak diperkuat oleh Williams Bersaudara. " Memang akan dibicarakan oleh WTA-Tour masalah penjadwalan ulang ditahun 2010." ujarnya.

Gala Dinner malam ini cukup mendapatkan perhatian dengan 12 peserta yang ikut berbusana beda dengan sehari hari dilapangan. Cukup cantik cantik dengan gaun malamnya. Diiringi oleh band setempat malam ini pula disertai acara lelang beberapa barang olahraga seperri gaunnya Maria Sharapova, sepatu tenis NIKE Serena Williams dan Venus Williams, sepatu tenis Adidas Kimiko Date Krumm, porselin vas dengan tanda tangan peserta turnamen.
Malam ini yang menarik perhatian adalah Kimiko Date-Krumm, tampil cantik sekali dengan penampilannya. Banyak permintaan foto bersama oleh masyarakat tenis yang hadir malam ini. Acara dimulai dengan minum diluar ruangan sambil berdiri ngobrol, kemudian 30 menit kemudian langsung diminta memasuki ruangan untuk acara gala dinner dimulai.
Acara barus elesai pukul 23.00, langsung kembali ke hotel Westin di Nusa Dua.

Sabtu, 07 November 2009

Ke Nusa Dua Nonton Tenis Commonwealth Bank

Nusa Dua, 6 Nopember 2009. Tiba dengan selamat di Bandara Ngurah Rai Bali bersama istri untuk menyaksikan turnamen tenis Commonwealth Bank Tournament of Champions 2009 yang berlangsung di Convention Center Westin Resort Nusa Dua Bali. Kegiatan ini hampir setiap tahun saya menyempatkan diri hadir menyaksikan adu kekuatan petenis putri yang cantik cantik di lapangan tenis. Hanya tahun ini tempatnya berbeda di dalam ruangan (indoor) sedangkan sebelumnya di lapangan terbuka (outdor). Biasanya dilaksanakan di Grand Hyatt Nusa Dua Bali.
Turnamen ini awalnya berjudul Wismilak International yang berjalan selama 10 tahun kemudian limatahun silam menjadi Commonwealth Bank Tournament.

Kehadiran kali ini dianggap istimewa, saya mendapatkan undangan khusus selayaknya tamu istimewa bagi penyelenggara. Biasanya setiap tahun Pelti mendapatkan jatah tiket menonton dari awal, dimana saya selama ini hanya menyempatkan diri di semifinal dan final saja bisa hadir. Dan sudah 3 kali saya mendapatkan hadiah dari Wismilak karena berhasil menang di turnamen Wismilak Nostalgia yang biasanya dilaksanakan bulan Agustus. Hadiahnya berupa tiket nonton dan pesawat dari Jakarta ke Bali pp berdua dan menginap di Grand Hyatt Hotel.Semenjak mendapatkan sponsor utama Commonwealth Bank, Pelti tetap diberikan jatah untuk menontonnya. Tetapi tidak mendapatkan fasilitas akomodasi yang menjadi tanggungan sendiri.
Kali ini saya menjadi tamu istimewa, karena diberikan fasilitas akomodasi dan penjemputan di bandara, dan tempat duduk special di tempat VVIP. Selama ini tiket menonton seperti penontona lainnya yaitu disis samping lapangan. Ini kejadian aneh tetapi tentunya ada alasannya sehingga mendapatkan perlakuan khusus.

Dua-tiga minggu lalu saya sibuk membantu penyelenggara dengan bolak balik ke kantor Imigrasi di Rasuna Said. Untuk membantu pengurusan Visa atlet peserta. Keberhasilan ini mendapatkan apresiasi dari Kevin Livesey selaku Direktur Turnamen dan Willy Walla yang pertama kali merintis turnamen ini di Indonesia, sehingga diberikan undangan khusus. Terima kasih banyak Willy Walla dan Kevn Livesey.

Selama pengurusan visa ini saya banyak berbohong kepada rekan rekan di Jakarta khususnya kepada media massa, karena sangat kuatir akan muncul hal hal yang mengganggu jalannya pertandingan. Tetapi kebohongan yang saya lakukan saya komunikasikan dengan Martina Widjaja juga. Bahkan Presiden WTA-Tour David Shoemaker sendiri turun tangan berkomunikasi dengan saya. Memonitor bertemu di Jakarta maupun dengan telpon seluler. Hal yang sama dengan Willy Walla maupun Kevin Livesey.

Setelah check-n langsung menuju gedung convention center disamping hotel melihat pertandingan Marion Bertoli melawan Shahar Peer.

Kesibukan berikutnya adalah memantau rencana kedatangan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga Andi Alfian Mallarangeng yang disampaikan oleh Tanri Abeng akan hadir di Nusa Dua. Ketemu dengan Kevin Livesey dikantornya, begitu juga istri Kevin yatu Ani. Ungkapan terima kasih bertubi tubi diberikan keduanya kepada saya. Apa yang saya sampaikan adalah semua ini saya lakuka untuk tenis. "That's all"

Senin, 02 November 2009

Keinginan Daerah Adakan TDP


Jakarta, 1 Nopember 2009. Keinginan meningkatkan kegiatan khususnya turnamen ternyata sudah mendapatkan respons cukup besar. Yang jadi masalah nagi masyarakat tenis di daerah adalah ketidak tahuan dari mana mau mulai. Hal ini saya sadari maka sayapun harus berperan aktip atau istilah lainnya adalah menjemput bola ke masyarakat tenis didaerah daerah.

Sayapun langsung kirimkan SMS merupakan jalan pintas yang saya anggap cukup efektip. Kirimkan SMS ke Gorontalo, Palu, Pontianak, Bogor, Sumatra Barat, Medan dan beberapa kota lainnya yang ada nomernya di telpon seluler saya.
Respons juga datang baik langsung berkomunikasi dengan telpon bahkan ada yang datang ke Senayan. Salah satunya datang dari Tuban, rekan dr. Hari Wahyono rekan alumnus FK Unair Surabaya. Kedatangannya tidak saya duga, dan saya pernah bertemu 6 tahun silam di Surabaya saat saya sebagai penyelenggara turnamen antar dokter.
Tuban berkeinginan selenggarakan turnamen Veteran dan kelompok umum, tetapi saya lebih cenderung ke yunior. Dr. Hari Wahyono yang peduli dengan tenis bukan anggota Pengkab Pelti Tuban tetapi mau peduli dengan tenis sudah merupakan aset bagi pertenisan kita. Direncanakan ada turnamen veteran dan kelompok umum dibulan Januari 2010.

Begitu juga saya kedatangan tamu dari Pariaman Sumatra Barat. Ir. Fitrias Bakar bersama kedua rekannya. Bertemu dan menyampaikan keinginanmemajukan daerahnya yang barusan kena gempa. "Kami sekarang duduk di KONI Kabupaten Pariaman." ujarnya.
Diceritakan saat ini punya 60 petenis yunior yang ditampung oleh klubnya yang dibentuk sebagai kecintaan terhadap prestasi pemuda dan pemudi di Pariaman. Kegiatan Persami sudah merupakan agenda setaiap 3 bulan dilaksanakan di Pariaman . Pembicaraan cukup hangat karena saya bersama mereka mempunyai visi kedepan yang sama. Sama sama "gila" tenis, begitulah istilah yang tepat. "Ini yang dibutuhkan oleh tenis kita." ujar saya kepada mereka. Pertemuan dilanjutkan dengan foto bersama didepan kantor PP Pelti Senayan.

Ketua Pelti Bogor Dr. Purnomopun menyambut baik SMS saya dan bahkan berkeinginan bertemu untuk merealiser keinginan agar Bogor punya Turnamen nasional. Direncana secepatnya saya ketemu dengan dr.Purnomo di Bogor. Ya, sayapun ingin sekali agar keinginan pelaku pelaku tenis didaerah bisa terealiser . Semoga !

Pelanggaran Code of Conduct di Mini Tenis


Jakarta, 31 Oktober 2009. Menyaksikan pertandingan mini tenis dalam rangka Festival Sport Menpora di halaman kantor Mengepora Jakarta, ada beberapa kejadian yang sudah harus mendapatkan perhatian khusus bagi orangtua, pelatih dan pelaksana pertandingan. Saya melihat anak anak usia 8 tahun bertanding cukup mengasyikkan sekali karena terjadi adu reli reli panjang yang jarang sekali bisa didapatkan diturnamen kelompok umur. Dengan gunakan raket plastik dengan bola lebih ringan dan ukuran lapangan cukup kecil sehingga tidak ada kesulitan bagi anak anak usia 8 athun ini bisa bermain tenis.

Kejadian yang sudah perlu mendapatkan perhatian adalah dua atau tiga atlit dalam pertandingan sering keluarkan yel yel sendiri yang sebenarnya positip untuk dirinya tetapi akhirnya sudah menjurus mengganggu konsentrasi lawannya. Andaikan dilakukan untuk menaikkan semangatnya , itu bukan masalah, tetapi sejak mulai menunjukkan suatu tindakan provokasi langsung kepada lawannya, ini sudah melanggar ketentuan yang ada di pertandingan tenis. Ini terdapat dalam Code of Conduct, yaituUnsportsmanlike conduct. Disebutkan kalau setiap petenis dalam bertanding selalu harus berlaku sportip. "Players shall at all times conduct themselves in a sportmanlke manner and give due regard to the authority of officials and the rights of opponents, spectators and others." Ini cukup jelas aturan ini yang berlaku mulai dari pemain sudah masuk lapangan melakukan pemanasan sampai dengan pertandingan selesai dan pemain meninggalkan lapangan.

Ada dugaan cara cara ini dianjurkan oleh pelatih dari atlet tersebut. Andaikan ini benar tentunya sangat disayangkan sekali. Memang dimaklumi cara ini dengan menteror langsung bisa membuat mental lawannya anjlog. Tetapi disayangkan sekali cara cara ini diterapkan kepada anak anak usia dini, yang sudah jelas melanggar aturan aray code of conduct.
Bagaimana seharusnya dilakukan sebagai tindakan preventive. Yaitu mulai kepada orangtua dan juga pelatih harus diberitahukan atas tindakan seperti ini tidak diperkenankan di pertenisan. Begitu juga para wasit sudah harus mengetahui pelanggaran tersebut. Hanya bedanya untuk menegurnya secara baik baik sehingga anak anak bisa mengertinya.

Trend ini sangat berbahaya sekali kalai tidak segera diambil tindakan segera, jangan sampai terlambat !