Minggu, 02 Maret 2008

Kenangan Indah Dengan Eddy Suryanto

Setelah kembali masuk kedalam kepengurusan PB Pelti (1998-2002) dipertengahan yaitu tahun 2000, AFR mendapatkan email dari PB Pelti yang forward email dari Pontianak yang belum dikenal. Datangnya dari Ir. Eddy Suryanto, seorang dosen dari Politehnik Universitas Tanjung Pura Pontianak Kalimantan Barat.. Pertanyaannya adalah mengenai MINI TENIS. Eddy Suryanto tertarik dengan program Mini Tenis yang dia baca di website International Tennis Federation. Mengingat adanya orang yang gandrug akan dunia IT membuat makin seru saja komunikasi antar keduanya. Eddy menanyakan keinginannya memperkenalkan Mini Tenis di Pontianak Saat itu ditanyakan apakah duduk dalam pengurusan Pelti di Pontianak. Ternyata Eddy bukan anggota pengurus Pelti baik Pengcab Pontianak maupun Pengda Kalbar. Ketua Pengda Kalbar adalah Wakil Gubernur Kalbar yang istrinya adalah rekan dosen di Untan, sehingga Eddy mudah akses ke Ketua Pengda. Maka diaturlah bagaimana caranya sehingga bisa berjalan keinginan tersebut.
Tiba tiba Eddy berinisiatip datang ketemu AFR di Pusat Tenis Danamon (Kemayoran) setelah cukup lama berkomunikasi denagn email dan membicarakan perkembangan dari perencanaan sebelumnya.
Langsung ditawarkan dibuatkan eksibisi tenis antara Yayuk Basuki dan Wynne Prakusya di tahun 2000. tetapi dianjurkan sebaiknya melalui induk organisasi Pelti di Pontianak. Rencana eksibisi diselingi dengan perkenalan / sosialisasi mini tenis untuk Guru Guru SD.
Maraknya penataran mini tenis cukup berikan harapan tenis di Kalbar akan bangkit. Program ditata dengan baik sehingga sebagai cikal bakal klub disusun rapi oleh Eddy Suryanto.
Setelah penataran Mini Tenis berhasil juga dilakukan pembentukan Klub Tenis Yunior dengan nama Equator Club yang dibeayai oleh Eddy Suryanto yang didukung oleh Guru SD yaitu Drs. Eddy Suko.
Acara penataran sering dilaksanakan bahkan menjadi proyek percontohan di Indonesia sehingga Development Officer dari ITF datang melihat langsung dan lakukan juga coaching clinic di Pontianak, yaitu Suresh Menon.

Serangan Pertama Donald Wailan Walalangi

Awal tahun kepengurusan PB Pelti 2002-2007 menjadi salah satu anggota Pengurus Besar Persatuan Tenis seluruh Indonesia, sebagai Wakil Sekretaris Jendral, AFR menerima tamu istimewa, karena tamu ini adalah salah satu anggota tim sukses dari lawan Martina dikancah Musyawarah Nasional pelti 2002 di Makassar. Tetapi sebagai Pembina tentunya masalah perebutan kursi Ketua Umum PB Pelti bukanlah hambatan untuk menjadi pertemanan dalam hidup olahraga. Tidak ada istilah oposisi seperti dunia politik.

Pertanyaan pertama dari mantan petenis nasional Davis Cup Donald Wailan Walalangi yaitu minta kalender Turnamen 2003. Pendapatnya dapat dibenarkan karena jumlah turnamen senior atau kelompok umum sangat minim. Wailan menganjurkan agar turnamen ditambah. Tetapi yang disayangkan justru menyalahkan PB Pelti karena adakan mini tenis. Dimatanya Mini tenis adalah pemborosan. Penyampaiannya kurang bijak karena menjelek jelekkan program mini tenis yang sebenarnya bukan asli program dari Pelti tetapi sebagai kepanjangan tangan dari International tennis Federation (ITF) sehingga dianggap perlu segera dijalankan.
Bisa dibayangkan saat itu sudah dijalankan ke 16 daerah daerah di Indonesia tetapi diberi tanggapan kurang simpatik. Saat itu juga AFR menyampaikan kalau dikatakan Mini tenis tidak benar sedangkan program mini tenis itu adalah program berdasarkan riset di Eropa dilakukan dan diteliti oleh ITF. Menghadapinya tidak bisa dengan cara halus, harius dengan caranya berdarah muda. AFR sampaikan tidak benar kalau mini tenis itu program yang salah. “ Ini atas riset pelatih pelatih dunia bukan pelatih tingkat RT seperti kalian.”
Untuk menetraliser situasi AFR menanyakan apa solusinya karena tidak ada gunanya hanya bisa memberi kritik tapi tidak bisa beri solusi. Anjurannya adalah buatlah turnamen antar klub supaya klub bisa hidup lagi seperti dulu dulu banyak klub tenis. Betul sekali pendapatnya dan perlu didukung. AFR bertanya apakah sudah pernah disampaikan ke PB Pelti dan dijawab kalau sudah disampaikan kemarin ke Ketua Bidang Pertandingan PB Pelti Enggal Karjono. Akhirnya AFR ingatkan kalau AFR telah pernah jalankan turnamen antar klub semasa Wailan sebagai pemain. Jadi tidak banyak bicara tapi sudah kerjakan.

Unggulan Salonpas berguguran

Jakarta, 3 Maret 2008. Unggulan babak kualifikasi turnamen internasional yunior Salonpas 2008 mulai berguguran. Unggulan pertama asal Tegal, Wisnu Adi Nugroho gagal maju kebabak kedua dijegal petenis Bandung Syarief Fathurrahman 26 46. Unggulan lainnya yang kalah yaitu Michael Weiss Pedersen (DEN) tumbang dari Prisca Titan Setiawan asal Kediri 16 26. Sedangkan unggulan lainnya seperti Anshari Nursida(DKI) mengalahkan Revel Yehezkia 61 63. Rizal Aulawi Athok asal Kudus mengalahkan Dede Satya Ramadhan 62 63. Louis Theodor (DKI) mengalahkan Christopher Oky Suconong (Surabaya) 75 61. Michael Christian asal Bandung mengalahkan petenis Jepang Genki Hosoya 64 63. Ariya Mahendra (Bandung) mengalahkan Jason Joe Alexander Wiranata (DKI) 62 60. Ega Uneputty (DKI) mengalahkan Jeremy Ryan Alexander Wiranata (DKI) 64 63.

Terlihat pertandingan Jeremy Ryan Wiranata dengan Ega Uneputty mudah terbaca Ega Uneputty, ditambah dengan bad call yang dirasakan oleh Jeremy sangat merugikan dirinya. Hambatan baginya adalah menahan emosi sehingga sempat memanggil referee datang masuk lapangan karena pertandingan tanpawasit.
Dikelompok putri Claire Cynthia Mulyadi mengalahkan Hayyu Imanda (DKI) 62 63. Dina Azwar mengalahkan Lely R Putri (DKI) 46 62 64. Sempat Dina kewalahan hadapi Kely R Putri yang jauh lebih muda. Vanessa Gunawan (DKI) mengalahkan Claudia Michelle (DKI) 60 62. Meutia Sabrina (Gresik) mengalahkan Puspa Ratih (Pontianak) 62 61. Petenis asal bali Theresia Mariana S mengalahkan Asifa Ramadhani (DKI) 60 63. Dina Karina (DKI) mengalahkan Lauren Lang (DKI) 60 60. Melissa Emile Jandinata (DKI) dikalahkan oleh Jeanny R Anastasia (Bali) 46 64 75.

Hari Senin, Jeanny Anastasi ketemu Dina Krina, Theresia Mariana ketemu Meutia Sabrina, anessa Gunawan ketemu Dina zwar, Rani Fitria Wardani ketemu Claire Cynthia Mulyadi.
Turnamen kualifikasi Salonpas International Junior Champs berlangsung 2-3 Maret 2007 di Pusat Tenis Kemayoran. Babak Utama mulai Selasa 4 – 9 Maret 2008.
Petenis anggota tim Davis Cup Indonesia, Christopher Rungkat bersama sama Davis Agung Susanto akan turun di Salonpas International sebagai pemain babak utama.
Turnamen yang masuk kategori ITF Grade 2 ini cukup berbobot diikuti petenis berkualitas ditingkat internasional yunior, demikian menurut Wakil Direktur Turnamen August Ferry Raturandang.
Disela sela pertandingan, Erlis S datang menghampiri AFR tanya soal penunjukkan pelatih tim usia 14 tahun. Karena sampai saat ini PP Pelti belum menunjuk pelatihnya. "Tapi kalau bisa jangan pilih pelatih...." ujarnya Oleh AFR langsung disambut sudah tahu. Tapi rupanya setelah Erlis berikan kejelekannya baru AFR menyadari yang dimaksud beda. Ternyata ada pelatih putra yang tata cata menangani atlitnya kurang berkenan bagi orangtua terutama dalam hal travelling. " Ada ada saja ".

Turnamen ini sudah menerapkan tanpa menggunakan wasit dan entry fee yang sama perlakuannya untuk petenis asing maupun tuan rumah.

Sabtu, 01 Maret 2008

Pertemanan Sangat Penting

Pertemanan dengan rekan rekan di luar negeri di pertenisan internasional sangat penting artinya bagi AFR. Selama ini dukungan datang dari rekan di Singapore yaitu Mr.S.Uthrapathy.
Alfred Henry Raturandang, selaku adik AFR dan ayah dari petenis nomer satu Indonesia Andrian Raturandang menyampaikan kalau kesulitan dana untuk kirimkan Andrian Raturandang go international.

AFR langsung minta wild card babak utama di turnamen Men’s Challenger (US $ 50,000) di Singapore dan Vietnam yang waktunya berurutan. Saat itu Andrian diajarkan AFR secara tertulis apa yang harus dilakukannya. Mulai dari tiba di hotel dan seterusnya.
Dengan modal akal bisa membawa uang kembali ke Jakarta. Masalah tiket bisa booking dengan travel agent yang tidak perlu harus cash, bisa setelah kembali ke Jakarta baru bayar. Akhirnya Alfred beri kepercayaan kepada AFR untuk mengaturnya.
Saat itu Andrian ikuti Davis Cup melawan Jepang, setelah itu kembali via Singapore. Berarti tiket Jakarta - Singapore pp sudah ditangan. Beli tiket Singapore – Vietnam – Singapore (kurang lebih US $ 300.00)
Kalau Men’s Challenger dengan prize money US $ 50.000 berarti setiap turnamen ini akan dapat hak hospitality minmal 5 hari sebelum kalah. Dengan dirinci setiap harinya tugas tugas yang harus dilakukan disamping berlatih dan bertanding, Andrian kembali ke Jakarta sudah bisa membayar harga tiket Singapore-Vietnam dan beberapa ratusdolar. Ini berkat bantuan dan hubungan baik dengan Direktur Turnamen setiap turnamen.

Hal yang sama pernah AFR lakukan saat itu bertepatan dengan Maesa Paskah di Surabaya, AFR terima tilpon dari Ibu Hanita Erwin Widjaja yang anaknya (Angelique Widjaja) baru saja keluar sebagai juara Wismilak International di Bali. “ Bisa mintakan wild card Women’s Challenger (US$ 50,000) di Vietnam.” ujarnya. Saat itu masih dilapangan AFR belum bisa hubungi S. Uthrapathy di Singapore yang juga Diretur Turnamen Vietnam Women’s Challenger.
Karena sibuk dengan Maesa Paskah, permintaan ini baru bisa dilakukan malam hari dengan email saja. Tapi telpon terus berdering menanyakan apakah sudah disampaikan permintaan wild card tersebut. Dengan sedikit kesal AFR kirim email malam harinya.

Esok harinya dapat tilpon dari S. Uthrapathy. “ Fer yang minta wild card itu siapa . Apakah Ferry atau Pelti atau Ibunya?” Ini pertanyaan agak aneh dan belum pernah dilakukannya. AFR balik bertanya, apa bedanya kalau yang minta AFR kemudian Pelti atau Ibunya. Dan ternyata jawabannya juga lucu. “Kalau yang minta AFR atau Pelti OK diberikan. Tapi kalau yang minta Ibunya NO WAY.” Karena berkeinginan agar petenis Indonesia bisa dapat kesempatan maka AFR katakan permintaan AFR.

Keluhan Entry Fee Mahal

Jakarta, 1 Maret 2008. Banyak pertanyaan yang datang bertubi tubi ke AFR disaat sign-in Salonpas International Junior Champs di lobi hotel Menara Peninsula Jakarta. Pengurus Pusat Pelti telah menerapkan aturan mulai 2008 adalah turnamen yunior tidak menggunakan wasit dari awal sampai babak kuarterfinal baru gunakan wasit

Ayah dari petenis Rani Fitriawardhani asal Jepara, Marsudi menyampaikan uneg unegnya, kalau harus bayar US $ 40.00 atau Rp. 400.000 terlalu memberatkan terutama atlet daerah. Begitu juga ibu dari David Manoah Yosua (DKI) menyampaikan hal yang sama. Mereka mengharapkan adanya dukungan seperti yang lalu lalu diturnamen internasional yunior ada perbedaan entry fee, petenis lokal setegahnya dari petenis asing. Memang kalau dilihat selama ini Pelti sudah terlalu memanjakan atlit Indonesia di Turnamen internasional selama ini dibandingkan diluar negeri, Pelti selalu menyediakan ball boys, wasit.

Ketika AFR menyampaikan kalau masalah entry fee sudah ada di website Pelti ( www.pelti.or.id/komentar). “Kok saya tidak baca ada di website.” ujar Erlis S (ibu dari Dina Karina). AFR bertanya apa betul sudah buka website . Dengan yakin Erlis mengatakan sudah buka tetapi tidak ada. “Baca pakai mata atau hidung, karena saya yg tulis dikomentar website.” Setelah itu AFR langsung mau tunjukkan website pelti di hand phonenya, dan sayangnya setelah ada dihand phone ternyata Erlis sudah hilang. “ Ya, susah kalau hanya bisanya komplein aja dan asal cuap.”

AFR terima tilpon dari Ferry Susanto ayah dari David Wilson, minta tolong agar dimintakan wild card ke turnamen internasional di Brunei Darussalam. “Sayang sudah terlambat, karena baru kemarin Jumat saya sudah minta wild card untuk Revel Yehezkia dan Evander William. Lain kali jauh jauh hari dong mintanya.” ujar AFR.
Tidak beberapa lama datang juga Auddie Wiranata minta bantuan wild card untuk anaknya Karena Jason Joey Wiranata dan Jeremy Ryan Wiranata ikut di turnamen di Brunei, karena hanya satu yang diterima. Tapi setelah dijelaskan kalau sudah terlambat. “ Lain kali mintanya jauh jauh hari.”

Permintaan yang masuk akal juga dating dari Hadi Wibowo masalah tidak diberikannya wild card Louis Theodor sebagai anggota tim usia 14 tahun World Junior Tennis 2008 agar bisa dapat ITF point. Karena PP Pelti telah memutuskan petenis yang dapat wild card Salonpas International Junior Champs

Harmony Ginting bersama ibu dari David Manoah Yosua menanyakan masalah surat mereka sebagai orangtua peserta seleknas 14 tahun tentang kesediaan orangtua peserta seleknas 14 tahun agar putranya di bawa ke RS Polri untuk diperiksa keabsahan umur atlit.
“Surat sudah dibaca oleh Ketua Umum dan Sekjen PP Pelti, tapi tidak ada disposisinya. Tapi menurut saya pribadi, silahkan saja lakukan dengan beaya sendiri.” Mengenai beaya menurut Harmony Ginting bukan masalah. “Jika tidak masalah silahkan saja, kalau perlu surat pengantar PP Pelti akan kami buatkan.” Tetapi keingian mereka adalah seluruh peensi yunior diperiksa ke RS Polri. “ Wah ini siapa yang bayar.”

Beberapa hari lalu, AFR diberitahu oleh Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti Johannes Susanto masalah adanya ancaman dari pelatih Ardi Rivali masalah tidak diberikan haknya pemain babak utama berupa hospitality di official hotel dan akan dilaporkan ke ITF. “Tidak usah kuatir atas ancaman tersebut karena ITF lebih percaya dengan Pelti. Kita punya alasan lebih baik.” Ujar AFR. Kali ini Panitia berikan haknya pemain babak utama masuk hotel selama dia masih menang. Begitu kalah harus bayar sendiri. Hanya pemain wild card tidak diberikan hospitality.

Pengalaman Di Green Sands Satellite Circuit 1990

Bertugas sebagai Circuit Administrator Green Sands Satellite Circuit dari tahun 1989-1990 ada pengalaman yang menarik, dan baru AFR ungkapkan. Dengan sponsor PT. Multi Bintang Indonesia, Green Sands Satellite Circuit diawali putaran pertama di Surabaya (lapangan Brawijaya), putaran kedua di Semarang (lapangan Mugas), putaran ketiga di Bandung ( Eldorado dan Cicagra) ) kemudian seri Masters di Jakarta.
Kalau ada yang berkeinginan membantu petenis tuan rumah dengan berbagai cara. Yang kurang mendidik adalah kalau bermain kong kalikong dengan petugas wasit. Hal ini sangat kecil kemungkinan karena ada ITF Referee (Supervisor) yang selalu orang asing
AFR punya trik tersendiri, yaitu melihat peserta asing banyak yang muda muda terutama dari Eropa di-akali dengan cara setiap malam diajak ke diskotik yang pasti mereka sangat suka sesuai jiwanya. Cukup minta ke Multi Bintang Indonesia free pass setiap hari di setiap kota Surabaya, Semarang dan Bandung. Mulai dari Surabaya setiap petenis asing diberikan free pass, dan ada keuntungannya mereka suka minum bir, ya Bir Bintang jadi naik omzet penjualannya. Bisa dibayangkan setiap malam AFR melayani mereka ke diskotik. Di Semarang seaktu berdisko ditegur dan dilarang oleh petugas disko karena tidak boleh berdisko dengan sejenis, harus lain jenis. Mereka kecewa, hanya bisa minum minum saja.
Di kota Bandung, saat itu malam minggu dan besoknya akan bertemu di final petenis tuan rumah (Daniel Heryanto ? ) melawan petenis asing.
AFR menawarkan free pass ke diskotik kepetenis asing tersebut. Saat itu petenis tersebut mau menolak, tapi karena dikatakan ini malam pemilihan Miss Bandung, padahal Miss Dangdut, dan cukup sampai jam 24.00 langsung pulang dan besok pertandingan diatur pukul 10.00, maka petenis asing tersebut sangat berminat. Akhirnya dia keasyikan dan pulang pukul 02.00 dalam keadaan setengah mabuk. Akibatnya esok harinya kalah.
Begitu juga sewaktu seri Masters di Jakarta, banyak yang muntah muntah dan terjadi All Indonesian Final di lapangan tenis Hilton. Selama kegiatan ini AFR tidak pernah mengajak petenis Indonesia.

Ikuti Seminar Sponsorship Davis Cup di Pattaya

Pengalaman pertama mewakili Pelti dikancah tenis Internasional adalah ikuti Seminar Davis Cup bulan Oktober 1988.
Sehari setelah ikut penyelenggaraan eksibisi Michael Chang dan Slobodan Mecir di Istora Bung Karno, AFR terbang ke Bangkok dan Pattaya

Mulailah saat itu mengenal petinggi tenis dari Singapore (Uthrapathy), Filipina (Ajay Pathak), China ( Ren Yi), Australia ( Mike Daws), Hongkong (Ms. Pat Lee) yang sampai saat ini masih berkecimpung di pertenisan Asia kecuali Mike Daws sudah keluar pindah ke Basket Ball Australia.
Begitu juga petinggi ITF seperti Christopher Stokes (Director Commercial), MacCurrdy (Development) Dari ITF turun 2 petimgi dibantu satu tenaga staff ITF untuk selenggarakan Seminar Davis Cup yang dianggap perlu dilakukan karena persepsi atas peraturan Davis Cup bisa berbeda beda. Khususnya sponsorship yang cukup ketat.

Indonesia sewaktu menyelenggarakan Davis Cup Februari 1988 melawan Thailand (4-1) kena penalty dari ITF Masalahnya kelihatan sepele tapi sudah jelas melanggar aturan. Davis Cup regulation sudah jelas disebutkan peserta Pembukaan didalam lapangan tiap Negara hanya 4 pemain dan 1 kapten. Tapi saat itu rekan pengurus Yunus Yamani (Komite Tim Nasional) bandel, alasannya kenapa dinegeri sendiri tidak boleh, akhirmya dia ikut masuk upacara. Apakah ada yang melaporkan kejadian ini, tentunya tidak.
ITF selalu menerima foto2 pelaksanaan yang merupakan kewajiban tuan rumah untuk dikirim ke ITF.Dari foto yang dikirim terlihat jelas adanya pelanggaran Akhirnya Pelti kena denda ratusan dollar (lupa angka yang tepat)

Pertemanan dengan rekan rekan di Asia Tenggara tetap berjalan penuh terutama dengan S.Uthrapathy dari Singapore yang sempat menjadi President Tennis Association of Singapore dan berjalan terus dan menjadi tenaga full time di Asian Tennis Federeation sampai tahun 2005.

Wasit Bermain Judi

Peristiwa memalukan pernah terjadi di Pusat Tenis Danamon Kemayoran disela sela turnamen tenis internasional. Saat itu sebagai pelaksana turnamen adalah PB Pelti dengan Direktur Turnamen Mansyur Djabir. Sebagai tamu dari Pusat tenis Danamon saat itu petugas pertandingan khususnya wasit yang bertugas telah digrebek bermain judi.
Memang diakuinya kalau bermain kartu (dengan gunakan uang) sebagai perbuatan iseng belaka karena nilainya cukup kecil. AFR sebagai Manajer Pusat tenis Danamon saat itu dilaporkan oleh petugas Satpam Pusat Tenis Danamon, kalau baru saja menggrebek petugas wasit turnamen tenis internasional dibawah pohon dihalaman Pusat tenis Danamon.
Mendengar adanya peristiwa tersebut, AFR minta agar dilepaskan saja dan buat pernyataan agar tidak terulang kembali, dan beritahukan kepada panitianya ada peristiwa tersebut.
Pusat Tenis Danamon, Kemayoran sudah melarang kepada pelanggan agar tidak ada perjudian, dan pernah satu saat disaat sepi, terjadi juga penggebrekan oleh Polisi atas pelanggan yang sedang berjudi didalam Pusat Tenis Danamon, Kemayoran.