Jumat, 30 April 2021

Menelusuri Turnamen Tenis Tertua di Indonesia oleh August Ferry Raturandang

 Kalau ditanya turnamen tenis tertua di Indonesia maka sulit akan menjawabnya. Yang banyak dialami atau diikuti masyarakat tenis saat ini adalah era 1990. Dan hanya beberapa yang lenggeng seperti Thamrin Cup( Jakarta), Fiks ( Bandung), New Armada ( Magelang), dan beberapa turnamen baru diera 2000.

Siapakah yang masih ingat akan Paas Tournoi? Tidak banyak yang tahu kalau Paas Tournoi lahir pada tahun 1924 sehingga namanya berbau ke belanda2an. Hanya petenis kawanua yang masih ingat walaupun sudah mulai cenderung melupakan.

Kalau turnamen Paskah Maesa so pasti diingat, yang sebenarnya berkembang dari Paas Tournoi menjadi turnamen Paskah Maesa karena diselenggarakan pada liburan Paskah. Nah sebentar lagi liburan Paskah yaitu 2-4 April 2021, mengingat kembali turnamen Paskah Maesa.

Awalnya sekumpulan pemuda Kawanua dari perantauan berkumpul di Bandung untuk bermain tenis di lapangan tenis Pasir Kaliki. Tercetus idea untuk liburan Paskah maupun Natal diadakan turnamen tenis. Rasa persaudaraan cukup kental dan ciri khas orang dari Minahasa adalah senang.

Kangen akan kampung halaman sudah cukup dengan mewujudkan pertemuan baik dilapangan tenis pun jadi. Turnamen tenis berlangsung di liburan Paskah dan Natal. Seterusnya hanya liburan Paskah sehingga namanya Paas Tournoi.

Mengingat agar langgeng dibentuk organisasi tenis yang terdiri dari kawanua Surabaya, Bandung dan Batavia ( Jakarta ) namanya MITO ( Menadonese Interstedelijke Tennis Organisatie).

Pemuda tersebut adalah Anton Najoan bersama Willem Laoh, Wim Najoan, Ferdie Lapian dari Bandung, dan Paul Rumate , David Ranti, Wim Ranti, F.Laoh,dan Wim Gontha dari Batavia atau Jakarta bersama pemuda Salem Ngion dari kota Surabaya.

Pada tahun 1924 juga para penggemar sepakbola mendirikan VVM ( Voetbal Vereniging Minahasa) yang kemudian cikal bakal klub sepakbola Maesa.
Pada tahun yang ssma didirikan klub Catur DE PION.

Tahun 1934 dibentuk organisasi kepemudaan yang diberi nama J.V. Maesa ( Jongeren Vereniging Maesa = Persatuan Pemuda Maesa)

Dari masing2 cabang olahraga timbullah pertandingan pertandingan dengan nama yang dikaitkan dengan libura Paskah yaitu Paas Tournoi.

Kegiatan Paas Tournoi ini berlangsung setiap tahun dan kota terakhir sebelum pecahnya perang dunia kedua berlangsung di Surabaya, untuk kemudian kegiatan terhenti beberapa tahun sampai sesudah perang dunia kedua bahkan sampai sampai pada masa perang kemerdekaan dan sesudahnya.

Kegiatan turnamen tenis Paskah Maesa bangkit kembali sekitar tahun 1954 di Jakarta, 1955 di Surabaya, 1956 di Bandung, 1957 di Jakarta. Tahun 1958-1960 kegiatan antar kota terhenti.

Kemudian dicetuskan ” PON Mini” di Senayan Jakarta pada hari Paskah dengan cabang cabang olahraga Bridge, Catur, Tenis, Bulutangkis, Sepakbola, dengan kontingen peserta berasal dari Medan, Palembang, Bogor Jakarta Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang Denpasar, Ampenan, Ujung Pandang, Manado dan Tondano.

Sebenarnya tahun 1965 direncanakan lagi tapi keburu dilarang oleh Presiden Soekarno karena sukuisme. (Penulis adalah pemerhat tenis dan promotor RemajaTenis Nasional).

Apa ciri khas Paas Tournoi sehingga secara tidak langsung bisa melahirkan petenis Kawanua setiap dekade?
Secara tidak langsung dengan rasa kangen untuk berkumpul dilapangan tenis timbul saling berkompetisi untuk berprestasi. Apalagi adanya jenis pertandingan pasangan suami istri, suatu pertarungan yang cukup bergengasi dimata Kawanua. Istilah Kawanua akar katanya adalah ” WANUA” atau ” BANUA” atau suatu daerah pemukiman atau kampung yang dihuni oleh penduduk anak suku Minahasa.
Istilah ” Kawanua” timbul dan populer di rantau biasanya digunakan oleh perantau yaitu mereka yang datang dari Menado/Minahasa (Disalin dari www.tribunolahraga.com


Tolong Beri Kami Turnamen

 Pembinaan tenis butuh waktu yang panjang untuk bisa menikmati hasilnya. Demikian pula prosesnya tidak kelihatan secara nyata selama ini. Tetapi turnamen bisa dilihat secara nyata adanya suatu kegiatan di satu tempat. Faktanya turnamen itu termasuk salah satu unsur di dalam pembinaan. Bukannya terpisah seperti dipikirkan selama ini.

Pemikiran selama ini selaku pembina tenis baik ditingkat klub atau induk organisasi tenis daerah maupun pusat, terfokuskan kepada peningkatan kwalitas atlet dan pelatih. Justru dilupakan adalah pemassalan atau menciptakan atlet-atlet baru.

Contoh positiF selama ini adalah apa yang dilakukan sejak tahun 1924 secara rutin adalah " Paas Tournooi" atau Turnamen Tenis Paskah dilakukan oleh sekumpulan masyarakat Kawanua di perantauan dengan label Maesa yang artinya " Bersatu". Muncullah atlet tenis berasal dari masyarakat Kawanua di perantauan, sebagai tulang punggung tim nasional Indonesia.

Siapa yang tidak kenal nama nama yang tidak asing didengar seperti Lita Soegiarto, Yolanda Soemarno, Lanny Kaligis, Samudra Sangitan, Jacky Wullur diikuti Donald Wailan Walalangi, Waya Walalangi, Aga Soemarno, Irawati Moerid, Solihati Moerid. Kemudian datang pula era Andrian Raturandang, Septi Mende,  Christopher Rungkat, Jessy Rompies dalam membela nama Indonesia baik di multi event dan single event.


Sedangkan Maesa khususnya tenis  sendiri tidak membina langsung, hanya fokus kepada turnamen turnamen yang rutin sejak tahun 1924. Walaupun sempat terputus oleh keadaan yang tidak memungkinkan seperti Perang Dunia dan sebagainya, tapi semangat itu masih ada sampai sekarang.

Turnamen itu ibarat "show room" baik untuk atlet, pelatih, klub maupun induk organisasi tenis tersebut. Tempat untuk menunjukkan hasil pembinaan atau memperlihatkan kegiatan yang nyata bagi klub maupun induk organisasi tenis itu sendiri. Ada berapa klub yang ada di Indonesia. Ini belum sampai tercatat, mungkin sudah pernah dilakukan tapi tidak pernah di expose sehingga tidak diketahui.

Sayangnya, sempat pula ada Turnamen Antarklub dilaksanakan di Jakarta tapi tidak berkelanjutan sehingga data klub tenis tidak terdeteksi. Tapi ada berapa induk organisasi tenis baik tingkat provinsi maupun kabupaten atau kotamadya so pasti bisa diketahui berdasarkan jumlah provinsi dan kabupaten/kotamadya. Tapi sempat pula diadakan di Jakarta turnamen antar provinsi. Sama nasibnya dengan turnamen antar klub tanpa kelanjutannya.

Begitu juga turnamen antarperguruan tinggi. Sempat terlaksana turnamen antarperguruan tinggi. Sayang tidak berlanjut sama nasibnya dengan turnamen antarklub. Begitu pula tenis sudah tidak tercatat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS).

 Kuncinya keberhasilan adalah rutinitas diselenggarakan

Turnamen diselenggarakan baik untuk kelompok junior sebagai bagian dari pemassalan, untuk kelompok umum yang biasa disebut dengan kelas prestasi bagi segelintir orang menamakannya, kemudian kelompok veteran (bukanlah kelas pejuang perang). Istilah veteran tidak digunakan ditingkat internasional tetapi istilah Seniors yang lebih tepat. Sejak dahulu kala sampai saat ini yang paling sering (bukan paling banyak) adalah turnamen veteran. Bahkan induk organisasi yang menangani kelompok veteran (mulai usia 30 tahun keatas) ada 2 organisasi sejak sekitar tahun 2014 lahirlah organisasi baru yang menangani turnamen veteran.

Justru organisasi baru menangani veteran lebih agresif menyelenggarakan turnamen tenis veteran.

Penghormatan Bendera Republik Indonesia diiringi Lagu Indonrsia Raya hanya terjadi sewaktu kunjungan Presiden Republik Indonesia ke manca negara dan juga terjadi ketika dalam upacara pemenang dimulti event maupun team event seperti Davis Cup dan Fed Cup. Jadi suatu kebanggaan jika terjadi hak itu.

Nah betapa pentingnya turnamen itu sendiri patut dipikirkan kembali baik oleh pemerintah maupun induk organisasi olahraga tenis maupun klub tenis itu sendiri.

Saat ini jika ditanyakan kepada atlet tenis baik junior maupun senior apa yang dibutuhkan mereka. Jawabannya apakah butuh raket, bola, atau pelatih tapi kenyataannya bukan itu jawaban mereka. Mayoritas jawabannya sama yaitu "tolong, beri kami turnamen".

Begitu polosnya jawaban diberikan mereka. Yang memprihatinkan sekali sejak terjun jadi petenis yang berkecimpung dalam turnamen nasional 1961, yang sampai saat ini masih terjadi khususnya petenis luar Jawa. Bayangkan sudah 60 tahun kenyataan itu masih terjadi.

Siapa yang peduli nasib mereka, kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Karena hanya satu permintaan mereka adalah berikan turnamen baru bisa menuntut prestasi mereka  Ibaratnya tanpa turnamen tidak akan bis
a nenuntut prestasi.

Yang lebih sedih kalau pemerintah menuntut prestasi tapi kenyataannya lapangan tenis lebih banyak kena gusur khususnya Ibukota Jakarta. ***


* August Ferry Raturandang – penggiat tenis  dikutip dari www.suarakarya,co,kid

Minggu, 25 April 2021

Dampak Positive Dari Pandemi Covid-19

Jakarta,25


April 2021
. Semenjak pandemi Covid-19 melanda dunia maka kegiatan turnamen sempat terhenti termasuk turnamen akbar sekalipun. Tetapi secara bertahap kegiatan itu akan pulih sedemikian rupa karena kegiatan olahraga termasuk salah satu program peningkatan immunitas tubuh manusia.

Hal ini juga diqlami oleh Turnamen Diakui Pelti. Yang sementara pandemi Covid-19 menutup pintu bagi semua kegiatan TDP nasional maupun internasional. Sampai pada tahun 2021 PP Pelti membuka pintu untuk kegiatan TDP Nasional dengan syarat asal mendapatkan ijin oleh Pemerintah Darah setempat. Maka dari itu, turnamen yang pertama masuk dalam kalender TDP Nasional adalah turnamen Piala Rektor UNP di Padang tetapi khusus kelompok  umum sala. 

Memang saat ini yang memenuhi persyaratan adalah kelompok umum karena pesertanya terbatas tidak melebihi 100 peserta untuk putra maupun putri sehingga kalau mau selenggarakan adalah harus terpisah antara putra dan putri. Untuk kelompk yunior sulit untuk diterapkan karena pesertanya cukup besar . Saat ini sekitar 300 peserta bisa terjadi.

Tetapi turnamen tenis tidak berhanti dengan keadaan pandemi Covis-19 ini, ternyata turnamen tenis dimeriahkan oleh turnamen veteran didaerah daerah begitu semaraknya dilaksanakan karena kebutuhan petenis.

Satu satunya turnamen yunior dilaksanakan sejak Oktober 2020 adalah RemajaTenis, dengan syarat jumlah peserta dibatasi. Dibawah 100 peserta. Berbagai cara dilakukan untuk merealisasikan keinginan adakan turnamen.sehingga keluar aturan yang baku tetapi karena turnamen itu kebutuhan atlet maka peminatnya pun banyak. Sehingga timbul organizer turnamen banyak bermunculan muka muka baru. Dampak positive dari situasi ini.

Jumat, 04 September 2020

KETIKA ATLET DIJADIKAN OBYEK

Jakarta, 4 September 2020. Tulisan ini dikutib dari Facebook Tyas Soemarto, wartawan olahraga
Dulu...
Saya selalu bertanya, kenapa hanya di cabang bulutangkis Indonesia bisa menjadi juara dunia?
Selang kemudian saya percaya dengan arti kata warisan dan sejarah, atau juga takdir dalam olahraga.
Menyusul tentunya setelah sebuah keyakinan bahwa satu olahraga tertentu dikuasai oleh segolongan ras tertentu atau negara tertentu.

Karena faktanya sepakbola dari dulu dimiliki Brasil, dan juara dunianya dari negara yg itu2 saja.
Lalu kenapa jagoan lari marathon kebanyakan dari Kenya.
Atau pecatur rata2 terlahir di Uni Soviet.
Dan banyak negara2 lain yg dari "sononya" menguasai satu cabang tertentu.

Sekarang...
Saya tidak lagi berpikir itu adalah takdir, atau karena mengakar dari sebuah sejarah, atau bahkan warisan.
Tentu saja ada sebabnya:
Berawal ketika Indonesia pertama kalinya ambil bagian di Sea Games Kuala Lumpur 1977 dan langsung menjadi juara umum dengan perolehan medali yg di luar perkiraan.
Kemudian disusul dengan gelar juara umum sampai 4x berturut-turut. Saat itu saya berpikir inilah warisan atau takdir bahwa Indonesia adalah memang icon kekuatan olahraga Asia Tenggara.
Sampai dominasi pun dipatahkan di Bangkok 1985, tapi ketika itu Indonesia masih kalah terhormat di posisi kedua. Apalagi dua tahun kemudian, saat Indonesia menjadi tun rumah di tahun 1987, kekalahan dari Thailand itu terbalaskan.

Selasa, 01 September 2020

PELTI Dalam Kenangan ( 2 )


Jakarta, 1 September 2020.Pada tgl  26 Desember 1987, PELTI , induk organisasi tenis Indonesia, berusia 52 tahun. Bagi manusia , pada usia itu bisa dikatakan sudah mencapai kematangan dan kearifan – atau malah mulai memasuki masa pikunnya. Tapi, menerapkan ukuran ini pada sebuah organisasi, kita harus berhati-hati, karena usia organisasi bisa jauh lebih panjang ketimbang usia manusia. Matang tidaknya juga tidak tergantung pada dirinya, tapi di tangan para pengelolanya.
Namun khusus bagi PELTI, pada usianya yang ke 52, tidak mencapai kematangan dan pengalaman seorang manusia pada usia yang sama PELTI, seperti juga umumnya manusia pada usia 50-an, bisa dibilang telah mapan. Telah memiliki cukup asset, secara moral maupun material PELTI terbilang tokoh yag berhasil.

Mari kita lihat. Dalam upaya memasyarakatkan  olah raga tenis, kita saksikan kian merakyatnya olah raga raket ini pada tahun tahun belakangan. Jumlah sekolah tenis, frekwensi pertandingan dan sarana lapangan , meningkat jumlahnya. Para petenis tidak lagi berasal dari kalangan eksklusif atau the haves. Dari segi prestasi , raihan medali emas di turnamen internasional bukan lagi angan-angan.
Toh, berbagai kalangan yang ditanyai menghimbau agar prestasi emas yang diraih PRLTI dan para anggotanya jangan membuat kubu tenis Indonesia itu berpuas diri. Kita belum mampu berbicara lantang di event Piala Davis dan Wimbledon. Puasa diri berarti memberi peluang bagi hadirnya kemunduran padahal semboyan PELTI  adalah “ Pantang Surut “.

Senin, 31 Agustus 2020

PELTI Dalam Kenangan ( 1 )

Let. Jend (Purn) Dr. Ibnu Sutowo

Jakarta, 31 Agustus 2020.Ada satu catatan sejarah penting yang terungkap dilontarkan oleh Ketua Umum PB PELTI ke-III dalam usaha kita melacak sejarah perkembangan PELTI yang telah genap berusia 52 tahun.

Dalam perjalanan sejarahnya PELTIi didirikan hanya dengan gagasan perorangan yang kemudian disepakati oleh sekelompok masyarakat pencinta tenis . Rupanya sejarah ini berulang lagi, di lapangan tenis hard court Senayan yang terletak di pintu IX, jl Asia Afrika (sekarang depan Resto Lembur Kuring). Juga oleh sekelompok pecinta tenis , Jenderal (Purn) DR. AH Nasution, Letjen(Purn) Dr. Ibnu Sutowo, Mayjen (Purn) R. Roesli, Firmansyah, dan Tan Liep Tjiauw.

“ Saat itu kami sedang bermain tenis . Kemudian kita membicarakan activitas PB PELTI yang sepertinya sama sekali tidak terlihat kegiatannya- memang ketika itu terasa kabur tempat kedudukan PB PELTI, apa di DI Yogya yang kebetulan Ketua Umumnya G.P.H Soeryohamidjojo - nah , dari hasil rembukan tersebut saya diminta oleh pak Nasution untuk kembali mengaktifkan PELTI, saya lupa tanggal dan bulannya hanya tahunnya adalah 1956. Ketika itu saya masih bertugas di MABAD, “ jelas Ibnu Sutowo, memperbaiki penulis masa kepengurusannya yang mulai pada tahun 1958-1962.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Petenis " WIMBLEDON" Pertama Indonesia. TAN LIEP TJIAUW


Jakarta, 23 Agustus 2020 . Banyak julukan dan sanjungan diberikan kepada Tan Liep Tjiauw Kampiun  Tenis Indonesia. Pemain tenis paling popular saat itu di Indonesia. Ketika berlaga di arena Grand Slam  Wimbledon, Inggris, Tan Liep Tjiauw mendapat julukan “ Little Tan “ , ia memang bertubuh kecil dan pendek. Ini petenis Indonesia pertama yang  mengikuti Grand Slam Wimbledon, 1953.

Tentang posturnya yang kecil ini, dalam majalah Aneka No 7/1941, dikomentari begini “ Dalam sejarah tenis, banyak pemain kecil yang menjadi juara oleh kelemasan ( keluwesan) dan ketelitian serta ketajaman pukulannya, yang sering dibantu pula oleh siasat muslihatnya, serta kecakapannya mempergunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tapi tak banyak dari pemain pemain kecil ini yang berpukulan keras, ialah karena kecilikannya itu. Antara jumlah yang sedikit itu termasuk Tan Liep Tjiauw, pemain yang terkuat saat itu di Indonesia. Tan Liep Tjiauw adalah salah seorang juara Indonesia yang mempunyai drive forehand topspin yang terkeras, yang pernah diperlihatkan pemain pemain di Indonesia.

Tan Liep Tjiauw lahir di Blitar , 2 Februari 1925, mulai mengayunkan  raket pada usia 9 tahun, Di kota Blitar, kota kelahirannya itu, ia tak perlu khawatir akan langkanya guru guru  tenis  yang baik, karena di sana menetap Kwee Tek Kwan, serta iparnya, Liem Tiang Hok. Pemain tenis yang topspin paling ditakuti. Merekalah yang menempa Tan Liep Tjiauw hingga menjadi pemain yang ditakuti karena memiliki kelengkapan pukulan, termasuk topspin .