Selasa, 30 April 2013

Jika ada sponsor, apa yang mau dilakukan ?

Solo, 29 April 2013. Ditegah tengah pertandingan RemajaTenis Solo-3 , saya sempat berbincang bincang dengan masyarakat tenis Jawa Tengah. Ada yang menarik karena ada pertanyaan yang muncul sehubungan dengan RemajaTenis. Karena selama ini berlangsungtanpa sponsor, maka ketika mendengar atau membaca tentang keinginan fund raising akan dilakukan RemajaTenis. " om kalau sudah dapat sponsor, apa yang mau dilakukan.? " ujarnya. Saya terkejut juga mendengar pertanyaan tersebut. Saya langsung ambil kesimpulam bahwa mereka ini cukup ada perhatian terhadap keberadaan RemajaTenis di Solo. Setelah itu saya langsung katakan kalau banyak dana atau dapat dana dari sponsor tentunya yang akan dilakukan adalah memperhatikan kepentingan sponsor dan setelah itu kepentingan pemain. Banyak idea kalau untuk kepentingan pemain. Bisa saja diberikan reward kepada pemain terbaik atau kepada klubnya. Bentuknya macam macam. "So pasti menarik perhatian tetapi saya tetap konsis dengan aturan yang sudah baku. Jika dilarang beri hadiah uang kepada pemenang maka harus saya jalankan." demikian jawaban yang bisa saya berikan. Saya sendiri tidak mau beberkan bentuk tersebut. Bisa juga seperti aturan main di tenis internasional, yaitu kepada peserta dapat free hospitality , ataupun bentuk lainnya..

Harus bisa bedakan yunior atau senior

Solo, 28 April 2013. Ada satu topik pembicaraan ditengah tengah turnamen RemajaTenis Solo-3. Dari yang ikut berbicara ada yang status pelatih, orangtua maupun anggota pengurus Pelti Jawa Tengah. Kasus atlit Deria Nur Haliza yang meninggalkan turnamen Piala Gubernur DKI Jakarta disemifinal. Dari pembicaraan ini ternyata ada yang menarik yaitu dianggapnya alasannya tepat bagi siatlet karena harus ke Korea membela nama negara dalam ajang internasional Junior Fed Cup. Ini jawaban pembelaan  karena duduk dalam Pelti sehingga apa yang diputuskanitu salah atau benar harus dibelanya. Sayapun mengerti masalah ini. Tetapi ketika saya kemukakan bagi penyelenggara turnamen , tindakan ini adalah melecehkan turnamennya sendiri. Dan harus bisa membedakan turnamen yunior atau senior. Memang sempat mereka beri contoh sering terjadi du turnamen internasional yunior dimana Referee membantu atlet yang harus bertanding dibabak kualifikasi turnamen berikutnya sedangkan dia masih bertanding final. Kasus seperti ini di yunior bisa terjadi tetai di turnamen bukan yunior tidak boleh terjadi. Dan ada hukumannya. Memang sengaja saya ceritakan karena banyak pihak yang suka lupa membedakan antara turnamen yunior dan senior. Hal yang sama juga bafi para wasit. Disinilah peranan pembina untuk bisa juga membedakan kasus per kasus. Dan harus lebih jeli dan agar sportip juga lah

Senin, 29 April 2013

Timbul pertanyaan siapa yang ngatur turnamen

Solo, 29 April 2013. Keberadaan saya dalam setiap turnamen didaerah maupun Jakarta selalu bertemu dengan masyarakat tenis yang menurut saya korban tenis . Ini bentuk banyolan saya katakan kepada mereka jika sedang berkumpul lagi ngerumpi. Sudah dua kali ditahun 2013 di Solo saya berhadapan dengan masyarakat tenis baik itu orangtua maupun pelatih yang datang dari daerah Jawa Tengah maupun Jwa Timur. Saat ini saya sedang libatkan diri dalam pelaksanaan Turnamen RemajaTenis Solo-3 di lapangan tenis Manahan. Ada pertanyaan mengenai kegiatan PB Pelti saat ini, belum lagi masalah keterkejutannya mereka atas pembatalan turnamen internasional Pro-Circuit. Belum lagi masalah kalender TDP yang diterima mereka. Saya ikut sedih kalau bicara masalah seperti ini. Tetapi begitulah yang terjadi. Bahkan lebih kaget lagi sewaktu ada yang bertanya masalah ketidak samaan sesama turnamen 3 hari dalam hal kategori, dimana dikorbankannya RemajaTenis jadi kategori J-9 dari Januari sampai Desember 2013. Padahal Pelti belum pernah keluarkan SK tentang kategori sampai J-9. Kalau dilihat timbul kesan betapa amburadulnya kinerja PB Pelti saat ini khususnya bidang pertandingan. Memang saya akui pendapat mereka tentang amburadulnya bidang pertandingan. Bagaimana tidak muncul kesan betapa gobloknya yang mengatur turnamen diakui Pelti ini. Dan ini diungkapkan langsung kepada saya. Bisa dibayangkan SK RemajaTenis bulan April itu jelas Kategorinya J-8 tapi dikalender tercantum J-9. Belum lagi disebutkan untuk turnamen Piala Apkomindo di Ambarawa dikalender tidak ada kategorinya sedangkan SK yang diterbitkan disebutkan masalah kategori adalah akan ditentukan kemudian. Ini baru aneh bin ajaib. Saya sendiri akui belum pernah kejadian seperti ini dimasa kepengurusan yang lalu dimana dimata mereka gagal, sehingga ada keinginan memperbaiki yang ternyata terbalik keadannya, makin amburadul. Saya sendiri tidak tahu apakah sadar atas perbuatannya itu yang dimata masyarakat tenis lebih memalukan.

"Tidak mungkin turnamen 3 hari itu bisa mempertandingkan tunggal dan ganda." ujar salah satu pelatih kondang di JawaTegah. Karena sangat mengerti masalah pertandingan yang disesuaikan dengan ketentuan baik nasional maupun internasional. Semua pihak yang mendengar pembicaraan saat itu mengakui kalau itu suatu kesalahan besar kalau diijinkan oleh PB Pelti. Timbul kesan kalau bidang yang ngatur tidak tahu aturannya. Kalau benar dugaan ini maka sangat aneh sekali bisa terjadi begitu. "Kasian dong Ketua Umumnya yang jelas jelas tidak tahu ketentuan tenis." ujar salah satu pelatih. "Pak Ferry, siapakah yang menentukan kategori TDP itu.? ujar salah satu pelatih tenis. Merekapun bertanya prosedur sampai keluarnya SK PB Pelti tentang TDP Disini saya ungkapkan sewaktu dulu caranya adalah , masuknya Formulir pendaftaran TDP diterima sekretariat PB Pelti kemudian didisposisikan ke Ketua Bidang Pertandingan untuk mendapatkan persetujuannya. Baru setelah itu ke Ketua Umum  dan ditandatangani setelah ada approval dari Ketua Bidang Pertandingan.

Senin, 22 April 2013

Prepare for the Game by getting Set for the Match

Jakarta, 22 April 2013. Saat ini menurut pengamatan saya sudah cukup banyak petenis yunior Indonesia yang aktip ikuti turnamen tenis baik nasional maupun internasional. Nah, artinya mereka sedang persiapkan diri untuk terjun ke dunia profesional. Tetapi pengamatan saya selama ini keinginan menjadi profesional cukup besar tetapi tidak diikuti dengan cara cara profesional .Seperti mau ikut turnamen yang daftarin bukan atletnya sendiri tetapi diwakilkan baik orangtua (sangat aktip) maupun pelatihnya. Nah akibatnya banyak kejadian kejadian lucu menurut saya. Seperti minta minta tolong karena sudah terlambat daftar dll.
Nah, langkah ada yang harus dilakukan. Untuk Nasional sudah harus punya Kartu Tanda Anggota Pelti (KTA Pelti) dan Internasional harus punya IPIN (International Players Identification Number). Caranya sangat mudah dapatkan IPIN. Bisa lakukan sendiri walaupun banyak yang merengek minta dibuatin. Saya sendiri sering diminta caranya buat, dan saya tidak mau bantu dengan cara tidak lakukan , padahal bisa langsung saja melalui internet. Harus punya email.
Apa yang harus dilakukan setelah ada IPIN. Cek entry deadline turnamen, setelah itu kirim langsung dengan email (internasional). Sekarang juga harus dicek perkembangan entry deadline. Dulu 21 hari sebelumnya dan 14 hari batas waktu pembatalannya. Ini penting juga pembatalan harus dilakukan kalau sudah mendaftarkemudian ada alasan lain sehingga batal.Setelah itu setelah batas waktu pendaftaran maka harus cek status pemain diturnamen tersebut. Bisa dilihat melalui internet juga. Gampang kan,.

Bentuk AFR RemajaTenis sebagai basis majukan tenis

Jakarta, 22 April 2013. Sudah waktunya berbicara bisnis jika ingin maju. Maju dalam hal pertenisan kita ini harus ditangani secara profesional. Artinya dikelola dengan baik sehingga bisa mendatangkan duit agar bisa maju. Memang selama ini saya selenggarakan kegiatan secara iseng saja, artinya dikerjakan sendiri saja. Mulai dari selenggarakan Persami Piala Ferry Raturandang , kemudian selenggarakan National ITF Level-1 coaches course dan juga turnamen antar instansi (ini ada 10 tahun ditinggalkan), turnamen nasional RemajaTenis. Untuk maju maka saya langsung buat satu wadah yaitu AFR RemajaTenis. Lingkup kerjanya juga berkembang , bukan sebagai penyelenggara turnamen saja tetapi berbagai program tenis seperti pelatihan pelatih, coaching clinic maupun lain lainnya Dan harus proaktip keluar mencari pasar istilah kerennya. Dan sayapun sudah mulai lakukan hal ini.Dan tidak perlu malu kalau mau memajukan tenis.
Dalam pemikiran  saya bisa lakukan menjadi agen atlet kepada sponsor. Sebenarnya juga bisa kita lakukan sebagai " calo" atlet dalam rangka PON yang selama ini pantang bagi saya karena duduk dalam kepengurusan Pelti yang dilarang, walaupun ada juga yang lakukan..  Apakah saya mau lakukan hal seperti itu dimana saya sangat anti lakukan karena dampaknya terhadap atlet daerah sendiri akan demotivasi.

" Wani Piro "

Jakarta, 22 April 2013. Ada satu idea didalam benak saya untuk promosi tenis bisa dilakukan dengan cara yang lain. Saya coba memanfaatkan putra saya ini Dino yang sebagai producer dari grup musik CHERRY BELLE yang cukup populer di Indonesia. Sewaktu Dino menikah prosesi acara di resepsi tertunda gara gara rombongan Chery Belle belum datang dan masih dalam perjalanan sehingga tertunda sekitar minimal 30 menit. 
Sewaktu Dino cerita kalau dia ada program Cherry Belle manggung di 33 provinsi dalam satu bulan. Nah, ini dia saya mau coba minta waktu biar hanya 15 menit saja grup ini berkunjung ke lapangan tenis dimana saya sedang menggelar Turnamen RemajaTenis. Pas kan !
Tetapi ternyata Dino juga berpikirnya bisnis alias wani piro bayar Cherry Belle. Kena deh batunya. Untuk menghindar karena dia tahu saya kagak punya duit selenggarakan RemajaTenis maka dia pun pakai alasan kalau acaranya didaerah sangat padat. Ya, kalau niat pasti adajalan, begitulah yang saya pikirkan. Padahal kalau ada duit saya akan bawa Cherry Belle kelapangan tenis dan diajarin main tenis melalui Play & Stay dana beberapa jam saja bisa dan langsung dipublikasikan. Yang untungkan TENIS..Makanya diotak saya sekarang adalah bagaimana bisa mendatangkan DUIT supaya keinginan ini bisa tercapai.

Pemain lecehkan organiser

Jakarta, 22 April 2013. Minggu lalu saya jalan jalan ke Kelapa Gading Sport Club Jakarta untuk nonton turnamen Gubernur DKI Jakarta Open th 2013. Saya sedikit terkejut juga ternyata ada petenis yang lolos ke final tanpa bertanding..Menang tanpa tanding.  Apakah hal ini biasa terjadi. Bisa saja terjadi tapi bukan bisa terjadi, beda. Sayapun cari tahu alasannya atlet tersebut meninggalkan pertandingan. Ternyata dia harus membela tim Indonesia ke Korea untuk ikut Junior Fed Cup.Disinilah masalahnya, karena petenis ini masih status yunior maka petenis tersebut harus mengenal aturan main di turnamen. Karena saya sendiri selaku penyelenggara turnamen merasa kalau atlet ini perlu belajar banyak masalah ini. Dari segi aturan turnamen maka atlet ini sudah kena pelanggaran code of conduct yang nilainya untuk kelompok umum maka dihitung dengan uang yang biasanya diptong dari prize money yag didapat. Penyelenggara kena dilecehkan belum lagi bagi lawannya sendiri dirugikan. Kenapa bisa dirugikan , bukannya lawannya otomatis masuk final dimana prize money dan angka peringkatnya lebih besar. Sesuai aturan untuk mendapatkan angka PNP (Peringkat Nasional Pelti) maka petenis tersebut didapat dari menang bertanding (bukan tanpa tanding). Contoh menang tanpa tanding selain kasus diatas adalah mendapatkan bye. Jadi kalau kasus ini karena masuk ke babak berikutnya bukan karena menang bertanding maka angka peringkatnya dihitung dibabak sebelumnya bukan dibabak berikutnya . Ini aturannya.
Kasus ini sebenarnya dalam catatan saya pernah terjadi diluar Jakarta dimana salah satu petenis nasional meninggalkan tempat pertandingan karena ada event lainnya. Dan oleh Referee , prize moneynya tidak diberikan kepada petenis tersbut. Apakah sekarang Referee turnamen Gubernur DKI Jakarta berani lakukan hal ini, maka saya ragukan karena Refereenya termasuk salah satu anggota pengurus Pelti. Ini menurut pendapat saya pribadi masalah ini...

Mau majukan tenis di daerah

Jakarta, 22 April 2013. Hari ini saya mendapat telpon dari Palembang yang saya belum kenal orangnya. Tetapi dalam pembicaraan pertama adalah dia mau memajukan pertenisan Indonesia khususnya di Sumatra Selatan. Nah,orang seperti ini yang sangat diperlukan sekali. Kenapa tidak hubungi Pelti, ternyata dia sendiri tidak mau karena lebih leluasa berbicara dengan ahlinya (katanya begitu). Ya, setelah itu saya pikir orang seperti ini harus diberikan jalan masuk yang bener, karena kesan didaerah bagi rekan rekan sendiri adalah ini "objekan" sehingga yang jadi prioritas adalah " wani piro"
Saya salut juga ketika dia katakan sudah siapkan dana yang cukup " besar ". Dan saya sanggup jalankan proyek ini. Semoga berhasil saja.