Rabu, 30 Januari 2013

Kenapa tidak boleh selenggarakan Turnamen

Jakarta, 30 Januari 2013. Ketika saya ditanya, sebagai pengurus Pelti kenapa boleh selenggarakan turnamen tenis. Ini pertanyaan saya anggap lucu tapi kelihatannya serius akibat ketidak tahuan saja. Saya kemudian balik bertanya, apakah ada aturan yang melarang. Tapi yang bertanyapun tidak bisa menjawab pertanyaan balik saya karena tidak pernah baca aturan yang baku..Kemudian saya minta agar dibaca ketentuan TDP Nasional yang dibuat oleh PP Pelti, dan saya yakin yang bertanya belum pernah membacaya walaupun pernah selenggarakan turnamen. Banyak juga penyelenggara turnamen lainnya tidak membaca ketentuan TDP tersebut.
Langsung saya jelaskan dalam ketentuan TDP jelas jelas disebutkan kalau penyelenggara TDP itu bisa perorangan, klub, badan hukum dan Pelti.
Tetapi sebenarnya mereka lupa kalau saya dulu lama dibidang pertandingan baik di PB Pelti (1986-1991 kmd 1991-1993) dilanjutkan ke Pengda Pelti DKI (  periode). Melihat selama 2002-2012 dikepengurusan Pelti bidang pertandingan saya anggap masih belum maksimal jalankan fungsinya, disamping banyaknya laporan ketidak beresan pelaksana TDP Nasional lainnya yang tidak ditanggapi maka sayapun berinisiatip membuat percontohan suatu TDP Nasional melalui RemajaTenis. Kalau inipin dipermasalahkan, aneh ya ! 
Sudah waktuny kita semua masyarakat saling mendukung memajukan pertenisan nasional, jangan terpengarus dengan unsul unsur bukan olahraga yang akan merusak tenis sendiri. Indikasi sih ada.

Sayang, Tenis tidak dipertadingkan di SEA Games Myanmar 2013

Jakarta, 30 Januari 2013, Sewaktu berada di Solo 27 Januari 2013 dalam rangka pelaksanaan turnamen RemajaTenis, say terima SMS dari rekan wartawan Kompas Helen. Pertanyaannya adalah apakah Pelti sudah terima surat pemberitahuan dari KOI kalau tenis tidak dipertandingkan di SEA Games. Saya jawab akan dicek ke sekretariat kira kira begitu. Langsung saya cek hali ini melalui BBM ke Sekjen KOI Timbul Lubis. Jawabannya mengiyakan bahkan dikatakan kemarin (mungkin Jumat 25 Jan) Pelti tidak hadir dalam rapat. Setelah itu info ini saya teruskan ke Ketua Umum PP Pelti Maman Wirjawan. Dapat jawaban akan di cek Senin , karena saya tidak tahu kalau dia berada di Bali saat ini.
Setelah itu saya ikuti berita di media masalah Tenis dicoret oleh tuan rumah Myanmar yang punya hak terhadap macam olahraga yang dipertandingkan.
Saya tidak ikuti perkembangan selanjutnya , hanya kemarin saya diminta nomor HP Sekjen KOI dan sudah saya berikan agar Pelti menghubunginya.
Saya komunikasikan ke ITF Development Officer Suresh Menon, berita tersebut dibenarkan kalau Myanmar menolak tenis dipertandingkan. Melihat situasi ini seharusnya Pelti bertindak  kilat dengan mengontak seluruh peserta seperti Malaysia, Filipina, Thailand, Singapore, Brunei Darusalam, Laos untuk protes ke Myanmar. Langsung lobi lobi dilakukan jangan terlambat karena beberapa hari lalu itu baru rencana 6 cabang olahraga ditilak termasul Bulutangkis. Tapi hari ini saya baca Senam dan Tenis yang ditolak sedangkan Bulutangkis dll diterima. Nah, berarti masih bisa untuk berekasi cepat.
Ya, mudah mudahan Pelti bisa berkomunikasi dengan negara tetangga. Memang saya akui rasanya pengurus teras belum punya link dengan petinggi di Asean termasuk dengan Asian Tennis Federation.

Harus berpikiran positip , bukan Negatip

Jakarta, 30 Januari 2013. Kita ini harus berpikiran positip dan jangan negatip, begitulah pandangan rekan Wakil Sekjen PP Pelti Djoko sewaktu saya paparan didepan petiggi Pelti yang baru. Bagi rekan Djoko yang muka baru dalam kepengurusan Pelti, begitu tanggap setelah mendengar argumentasi dari rekan lainnya terhadap keberadaan RemajaTenis. Saya sendiri sampaikan maksud pertemuan ini adalah untuk kedepan dalam tugas pengurus baru. Bukan lagi berbicara masalah tahun lalu. Terlihat ketidak puasan individu terhadap kepengurusan lalu sangat terungkap sekali. Ini sih pendapat pribadi menurut saya. Bukan pedapat institusi. Tugas pengurus baru adalah jangan meniru pengurus lama jika dianggap jelek atau tidak berhasil, tetapi tunjukkan prestasi kerjanya bukan hanya OMDONG doang begitu anak anak sekaramg katakan . Diakuinya pula gagasan RemajaTenis itu gagasan bagus (bukan istimewa) dan sewajarnya Pelti mendukung. Begitu juga diucapkan Ketua Umum PP Pelti sendiri Maman Wirjawan didepan rekan rekan lainnya. Memang jika maksud dan tujuan melihat masa lalu, saya tidak mau berkomentar karena kedatangan saya bukan sebagai anggota pengurus Pelti tetapi sudah keluar dari jalur institusi. Saya hanya butuh keadilan saja terhadap RemajaTenis. Jika dulu banyak suara Pelti tidak adil, apakah sekarang yang dulu bersuara demikian sudah duduk dalam kepengurusan juga akan lakukan hal yang sama ?
Kenapa saya minta keadilan, karena baru beberapa hari kepengurusan yang belum dilantik KONI Pusat sudah perlihatkan ketidak adilannya terhadap keberadaan RemajaTenis. Buktinya SK PP Pelti itu baru keluar 23 Januari 2013, dan itu karena saya desak langsung ke Ketua Umumnya. Indikasi adanya ketidak adilan saya ikuti terus, karena turnamen yang sejenis di Jakarta sudah mendapatkan perlakuan khusus. Apa bedanya , sama sama 3 hari pelaksanaannya. Kok istimewa, aneh betul ya.
Bisa dibayangkan RemajaTenis ditahun 2012 sudah berhasil menggelar 26 kali sedangkan turnamen  lainnya tidak lebih dari 12 kali. Sebenarnya saya mau berikan contoh kepada teman2 bagaimana RemajaTenis itu dilakukan dengan konsep untuk mengatasi problema turnamen yunior selama ini dan tidak ada evaluasi sama sekali baik oleh Pelti maupun penyelenggara. Ada selentingan kalau AFR dulu duduk di Pelti selaku Wakil Sekjen kenapa tidak lakukan evaluasi. Maka saya sudah pernah minta kepada Bidang Pertandingan untuk mengevaluasi laporan laporan Referee sebagai acuan evaluasi turnamen tersebut. Tapi tidak ditanggapi sehingga saya pikir saya buat saja suatu percontohan turnamen yunior. Memang dalam perjalanan RemajaTenis belum sepenuhnya seperti keinginan saya tetapi karena saya sudah serahkan sepenuhnya dalam pelaksanaan RemajaTenis kepada tim khusus maka saya hanya bisa mengevaluasi setelah turnamen. Upaya memperbaiki selalu ada. Kelemahan terletak ke SDM nya, apakah bisa merubah kebiasaan lama ke sistem baru. Tidak semudah itu. Memang keluhan datag kepada saya dan saya langsung jelaskan kepada pelaksana supay mengurangi keluhan keluhan tersebut. Saya senang karena orangtua peserta tidak sungkan sungkan lapor jika ada ketidak beresan pelaksana RemajaTenis. Saya tidak mau seperti contoh diberikan turnamen lainnya bisa terjadi di RemajaTenis, karena saya merasa sebagai pelayan terhadap maysarakat tenis yang butuh turnamen untuk putra dan putrinya.

Hasil pertemuan cukup positip

Jakarta, 29 Januari 2013. Pertemuan dengan petinggi PP Pelti hari Selasa 29 Januari 2013 sore hari disekretariat Pelti Senayan cukup mendapat kesepakatan bersama jika turamen RemajaTenis itu harus didukung oleh Pelti. Memang rada aneh kalau sampai Pelti tidak mendukung karena PP Pelti periode 2007-2012 telah mengakui keberadaan RemajaTenis yang bisa diselenggarakan oleh AFR sejumlah 26 kali diberbagai kota, justru mau tidak didukung oleh PP Pelti periode 2012-2017. Sebenarnya Ketua Umum PP Pelti Maman Wirjawan sendiri sudah menyatakan langsung kepada saya kalau RemajaTenis harus jalan terus karena tujuannya sangat positip. Tetapi rongrongan datang dari anggota pengurus baru begitu gencar sehingga dianggap perlu untuk bertemu. Maman sendiri mau mengakomodir seluruh pendapat masyarakat tenis. Sebenarnya Maman sendiri menjanjikan kepada saya sewaktu pertemuan 4 mata dengannya dibulan Desember lalu kalau turnamen 3 hari ini akan dipanggil untuk memberikan presentasi ke Pengurus Pelti yang baru. Artinya RemajaTenis dan Sportama , tetapi baru RemajaTenis yang dipanggil. Setelah paparan oleh saya sendiri didepan mereka ini disimpulkan RemajaTenis akan jalan terus, bahkan komitmen saya dengan Maman akan membantu 38 RemajaTenis di tahun 2013 Pertemuan tersebut cukup seru karena pertanyaan muncul dari Kabinpres Wailan Walalangi dan Johannes Susanto (pertamdingan) . Kalau Wailan tidak setuju RemajaTenis dijadikan TDP karena tidak ada turnamen 3 hari dikalender ITF. Memang saya tahu dia itu selalu berbicara soal turnamen internasional. Bahkan keinginannya cukup besar untuk diadakan sebanyak mungkin turnamen internasional di Indonesia.Keinginan ini cukup positip jika kita mampu, artinya mampu bukan hanya soal finansial tetapi atlet kita sendiri apakah sudah siap go international. Tentunya semua katakan siap saja. Tapi kita lihat saja buktinya. Padahal kalau mau tahu kondisi tenis di Australia, Amerika turnamen diakhir minggu banyaknya turnamen seabrek abrek. Tapi karena yang berbicara tidak punya anak asuh yunior maka saya paham sekali tidak tahu situasi tenis yunior diluar negeri, ini pendapat saya sendiri. Yang saya tahu ditahun 1989 saya pernah membaca kalender turnamen yunior dikelola oleh asosiasi tenis Australia (Tennis Australia) ada 100 turnamen. Saat itu saya bermimpi juga di Indonesia harus bisa, tai secara bertahap.

Senin, 28 Januari 2013

Urusan dengan Solo sudah rebes

Jakarta, 28 Januari 2013. Sewaktu berada dikota Solo saya sempat bertemu dengan salah satu pengurus Pelti kota Solo. Kesempatan bertemu bagi keduanya sangat menguntungkan kedua belah pihak karena pertemanan selama ini sudah lama berlangsung. Sebelum pelaksanaan RemajaTenis di Solo salah satu pelaksana RemajaTenis mendapatkan tilpon dari Solo yaitu rekan tersebut. Menerima telpon hal yang biasa tetapi ada yang luar biasa. Karena selama ini pelaksanaan dikota Solo tidak ada masalah. Yang saya anggap aneh adalah  permintaan harus ada surat pengantar dari PP Pelti tentang RemajaTenis ini diakui apa tidak. Kok lucu banget ya, selama ini RemajaTenis sudah masuk dalam Kalender TDP yang dikeluarkan oleh PP Pelti sendiri kok awal tahun 2013, masih dipertanyakan. Padahal selama ini cukup gunakan SK PP Pelti selaku TDP. Ini aneh bin ajaib. Tetapi yang lebih hebat lagi akhir kata dalam pembicaraan tersebut disebutkan kalau saya itu sudah tidak duduk dalam kepengurusan baru Pelti periode 2012-2017. Berita saya sudah tidak duduk dikepengurusan baru bisa sampai ketingkat Pengcab, ini kejutan padahal di Pengda sendiri tidak semua tahu. Muncullah dugaan saya ada yang gak beres, ini pasti ada intervensi dari Jakarta , sehingga saya sendiri langsung ke Solo mendampingi petugas RemajaTenis.  Pertanyaan ini sudah saya sampaikan langsung ke Ketua Umum PP Pelti sebelum ke Solo karena menurut saya ini ada intervensi dari Pusat. Dan Ketua Umumpun menjanjikan akan bantu telpon langsung ke Pengcab tapi saya katakan belum perlu.
Sewaktu bertemu dengan pejabat Pelti kota Solo, langsung terungkap kalau sudah diketahui oleh Pelti Jateng maupun Pengcab se-Jateng itu kalau RemajaTenis itu bukan TDP.
Dia pun memberitahu kalau tidak ditanyakan kuatir disalahkan oleh Pengda Pelti Jateng yang notabene pengurus baru dengan muka muka baru. Saya berterima kasih sekali atas keterbukaan rekan saya ini dan juga masih percaya dengan saya sendiri. Inilah kalau masih ada yang berpikiran positip maka amanlah tenis Indonesia.
Sayapun langsung SMS kepada Ketua Pengda Pelti Jateng maupun jajarannya termasuk Pengcab Pelti di Jateng lainnya kalau rumor tersebut tidak benar. Dan diakui sendiri mendengar rumor tersebut.  Sayapun ceritakan kalau di Semarang ada rekan yang menganjurkan keteman temannya agar tidak ikuti RemajaTenis yang jelas jelas bukan TDP dan lebih sadis lagi dikatakan RemajaTenis tahun 2013 akan mati. Tanggapannya cukup singkat kenapa bisa begitu.

Kenapa RemajaTenis tidak ada Ganda

Jakarta, 28 Januari 2013. Teringat satu pertanyaan kepada saya tentang RemajaTenis. "Kenapa RemajaTenis hanya pertandingkan Tunggal saja." Ini bentuk pertanyaan yang sering saya terima langsung atau secara SMS. Pertanyaan bagi oarng awam kita harus maklumi.
Sayapun sampaikan karena RemajaTenis itu termasuk TDP (Turnamen Diakui Pelti) maka semua ketentuan harus tunduk kepada aturan tersebut.
Dalam ketentuan tersebut yang sebenarnya mengacu kepada aturan Internasional, maka setiap hari pemain hanya boleh bertanding maksimum 2 (dua) kali. Nah, jika untuk 3 hari maka maksimum peserta bertanding hanya 6 kali sampai final. Kalau 6 hari maka size of drawnya maksium 64. Kalau size of drawnya 32 maka akan makan waktu 2,5 hari. Artinya dalam sehari harus main 2 kali. Gimana mau main gandanya.
Itu yang perlu dijelaskan kepada semua pihak agar mengerti permasalahannya. Akhirnya setelah dijelaskan maka semua mau menerimanya.

Tudingan RemajaTenis merusak PNP

Solo, 27 Januari 2013. Dalam pembicaraan dengan rekan rekan tenis Jawa Tengah maupun Jogja, muncul pertanyaan terhadap rumor yang berkembang akibat keberadaan RemajaTenis yang dianggap kontroversial. Tudingannya seperti begini. "RemajaTenis itu ngacoin PNP" 
Kok, bisa ya. Memang saya pernah diminta buat peringkat RemajaTenis karena jumlah pertandingannya jauh lebih banyak dibandingkan turnamen yunior lainnya.
Saya pun teringat kejadian waktu itu diawal tahun 2011. Waktu itu oleh Komite Peringkat dibuatlah aturan PNP yang baru meniru ITF juga. Untuk Januari 2011, semua poin tahun 2010 dihapus artinya muai dihitung dari NOL. Nah gimana jadinya karena diawal Januari ada turnamen New Armada. Gimana Referee gunakan atokan peringkatnya untuk menyusun Unggulannya. Untuk kasus Referee ini maka masih digunakan PNP Desember 2010.
Nah, masuk akal muncul ribut diawal Februari 2011, karena PNP dihitung dari TDP Januari 2011. Waktu itu ada TDP New Armada, Sportama dan RemajaTenis. Disini RemajaTenis ada 2 turnamen. Tambah ribut lagi sewaktu PNP Maret, karena menghitung hasil TDP Januari, Februari. Dibulan Februari munculalah 2 TDP RemajaTenis lagi. Sehingga bagi yang waktu itu tidak ikut RemajaTenis, Sportama dan New Armada otomatis tidak muncul namanya di PNP. That's the point..
Setelah dijelaskan masalah ini barulah mau mengerti. Jadi bisa saja RemajaTenis disalahkan padahal keberadaan RemajaTenis itu merupakan kebutuhan atlet sendiri.  

Tudingan terhadap RemajaTenis buat Kategori sendiri

Solo, 27 Januari 2013. Sewaktu berbincang bincang dengan masyarakat tenis muncul dugaan negatip terhadap RemajaTenis. Hal ini pernah juga diungkapkan kepada saya oleh petinggi Pelti di Jakarta. Kesannya saya memainkan kategori turnamen RemajaTenis seenaknya saya. Karena tidak ada penjelasan dari institusi karena belum tahu permasalahannya maka semua itu seperti ditelan saja.
Saya menjelaskan bukan untuk membela diri tetapi agar masyarakat sendiri yang menilainya. Didalam kepengurusan Pelti saat itu, semua formulir pendaftaran TDP diterima sekretariat kemudian diteruskan ke Ketua Bidang Pertandingan untuk dapat disposisi kemudian ke Sekjen dan seterusnya ke Ketua Umum untuk mendapatkan tanda tangannya. Nah, mengenai kategori TDP itu seharusnya dibuat oleh Bidang Pertandingan sendiri tetapi masalahnya tidak ada konsep yang datang dari Bidang Pertandingan sehingga oleh Ketua Umum bersama komite Peringkat dibuatlah aturan Kategori tersebutm sebagai akibat ribut ribut dibuat ketua bidang sendiri.
Jadi, dalam hal ini saya pribadi aupun secara institusi tidak diikut sertakan. Ya, menerima saja apa yang telah ditentukan Ketua Umum sendiri bersama dengan Komite Peringkat