Jakarta,29 Desember 2009. Menerima masukan dari orangtua petenis disela sela pelaksanaan turnamen Pemalang Open di Pemalang berupa SMS awalnya saya belum tergerak hati untuk menelusurinya walaupun sebelumnya saya menyebarkan SMS pula tentang ketentuan TDP baru yang jelas jelas mencantumkan hukuman bagi catut umur tersebut yaitu 1 (satu)tahuh.
Memang disesalkan bagi orangtua adalah sikap Referee yang dianggap tidak menggunakan logika. Anak SMP kelas 2 tahun kelahiran 1997. Apa mungkin ? Jawabannya bisa saja dibilang mungkin dan juga tidak mungkin. Karena saya juga tidak mau asal bicara.
Dalam hal ini sayapun menerima telpon dari salah satu orangtua petenis yang merasakan dirugikan oleh ulah anak tersebut.
Untuk diketahui anak tersebut asalnya dari kota Kudus dimana saya pernah juga menemukan kasus ini dari petenis Kudus. Jadi seolah olah tidak asing bagi saya.
Menurut saya Referee sudah melakukan tugas dengan benar karena anak tersebut sudah memiliki Kartu Tanda Anggota Pelti, sehingga diangap sudah sah sesuai ketentuan TDP. Sikap Referee sudah benar menurut saya. Dan saya menyadari masih banyak kekurangan dari KTA Pelti tersebut karena hanya berdsasrkan FOTO COPY Akte Kelahirannya dan Fotocopy Buku Rapor.
Setelah saya melihat sendiri data di PP Pelti, secara kasep mata data yang diberikan sesuai semua dengan mencantumkan tahun kelahiran 1997. Begitu saya melihat data lainnya baru terlihat ada yang aneh. Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah buku rapor itu ditulis oleh Guru Sekolah atau Orangtua. Kalau memang buku rapor itu ditulis oleh orangtua sendiri, maka persoalan ini saya anggap (karena bukan ahlinya) selesai. Anak itu menang. Tetapi jika buku rapor tersebut ditulis oleh Guru sekolah maka saya bisa katakan itu itu benar data pengisisnnya. Saya teringat pengakuan dari salah satu Orangtua yang terlibat atas kasus curi umur di tahun 2007 lalu, dia katakan sudah tidak asing lagi di Jawa Tengah orangtua memiliki Buku Rapor lebih dari sata. Kok bisa ya !
Dalam hal ini bagaimana jalan keluarnya, saya kira bisa sja jika kita mau berniat memperbaiki pertenisan yunior ini. Ini pendapat pribadi saya, karena induk organisasi bukannya Polisi. Caranya panggil anak tersebut oleh Referee ataupun Panitia tanpa orangtua atau pelatihnya.Dan lakukan investigasi secara perlahan dan halus sehingga ada pengakuannya. Cara lainnya panggil orangtuanya sendiri (jangan pelatih).Dan katakan resiko jika kita laporkan ke Polisi bisa masuk BUI. Karena ini pemalsuan dokumen Negara. Disini butuh kewibawaan dari yang bertanya kepada orangtuanya. Sayang saya tidak di Pemalang, tentunya akan saya lakukan sebagai pribadi bukan Pelti.
Begitu saya terima telpon dari orangtua maka saya katakan so pasti pelatihnya si Anu. Dan dijawabnya benar.
Selasa, 29 Desember 2009
Mengatas namakan AFR tebarkan SMS
Jakarta, 29 Desember 2009. Hari ini saya dikejutkan oleh telpon dari salah satu orangtua petenis dari Palembang. Dia menanyakan tentang masuknya SMS kepadanya yang sangat diragukan kebenarannya sehingga dicobanya menelpon kembali kepada nomer tersebut. Dia cukup mengenal suara saya sehingga kecurigaan tersebut tambah besar setelah merasa suara saya berbeda dengan suara dinomor tersebut. " Apakah ini Pak Ferry?" begitulah pertanyaannya kepada sipenerima telpon tersebut. Dan lucunya yang menerima tersebut mengaku benar adanya kalau dia itu Ferry Raturandang. Karena beda suara maka rekan saya inipun menyampakan keheranannya terhadap perbedaan suara tersebut. " Ya, saya lagi sakit." ujarnya
Bunyi SMS tersebut sebagai berikut. " Nama anak Bp telah msk daftar program pembinaan yunior, yg akan di undang 8 orang atlet dan diseleksi dan di ambil yh terbaik 3 orang. Kami akan undang melalui sekretaris pelti msg daerah. AFRD. Padahal PP Pelti sendiri sudah menyatakan tidak adakan seleksi nasional.
Kemudian SMS kedua berbunyi sebagai berikut." kan bpk pernah bw anak2 ikut PON Tenis dan pengurus Pengcab Pelti Palembang. Saya tahu dari Bapak Yanto via Udin. AFRD."
Dari kedua SMS itu sebenarnya tidak menggunakan nama AFR tetapi AFRD. Itu bedanya tetapi kesan pertama dari sipenerima SMS adalah AFR
Kemudian sayapun dibacakan SMS yang lain intinya menawarkan selenggarakan TDP Nasional di Palembang dengan minta beaya sebesar Rp. 20 juta dan sipengirimnya adalah Ferry Raturandang PB Pelti. Saya sendiri kaget juga mendengar adanya SMS dengan mengatas namakan saya.
Ketika saya tanyakan nomor sipengirim maka diberitahukan yaitu 085628989752242
Tetapi begitulah dinamika pertenisan kita yang saya ikuti langsung selama 20 tahun terakhir. Banyak intrik intrik dilontarkan kepada masyarakat tenis dan bahkan ada yang langsung kepada saya sendiri.
Bunyi SMS tersebut sebagai berikut. " Nama anak Bp telah msk daftar program pembinaan yunior, yg akan di undang 8 orang atlet dan diseleksi dan di ambil yh terbaik 3 orang. Kami akan undang melalui sekretaris pelti msg daerah. AFRD. Padahal PP Pelti sendiri sudah menyatakan tidak adakan seleksi nasional.
Kemudian SMS kedua berbunyi sebagai berikut." kan bpk pernah bw anak2 ikut PON Tenis dan pengurus Pengcab Pelti Palembang. Saya tahu dari Bapak Yanto via Udin. AFRD."
Dari kedua SMS itu sebenarnya tidak menggunakan nama AFR tetapi AFRD. Itu bedanya tetapi kesan pertama dari sipenerima SMS adalah AFR
Kemudian sayapun dibacakan SMS yang lain intinya menawarkan selenggarakan TDP Nasional di Palembang dengan minta beaya sebesar Rp. 20 juta dan sipengirimnya adalah Ferry Raturandang PB Pelti. Saya sendiri kaget juga mendengar adanya SMS dengan mengatas namakan saya.
Ketika saya tanyakan nomor sipengirim maka diberitahukan yaitu 085628989752242
Tetapi begitulah dinamika pertenisan kita yang saya ikuti langsung selama 20 tahun terakhir. Banyak intrik intrik dilontarkan kepada masyarakat tenis dan bahkan ada yang langsung kepada saya sendiri.
Senin, 28 Desember 2009
Tata Cara Petugas Pertandingan
Jakarta, 28 Desember 2009. Setelah kita membahas tata cara pertandingan tanpa menggunakan wasit saya mencoba lagi membahas masalah petugas pertandingannya sendiri seperti di Ketentuan TDP tahun 2010 yang dikeluarkan PP Pelti per tanggal 1 Desember 2009.
Pengetahuan seperti ini sudah waktunya diketahui oleh masyarakat tenis khususnya orangtua petenis yunior yang cukup aktip mendukung putra dan putrinya disetiap TDP Kelompok Yunior. Maksud saya mengangkat ini agar pengetahuan seperti ini diketahui pelaku pelaku tenis di lapangan.
Memang selama ini sepengetahuan saya paling banyak masalah disetiap turnamen adalah turnamen kelompok yunior. Ada ada saja perilaku dilapangan baik oleh orangtua maupun petugas pertandingan. Semuanya ini sangat manusiawi sekali. Petugaspun harus menyadari seluruh kekurangannya. Tetapi sejak dikeluarkannya Ketentuan TDP tahun 2010ini tidak ada alasan lagi tidak mengetahui ketentuan tentang turnamen yunior. Bahkan ada perbedaan dari Ketentuan TDP yang lalu dianggap sudah kadalu warsa oleh segelintir orangtua, bahkan dianggap tidak berlaku lagi. Saya sendiri bukan ahli hukum . Tetapi sepengetahuan saya jika ketentuan tidak ada perubahaan maka ketentuan itu masih tetap berlaku.
PETUGAS PERTANDINGAN
Turnamen tanpa menggunakan wasit maka harus disediakan tenaga wasit keliling/roving umpire. Maka petugas wasit keliling akan mengawasi sekurang kurangnya 2 lapangan dan maksimal 4 lapangan dengan tugas sbb:
1.mengadakan pra meeting dengan pemain yang akan bertanding dengan tujuan untuk
menjelaskan aturan pertandingan yang harus dipatuhi oleh pemain.
2.melakukan undian untuk memilih pemegang servis atau tempat.
3.mencatat seluruh hasil pertandingan dibawah pengawasannya sehingga Referee dapat
melakukan recheck atas hasil akhir.
Perselisihan atas keputusan jatuhnya bola (pertandingan dilapangan keras)
Jika seorang petugas wasit keliling/roving umpire ataupun Refere dimana dia tidak melihat langsung jatuhnya bola, dia harus bertanya kepada pemain yang lakukan Call didaerahnya sendiri . Jika pemain tersebut yakin atas call tersebut maka angka tetap dibenarkan.
Jika Referee ataupun petugas wasit keliling/roving umpire tidak berada dilapangan tersebut maka petugas tersebut harus datang ke lapangan dan memberitahukan kepada pemain kesalahan call dianggap pelanggaran sehingga angka diulang..
Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire dianjurkan tidak terlalu turut campur terhadap perhitungan angka jika tidak dibutuhkan.
Perselisihan atas keputusan jatuhnya bola (khusus lapangan tanah liat/Clay)
Jika seorang petugas wasit keliling atau Referee dipanggil untuk menyelesaikan perselisihan bekas jatuhnya bola, maka dia harus mencari jalan keluarnya dimana pemain sependapat atas dimana bekas jatuhnya bola. Jikalau pemain sepakat dengan yang mana bekas jatuhnya bola, tetapi tidak sependapat dengan bekas jatuhnya bola, maka Referee /petugas wasit keliling harus memutuskan apakah bola tersebut OUT atau IN.
Jika kedua pemain tidak sepakat dimana bekas jatuhnya bola,maka petugas wasit keliling atau Referee mencari jalan keluar dari pemain dengan melihat bentuk pukulan yang dimainkan dan arah dimana bola dipukul. Ini akan membantu untuk memutuskan yang mana bekas jatuhnya bola yang benar. Jika ini tidak membantu maka Call pemain yang dekat dengan bekas jatuhnya bola
Perselesihan Angka
Jika Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire dipanggil ke lapangan untuk menyelesaikan masalah perselisihan angka maka dia harus bertanya jawab dengan pemain untuk angka/game yang benar dimana disetujui pemain. Jika tidak terdapat kesepakatan maka angka akan diulang dari angka sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang pemain menuntut angka 40-30 sedangkan lawannya menuntut 30-40.Bicarakan dengan para pemain dan hanya membicarakan angka yang tidak disetujui . Keputusan yang benar adalah melanjutkan dengan 30-30.
Tetapi jika terjadi perselisihan tentang game maka cara yang sama dilakukan. Contoh seorang pemain menyatakan memimpin 4-3 tetapi lawannya tidak sependapat dan menyatakan bahwa dialah yang unggul 4-3. Keputusan yang benar adalah melanjutkan dengan angka 3-3.
Kejadian kejadian lain
Ada beberapa kejadian lain yang sulit diputuskan karena tidak adanya wasit. Ketidak ada perbedaan masalah lets, not-up( bola jatuh dua kali), foul shoot( bola menerobos net) Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire harus mencari jalan keluar dari pemain pemain tentang apa yang terjadi untuk mendpatkan kepastian atas kejadian kejadian tersebut atau mengulang point tersebut.
Foot faults hanya dapat dilakukan oleh Referee atau Petugas wasit keliling / roving umpire tetapi bukan oleh lawannya sebagai penerima servis tersebut.Jika melakukan teriakan foot faults petugas harus berada dilapangan pertendingan tersebut untuk menyaksikan jalannya pertendiangan tersebut. Tetapi tidak dibenarkan petugas ini berdiri diluar lapangan tersebut.
Coaching (petunjuk) kepada pemain yang sedang bermain merupakan pelanggaran terhadap Code of Conduct hanya bisa ditangani oleh Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire. Jika Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire harus masuk kedalam lapangan secepat mungkin setelah diberitahukan kepada pemain. Keputusan Referee adalah final.
Pemain yang tidak jujur maka akan dikenakan pelanggaran Code of Conduct tentang ketidaksportipan pemain.
CATUT UMUR
Tahun 2007 dalam waktu 7 bulan saya lakukan penelitian atas sekitar 900 petenis yunior yang aktip ikuti TDP Kelompok Yunior, saya bisa menemukan kasus pemalsuan umur. Caranya cukup melihat dari foto copy Akte Kelahiran yang dikirimkan ke TDP Yunior tersebut. Sebenarnya ada banyak lagi keragu raguan saya terhadap beberapa fotocopy Akte Kelahiran karena ada perbedaan angka di akhir tahun kelahiran tsb yang beda dengan 3 angka disepannya. Tetapi saya tidak lakukan pencarian terus karena saya tidak mampu mencari ke tempat temat pertandingan tersebut. Alias capek juga jika bekerja dengan tidak percaya. "Kita harus berpikiran positip."
Jika yang lalu sering ada sindiran terhadap upaya saya ini baik oleh petugas pertandingan karena tidak ada tindakan langsung maka kali ini di peraturan baru ini disebutkan ada huklumannya selama 1 (satu) tahun tidak boleh ikuti TDP baik Yunior maupun kelompok umur. Saya pribadi sebenarnya ingin hukuman seumur hidup tetapi tidak disepakati. Begitulah pendapat pribadi saya terhadap ketentuan tersebut.
Demikianlah sekelumit aturan yang dikeluarkan di Ketentuan TDP Kelompok Yunior tahun 2010.
Pengetahuan seperti ini sudah waktunya diketahui oleh masyarakat tenis khususnya orangtua petenis yunior yang cukup aktip mendukung putra dan putrinya disetiap TDP Kelompok Yunior. Maksud saya mengangkat ini agar pengetahuan seperti ini diketahui pelaku pelaku tenis di lapangan.
Memang selama ini sepengetahuan saya paling banyak masalah disetiap turnamen adalah turnamen kelompok yunior. Ada ada saja perilaku dilapangan baik oleh orangtua maupun petugas pertandingan. Semuanya ini sangat manusiawi sekali. Petugaspun harus menyadari seluruh kekurangannya. Tetapi sejak dikeluarkannya Ketentuan TDP tahun 2010ini tidak ada alasan lagi tidak mengetahui ketentuan tentang turnamen yunior. Bahkan ada perbedaan dari Ketentuan TDP yang lalu dianggap sudah kadalu warsa oleh segelintir orangtua, bahkan dianggap tidak berlaku lagi. Saya sendiri bukan ahli hukum . Tetapi sepengetahuan saya jika ketentuan tidak ada perubahaan maka ketentuan itu masih tetap berlaku.
PETUGAS PERTANDINGAN
Turnamen tanpa menggunakan wasit maka harus disediakan tenaga wasit keliling/roving umpire. Maka petugas wasit keliling akan mengawasi sekurang kurangnya 2 lapangan dan maksimal 4 lapangan dengan tugas sbb:
1.mengadakan pra meeting dengan pemain yang akan bertanding dengan tujuan untuk
menjelaskan aturan pertandingan yang harus dipatuhi oleh pemain.
2.melakukan undian untuk memilih pemegang servis atau tempat.
3.mencatat seluruh hasil pertandingan dibawah pengawasannya sehingga Referee dapat
melakukan recheck atas hasil akhir.
Perselisihan atas keputusan jatuhnya bola (pertandingan dilapangan keras)
Jika seorang petugas wasit keliling/roving umpire ataupun Refere dimana dia tidak melihat langsung jatuhnya bola, dia harus bertanya kepada pemain yang lakukan Call didaerahnya sendiri . Jika pemain tersebut yakin atas call tersebut maka angka tetap dibenarkan.
Jika Referee ataupun petugas wasit keliling/roving umpire tidak berada dilapangan tersebut maka petugas tersebut harus datang ke lapangan dan memberitahukan kepada pemain kesalahan call dianggap pelanggaran sehingga angka diulang..
Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire dianjurkan tidak terlalu turut campur terhadap perhitungan angka jika tidak dibutuhkan.
Perselisihan atas keputusan jatuhnya bola (khusus lapangan tanah liat/Clay)
Jika seorang petugas wasit keliling atau Referee dipanggil untuk menyelesaikan perselisihan bekas jatuhnya bola, maka dia harus mencari jalan keluarnya dimana pemain sependapat atas dimana bekas jatuhnya bola. Jikalau pemain sepakat dengan yang mana bekas jatuhnya bola, tetapi tidak sependapat dengan bekas jatuhnya bola, maka Referee /petugas wasit keliling harus memutuskan apakah bola tersebut OUT atau IN.
Jika kedua pemain tidak sepakat dimana bekas jatuhnya bola,maka petugas wasit keliling atau Referee mencari jalan keluar dari pemain dengan melihat bentuk pukulan yang dimainkan dan arah dimana bola dipukul. Ini akan membantu untuk memutuskan yang mana bekas jatuhnya bola yang benar. Jika ini tidak membantu maka Call pemain yang dekat dengan bekas jatuhnya bola
Perselesihan Angka
Jika Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire dipanggil ke lapangan untuk menyelesaikan masalah perselisihan angka maka dia harus bertanya jawab dengan pemain untuk angka/game yang benar dimana disetujui pemain. Jika tidak terdapat kesepakatan maka angka akan diulang dari angka sebelumnya.
Sebagai contoh, seorang pemain menuntut angka 40-30 sedangkan lawannya menuntut 30-40.Bicarakan dengan para pemain dan hanya membicarakan angka yang tidak disetujui . Keputusan yang benar adalah melanjutkan dengan 30-30.
Tetapi jika terjadi perselisihan tentang game maka cara yang sama dilakukan. Contoh seorang pemain menyatakan memimpin 4-3 tetapi lawannya tidak sependapat dan menyatakan bahwa dialah yang unggul 4-3. Keputusan yang benar adalah melanjutkan dengan angka 3-3.
Kejadian kejadian lain
Ada beberapa kejadian lain yang sulit diputuskan karena tidak adanya wasit. Ketidak ada perbedaan masalah lets, not-up( bola jatuh dua kali), foul shoot( bola menerobos net) Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire harus mencari jalan keluar dari pemain pemain tentang apa yang terjadi untuk mendpatkan kepastian atas kejadian kejadian tersebut atau mengulang point tersebut.
Foot faults hanya dapat dilakukan oleh Referee atau Petugas wasit keliling / roving umpire tetapi bukan oleh lawannya sebagai penerima servis tersebut.Jika melakukan teriakan foot faults petugas harus berada dilapangan pertendingan tersebut untuk menyaksikan jalannya pertendiangan tersebut. Tetapi tidak dibenarkan petugas ini berdiri diluar lapangan tersebut.
Coaching (petunjuk) kepada pemain yang sedang bermain merupakan pelanggaran terhadap Code of Conduct hanya bisa ditangani oleh Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire. Jika Referee atau petugas wasit keliling/roving umpire harus masuk kedalam lapangan secepat mungkin setelah diberitahukan kepada pemain. Keputusan Referee adalah final.
Pemain yang tidak jujur maka akan dikenakan pelanggaran Code of Conduct tentang ketidaksportipan pemain.
CATUT UMUR
Tahun 2007 dalam waktu 7 bulan saya lakukan penelitian atas sekitar 900 petenis yunior yang aktip ikuti TDP Kelompok Yunior, saya bisa menemukan kasus pemalsuan umur. Caranya cukup melihat dari foto copy Akte Kelahiran yang dikirimkan ke TDP Yunior tersebut. Sebenarnya ada banyak lagi keragu raguan saya terhadap beberapa fotocopy Akte Kelahiran karena ada perbedaan angka di akhir tahun kelahiran tsb yang beda dengan 3 angka disepannya. Tetapi saya tidak lakukan pencarian terus karena saya tidak mampu mencari ke tempat temat pertandingan tersebut. Alias capek juga jika bekerja dengan tidak percaya. "Kita harus berpikiran positip."
Jika yang lalu sering ada sindiran terhadap upaya saya ini baik oleh petugas pertandingan karena tidak ada tindakan langsung maka kali ini di peraturan baru ini disebutkan ada huklumannya selama 1 (satu) tahun tidak boleh ikuti TDP baik Yunior maupun kelompok umur. Saya pribadi sebenarnya ingin hukuman seumur hidup tetapi tidak disepakati. Begitulah pendapat pribadi saya terhadap ketentuan tersebut.
Demikianlah sekelumit aturan yang dikeluarkan di Ketentuan TDP Kelompok Yunior tahun 2010.
Minggu, 27 Desember 2009
Turnamen Tanpa Wasit
Jakarta,27 Desember 2009. Di tahun 2009 semarak turnamen tenis makin besar dengan bermunculannya turnamen turnamen nasional baru khususnya kelompok yunior. Disamping itu pula makin banyak turnamen yang sudah merintis dengan pertandingan tanpa wasit seperti yang saya lakukan sejak 1996 di turnamen Persami atau Piala Ferry Raturandang. Sehingga sewaktu menjelang turnamen FIKS Bandung saya pernah terima SMS dari seseorang yang menanyakan soal turnamen FIKS apakah menggunakan wasit atau tidak. Begitu seriusnya sehingga saya perlu juga menulis masalah turnamen ada atau tidaknya wasit. Sebenarnya didunia internasional masalah tidak ada wasit bukan hal yang aneh, dimana banyak petenis Indonesia awalnya sempat kaget juga kalau digunakan tanpa wasit, tetapi sejak melihat sendiri di turnamen internasional di luar negeri baru terbuka matanya masalah tanpa wasit. Sehingga saya perlu juga memberikan informasi sesuai dengan Ketentuan Turnamen Diakui Pelti Kelompok Yunior tahun 2010 yang baru dibuat oleh induk organisasi tenis di Indonesia yaitu PP PELTI.
Jikalau pertandingan tanpa menggunakan wasit maka semua pemain wajib memperhatikan prinsip prinsip dasar sebagai berikut:
1.Setiap pemain bertanggung jawab atas semua TERIAKAN/CALL didaerah
permainannya sendiri
2.Semua teriakan / call OUT atau FAULT harus dilakuhan sesegera mungkin setelah
bola jatuh dan cukup keras sehingga terdengar oleh lawan.
3.Jikalau ragu, pemain harus berikan keuntungan kepada lawannya
4. Jikalau Teriakan/call yang tidak tepat atas bola OUT dan ternyata bola itu MASUK
maka POINT harus diulang kecuali dari perbuatan dia memperoleh keuntungan.
Karena itu pemain yang teriak out akan kehilangan angka/point
5.Pemberi servis harus menyebut angka/score sebelum servis pertama yang cukup keras
agar terdengar lawannya
6.Jika seorang pemain tidak nyaman atas keputusan atau perilaku lawannya maka
berhak memanggil Referee atau petugas wasit keliling atau roving umpire.
Pertandingan yang dimainkan di lapangan tanah liat (clay/gravel) ada beberapa tambahan prosedur untuk seluruh pemain sbb:
1.Bekas jatuhnya bola dapat dilakukan pemeriksaan setelah bola mati atau dihentikan .
2. Jilau pemain tidak yakin atas teriakan/call lawan dia dapat meminta lawan untuk menunjukkan jatuhnya bola. Pemain boleh menyeberang net untuk bekas jatuhnya bola.
3.Jika seorang pemain menghapus bekas jatuhnya bola, pemain tsb akan kehilangan angka
4. Jika tidak ada kesepakatan atas bekas jatuhnya bola, maka Referee/petugas wasit keliling untuk membuat keputusan akhir
5. Jika pemain teriak / call OUT maka pemain tersebut wajib menunjukkan bekas jatuhnya bola.
6. Jika pemain melakukan kesalahan call bola OUT kemudian ternyata bola tersebut IN maka pemain tersebut kehilangan angka.
Jika pemain berlaku tidak jujur dalam mengikuti prosedur diatas maka pemain tersbut dianggap melanggar peraturan dan akan mendapatkan hukuman sebagai pemain yang tidak sportip seperti tercantum dalam Code of Conduct.
Beberapa pertanyaan terhadap prosedur ini harus dikonfirmasikan kepada Referee.
Begitulah sebagai pengetahuan tambahan kepada pemain tenis sehingga semua permasalahan bisa diselesaikan berdasarkan sportivitas yang harus dijunjung tinggi atlet maupun pembinanya. Juga perlu diketahui oleh para orangtua yang sangat mendukung putra dan putrinya diturnamen turnamen di Indonesia. "Asal jangan berlebihan saja."
Jikalau pertandingan tanpa menggunakan wasit maka semua pemain wajib memperhatikan prinsip prinsip dasar sebagai berikut:
1.Setiap pemain bertanggung jawab atas semua TERIAKAN/CALL didaerah
permainannya sendiri
2.Semua teriakan / call OUT atau FAULT harus dilakuhan sesegera mungkin setelah
bola jatuh dan cukup keras sehingga terdengar oleh lawan.
3.Jikalau ragu, pemain harus berikan keuntungan kepada lawannya
4. Jikalau Teriakan/call yang tidak tepat atas bola OUT dan ternyata bola itu MASUK
maka POINT harus diulang kecuali dari perbuatan dia memperoleh keuntungan.
Karena itu pemain yang teriak out akan kehilangan angka/point
5.Pemberi servis harus menyebut angka/score sebelum servis pertama yang cukup keras
agar terdengar lawannya
6.Jika seorang pemain tidak nyaman atas keputusan atau perilaku lawannya maka
berhak memanggil Referee atau petugas wasit keliling atau roving umpire.
Pertandingan yang dimainkan di lapangan tanah liat (clay/gravel) ada beberapa tambahan prosedur untuk seluruh pemain sbb:
1.Bekas jatuhnya bola dapat dilakukan pemeriksaan setelah bola mati atau dihentikan .
2. Jilau pemain tidak yakin atas teriakan/call lawan dia dapat meminta lawan untuk menunjukkan jatuhnya bola. Pemain boleh menyeberang net untuk bekas jatuhnya bola.
3.Jika seorang pemain menghapus bekas jatuhnya bola, pemain tsb akan kehilangan angka
4. Jika tidak ada kesepakatan atas bekas jatuhnya bola, maka Referee/petugas wasit keliling untuk membuat keputusan akhir
5. Jika pemain teriak / call OUT maka pemain tersebut wajib menunjukkan bekas jatuhnya bola.
6. Jika pemain melakukan kesalahan call bola OUT kemudian ternyata bola tersebut IN maka pemain tersebut kehilangan angka.
Jika pemain berlaku tidak jujur dalam mengikuti prosedur diatas maka pemain tersbut dianggap melanggar peraturan dan akan mendapatkan hukuman sebagai pemain yang tidak sportip seperti tercantum dalam Code of Conduct.
Beberapa pertanyaan terhadap prosedur ini harus dikonfirmasikan kepada Referee.
Begitulah sebagai pengetahuan tambahan kepada pemain tenis sehingga semua permasalahan bisa diselesaikan berdasarkan sportivitas yang harus dijunjung tinggi atlet maupun pembinanya. Juga perlu diketahui oleh para orangtua yang sangat mendukung putra dan putrinya diturnamen turnamen di Indonesia. "Asal jangan berlebihan saja."
Senin, 21 Desember 2009
Kesan Mahal di Medan
Jakarta,22 Desember 2009. Sebelum selesainya turnamen Remaja Medan Bangkit, saya sempat berbincang bincang dengan panitia yang disiapkan oleh Pelti Kota Medan sebagai evaluasi kegiatan tersebut di Medan.
Saya sangat tertarik sekali bertemu dan ingin mendengar adanya keluhan dari peserta yang mana disampaikan kepada Panitia setempat.
"Ada keluhan tentang entry fee mahal." ujar Agus dari Panitia. Karena baru kali ini saya menarik entry fee diatas rata rata turnamen Remaja Tenis, yaitu sebesar Rp. 175.000 yang sudah dicantumkan dalam fact sheet maupun entry form turnamen.
Sayapun terangkan kalau adanya kenaikan karena kami sediakan copy CD Wimbledon dan juga US Opebn. Tetapi sayapun katakan tidak semua peserta ditarik entry fee sebesar tersebut, karena kalau ada permintaan langsung dari orangtua kepada saya maka sayapun bisa berikan keringanan. " Tergantung adanya permintaan. Biasanya saya selama ini ada juga yang saya berikan gratis kepada peserta dengan syarat memang belum mampu dan saya kenal." ujar saya kepada mereka. Untuk Remaja Medan Bangkit ada yang ditarik hanya Rp. 150.000 saja. Orangtuanya menelpon saya minta keringanan ini. "Tidak mungkin saya publikasikan kebijakan ini."
Akhirnya saya kemukakan kalau selama ini, Remaja Medan Bangkit termasuk tertib, tidak ada keluhan atau ulah orangtua atapun pelatih yang membuat repot pelaksana pertandingan. Berbeda sekali dengan sewaktu di Jogjakarta. Penyelenggara dikecam keras bahkan rekan pelaksana merasa diteror terus hanya karena tidak diberikan KAOS kepada peserta. Pertentangan masalah tidak disediakan kaos cukup kencang sampai sayapun turun tangan ikut menjelaskan permasalahan tersebut.Masalah kaos cukup membuat masyarakat tenis Jogjakarta merasa kurang senang dengan pelaksanaan Remaja Tenis di D.I.Y. "Citranya negatip." begitulah kesan yang muncul.
Sebelumnya sayapun berpikiran kalau di Medan akan banyak keluhan tentang tidak digunakannya wasit maupun lain lainnya, seperti ikut campurnya keputusan bola out dan masuk oleh orangtua. Ternyata tidak juga.
"Cukup sopan orangtua disini ya !" ujar saya melihat pengalaman selama ini. Yang menjadi kunci sebenarnya , adalah mudahnya informasi diberikan kepada mereka, saya buat himbauan ataupun aturan pertandingan cukup besar sehingga mudah dibaca semua penonton.
Sebenarnya diawal pelaksanaan ada sedikit masalah yang menurut saya yang harus mendapatkan perhatian. Karena kesan mahal justru di SDM yang tersedia di Medan. Khususnya tenaga Wasit dan Ballboys dan juga adanya tenaga Mandor dilapangan tersebut. Awalnya saya hanya berpikir tenaga yang dibutuhkan adalah tenaga Wasit saja yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Karena konsep pelaksanaan turnamen adalah tanpa menggunakan wasit dibabak awal turnamen. Begitu juga tanpa ballboys. Saya sendiri untuk 8 lapangan permintaan saya ( disediakan 9 lapangan) saya minta disediakan 6 tenaga wasit karena saya akan menggunakan wasit hanya khusus KU 10 th, 12 tahun saja. Berarti 4 tenaga wasit di KU 10 dan 12 tahun karena menggunakan 3 lapangan Pelti dan sisanya 5 lapangan cukup 2 tenaga wasit berjalan, sehingga sayapun mengatur budgetnya.
Tiba tiba muncul informasi yang merupakan suatu keharusan adalah tenaga Mandor yang tugasnya adalah mengatur lapangannya. Disediakan 4 tenaga mandor sesuai ketentuan lapangan.
Mulai dari honor yang diinformasikan cukup tinggi kepada saya, dimana melebihi honor wasit internasional di Jakarta. Hal ini tentunya tidak bisa diterima sehingga saya memberikan pilihan sesuai dengan keadaan honor wasit nasional di Jakarta. Mereka ini tidak ada yang wasit nasional. Tetapi akhirnya sayapun menerima budget honor yang disesuaikan dengan honor wasit nasional. Karena saya tidak tahu kalau honor yang dimintakan kepada saya pertama kali itu sebenarnya untuk 2 hari berarti sebenarnya honor yang saya setujui belakangan masih terlalu tinggi. Saya tidak tahu dimana yang salah berikan informasi tersebut. Yang penting adalah turnamen sudah berjalan dengan baik.
Saya sangat tertarik sekali bertemu dan ingin mendengar adanya keluhan dari peserta yang mana disampaikan kepada Panitia setempat.
"Ada keluhan tentang entry fee mahal." ujar Agus dari Panitia. Karena baru kali ini saya menarik entry fee diatas rata rata turnamen Remaja Tenis, yaitu sebesar Rp. 175.000 yang sudah dicantumkan dalam fact sheet maupun entry form turnamen.
Sayapun terangkan kalau adanya kenaikan karena kami sediakan copy CD Wimbledon dan juga US Opebn. Tetapi sayapun katakan tidak semua peserta ditarik entry fee sebesar tersebut, karena kalau ada permintaan langsung dari orangtua kepada saya maka sayapun bisa berikan keringanan. " Tergantung adanya permintaan. Biasanya saya selama ini ada juga yang saya berikan gratis kepada peserta dengan syarat memang belum mampu dan saya kenal." ujar saya kepada mereka. Untuk Remaja Medan Bangkit ada yang ditarik hanya Rp. 150.000 saja. Orangtuanya menelpon saya minta keringanan ini. "Tidak mungkin saya publikasikan kebijakan ini."
Akhirnya saya kemukakan kalau selama ini, Remaja Medan Bangkit termasuk tertib, tidak ada keluhan atau ulah orangtua atapun pelatih yang membuat repot pelaksana pertandingan. Berbeda sekali dengan sewaktu di Jogjakarta. Penyelenggara dikecam keras bahkan rekan pelaksana merasa diteror terus hanya karena tidak diberikan KAOS kepada peserta. Pertentangan masalah tidak disediakan kaos cukup kencang sampai sayapun turun tangan ikut menjelaskan permasalahan tersebut.Masalah kaos cukup membuat masyarakat tenis Jogjakarta merasa kurang senang dengan pelaksanaan Remaja Tenis di D.I.Y. "Citranya negatip." begitulah kesan yang muncul.
Sebelumnya sayapun berpikiran kalau di Medan akan banyak keluhan tentang tidak digunakannya wasit maupun lain lainnya, seperti ikut campurnya keputusan bola out dan masuk oleh orangtua. Ternyata tidak juga.
"Cukup sopan orangtua disini ya !" ujar saya melihat pengalaman selama ini. Yang menjadi kunci sebenarnya , adalah mudahnya informasi diberikan kepada mereka, saya buat himbauan ataupun aturan pertandingan cukup besar sehingga mudah dibaca semua penonton.
Sebenarnya diawal pelaksanaan ada sedikit masalah yang menurut saya yang harus mendapatkan perhatian. Karena kesan mahal justru di SDM yang tersedia di Medan. Khususnya tenaga Wasit dan Ballboys dan juga adanya tenaga Mandor dilapangan tersebut. Awalnya saya hanya berpikir tenaga yang dibutuhkan adalah tenaga Wasit saja yang jumlahnya tidak terlalu banyak. Karena konsep pelaksanaan turnamen adalah tanpa menggunakan wasit dibabak awal turnamen. Begitu juga tanpa ballboys. Saya sendiri untuk 8 lapangan permintaan saya ( disediakan 9 lapangan) saya minta disediakan 6 tenaga wasit karena saya akan menggunakan wasit hanya khusus KU 10 th, 12 tahun saja. Berarti 4 tenaga wasit di KU 10 dan 12 tahun karena menggunakan 3 lapangan Pelti dan sisanya 5 lapangan cukup 2 tenaga wasit berjalan, sehingga sayapun mengatur budgetnya.
Tiba tiba muncul informasi yang merupakan suatu keharusan adalah tenaga Mandor yang tugasnya adalah mengatur lapangannya. Disediakan 4 tenaga mandor sesuai ketentuan lapangan.
Mulai dari honor yang diinformasikan cukup tinggi kepada saya, dimana melebihi honor wasit internasional di Jakarta. Hal ini tentunya tidak bisa diterima sehingga saya memberikan pilihan sesuai dengan keadaan honor wasit nasional di Jakarta. Mereka ini tidak ada yang wasit nasional. Tetapi akhirnya sayapun menerima budget honor yang disesuaikan dengan honor wasit nasional. Karena saya tidak tahu kalau honor yang dimintakan kepada saya pertama kali itu sebenarnya untuk 2 hari berarti sebenarnya honor yang saya setujui belakangan masih terlalu tinggi. Saya tidak tahu dimana yang salah berikan informasi tersebut. Yang penting adalah turnamen sudah berjalan dengan baik.
Ini Medan Bung Bukan Jakarta

Jakarta, 21 Desember 2009. Mempersiapkan kegiatan turnamen tenis lebih berat daripada menyelenggarakannya. Ada kejadian yang saya tidak akan lupa perilaku dari salah satu ofisial turnamen di Medan. Yang bisa dikatakan tidak profesional. Masalahnya diawal pembicaraan sudah setuju tetapi menjelang dimulainya kegiatanmuncullah hal hal yang kurang bisa dipertanggung jawabkan.Padahal PP Pelti telah mengeluarkan SK TDP dan penujukkan dia sebagai Referee.
Selama ini saya pernah menerima keluhan2 dari penyelenggara turnamen nasional atas ulah rekan rekan wasit white badge Indonesia sewaktu menjadi Referee daerah daerah. Bahkan belum lama ini sayapun pernah terima telpon dari penyelenggara agar tidak menugaskan referee yang tahun sebelumnya pernah bertugas diturnamen tersebut. Alasannya bukannya tidak bisa bekerja tetapi meminta fasilitas yang berlebihan kepada penyelenggara dimana penyelenggara merasa dirongrong. Sayapun tidak menyangka perilaku itupun terjadi pada turnamen saya sewaktu mau selenggarakan turnamen nasional yunior.
Beberapa minggu sebelumnya saya mencoba kontak yang bersangkutan minta kesediaan sebagai Referee turnamen Remaja Medan Bangkit 2009. Kesanggupanpun didapatkannya dimana yang bersangkutan sudah menyanggupinya. Seminggu sebelumnya saya menerima email dari yang bersangkutan , menanyakan haknya yaitu honor dan fasilitas fasilitas lainnya. Dan sayapun menjawab sebagaimana lazimnya. Sesuai standar selama ini Remaja Tenis selenggarakan turnamen nasional yunior.
Kemudian saya mendapatkan pertanyaan kalau dia minta sesuai standarnya. Karena saya katakan kalau ini penawaran saya dan berbeda dengan turnamen nasional lainnya, dan dia memakluminya. Tetapi beberapa hari kemudian saya dikejutkan dengan berita dari dia kalau berhalangan dengan alasan mau jadi pengawas ujian karena dia seorang guru sekolah. Alasan inipun saya coba memberikan jalan keluarnya yaitu karena pelaksanaan hari Jumat itu adalah hari libur tentunya tidak ada sekolah yang buka dan apakah mungkin hari sabtunya sekolah ujian.
Tetapi jawaban yang saya terima melalui telpon yang mengatakan kalau orangtuanya pulang haji sehingga tidak bisa ikut tugas. Semua ini seperti tidak ada tanggung jawabnya, maksud saya coba berikan way out siapa yang bisa menggantikannya karena dia berhalangan. Sayapun mencoba cari tahu ke Medan. Ternyata diapun masuk dalam kepanitiaan pelaksanaan dan ditunjuk sebagai koordinator wasit turnamen tersebut.
Secara diam diampun saya lakukan penyeldikan selama dia ikuti rapat rapat panitia. Dapat bocoran kalau dia itu mengungkapkan kalau saya ini beruntung besar kalau gunakan tenaganya dimana saya bisa menghemat akomodasi maupun transportasi pesawat terbang dibandingkan kalau ambil tenaga dari Jakarta. Mendengar hal ini sayapun harus action, dengan berkonsultasi ke PP Pelti dimana saya minta pertanggung jawabannya. Saya juga sewaktu menerima telpon dari yang bersangkutan yang mengatakan ketidak sediannya dengan alasan yang berubah ubah, mencoba menyadarinya kalau PP Pelti telah mengeluarkan SK Ketua Umum tentang Pengkatan tenaga Referee atas nama yang bersangkutan. Tetapi diapun tetap tegar tidak bisa.
Begitu saya mendapatkan penggantinya waktu sudah tinggal 3 hari saja, maka sehari sebelumnya sewaktu tenaga wasit dikumpulkan untuk mendapatkan penjelasan tugas wasit, sayapun melihat yang bersangkutan hadir juga. Besok hari pun saya lihat yang bersangkutan juga hadir . Setiap hari sayapun melihat batang hidungnya di lapangan tenis Kebon Bunga Medan. Sehingga ada rekan tenis di Medan bertanya tanya kenapa dia tidak bertugas. Setelah mendengar penjelasannya maka rekan saya inipun berjanji akan menegurnya karena merasa ikut membesarkan dengan gunakan fasilitas Pelti setempat sewaktu belum menjadi wasit nasional dan internasional.
Ada yang mengusulkan untuk dilaporkan ke Ketua Pelti Kota Medan, tetapi saya tidak mau karena selaku penyelenggara saya yang menghubungi dia, bukan PP Pelti.
Akhirnya sayapun mencari tenaga wasit lokal yang berpredikat wasit nasional diangkat sebagai tenaga asisten referee.
Sempat saya menerima telpon dari yang bersangkutan setelah kembali bertugas dari Malaysia, menanyakan apakah ada pergantian tiket sewaktu bertugas di Malaysia beberapa minggu lalu. Sedangkan tugas ke Malaysia itu bukan tugas dari PP Pelti tetapi keinginan sendiri. "Mana mungkin Pelti mau menanggungnya." Tingkah laku dia saya amati dan pelajari sudah sering saya perhatikan selama ini. Banyak menuntut haknya sedangkan kualitas pekerjaannya belum saya ketahui. Justru itu saya mau melihat sendiri sewaktu di Medan tetapi tidak kesampaian sehingga saya belum bisa menilai kecakapan kerjanya. Karenaselama ini sudah dalam catatan saya beberapa wasit white badge Indonesia belum layak disebut referee. Sudah merupakan tanggung jawab PP Pelti agar menyiapkan tenaga tenaga referee sebagai kebutuhan turnamen nasional, mulai dari wasit nasional. "Mau main pendek atau Panjang ! "
Minggu, 20 Desember 2009
Tidak ada lawan yang lebih tangguh
Medan, 20 Desember 2009. Bertemu teman lama maupun baru merupakan kenikmatan tersendiri, apalagi diseberang jauh disana. Undangan demi undang berdatangan, terutama bermain tenis di Minggu pagi ini. Melihat begitu bahagianya bisa menyenangkan teman teman tentunya tantangan bertanding tenispun tidak akan saya tampik. Menang atau kalah bukan masalah, yang penting bisa bermain tenis, itu yang utama sperti selama ini saya tanamkan ke atlet atlet yunior melalui orangtuanya.
Ternyata keasyikan main tenis sehingga bisa mengeluarkan keringat yang jarang saya dapatkan selama ini. Udara cerah diatas lapangan clay yang berbeda dengan lapangan gravel di Senayan yang namanya adalah redclay. Lapangan pasir bisa digunakan bermain tenis dimiliki lapangan Kebon bunga ada 9 lapangan clay ini.
Turun berpasangan dengan Bendahara Pelti kota Medan melawan ketua panitia Sutan Hasibuan (mantan petenis yunior Medan) dan dr. Kendy yang juga maniak tenis di Medan. Guyonpun tetap mewarnai permainan tenis.
Begitu selesai sayapun menemui rekan AKBP (Purn)Guntur yang juga petenis veteran handal di Medan. " Tidak ada ya lawan yang lebih tangguh. Masak saya bisa menang. Yang bener aja nich." seloroh saya kepada rekan rekan lainnya. " Macam mana nih !" ujar saya menambah panasnya mereka.
Datanglah salah satu pelatih Medan, Andy Irawan yang mendengar keluhan saya ini. "Itu sih mereka peringkat terendah di Medan." ujarnya tidak mau diremehkan. Memang orang Medan tidak mau kalah juga.
Begitulah suasana dilapangan tenis Kebon Bunga sambil menunggu giliran pertandingan Turnamen Remaja Medan Bangkit.
Ini kalipertama saya main tenis di lapangan tenis Kebon Bunga Medan diatas lapangan clay yang agak berbeda dengan lapangan gravel Senayan.
Ternyata keasyikan main tenis sehingga bisa mengeluarkan keringat yang jarang saya dapatkan selama ini. Udara cerah diatas lapangan clay yang berbeda dengan lapangan gravel di Senayan yang namanya adalah redclay. Lapangan pasir bisa digunakan bermain tenis dimiliki lapangan Kebon bunga ada 9 lapangan clay ini.
Turun berpasangan dengan Bendahara Pelti kota Medan melawan ketua panitia Sutan Hasibuan (mantan petenis yunior Medan) dan dr. Kendy yang juga maniak tenis di Medan. Guyonpun tetap mewarnai permainan tenis.
Begitu selesai sayapun menemui rekan AKBP (Purn)Guntur yang juga petenis veteran handal di Medan. " Tidak ada ya lawan yang lebih tangguh. Masak saya bisa menang. Yang bener aja nich." seloroh saya kepada rekan rekan lainnya. " Macam mana nih !" ujar saya menambah panasnya mereka.
Datanglah salah satu pelatih Medan, Andy Irawan yang mendengar keluhan saya ini. "Itu sih mereka peringkat terendah di Medan." ujarnya tidak mau diremehkan. Memang orang Medan tidak mau kalah juga.
Begitulah suasana dilapangan tenis Kebon Bunga sambil menunggu giliran pertandingan Turnamen Remaja Medan Bangkit.
Ini kalipertama saya main tenis di lapangan tenis Kebon Bunga Medan diatas lapangan clay yang agak berbeda dengan lapangan gravel Senayan.
Sabtu, 19 Desember 2009
Remaja Medan Bangkit seperti turnamen internasional
Medan, 19 Desember 2009. Disela sela turnamen nasional Remaja Medan Bangkit 2009 saya sempat bercanda dengan rekan rekan tenis kota Medan. Ketika pertandingan berlangsung langsung saya sampaikan kalau turnamen ini turnamen internasional.
Merekapun kaget mendengar pernyataan saya ini yang sebenarnya ingin bercanda.
"Coba lihat bukan hanya pesertanya , tetapi juga petugas pertandingannya kelihatan semua berwarna hitam hitam. Mulai dari peserta salah satunya berasal dari Malaysia berdarah India , begitu juga ballboysnya berdarah India alias Keling istilah Medannya." ujar saya kepada mereka.
Memang baru di Medan saya menemukan selengkap ini, mulai dari petugas pertandingan (Referee,wasit maupun ballboys) keturunan India berasal dari suku Tamil (Ballboys)kecuali Wasit dan assisten Referee yang berarah India tapi bukan suku Tamil.
Begitulah anthusias pecinta tenis di Medan yang saya lihat ada yang nonkrong dari pagi sampai sore tetap bertahan di lapangan tenis Kebon Bunga Medan.
Haus akan turnaen bukan saja dituukan juga oleh peserta tetapi pecinta tenis, yang hari ini berkumpul sambil menonton pertandingan.
"Kami perlu turnamen kalau mau maju." begitulah ujar salah satu penonton yang saya tidak kenal namanya. Dengan keberadaan turnamen maka otomatis memacu pembinaan atlet tenis dikota Medan dan sekitarnya.
Setelah itu dibutuhkan juga adanya pelatih. Salah satu orangtua peserta dari Kisaran menyampaikan kalau di Kisaran tidak ada pelatih. Yang ada pelatih dari Medan.
Ada juga orangtua yang menghendaki putra dan putrinya berlatih di Jakarta. Bahkan sudah ada 2 petenis putra berlatih di Jakarta tetapi kembali lagi ke Medan. "Saya jadi bingung pelatih mana yang baik untuk putranya." ujar salah satu orangtua dari Pematang Siantar yang putranya sudah berlatih beberapa tahun disalah satu pelatih terkenal di Jakarta. "Karena saya orang Pelti maka tidak ethis mengatakan pelatih A lebih baik daripada pelatih B. Semua pelatih seharusnya baik, hanya hasilnya yang sangat menentukan. Tapi saya tekankan kalau sebagai orangtua tidak perlu takut atau kuatir untuk pindah pelatih, tetapi tentunya berdasarkan evaluasi yang tepat.
Merekapun kaget mendengar pernyataan saya ini yang sebenarnya ingin bercanda.
"Coba lihat bukan hanya pesertanya , tetapi juga petugas pertandingannya kelihatan semua berwarna hitam hitam. Mulai dari peserta salah satunya berasal dari Malaysia berdarah India , begitu juga ballboysnya berdarah India alias Keling istilah Medannya." ujar saya kepada mereka.
Memang baru di Medan saya menemukan selengkap ini, mulai dari petugas pertandingan (Referee,wasit maupun ballboys) keturunan India berasal dari suku Tamil (Ballboys)kecuali Wasit dan assisten Referee yang berarah India tapi bukan suku Tamil.
Begitulah anthusias pecinta tenis di Medan yang saya lihat ada yang nonkrong dari pagi sampai sore tetap bertahan di lapangan tenis Kebon Bunga Medan.
Haus akan turnaen bukan saja dituukan juga oleh peserta tetapi pecinta tenis, yang hari ini berkumpul sambil menonton pertandingan.
"Kami perlu turnamen kalau mau maju." begitulah ujar salah satu penonton yang saya tidak kenal namanya. Dengan keberadaan turnamen maka otomatis memacu pembinaan atlet tenis dikota Medan dan sekitarnya.
Setelah itu dibutuhkan juga adanya pelatih. Salah satu orangtua peserta dari Kisaran menyampaikan kalau di Kisaran tidak ada pelatih. Yang ada pelatih dari Medan.
Ada juga orangtua yang menghendaki putra dan putrinya berlatih di Jakarta. Bahkan sudah ada 2 petenis putra berlatih di Jakarta tetapi kembali lagi ke Medan. "Saya jadi bingung pelatih mana yang baik untuk putranya." ujar salah satu orangtua dari Pematang Siantar yang putranya sudah berlatih beberapa tahun disalah satu pelatih terkenal di Jakarta. "Karena saya orang Pelti maka tidak ethis mengatakan pelatih A lebih baik daripada pelatih B. Semua pelatih seharusnya baik, hanya hasilnya yang sangat menentukan. Tapi saya tekankan kalau sebagai orangtua tidak perlu takut atau kuatir untuk pindah pelatih, tetapi tentunya berdasarkan evaluasi yang tepat.
Langganan:
Postingan (Atom)