Minggu, 02 November 2008

Wasit Minim Pengalaman

Balikpapan, 2 Nopember 2008. Disela sela final tunggal putri Turnamen internasional Asia Oceania (closed) Junior Champs di Balikpapan Tennis Stadium, ada kejadian lucu akibat dari kurang paham atas aturan main ofisial di suatu turnamen tenis.
Ada sejumlah hakim garis disediakan tetapi ada satu yang berlebihan yaitu 2 hakim garis khusus servis yang seharusnya hanya satu. Sedangkan wasit yang memimpin pertandingan berasal dari Kaltim yang sudah ikut di Pekan Olahraga Nasional XII 2008. Ketika ditanyaka. Jaga wilangsung ke wasit tersebut masalah ini setelah selesai pertandingan, mendapatkan jawaban kalau bukan dia yang mengaturnya. Padahal dalam pertandingan tersebut wasit tersebut bisa menolaknya jika pengaturan oleh panpel (koordinator wasit) salah. Ini akibat minimnya pengalaman, tetapi menurut August Ferry Raturandang lebih banyak belajar dari pengalaman.

Suatu saat keputusan hakim garis ini ada yang kurang berkenan dimata penonton sehingga dicemohkan oleh penonton. Karena keputusannya merugikan petenis tuan rumah. Bahkan penonton minta hakim garis tersebut diganti.
August Ferry Raturandang mendengar dan melihat langsung apa yang dilakukan oleh anggota Panpel (koordinator wasit dari Panpel), yang bereaksi untuk memenuhi keinginan penonton dengan memerintahkan agar hakim garis tersebut keluar lapangan dan juga didukung oleh salah satu wasit Kaltim (ikut dalam kepanitian ini) yang sedang menonton. Dan lucunya dengan lugunya hakim garis tersebut ikut keluar dan membuat wasit yang bertugas dilapangan terbengong bengong.

Langsung oleh August Ferry Raturandang memberitahukan petugas koordinator wasit Panpel. " Anda tidak berhak mengeluarkan petugas linesmen saat sedang bertugas dilapangan. Ini tugas Referee. Jadi jangan sekali kali Anda mengambil alih tugas Referee." ujar August Ferry Raturandang mengingatkannya Saat itu juga August Ferry Raturandang menelpon Referee Slamet Widodo yang sedang berada didalam ruangan kerjanya untuk datang kelapangan nomer 4 ini.

Turnamen tenis internasional yang berlangsung didaerah sering dibayang bayangi oleh petugas harus dari Jakarta. Entah siapa yang mengembuskan keharusan tersebut, sedangkan PP Pelti lebih mengarah untuk meningkatkan kemampuan ofisial daerah sendiri sehingga wasit atau ofisial daerah bisa mandiri.

"Benar juga pendapat Pak Ferry , yang mengharuskan wasit daerah yang bertugas di turnamen ini. Kapan lagi kesempatan bisa didapat" ujar Pargiyanto salah satu anggota Pengkot Pelti Balikpapan kepada August Ferry Raturandang di Balikpapan Tennis Stadium. Memang sebelumnya August Ferry Raturandang memberikan masukan kepada Ketua Pengkot Pelti Balikpapan Susan Soebakti didukung pula oleh Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti Johannes Susanto. "Tidak perlu kuatir dengan wasit daerah yang ada. Agar dipaksakan mereka bertugas. Masalah bahasa bisa diatasi dengan didampingi translator saja selama bertugas." ujar August Ferry Raturandang.
Sedangkan Johannes Susanto menyampaikan agar ada penghematan dalam pelaksanaan maka digunakanlah tenaga tenaga setempat, kecuali tenaga Referee yang belum dimiliki daerah.
Dengan menggunakan tenaga wasit daerah membuat Referee bekerja ekstra keras.

Ada kejadian lucu lainnya adalah salah satu wasit minta diganti. Ini terbalik minta diganti bukan diharuskan diganti. "Kenapa ?" janya August Ferry Raturandang. "Abis pemainnya (India)marah marah, dan saya takut dipukul dan bisa saya juga memukulnya." ujar wasit Ade Riski. Oleh Referee Slamet Widodo permintaan ini tidak dilayani. "Tidak ada orang lagi." ujar Referee Slamet Widodo menolak permintaan tersebut.

"Tidak mungkin pemain berani memukul. Kenapa takut ? Pemain cuma gertak saja, kalau sampai berani memukul wasit maka berat hukumannya. Apalagi ini turnamen ITF. Hancur kariernya nanti sebagai petenis."

Langsung oleh wartawan Abor ikut nimbrung menegurnya. " Kamu memalukan. Jaga wibawa wasit."

Sabtu, 01 November 2008

Jessy Tak Berdaya Lawan Noppawan L

2 Oktober 2008. Ternyata Noppawan Leertcheewakarn dari Thailand terlalu kuat bagi Jessy Rompies dalam final Asia Oceania (closed) Junior Championship di Balikpapan Tennis Stadium pagi ini. Tekanan tekanan baik forehand dan backhand Noppawan membuat Jessy sedikit kewalahan. Padahal Jessy memiliki senjata forehand keras yang sedikit bisa menahan serangan serangan Noppawan.

Menurut pengamatan August Ferry Raturandang, Jessy tidak memanfaatkan kelemahan Noppawan dalam servis. Kekurangan ini selayaknya diubah karena Jessy lebih banyak berdiri dibelakan baseline. Tidak seperti Noppawan dalam menerima servis Jessy , selalu berdiri masuk kedalam lapangan, bukan dibelakang garis baseline. Ini salah satu kunci keberhasilan Noppawan yang bisa menekan Jessy baik servis pertama maupun kedua Jessy dalam return service selalu menekan kembli ke Jessy sehingga posisi Jessy adalah ditekan bukan menekan lawan.

Umumnya petenis tuan rumah dlam menerima servis lawan selalu berdiri dibelakang baseline sehingga agak terlambat maju kedepan dan akibatnya banyak menunggu datangnya bola.
Penggunaan backhand slice Jessy banyak membuat Noppawan kesulitan menyerang. Sayangnya oleh Jessy backhand slice bukanlah serangan yang baik digunakannya.

Senjata Noppawan baik forehand maupun backhandnya adalah memukul bola "on the rise" . Ini tidak mudah dilakukan jika sudah terbiasa menunggu bola jatuh karena menggunakan metode topspin. Sebenarnya lebih baik lagi jika menggunakan topspin bukan dengan menunggu bola sudah turun tetapi "on the rise" maka hasilnya lebih cepat dan keras. Ini yang mayoritas dilakukan petenis asing. Sedangkan petenis tuan rumah sebaliknya.

Noppawan Leertcheewakarn (17 th ) mengalahkan Jessy Rompies ( 18 th) 64 62 dalam waktu 1 jam 11 menit.

KTA Pelti tak berlaku di Kudus

Balikpapan, 1 Nopember 2008. Terima telpon dari pelatih Poedo Prayitno yang sedang berada di Kudus, ternyata mendapt berita yang aneh tapi lucu. Setelah pembicaraan mengenai masalah pembinaan daerah ternyata ada yang mau bertanya dari salah satu pelatih Kudus yaitu Arif yang juga berasal dari klub tenis Sukun Kudus.

"Apa betul KTA (Kartu Tanda Anggota ) PELTI tidak berlaku di Kudus.? Yang berlaku adalah KTA Pelti Kudus. " ini pertanyaannya yang cukup mengangetkan, karena baru pertama kali didengar selama ini , dimana PP Pelti sedang gencar gencarnya mensosialisasikan masalah KTA Pelti yang akan digunakan mulai Januari 2009 setiap peserta TDP harus memiliki KTA PELTI.

"Siapa yang bilang?" jawaban August Ferry Raturandang kepada Arif. Menurut Arif berita ini datangnya dari Sunoto SK Ketua Pengkab Pelti Kudus. "Siapa ? Ketua Pengkab Pelti Kudus? " Sepengetahuan August Ferry Raturandang, tahun lalu Sunoto pernah menulis surat ke PP Pelti menyatakan mundur selaku Ketua Pengcab Pelti Kudus. Dan surat itu ditembuskan juga ke Pengda Pelti Jawa Tengah (th 2007).
"Kok sekarang masih menjabat, sepengetahuan saya dia sekarang sebagai wakil Ketua Pengprov Pelti Jawa Tengah. "Kan sudah buang ludah kenapa dihisap lagi. Ha ha ha " uajraAugust Ferry Raturandang.

Oleh August Ferry Raturandang disampaikan kalau KTA Pelti yang dikeluarkan oleh PP Pelti itu berlaku untuk petenis yang mau mengikuti turnamen nasional ( TDP )."Kok repot repot sih nanggapi Sunoto. Yang pasti KTA Kudus tak berlaku di TDP. Tidak masalah karena Kudus tidak ada TDP."

Kamis, 30 Oktober 2008

Tamu dari Tarakan ketemu di Balikpapan

Balikpapan, 30 Oktober 2008. Tamu istimewa hari ini datang dari Tarakan yaitu Ketua Pengkot Pelti Tarakan Drs Achmad Maulana MM bersama Lily Haryanto bertemu di Balikpapan Tennis Stadium disela sela turname tenis internasional Asia Oceania (closed) Junior .
Achmad Maulana bersama Lily Haryanto menyampaikan persiapan Kejurnas Tenis yunior TDP Walikota Tarakan Cup 2008, yang sedianya berlangsung 20-28 Oktober ditunda 25 Nopember – 1 Desember 2008. Berbagai persiapan maupun rencana pelaksanaan termasuk pengadaan akomodasi kepada peserta yang masuk babak utama.
“Terus terang, kami bakal memanjakan peserta terutama mereka yang masuk babak utama. Kami akan menanggung board and lodging-nya selama di Tarakan. Mereka tamu kami yang terhormat,” janji Ketua Pengkot PELTI Tarakan, Drs. Muhammad Maulana MM
Turnamen tenis diakui PELTI (TDP) ini akan mempertandingkan kelompok umur (KU) 10, 12, 14, 16 dan 18 tahun. Kejuaraan yang mendapat restu Walikota Tarakan, Dr. H. Yusuf Serang Kasim, bakal dihelat di GOR Telaga Keramat, Jln. Sungai Sesayap, Tarakan.
Bahkan, dalam kesempatan ini, Maulana yang didampingi Direktur Turnamen, Lily Hariyanto, akan memanjakan peserta yang memiliki ranking (PNP) 1-5 akan ditanggung tiket pesawatnya (KU-18 tahun). “Ini baru akan saya bicarakan dengan Pak Walikota. Kita pokoknya akan memanjakan peserta, baik dari Jakarta (Jawa) atau dari mana pun, termasuk sesama pemain Kalimantan,” imbuh M Maulana. Tetapi hal ini ditanggapi oleh August Ferry Raturandang , agar jangan dilakukan diskriminasi. Jika mau tanggung tiket diberikan kepada peserta babak utama. "Ini baru rencana, dan kalau tidak boleh maka tidak jadi." ujarnya.

Peserta bisa mendaftarkan diri di PP PELTI, Jakarta, Stadion Tenis II, Gelora Bung Karno, Senayan, telepon 021-5710297-98. Informasi lengkap ke Harijanto (0811538565), H Kamaruddin, SE (0551-21620 dan 0822538339), Verdyanto (0551-34940 dan 085246670798), Payong Beda (085246478186). Beaya pendaftaran sebesar Rp. 100.000,-

Achmad Maulana bersama Lily Haryanto menanyakan kesediaan August Ferry Raturandang berkunjung ke Tarakan karena sudah lama tidak sempat datang ke Tarakan."Saya akan datang untuk selenggarakan Piala Ferry Raturandang di Tarakan Terima kasih selama ini undangan ke Tarakan sudah beberapa kali tidak sempat dipenuhi."

Mengamati Permainan Jessy Rompies

Balikpapan, 30 Oktober 2008. Cukup menarik menonton pertandingan tenis antara petenis andalan tuan rumah Jessy Rompies dengan petenis Thailand , Mahajaroenkul di turnamen internasional yunior Asia Oceania (closed) di Balikpapan.
Tertarik karena melihat potensi yang ada di diri Jessy sesuai pengamatan August Ferry Raturandang. Seperti diketahui tennis is a speed and power game, maka jika memiliki kekuatan sebagai modal dari speed and power game maka kemenanganpun akan datang juga.

Jessy Rompies usia 18 tahun sebagai cikal bakal petenis generasi berikut di Indonesia memiliki servis, voli, forehand dan backhand maupun dropshot yang bagus tentunya sudah cukup modal untuk berbicara kedepan.

August Ferry Raturandang masih melihat beberapa kekurangan didiri Jessy yang perlu diperhatikannya. Servis dan voli sebagai senjata utama dalam permainan single, masih belum digunakan dipertandingan hari ini. "Big serve" dalam pertenisan sudah 75 % menguasai kemenangan, demikian teori pertenisan. Menghadapi lawan yang ulet dengan mengandalkan reli reli panjang dan karena lawannya dari Thailand ini cukup konsisten permainannya. sudah harus diperhatikan pola permainan sendiri. Bisa dibayangkan Jessy baru bisa selesikan pertandingan dalam waktu 2 jam, 76(5), 64.
Dari pertandingan ini Jessy hanya terlihat 3 kali saja maju kedepan net untuk lakukan voli dan menghasilkan kemenangan. 5 kali gunakan senjata dropshot yang selalu menghasilkan angka karena lawan bisa tidak bisa menjangkaunya dan hanya satu yang dicapai tapi pengembaliannya ke net.

Kemenangan lawan disebabkan Jessy banyak membuat unforced error, terutama diset pertama, sedangkan pukulan winner Jessy banyak didapat dari forehand drive cukup keras disudut sudut lapangan. hanya sesekali Jessy terlalu bernafsu menyelesaikan permainan tanpa melihat situasi dimana memukulnya. Disini juga ada kelemahan Jessy karena pengambilan bola forehand diatas bahu dan mata, sehingga banyak tenaga dibutuhkan untuk melakukan pukulan keras tersebut.
"Kurang efektip lah. Bisa diubah dengan cara pengambilan "on the rise" dengan menyongsong bola tersebut sehingga pukulan yang tepat adalah setinggi pinggang atau dibawah bahu. Mempersingkat kesempatan lawan untuk kembali ke posisi semula.

Semoga Jessy yang masih muda usia ini bisa lebih melejit jika dilakukan penanganan yang lebih baik. Ini sebagai masukan saja sebagai hasil pengamatan hari ini. Bisa saja benar dan bisa juga salah menurut pelatihnya.

Rabu, 29 Oktober 2008

Hanya 3 petenis tuan rumah bertahan di Balikpapan

29 Oktober 2008. Turnamen tenis internasional Asia Oceania (closed) yang berlangsung sejak 27 Okt - 2 Nop 2008, ternyata hari ini baru selesai diatas jam 23.00 Cukup berat pertandingan size of draw-nya 64 baik putra dan putri ditambah ganda size of draw 32.
Petenis kembali ke hotel sudah larut malam. Belum pernah kejadian seperti yang berlangsung di Balikpapan. Masalahnya adalah lapangan yang digunakan hanya 7 lapangan dengan 1 lapangan untuk latihan.

Kembali ke hotel dengan perut masih belum diisi tentunya akan menurunkan stamina atlet jika tidak bisa mengatur dirinya. Malam ini August Ferry Raturandang belum menerima keluhan dari peserta.
Hari ini bintang muda tuan rumah Grace Sari Ysidora yang mulai menanjak kariernya setelah ditangani oleh pelatih Alfred Raturandang ternyata gagal maju ke babak ketiga . Kalah dengan telak 2 set dari petenis China Zhao Di 16 46. Menurut pelatihnya sekarang Deddy Tedjamukti, hari ini kelihatan Grace bermain dibawah performnya, tetapi Deddy tidak menyebutkan penyebabnya. . Prestasi Grace yang sedang menanjak sangat disayangkan kalau tidak ada peningkatan. Walaupun hal ini dianggap biasa maksudnya kalah atau menang didalam suatu permainan. Jika penangannya dengan salah maka prestasi akan mandek alias berhenti ditempat .Ini yang dikuatirkan oleh August Ferry Raturandang. Semoga tidak terjadi. Dari data ternyata Grace servis pertama banyak yang keluar sehingga daya gempurannya jadi lemah secara teori, dimana jika servis pertama sulit untuk diserang lawannya.

Hari ini petenis tuan rumah yang berhasil adalah Jessy Rompies dan Beatrice Gumulya untuk putri sedangkan putra yang bertahan David Agung Susanto yang berhasil kebabak ketiga setelah kalahkan petenis India Jayaprakash Mohit Mayur 75 61.

Kesempatan berprestasi di turnamen internasional dinegeri sendiri tidak dimanfatkan dengan baik oleh petenis yunior Indonesia, bisa terlihat babak kualifikasi tidak ada, banyak petenis tuan rumah yang mengundurkan diri dari babak kualifikasi. Disayangkan sekali , ada turnamen internasional di tanah Air, tidak perlu harus keluar negeri tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik. Kesempatan mengejar point ITF Junior World raking terlepas.

Selasa, 28 Oktober 2008

Balikpapan Pasca PON XVII 2008

Balikpapan 28 Oktober 2008. Memasuki kota Balikpapan mengingatkan persiapan Pekan Olahraga Nasional XVII Juli 2008. Kompleks tenis yang cukup megah dan menjadi kompleks olahraga terbaik di Indonesia. Walaupun dengan 7 lapangan terbuka dan 1 lapangan stadion terbuka sehingga sangat layak digunakan untuk event tenis internasional. Kesibukan kesibukan sebagai persiapan pembangunan lapangan sudah dilakukan di tahun 2007, kemudian beberapa kali berkunjung ke Balikpapan di tahun 2008 untuk melihat hasil pembangunan kompleks lapangan tenis , apakah layak atau tidaknya digunakan untuk PON XVII.

Tetapi setelah PON XVII selesai memasuki bulan ke 3, ternyata penyelesaian pembangunan belum selesai juga. Terutama finishing dari stadion terbuka masih dalam pengerjaan . Begitu pula dengan penghijauannya kelihatan tidak ada kemajuan berarti. Harus diakui penghijauan ini butuh waktu lama karena penanamannya dengan tanaman yang sangat pendek sekitar 1 meter. Ini butuh waktu sekitar 3-4 tahun baru bisa terlihat penghijauannya. Jikalau saat awal penanamannya dengan pohon yang besar besar maka kondisinya sudah lebih baik lagi. Tidak gersang. Udara Balikpapan memang lebih panas dibandingkan dengan Jakarta. Maklum kota minyak tentunya lebih panas. Dan dekat khatulistiwa.

Kelebihan Provinsi Kalimantan Timur khususnya tenis adalah memiliki kompleks tenis di Samarinda ( 6 lapangan), Balikpapan (8 lap), Tarakan ( 5 lap indoor) dan Tanjung Selor (Bulungan) jika dibandingkan provinsi lainnya. Disamping itu pula dalam rangka persiapan PON XVII, Kaltim disibukkan dengan perhelatan internasional, seperti turnamen Women's Circuit di Balikpapan, Tarakan dan Tanjung Selor. Tetapi masih ada kekurangannya yaitu belum ada turnamen skala nasional. Tahun 2008 kota Tarakan mulai merintis sebagai tuan rumah Turnamen Nasional yunior diakhir Nopember 2008.

Dari fasilitas lapangan yang cukup megah di Kalimantan Timur ini, hanya kota Samarinda yang belum ada kegiatan kegiatan skala nasional maupun internasional. Kesempatan menjadi tuan rumah event internasional masih terbuka yaitu pelaksanaan Davis Cup by BNP Paribas antara Indonesia melawan Kuwait tangal 6-8 Maret 2009. Stadion tersedia sudah memenuhi persyaratan internasional seperti lapangan di Balikpapan. Sebagai tuan rumah sebenarnya lebih ringan dibandingkan jika melaksanakan event Women's Circuit.
Tugas tuan rumah adalah menyediakan lapangan, hotel , tenaga ITF Referee, 2 wasit internasional (White Badge), dan hakim garis.

Diperkirakan beaya yang harus ditanggung adalah honor ITF Referee (US$ 1,000), honor 2 wasit white badge (dari Indonesia) sekitar Rp. 4 jt, hakim garis bisa gunakan wasit2 Kaltim, akomodasi dari ITF Referee (5-6 hari), 2 wasit white badge(sekitar 4-5 hari) dan transportasinya ke Balikpapan. Untuk akomodasi pemain Kuwait ditanggung oleh tim Kuwait. Sedangkan akomodasi tim Indonesia sebaiknya ditanggung tuan rumah sejumlah 4-5 kamar selama 1 minggu.
Sebagai tuan rumah bisa mencari sponsor sendiri untuk menanggulangi beaya beaya tersebut.

Secara pribadi, August Ferry Raturandang berkeinginan terjun langsung mengadakan turnamen Persami Piala Ferry Raturandang ataupun TDP kelompok yunior di Samarinda ataupun Balikpapan. Masalahnya sampai saat ini kesulitan berkomunikasi dengan Pelti Samarinda.

Apakah mungkin keinginan ini bisa terealiser ? Ini semua tergantung kepada masyarakat tenis Kaltim, jika ingin menjadi Pusat Olahraga Nasional , kini tiba saatnya.

Senin, 27 Oktober 2008

Potensi Petenis Bali

27 Oktober 2008. Ada catatan khusus selama ikuti Piala Ferry Raturandang-57 di Singaraja terutama melihat permainan petenis yunior asal Bali. teringat beberapa tahun silam saat Ayu Fani Damayanti bersama Nancy Meitrya tampil di Jakarta ikuti turnamen nasional. Terlihat bakat bakat akan muncul dari Pulau Dewata. Kali ini seperti akan terulang kembali kejayaan petenis putri asal Bali dkancah nasional Menarik sekali perhatian terhadap putri KU 10 tahun. Sempat melihat pertandingan antara Kadek Ayu Sri Yuliadanawati asal Gianyar melawan Gita Purnami asal Jembrana. Kedua kota Kabupaten ini bisa menghasilkan petenis yunior yang cukup lengkap permainannya. Adu reli antara Sri Yuliadanawati dengan Gita Purnami terjadi kejar mengejar angka sampai 5-5 dan tie break, Disini Gita akhirnya kalah.
Menjadi perhatian sekali terhadap cara bertanding dari Gita Purnami yang cara penempatan bola kelawan sesuai target dilakukan seperti latihan sehari hari. Keuletan dari Yuliadanawati membuat Gita akhirnya kalah. Jika cara bertanding seperti ini yaitu keras dan diarahkan kesisi kiri dan kanan lawan tentunya dimasa mendatang jika usia lebih tua dan postur tubuh lebih tiggi maka tidak tertutup kemungkinan akan menjadi atlit2 handal dari Pulau Dewata.

Kedua petenis tersebut berasal dari asuhan pelatih daerah. Jika pelatih2 tersebut dibekali dengan ilmu pengetahuan kepelatihan tenis modern , bisa mempercepat kemajuan kedua petenis tersebut. Bentuk postur Gita lebih rendah atau sama dengan net ( 90 cm) bisa memiliki pukulan lengkap dan keras. Tidak terlihat kalau petenis tersebut tidak takut kalah. Keberanian memukul bola dengan keras sesuai usia mereka patutlah mendapatkan perhatian.

Sewaktu menyaksikan pertandingan KU 12 tahun putri di lapangan Udiksha, August Ferry Raturandang sempat memberikan masukan kepada orangtua petenis karena sempat mendengar suara yang menanyakan kepada atlit. " Kalah atau menang." Demikianlah pertanyaan tersebut. Oleh August Ferry Raturandang dikoreksi. " Janganlah anak anak ditanya kalah atau menang setelah pertandingannya. Ini akan menjadi beban bagi mereka. Harus Menang itu intinya yang tidak boleh diungkapkan langsung baik didepan orang lain atau didepan anak itu sendiri. Mereka harus menikmatai permainan tenis ini." ujar AF Raturandang. " Apa yang ahrus dilakukan ? " ini pertanyaannya.
Yang harus dilakukan adalah bertanya apakah bermainnya menyenangkan. Giring pertanyaannya tentang enjoy dalam permainannya. kemudian pujilah atas pukulan pukulan winner yang dilakukan. Ingat bola out lebih baik dibandingkan bola nyangkut net. Kalau buat kesalahan dalam lakukan pukulannya maka tidak perlu dibesar besarkan kesalahan tersebut.Tujuannya agar anak tersebut tidak disalahkan jika kalah. Biarkanlah anak tersebut yang menyebutkan kalau kalah.

Ditunggal putra yang sempat mendapatkan perhatian adalah final tunggal putra KU 14 tahun, petenis Singaraja Agus Satria yang usianya masih 12 tahun sudah berani main di KU 14 tahun , cukup berbakat dimasa depan karena permainannya juga cukup keras, dapat melayani adu reli dengan Bagas Krisna yang PNP-55. Penanganan yang baik tentunya akan menghasilkan petenis potensi dimasa depan. Inilah harapannya