Jakarta, 3 Nopember 2011. Ada satu pertanyaan lagi keluar dari rekan tenis asal Bandung. "Bagaimana caranya bisa dapat beasiswa keluar negeri untuk anaknya." Ini pertanyaan sudah pernah saya ulas beberapa tahun lalu.
Karena melihat ada petenis Bandung bisa dapatkan beasiswa keluar negeri sedangkan prestasinya didalam negeri masih belum apa apa.
Saya terinagt kalau sering terima email dari pelatih asing di Universitas Amerika Serikat, mencari petenis Indonesia untuk masuk Universitas tersebut dan bisa ikut tim tenis Universitas disetiap kompetisi nasional mereka. Ini kelebihan di negera Paman Sam, kompetisi sangat maju. Banyak atlet dunia asal USA munculnya karena ikut kompetisi di Universitasnya. Bukan hanya tenis saja, tetapi cabang olahraga lainnya juga.
Dan permintaan banyak ke petenis putri dibandingkan putra. Sepengetahuan saya yang diminta adalah petenis berprestasi minimal punya Peringkat di negara sendiri dulu. Tetapi ini juga tidak mutlak, karena ada juga yang belum berprestasi tapi bisa dapat Beasiswa. Kok bisa? Tentunya bisa. Kemungkinannya adalah petenis tersebut mencari sendiri melalui internet. Atau hasil pembicaraan petenis Indonesia yang sudah atau sedang dapat Beasiswa memberikan informasi atau rekomendasi langsung ke pelatih Universitas tersebut.
Setelah itu apa yang harus dipersiapkan sebelum ke USA. Yang pasti kuasai bahasa Inggris dan perbaiki nilai TOEFL. Makin bagus kalau nilainya bagus juga. Setelah itu sepengetahuan saya atlet tersebut diminta kirimkan video bermain tenisnya. Saat ini bukan masalah kirimkan video keluar negeri, karena ada internet.
Tentunya kalau dianggap bagus maka akan dipanggil ke USA.
Ya, silahkan mencoba siapa tahu nasibnya beruntung.
Kamis, 03 November 2011
Pengertian fasilitator , beda persepsi
Jakarta, 3 Nopember 2011. Ada satu percakapan saya beberapa hari lalu mengenai istilah fasilitator sebagai petinggi induk organisasi olahraga tenis di Indonesia. Memang duduk sebagai anggota pengurus olahraga itu tidak enak karena mendapatkan sorotan negatip selalu.
Nah, percakapan ini menyangkut hal mutasi atlet yang selalu terjadi menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang tidak bisa dihindari. Kali ini dibuat aturan pembatasan usia dengan harapan setiap daerah bisa membina atletnya sendiri mengikuti PON tersebut. Tetapi atuarn sudah dibuat dengan tujuan cukup mulia tetapi dalam pelaksanaannya selalu tetap terjadi juga baik dilakukan oleh tuan rumah maupun lainnya. Tuan rumah berharap sukses pelaksanaan juga sukses pretasi. Nah pengertian sukses prestasi ini sering bermacam ragam.
Penyakit lama dilakukan pembina dari tuan rumah PON selalu mencari atlet daerah lain agar bisa sukss prestasi. Memamng cara ini " murah " dalam beaya dibandingkan membina atlet sendiri yang belum pasti jadi. Ini karena pembina tersebut bukanlah pembina sejati. Hanya karena duduk dalam kepengurusan olahraga. Dengan dalih telah menggunakan dana pemerintah daerah maka wajib hukumnya sukses prestasi. Menurut saya ini cara pintas dalam membina.
Saya pun menyampaikan kepada rekan saya tersebut masalah memfasilitasi keinginan tuan rumah untuk sukses prestasi. Tetapi bukannya terjun langsung mencari atlet daerah lain dalam transaski jual beli.
Saya tekankan sewaktu PON 2004 dan 2008 di Palembang dan Kaltim dimana saya waktu itu sebagai Technical Delegate ( Kaltim saya duganti sewaktu PON saja).
Saya tidak lupa waktu diminta di PON 2004, oleh dua daerah. Saya kemudian berikan nasehat atau petunjuk caranya berprestasi baik mulai periapan Pra PON sampai PON. Yaitu aktip ikut turnamen turnamen sebanyak mungkin. Dan waktu itu kedua daerah itu tanpa gunakan atlet daerah lain bisa lolos ke PON tanpa ikuti Pra PON.
Sewaktu PON Kaltim, saya diminta rekan dari Kaltim. Apa yang saya lakukan adalah beri data atlet yunior yang berpotensi kedepan, karena saya tahu mereka itu tidsk faham terhadap peta kekuatan pertenisan nasional. Setelah itu saya serahkan mereka negosiasi langsung kepada atlet yang diminati. Jadi saya tidak ikut ikutan bernegosiasi dengan atletnya.
Sebagai contoh PON Kaltim, saya usulkan saja ke Pelti Sumut untuk menghbunngi 2 atlet dari Bandung yaitu Grace Sari Ysidore dan Tito Huthuruk. " Kenapa kalian harus cari alet lain sedangkan ada atlet berdarah Sumut di Bandung (waktu itu masih yunior) berpotensi." ujar saya kepada rekan rekan Pelti Sumut. Setelah itu saya tidak tahu kelanjutannya dalam mereka bernegosiasi.
Saya sempat pula berdebat dengan orangtua atlet yang bernafsu mencari daerah yang butuh atlet. Tetapi saya tetap mengingatkan mereka cara pandang di dunia aturan PON yang berbeda dengan ketentuan lainnya. Beda pendapat ini bisa terjadi juga dengan rekan rekan di kepengurusan induk organsisasi olahraga. Saya tetap mengacu kepada ketentuan PON yang dibuat oleh KONI.
Bahkan ada rekan saya yang mengatakan menurut pengacaranya kalau sudah habis kontrak maka atlet bebas pindah daerah lain. Pandangan ini sama dengan pandangan orangtua yang anaknya setelah PON beralhir berlomba lomba minta pindah mumpun masih jauh PON nya. Lucunya pindahnya tidak sebutkan pindah kedaerah tertentu. "Yang penting saya bebas dulu baru mencari provinsi yang mau bayar lebih tinggi." Ini jelas saya tentang sekali.
Nah, percakapan ini menyangkut hal mutasi atlet yang selalu terjadi menjelang Pekan Olahraga Nasional (PON) yang tidak bisa dihindari. Kali ini dibuat aturan pembatasan usia dengan harapan setiap daerah bisa membina atletnya sendiri mengikuti PON tersebut. Tetapi atuarn sudah dibuat dengan tujuan cukup mulia tetapi dalam pelaksanaannya selalu tetap terjadi juga baik dilakukan oleh tuan rumah maupun lainnya. Tuan rumah berharap sukses pelaksanaan juga sukses pretasi. Nah pengertian sukses prestasi ini sering bermacam ragam.
Penyakit lama dilakukan pembina dari tuan rumah PON selalu mencari atlet daerah lain agar bisa sukss prestasi. Memamng cara ini " murah " dalam beaya dibandingkan membina atlet sendiri yang belum pasti jadi. Ini karena pembina tersebut bukanlah pembina sejati. Hanya karena duduk dalam kepengurusan olahraga. Dengan dalih telah menggunakan dana pemerintah daerah maka wajib hukumnya sukses prestasi. Menurut saya ini cara pintas dalam membina.
Saya pun menyampaikan kepada rekan saya tersebut masalah memfasilitasi keinginan tuan rumah untuk sukses prestasi. Tetapi bukannya terjun langsung mencari atlet daerah lain dalam transaski jual beli.
Saya tekankan sewaktu PON 2004 dan 2008 di Palembang dan Kaltim dimana saya waktu itu sebagai Technical Delegate ( Kaltim saya duganti sewaktu PON saja).
Saya tidak lupa waktu diminta di PON 2004, oleh dua daerah. Saya kemudian berikan nasehat atau petunjuk caranya berprestasi baik mulai periapan Pra PON sampai PON. Yaitu aktip ikut turnamen turnamen sebanyak mungkin. Dan waktu itu kedua daerah itu tanpa gunakan atlet daerah lain bisa lolos ke PON tanpa ikuti Pra PON.
Sewaktu PON Kaltim, saya diminta rekan dari Kaltim. Apa yang saya lakukan adalah beri data atlet yunior yang berpotensi kedepan, karena saya tahu mereka itu tidsk faham terhadap peta kekuatan pertenisan nasional. Setelah itu saya serahkan mereka negosiasi langsung kepada atlet yang diminati. Jadi saya tidak ikut ikutan bernegosiasi dengan atletnya.
Sebagai contoh PON Kaltim, saya usulkan saja ke Pelti Sumut untuk menghbunngi 2 atlet dari Bandung yaitu Grace Sari Ysidore dan Tito Huthuruk. " Kenapa kalian harus cari alet lain sedangkan ada atlet berdarah Sumut di Bandung (waktu itu masih yunior) berpotensi." ujar saya kepada rekan rekan Pelti Sumut. Setelah itu saya tidak tahu kelanjutannya dalam mereka bernegosiasi.
Saya sempat pula berdebat dengan orangtua atlet yang bernafsu mencari daerah yang butuh atlet. Tetapi saya tetap mengingatkan mereka cara pandang di dunia aturan PON yang berbeda dengan ketentuan lainnya. Beda pendapat ini bisa terjadi juga dengan rekan rekan di kepengurusan induk organsisasi olahraga. Saya tetap mengacu kepada ketentuan PON yang dibuat oleh KONI.
Bahkan ada rekan saya yang mengatakan menurut pengacaranya kalau sudah habis kontrak maka atlet bebas pindah daerah lain. Pandangan ini sama dengan pandangan orangtua yang anaknya setelah PON beralhir berlomba lomba minta pindah mumpun masih jauh PON nya. Lucunya pindahnya tidak sebutkan pindah kedaerah tertentu. "Yang penting saya bebas dulu baru mencari provinsi yang mau bayar lebih tinggi." Ini jelas saya tentang sekali.
Kamis, 20 Oktober 2011
Tidak tahu diri
Jakarta, 20 Oktober 2011. Pengalaman baru di Palembang sewaktu jalankan tugas sebagai wakil direktur turnamen Garuda Indonesia Champs yang merupakan gabungan turnamen Men's Futures($ 15,000) dan Women's Circuit ($ 25,000).
Sebelumnya setiap rapat INASOC (Indonesia SEA Games Organizing Committee) saya selalu membanggakan kalau Stadion Tenis Jakabaring yang pertama kali selesai dibangun dibandingkan venue cabang olahraga lainnya.
Sudah berkali kali berkunjung ke Palembang baik sendiri sendiri maupun bersama Ketua Umum dan Sekjen PP Pelti, pengarahan langsung ke rekan Pelti Sumsel yang ikut mendampingi, dilakukan baik oleh Ketua Umum dan Sekjen, saya berharap semua itu sudah dilakukan atau dilaksanakan pada kunjungan berikutnya. Tetapi ternata tidak ada action.
Tiba hari Jumat 23 September 2011 siang dimana saat itu Ketua Panpel Tenis Aga Soemarno tiba lebih awal karena saya alami kesulitan booking pesawat terbang pagi. Saya kaget setengah mati melihat kondisi lapangan tenis Jakabaring, karena seluruh toilet dalam kondisi sangat kotor dan tidak ada air sehingga banyak atelt khususnya putri dari manca negara sudah latihan tetapi ingin kebelakang tidak bisa karena belum ada air. Ini masalah besar. Belum lagi lapangan tidak ada backdropnya yang sudah lama diberitahukan harus ada karena bola bisa pecahkan kaca kaca disana kalau tidak ditutup. Ketika ditanyaan selalu dapat jawaban sebentar lagi.Referee pun sudah katakan kenapa memilih tempat ini unuk pertandingan internasional. "Ini belum siap." diapun tidak mengerti kenapa dibuat di Jakabaring. Dan saya tidak mau terangkan karena melihat Referee sudah marah marah, menurut saya lebih baik didiamkan.Dan saya tidak bisa berbuat apa apa walaupun sudah mengeluh dengan rekan di Palembang. Bantuan Firdaus salah satu rekan di Palembang cukup banyak karena saya arus persiapkan kebutuhan turnamen yang masih nol besar sepertiperalatan pertandingan yaitu Ice cooler, stringer . Terpaksa keluar kocek sendiri berbelanja di Carrefour Palembang beli 5 ice cooler seadanya. Masalah stringer yang merupakan salah satu persyaratan turnamen belum tersdia. Saya hanya dijanjikan oleh salah satu rekan di Palembang. Bahkan turnamen sudah mulai dimana Referee sudah marah marah melihat amburadulnya fasilitas di Jakabaring, saya kejar petugas yang janjikan adanya stringer tersebut, tetai selalu dapat jawabannya, nanti nanti terus. Akhirnya senin pagi saya bersama Firdaus keluar sendiri ke toko Sport Seth di Palembang, bertemu dengan pemilik yang dikenal dengan nama Bitu. Surat yang dibutuhkan langsung saya kontak Jakarta agar dikirimkan surat dari PP Pelti. Dalam waktu 15 menit surat sudah masuk. Uusanpun bisa selesai karen dikirimkannya besok harinya. Saya pun mempunyai idea agar Referee Nitin tidak ngamuk terus dengan perkenalkan dengan Bitu karena sama sama dari India. Lancar sudah kemarahan Refere bisa diredam.
Kebetulan saya harus berangkat ke Jakarta Selasa 27 September 2011 karena ada rapat INASOC. Masalah pagi Senin 26 Sptember adalah tetap air yang belum nisa mengalir. Karena belum ada Koordinasi antara PDAM dan PLN. Air sudah ada di tangki darurat. Dalam dua hari ini setiap pagi selalu ada masalah khususnya belum lancarnya air mengalir, dan Refereepun tidak mau jalankan turnamen jika air belum lancar. Ya, saya katakan tunggu saja.
Sewaktu saya kembali ke Jakarta, Ketua Umum dan Sekjen ke Palembang dan bertemu di bandara Sultan Mahmud II.Langsung meninjau lapangan dimana ditemukan masalah yang sama yaitu air belum mengalir.
Besoknya saya kembali ke Palembang, dan dapt laporan kalau rekan saya dari Palembang menyampaikan laporan yang memojokkan saya atau menjelek jelekan saya. Dikatakan hanya jalan jalan, padahal semua informasi semua dia yang pegang dan tidak pernah diteruskan ke rekan rekan lainnya. Ya begitulah nasib jika sudah berusaha untuk kebaikan Palembang ternyata justru diputar balikkan. Lebih sedih lagi sewaktu saya berikan kaos panpel Garuda Indonesia, rekan ini minta kaos untuk ketua Pengprov Pelti Pelti dan saya berikan semua 4 pcs. Tetapi ternyata tidak satupun diberikan sama Ketua Pengprov Pelti Sumsel.
Memang tidak tahu diri..ini biangnya sehingga kemerosotan tenis Sumsel berada ditangannya yang selaku manis didepan saya tetapi akhirnya saya tahu siapa dia sebenarnya.
Sebelumnya setiap rapat INASOC (Indonesia SEA Games Organizing Committee) saya selalu membanggakan kalau Stadion Tenis Jakabaring yang pertama kali selesai dibangun dibandingkan venue cabang olahraga lainnya.
Sudah berkali kali berkunjung ke Palembang baik sendiri sendiri maupun bersama Ketua Umum dan Sekjen PP Pelti, pengarahan langsung ke rekan Pelti Sumsel yang ikut mendampingi, dilakukan baik oleh Ketua Umum dan Sekjen, saya berharap semua itu sudah dilakukan atau dilaksanakan pada kunjungan berikutnya. Tetapi ternata tidak ada action.
Tiba hari Jumat 23 September 2011 siang dimana saat itu Ketua Panpel Tenis Aga Soemarno tiba lebih awal karena saya alami kesulitan booking pesawat terbang pagi. Saya kaget setengah mati melihat kondisi lapangan tenis Jakabaring, karena seluruh toilet dalam kondisi sangat kotor dan tidak ada air sehingga banyak atelt khususnya putri dari manca negara sudah latihan tetapi ingin kebelakang tidak bisa karena belum ada air. Ini masalah besar. Belum lagi lapangan tidak ada backdropnya yang sudah lama diberitahukan harus ada karena bola bisa pecahkan kaca kaca disana kalau tidak ditutup. Ketika ditanyaan selalu dapat jawaban sebentar lagi.Referee pun sudah katakan kenapa memilih tempat ini unuk pertandingan internasional. "Ini belum siap." diapun tidak mengerti kenapa dibuat di Jakabaring. Dan saya tidak mau terangkan karena melihat Referee sudah marah marah, menurut saya lebih baik didiamkan.Dan saya tidak bisa berbuat apa apa walaupun sudah mengeluh dengan rekan di Palembang. Bantuan Firdaus salah satu rekan di Palembang cukup banyak karena saya arus persiapkan kebutuhan turnamen yang masih nol besar sepertiperalatan pertandingan yaitu Ice cooler, stringer . Terpaksa keluar kocek sendiri berbelanja di Carrefour Palembang beli 5 ice cooler seadanya. Masalah stringer yang merupakan salah satu persyaratan turnamen belum tersdia. Saya hanya dijanjikan oleh salah satu rekan di Palembang. Bahkan turnamen sudah mulai dimana Referee sudah marah marah melihat amburadulnya fasilitas di Jakabaring, saya kejar petugas yang janjikan adanya stringer tersebut, tetai selalu dapat jawabannya, nanti nanti terus. Akhirnya senin pagi saya bersama Firdaus keluar sendiri ke toko Sport Seth di Palembang, bertemu dengan pemilik yang dikenal dengan nama Bitu. Surat yang dibutuhkan langsung saya kontak Jakarta agar dikirimkan surat dari PP Pelti. Dalam waktu 15 menit surat sudah masuk. Uusanpun bisa selesai karen dikirimkannya besok harinya. Saya pun mempunyai idea agar Referee Nitin tidak ngamuk terus dengan perkenalkan dengan Bitu karena sama sama dari India. Lancar sudah kemarahan Refere bisa diredam.
Kebetulan saya harus berangkat ke Jakarta Selasa 27 September 2011 karena ada rapat INASOC. Masalah pagi Senin 26 Sptember adalah tetap air yang belum nisa mengalir. Karena belum ada Koordinasi antara PDAM dan PLN. Air sudah ada di tangki darurat. Dalam dua hari ini setiap pagi selalu ada masalah khususnya belum lancarnya air mengalir, dan Refereepun tidak mau jalankan turnamen jika air belum lancar. Ya, saya katakan tunggu saja.
Sewaktu saya kembali ke Jakarta, Ketua Umum dan Sekjen ke Palembang dan bertemu di bandara Sultan Mahmud II.Langsung meninjau lapangan dimana ditemukan masalah yang sama yaitu air belum mengalir.
Besoknya saya kembali ke Palembang, dan dapt laporan kalau rekan saya dari Palembang menyampaikan laporan yang memojokkan saya atau menjelek jelekan saya. Dikatakan hanya jalan jalan, padahal semua informasi semua dia yang pegang dan tidak pernah diteruskan ke rekan rekan lainnya. Ya begitulah nasib jika sudah berusaha untuk kebaikan Palembang ternyata justru diputar balikkan. Lebih sedih lagi sewaktu saya berikan kaos panpel Garuda Indonesia, rekan ini minta kaos untuk ketua Pengprov Pelti Pelti dan saya berikan semua 4 pcs. Tetapi ternyata tidak satupun diberikan sama Ketua Pengprov Pelti Sumsel.
Memang tidak tahu diri..ini biangnya sehingga kemerosotan tenis Sumsel berada ditangannya yang selaku manis didepan saya tetapi akhirnya saya tahu siapa dia sebenarnya.
Muncul idea RemajaTenis di Palembang
Jakarta, 20 Oktober 2011. Setelah kembali dari Palembang sebagai persiapan SEA Games 2011, saya teringat kembali mengisis blogger ini sebagai pengalaman di Palembang. Sejak ditunjuk sebagai Ketua Panpel SOFT TENNIS SEA Games 2011 di Palembang, saya sering bolak balik ke Palembang mulai dari pengecekan stadion tenis Jakabaring sampai pengarahan terhadap rekan rekan di Palembang.
Sejak beberapa hari ini Palembang saya teringat beberapa tahu silam selenggarakan turnamen Persami di Palembang. Melihat megahnya stadio tenis Jakabaring semangat sayapun timbul untuk kembali bangkitkan pertenisan di Palembang. Kenapa kita tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dan termegah di Sumatra. Langsung teringat kalau di Jakbaring akan diselenggarakan turnamen internaional dan nasional. Langsung saya memanfatkan momen ini karena selama 2 minggu saya berada di Palembang.
Langsung saya coba atur dengan rekan di Palembang Tarmudji yang juga anggota Pelti Sumatra Selatan. Ternyata mendapatkan sambutan sehingga diaturnya lapangan di tiga lokasi. Waduh ini masalah baru lagi, tabah repot karena letaknya tidak berdekatan.
Akhirnya seaktu saya lemparkan inisiatif ini ke Facebook, ternyata dapat sambutan dari rekan rekan tenis. Muncullah penawaran di lapangan Pusri ada 6 lapangan . Saya teringat pula Pekan Olahraga Nasional 2004 sewaktu itu saya sebagai Technical Delegate dan tahun lalu di POPWIL.
Dengan modal niat , tekad dan juga nekat maka saya beranikan selenggarakan RemajaTenis di Palembang.
Puji Tuhan, ternyata mendapatkan sambutan peserta datang dari Sumatra Barat, Lampung, Bengkulu, Jambi Bangka Belitung bahkan jakarta, Manado, Banjarmasin Bandung mulai muncul dipendaftarannya.
Sejak beberapa hari ini Palembang saya teringat beberapa tahu silam selenggarakan turnamen Persami di Palembang. Melihat megahnya stadio tenis Jakabaring semangat sayapun timbul untuk kembali bangkitkan pertenisan di Palembang. Kenapa kita tidak memanfaatkan fasilitas yang sudah ada dan termegah di Sumatra. Langsung teringat kalau di Jakbaring akan diselenggarakan turnamen internaional dan nasional. Langsung saya memanfatkan momen ini karena selama 2 minggu saya berada di Palembang.
Langsung saya coba atur dengan rekan di Palembang Tarmudji yang juga anggota Pelti Sumatra Selatan. Ternyata mendapatkan sambutan sehingga diaturnya lapangan di tiga lokasi. Waduh ini masalah baru lagi, tabah repot karena letaknya tidak berdekatan.
Akhirnya seaktu saya lemparkan inisiatif ini ke Facebook, ternyata dapat sambutan dari rekan rekan tenis. Muncullah penawaran di lapangan Pusri ada 6 lapangan . Saya teringat pula Pekan Olahraga Nasional 2004 sewaktu itu saya sebagai Technical Delegate dan tahun lalu di POPWIL.
Dengan modal niat , tekad dan juga nekat maka saya beranikan selenggarakan RemajaTenis di Palembang.
Puji Tuhan, ternyata mendapatkan sambutan peserta datang dari Sumatra Barat, Lampung, Bengkulu, Jambi Bangka Belitung bahkan jakarta, Manado, Banjarmasin Bandung mulai muncul dipendaftarannya.
Selasa, 27 September 2011
Wani Piro ?
Jakarta, 27 September 2011. Ada kejadian menarik dalam pelaksanaan RemajaTenis dikota Surabaya. Dalam minggu yang sama bisa digelar RemajaTenis di dua kota berbeda yaitu olo dan Surabaya. Memang hall ini sudah pernah dilakukan tetapi yang belum pernah berhasiljika 3 kota bersamaan karena kekurangan tenaga pelaksana. Dalam satu pertemuan dengan rekan rekan wasit nasional , saya kemukakan agar belajar komputer jika ingin maju kariernya. Karena induk organisasi Pelti tidak membuat penataran Referee. Jika sudah banyak tenaga Referee maka saya akn terpacu selenggarakan turnamen RemajaTenis sebanyak mungkin. Saat ini ada 2 tenaga Referee yangsaya bina agar bisa jalankan turnamen RemajaTenis. Perlu ketabahan mendidik mereka yang sedikit dipaksakan agar bisa menjalankan RemajaTenis.
Kemudian saya ceritakan bagaimana sampai Eko Supriyatna asal Bandung bisa jadi Referee RemajaTenis. Mulai dari Medan diakhir tahun 2019 sewaktu digelar RemajaTenis di Medan dan sampai sekarang sudah berlangsung di tahun 2011.
Dikala RemajaTenis digelar di Surabaya saya menggunakan Referee setempat yang termasuk wasit White Badge. Saya mengamati sudah lama atas cara kerja Referee tersebut. Sewaktu saya di Solo saya mendapatkan laporan kalau Referee dihari pertama baru datang jam 12.00 sedangkan pertandingan sudah mulai jam 09.00. Saya langsung kirim SMS ke Refere tersebut dan dapat jawaban yang sedikit aneh. "Yang penting lancar, dan sudah ada asisten yang ditunjuk dia dan dibayar olehnya." begitulah jawabannya. Tapi ada buntut diakhir SMS tersbur yatu Wani piro. Karena saya tidak mau ribut saya hanya katakan kalau komitmen awal sudah disetujui maka harus konsukuen. Bahkan diapun bertanya ada masalah apa sebenarnya. Dan saya hanya sampaikan ada keluhan dari orangtua yang mau bertemu Referee taoi tidak ditempat.
Rupanya Referee ini sudah dikenal konditenya tidak baik karena suka datang terlambat. Sayapun teringat sewaktu diundang panpel UFO di Surabaya dihari pertama saya ingin ketemu Refereenya tapi tidak ada, tapi masih ditutupi oleh asistennya kalau ada padahal belum datang.
Kemudian saya ceritakan bagaimana sampai Eko Supriyatna asal Bandung bisa jadi Referee RemajaTenis. Mulai dari Medan diakhir tahun 2019 sewaktu digelar RemajaTenis di Medan dan sampai sekarang sudah berlangsung di tahun 2011.
Dikala RemajaTenis digelar di Surabaya saya menggunakan Referee setempat yang termasuk wasit White Badge. Saya mengamati sudah lama atas cara kerja Referee tersebut. Sewaktu saya di Solo saya mendapatkan laporan kalau Referee dihari pertama baru datang jam 12.00 sedangkan pertandingan sudah mulai jam 09.00. Saya langsung kirim SMS ke Refere tersebut dan dapat jawaban yang sedikit aneh. "Yang penting lancar, dan sudah ada asisten yang ditunjuk dia dan dibayar olehnya." begitulah jawabannya. Tapi ada buntut diakhir SMS tersbur yatu Wani piro. Karena saya tidak mau ribut saya hanya katakan kalau komitmen awal sudah disetujui maka harus konsukuen. Bahkan diapun bertanya ada masalah apa sebenarnya. Dan saya hanya sampaikan ada keluhan dari orangtua yang mau bertemu Referee taoi tidak ditempat.
Rupanya Referee ini sudah dikenal konditenya tidak baik karena suka datang terlambat. Sayapun teringat sewaktu diundang panpel UFO di Surabaya dihari pertama saya ingin ketemu Refereenya tapi tidak ada, tapi masih ditutupi oleh asistennya kalau ada padahal belum datang.
RemajaTenis Masuk Solo
Jakarta, 26 September 2011. Selama tiga hari berada dikota Solo dengan dua kegiatan bersamaan yaitu Rapat Koordinasi Asean Para Games 2011 di Hotel Lor-Inn dan turnamen RemajaTenis dilapangan Manahan Solo. Memang nasib cukup bagus karena dengan dua kegiatan itu saya bisa melihat animo masyarakat Jawa Tengah ikut Turnamen RemajaTenis. Sambutan cukup bagus sekali karena tanpa diduga pesertanya cukup baik. Tahun lalu disaat diadakan di Solo peserta tidak mencapai 100 peserta tetapi kali ini sewaktu terima pendaftaran mencapai 156 peserta tetapi setelah hari pelaksanaan hanya 142 peserta karen aada yang batal tanpa beritahu.
Ada yang menarik disini karena RemajaTenis mencoba membuat cara baru didalam pendaftarannya yaitu tidak ada sign-in yang merupakan kebiasaan selama ini di Turnamen Diakui Pelti.RemajaTenis lakukan adalah daftar dan entry fee ditransfer ke rekening bank. Ada satu pertanyaan dari salah satu orangtua yang mengatakan kalau kebiasan\aannya adalah bayar ditempat, ddan saya beritahukan kalau aturanRemajaTenis adalh trnasfer. Akhirnya dia mau ikuti karena dijelaskan kenapa dilakukan transfer entry fee yang diluar kebiasaan. Saya langsung sampaikan kalau bayar ditempat disaat yang sama misalnya ada 100 peserta maka berapa menit waktu terbuang hanya melayani pendaftaran kembali. Jika dilakuka sign-in sehari sebelumnya, juga merugikan peserta dari luar kota yang harus menginap semalam. Kalau di Solo bisa ditempuh bagi peserta dari Jawa Tengah dihari pertama langsung dari kotanya berangkat. Berarti ada penghematan waktu dan dana. Akhirnya mereka mau mengerti juga atas itikad baik RemajaTenis.
Sayapun dihari Sabtu sempat bertemu dengan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dilapangan tenis Manahan, karena dia aktif juga latihan tenis. Berbincang pertama kali saya singgung masalah sepakboal karena dia itu Ketua Persis Solo.
Sambutan rekan Pelti Solo cukup baik termasuk Pengelola GOR Manahan. Setelah dijelaskan masalah maksud dan tujuan selenggarakan RemajaTenis utnuk meriahkan kota Solo yang memiliki 9 lapangan dalam satu lokasi tapi sepi kegiatan, maka merekapun setuju memberikan kesempatan RemajaTenis digelar di GOR Manahan.
Sayapun berjanji kalau akan memriahkan lapangan Manahan dengan kegiatan tenis. Setelah RemajaTenis, saya akan bawa BII Indonesia Open Wheelchair Tennis Champs yang untuk pertamakali di Indonesia karena merupakan turnamen ITF Futures untuk wheelchair tennis. Setelah itu langsung saya sampaikan kalau sudah direncanakan 4-6 Nopember 2011RemajaTenis kembali ke Solo.
Ada yang menarik disini karena RemajaTenis mencoba membuat cara baru didalam pendaftarannya yaitu tidak ada sign-in yang merupakan kebiasaan selama ini di Turnamen Diakui Pelti.RemajaTenis lakukan adalah daftar dan entry fee ditransfer ke rekening bank. Ada satu pertanyaan dari salah satu orangtua yang mengatakan kalau kebiasan\aannya adalah bayar ditempat, ddan saya beritahukan kalau aturanRemajaTenis adalh trnasfer. Akhirnya dia mau ikuti karena dijelaskan kenapa dilakukan transfer entry fee yang diluar kebiasaan. Saya langsung sampaikan kalau bayar ditempat disaat yang sama misalnya ada 100 peserta maka berapa menit waktu terbuang hanya melayani pendaftaran kembali. Jika dilakuka sign-in sehari sebelumnya, juga merugikan peserta dari luar kota yang harus menginap semalam. Kalau di Solo bisa ditempuh bagi peserta dari Jawa Tengah dihari pertama langsung dari kotanya berangkat. Berarti ada penghematan waktu dan dana. Akhirnya mereka mau mengerti juga atas itikad baik RemajaTenis.
Sayapun dihari Sabtu sempat bertemu dengan Wakil Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo dilapangan tenis Manahan, karena dia aktif juga latihan tenis. Berbincang pertama kali saya singgung masalah sepakboal karena dia itu Ketua Persis Solo.
Sambutan rekan Pelti Solo cukup baik termasuk Pengelola GOR Manahan. Setelah dijelaskan masalah maksud dan tujuan selenggarakan RemajaTenis utnuk meriahkan kota Solo yang memiliki 9 lapangan dalam satu lokasi tapi sepi kegiatan, maka merekapun setuju memberikan kesempatan RemajaTenis digelar di GOR Manahan.
Sayapun berjanji kalau akan memriahkan lapangan Manahan dengan kegiatan tenis. Setelah RemajaTenis, saya akan bawa BII Indonesia Open Wheelchair Tennis Champs yang untuk pertamakali di Indonesia karena merupakan turnamen ITF Futures untuk wheelchair tennis. Setelah itu langsung saya sampaikan kalau sudah direncanakan 4-6 Nopember 2011RemajaTenis kembali ke Solo.
Jumat, 02 September 2011
Pesimis membuat kepala jadi Pusing
Jakarta, 2 September 2011. Semangat begitu kencang tetapi akhirnya jadi lemes sendiri begitu mendapatkan masukan dengan rekan rekan tenis kursi roda yang hadir dalam pertemuan tersebut. Yang hadir Henny Santoso dari Komite Tenis Kursi Roda, Drg Hesti dari Pusrehabcat Kemhan dan Yasin Onasie dmanajer tim pelatnas Asean Para Games.
Awalnya saya ceritakan kepada mereka kalau mimpi kita semua ada turnamen internasional Indonesia Open sudah bisa direaliser. Tetapi kemudian mereka menyampaikan kekuatiran atas waktu yang singkat ini bisa menjalankan misi ini. Waduh, inilah dia saya coba sampaikan bahwa jangan lepaskan momen ini karena kalau lepas saya kuatir akan hilang.
Tetapi keinginan mereka berbeda karena Henny dan Yasin itu atlet tenis kursi roda dan sudah pernah aktip ikuti turnamen Malaysian Open. Mereka ceritakan pula bagaimana Malaysia bisa selenggarakan Malaysian Open dengan menghadirkan istri PM Mahatir. Waduh, saya terus terang belum sanggup kalau mau datangkan Pimpinan Pemerintahan, kecuali Walikota Solo yang kita coba sampaikan.
Sayapun sampaikan ada keuntungan bagi atlet kita kalau petenis luar negeri tidak datang karena saya maklumi juga waktu singkat ini, berrati atlet kita akan mendpatkan ITF point. Ini salah satu keuntungannya. Mereka kemukakan kepada saya kalau waktu pelaksanaan 28-30 Oktober dengan Asean Para Games tgl 14-20 Des 2011 itu sangat dekat sehingga mereka tidak akan datang.
Disinilah perbedan pendapat dengan merka tetapi saya tetap tidak mau kalah karena bagi saya persiapkan turnamen internasional sudah bukan barang baru. Walauun ada perbedaan dengan tenis kursi roda.
Akhirnya saya sampaikan kalau saya paling suka dengan tantangan. disamping itu pula langsung saya minta kepada mereka yang pesimis apakah mau mendukung apa tidak. Merekapun sampaikan kalau akan mendukung. Sayapun minta semua harus kerja keras, karena waktu saya juga sangat sempit selama 3-4 bulan ini, tetapi saya masih mau berikan waktu untuk tenis kursi roda.
Sayapun sampaikan sorenya saya akan kirimkan formulir pendaftaran ke ITF Wheelchair Tennis. Langkah awal adalah membentukan kepanitiaan yang akan melibatkan unsur Pelti, NPC (National Paralympic Committee = BPOC) dan BII. Dan esok harinya saya bertemu dengan Dr. Bob Syahrudin dari Komite Tenis Kursi Rada
Awalnya saya ceritakan kepada mereka kalau mimpi kita semua ada turnamen internasional Indonesia Open sudah bisa direaliser. Tetapi kemudian mereka menyampaikan kekuatiran atas waktu yang singkat ini bisa menjalankan misi ini. Waduh, inilah dia saya coba sampaikan bahwa jangan lepaskan momen ini karena kalau lepas saya kuatir akan hilang.
Tetapi keinginan mereka berbeda karena Henny dan Yasin itu atlet tenis kursi roda dan sudah pernah aktip ikuti turnamen Malaysian Open. Mereka ceritakan pula bagaimana Malaysia bisa selenggarakan Malaysian Open dengan menghadirkan istri PM Mahatir. Waduh, saya terus terang belum sanggup kalau mau datangkan Pimpinan Pemerintahan, kecuali Walikota Solo yang kita coba sampaikan.
Sayapun sampaikan ada keuntungan bagi atlet kita kalau petenis luar negeri tidak datang karena saya maklumi juga waktu singkat ini, berrati atlet kita akan mendpatkan ITF point. Ini salah satu keuntungannya. Mereka kemukakan kepada saya kalau waktu pelaksanaan 28-30 Oktober dengan Asean Para Games tgl 14-20 Des 2011 itu sangat dekat sehingga mereka tidak akan datang.
Disinilah perbedan pendapat dengan merka tetapi saya tetap tidak mau kalah karena bagi saya persiapkan turnamen internasional sudah bukan barang baru. Walauun ada perbedaan dengan tenis kursi roda.
Akhirnya saya sampaikan kalau saya paling suka dengan tantangan. disamping itu pula langsung saya minta kepada mereka yang pesimis apakah mau mendukung apa tidak. Merekapun sampaikan kalau akan mendukung. Sayapun minta semua harus kerja keras, karena waktu saya juga sangat sempit selama 3-4 bulan ini, tetapi saya masih mau berikan waktu untuk tenis kursi roda.
Sayapun sampaikan sorenya saya akan kirimkan formulir pendaftaran ke ITF Wheelchair Tennis. Langkah awal adalah membentukan kepanitiaan yang akan melibatkan unsur Pelti, NPC (National Paralympic Committee = BPOC) dan BII. Dan esok harinya saya bertemu dengan Dr. Bob Syahrudin dari Komite Tenis Kursi Rada
Kedatangan Sponsor Turnamen Tenis Kursi Roda
Jakarta, 1 September 2011. Beberapa hari lalu saya terima tilpon datang dari salah satu rekan dari BII yang saya kenal tahun lalu sewaktu menjalankan turnamen tenis kursi roda. Yudi, mantan wartawan yang sekarang bertugas di BII di Jakarta. Muncul keinginan mau sponsor turnamen tenis kursi roda. Keinginan ini saya tampung dan berusaha niat baik ini jangan dilepas. Keinginannya agar tiap tahun masih bisa eksis di turnamen tenis kursi roda.
Agar tidak lepas maka saya usahakan agar beaya tidak besar. " Saya usahakan dibawah Rp. 100 juta untuk beaya pelaksanaannya." janji saya kepadanya ditengah tengah kesibukan mempersiapkan SEA Games 2011 di Palembang.
Sayapun melihat ada satu momen sejak saya ditunjuk selaku Ketua Panpel Cabang olahraga Tenis Asean Para Games 2011 di Solo. Kenapa tidak dibuat internasional saja sesuai juga dengan mimpi petenis kursi roda agar di Indonesia juga ada turnamen Indonesia Open yang kelas Futures dari ITF.
Begitu juga keinginan agar diselenggarakan di Solo yang juga digunakan sebagai tempat Asean Para Games 2011 bulan Desember mendatang.
Kemudian saya kemukakan kepada Pak Yudi (Pramono Yudi) idea saya agar ditingkatkan menjadi event internasional dengan konsukuensi budget akan meningkat. Oleh karena itu saya coba kontak rekan dari ITF Wheelchair melalui Facebook yaitu Mark Bullock, dan kemudian saya terima email dari Valentina C dari ITF Whelchair Tennis. Saya minta formulir pendafataran turnamen. Saya tahu tidaklah mudah karena waktu yang saya sepakati yaitu 28-30 Oktober 2011 di Solo. Mana mungkin dalam waktu 2 bulan ITF mau terima. Tapi tekad saya cukup besar dimana kepentingan atlet pelatnas Asean Para Games bisa bertanding dan juga mendapatkan ITF point untuk peringkat dunianya, maka niat ini harus berhasil.
Saya sadari ada kendala yang akan muncul baik keluar maupun kedalam, tetapi saya prioritaskan dulu yang keluar artinya ke ITF dulu adakah bisa diterima. Begitu baca formulir pendaftaran ITF maka tercantum soal sponsor yang tidak berhubungan dengan financial artinya BII sudah tertutup sebagai sponsor. Waduh, ini yang mengahmabt keinginan tersebut. Apakah dibuat turnamen nasional saja agar BII tidak kecewa.?
Mulailah saya negosiasi dengan ITF. Ini makan waktu sekitar 1 minggu. Saya diminta soal nama sponsornya. Sayapun kemukakan kalau ini adalah bank yang jelas jelas bertentangan dengan aturan diatas, karena ITF ada sponsor BNP Paribas. Pengalaman saya di Davis up maupun Fed Cup yang juga disponsori BNP paribas, tentuany ITF sangat ketat soal in. Kemudian ada celah dari komunikasi saya dengan Valentina dari ITF Wheelchair. Ditanyakan juga apa saja yang saya berikan kepada BII selaku sponsor utama. Nah inilah yang akhirnya saya kemukakan kalau BII akan mendapatkan judul turnamen yaitu BII Indonesia Open atau Indonesia Open by BII, kemudian saya sebutkan pemasangan spanduk, umbul umbul dan stand promosi juga yang saya janjikan.
Akhirnya, ITF berikan jawaban keesokkan harinya. Lega sudah, dan saya komunikasikan dengan BII masalah ijin ini. Waktu itu saya bertemu dengan Pak Pramono Yudi di Resto Bakmi Gajah Mada di samping Sarinah Thamrin. Langsung saya sampaikan kalau BII sudah OK, saya akan kirimkan formulir pendaftarannya ke ITF. Ternyata diberitahu, jangan dulu karena dia mau lapor dulu ke atasannya. Waduh lemes lagi, bakalan gagal lagi.
Tetapi sorenya saya langsung dapat SMS yang beri kepastian. Langsung sore itu saya siapkan formulir pendaftarannya. tetapi karena ada yang kurang jelas terpaksa saya tunda dulu, karena mau konsultasi dengan rekan rekan dari Komite Tenis Kusi Roda yat rekan Dr. Bob Syahrudin dan Henny Santoso maupu rekan Yasin Onasie Manajer tim Pelatnas Asean Para Games 2011. Sayapun undang mereka besoknya rapat untuk berikan masukan. Maka saypu undang mereka ditambah dari Pusrehabcat Kemhan RI.
ITF pu kirim email menanyakan formulir yang harus segera diterima, tetapi saya katakan berikan satu hari karena saya mau ketemu dulu dengan rekan rekan ini.
Agar tidak lepas maka saya usahakan agar beaya tidak besar. " Saya usahakan dibawah Rp. 100 juta untuk beaya pelaksanaannya." janji saya kepadanya ditengah tengah kesibukan mempersiapkan SEA Games 2011 di Palembang.
Sayapun melihat ada satu momen sejak saya ditunjuk selaku Ketua Panpel Cabang olahraga Tenis Asean Para Games 2011 di Solo. Kenapa tidak dibuat internasional saja sesuai juga dengan mimpi petenis kursi roda agar di Indonesia juga ada turnamen Indonesia Open yang kelas Futures dari ITF.
Begitu juga keinginan agar diselenggarakan di Solo yang juga digunakan sebagai tempat Asean Para Games 2011 bulan Desember mendatang.
Kemudian saya kemukakan kepada Pak Yudi (Pramono Yudi) idea saya agar ditingkatkan menjadi event internasional dengan konsukuensi budget akan meningkat. Oleh karena itu saya coba kontak rekan dari ITF Wheelchair melalui Facebook yaitu Mark Bullock, dan kemudian saya terima email dari Valentina C dari ITF Whelchair Tennis. Saya minta formulir pendafataran turnamen. Saya tahu tidaklah mudah karena waktu yang saya sepakati yaitu 28-30 Oktober 2011 di Solo. Mana mungkin dalam waktu 2 bulan ITF mau terima. Tapi tekad saya cukup besar dimana kepentingan atlet pelatnas Asean Para Games bisa bertanding dan juga mendapatkan ITF point untuk peringkat dunianya, maka niat ini harus berhasil.
Saya sadari ada kendala yang akan muncul baik keluar maupun kedalam, tetapi saya prioritaskan dulu yang keluar artinya ke ITF dulu adakah bisa diterima. Begitu baca formulir pendaftaran ITF maka tercantum soal sponsor yang tidak berhubungan dengan financial artinya BII sudah tertutup sebagai sponsor. Waduh, ini yang mengahmabt keinginan tersebut. Apakah dibuat turnamen nasional saja agar BII tidak kecewa.?
Mulailah saya negosiasi dengan ITF. Ini makan waktu sekitar 1 minggu. Saya diminta soal nama sponsornya. Sayapun kemukakan kalau ini adalah bank yang jelas jelas bertentangan dengan aturan diatas, karena ITF ada sponsor BNP Paribas. Pengalaman saya di Davis up maupun Fed Cup yang juga disponsori BNP paribas, tentuany ITF sangat ketat soal in. Kemudian ada celah dari komunikasi saya dengan Valentina dari ITF Wheelchair. Ditanyakan juga apa saja yang saya berikan kepada BII selaku sponsor utama. Nah inilah yang akhirnya saya kemukakan kalau BII akan mendapatkan judul turnamen yaitu BII Indonesia Open atau Indonesia Open by BII, kemudian saya sebutkan pemasangan spanduk, umbul umbul dan stand promosi juga yang saya janjikan.
Akhirnya, ITF berikan jawaban keesokkan harinya. Lega sudah, dan saya komunikasikan dengan BII masalah ijin ini. Waktu itu saya bertemu dengan Pak Pramono Yudi di Resto Bakmi Gajah Mada di samping Sarinah Thamrin. Langsung saya sampaikan kalau BII sudah OK, saya akan kirimkan formulir pendaftarannya ke ITF. Ternyata diberitahu, jangan dulu karena dia mau lapor dulu ke atasannya. Waduh lemes lagi, bakalan gagal lagi.
Tetapi sorenya saya langsung dapat SMS yang beri kepastian. Langsung sore itu saya siapkan formulir pendaftarannya. tetapi karena ada yang kurang jelas terpaksa saya tunda dulu, karena mau konsultasi dengan rekan rekan dari Komite Tenis Kusi Roda yat rekan Dr. Bob Syahrudin dan Henny Santoso maupu rekan Yasin Onasie Manajer tim Pelatnas Asean Para Games 2011. Sayapun undang mereka besoknya rapat untuk berikan masukan. Maka saypu undang mereka ditambah dari Pusrehabcat Kemhan RI.
ITF pu kirim email menanyakan formulir yang harus segera diterima, tetapi saya katakan berikan satu hari karena saya mau ketemu dulu dengan rekan rekan ini.
Langganan:
Postingan (Atom)