Jakarta, 17 Januari 2011. Olahraga Indonesia kadang kadang suka membingungkan, karena sering terjadi gonta ganti program jika pejabatnya ganti. Kita pernah mendengar adanya Program Garuda Emas yang merupakan program andalan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia atau KONI. Setelah itu di era Menpora Adyaksa Dault kita mendengar adanya PAL (Program Atlet Andalan) dengan komandannya Laksamana TNI (Purn) Achmad Sutjipto. Era Menpora baru, Andi Malarangeng kita mengenal program baru lagi yaitu Program Indonesia Emas (PRIMA), dengan komandannya adalah Mayjen TNI Tono Suratman, mantan atlet anggar nasional. Program PRIMA ini sudah diperkenalkan tahun 2010. Semua itu mempunyai target di multi events seperti Asian Games kemudian SEA Games dll.
Sekarang yang jadi pembicaraan dikalangan tenis adalah PRIMA ini mewajibkan setiap atlet yang terpilih masuk TC SEA Games 2011 harus mengikuti pendidikan di Batujajar selama 14 hari yang cukup dikenal Pusat Latihan Pasukan Khusus Angkatan Darat yg dulu dikenal dengan RPKADA. Dan tidak ada toleransi lagi kalau mau ikut SEA Gameswajib ikuti latihan di Batujajar. Kemudian saat ini ada yang PRO dan ada yang KONTRA.
Saya ikuti dari luar dan tidak pernah ikuti pendididkan seperti ini, tetapi hanya melihat maksud dan tujuannya diadakan kewajiban seperti ini. Nah, ada atlet yang menerima 100 % panggilan ini tetapi ada yang menolak dengan berbagai dalih yang bermacam macam.
Nah, coba kita lihat keuntunganya. Saya mencoba bertanya kepada atlet yang pernah ikuti latihan di Batujajar. Saya sendiri sewaktu mahasiswa Fak.Kedokteran UNAIR di Surabaya, pernah mencoba menjadi anggota Resimen Mahasiswa MAHASURYA, tetapi tidak dilanjutkan karena belum kena dihati, bahkan karena buat kesalahan saya akhirnya putuskan keluar dari Mahasurya.Kejadian ini lucu sekali. Karena latihan kemiliteran itu tidak tiap hari dan bukan masuk camp jadi belum terbiaa dengan tata cara militer, tapi sudah dapat seragam Mahasurya. Waktu itu saya liburan kembali ke Mataram (Lombok) karena kedua orangtua tinggal di Ampenan Lombok. Kembali ke Surabaya saya berseragam Mahasurya lengkap melalui Bandara Rembige. Saat itu bersama orangtua saya bertemu dengan Komandan KOREM Kol. Yusuf yang saya kenal juga karena hobinya juga main tenis. Saat berjumpa dengan seorang Kolonel dengan pakaian lengkap saya seharusnya berdiri tegap beri hormat tetapi langsung pegang tangan dan mengatakan "apa kabar Om". Setelah itu saya baru sadar, malu dan langsung masuk kamar toilet ganti baju seragam tersebut. Memang belum jalani latihan kemiliteran lengkap. Aduh malunya.
Kembali ke PRIMA di Batujajar. Saya melihat setelah mendengar dari atlet yang sudah pernah ikuti Prima ini. Saya melihat intinya disini dididik disiplin, kemudian team work, daya tahan (maksudnya disaat secapek capeknya harus bisa bertahan terhadap segalanya) dsbnya. Artinya sebenarnya ada manfaatnya.
Nah, bagi yang anti saya cuma mendengar komentar mereka. Ada yang dari pelatih yang tidak setuju dengan program di Batujajar karena tidak ada hubungannya dengan tenis. Kalau mau latihan fisik seharusnya disesuaikan dengan latihan fisik Tenis, bukannya secara umum. Pedapat ini juga betul sekali dari kacamata pelatih tenis.
Kalau masalah disiplin, saya sangat setuju sekali karena disiplin atlet kita ini menurut pendapat saya belum maksimal. Akibatnya diluar lapangan maupun dalam lapangan sewaktu berlatih dan juga bertanding sangat terasa sekali kekurangannya. Saya sebenarnya cukupprihatin terhadap disiplin atlet tenis kita. Ini harus disadari. Tetapi semua ini terpulang dari kepentingan atletnya sendiri. Begitu juga masalah team work dimana tenis adalah olahraga individual mungkin sangat diperlukan juga karena tujuannya adalah keberhasilan di multi events bukan single event yang selama ini. Nah, berbagai alasan yang dikeluarkan tentunya sah sah saja. Nah, kembali lagi kepada si atletnya sendiri, jika bisa mendisiplinkan dirinya ataupun seperti yang dimaksud dalam program latihan ini makabisa saja merasakan tidak perlu. Tapi menurut pendapat saya pribadi, masalah displin itu yang sangat diperlukan jika ingin sukses kedepan. Namanya setiap atlet masuk Training Center tentunya disediakan dana sebagai uang saku, maka wajar wajar saja si atlet diwajibkan masuk program si pemberi dana tersebut. Apalagi sewaktu pemanggilan atlet setiap atlet mengisi formulir kesediaan masuk ke Batujajar. Nah, lo !
Senin, 17 Januari 2011
Kamis, 13 Januari 2011
Disiplin Di Penataran Pelatih
Jakarta, 13 Januari 2011. Ada satu masalah yang cukup penting menurut pengamatan saya selama ini didunia olahraga yaitu masalah disiplin. Hal ini juga saya rasakan di tenis yang kita cintai. Karena kalau kita melupakan masalah ini maka jangan terlalu mengharapkan bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Menurut pengamatan saya selama ini masih kurang sekali disiplin ini diterapkan oleh atlet atlet tenis begitu pula oleh pelatih pelatihnya. Maksud saya katakan ini bukan untuk menyudutkan kepada pelaku pelaku tenis ini, tetapi justru untuk lebih meningkatkan prestasi dimulai dari disiplin keras. Disiplin semua hal jika ingin maju.
Tanggal 23-30 Januari 2011 saya rencanakan selenggarakan pelatihan pelatih dengan label National ITF Level-1 Coaches Course yang merupakan salah satu agenda induk organisasi Pelti. Saya mau mencoba tanamkan disiplin ini bukan dari atletnya tetapi mulai ditanamkan kepada pelatih lebih dulu. Kenapa demikian ? Karena kita ketahui kalau pelatih itu harus sebagai suri tauladan bagi atlet atlet kita. Bagaimana jadinya jika pelatihnya justru memberikan contoh yang kurang baik, maka tentunya atletnya akan menirunya.
Maka dari itu saya mulai terapkan First Come First Serve, maksudnya pendaftaran baru diterima kalau sudah transfer uang pendaftarannya. Karena pengalaman saya dua tahun lalu selenggarakan kegiatan yang sama dimana peminatnya cukup banyak maka saya terapkan keinginan saya mulai ditahun 2011 ini. Setelah mencukupi targetnya maka segera saya tutp. Tercatat 5 nama yang sudah daftar tapi belum melunasinya maka ditolak, walaupun entry deadline masih lama. Hal yang sama juga untuk ikut serta turnamen saya terapkan.
Setelah itu saya mau mencoba menerapkan penyakit selama ini saya perhatikan adalah sindroma telpon seluler. Jadi selama kegiatan didalam kelas maupun di lapangan diminta mulai dari tutornya sampai ke peserta agar non aktifkan telpon selulernya. Mulai dari 3 tutor yang akan diterjunkan. Kenapa sampai 3 bahkan 4 termasuk saya sendiri yang akan memberikan pelajaran tentang turnamen. Karena menurut saya tidak bisa dilakukan oleh 1 Tutor saja, karena penataran ini ada ujiannya untuk dinyatakan lulus atau tidaknya sehingga lebih objektip kalau Tutornya lebih dari satu. Tutornya adalah Roy Morison, Alfred Henry Raturandang dan Hudani Fajri. Khusus Hudani Fajri akan mengajarkan tentang program baru ITF yaitu Play & Stay in Tennis sebagai modifikasi mini tenis. Ini juga suatu pelajaran yang sangat penting, punya tehnik tehnik khusus mengajri bagaimana orang mulai bermain tenis baik usia dini maupun orangtua. Kalau dari sini sudah salah maka seterusnya sulit diharapkan pertambahan minat akan olahraga tenis.
Ada satu lagi yang agak sulit diterapkan karena sudah merupakan habit bagi pelaku pelaku olahraga kita, yaitu merokok. Kalau didunia perwasitan sudah ada kode etiknya yang melarang merokok selama bertugas ditempat pertandingan. Jika ingin merokok maka harus keluar dari lokasi pertandingan. Hal yang sama juga berlaku bagi pelatih tenis. Nah, maukah mereka ini beradaptasi dengan lingkungan yang baru ini !
Tanggal 23-30 Januari 2011 saya rencanakan selenggarakan pelatihan pelatih dengan label National ITF Level-1 Coaches Course yang merupakan salah satu agenda induk organisasi Pelti. Saya mau mencoba tanamkan disiplin ini bukan dari atletnya tetapi mulai ditanamkan kepada pelatih lebih dulu. Kenapa demikian ? Karena kita ketahui kalau pelatih itu harus sebagai suri tauladan bagi atlet atlet kita. Bagaimana jadinya jika pelatihnya justru memberikan contoh yang kurang baik, maka tentunya atletnya akan menirunya.
Maka dari itu saya mulai terapkan First Come First Serve, maksudnya pendaftaran baru diterima kalau sudah transfer uang pendaftarannya. Karena pengalaman saya dua tahun lalu selenggarakan kegiatan yang sama dimana peminatnya cukup banyak maka saya terapkan keinginan saya mulai ditahun 2011 ini. Setelah mencukupi targetnya maka segera saya tutp. Tercatat 5 nama yang sudah daftar tapi belum melunasinya maka ditolak, walaupun entry deadline masih lama. Hal yang sama juga untuk ikut serta turnamen saya terapkan.
Setelah itu saya mau mencoba menerapkan penyakit selama ini saya perhatikan adalah sindroma telpon seluler. Jadi selama kegiatan didalam kelas maupun di lapangan diminta mulai dari tutornya sampai ke peserta agar non aktifkan telpon selulernya. Mulai dari 3 tutor yang akan diterjunkan. Kenapa sampai 3 bahkan 4 termasuk saya sendiri yang akan memberikan pelajaran tentang turnamen. Karena menurut saya tidak bisa dilakukan oleh 1 Tutor saja, karena penataran ini ada ujiannya untuk dinyatakan lulus atau tidaknya sehingga lebih objektip kalau Tutornya lebih dari satu. Tutornya adalah Roy Morison, Alfred Henry Raturandang dan Hudani Fajri. Khusus Hudani Fajri akan mengajarkan tentang program baru ITF yaitu Play & Stay in Tennis sebagai modifikasi mini tenis. Ini juga suatu pelajaran yang sangat penting, punya tehnik tehnik khusus mengajri bagaimana orang mulai bermain tenis baik usia dini maupun orangtua. Kalau dari sini sudah salah maka seterusnya sulit diharapkan pertambahan minat akan olahraga tenis.
Ada satu lagi yang agak sulit diterapkan karena sudah merupakan habit bagi pelaku pelaku olahraga kita, yaitu merokok. Kalau didunia perwasitan sudah ada kode etiknya yang melarang merokok selama bertugas ditempat pertandingan. Jika ingin merokok maka harus keluar dari lokasi pertandingan. Hal yang sama juga berlaku bagi pelatih tenis. Nah, maukah mereka ini beradaptasi dengan lingkungan yang baru ini !
Selasa, 11 Januari 2011
Mau Datangkan Maria Sharapova
Jakarta, 11 Januari 2011. Menerima telpon setiap hari dari rekan rekan tenis daerah merupakan santapan rutin setiap hari datang ke telpon seluler saya. Tetapi hari ini saya terima dari salah satu rekan dari luar kota yang berkeinginan mendatangkan petenis dunia Maria Sharapova kekotanya yang sedang getol getolnya.
Permintaan ini cukup mengagetkan karena tidak semudah itu bisa mendatangkan karena padatnya jadwal atlet tersebut dan disamping itu juga budgetnya agak berat. Tapi kalau soal budget bukan masalah maka tentunya bisa saja terjadi.
Permintaan seperti ini bukan baru pertama kali datang kepada saya, karena tahun lalu pernah juga rekan di Jakarta menanyakan kira kira mau datangkan petenis dunia seperti Roger Federer atau Rafael Nadal dan minta cari tahu berapa beayanya. Tapi karena dia sendiri katakan jangan dulu disebar luaskan keinginan ini maka sayapun jadi tambah ragu ragu juga.
Tetapi ini teman yang dari daerah ini katakan kalau ini ada permintaan dari pejabat tinggi didaerahnya, yaitu Gubernurnya sendiri berkeinginan kedatangan tersebut.
Kalkulasi kasar langsung saya katana disamping mintaa fee juga ada akomodasi, tranpsortasi 1st class bukan hanya untuk pemain tetapi juga beberapa timnya seperti pelatih , orangtuanya dll. Ya, kalau dihitung hitung bisa sampai 3-4 milyar rupiah. Begitulah kasarnya soal budget. Tapi ya saya mencoba mencari kontak teman teman diluar negeri ataupun melalui facebook langsung kepemainya.
Ini namanya usaha, bisa tercapai bisa juga tidak.
Permintaan ini cukup mengagetkan karena tidak semudah itu bisa mendatangkan karena padatnya jadwal atlet tersebut dan disamping itu juga budgetnya agak berat. Tapi kalau soal budget bukan masalah maka tentunya bisa saja terjadi.
Permintaan seperti ini bukan baru pertama kali datang kepada saya, karena tahun lalu pernah juga rekan di Jakarta menanyakan kira kira mau datangkan petenis dunia seperti Roger Federer atau Rafael Nadal dan minta cari tahu berapa beayanya. Tapi karena dia sendiri katakan jangan dulu disebar luaskan keinginan ini maka sayapun jadi tambah ragu ragu juga.
Tetapi ini teman yang dari daerah ini katakan kalau ini ada permintaan dari pejabat tinggi didaerahnya, yaitu Gubernurnya sendiri berkeinginan kedatangan tersebut.
Kalkulasi kasar langsung saya katana disamping mintaa fee juga ada akomodasi, tranpsortasi 1st class bukan hanya untuk pemain tetapi juga beberapa timnya seperti pelatih , orangtuanya dll. Ya, kalau dihitung hitung bisa sampai 3-4 milyar rupiah. Begitulah kasarnya soal budget. Tapi ya saya mencoba mencari kontak teman teman diluar negeri ataupun melalui facebook langsung kepemainya.
Ini namanya usaha, bisa tercapai bisa juga tidak.
Senin, 10 Januari 2011
Hasil Turnamen Luar Negeri sebaiknya dilaporkan
Jakarta, 10 Januari 2011. Ada satu masukan ataupun himbauan kepada petenis kita kalau memberitahukan ke PP Pelti hasil keikutsertaannya diturnamen internasional diluar negeri. Karena sekarang PP Pelti tidak bisa memantau keikutsertaan atletnya ke turnamen internasional diluar negeri. Masalahnya sekarang sistem pendaftaran sudah bisa dilakukan langsung oleh petenis tanpa melalui induk organisasi di negara asalnya. Kalau dulu khusus yunior harus melalui PP Pelti.
Kalau dulu selalu berkembang permintaan agar Pelti proaktif mencari hasil turnamen tersebut karena walaupun Pelti yang mendaftarkannya tetapi hasilnya banyak yang tidak melaporkan hasilnya . Akibatnya tidak dimasukkan dalam PNP tersebut.
Nah sekarang saya juga baru sadar karena masih ada atlet kita yang bertanding diluar negeri tapi tidak melaporkan hasilnya.
Ketahuannya sewaktu mau kumpulkan data petenis untuk seleknas kelompok yunior. Dilihatlah ITF Junior ranknya, ternyata ada petenis yang punya ITF rank tetapi tidak ada PNP dikelompo umurnya maupun diatasnya. Dicarilah ke ITF melihat data data peringkatnya yangdiadaptnya di turnamen tertentu. Tapi PNP yang dipakai untuk bahan pemanggilan Seleknas digunakan yang 1 Desember 2010. Karena punya ITF rank maka atlet tersebut masuk dalam nominasi peserta seleknas.
Jadi dalam hal ini agar tidak terulang lagi maka sebaiknya setiap petenis yang ikuti turnamen diluar negeri melaporkan hasilnya. Kerugian bagi atlet yang tidak melaporkannya adalah jika ikuti TDP Nasional namanya tidak ada di PNP sehingga yang sehrausnya jadi unggulan bisa jadi non unggulan. Sebenarnya bukan masalah kalau memang prestasi atlet tersebut hebat dan bisa membabatk semua petenis yang punya PNP.
Kalau dulu selalu berkembang permintaan agar Pelti proaktif mencari hasil turnamen tersebut karena walaupun Pelti yang mendaftarkannya tetapi hasilnya banyak yang tidak melaporkan hasilnya . Akibatnya tidak dimasukkan dalam PNP tersebut.
Nah sekarang saya juga baru sadar karena masih ada atlet kita yang bertanding diluar negeri tapi tidak melaporkan hasilnya.
Ketahuannya sewaktu mau kumpulkan data petenis untuk seleknas kelompok yunior. Dilihatlah ITF Junior ranknya, ternyata ada petenis yang punya ITF rank tetapi tidak ada PNP dikelompo umurnya maupun diatasnya. Dicarilah ke ITF melihat data data peringkatnya yangdiadaptnya di turnamen tertentu. Tapi PNP yang dipakai untuk bahan pemanggilan Seleknas digunakan yang 1 Desember 2010. Karena punya ITF rank maka atlet tersebut masuk dalam nominasi peserta seleknas.
Jadi dalam hal ini agar tidak terulang lagi maka sebaiknya setiap petenis yang ikuti turnamen diluar negeri melaporkan hasilnya. Kerugian bagi atlet yang tidak melaporkannya adalah jika ikuti TDP Nasional namanya tidak ada di PNP sehingga yang sehrausnya jadi unggulan bisa jadi non unggulan. Sebenarnya bukan masalah kalau memang prestasi atlet tersebut hebat dan bisa membabatk semua petenis yang punya PNP.
Keluhan daerah
Jakarta, 10 Januari 2011. Keluhan dari daerah banyak dilontarkan kepada saya melalui SMS ataupun Fb. Diawal tahun ini saya terima dari pelaksana Piala New Armada karena merasa tidak didukung oleh PP Pelti. Tetapi setelah saya jelaskan merekapun bisa menerimanya.
Keluhan pertama adalah adanya turnamen Pemalang Open yang mulai 27 Desember 2010 - 2 Januari 2011. Karena maunya Piala New Armada adalah turnamen pembuka tahun baru. Dimana diharapkan PNP dari hasil Pemalang Open masuk tahun 2010 bukan ditahun 2011. Masalah ini akhirnya sudah dimengerti karena PNP Pemalang Open dimasukkan ke tahun 2010 dan diedarkan diawal Januari 2011. Artinya New Armada tetap sebagai pembuka tahun baru.
Keluhan lainnya adalah menurunnya peserta Piala New Armada disebabkan adanya kegiatan seperti training camp, seleknas dan turnamen di Cilacap. Kegiatan training camp ini rencana mulai 10 -25 Januari 2011 di Jakarta diselenggarakan oleh Pengprov Pelti DKI Jakarta sedangkan seleknas 17-23 Januari 2011 di Jakarta. Piala New Armada mulai 10-17 Januari 2011. Jadi tidak heran kalau mereka mengeluh.
Kemudian saya terangkan masalah Training camp itu sesuai surat resmi Pelti DKI Jakarta menyampaikan kalau camp ini untuk Pelatda DKI Jakarta, jadi tidak perlu kuatir. Masalah Seleknas karena kejuaraan dunia KU 14 tahun itu dilaksanakan di Sri Langka untuk prakualifikasi dibulan Februari. Sedangkan untuk mengurus Visa masuk butuh waktu yang lama. Masalah turnamen di Cirebon saya tidak tahu, dan bukan turnamen resmi PP Pelti dan bukan TDP.
Begitu juga saya sampaikan ada kekuatiran masyarakat tenis tentang akibat Gunung Merapi yang melanda di Jawa Tengah. Kalau kita ikuti di Televisi yang setiap hari memberitakan masalah lahar dingin yang memutuskan jalan Magelan ke Jogjakarta maka tidak heran kalau banyak yang tidak mau mabil resiko. Begitulah kejadian kejadian selama awal Januari 2011 ini.
Keluhan pertama adalah adanya turnamen Pemalang Open yang mulai 27 Desember 2010 - 2 Januari 2011. Karena maunya Piala New Armada adalah turnamen pembuka tahun baru. Dimana diharapkan PNP dari hasil Pemalang Open masuk tahun 2010 bukan ditahun 2011. Masalah ini akhirnya sudah dimengerti karena PNP Pemalang Open dimasukkan ke tahun 2010 dan diedarkan diawal Januari 2011. Artinya New Armada tetap sebagai pembuka tahun baru.
Keluhan lainnya adalah menurunnya peserta Piala New Armada disebabkan adanya kegiatan seperti training camp, seleknas dan turnamen di Cilacap. Kegiatan training camp ini rencana mulai 10 -25 Januari 2011 di Jakarta diselenggarakan oleh Pengprov Pelti DKI Jakarta sedangkan seleknas 17-23 Januari 2011 di Jakarta. Piala New Armada mulai 10-17 Januari 2011. Jadi tidak heran kalau mereka mengeluh.
Kemudian saya terangkan masalah Training camp itu sesuai surat resmi Pelti DKI Jakarta menyampaikan kalau camp ini untuk Pelatda DKI Jakarta, jadi tidak perlu kuatir. Masalah Seleknas karena kejuaraan dunia KU 14 tahun itu dilaksanakan di Sri Langka untuk prakualifikasi dibulan Februari. Sedangkan untuk mengurus Visa masuk butuh waktu yang lama. Masalah turnamen di Cirebon saya tidak tahu, dan bukan turnamen resmi PP Pelti dan bukan TDP.
Begitu juga saya sampaikan ada kekuatiran masyarakat tenis tentang akibat Gunung Merapi yang melanda di Jawa Tengah. Kalau kita ikuti di Televisi yang setiap hari memberitakan masalah lahar dingin yang memutuskan jalan Magelan ke Jogjakarta maka tidak heran kalau banyak yang tidak mau mabil resiko. Begitulah kejadian kejadian selama awal Januari 2011 ini.
RemajaTenis kembali di 2011
Jakarta, 10 Januari 2011. Setelah beberapa hari ini istrahat karena akibat dari darah tinggi naik dari normal telah menjadi 200/110, semangat sayapun kembali normal untuk tetap konsisten agar tenis yunior bisa berkembang bukan hanya di Jakarta tetapi melebar juga kekota kota lainnya diluar Jakarta. Memang saya sendiri cukup kaget karena sewaktu mengukur sendiri tekanan darah dengan tensi meter air raksa awalnya masih anggap enteng karena masih sekitar 180/105. Dan saya masih bandel belum mau minum obat yang saya miliki. Esok harinya karena pusing makin menjadi jadi padahal sudah istrahat, maka pergilah ke dokter. Dokter sendiri juga kaget waktu melihat tensi saya sudah menjadi 200/110. Waktu saya ceritakan kalau kebiasaan saya mengukur tekanan darah dengan tensimeter air raksa (lebih akurat dibandingkan tensi meter digital yang banyak dijual). Dokternya mengakui kalau dia sendiri belum bisa mengukur diri sendiri tekanan darahnya. Ini sudah saya biasakan sejak lama sehingga bukan masalah.
Pikiranpun kembali ke kegiatan turnamen yang saya prakarsai yaitu dikenal dengan RemajaTenis yang sudah dinanti nanti oleh masyarakat tenis di Jakarta maupun luar kota. Mulailah kegiatan ini saya alihkan ke Bandung saja, dibulan Februari mendatang. Saya menerima SMS ataupun email yang menanyakan RemajaTenis di bulan Januari 2011. Kenapa tidak di Jakarta? Karena saya lagi konsentrasi juga kegiatan lainnya yaitu penataran pelatih ITF Level-1 di Jakarta , tepatnya 23-30 Januari 2011. Kegiatan ini sama konsepnya dengan Persami ataupun RemajaTenis yaitu harus bisa swasembada. Tahun 2009 saya sudah pernah laksanakan di Jakarta dan berhasil bahkan melebih kuotanya.
Kali ini sejak Desember 2010 saya sudah edarkan pemberitahuan ke Pelti Provinsi dan dengan SMS lebih cepat bereaksi. Datang permintaan dari Papua, Riau, Kepulauan Riau, Palembang, Bangka Belitung, Lampung, Sulteng, Bogor dan Jakarta. Saya perhatikan banyak peminta datang dari luar Jakarta atau luar Jawa. Ini menunjukkan mereka sebenarnya haus akan pendidikan pelatih ini.
Sayapun mencoba kirim SMS keteman teman yang ditahun 2010 pernah jalankan RemajaTenis, seperti Medan, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Palu, Cirebon dll. Ternyata mendapatkan respon dari Samarinda dan Palu. Langkah awal yang baik saya pikir, disamping itu juga tempat tempat baru lainnya. Ini yang membuat semangatpun meningkat supaya keinginan semua pihak khususnya orangtua petenis bisa terpeniuhi karena turnamen itu adalah kebutuhan atlet.
Pikiranpun kembali ke kegiatan turnamen yang saya prakarsai yaitu dikenal dengan RemajaTenis yang sudah dinanti nanti oleh masyarakat tenis di Jakarta maupun luar kota. Mulailah kegiatan ini saya alihkan ke Bandung saja, dibulan Februari mendatang. Saya menerima SMS ataupun email yang menanyakan RemajaTenis di bulan Januari 2011. Kenapa tidak di Jakarta? Karena saya lagi konsentrasi juga kegiatan lainnya yaitu penataran pelatih ITF Level-1 di Jakarta , tepatnya 23-30 Januari 2011. Kegiatan ini sama konsepnya dengan Persami ataupun RemajaTenis yaitu harus bisa swasembada. Tahun 2009 saya sudah pernah laksanakan di Jakarta dan berhasil bahkan melebih kuotanya.
Kali ini sejak Desember 2010 saya sudah edarkan pemberitahuan ke Pelti Provinsi dan dengan SMS lebih cepat bereaksi. Datang permintaan dari Papua, Riau, Kepulauan Riau, Palembang, Bangka Belitung, Lampung, Sulteng, Bogor dan Jakarta. Saya perhatikan banyak peminta datang dari luar Jakarta atau luar Jawa. Ini menunjukkan mereka sebenarnya haus akan pendidikan pelatih ini.
Sayapun mencoba kirim SMS keteman teman yang ditahun 2010 pernah jalankan RemajaTenis, seperti Medan, Pontianak, Banjarmasin, Samarinda, Palu, Cirebon dll. Ternyata mendapatkan respon dari Samarinda dan Palu. Langkah awal yang baik saya pikir, disamping itu juga tempat tempat baru lainnya. Ini yang membuat semangatpun meningkat supaya keinginan semua pihak khususnya orangtua petenis bisa terpeniuhi karena turnamen itu adalah kebutuhan atlet.
Minggu, 09 Januari 2011
Human Error bisa dilakukan Referee
Jakarta,9 Januari 2010. Disaat sedang istrahat saya menerima telpon dari salah satu orangtua petenis dari Manado (Asiano Lontoh)yang bereaksi setelah membaca PNP kelompok umur 16 tahun. Ini hanya sekedar pertanyaan yang cukup menarik karena kuatir kalau salah satu petenis asal Manado itu dirugikan dari hasil Turnamen Pemalang Open 2010 lalu.
Saya sendiri tidak memperhatikan masalah ini tetapi bisa menerima sebagai bentuk masukan didalam memperbaiki kinerja turnamen nasional.
Memang saya akui setiap pelaksanaan turnamen nasional yunior ini tidak semudah melaksanakan turnamen kelompok senior. Karena event yunior itu mempertandingkan banyak event bukan hanya 2-4 event. Bisa dibayangkan diselenggarakan kelompok umur 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, 18 tahun untuk tunggal dan ganda baik putra dan putri. Jadi total jenis pertandingannya ada 20 jenis pertandingan. Dimana 10 event dilakukan undiannya dalam satu hari, dan ini makan waktu yang cukup lama, sehingga petugas yang lakukan undian yaitu Referee harus mempersiapkan diri maupun perangkat kerjanya sebaik mungkin. Sebelumnya diturnamen ini, saya juga menerima SMS dari orangtua petenis dari Jakarta masalah undian kelompok umur 10 tahun dimana dianggap sudah melanggar kelazimannya disetiap turnamen, yaitu sudah diundi dan diumumkan kemudian dirubah lagi artinya ada re-draw.
Masalah telpon ini ternyata ada benarnya juga setelah kita melihat hasil turnamen tersebut. Ada satu pemain yang tidak berhak mendapatkan unggulan ternyata oleh Referee dimasukkan sebagai unggulan 2. Ini karena namanya mirip. Disni betul kelalaian Referee dalam menempatkan nama tersebut. Atlet Manado tersebut bernama FERNANDO mendapatkan unggulan 2 karena mempunyai PNP-16. Penempatan unggulan kedua itu sudah benar karena memiliki PNP-16. Tetapi yang berhak tempat tersebut ternyata seharusnya FERNANDO BANGUN asal Pematang Siantar. Dan Fernanado Bangun tidak ikut dikelompok tersebut. Dan oleh petugas ditempatkanlah nama FERNANDO D SANGER. Dari sini terlihat menurut saya kekeliruan dilakukan oleh Referee sebagai penanggung jawab.
Yang menjadi pertanyaan apakah betul undian ini dilakukan oleh Referee sendiri atau dilakukan oleh perwakilannya. Kenapa saya bertanya demikian, karena sepengetahuan saya ada Referee yang tidak bisa bekerja jika tidak dibantu teman temannya sebagai bentuk masih dalam pembelajarannya. Saya hanya kuatir rekan rekan yang membantunya ada niat tidak baik sehingga bisa menjebak rekannya sendiri. Mudah mudahan tidak demikian. Tetapi yang saya tahu rekan Referee ini otodidak. Kenapa harus demikian, apakah tidak bisa dilakukan kursus kilat tentang masalah ini? Ini masalahnya, kenapa tidak ada niat untuk lakukan kursus singkat bagi petugas Referee tersebut. Semua terpulang kepada petugas yang menanganinya.
Kekuatiran akan merugikan atlet Manado itu saya kemukakan kepada rekan saya dari Manado tersebut, bahwa justru sebaliknya sangat menguntungkan bagi atlet Manado tersebut, dan hasilnya memang Fernando Sanger bisa lolos sampai ke Kuarterfinal dan namanya keluar di PNP yang baru (1 Januari 2011) di posisi 66 yang sebulan sebelumnya belum keluar di PNP. Ini keuntungannya karena dengan penempatan diunggulan 2 kemungkinan ketemu unggulan 1 maupun 3 dan 4 dibabak awal bisa terhindarinya.
Saya sendiri tidak memperhatikan masalah ini tetapi bisa menerima sebagai bentuk masukan didalam memperbaiki kinerja turnamen nasional.
Memang saya akui setiap pelaksanaan turnamen nasional yunior ini tidak semudah melaksanakan turnamen kelompok senior. Karena event yunior itu mempertandingkan banyak event bukan hanya 2-4 event. Bisa dibayangkan diselenggarakan kelompok umur 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, 18 tahun untuk tunggal dan ganda baik putra dan putri. Jadi total jenis pertandingannya ada 20 jenis pertandingan. Dimana 10 event dilakukan undiannya dalam satu hari, dan ini makan waktu yang cukup lama, sehingga petugas yang lakukan undian yaitu Referee harus mempersiapkan diri maupun perangkat kerjanya sebaik mungkin. Sebelumnya diturnamen ini, saya juga menerima SMS dari orangtua petenis dari Jakarta masalah undian kelompok umur 10 tahun dimana dianggap sudah melanggar kelazimannya disetiap turnamen, yaitu sudah diundi dan diumumkan kemudian dirubah lagi artinya ada re-draw.
Masalah telpon ini ternyata ada benarnya juga setelah kita melihat hasil turnamen tersebut. Ada satu pemain yang tidak berhak mendapatkan unggulan ternyata oleh Referee dimasukkan sebagai unggulan 2. Ini karena namanya mirip. Disni betul kelalaian Referee dalam menempatkan nama tersebut. Atlet Manado tersebut bernama FERNANDO mendapatkan unggulan 2 karena mempunyai PNP-16. Penempatan unggulan kedua itu sudah benar karena memiliki PNP-16. Tetapi yang berhak tempat tersebut ternyata seharusnya FERNANDO BANGUN asal Pematang Siantar. Dan Fernanado Bangun tidak ikut dikelompok tersebut. Dan oleh petugas ditempatkanlah nama FERNANDO D SANGER. Dari sini terlihat menurut saya kekeliruan dilakukan oleh Referee sebagai penanggung jawab.
Yang menjadi pertanyaan apakah betul undian ini dilakukan oleh Referee sendiri atau dilakukan oleh perwakilannya. Kenapa saya bertanya demikian, karena sepengetahuan saya ada Referee yang tidak bisa bekerja jika tidak dibantu teman temannya sebagai bentuk masih dalam pembelajarannya. Saya hanya kuatir rekan rekan yang membantunya ada niat tidak baik sehingga bisa menjebak rekannya sendiri. Mudah mudahan tidak demikian. Tetapi yang saya tahu rekan Referee ini otodidak. Kenapa harus demikian, apakah tidak bisa dilakukan kursus kilat tentang masalah ini? Ini masalahnya, kenapa tidak ada niat untuk lakukan kursus singkat bagi petugas Referee tersebut. Semua terpulang kepada petugas yang menanganinya.
Kekuatiran akan merugikan atlet Manado itu saya kemukakan kepada rekan saya dari Manado tersebut, bahwa justru sebaliknya sangat menguntungkan bagi atlet Manado tersebut, dan hasilnya memang Fernando Sanger bisa lolos sampai ke Kuarterfinal dan namanya keluar di PNP yang baru (1 Januari 2011) di posisi 66 yang sebulan sebelumnya belum keluar di PNP. Ini keuntungannya karena dengan penempatan diunggulan 2 kemungkinan ketemu unggulan 1 maupun 3 dan 4 dibabak awal bisa terhindarinya.
Senin, 03 Januari 2011
Peringkat di suatu turnamen
Jakarta, 3 Januari 2011. Memasuki tahun baru ini saya mencoba berikan sumbang saran didalam pelaksanaan turnamen tenis sebagai bentuk kepedulian saya terhadap pertenisan ini. Karena berdasarkan pengalaman akhir akhir ini saya banyak terima SMS dari orangtua didalam pelaksanaan Turnamen nasional kelompok yunior.
Ini hanyalah masalah PNP Kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun. Kenapa menyangkut kedua kelompok ini yang sering jadi perhatian khusus, karena saya melihat animo petenis yunior dikedua kelompok ini sudah menunjukkan kecendrungan meningkat. Peningkatan minat terhadap tenis ini didukung kuat oleh orangtuanya. Ada yang hanya sekedarnya membantu putra dan putrinya dan ada yang sangat tekun mengikuti perkembangannya. Sebenarnya kalau menurut yang saya ikuti anjuran dari ITF, bahwa kedua kelompok ini perlu mendapatkan perhatian serius sebagai cikal bakal petenis potensial.Sehingga khusus KU 10 tahun dianjurkan menggunakan bola khusus dengan tekanan hanya 75 %. Dan saya sudah menerapkan di RemajaTenis sebagai uji cobanya, dan ternyata mendapatkan respopns cukup baik sekali. Awalnya banyak keluhan tetapi setelah diberitahukan maksud dan tujuannya maka pelatih maupun orangtua bisa mengerti sekali.
Kita coba mengetahui maksud dari Peringkat didalam suatu turnamen tenis. Peringkat digunakan sebagai acuan Referee melakukan undiannya, sehingga adanya peringkat itu sangat membantu pelaksanaannya. Petenis ada Peringkat maka berarti petenis tersebut sudah mengikuti turnamen turnamen resminya yang digunakan sebagai acuannya.
Oleh induk orgnisasi tenis yaitu Pelti telah dikeluarkan Peringkat Nasional Pelti. Untuk yunior dikeluarkan hanya 3 kategori saja yaitu kelompok umur 14 tahun, 16 tahun dan 18 tahun.
Berarti kelompok 10 tahun dan 12 tahun tidak ada peringkatnya. Adanya inisiatip dari salah seorang wasit membuat peringkat KU 10 tahun dan 12 tahun itu dengan tujuan agar Referee bisa dibantu dalam membuat undian .
Dalam hal ini saya sih tidak mempermasalahkan adanya Peringkat KU 10 tahun dan 12 tahun yang dibuat bukan oleh Pelti,tetapi hal ini perlu diketahui oleh masyarakat tenis. Berita gembira untuk tahun 2011, Pelti akan keluarkan PNP KU 10 tahun dan 12 tahun.
Didalam pelaksanaan selama tidak ada peringkat resmi dari Pelti didalam suatu Turnamen nasional, seharusnya dalam Draw tersebut tidak perlu dicantumkan PNP nya karena tidak ada. Cukup saja penempatan dimana berdasarkan peringkat (yg dibuat bukan oleh Pelti) diletakkan nama pemainnya tanpa menyebutkan peringkatnya. Tetapi didalam pelaksanaan saya melihat ada Referee yang mencantumkan peringkatnya, tetapi ada yang juga tidak mencantumkannya sehingga masyarakat jadi bingung sendiri. Ini masalahnya.
Ini hanyalah masalah PNP Kelompok umur 10 tahun dan 12 tahun. Kenapa menyangkut kedua kelompok ini yang sering jadi perhatian khusus, karena saya melihat animo petenis yunior dikedua kelompok ini sudah menunjukkan kecendrungan meningkat. Peningkatan minat terhadap tenis ini didukung kuat oleh orangtuanya. Ada yang hanya sekedarnya membantu putra dan putrinya dan ada yang sangat tekun mengikuti perkembangannya. Sebenarnya kalau menurut yang saya ikuti anjuran dari ITF, bahwa kedua kelompok ini perlu mendapatkan perhatian serius sebagai cikal bakal petenis potensial.Sehingga khusus KU 10 tahun dianjurkan menggunakan bola khusus dengan tekanan hanya 75 %. Dan saya sudah menerapkan di RemajaTenis sebagai uji cobanya, dan ternyata mendapatkan respopns cukup baik sekali. Awalnya banyak keluhan tetapi setelah diberitahukan maksud dan tujuannya maka pelatih maupun orangtua bisa mengerti sekali.
Kita coba mengetahui maksud dari Peringkat didalam suatu turnamen tenis. Peringkat digunakan sebagai acuan Referee melakukan undiannya, sehingga adanya peringkat itu sangat membantu pelaksanaannya. Petenis ada Peringkat maka berarti petenis tersebut sudah mengikuti turnamen turnamen resminya yang digunakan sebagai acuannya.
Oleh induk orgnisasi tenis yaitu Pelti telah dikeluarkan Peringkat Nasional Pelti. Untuk yunior dikeluarkan hanya 3 kategori saja yaitu kelompok umur 14 tahun, 16 tahun dan 18 tahun.
Berarti kelompok 10 tahun dan 12 tahun tidak ada peringkatnya. Adanya inisiatip dari salah seorang wasit membuat peringkat KU 10 tahun dan 12 tahun itu dengan tujuan agar Referee bisa dibantu dalam membuat undian .
Dalam hal ini saya sih tidak mempermasalahkan adanya Peringkat KU 10 tahun dan 12 tahun yang dibuat bukan oleh Pelti,tetapi hal ini perlu diketahui oleh masyarakat tenis. Berita gembira untuk tahun 2011, Pelti akan keluarkan PNP KU 10 tahun dan 12 tahun.
Didalam pelaksanaan selama tidak ada peringkat resmi dari Pelti didalam suatu Turnamen nasional, seharusnya dalam Draw tersebut tidak perlu dicantumkan PNP nya karena tidak ada. Cukup saja penempatan dimana berdasarkan peringkat (yg dibuat bukan oleh Pelti) diletakkan nama pemainnya tanpa menyebutkan peringkatnya. Tetapi didalam pelaksanaan saya melihat ada Referee yang mencantumkan peringkatnya, tetapi ada yang juga tidak mencantumkannya sehingga masyarakat jadi bingung sendiri. Ini masalahnya.
Langganan:
Postingan (Atom)