Solo, 17 Mei 2009. Turunnya hujan bukannya makin menurun tetapi makin jadi sampai magrib melanda kota Solo. Masih bertahan menunggu hujan turun dengan sedikit merumpi perjalanan rekan rekan Anna Supriyadi maupun dengan pelatih muda yang sempat merasakan pahit getirnya sebagai Referee tidak resmi dari suatu TDP Yunior diluar pulau Jawa maupun di Solo. Semua keluhan muncul disaat ketidak senangan atas kerjasama yang kurang transparan dimana kesannya bukannya win win solution.
August Ferry Raturandang sendiri sempat ikut tertawa melihat cerita cerita ketidak puasan mereka terhadap rekan dari Jakarta yang terkesan sangat arogan bukannya kerjasama secara murni bisnis.
"Jika Anda ingin kerjasama dengan saya, maka saya sebaiknya sampaikan kalau kita harus mempunyai visi yang sama. Saya tidak mau kalian berbeda visi dengan saya. Marilah kita membangun pertenisan dengan secara menguntungkan semua pihak. Tidak ada lagi kesan mau kerja bakti tetapi sama sama mencari untung." ujar August Ferry Raturandang. Maka setelah diberitahukan apa yang harus dilakukan maka ketiganya sepakat kerjasama dimasa mendatang baik selaku pelaksana Piala Ferry Raturandang maupun TDP Yunior lainnya.
" Saya sudah menduga kalau kalian kecewa dengan rekan dari Jakarta. Tapi saya juga sudah menerima keluhan yang sama dari Pekanbaru dimana dikatakan ibaratnya mereka ke kantor Polisi minta pertolongan tapi diberikannya macan."
Demikianlah penjelasan August Ferry Raturandang kepada mereka berdua, agar dimasa mendatang tidak ada lagi keluhan keluhan seperti selama ini dialaminya.
Setelah puas menyampaikan keinginan masing masing maka pergilah makan malam ke tempat resto bebek goreng H. Slamet di salah satu cabangnya jalan Bhayangkara No. 389Tipes. Tempatnya tanpa pendingin udara tetapi ternyata pengunjungnya cukup banyak. Ini yang kedua kalinya August Ferry Raturandang santap malam ditempat ini.
Lumayan juga pergi makan malam secara lesehan alias duduk dilantai dengan kaki dilipat. Waduh semalam juga kaki pegal alias tidak tenang duduknya. Untungnya semua itu bisa dilupakan karena lezatnya bebek goreng dibumbui sambel cukup pedas dengan lalapan ketimun, daun kemanginya.
Suasana ceria selama dua hari ini walaupun turnamen Piala Ferry Raturadang-65 tertunda sampai minggu depan. Semoga pertemanan ini bisa langgeng dimana tidak ada dusta diantara kita.
Minggu, 17 Mei 2009
Peserta Piala FR Deo Gustirandra Ulang Tahun
.jpg)
Solo, 17 Mei 2009. Turunnya hujan di kota Solo tepat pukul 16.00 sehingga pelaksanaan Turnamen Piala Ferry Raturandang-65 diundurkan ke tanggal 24 Mei 2009. Demikian disampaikan oleh August Ferry Raturandang setelah beberapa pertanyaan datang dari peserta maupun orangtua yang datangnya dari Yogyakarta, Semarang, Pati, Purwodadi, Sragen , Karang Anyar, Sukoharjo maupun Solo.
Terlihat bukannya kecewa dengan diundurkannya minggu depan karena dikuatirkan ditunda ke esokan harinya maka akan mengganggu sekolah anak anak.
"Bagus Om, minggu depan saja." begitulah sambutan orangtua peserta Piala Ferry Raturandang-65 di lapangan GOR Manahan Solo.
Hari ini ada satu peserta dari Yogyakarta berulang tahun ke 12 yaitu Deo Gustirandra Putra sehingga mendapatkan hadiah berupa bebas pendaftarannya. Melihat betapa senangnya kesempatan bertanding dari turnamen ini dimana Deo (panggilanya) sempat main dua kali dan menang sehingga banyak acara HUT nya seharusnya di Yogya bisa dipindahkan ke Solo.
Hari ini tunggal putra KU 14 tahun unggulan pertama Roy Cahyo membatalkan keikutsertaannya sehingga posisinya digantikan oleh Pradwipa Mutianto asal Sragen yang masuk babak kedua setelah menang tapa bermain dari Yudiawan Adidrna (Wonogiri). Unggulan dua asal Semarang Bramastra Nandi W melenggang kebabak kedua setelah menang atas Nanda Putra (Solo) 43 41. Unggulan 3 asal semarang Anthony Susanto menang mudah dari Cakraden asal Solo 40 40. Unggulan 4 asal Wonogiri Arif Wisnumurti mengalahkan Valero Detra asal Yogya 40 40. Begitu juga Ismed Azarinudin menang dari R Hanintyo Aryono asal Solo 40 40.
Piala Ferry Raturandang diselenggarakn setiap bulan di Solo

Solo,17 Mei 2009. Udara panas cukup bersahabat pagi ini dilapangan GOR Manahan Solo yang penuh aktivitas olahraga berupa jalan pagi, senam bersama maupun latihan bola voli membuat suasana kota Solo yang tidak henti hentinya kegiatannya. Naik becak dari Hotel IBIS ke lapangan GOR Manahan cukup makan waktu 15 menit dimana terlihat dengan jelas kegiatan masyarakat dari segala golongan maupun umur berjalan selesai berolahraga di GOR Manahan.
Tidak perlu kuatir terhadap kecelakaan karena begitu santunnya dalam berlalu lintas membuat penumpang becakpun tidak perlu kuatir disenggol kendaraan mobil lainnya. Begitulah suasana kota Solo dihari Minggu. Ini pengalaman keempat bagi August Ferry Raturandang ke kota Solo dalam rangka kegiatan olahraga khususnya tenis. Yang pertama sebagai persiapan turnamen nasional yunior Bati Keris itahun 1990an, kemudian kedua kalinya saat memimpin pelaksanaan turnamen antar Dokter se Indonesia (ATMI Tournament) di Solo Baru. Kemudian ketiga kalinya selama 7 hari mengurus persiapan pelaksanaan Kejuaraan Dunia Davis Cup by BNP Paribas tahu 2009.
Saat ini suasana kota Solo berseri maupun Spirit of Java terlihat sekali selama mengunjungi Solo, sehingga membuat ada keinginan kembalke Solo. Keiginan ini ternyata mendapatkan sambutan cukup serius dari rekan rekan tenis di Solo. Oleh Elfa Pahlevi sudah menyetujui setiap bulan di Solo akan diadakan Persami Piala Ferry Raturandang.
Tak mau kalah juga rekan rekan dar Yogyakarta yang hadir di GOR Manahan, mulai dari Joko Wahyono, Indrawan S, Bambang S mengharapkan bukan hanya di Solo tetapi ada keinginan diselenggarakan di Yogyakarta.
"Bukan hanya Persami Piala FR tetapi TDP Yuniorpun akan saya janjikan di Yogyakarta, asalkan siapkan lapangan yang dibutuhkan." ujar August Ferry Raturandang memenuhi keinginan rekan rekan orangtua dari Yogya , dan begitu juga salah satu pelatih asal Solo lainnya yang masih muda kakak dari petenis Irfan Dwi N, sangat anthusias dengan terselenggarakannya turnamen di Solo maupun Yogyakarta. Katanya justru makin banyak turnamen makin baik untuk petenis sendiri. Hl ini diiyakan juga oleh pelatih asal Semarang Benny Siswanto yang ikut membawa anak asuhnya dari Semarang.
Disayangkan juga Piala Ferry Raturandang -65 ini banyak juga petenis yang no shor. Dari 73 petenis yang daftar ternyata yang datang hanya 60 petenis. "Hal ini sering terjadi dalam setiap pelaksanaan turnamen tenis.
Sabtu, 16 Mei 2009
Solo Diwaktu Malam Hari
Solo,16 Mei 2009. Memasuki kota Solo kali ini agak berbeda dengan disaat mempersiapkan kota Solo sebagai tuan rumah kejuaraan dunia beregu Davis Cup by BNP Paribas tanggal 8-10 Maret 2009. Dengan selana 3/4 berbaju kaos terbang dari Jakarta dengan Sriwijaya Air pukul 17.55 dalam waktu 50 menit mrndarat di bandara Adi Soemarmo yang baru diresmikan Maret 2009. Dari bandara bayar taksi bandara Rp. 50.000
langsung ke GOR Manahan bertemu dengan Anna PS dan Pramono .
Bawa bagasi cukup berat sehingga bisa kelebihan 27 kg harus dibayar. Ya, maklu bawa Piala Ferry Raturandang dalam doos beratnya mencapai 26,5 kg, belum lagi bola Nassau satu doos beratnya 7 kg, majalah Tennis 6 kg, spanduk 9 kg.
Ini peralatan untuk turnamen tenis Piala Ferry Raturandang-65 yang akan digelar tanggal 17 Mei 2009 di GOR Manahan.
Kemudian cari penginapan dengan taksi ke Wisma Dharma Wanita disaming GOR Manahan, sesuai anjuran Irsyad maupun Anna PS tetapi pintu masuknya tertutup, akhirnya keluar cari hotel Agas yang letaknya cukup dekat dengan GOR Manahan. Tapi sudah penuh karena digunakan acara olahraga Depdiknas yaitu O2SN. Ya, apa boleh buat keluar lagi untuk cari hotel lainnya. Teringat sewaktu ke Solo terakhir kalinya bulan Maret 2009 menginap di hotel Novotel dan Grand Orchid yng saling berdampingan. Ditengah tengahnya ada hotel IBIS yang belum pernah menginap disini. Hotel IBIS walaupun kamarnya kecil tapi cukup menyenangkan. Setelah check-in kemudian mandi untuk keluar cari alat charger baterai foto toestel.
Kalau jalan jalan ke Solo tidak bawa kendaraan sendiri lebih baik naik becak untuk jalan jalan. Setelah mendapatkan alat charge tersebut di salah satu Mal jalan Slamet Riyadi, langsung cari makanan khas Solo. Kalau ke Solo yang dicari KFC ataupun McD, rasanya belum ke Solo.
Dapatlah nasi liwet , tapi aduh mak duduknya harus lesehan . Karena belum biasa bisa semutan ini kaki. Tapi panggilan perut tidak bisa ditolak maka anggota tubuh lainnya harus mengalah.
Nasi liwet ditaruh di piring tanah (lawah) dengan dilapisi daun pisang cukup menarik hidangannya. Nasi Liwet komplit namanya, ada telur, ayam, sayur labu diris kecil kecil ditambah sambalnya (tapi kurang pedes, kalah sama rica rica Manado) membuat perut ini minta tambah. Benar juga 2 piringpun sanggup dilahapnya.
Setelah selesai menuaikan tugas memenuhi panggilan perut , kembalilah ke hotel mengisi blogger ini dan persiapkan peserta turnamen Piala Fery Raturandang-65 di Manahan Solo.
langsung ke GOR Manahan bertemu dengan Anna PS dan Pramono .
Bawa bagasi cukup berat sehingga bisa kelebihan 27 kg harus dibayar. Ya, maklu bawa Piala Ferry Raturandang dalam doos beratnya mencapai 26,5 kg, belum lagi bola Nassau satu doos beratnya 7 kg, majalah Tennis 6 kg, spanduk 9 kg.
Ini peralatan untuk turnamen tenis Piala Ferry Raturandang-65 yang akan digelar tanggal 17 Mei 2009 di GOR Manahan.
Kemudian cari penginapan dengan taksi ke Wisma Dharma Wanita disaming GOR Manahan, sesuai anjuran Irsyad maupun Anna PS tetapi pintu masuknya tertutup, akhirnya keluar cari hotel Agas yang letaknya cukup dekat dengan GOR Manahan. Tapi sudah penuh karena digunakan acara olahraga Depdiknas yaitu O2SN. Ya, apa boleh buat keluar lagi untuk cari hotel lainnya. Teringat sewaktu ke Solo terakhir kalinya bulan Maret 2009 menginap di hotel Novotel dan Grand Orchid yng saling berdampingan. Ditengah tengahnya ada hotel IBIS yang belum pernah menginap disini. Hotel IBIS walaupun kamarnya kecil tapi cukup menyenangkan. Setelah check-in kemudian mandi untuk keluar cari alat charger baterai foto toestel.
Kalau jalan jalan ke Solo tidak bawa kendaraan sendiri lebih baik naik becak untuk jalan jalan. Setelah mendapatkan alat charge tersebut di salah satu Mal jalan Slamet Riyadi, langsung cari makanan khas Solo. Kalau ke Solo yang dicari KFC ataupun McD, rasanya belum ke Solo.
Dapatlah nasi liwet , tapi aduh mak duduknya harus lesehan . Karena belum biasa bisa semutan ini kaki. Tapi panggilan perut tidak bisa ditolak maka anggota tubuh lainnya harus mengalah.
Nasi liwet ditaruh di piring tanah (lawah) dengan dilapisi daun pisang cukup menarik hidangannya. Nasi Liwet komplit namanya, ada telur, ayam, sayur labu diris kecil kecil ditambah sambalnya (tapi kurang pedes, kalah sama rica rica Manado) membuat perut ini minta tambah. Benar juga 2 piringpun sanggup dilahapnya.
Setelah selesai menuaikan tugas memenuhi panggilan perut , kembalilah ke hotel mengisi blogger ini dan persiapkan peserta turnamen Piala Fery Raturandang-65 di Manahan Solo.
Kamis, 14 Mei 2009
Untung Saya Ke Karawang
.jpg)
Jakarta, 14 Mei 2009. Untung saya pergi ke Karawang sekalian menyaksikan turnamen tenis Karawang Junior Open. Karena apa, saat dilapangan tenis, pelatih Bunge Nahor sempat membuat kaget dengan pertanyaannya yang tidak diduga sama sekali. Kenapa saya katakan untung ke Karawang. Akibat dari jawaban saya ini dimuat di blogger ini, penyelenggara turnamen Pontianak langsung protes ke PP Pelti karena merasa sudah kirimkan pendaftaran TDP ke PP Pelti tetapi tidak masuk dalam kalender TDP. Protes itu wajar wajar saja, yang saya anggap tidak wajar justru memojokkan salah satu pengurus yang dianggapnya memiliki blogger pribadi merugikan posisinya yang sudah merasa sangat berjasa dalam membangun pertenisan Indonesia. Tahu sendiri siapa pengurus yang mempunyai blogger pribadi ini.
Saya sendiri sempat kaget adanya TDP di Pontianak, karena sudah lama tidak terselenggarakannya TDP di Pontianak. Jelasnya sangat surprise. Memberikan jawaban sebenarnya, sehingga membuat pelatih Bunge Nahor sempat sewot dan marah dan menelpon langsung kepelaksana turnamen Pontianak yang lebih cenderung memarahinya dianggap tidak becus atau bahkan merasa ditipu dengan menggunakan tameng salah satu anggota pengurus Pelti. Memang Bunge pernah menyampaikan kepada saya yang mengatakan KATANYA si A , si B dan seterusya. Kok kata AFR bertentangan. Saya hanya sampaikan kepada Bunge , makan saja katanya tersebut. Gampang sekali mencek kebenaran dari Katanya tersebut. Coba tanya apakah ada SK Ketua Umum PP Pelti tentang pengakuan TDP tersebut. Bahkan perkiraan Bunge maupun orangtua petenis yang ikut mendengarkan, yang membuat SK TDP bukan Ketua Umum PP Pelti tetapi ketua bidang. Akibatnya Bunge penasaran juga dan ingin mengetest terhadap perkataan saya itu dengan langsung tanya ke Panpel Karawang Junior Open tentang keberadaan SK PP Pelti untuk Turnamen Karawang Junior Open ini. Akhirnya Bunge jelas melihat sendiri surat SK Ketua Umum PP Pelti. "Bunge, kok tidak percaya saya ya. Loe itu belajar tenis dari Bapak saya (alm). Masak saya mau bohongin eks murid Bapak saya. Tidak ada kamusnya itu." Bungepun baru sadar selama ini banyak sandiwara dilakukan pelaku tenis.
Ya, mereka lupa karena secara administrasi tentunya saya mengetahuinya semua arus surat masuk dan keluar PP Pelti. Mereka pikir saya ini type penipu terhadap masyarakat tenis. Mereka lupa saya ini bukan anak kemarin sore berkecimpung dipertenisan nasional, tidak seperti yang ada sekarang, baru kemarin sore sudah banyak mengaburkan masyarakat tenis. Ini yang harus dicegah. Teringat pula tulisan saya diblogger in dengan judul Jangan Ada Dusta.
Akibat pernyataan ini sehingga ada keinginan sesaat Bunge mengambil alih turnamen tersebut dengan menggunakan nama BNTP Junior Champs.
Memang kadang kala ada saja pihak pihak yang sangat ambisius mengangkat nama pribadi dengan menyerang institusi resmi agar bisa terangkat namanya ke tingkat nasional. Ini wajar wajar saja, karena saya sudah mengerti ini merupakan salah satu strategi dalam PR (public relations) campaign istilahnya.
Sebagai manusia yang waras tentunya berpikiran seharusnya pelaksana turnamen Pontianak berterima kasih karena saya memberikan jawaban sebenarnya. Coba jikalau saya diam diam saja , tentunya turnamen yang dipromosikan dengan gencar sebagai TDP ternyata hasilnya tidak dapat PNP bagi pesertanya.Hal ini tidak perlu terjadi jikalau mau mengikuti aturan yang dibuat oleh Pelti sebagai induk organisasi pemilik TDP tersebut. Apa akibatnya jika masyarakat khususnya orangtua petenis merasa dibohongi dengan promosi mengatas namakan salah satu pengurus Pelti.
Langsung hari itu juga PP Pelti menerima formulir pendaftaran TDP Pontianak tersebut yang dikirim melalui email ke email PP Pelti, dan saya langsung memproses seperti turnamen lainya untuk dibuatkan SK Ketua Umum PP Pelti dengan menentukan nama petugas Refereenya.
Tentunya harus mengikuti aturan atau ketentuan TDP. Jika tidak mengikuti aturannya maka pencabutan terpaksa dilakukan seperti yang terjadi di TDP sebelumnya ada pencabutan tersebut akibat pembangkangan. Akibat pencabutan TDP, yang jadi kambing hitam selalu saya. Dianggap mengganggu kinerja mereka, padahal saya hanya mau mereka itu mengikuti peraturan yang sudah baku dibuat oleh induk organisasi tenis. That's all.
Melihat surat protes yang dikirim dengan email, saya sendiri sedikit geli juga, begitu juga komentar karyawan sekretariat Pelti. Karena dikatakan Pelti yang harus mencek apakah Formulir Pendaftaran TDP yang dikirimkannya ke PP Pelti sudah atau belum diterima. Saya menikmati sekolah di Indonesia sejak kecil dari Sekolah Rakyat (bukan SD) sampai Universitas tidak pernah diajarkan jika kita mengirimkan surat kepihak lain, maka sipenerima yang harus mencek apakah mengirim surat tersebut. Ini benar benar aneh bin ajaib. Tidak ajaib karena saya sudah tahu ada indikasi kecendrungan ingin menguasai atau mendikte induk organisasi di Indonesia.
Begitulah nasib jika duduk dalam kepengurusan olahraga ada saja tudingan negatip akibat iri maupun tidak tersalurnya keinginannya pribadi bisa menembus kedalamnya. Saya sendiri jika membaca berita yang dikeluarkan oleh situsnya sendiri dengan memojokkan nama pribadi atau jabatan, tidak ingin sama sekali mengajukan protes. Padahal beberapa rekan menganjurkan untuk menulis surat resmi kepadanya untuk protes. Hal ini tidak akan saya lakukan, maklum seperti orang bijak katakan
, " Biarkanlah anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu."
Lebih baik melayani pihak pihak yang berpikiran positip agar tenis didaerah bisa maju dan rekan rekan yang masih memiliki etika dalam menjalankan roda pertenisan Indonesia . Caranya memberikan motivasi kepada mereka bagaimana caranya membuat turnamen tenis. Tidak perlu harus memonopolinya. Cukup dengan mengajarkan dan memberikan contoh langsung kepada mereka dengan jelas dan trasparan sehingga ada keinginan mereka selenggarakan Turnamen tenis tanpa ketergantungan kepada seseorang. Inilah AFR sebenarnya.
Senin, 11 Mei 2009
Menjawab Komentar

Jakarta, 11 Mei 2009. Sebenarnya sudah tidak terlalu interest membaca komentar2 yang muncul di situs resmi Pelti, tetapi kemarin terima SMS dari salah satu pelatih tenis yang cukup menjanjikan di Solo, terpaksa membukanya. Ya, kalau memang tata cara pengisian komentar yang tak bermutu bagi pertenisan Indonesia sebaiknya di delete saja. Bukan hal yang sulit mendelete komentar komentar konyol terutama yang sudah menjurus keperorangan. " Om baca ngak komentar hari ini di situs Pelti." begitulah SMS yang diterima dari Solo. Akhirnya telponnya masuk juga. Disebutkan tentang hujatan kepada salah satu nama yang baru tahun kemarin berkecimpung dipertenisan.
Sedangkan adanya pertanyaan langsung kepada August Ferry Raturandang, tentang ketidak setujuannya terhadap pandangan August Ferry aturandang mengenai pemberian hadiah uang kepada pemenang turnamen tenis yunior, dengan memberikan contoh kalau sewaktu putra August Ferry Raturandang ikut bertanding (tahun 1980-an) hadiah uang (dalam bentuk TABANAS) diterimanya juga. Ini menunjukkan ketidak adilan August Ferry Raturandang saat ini.
Memang diakuinya kalau saat itu baru berkecimpung sebagai orangtua petenis, belum sebagai pengurus Pelti. Disaat duduk sebagai pengurus tentunya kesempatan membaca peraturan peraturan yang dikeluarkan oleh ITF (International Tennis Federation)lebih terbuka. Setelah konsentrasi penuh di pertandingan baru mulai terbuka pikirannya kalau selama ini kesalahan banyak dilakukan oleh pelaku pelaku tenis dilapangan. Sadar kalau salah, tetunya sudah waktunya diperbaiki terutama selama duduk di kepengurusan Pelti. Ini wajib hukumnya, bukan sebaliknya.
Sebaiknya semua insan tenis diberikan pengetahuan mengenai aturan oleh ITF di Junior Circuit Regulations 2009 di halaman 24, bunyinya sebagai berikut " No prize money in any form shall be paid at any junior tournament, , either to the players or to their National Associations. Wild cards into professional level events are not considered as Prize Money."
Begitu juga tentang GIFTS, the value of a gift to the winner of a tournament may not exeed the value of US$ 500.00.
Oleh August Ferry Raturandang diakui kalau tidak ahli bahasa Inggris walaupun bisa berkomunikasi dengan Luar Negeri, mengartikan kalau hadiah uang dalam bentuk apapun dikaitkan dengan turnamen yunior tidak diperkenankan. Ada yang mengatakan bisa diberikan kepada wakilnya, ataupun klub maupun Peltinya. Ini juga pendapat tidak benar menurut August Ferry Raturandang. Sebagai contoh sepengetahuannya disetiap Kejuaraan Beregupun aturan ini berlaku. Disetiap Wolrd Junior Tennis Competition (kejuaran dunia beregu kelompok umur 14 tahun), ataupun Junior Fed Cup dan Junior Davis Cup (kejuaraan dunia beregu KU 16 tahun) tidak ada satupun hadiah diberikan dalam bentuk UANG. Begitulah pandangannya yang tidak akan berubah jikalau ada ingin bertanya kepadanya. Harus konsisten kecuali ada perubahan dari ITF sebagai acuannya.
Ada yang menarik dari komentar tersebut yaitu pertanyaan mengenai " Win Or Loose I don't Care, I just Play TENNIS."Yang menjadi pertanyaan saat ini adalah , apakah kita menyadari kalau ada kecendrungan dari masyarakat sudah tidak tertarik dengan olahraga tenis. Apakah Anda tahu kalau ditahun 1990-1996, peserta Turnamen Piala Thamrin di Jakarta pernah mencapai 1.200 peserta. Nah, sekarang berapakah peserta disuatu Turnamen Nasional yunior ? Sekedar informasi peserta turnamen nasional yunior sekarang dibawah angka 500. Nah, ini data data jelas menunjukkan penurunan petenis yunior.
Ini bukan hanya di Indonesia saja, karena ITF sudah melihat secara dunia, sehingga muncullah konsep atau program yang sudah 2 tahun ini dipromosikan yaitu Play & Stay .....Tennis.
Begitu juga dalam keadaan setiap kali menyaksikan turnamen tenis yunior, sebagai pengalaman selenggarakan turnamen PERSAMI sejak tahun 1996 sampai 2009 ini. Banyak perilaku orangtua yang sebenarnya merupakan bumerang bagi putra dan putrinya. Kenapa demikian, karena perlakuan orangtua saat ini memaksakan kehendaknya agar putranya harus menang. Lupa kalau keinginan main tenis itu datangnya dari keinginan orangtua, bukan dari putra atau putrinya. Ini bedanya.
Sehingga dalam kepelatihan tenis sudah dimodifikasi cara melatih anak anak berbeda dibandingkan dulu kala sewaktu baru belajar tenis. Hal yang sama juga sudah berubah dengan melatih orang dewasa. Sebagai contoh dalam konsep Play & Stay ....Tennis. Dulu seaktu masih kecil diajarkan tenis mulai dari GRIP, cara memegang raket. Sekarang dalam konsep Play & Stay ... Tennis, beda sekali. Diserahkan sesuka hatinya memegang raket tersebut sesuai dengan kehendaknya.
Ada pemikiran jika orang dewasa ingin main tenis dilapangan tenis, bukannya ingin belajar teori tenis atau teori bermain tenis. Tapi ingin langsung bisa bermain tenis. Nah, ini konsep kepelatiahn tentunya harus disesuaikan keinginan tersebut. Jika pelatih masih menggunakan konsep lama, maka so pasti keinginan bermain tenis itu akan menurun. Karena tentunya merasa susah main tenis, terlalu banyak teori.
Apa kaitan dengan win or loose I don't care.? Kepada anak anak, pertama kali harus diciptakan aras SENANG main tenis, jangan diberikan dulu rasa kompetisi tersebut. Karena desakan external membuat kesal atau beban bagi anak anak. Nah jika sudah diciptakan rasa senang tentunya anak tersebut akan muncul rasa ingin menang dari dalam dirinya sendiri. Bukan datang dari pihak luar.
Ada cara yang cukup bijaksana bagi orangtua. Jikalau habis bertanding jangan dulu bertanya kepada anak anak " MENANG atau KALAH ". Apalagi kalau sudah kalah, beban dalam diri anak pasti sudah besar. Mulai dari badan letih, kemudian beban takut dimarahin orangtua yang sangat ambisius sekali. Karena yang penting anak itu bermain sebaik mungkin dulu. Jika sudah bermain sebaik mungkin, prosentasi kemenangan lebih besar. Jadi pertanyaan yang bijak adalah " Bagaimana dengan permainan tadi, senang atau tidak." Orangtua hanya menggiring pertanyaan tersebut sehingga nantinya anak sendiri akan mejawab kalah atau menang. Kita harus memuji permainan yang cantik yang telah dikeluarkan selama bertanding. Jangan dulu disinggung permainannya yag jelek atau salah, biarkan dia sendiri akan menceritakan kesalahan kesalahan sehingga problem solving dijawab sendiri.
August Ferry Raturandang sendiri tidak pernah mengaku sebagai pelatih tenis, walaupun pernah ikuti kepelatihan tenis dari Luar Negeri di Jakarta, tetapi pernah menjadi pelatih tenis sewaktu putra dan putrinya belajar tenis. Berdasarkan pengalaman diturnamen maupun ditambah pengetahuan dari ITF sehingga berani keluarkan statement "Win Or Loose I Don't Care, I Just Play Tennis @ Ferry Raturandang Cup."
Kenalan baru dari Bandar Lampung
.jpg)
Jakarta, 11 Mei 2009. Kehadiran didaerah saat turnamen nasional berlangsung sering kali sangat bermanfaat karena sering bertemu muka dengan masyarakat tenis yang selama ini belum pernah dikenal. Hal seperti ini sudah sering terjadi jikalau memanfaatkan kunjungan alias jalan jalan kedaerah daerah. Kali ini juga tidak luput terjadi pula di Karawang, saat hari Sabtu 9 Mei 2009 sedang berlangsung turnamen nasional Karawang Junior Open 2009.
Sedang asyik berdiri karena sudah lama duduk, tiba tiba datang seorang pria mendekat didepan August Ferry Raturandang. Dipikirnya akan memakai kursi yang tadi digunakannya. "Silahkan pakai kursi ini." ujar August Ferry Raturandang kepada salah satu penonton yang hadir. "Ini Pak Ferry ? " muncul pertanyaan yang tidak disangka sangka. Akhirnya perkenalanpun terjadi, ternyata pria tersebut adalah ayah dari salah satu petenis Bobby asal dari Bandar Lampung. Sempat disebutkan namanya tetapi sayang lupa diingat, maklum baru pertama kenal dan keduanya tidak membawa kartu nama sehingga tidak hapal nama tetapi sempat saling tukar menukar nomer opnsel masing masing.
"Mau tanya, bagaimana caranya biar di Lampung ada turnamen tenis." pertanyaan yang sangat menarik bagi August Ferry Raturandang. Ternyata pria tersebut mengenal nama August Ferry Raturandang karena putranya Bobby sudah beberapa kali ikuti turnamen Persami Piala Ferry Raturandang di Jakarta.
Langsung pembicaraan makin menarik karena August Ferry Raturandang tidak mau melepas peluang yang ada jika sudah muncul niat dari yang bertanya. "Gampang sekali, berapa kemampuan Anda mengumpulkan dana, saya siap selenggarakan turnamen nasional yunior." pertanyaan balik dari August Ferry Raturandang. Langsung diterangkan jika selama ini orangtua kirimkan putra putrinya ikuti turnamen nasional di Jawa selalu menghabiskan uang diatas jutaan rupiah. Hal ini diakuinya. Kumpulkan saja, beberapa orangtua yang peduli maka bisa diselenggarakan turnamen nasional dimana yang akan menikmatinya lebih banyak petenis dikota tersebut, belum lagi akan datang dari luar kota. Jikalau bisa dapatkan sponsor lebih baik lagi sehingga turnamen bisa lebih banyak lagi.
"Apa yang bisa saya lakukan." ujarnya. Kemudian diminta agar upayakan dapat lapangan tenis yang ada dengan gratis. kalau harus bayar maka usahakan sponsor untuk menutupi beaya beaya lainnya.
"Saya mau belajar sama Pak Ferry." ujarnya tambah serius. Oleh August Ferry Raturandang yang sangat mengharapkan setiap daerah ada orang yang peduli terhadap turnamen tenis. "Ini permintaan yang belum pernah saya dengar, dan saya sangat senang jika Anda masih mau. Kita lakukan kerjasama. Win win solution, karena saya buat turnamen untuk cari untung. Kalau sudah untung so pasti bisa selenggarakan lebih sering. Bukan setahun sekali. Jika untung kita bagi dua. OK !" ujar August Ferry Raturandang
Kehadiran pria tersebut bukannya mengantarkan putranya ikuti turnamen tenis tetapi kebetulan sedang jalan jalan ke Jakarta, mendengar di Karawang ada turnamen tenis, maka berangkatlah sekeluarga menengok pelaksanaan turnamen nasional di Karawang.
Langsung oleh August Ferry Raturandang katakan kalau selama ini sangat penasaran jika turnamen nasional tidak ada di Bandar Lampung dan Medan karena lima belas tahun silam pernah diselenggarakan Lampung Open di Bandar Lampung dan Medan Open di Medan. Ini berarti kedua kota tersebut mampu selenggarakan turnamen nasional karena memiliki sarana lapangan tenis yang memadai, tinggal menunggu NIAT saja.
Apakah Turnamen itu termasuk TDP ?
Karawang, 10 Mei 2009. Disela sela turnamen nasional yunior Karawang Junior Open di Karawang, muncullah pertanyaan dari pelatih maupun orangtua. Salah satu pelatih yang getol bertanya adalah Bunge Nahor.
“Apakah Turnamen di Pontianak itu TDP ? “ ujarnya . Karena selama ini belum melihat adanya permintaan dari Kalimantan Barat masalah pelaksanaan turnamen nasional yunior, sehingga August Ferry Raturandang justru bertanya waktu pelaksanaannya karena tidak tahu dan tidak melihat dalam Kalender TDP 2009. Ketidak tahuan August Ferry Raturandang membuat yang mendengar jadi bingung. Tentu ada alasan bagi August Ferry Raturandang, karena tidak melihat permintaan dari penyelenggara turnamen tersebut.
“Kok bisa begitu Pak, kami diberitahu penyelenggara kalau itu TDP.” ujar salah satu orangtua. Masalah TDP bisa saja benar , tetapi yang jelas tidak mendapatkan PNP kepada pemenangnya, karena ada persyaratannya ataupun tata caranya.
Selanjutnya dikatakan kalau semua turnamen yang masuk dalam Turnamen Diakui Pelti atau TDP tentunya harus mengisi formulir Pendaftaran TDP oleh penyelenggara setelah mendapatkan rekomendasi dari Pengprov Pelti setempat.
“Apa syarat menjadikan TDP. ? “ ujarnya. Disebutkan kalau setelah mengisi formulir tersebut dikirimkan ke PP Pelti dengan menyertakan uang pengakuan sebesar Rp 500 ribu untuk TDP kelompok yunior. Setiap pelaksana TDP harus menyediakan lapangan tenis, tenaga pelaksana, tenaga Referee yang ditunjuk oleh PP Pelti, tenaga wasit, tenaga medis. Tidak diperkenankan menyediakan hadiah dalam bentuk UANG, Menggunakan official ball Pelti. Setelah mengisi formulir tersebut, maka PP Pelti akan keluarkan SK Ketua Umum tentang pengakuan TDP tersebut. " Yang tanda tangan TDP itu Ketua Umum PP Pelti."
Ternyata persyaratannya cukup mudah sekali sehingga siapapun jika berkeinginan selenggarakan TDP Kelompok Yunior sudah bisa selenggarakan.
Selanjutnya dikatakan, jikalau sudah diterima sebagai TDP tetapi dalam pelaksanaannya tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas maka bisa saja turnamen tersebut dicabut pengakuannya sehingga peserta tidak mendapatkan PNP.
Bunge sendiri sepeerti kebingungan karena merasa sebagai perintis di Pontianak dimana awalnya dilibatkan tetapi sekarang ditinggalkannya."Kamu harus bertanggung jawab juga, jangan sampai dibiarkan." ujar salah satu orangtua petenis yunior kepada Bunge Nahor. "Waduh, kalau begitu saya buat BNTP Junior saja di Pontianak." ujar Bunge dengan semangat. Kemudian ditanyakan berapa beaya beaya yang diperkirakan untuk suatu TDP Yunior, selanjutnya diterangkan semuanya sehingga jelas kepada Bunge Nahor maupun orangtua petenis tersebut. Karena penasaran, terlihat Bunge Nahor mendatangi panpel Karawang Junior Open 2009 menanyakan SK dari PP Pelti. Setelah diperlihatkan SK PP Pelti yang ditanda tangani oleh Ketua Umum PP Pelti, maka baru Bunge Nahor sadar atas kekeliruannya selama ini. Selama ini terombang ambing dengan rayuan yang mengatakan "katanya," sehingga terbuai atas kebenaran berita tersebut.
“Kalau begitu tidak susah adakan TDP.” " Ya, iyalah "
“Apakah Turnamen di Pontianak itu TDP ? “ ujarnya . Karena selama ini belum melihat adanya permintaan dari Kalimantan Barat masalah pelaksanaan turnamen nasional yunior, sehingga August Ferry Raturandang justru bertanya waktu pelaksanaannya karena tidak tahu dan tidak melihat dalam Kalender TDP 2009. Ketidak tahuan August Ferry Raturandang membuat yang mendengar jadi bingung. Tentu ada alasan bagi August Ferry Raturandang, karena tidak melihat permintaan dari penyelenggara turnamen tersebut.
“Kok bisa begitu Pak, kami diberitahu penyelenggara kalau itu TDP.” ujar salah satu orangtua. Masalah TDP bisa saja benar , tetapi yang jelas tidak mendapatkan PNP kepada pemenangnya, karena ada persyaratannya ataupun tata caranya.
Selanjutnya dikatakan kalau semua turnamen yang masuk dalam Turnamen Diakui Pelti atau TDP tentunya harus mengisi formulir Pendaftaran TDP oleh penyelenggara setelah mendapatkan rekomendasi dari Pengprov Pelti setempat.
“Apa syarat menjadikan TDP. ? “ ujarnya. Disebutkan kalau setelah mengisi formulir tersebut dikirimkan ke PP Pelti dengan menyertakan uang pengakuan sebesar Rp 500 ribu untuk TDP kelompok yunior. Setiap pelaksana TDP harus menyediakan lapangan tenis, tenaga pelaksana, tenaga Referee yang ditunjuk oleh PP Pelti, tenaga wasit, tenaga medis. Tidak diperkenankan menyediakan hadiah dalam bentuk UANG, Menggunakan official ball Pelti. Setelah mengisi formulir tersebut, maka PP Pelti akan keluarkan SK Ketua Umum tentang pengakuan TDP tersebut. " Yang tanda tangan TDP itu Ketua Umum PP Pelti."
Ternyata persyaratannya cukup mudah sekali sehingga siapapun jika berkeinginan selenggarakan TDP Kelompok Yunior sudah bisa selenggarakan.
Selanjutnya dikatakan, jikalau sudah diterima sebagai TDP tetapi dalam pelaksanaannya tidak memenuhi persyaratan tersebut diatas maka bisa saja turnamen tersebut dicabut pengakuannya sehingga peserta tidak mendapatkan PNP.
Bunge sendiri sepeerti kebingungan karena merasa sebagai perintis di Pontianak dimana awalnya dilibatkan tetapi sekarang ditinggalkannya."Kamu harus bertanggung jawab juga, jangan sampai dibiarkan." ujar salah satu orangtua petenis yunior kepada Bunge Nahor. "Waduh, kalau begitu saya buat BNTP Junior saja di Pontianak." ujar Bunge dengan semangat. Kemudian ditanyakan berapa beaya beaya yang diperkirakan untuk suatu TDP Yunior, selanjutnya diterangkan semuanya sehingga jelas kepada Bunge Nahor maupun orangtua petenis tersebut. Karena penasaran, terlihat Bunge Nahor mendatangi panpel Karawang Junior Open 2009 menanyakan SK dari PP Pelti. Setelah diperlihatkan SK PP Pelti yang ditanda tangani oleh Ketua Umum PP Pelti, maka baru Bunge Nahor sadar atas kekeliruannya selama ini. Selama ini terombang ambing dengan rayuan yang mengatakan "katanya," sehingga terbuai atas kebenaran berita tersebut.
“Kalau begitu tidak susah adakan TDP.” " Ya, iyalah "
Langganan:
Postingan (Atom)