Kamis, 21 November 2019

PP Pelti : Masalah Komunikasi Internal

Jakarta, 21 November 2019. Sempat berkunjung ke PP Pelti setelah mendapatkan undangan membicarakan sesuatu tentunya masalah tenis. Bertemu dengan wakil ketua bidang pembinaan prestasi. Ngobrol berdua saja maka AFR sempat menyampaikan keluhan masyarakat tenis terhadap kebijakan PP Pelti saat itu. Masalah kriteria menjadi tim nasional  yang sudah dicantumkannya dalam website Pelti. AFR langsung menyimpukan tentang kriteria tersebut yang lebih cocok menjadi kriteria seleknas tim nasional dan terlalu " SUBJECTIVE" Apa reaksi wakil ketua bidang pembinaan? Ternyata hanya bisa mendengar keluhan tersebut,

Tanpa seleksi merupakan kendala dialami setiap petenis yunior yang ingin menjadi anggota tim nasional dalam ajang kegiatan kejuaraan dunia yang selala dikirim Pelti untuk mewakili Indonesia.
Ada kejuaraan dunia Junior Fed Cup ( 16 th putri ), Junior Davis Cup ( 16 th putra), World Junoor Tennis ( 14 tahun) .dan juga ada untuk KU 12 tahun.\
Semua dilakukan berdasarkan selera Pelti dan juga ada kecendrungan untuk memilik atlet uang punya dana karena kemungikinan Pelti mengharuskan peserta menangungnya.
Dengan perlakuan semau gue tersebut  sebenarnya tanpa disadari bahwa justru bukan memotivasi atlet agar berlatih lebih giat , melainkan membinaskan

Rabu, 20 November 2019

Kinerja PP Pelti 2017 - 2022

Jakarta, 20 November 2019. Menjelang dua tahun setelah Musyawarah Nasional Persatuan Tenis seluruh Indonesia atau MUNAS PELTI 2017, teringat akan kinerja selama ini. Sejak dilantik KONI diawal tahun 2018 telah terbentuk kepegurusan PP Pelti 2017-2022.

Tahun pertama belum menonjol kegiatan sesuai dengan Pokok Pokok Program Kerja Pelti 2017-2022. Hanya sibuk dengan kegiatan Davis Cup 2017 dengan mendatangkan Presiden Republik Indoneisa Ir Joko Widodo. Ini prestasi awal bagi kepengurusan PP Pelti karena selama ini 1986-2017 belum pernah ada Presiden RI datang ke Stadion Tenis GBK, Kebetulan diresmikan setelah renovasi Stadion Tenis GBK untuk Asian Games 2018 sehingga momen itu dimanfaatkan dengan Davis Cup. Setelah itu tidak kedengaran aktivitas lainnya.

Tanda tanda komunikasi internal sudah mulai dari terjadinya conflict of interest didalamnya sehingga muncullah 3 grup tersebut jalan sendiri sendiri 
Kelihatan eforia kemenangan waktu Munas 2017 masih terasa dalam kepengurusan ini, masih terlihat jelas tanpa dirasakan oleh pelaku2 nya, ini kesibukannya yang nyta terlihat dan dirasakan pihak luar.

Sewaktu bulan Oktober 2018 disaat acara Asian Paragames 2018 AFR diperkenalkan dengan Sekjen baru PP Pelti karena secara diam diam ada pergantian Sekjen PP Pelti. Diam diam bisa dikatakan demikian karena orang yang pertama kali diperkenalkan adalah AFR sedangkan Pengprov Pelti tidak tahu apa saat itu ,  seperti dikemukakan oleh petinggi Pengprov Pelti kepada AFR.

Sempat menyuarakan kepada Sekjen baru adalah bereskan komunikasi internal  karena sekarang di PP Pelti ada  3 kubu yang berusaha dengan kepentingannya sendiri.

Jumat, 15 November 2019

PP Pelti Melanggar aturan yang dibuat sendiri

Jakarta  16 Nopember 2019. Ada keputusan blunder dilakukan oleh PP Pelti selama tahun 2019 setelah terjadi pergantian Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti kepada wakilnya yang kesannya tidak bisa diajak kerja sama oleh group tertentu dalam PP Pelti saat ini. Agar memuluskan segala keputusan yang salah menurut aturannya   Terbukti sudah menjadi kenyataan  Yaitu keputusan kejuaraan UNEJ mendapatkan kehormatan kategori J-4.
Aturan PP Pelti adalah semua turnamen jikalai baru pertama kali dibuat untuk Turnamen 7 hari diawali kategori J-5, kemudian dievaluasi setelah pelaksanaan untuk mencantumkan kategori ada turnamen tahun depan
   
Kejuaraan UNEJ dikenal adaah turnamen 3 hari sudah berlangsung 5 tahun atau 5 kali kemudian tahun 2019 diubah statusnya menjadi turnamen 7 hari yang sediakan pertandingan tunggal dan gandanya, Disini letak perbedaan nya antara turnamen 7 hari atau turnamen 3 hari. Seharusnya masuk kategori J5. Tiba tiba keluar kepurtusan PP Pelti masuk kategori J-4 akibat pebisik yang salah, Ini lah kesalahan yang tak mau diakui oleh Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti ketika ditanyakan langsung, " Dilihat pertama adalah kontinutasnya kemudian kualitas pesertanya. " Ini bertemtangan dengan aturan yang dibuat PP Pelti bahkan sudah diupload di websitenya. Ketika ditanyakan kualitas pesertanya kepada mantan ketua bidang pertandingan PP Pelti maka hal itu tidak dibenarkan terutama kualitas pesertanya

Senin, 11 November 2019

Surat Kepada Ketua Umum PP Pelti

Kepada yth
Ketua Umum PP Pelti (2017-2022)

Selamat malam.
Ketentuan TDP Nas dibuat tahun 1989 oleh Program Manager Turnamen PB Pelti, AFR ( 1988-1990) dengan mengacu akan ketentuan ATP-Tour, WTA-Tour,, ITF Procircuit , ITF World Junior .

Kemudian setelah berjalan bbrp tahun pd tahun 1992 diperbaiki tata bahasanya karena waktu di launch tata bahasanya terlalu kaku tp tdk menyangkut materi inti.
Tahun 2004 direvisi oleh PP Pelti dgn bentuk tim perumus tdd 3-4 tenaga Referee yg dimiliki dan AFR selaku koordinator di Puncak selama 2 hari penuh.
Hasil rumusan tim perumus dilaporkan ke Pengurus Harian PP Pelti dan setelah itu keluar SK Ketua Umum PP Pelti ttg Ketentuan TDP Nasional.

Melihat perkembangan peraturan Turnamen ITF World Junior ada perubahan ttg sistem pertdgn sedangkan ketentuan TDP Nas Kel Yunior belum ada perubahan. Tapi oleh Referee kita mengikuti aturan ITF World Junior dlm  melaksanakan TDP Nas Junior sdgkan ketentuan TDP Nas Junior belum diubah.
Hal yg sama juga terjadi di Kelompok Umum.

Memenuhi Undangan Rapat Penyelengara TDP dengan PP Pelti


JAKARTA, 12 November 2019. Sudah lama rasanya tidak menulis catatan ini berhubung satu sama yang lain. Sustu saat terima undangan datang dari PP Pelti sebagai penyelengara turnamen . Undangan tersbut dua hari sebelumnya terima melalui WA.

Tepatnya tanggal 1 November 2019 diselkeretariat PP Pelti Senayan. 
Tampak hadir penyelengara TDP datang dari  JITA. Martin Setiawan, Bunge Nahor sebagai perorangan dari sebagai perwakuilan Pelti cabanga dari Pati, Tulung Agung, Sekretaris Pemgda Pelti DKI,sedangkan dari Pelti hadir pula Wakil Sekjen Susan Soebakti, Sekjen PP Pelti, Kabid Pertandangan PP Pelti dan Wakabid Pertandingan PP Pelti, komite Wasit PP Pelti ,

Setelah dibuka oleh Sekjen , langsung AFR bertanya sekalian usulan. " Sebaiknya materi ketentuan TDP dibagikan kepada peserta;" ujar AFR. Langsung Sekjen PP Pelti  ditanggapi kalau sudah dikirim ke Pengda masing masing. Saya pikir ini jawaban hanya ngeles saja alias asal cuap. Karena saat itu semua diam karena so pasti belum menerima dari Pengda maka diam Ternyata setelah dicek ke Pengda belum terima. Dan pada saat itu AFR kemukakan agar notulen rapat dibagikan kepada peserta rapat, Dijawab dengan serius , so pasti akan dibagikan. Ternyata sampai hari ini 11 November 2019 belum keluar notulen rapat, Ini kejadian yang kedua kalinya rapat dengan Kabid Pertandingan tanpa notulen rapat

Ternyata topik acara yang dibahas berdasarkan SK Ketua Umum PP Pelti tentang revisi kategori TDP, Sebenarnaya bukan itu yang lebih penting karena kategori itu sudah jelas tapi rupanyan Kabid Pertandingan membaca dengan kaca mata berbeda. Sebenarnya rapat ini tujunya untuk membenarkan blunber yang telah dilakukan Kabid Pertandingan PP Pelti karena sudah melanggar aturan yang terlah dibuat sendiri bahkan sudah diumumkan melalui website Pelti.

Kamis, 26 September 2019

Petenis Muda Perlu Diajarkan Etika

Jakarta, 27 September 2019 . Pagi ini terima tilpon dari Kuching oleh salah satu rekan lama dari Pontianak Putera yang melaporkan soal tingkah laku petenis muda Indonesia yang sedang bertanding di Kuching saat ini,
Mulanya ditanya apakah AFR sekarang duduk di PP Pelti, kemudian setelah diberitahu bahwa salah satu petenis muda Indonesia N.J.A sering mengeluarkan kata kata jorok waktu bermain. " Murid siapa dia?"

Waduh persoalan kata kata jorok itu tentunya datang dari sekelilingnya. Tidak mungkin datang dari orangtuanya, tentunya datang dari sekelilingnya. 
Ternyata informasi datang juga dari rekan seperguruan tenis anak itu juga ada bersikap demikian. Waduh, sudah sedemekian gawatnya soal etika tidak ditanamkan oleh pembinanya.

Tentunya anak ini tidak sekolah sehingga tidak tahu mana yang baik dan mana yang tidak baik Disinilah kelemahan atlet kita dalam hal didikan diluar sekolah, kelihatannya belum siap dengan home schooling, karena banyak demi prestasi tenis sampai meninggalkan sekolah, sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan,

Kamis, 12 September 2019

AD ART Pelti 2017-2022 Sudah Didistribusikan

Jakarta, 12 September 2019 Acara syukuran dan doa pelepasan Tim Davis Cup Indonesia dilakukan di jalan Talang. Menteng Jakarta , sempat ikut menghadiri setelah mendapat undangan dari Tournamet Director Davis Cuo Susan Soebakti yang juga adalah wakil Sekjen PP Pelti.

Ketika bertemu dengan waketum PP Pelti sempat disampaikan kedada AFR soal AD ART Pelti 2017-2022 yang dipermasalahkan. " Sebenarnya AD ART itu sudah ada di website Pelti cuma karena websitenya sedang perbaikan, Begitu juga AD ART Pelti 2017-2022 sudak kami kirimkan kesuluruh Pengda ." ujar Waketum PP Pelti begitu semangat nya. Tetapi ketika dikatakan AFR bahwa Nusa Tenggara Timur belum menerimanaya, " Coba cek kembali ke Pengda.".

Rada penasaran juga antara percaya dan tidak percaya atas penjelasanan tersebt AFR sempat beritahukan berdasarkan penemuan dilapangan, Seperti di Palembang , surat Pengda  ternyata masih menggunakan kop surat Persatuan Tenis lapangan Indonesia. Kemudian di Bantul menemukan Pengcab Pelti Ngawi salah kop suratnya. Belum lagi di tingkat Pengca lainnya kalau mau ditelusuri sekalian

Selasa, 10 September 2019

Mana AD ART Pelti 2017 - 2022

Jakarta, 10 September 2019 , Saat berada di Bantul , ternyata menemukan bahwa kepanjangan PELTI masih salah ditingkat Pengcab / Pengkot/Pengkab Pelti. Kenapa bisa terjadi demikian, Kita tidak bisa saling menyalahkan apakah Tingkat Pengurus Pusat atau Pengurus Daerah/ Pengprov. Tetapi biasanya kita mulai ditingkat Pusat.

Era sekarang sebenarnya sudah sangat mudah mencari informasi, Ternyata muncul nya dari PP Pelti  2017 hasil Munas Banjarmasin yang sampai saat ini belum dimasukkan ke website Pelti, Pusat infiormasi resmi, bukan situs situs lainnya 

Kepengurusan sudah berjalan sejak dilantik Januari 2018 sampai saat ini belum terealiser. Sejak Munas 2017 ada revisi AD ART yang seharusnya bekerja 3 bulan, Kemudian disahkan dalam MUNASLUB, Dan Munaslub sudah terjadi akhirJanuari 2019. Tetapi belum juga keluar, saat ditanya ke sekretariat dapat jawaban masih ditangan legal dept, masih ada kemungkinan revisi ulang. Kok bisa dimana sudah disahkan dalam Munaslub masih direvisai lagi, Impossible menurut tata cara organisasi. Terkesan kerja amburadul, semau gue istilah Betawi 

Dari sini bisa terlihat cara kerja PP Pelti masih amburadul, Akibatnya penemuan penemuan dilapagan istilah PELTI banyak yang salah.