Minggu, 29 April 2012

Usulan positip bisa diterima

Jakarta,29 April 2012. Saya terima pertanyaan atau sebagai usulan dari salah satu pembina tenis di Samarinda melaui facebook. Pertanyan sebagai usulan ini bukan suatu yang baru saya terima didalam menjalankan turnamen tenis di Indonesia. Usulan ataupun pertanyaan ini menyangkut entry fee turnamen Remajatenis yang besarnya Rp 200.000. Harus diakui nilai tersebut cukup relatif mahal khususnya bagi yangnberkemampuan terbatas. Diberikan contoh ada petenis yunior yang dikenal sebagai anak ballboys yang tentunya belum sa nggup membayarnyaberdasarkan turnamen di Balikpapan· Memang betul sekali kalau ada yang katakan nilai 200 ribu tidak mahal tapi ada juga yang katakan mahal.Ini kenyataannya. Menanggapi masalah ini saya katakan jika ada permintaan tentunya mendapatkan perhatian dari pelaksana karena bagi RemajaTenis bukan tujuannya komersial sehingga masih mau menerima permintaan seperti itu.Dan sudah sering dilakukan selama ini berdasarkan permintaan dan so pasti dilihat juga atau diteliti sebelumnya. Jadi hal seperti ini sering terjadi apalagi kalau selama ini pelaksana turnamen banyak yang berikan entry fee lebih kecil berbeda denagn konsep RemajaTenis yang bisa selenggarakan setiap bulan secara rutin

Jumat, 27 April 2012

Apa yg bisa saya berikan untuk Singaraja

Jakarta, 27 April 2012. Ada satu kebanggaan bisa terjadi dalam diri siapa saja, termasuk saya sendiri. Teringat akan ungkapan John F Kennedy " Janganlah bertanya, apa yang negara berikan kepadamu tetapi apa yang bisa kuberikan kepada negaraku." Begitulah yang terjadi saya bisa lakukan untu pertenisan di daerah ini dimana saya dibesarkan. Mulai dari sekolah di Singaraja, kemudian pindah ke Mataram (SMP), dan sempat SMA di Bogor dan kembali lulus SMA di Mataram Lombok. Niat berbuat untuk kota kota tersebut sudah saya lakukan beberapa tahun ini. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Singaraja dimana saya mengenal tenis , saya sudah pernah adakan turnamen Persami Piala Ferry Raturandang. Nah sekarang saya berusaha agar di Singaraja bisa terangkat dengan turnamen nasional yaitu Sirkuit Tenis Nasional ( 14-20 Mei 2012) . Dan berhasil walaupun alami cobaan untuk mengalihkan kekota lainnya. Muncul pertanyaan kenapa disana kenapa tidak tempat lainnya. Karena dengan rekan rekan lainnya yang sangat buta masalah kota Singaraja maka sayapun bisa berhasil mempertahankannya. Kemudian sambutan dari rekan2 tenis di Singaraja melalui Chandra Widhiarta dan difasilitasi melalui Ketua Pengkab Pelti Buleleng. Setelah itu timbul inisiatip agar dilakukan juga penataran pelatih ITF Level-1 bersamaan waktu dengan Sirkuit Tenis Nasional yaitu 13-20 Mei 2012. Kemudian niat ini saya lontarkan kepada Ketua Pengkab Pelti Buleleng Made Sumadnyana. Awalnya saya sampaikan niat tersebut. Tentunya bagi orang awam tentunya sangat kuatir akan beaya yang cukup besar. Tetapi saya yakin dengan prinsip apa yang saya lakukan dengan Persami atau RemajaTenis maka so pasti bisa dilakukan di Singaraja dengan ITF Level-1 Coaches Coursenya. Dan saya sendiri sudah 3 kali selenggarakan ITF Level-1 Coaches course di Jakarta dan menarik minat cukup besar dari pelatih2 Indonesia. Karena muncul kekuatiran maka saya langsung katakan bahwa yang saya butuhkan adalah dukungannya saja bukan dananya. "Ini sebagai bentuk kepedulian saya pribadi untuk kota Singaraja. Kalau rugi akan saya tanggung secara pribadi." ujar saya memberikan semangat. Dan saya sampaikan kalau saya pribadi sebagai orang yang menjalani kehidupan masa anak2 di Singaraja mau memberikan kepada pertenisan Singaraja. Dan ini kesempatan yang masih bisa saya lakukan Maka setelah itu mereka mau menerimanya. Mudah mudahan jalan kesuksesan niat saya ini bisa terealiser dengan baik, Semoga ya !

Minggu, 22 April 2012

Minta tidak dibentrokkan

Jakarta, 22 April 2012. Pertemuan dengan rekan rekan di suatu turnamen sering dapat masukan atau bahan diskusi saya tentang pertenisan kita. Menarik sekali karena ini di Jakarta yang jarang saya terjun ke lapangan kecuali turnamen yunior.
Berbeda pendapat itu sah sah saja menurut saya, dan sayapun bisa melihat dalam kapasitas apa sehingga bisa berbeda pendapat. Biasanya jika petugas di tingkat provinsi tentunay lebih mementingkan kepentingan provinsinya tersebut, sedangkan jiak saya ditingkat pusat tentunya sesuai kepentingan seluruh provinsi. Disinilah perbedaan pendapat tersebut sehingga terjadi suatu diskusi kecil disela sela turnamen nasional.

Permintaan rekan saya ini agar turnamen nasionalnya itu dijadwalkan tidak bentrok dengan turnamen sejenis didaerah lainnya. Ini sebenarnya sudah lama saya dengar selalu dari rekan rekan didaerah. Repotnya kalau berbicara turnamen nasional yunior yang jumlahnya lebih banyak dibandingkan senior.
Kebetulan disaat yang sama di Balikpapan diselenggarakan Sirkuit Tenis Nasional dengan prize money hanya Rp. 60 juta sedangkan di Jakarta prize moneynya dua kali lipat. Bedanya lagi turnamen di Balikpapan itu untuk pertama kali sedangkan di Jakarta itu sudah berpuluh puluh kalinya. Jadi lebih prestisius.
Kemudian sayapun ikut menjelaskan kalau tujuan Sirkuit Tenis Nasional di Balikapan itu tujuannya memberikan sarana pertandingan untuk petenis daerah menghadapi Pekan Olahraga Nasional 2012 di iau.
Jadi disini sudah berbeda kelas pemain karena prize money tersebut. Disamping itu letaknya cukup jauh. Dan kenyataannya peserta di Balikpapan itu diikuti petenis Kalimantan Timur, Selatan dan sekitarnya yang terbanyak.

Memang dicoba diatur tetapi permintaan pelaksana juga kita perhatikan dimana sudah dicoba agar tidak dibentrokkan, tapi perbedaan pendapat ini yang bisa membuat semua itu bisa terjadi. Ini juga terjadi di kelompok yunior.

Mundur di Tunggal apa bisa main diganda?

Jakarta, 22 April 2012. Ada yang menarik lagi untuk diketahui didalam suatu turnamen nasional tenis yang sedang berlangsung di Balikpapan. Yaitu babak final Sirkuit Tenis Nasional antara petenis setempat yaitu Faisal Aidil melawan Arief Rahman dimana keduanya berasal dari Kalimantan Timur. Setelah diset pertama kalah kemudian diset kedua sedang berlangsung Faisal Aidil mantan petenis nasional itu langsung memberikan salam kepada wasit menyatakn mundur.Alias kalah.
Sayapun membaca berita tersebut cukup kaget juga karena tidak diberikan alasannya. Mau kontak Referee sebagai penanggung ajwab jalannya pertandingan belum saya lakukan.
Memang mundur ditenagh jalan itu harus ada alasannya.
Dalam hal ini kalau baca diberita, seolah olah Referee juga tidak tahu alasan mundur. Ini masalah, seharusnya Referee bertanya ke wasit ataupun pemainnya langsung.
Setekah itu saya juga kaget karena Faisal bisa bertanding di ganda putra yang dipertandingkan setelah final tunggal. Ini aneh. Jika karena sakit sehingga tidak bisa selesaiakan partai final maka tentunya tidak diperkenankan ikut main lagi dihari yang sama dipertandingan ganda. Nah sekarang alasan apa yang membuat bisa terjadi semua ini.
Nah, ini kok bisa terjadi. Tentunya kita harus mendengar atau membaca laporan refereenya. Sehingga bisa menyimpulkan salah siapa.

Langgar Aturan

Jakarta, 22 Apruil 2012. Ada yang menarik sewaktu menyaksikan babak final ganda suatu TDP Nasional. Menarik karena apa karena biasanya babak final itu suatu hal yang biasa saja. Menarik saya angkat karena ada contoh tidak baik dilakukan oleh petenisnya maupun wasit ataupun Referee nya sendiri.

Dalam pertandingan ini terlihat satu pasangan memenuhi aturan turnamen sedangkan lawannya yang justru lebih senior memberikan contoh yang tidak baik terhadap lawannya yang notabene masih masuk dalam kategori yunior.

Ternyata yang senior itu mantan petenis nasional dan petenis nasional berpakaian yang tidak sama warna yang dominan, berbeda warna. Sewaktu saya duduk menyaksikan sayapun tertarik melihat ketidak beneran terhadap aturan pertandingan. Harusnya diketahui semua pihak kalau dalam aturan nasional maupun internasional ada ketentuan dalam pertandingan ganda kedua pemain harus menggunakan baju/T-shirt yang warna . Hal ini so pasti tidak akan terjadi kalau Refereenya orag asing diturnamen internasional.

Ternyata setelah saya tanyakan kepada yang berwenang diturnamen tersebut, dapat jawaban klasik sekali karena terlalu banyak toleransi dari penyelenggara. Timbul pertanyaan apakah wasitnya tidak menegur ataupun Refereenya paling tidak yang berhak melarang mereka bertanding. Saya sendiri sudah merasa kalau wasit yang notabene wasit nasional sudah tahu masalah ini dan sudah lakukan tugasnya.

Mau tahu jawaban yang saya terima dari petugas yang berwenang tersebut.? Ternyata jawaban ini yang selalu diberikan oleh petenis kita, sebagai senjata pamungkasnya melecehkan turnamen. Sudah tidak ada lagi baju lainnya.
Mau tahu juga kalau jawaban ini dikeluarkan diturnamen internasional lhususnya referee orang asing? Maka Refereenya so pasti tidak mau terima jawaban tersebut, alias pemainnya disuruh beli baju yang sama. Kalau tidak, maka tidak boleh main. Selesai sudah, karena aturan harus dipatuhi . Selesai.

Jumat, 20 April 2012

Sempat melihat ex kamp pengungsi Vietnam di P.Galang

Jakarta, 20 April 2012. Teringat pula sewaktu saya jalan jalan ke Batam bulan lalu. Menyempatkan diri melihat bekas penampungan pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Lumayan juga jarak perjalanan dengan kendaraan ke Pulau Galang. Berangkat dari Jakarta bersama rekan Bunge Nahor ke Batam.
Perjalanan cukup lama juga tetapi keindahan di Kepri yang dihadapan mata terliat nanyak laut laut karena Provinsi Kepulauan Riau terdiri dari pulau pulau kecil.
Melewati jembatan yang sudah dikenal , saya lupa nama jembatan tersebut. Jembatan ini merupakan idea dari mantan Presiden RI BJ Habibie. Tetapi yang saya perhatian perjalanan sekitar 2 jam itu minim terlihat SPBU alias pom bensin. "Waduh gimana ya kalau lupa isi bensin."

Memasuki kompleks ex pengunsi yang dibangun dengan dana dari PBB, terlihat banyak monyet monyet berkeliaran. Ada Gereja, ada penjara dan perahu yang digunakan pengunsi masih terpajang disana. Kemudian masuk ke kantornya terlihat foto2 kegiatan mereka sewaktu itu cukup banyak.
Cukup menarik juga mendengar cerita petugas yang bisa menceritakan kisah kisah didalam kamp pengungsian tersebut.

Kunjungan singkat ke Pekanbaru

Pekanbaru, 20 April 2012. Kunjungan singkat ke Pekanbaru kali ini untuk melihat perkembangan pembangunan lapangan tenis yang disiapkan untuk Pekan Olahraga Nasional yang akan berlangsung 9-20 September 2012. Pekerjaan seperti ini juga saya lakukan sewaktu persiapan pembangunan lapangan tenis di Balikpapan tahun 2008 yangdisiapkan untuk PON 2008 Kaltim. Sebenarnya sudah sering ditanyakan juga masalah kehadiran di Pekanbaru sebagai persiapan pelaksanaan PON tersebut, agar sering sering melihat kemajuan pembangunannya.

Kekhawatiran terhadap selesai tidaknya lapangan tenis ini sering saya dengar sebelumnya. Hal yang sama juga sewaktu pembangunan lapangan tenis Jakabaring di Palembang tahun 2011 sebagai venue dari SEA Games 2011 di Palembang. Dari sekian banyak rekan rekan saya sewaktu dari awal perencanaan hanya saja saya rasanya cukup yakin kalau pembangunannya akan selesai tepat waktunya. Hal ini juga terjadi persiapan PON di Pekanbaru.
Saya sendiri sewaktu di Palembang maupun Pekanbaru memberikan dorongan terhadap rekan rekan lainnya kalau tidak perlu kuatir karena kedua venue tersebut menggunakan dana bukan APBD ataupu APBN artinya tidak perlu kuatir akan turunnya dana tersebut melalui Pemerintah. Kedua venue tersebut menggunakan dana pihak ketiga yaitu BUMN. Kalau di Palembang menggunakan dana dari sponsor PT Bukit Asam dan di Pekanbaru dana dari PTP V. Jadi kalau sudah dianggarkan oleh kedua BUMN tersebut maka kita tidak perlu kuatir terhadap tersendat sendatnya kucuran dana tersebut.

Terakhir datang ke Pekanbaru, lihat lapangan tenis tersebut masih rata alias baru ada pemancangan tiang saja. Tapi kali ini tepatnya tanggal 20 April 2012, sudah terlihat bangunan stadionnya dan untuk lapangannya baru 3 lapangan yang sudah dibeton. Laporan yang saya terima kalau minggu depan sudah akan ditambah lapangan lainnya cor coran betonnya. Dijanjika oleh pelaksana pembangunannya bahwa dalam 2 bulan kedepan sudah selesai.Mudah mudahan saja bisa selesai cepat.
Selama di Pekanbaru saya sempatkan diri melihat lapangan tenis milik Chevron ( ex Caltex) di Rumbai ada 6 lapangan tenis.Dan juga lapangan tenis dibelakan kediaman rumah dinas Gubernur Riau. Tetapi tidak bisa masuk karena pintumasuk dikunci.

Sabtu, 14 April 2012

Kritik kritik muncul

Jakarta, 14 April 2012. Ada yang menarik saya perlu angkat selama saya jalankan turnamen RemajaTenis selama tiga tahun ini. Memang konsep ini keluar berdasarkan pengalaman baik sebagai mantan atlet yunior maupun pengurus tenis baik ditingkat daerah maupun pusat. Mulai dari pelaksana turnamen Persami (pertandingan sabtu minggu) kemudian meningkat ke RemajaTenis. Ada perbedaan antara kedua jenis turnamen ini tetapi satu yang sama yaitu TANPA SPONSOR dan tambahan tanpa ballboys. Bedanya yaitu RemajaTenis minimal 3 hari, sedangkan Persami hanya 2 hari. Kemudian RemajaTenis harus ada wasit, Referee dan tenaga medis sesuai ketentuan TDP. Artinya dalam beaya Remajatenis lebih besar dibandingkan Persami.Dengan modal NIAT kemudian NEKAT maka kedua turnamen tersebut bisa berjalan lancar. Bisa jalan jalan ke Sumbawa Besar (NTB), Mataram, Medan, Payakumbuh, Jogja, Solo, Surabaya, Bandung, Pontianak, Banjarmasin, Palu. Dan kesenangan saya untuk traveling bisa terpenuhi.

Tetapi dalam perjalanannya saya alami beberapa kecaman baik langsung maupun melalui SMS tetapi karena niat positip maka semua itu bisa saya atasi juga. Seperti sebelumnya saya terima SMS dari salah satu pembina dikota Padang. Dikatakan RemajaTenis tidak menarik atlit yunior karena tidak ada hadiah uang, tidak ada Kaos. Tetapi saya tetap dengan tenang sampaikan dengan sms tentang visi dan misi dari RemajaTenis. Karena semua ini bertujuan yang sangat positip untuk tenis yunior maka sewaktu diadakan Remajatenis di Payakumbuh ternyata responsnya cukup besar. Artinya alasan yang diberikan rekan saya itu tidaklah benar. Karena turnamen itu kebutuhan atlet yunior.

Begitu juga sewaktu saya selenggarakan RemajaTenis di Surabaya bulan April ini saya terima sms dari salah satu ortu atau pelatih dari kota Batu Malang. Dia sampaikan kalau dengar2 dari teman2nya kalau tidak tertarik dengan RemajaTenis, alasannya yaitu tidak ada Ballboys, wasit, hadiah dan lain lain. Tetapi kemudian saya jelaskan semua alasan tersebut ada jawabannya.
Tapi sewaktu saya sedang nyetir mobil mana udara panas saya terima telpon dari salah satu orangtua dari Surabaya yang sampaikan hal yang sama tetapi caranya sepertinya dia tidak mau saya tersinggung. Ketika saya jelaskan semua permasalahannya malah dia adu argumen mau bela pendapatnya sendiri. Tapi karena udara panas dan waktu itu saya lagi kesal maka saya jawabnya juga ketus. " Ya, tidak usah ikut saja , kok gitu aja repot repot." ujar saya cukup ketus dan dia juga bilang anaknya tidak ikut. Ya sudah enteng kan daripada hanya bisa keritik dan tidak mau terima penjelasan saya. Ha ha.
Bagi saya semua kriti itu saya anggap positip saja asalkan juga mau kerjasama menerima pandangan saya juga. Bukan hanya sepihak. Kalau dulu saya dikritik atau dikecam saya hanya diam saja tetapi sekarang saya anggap perlu juga kita mengecam yang kritik yang tidak kooperatip.
.