Jakarta, 27 April 2010. Ikuti rapat anggota KONI 2010 mulai hari ini saya merasa geli juga dengan beberapa kejadian didalam rapat rapat tersebut. Kenapa, karena kesan saya ini petinggi olahraga atau KONi merestui pelanggaran atas Undang Undang No 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Sewaktu dilakukan pandangan umum ada anggota yang mengajukan pertanyaan karena selama ini didalam UU No. 3 tah 2005 ini dicantumkan dalam pasal No. 40 tentang pengurus KONI tidak diperkenankan pejabat publik. Tetapi kenyataan Ketua Umum KONI Pusat tetap saja melantik Ketua Umum KONI Provinsi yang ketuanya Gubernur. Sehingga timbul kesan melanggar Undang Undang Nomor 3 tersebut.
Dalam penjelasan Ketua Umum KONI Rita Subowo menyampaikan kalau dia sewaktu dilantik sebagai IOC member menyampaikan sumpahnya jelas menyebutkan against discrimination. Jadi dia selaku Ketua Umum KONI tidak bisa ada diskriminasi dimana semua orang berhak menjadi Ketua Umum KONI Provinsi ataupun Kabupaten. Semuapun yang mendengar terdiam saja.
Sewaktu itu sayapun secara bergurau kepada rekan rekan lainnya kalau kita ini diberi contoh untuk melanggar Undang Undang. " Jadi pelaku olahraga tidak perlu takut melanggar undang undang." canda saya kepada rekan rekan.
Disamping itu ingin bertanya, dia itu sewaktu diangkat oleh IOC apakah atas nama pribadi atau institusi. Kalau institusi, jika sudah lengser berarti jabatannya di IOC lengser juga. inilah pertanyaan yang juga harus diketahui.
Didalam sidang komisi organisasi dimana saya duduk didalamnya, pimpinan sidang berasal dari KONI Provinsi Riau sewaktu membicarakan masalah ini juga membuat kesan pelanggaran pelanggaran ini dilegalkan saja. Tetapi sempat diinterupsi oleh rekan lainnya agar statemnet itu dicabut, tidak boleh kita melegalkan pelanggaran tersebut.
harus diakui banyak provinsi yang sangat besar ketergantungannya kepada Kepala Daerahnya, sehingga ada kesan kurang mau mandiri. Hal yang sama juga ditingkat pusat sehingga semua kegiatan harus menggunakan dana dari Pemerintah. Tetapi sepengetahuan saya ada beberapa KONI Provinsi yang sudah menjalankan UU No. 3 th 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional dimana Ketua Umumnya bukanlah Gubernur seperti Sumatra Utara, Sumatra Barat, Bali dll.
Saya sendiri dalam diskusi dengan teman teman dan disampaikan juga agar kita itu berupaya tidak melanggar ketentuan UU tersebut, karena dulu saya ikuti juga kalau KONI bersama Pemerintah duduk bersama menyusun UU tersebut. Tetapi setelah berjalan sejak tahun 2005 sampai saat disosialisasikan kanapa baru sekarang diributkan setelah begitu lama, seharusnya kita pikirkan bagaimana langkah selanjutnya. Yaitu dudk bersama lakukan amandemen UU tersebut. Kalau beberapa poin yang sudah tidak sesuai maka seharusnya pelaku olahraga ini berpikir mencari solusinya bukan dengan melanggar. Apakah harus ada yang jadi korban Undang Undang Nomor 3 th 2005 baru mulai mencari solusinya ?
Kamis, 29 April 2010
Minggu, 25 April 2010
Keluhan soal prize money

Jakarta, 25 April 2010. Ditahun 2010 ini sudah berlangsung beberapa turnamen nasional kelompok umum yang mempertandingkan putra maupun putri. Timbul suatu pertanyaan kepada saya yang lebih cenderung sedikit bernada protes. Kenapa protes, sedangkan keberadaan turnamen sudah merupakan kegiatan yang menguntungkan bagi peserta. Memang setiap ada turnamen dimana kumpullah masyarakat pecinta tenis sehingga sering mendengar keluhan yang menyebutkan sebagai masukan kepada Pelti sebagai induk organisasi tenis di Indonesia. Begitulah suasana akrab yang muncul dengan berbagai macam cerita atupun rumor muncul kedalam pembicaraan yang sedikit serius tetapi diselingi dengan canda belaka.
Masalahnya adalah ketimpangan perbedaan jumlah prize money yang diberikan antara pemenang putra dan putri sangat jauh. Pertanyaan ini muncul karena ada keinginan untuk menyamakan kedudukan antara putra dan putri seperti lazimnya diturnamen internasional. Suatu pemikiran yang cukup adil sebenarnya kalau melihat cara berpikir penyamaan gender yang sedang gencar gencarnya dikemukakan dimasyarakat.
Kalau kita melihat adanya perbedaan prize money selama ini ditingkat internasional dimana pellaksanaannya bersamaan, seperti turnamen Grand Slam, tentunya ada alasannya. Waktu itu alasan yang utama adanya perbedaan karena jumlah set berbeda, karena di Grand Slam menggunakan sistem "the best of five sets" sedangkan putri hanya "the best of 3 sets." Belum lagi besarnya undian (size of draw) , putra lebih besar dibandingkan putri. Sekarang sudah ada peningkatan prize money dilakukan di putri sebagai wujud perubahan dilakukan oleh penyelenggara turnamen.
Sekarang kembali kepada turnamen nasional di Indonesia, karena keluhan muncul ada ketimpangan dalam pembagian hadiah tersebut. Memang dalam pengumuman hanya dicantumkan jumlah total hadiah dimana tidak diumumkan berapa hadiah untuk putra dan putri. Kalau ini dikatakan sebagai kesalahan penyelenggara tentunya tidak sepenuhnya benar, karena penyelenggara hanya mencantumkan total hadiah tanpa ada rincian tersebut.
Jadi dalam hal ini, saya hanya melihat kepentingan peserta. Sebaiknya jika ingin ikuti suatu turnamen tentunya dibaca baik baik informasi tersebut. Caranya bisa melihat ke website Pelti (dalam hal ini www.pelti.or.id, masih belum berfungsi dengan baik) maka bisa kontak langsung ke penyelenggara.
Kalau melihat ketentuan TDP yang sebelum direvisi tahun 2010 , disebutkan pembagian porsentase hadiah dari total untuk putra maupun putri, tetapi sekaran ketentuannya sudah dipisahkan. Untuk putra ada ketentuan sendiri begitu juga ketentuan turnamen putri sendiri.
Jadi dengan prize money tersebut maka kategorinya berbeda antara turnamen putra maupun putri.
Ada satu kebiasaan kurang baik dimana jarang membaca informasi dari setiap turnamen kecuali turnamen internasional lebih banyak dimengerti karena dibacanya. Maka dari itu sebaiknya petenis khususnya orangtua yang sering membawa kebiasaan protes semasa anaknya di yunior terbawa juga sewaktu anaknya main disenior, juga sering membaca informasi turnamen yang dikeluarkan oleh penyelenggara. Ini pembelajaran yang baik menurut pendapat pribadi saya. Kecuali sudah tidak ada keinginan karena ingin protes saja agar membuat pusing petinggi Pelti. Ha ha!
Sabtu, 24 April 2010
Perjalanan Ke Morroco
Jakarta, 25 April 2010. Melihat acara TVONE Backpacker lakukan perjalanan ke Moroko, sayapun terimgat sekali saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah benua Afrika yaitu Morroko tepatnya dikota Merrakesh yang letaknya disebelah selatan Casablanca. I.ni kejadian 10 tahun silam
Berangkat sore dari Jakarta menggunakan Singapore Airline yan terkenal tepat waktunya. Tetapi saat itu saya kena apesnya karena terlambat sejam dari Bandara Soekarno Hatta. Dampak dari keterlambatan tersebut ada, karena perjalanan ke Merrakesh itu dari Jakarta ke Singapore ke Paris dan langsung ke Merrakesh. Tiba di Bandara Changi ternyata pesawat lanjutan dengan Air Franch sudah boarding. Terpaksa keluar dari pesawat Singapore Airline sedikit lari lari menuju ke pintu Air France.
Dari Singapore menikmati perjalanan dengan Boeing 777. Berbagai macam hiburan baik dengan menikmati hiburan televisi, tinggal milih channelnya yag sudah disediakan earphone kepada setiap penumpang dibagikan oleh pramugarinya.
Setelah diberikan makan malam , tinggal pilih mau menue yang mana, akhirnya saya bisa tertidur juga didalam pesawat karena bsok pagi sudah akan mendarat di Paris.
Didalam pesawat saya bertemu dengan President dari Philta (Phillipine Tennis Association) Salvatore Andrada yang sudah lama saya kenal dipertenisan internasional. Bangun pagi dibagikannya handuk basa untuk membersihakan muka, kemudian sudah siap siap untuk mendarat dibumi Eropa yang terus terang baru pertama kalinya bagi saya sendiri.
Waktu itu bandaranya sangat sederhana, dan saya lihat maket untuk bandara yang akan dibangun lebih hebat yaitu Bandara Charles de Gaulle. Saya bersama Salvatore Andrada keluar bandara internasional berjalan kaki menuju bandara domestik untuk ke Merrakesh. Setelah itu berangkatlah dengan pesawat Air Franch Boeing 737. Saya sendiri lupa berapa lama perjalanannya , sepertinya ada lebih 2 jam perjalanannya.
Tiba di bandara Merrakesh baru ketahuan akibat dari keterlambatan pesawat di Jakarta. Bagasi tidak turun bersama saya. Berarti koper saya ketinggalan di Singapore. Tetapi di bandara langsung ketahuan kalau bagasi saya masih di Singapore dan dijanjikan dalam 2-3 hari sudah datang.Ini pelajaran bagus kalau lakukan perjalanan keluar negeri kita harus bawa kebutuhan sehari hari dimasukan kabin bukan ke bagasi pesawat.
Pakaian hanya ada dibadan, untung sewaktu perjalanan bawa jas dipakai dibadan sehingga acara ITF AGM (Annual General Meeting) yang besok harinya bisa digunakan. tiba di hotel Sheraton, langsung cari pakaian dalam dll. Karena tidak kenal keadaan diluar hotel, terpaksa beli kaos (T-Shirt) di hotel. Harganya, aduh mak maha amat kalau dibandingkan di Jakarta. Di Jakarta kaos tersebut seharga Rp.15.000 ternyata di hotel Sheraton harganya US $ 100.00. Apaboleh buat terpaksa dibeli juga.
Rapatpun berjalan dengan baju kaos ditutupi jas sehingga masih bisa tampil tidak memalukan sekali. Esok harinya cek kepenerbangan ternyata koper belu tibadan tiba keesokan harinya.
Banyak pengalaman menarik ikuti ITF (International Tennie Federation) AGM ini karena bisa bertemu dengan petinggi petinggi ITF maupun dari negara lainnya sebagai anggota ITF.
Sore hari setelah acara rapat, saya memanfaatkan pergi keluar kota Merrakesh, diantar oleh salah satu guide (kalau tidak salah namanya Salim). Pergilah ke pusat perbelanjaan tradisional. Setelah lihat lihat, sayapun membeli seperangkat pakaian Morroko. Pakaian ini cuma dimasukkan dari kepala langsung kebawah. Seperti rok saja dibagian bawahnya dengan penutup kepalanya. Rata rata masyarakat di padang pasir menggunakannya karena udara panas (dipakainya tutup kepala) dan angin cukup kencang maka pakaian seperti rok terusan kebawah. Begitu juga beli sovenir bentuk onta dari karet sebagai oleh oleh.
Melhat lihat bangunan di Morroko ini sepertinya tidak ada atapnya atau genteng seperti di Tanah Air. Beberapa bagian padang pasir dan pemandanganpun cukup menarik sewaktu dbawa berjalan jalan dengan mobil kearah pegunungan. Cukup menarik pemandangan disini seperti di Puncak Jawa Barat, bedanya disini disekeliling penu dengan padang pasir dan beberapa pepohonan berwarna hijau.
Yang menarik sewaktu acara dinner dijamu oleh Morroco Tennis Federation, makan malam dilakukan bukan di hotel tetapi diluar hotel kesuatu tempat sepertinya khusus restoran tetapi bukan dalam bangunan. Didalam tendayang cukup besar dengan pendingin udara. Teringat saya dengan film film di Arab kalau ada pesta didalam tenda.
Setelah acara AGM, banyak teman teman dari China, Singapore, mengajak saya ke Casablanca naik kereta api, tetapi saya ingin pulang cepat ke Jakarta sehingga pulang dengan pesawat terbang ke Paris dan ke Singapore ke Jakarta.
Berangkat sore dari Jakarta menggunakan Singapore Airline yan terkenal tepat waktunya. Tetapi saat itu saya kena apesnya karena terlambat sejam dari Bandara Soekarno Hatta. Dampak dari keterlambatan tersebut ada, karena perjalanan ke Merrakesh itu dari Jakarta ke Singapore ke Paris dan langsung ke Merrakesh. Tiba di Bandara Changi ternyata pesawat lanjutan dengan Air Franch sudah boarding. Terpaksa keluar dari pesawat Singapore Airline sedikit lari lari menuju ke pintu Air France.
Dari Singapore menikmati perjalanan dengan Boeing 777. Berbagai macam hiburan baik dengan menikmati hiburan televisi, tinggal milih channelnya yag sudah disediakan earphone kepada setiap penumpang dibagikan oleh pramugarinya.
Setelah diberikan makan malam , tinggal pilih mau menue yang mana, akhirnya saya bisa tertidur juga didalam pesawat karena bsok pagi sudah akan mendarat di Paris.
Didalam pesawat saya bertemu dengan President dari Philta (Phillipine Tennis Association) Salvatore Andrada yang sudah lama saya kenal dipertenisan internasional. Bangun pagi dibagikannya handuk basa untuk membersihakan muka, kemudian sudah siap siap untuk mendarat dibumi Eropa yang terus terang baru pertama kalinya bagi saya sendiri.
Waktu itu bandaranya sangat sederhana, dan saya lihat maket untuk bandara yang akan dibangun lebih hebat yaitu Bandara Charles de Gaulle. Saya bersama Salvatore Andrada keluar bandara internasional berjalan kaki menuju bandara domestik untuk ke Merrakesh. Setelah itu berangkatlah dengan pesawat Air Franch Boeing 737. Saya sendiri lupa berapa lama perjalanannya , sepertinya ada lebih 2 jam perjalanannya.
Tiba di bandara Merrakesh baru ketahuan akibat dari keterlambatan pesawat di Jakarta. Bagasi tidak turun bersama saya. Berarti koper saya ketinggalan di Singapore. Tetapi di bandara langsung ketahuan kalau bagasi saya masih di Singapore dan dijanjikan dalam 2-3 hari sudah datang.Ini pelajaran bagus kalau lakukan perjalanan keluar negeri kita harus bawa kebutuhan sehari hari dimasukan kabin bukan ke bagasi pesawat.
Pakaian hanya ada dibadan, untung sewaktu perjalanan bawa jas dipakai dibadan sehingga acara ITF AGM (Annual General Meeting) yang besok harinya bisa digunakan. tiba di hotel Sheraton, langsung cari pakaian dalam dll. Karena tidak kenal keadaan diluar hotel, terpaksa beli kaos (T-Shirt) di hotel. Harganya, aduh mak maha amat kalau dibandingkan di Jakarta. Di Jakarta kaos tersebut seharga Rp.15.000 ternyata di hotel Sheraton harganya US $ 100.00. Apaboleh buat terpaksa dibeli juga.
Rapatpun berjalan dengan baju kaos ditutupi jas sehingga masih bisa tampil tidak memalukan sekali. Esok harinya cek kepenerbangan ternyata koper belu tibadan tiba keesokan harinya.
Banyak pengalaman menarik ikuti ITF (International Tennie Federation) AGM ini karena bisa bertemu dengan petinggi petinggi ITF maupun dari negara lainnya sebagai anggota ITF.
Sore hari setelah acara rapat, saya memanfaatkan pergi keluar kota Merrakesh, diantar oleh salah satu guide (kalau tidak salah namanya Salim). Pergilah ke pusat perbelanjaan tradisional. Setelah lihat lihat, sayapun membeli seperangkat pakaian Morroko. Pakaian ini cuma dimasukkan dari kepala langsung kebawah. Seperti rok saja dibagian bawahnya dengan penutup kepalanya. Rata rata masyarakat di padang pasir menggunakannya karena udara panas (dipakainya tutup kepala) dan angin cukup kencang maka pakaian seperti rok terusan kebawah. Begitu juga beli sovenir bentuk onta dari karet sebagai oleh oleh.
Melhat lihat bangunan di Morroko ini sepertinya tidak ada atapnya atau genteng seperti di Tanah Air. Beberapa bagian padang pasir dan pemandanganpun cukup menarik sewaktu dbawa berjalan jalan dengan mobil kearah pegunungan. Cukup menarik pemandangan disini seperti di Puncak Jawa Barat, bedanya disini disekeliling penu dengan padang pasir dan beberapa pepohonan berwarna hijau.
Yang menarik sewaktu acara dinner dijamu oleh Morroco Tennis Federation, makan malam dilakukan bukan di hotel tetapi diluar hotel kesuatu tempat sepertinya khusus restoran tetapi bukan dalam bangunan. Didalam tendayang cukup besar dengan pendingin udara. Teringat saya dengan film film di Arab kalau ada pesta didalam tenda.
Setelah acara AGM, banyak teman teman dari China, Singapore, mengajak saya ke Casablanca naik kereta api, tetapi saya ingin pulang cepat ke Jakarta sehingga pulang dengan pesawat terbang ke Paris dan ke Singapore ke Jakarta.
Jumat, 23 April 2010
Jawab yang benar kalau tidak gua tonjok
Jakarta,23 April 2010. Hari ini saya terima pertanyaan dari rekan sendiri yang agak lucu, karena cara penyampaiannya. "Saya ada pertanyaan, tetapi dijawab yang benar ya, kalau tidak, gua tonjok."
Hebat juga permintaan yang datang hari ini. Dan saya angap lucu juga maklum rekan ini memang sering bercanda.
"Apakah sebagai pemain nasional HARUS ikut TDP (Turnamen Diakui Pelti)? " ujarnya yang dilanjutkan dengan pertanyaan lainnya. "Apakah petenis nasional tidak boleh ikuti turnamen non TDP ?" Ini pertanyaan pertanyaan sebagai kenyataan yang terjadi di pertenisan Indonesia ini. Mungkin begitu banyak rumor yang sering dilontarkan kepada tim elit yang sering menjadi sorotan masyarakat tenis selama ini. Kenapa petenis nasional yang masuk kedalam TC sering mendapatkan badai rumor dilemparkan oleh pelaku pelaku tenis sendiri. Tidak perlu kita tanyakan tentang motivasi mereka ini. Saya sendiri sering juga mendapatkan pertanyaan pertanyaan dimana sayapun sudah harus bisa menetraliser pandangan negatip tersebut.
Disini kita harus bisa membedakan kedudukan dimana petenis tersebut berada, apakah saat itu masuk dalam tim nasional yang dipersiapkan dalam kegiatan tertentu seperti tim Davis Cup atau Fed Cup atau tim SEA Games maupun Asian Games. Karena jika masuk dalam tim nasional untuk event tersebut, maka atlet tersebut harus mengikuti program yang diberikan oleh tim nasional tersebut. Jadi boleh tidaknya atlet tersebut ikuti suatu kegiatan TDP ataupu non TDP itu semua wewenang dari manajer tim atau pelatih tim tersebut. Memang harus diakui pernah terjadi ada anggota tim nasional yang sedang dipersiapkan ikuti kejuaraan dunia beregu Davis Cup dilarang ikuti TDP yang berlangsung di dalam negeri. Kemudian hal ini mencuat ke media karena pihak penyelenggara TDP menghendaki agar gengsi TDP naik harus bisa diikuti petenis papan atas, diikuti juga oleh keinginan pemain sendiri yang juga menginginkan ikut TDP tersebut karena ada prize money yang menggiurkan. Akibatnya PP Pelti kena sorotan negatipnya.
Kalau bagi atlet tenis yang tidak didalam program tim nasional, berhak ikuti TDP dan tidak ada yang bisa melarangnya. Bukan hanya TDP bahkan Non TDP juga atlet tersebut berhak ikutinya. Jadi jika pertanyaannya petenis nasional harus ikut TDP, maka jawabannya juga tidak. Karena itu adalah hak atlet tersebut.
Jadi disini harus bisa dibedakan antara petenis nasional yang masuk dalam program tim nasional atau tidak
Hebat juga permintaan yang datang hari ini. Dan saya angap lucu juga maklum rekan ini memang sering bercanda.
"Apakah sebagai pemain nasional HARUS ikut TDP (Turnamen Diakui Pelti)? " ujarnya yang dilanjutkan dengan pertanyaan lainnya. "Apakah petenis nasional tidak boleh ikuti turnamen non TDP ?" Ini pertanyaan pertanyaan sebagai kenyataan yang terjadi di pertenisan Indonesia ini. Mungkin begitu banyak rumor yang sering dilontarkan kepada tim elit yang sering menjadi sorotan masyarakat tenis selama ini. Kenapa petenis nasional yang masuk kedalam TC sering mendapatkan badai rumor dilemparkan oleh pelaku pelaku tenis sendiri. Tidak perlu kita tanyakan tentang motivasi mereka ini. Saya sendiri sering juga mendapatkan pertanyaan pertanyaan dimana sayapun sudah harus bisa menetraliser pandangan negatip tersebut.
Disini kita harus bisa membedakan kedudukan dimana petenis tersebut berada, apakah saat itu masuk dalam tim nasional yang dipersiapkan dalam kegiatan tertentu seperti tim Davis Cup atau Fed Cup atau tim SEA Games maupun Asian Games. Karena jika masuk dalam tim nasional untuk event tersebut, maka atlet tersebut harus mengikuti program yang diberikan oleh tim nasional tersebut. Jadi boleh tidaknya atlet tersebut ikuti suatu kegiatan TDP ataupu non TDP itu semua wewenang dari manajer tim atau pelatih tim tersebut. Memang harus diakui pernah terjadi ada anggota tim nasional yang sedang dipersiapkan ikuti kejuaraan dunia beregu Davis Cup dilarang ikuti TDP yang berlangsung di dalam negeri. Kemudian hal ini mencuat ke media karena pihak penyelenggara TDP menghendaki agar gengsi TDP naik harus bisa diikuti petenis papan atas, diikuti juga oleh keinginan pemain sendiri yang juga menginginkan ikut TDP tersebut karena ada prize money yang menggiurkan. Akibatnya PP Pelti kena sorotan negatipnya.
Kalau bagi atlet tenis yang tidak didalam program tim nasional, berhak ikuti TDP dan tidak ada yang bisa melarangnya. Bukan hanya TDP bahkan Non TDP juga atlet tersebut berhak ikutinya. Jadi jika pertanyaannya petenis nasional harus ikut TDP, maka jawabannya juga tidak. Karena itu adalah hak atlet tersebut.
Jadi disini harus bisa dibedakan antara petenis nasional yang masuk dalam program tim nasional atau tidak
Kamis, 22 April 2010
Cukup Beritahu, bukan Minta Ijin
Jakarta, 22 April 2010. Hari ini ketemu rekan tenis dari Solo Freddy Pakaya disela sela turnamen Piala Gubernur DKI Jakarta yang berlangsung di Kelapa Gading Sport Club. Dalam percakapan sempat menyinggung permasalahan tenis dikota Solo dimana peranan Pelti setempat menjadi bahan pembicaraan. Karena rekan Freddy Pakaya sendiri sudah mendengar masalah RemajaTenis (di Solo)dari rekan rekan di kota Solo. Memang saya ceritakan pula kalau saya menerima SMS yang isinya cukup mengagetkan saya sendiri. Yang menurut saya sudah menuju ke ancaman belaka.
"Saya baru tahu kalau memang ada ketentuan seperti itu." ujarnya karena saya terangkan kalau siapapun bisa selenggarakan Turnamen tenis. Dan tidak perlu MELAPOR ke Pelti, kecuali TDP. "Semuanya ini ada didalam ketentuannya yang dibuat oleh PP Pelti. Dan saya akui tidak semua rekan rekan yang duduk dikepengurusan Pelti mengetahui masalah ini." ujar saya kepadanya. Selanjutnya saya katakan kalau pihak luar mulai dari perorangan, klub , instansi ataupun Pelti sendiri bisa selenggarakan turnamen tenis, tanpa melibatkan Pelti.
Sepengetahuan saya banyak sekali rekan rekan didaerah tidak tahu masalah ini, sehingga kesannya jika mau buat turnamen HARUS melibatkan Pelti. Turnamen apapun, baik turnamen intern klub maupun instansi sampai ke turnamen nasional.
Dimana peranan Pelti dalam hal ini. Jika turnamen nasional maka disini mulai ada peranan Pelti, yaitu pengakuan nasional itu dikeluarkan oleh PP Pelti. Bagaimana prosedurnya. Dalam formulir turnamen nasional(TDP=turnamen diakui Pelti) disebutkan sipemohon diketahui oleh Pengprov Pelti setempat mengajuka permohonan ke PP Pelti. Cukup mengetahui dan sedangkan untuk pengakuannya akan dilakukan oleh PP Pelti. Dalam pelaksanaannya, jika letak kota pelaksana cukup jauh dari ibukota Provinsi dimana lokasi Pengprov Pelti berada maka kami menganjurkan cukup ke Pengkot/Pengkab Pelti setempat dan berikan tembuan atau pemberitahuan ke Pengprov Pelti.
Saya pernah berdebat kusir dengan salah satu anggota pengurus Pelti disuatu kota di Jawa Timur. " Kalau begitu bubarkan saja Pelti cabang." ujarnya sedikit emosi kepada saya. "Kok begitu cara berpikir Anda. Saya anggap Anda tidak mengetahui fungsi dan kedudukan Pelti secara keseluruhannya."
Memang dalam perjalanan prosedur turnamen banyak kendala yang datangnya hambatan ini dari rekan rekan dikepengurusan Pelti sendiri.
Ingin ikut terlibat dalam kepanitian turnamen, yang tentunya ada kebanggaan dan saya sayangkan cuma simbol saja ikut dalam kepanitiaan turnamen.
Saya bisa berikan contoh contoh turnamen yang diselenggarakan oleh pihak ketiga artinya bukan oleh Pelti didaerah maupun di Jakarta. DI Jakarta, ada Sportama sebagai penyelenggara, begitu juga Yayuk Basuki sebagai event organizer turnamen (dulu pernah selenggarakan turnamen Hemaviton), Cigna, RemajaTenis, Maesa Paskah. Didaerah seperti Wismilak International, UFO, Solo Open Junior, Peltha, Oneject , dimana pelaksanaan bukan oleh Pelti tetapi langsung pihak ketiga. Memang ada juga rekan rekan pengurus Pelti duduk didalam kepanitiaannya. Itu semua terserah kerjasamanya.
Saya sendiri pernah mendapatkan keluhan dari pelaksana turnamen tersebut yang bukan Pelti. Mereka mengeluh dengan menempatkan tenaga tenaga anggota pengurus Pelti didalamnya justru membuat beaya pertandingan menjadi mahal. Sebagai contoh, ada rekan yang justru memanfaatkan dengan minta kepada pengelola lapangan agar sewa lapangannya dinaikkan bukan sebaliknya.
Freddy Pakaya sendiri sangat menyayangkan kalau kota Solo dengan fasilitas memadai, bisa dibayangkan ada 9 lapangan tenis dalam satu lokasi, yaitu GOR Manahan. Tetapi tidak punya kegiatan nasional. "Saya sendiri sangat tertarik dengan kota Solo untuk dijadikan host suatu turnamen baik nasional maupun internasional." ujar saya kepadanya. Sayapun berjanji kepadanya kalau saya akan secara rutin selenggarakan RemajaTenis di GOR Manahan. Ada pemikiran saya juga untuk selenggarakan Turnamen Internasional di GOR Manahan.
Sayapun ceritakan betapa bahagianya daerah jika ada turnamen nasional bisa digelar dikotanya. Hal ini saya sampaikan bagaimana sambutan rekan rekan di Pelti setempat menyambut dengan senang hati, bukan dengan menghambatnya.
Memang saya pernah dengar keluhan datang dari rekan rekan di Solo kalau mereka merasa dilecehkan oleh PP Pelti karena menunjuk langsung kepada Pipit Supriyadi (alm) sewaktu selenggarakan TDP Solo Open beberapa tahun silam tanpa melibatkan Pelti Solo. Sayapun sampaikan sebenarnya Pelti Solo harus sadar kalau mereka itu belum mampun selenggarakan turnamen nasional.Pendapat saya ini berdasarkan pengalaman selama ini tidak ada TDP Nasional diselenggarakan oleh Pelti Solo. Dulu pernah ada Batik Keris di Solo tetapi bukan oleh Pelti setempat. Dengan diberikan kepada rekan pihak ketiga sebagai pelaksana, seharusnya mereka itu mawas diri kenapa bukan mereka yang selenggarakan TDP Nasional Solo Open. Inisiatip kok datangnya dari pihak ketiga diluar jalur organisasi Pelti.
Bisa dibayangkan, saya sendiri diminta oleh insan tenis agar RemajaTenis diselenggaraka dikota Solo. Permintaan ini bukan datang dari rekan rekan yang duduk dikepengurusan Pelti Solo. Ini rada aneh tetapi saya juga merasa tidak aneh karena sudah tahu kondisinya.
"Saya baru tahu kalau memang ada ketentuan seperti itu." ujarnya karena saya terangkan kalau siapapun bisa selenggarakan Turnamen tenis. Dan tidak perlu MELAPOR ke Pelti, kecuali TDP. "Semuanya ini ada didalam ketentuannya yang dibuat oleh PP Pelti. Dan saya akui tidak semua rekan rekan yang duduk dikepengurusan Pelti mengetahui masalah ini." ujar saya kepadanya. Selanjutnya saya katakan kalau pihak luar mulai dari perorangan, klub , instansi ataupun Pelti sendiri bisa selenggarakan turnamen tenis, tanpa melibatkan Pelti.
Sepengetahuan saya banyak sekali rekan rekan didaerah tidak tahu masalah ini, sehingga kesannya jika mau buat turnamen HARUS melibatkan Pelti. Turnamen apapun, baik turnamen intern klub maupun instansi sampai ke turnamen nasional.
Dimana peranan Pelti dalam hal ini. Jika turnamen nasional maka disini mulai ada peranan Pelti, yaitu pengakuan nasional itu dikeluarkan oleh PP Pelti. Bagaimana prosedurnya. Dalam formulir turnamen nasional(TDP=turnamen diakui Pelti) disebutkan sipemohon diketahui oleh Pengprov Pelti setempat mengajuka permohonan ke PP Pelti. Cukup mengetahui dan sedangkan untuk pengakuannya akan dilakukan oleh PP Pelti. Dalam pelaksanaannya, jika letak kota pelaksana cukup jauh dari ibukota Provinsi dimana lokasi Pengprov Pelti berada maka kami menganjurkan cukup ke Pengkot/Pengkab Pelti setempat dan berikan tembuan atau pemberitahuan ke Pengprov Pelti.
Saya pernah berdebat kusir dengan salah satu anggota pengurus Pelti disuatu kota di Jawa Timur. " Kalau begitu bubarkan saja Pelti cabang." ujarnya sedikit emosi kepada saya. "Kok begitu cara berpikir Anda. Saya anggap Anda tidak mengetahui fungsi dan kedudukan Pelti secara keseluruhannya."
Memang dalam perjalanan prosedur turnamen banyak kendala yang datangnya hambatan ini dari rekan rekan dikepengurusan Pelti sendiri.
Ingin ikut terlibat dalam kepanitian turnamen, yang tentunya ada kebanggaan dan saya sayangkan cuma simbol saja ikut dalam kepanitiaan turnamen.
Saya bisa berikan contoh contoh turnamen yang diselenggarakan oleh pihak ketiga artinya bukan oleh Pelti didaerah maupun di Jakarta. DI Jakarta, ada Sportama sebagai penyelenggara, begitu juga Yayuk Basuki sebagai event organizer turnamen (dulu pernah selenggarakan turnamen Hemaviton), Cigna, RemajaTenis, Maesa Paskah. Didaerah seperti Wismilak International, UFO, Solo Open Junior, Peltha, Oneject , dimana pelaksanaan bukan oleh Pelti tetapi langsung pihak ketiga. Memang ada juga rekan rekan pengurus Pelti duduk didalam kepanitiaannya. Itu semua terserah kerjasamanya.
Saya sendiri pernah mendapatkan keluhan dari pelaksana turnamen tersebut yang bukan Pelti. Mereka mengeluh dengan menempatkan tenaga tenaga anggota pengurus Pelti didalamnya justru membuat beaya pertandingan menjadi mahal. Sebagai contoh, ada rekan yang justru memanfaatkan dengan minta kepada pengelola lapangan agar sewa lapangannya dinaikkan bukan sebaliknya.
Freddy Pakaya sendiri sangat menyayangkan kalau kota Solo dengan fasilitas memadai, bisa dibayangkan ada 9 lapangan tenis dalam satu lokasi, yaitu GOR Manahan. Tetapi tidak punya kegiatan nasional. "Saya sendiri sangat tertarik dengan kota Solo untuk dijadikan host suatu turnamen baik nasional maupun internasional." ujar saya kepadanya. Sayapun berjanji kepadanya kalau saya akan secara rutin selenggarakan RemajaTenis di GOR Manahan. Ada pemikiran saya juga untuk selenggarakan Turnamen Internasional di GOR Manahan.
Sayapun ceritakan betapa bahagianya daerah jika ada turnamen nasional bisa digelar dikotanya. Hal ini saya sampaikan bagaimana sambutan rekan rekan di Pelti setempat menyambut dengan senang hati, bukan dengan menghambatnya.
Memang saya pernah dengar keluhan datang dari rekan rekan di Solo kalau mereka merasa dilecehkan oleh PP Pelti karena menunjuk langsung kepada Pipit Supriyadi (alm) sewaktu selenggarakan TDP Solo Open beberapa tahun silam tanpa melibatkan Pelti Solo. Sayapun sampaikan sebenarnya Pelti Solo harus sadar kalau mereka itu belum mampun selenggarakan turnamen nasional.Pendapat saya ini berdasarkan pengalaman selama ini tidak ada TDP Nasional diselenggarakan oleh Pelti Solo. Dulu pernah ada Batik Keris di Solo tetapi bukan oleh Pelti setempat. Dengan diberikan kepada rekan pihak ketiga sebagai pelaksana, seharusnya mereka itu mawas diri kenapa bukan mereka yang selenggarakan TDP Nasional Solo Open. Inisiatip kok datangnya dari pihak ketiga diluar jalur organisasi Pelti.
Bisa dibayangkan, saya sendiri diminta oleh insan tenis agar RemajaTenis diselenggaraka dikota Solo. Permintaan ini bukan datang dari rekan rekan yang duduk dikepengurusan Pelti Solo. Ini rada aneh tetapi saya juga merasa tidak aneh karena sudah tahu kondisinya.
Selasa, 20 April 2010
Atlet Tak Bertanggung Jawab
Jakarta, 19 April 2010. Hari ini saya terima telpon dari rekan sendiri di Kuching Malaysia. Mendapatkan berita kalau salah satu atlet tenis Indonesia telambat datang ke lapangan tenis. Hari ini sedang berlangsung kejuaraan dunia beregu Junior Davis Cup. Indonesia mengirimkan 3 petenis yaitu Nur Adhim Ramdani, Wisnu Adi Nugroho dan Davd Manoah Yosua dibawah pelatih Suharyadi.
Tentunya saya kaget sekali karena pengiriman atlet tersebut diluar negeri bisa terjadi hal seperti ini. jauh jauh datang kenegeri seberang, ternyata TERLAMBAT hadir dilapangan.
Kemudian saya berbicara dengan salah satu rekan dari Asian Tennis Federation sobat lama yang pertama kali saya kenal di tahun 1988 sewaktu saya hadir di Pattaya Thailand dalam seminar Davis Cup yang diselenggarakan oleh ITF (International Tennis Federation) Sobat ini dari Philippines dan dia berdomisili di Subic.Diapun mempertegas kalau salah satu atlet Indonesia terlambat hadir dilapangan.
Atlet tersebut yang harus turun dipertandingan kedua melawan China yaitu Wisnu Adi Nugroho. Informasi yang saya terima di Jakarta, kalau pelatih sudah cari kemana mana tidak ketemu sedangkan dia harus turun dipertandingan kedua. Yang pertama adalah Nur Adim Ramadani yang ternyata kalah lawan Ning Yu-Quing 06 36. Tim Indonesia kalah 3-0 lawan china dimana ganda yang turun Wisnu Adi Nugroho berpasangan dengan David Manoah Yosua kalah lawan Xi Gao/Jun Han Tao 46 26.
Yang menjadi pertanyaan kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Dimana tanggung jawab atlet tersebut atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya membela nama negara ternyata disaat harus bertanding tidak berada ditempat. Saya belum tahu pasti kenapa bisa terjadi demikian. Yang saya dengar pelatih Suharyadi sudah cari atlet tersebut tetapi tidak ketemu.
Sepengetahua saya selama ini baru pertama kali kejadian seperti ini terjadi.
Tentunya saya kaget sekali karena pengiriman atlet tersebut diluar negeri bisa terjadi hal seperti ini. jauh jauh datang kenegeri seberang, ternyata TERLAMBAT hadir dilapangan.
Kemudian saya berbicara dengan salah satu rekan dari Asian Tennis Federation sobat lama yang pertama kali saya kenal di tahun 1988 sewaktu saya hadir di Pattaya Thailand dalam seminar Davis Cup yang diselenggarakan oleh ITF (International Tennis Federation) Sobat ini dari Philippines dan dia berdomisili di Subic.Diapun mempertegas kalau salah satu atlet Indonesia terlambat hadir dilapangan.
Atlet tersebut yang harus turun dipertandingan kedua melawan China yaitu Wisnu Adi Nugroho. Informasi yang saya terima di Jakarta, kalau pelatih sudah cari kemana mana tidak ketemu sedangkan dia harus turun dipertandingan kedua. Yang pertama adalah Nur Adim Ramadani yang ternyata kalah lawan Ning Yu-Quing 06 36. Tim Indonesia kalah 3-0 lawan china dimana ganda yang turun Wisnu Adi Nugroho berpasangan dengan David Manoah Yosua kalah lawan Xi Gao/Jun Han Tao 46 26.
Yang menjadi pertanyaan kenapa bisa terjadi hal seperti ini. Dimana tanggung jawab atlet tersebut atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya membela nama negara ternyata disaat harus bertanding tidak berada ditempat. Saya belum tahu pasti kenapa bisa terjadi demikian. Yang saya dengar pelatih Suharyadi sudah cari atlet tersebut tetapi tidak ketemu.
Sepengetahua saya selama ini baru pertama kali kejadian seperti ini terjadi.
Senin, 19 April 2010
Membedah kelemahan RemajaTenis

Jakarta, 19 April 2010. Banyak masukan kepada saya tentang kelemahan kelemahan didalam pelaksanaan turnamen RemajaTenis selama ini. Ini sebagai bentuk kecintaan diberikan kepada RemajaTenis, sehingga saya anggap suatu dukungan moril kepada saya agar tetap tegar selenggarakan RemajaTenis. Banyak masukan yang diberikan langsung ataupun tidak langsung, saya harus bisa menerima dengan lapang dada. Tanpa kritikan maka saya akan terbuai dengan kelemahan kelemahan tersebut. Setelah saya menyadari kalau awalnya saya hanya sekedar iseng buat turnamen tetapi melihat betapa anthusiasnya masyarakat menyambut kehadiran RemajaTenis, maka saya harus merubah menjadi lebih serius menjalankannya. Saya mulai membedah kelemahan kelemahan yang sudah bisa saya lihat sendiri ataupun mendengar dari masyarakat yang mencintai RemajaTenis.
Yang saya harus benahi adalah kualitas turnamen, tetapi bukan kualitas pesertanya dengan berikan iming iming hadiah yang bukan tujuan suatu turnamen kelompok yunior dilaksanakan. Yang harus dilakukan adalah peningkatan pelayanan kepada peserta. Kira kira bentuk pelayanan apa sekiranya yang akan diberikan dengan minimnya dana tersebut. Andaikan dana ada maka saya tidak ada kesulitan selenggarakan turnamen, seperti apa yang saya sering lemparkan kepada rekan rekan tenis, yaitu saya sanggup selenggarakan turnamen tenis mulai dengan dana Rp 1 sampai miliar rupiah.
Karena peningkatan pelayanan itu berarti penambahan budget. Yang menarik adalah bagaimana peningkatan pelayanan dengan minim budget. Inilah seninya kalau bisa. Kenapa tidak bisa, tentunya semua bisa dilakukan asalkan diberkati Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ini butuh waktu, karena saya butuh beberapa peralatan sebagai pendukung pelaksana. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah SDMnya. Siapkah mereka untuk mendukung masalah ini. Karena saya melihat bagi pelaksana turnamen yang ada saat ini sudah terpaku dengan cara berpikir yang lama. Ada sedikit kesulitan merubah pola pikir mereka yang sudah lama mendekam dalam dirinya. Saya pernah coba lontarkan hal ini sewaktu saya memberikan peralatan untuk mendukung pelaksanaannya tetapi ternyata tidak digunakan karena saya tidak berada ditempat turnamen tetapi berada dikota lainnya untuk RemajaTenis juga. "Yang penting turnamen lancar." inilah suatu penjelasan yang saya belum bisa terima dengan baik.
Sebenarnya saya dari dulu suka merekrut tenaga awam yang muda usia dicampurkan dengan yang sudah berpengalaman, tetapi apa yang terjadi. Keberadaan yang baru belum bisa diterima sepenuhnya sehingga muncullah keluhan dari petugas yang lama mengenai ketidak mampuan tenaga yang baru ini. Tetapi sebenarnya mereka ini tidak mau ada saingannya. That's the point.
Apakah saya harus melatih lagi tenaga tenaga muda tersebut. Ini masalahnya. Capek deh.
Saya menyadari sekali kalau Turnamen kelompok yunior di Indonesia belum ada yang bisa memuaskan peserta khususnya orangtua. Apa sebab, karena pelaksana turnamen sudah terpaku dengan pola kerja yang lama sehingga sepertinya rutinitas ini sebagai penghambat kemajuan mereka. Bagi orangtua yang sudah sering mengantar putra putrinya sudah tidak asing melihat kelemahan tersebut. Bagi yang baru pertama kali tentunya akan mengomel sekali. Berbagai omelan keluar dari masing masing orangtua ataupun pelatih.
Kembali ke RemajaTenis, yang saya akan benahi adalah informasi yang diberikan kepada peserta. Bisa melalui internet ataupun telpon seluler. Sehingga bagi pengantar ataupun peserta tidak perlu buang waktu menunggu giliran mainnya. Ini juga akan saya tekankan kepada Referee yang bertanggung jawab atas kelancaran turnamen. Awalnya saya biarkan , tetapi kalau dibiarkan terus tentunya akan merusak nama baik AFR sendiri. Ini yang perlu saya perhatikan kedepan. Mulai dari perencanaan turnamen selama 3 hari sudah bisa diprediksi atau dibuat jadwalnya. Untuk 3 hari pelaksanaan maka jumlah pesertanya juga tidak boleh berlebih, sebagai contoh untuk tiap event maksimum hanya 32 peserta, yang selama ini belum pernah terjadi, hanya sampai 30 peserta saja. Bukan berarti saya tidak pernah sampaikan keluhan seperti ini, bahkan saya harus memaksakan kepada Referee jika saya berada disampingnya. Dan sudah mulai ada perbaikannya. Tetapi bagaimana dengan RemajaTenis dilain kota dimana saya tidak ada. Saya perlu pengawas yang mengerti turnamen dan mengontrol kerja pelaksana. Disini sering terjadi konflik antara Referee dengan pelaksana turnamen.
Tidak mudah merubah pola pikir Referee yang tidak semua bisa menerimanya, karena merasa selama ini tidak mau ada intervensi dari Panpel lainnya karena wewenangnya. Tetapi saya ingin ada peningkatan kualitas dengan berikan peningkatan pelayanannya. Ini tentunya tidak akan makan beaya besar hanya butuh waktu juga. Bukan seperti membalikkan tangan langsung bisa terjadi. Harus ada pendekatan agar mereka ini harus mempunyai sense of belonging baru bisa terpenuhi seluruh kebutuhan tersebut.
Kalau pelayanan berupa berikan fasilitas akomodasi dan transportasi, maka ini butuh dana atau ada peningkatan budget. Dan sudah pernah dilakukan di Solo dan Palu.
Ya, semoga saja semua keinginan ini bisa terealiser. Semoga !
Kualitas atau Kuantitas
Jakarta, 17 April 2010. "Kualitas atau kuantitas". Ini suatu pilihan yang sering dilontarkan kepada pembina tenis. Dan tentunya akan banyak atau berbagai pendapat. Sedangkan saya sendiri dari dulu masih mengangap Kuantitas lebih dulu diperlukan di pertenisan Indonsia. Kenapa begitu ?
Saya selama ini masih melihat kuantitas saja masih belum banyak dipenuhi, sehingga sulit mendapatkan kualitas. Pendapat saya ini bukan baru sekarang, karena sudah saya lakukan dari tahun 1988 disaat saya memegang jabatan Manajer Program Pertandingan di PB Pelti. Pendapat saya itu pernah ditentang oleh rekan di PB Pelti saat itu, sehingga timbul ketidaksenangannya kepada saya. Itu masa lalu.
Bisa dibayangkan saat itu jumlah TDP di Indonesia baru mencapai 25 sudah termasuk Davis Cup, artinya sekitar 20 TDP saja di Indonesia, kemudian bisa saya kembangkan menjadi 40 TDP disebar di 16 Pengda Pelti dari 25 Pengda. Setelah itu saya keluar dari PB Pelti. Kalau dibandingkan dengan th 2009 sudah mencapai angka 60 TDP tetapi masih belum merata, artinya masih banyak berkumpulnya di Pulau Jawa saja, dan baru 15-16 Pengda Pelti dari 33 Pengprov Pelti.Ini berati belum merata.
Begitu sekarang saya memasuki beberapa Provinsi yang belum pernah saya kunjungi, saya melihat animo petenis yunior khususnya di kelompok 10 tahun,12 tahun dan 14 tahun cukup besar. Artinya mereka ini masih butuh frekuensi turnamen diperbanyak, karena selama ini turnamen khusus untuk kelompok umur ini sangat minim sekali diwilayahnya sendiri. Kalau tidak ada perhatian bibit seperti ini akan menghilang secara alamiah. Sayang sekali kalau sampai terjadi demikian. Saya cukup bersyukur di provinsi yang saya baru adakan turnamen RemajaTenis mulai tertarik selenggarakan sebanyak mungkin turnamen. Provinsi NTB sudah mulai merintisnya, sudah ada 2 TDP Nasional kelompok yunior (RemajaTenis) dan mudah mudahan bisa 3 TDP ditahun 2010, kemudian Sulawesi Tengah juga baru satu kali sebagai tuan rumah TDP Nasional RemajTenis, tetapi mudah mudahan beberapa bulan lagi akan hadir TDP Nasional dikota Palu. Sekarang saya masih menunggu kota Medan yang sudah sekali sebagai tuan rumah RemajaTenis. Sebaiknya dikota Medan minimal ada 2 TDP nasional, karena memiliki sarana dan prasarana memadai. Bisa dibayangkan salah satu kota diluar JAKARTA memilki 9 lapangan outdoor dan 2 lapangan indoor dalam satu lokasi. Kota mana yang bisa menyaingi Medan kecuali Jakarta dan Solo. Bisa dilihat Bandung, Surabaya, Semarang, D.I.Y masih kalah dengan Medan. Kota Solo sebenarnya cukup potensial sekali hanya yang menjadi pertanyaan saya adalah pandangan salah satu petinggi di Pelti setempat masih belum satu visi dengan saya, sehingga saya mencoba mengalihkan pikiran kekota lainnya, bukan berarti Solo akan dilupakan, karena saya akan tetap konsentrasi di Solo nantinya.
Hal yang sama saya perlakukan dengan turnamen RemajaTenis yang saya prakarsai mengantisipasi kebutuhan turnamen bagi atlet tenis khususnya yunior. Bisakah RemajaTenis ditingkatkan kualitasnya. Jawabannya tentunya bisa sekali.
Kualitas apa yang akan dilakukan. Ada pendapat kualitas pesertanya yang harus ditingkatkan sehingga kategori turnamen akan naik. Banyak cara dilakukan untuk meningkatkan kualitas dengan menarik petenis berkualitas. Sehingga lebih mudah mendapatkan sponsor yang bisa mengatasi kebutuhan klasik yaitu dana. Contohnya dengan memberikan hadiah-hadiah yang menarik. So pasti akan menarik perhatian bagi petenis berkualitas. Tetapi sebenarnya ini salah satu strategi marketing untuk menarik perhatian peserta. Tetapi dalam hal ini seperti dari dulu sejak saya perkenalkan Persami kemudian turnamen yunior lainnya, bagi saya hadiah bukanlah cara yang mendidik diberikan kepada peserta. Tetapi bisa saja pendapat saya tidak sepaham dengan rekan lainnya. Saya harus konsisten, karena tujuannya buat turnamen untuk memenuhi kebutuhan atlet, juga ada unsur pendidikan.
Tetapi ada satu hal yang akan saya lakukan adalah membenahi manajemen turnamennya, buka berikan iming iming hadiah. Sedangkan turnamen RemajaTenis itu bisa berjalan tanpa sponsor. Ini satu pembuktian yang sudah saya laksanakan, tetapi ada konsukuensi lainnya adalah saya dibuat tidak tenang alias saya harus berkorban waktu dan pikiran agar turnamen tidak membuat saya rugi besar. Yang bisa berakibat saya berhenti selenggarakan Turnamen. Alias kapok. Masalah rugi waktu dan pikiran bukan masalah.
Selama ini saya melihat banyak kelemahan didalam pelaksanaan RemajaTenis. Saya sudah 3 kali membatalkan pelaksanaannya karena minimnya peserta. Ini terjadi di tahun 2009 disaat pertama kali menggelar RemajaTenis. Dua kali di Jakarta dan sekali di Pekanbaru Riau. Tetapi alasan di Pekanbaru sudah tidak bisa diatasi karena saat penutupan pendaftaran ternyata hanya 5 peserta saja. Ini akibat tidak dibantu penyebaran informasi ke masayarakat tenis di Riau oleh rekan saya di Pekanbaru dimana sebelumnya sudah berjanji mau melakukannya. Akibatnya muncul ketidak percayaan masyarakat keberadan RemajaTenis, yang dikenal tidak pasti.
Tahun 2010, saya belum pernah membatalkan karena minimnya peserta, karena saya menjaga citra RemajaTenis. Konsukuensinya kerugian finansial sudah terjadi. Kalau pembatalan di Solo ( 2-4 April_) karena saat itu saya terima permintaan dari Semarang dimana rekan rekan ingin selenggarakan TDP dikota Semarang. Keinginan itu disampaikan bukan kepada saya tetapi disampaikan ke rekan di PP Pelti, Ketua Bidang Pertandingan. Sehingga sayapun tawarkan untuk mengalah. Banyak keluhan dari masyarakat tenis di Jawa Tengah dan DIY dilontarkan kepada saya tetapi saya bisa salurkan ke Semarang agar bisa ikuti turnamen tenis nasional lainnya. Sedangkan RemajaTenis di Banjarmasin yang semula tanggal 13-16 Mei 2010 diundur sesuai permintaan tuan rumah karena saat itu adalah minggu tenang dari Pilgub Kalsel.
Saya selama ini masih melihat kuantitas saja masih belum banyak dipenuhi, sehingga sulit mendapatkan kualitas. Pendapat saya ini bukan baru sekarang, karena sudah saya lakukan dari tahun 1988 disaat saya memegang jabatan Manajer Program Pertandingan di PB Pelti. Pendapat saya itu pernah ditentang oleh rekan di PB Pelti saat itu, sehingga timbul ketidaksenangannya kepada saya. Itu masa lalu.
Bisa dibayangkan saat itu jumlah TDP di Indonesia baru mencapai 25 sudah termasuk Davis Cup, artinya sekitar 20 TDP saja di Indonesia, kemudian bisa saya kembangkan menjadi 40 TDP disebar di 16 Pengda Pelti dari 25 Pengda. Setelah itu saya keluar dari PB Pelti. Kalau dibandingkan dengan th 2009 sudah mencapai angka 60 TDP tetapi masih belum merata, artinya masih banyak berkumpulnya di Pulau Jawa saja, dan baru 15-16 Pengda Pelti dari 33 Pengprov Pelti.Ini berati belum merata.
Begitu sekarang saya memasuki beberapa Provinsi yang belum pernah saya kunjungi, saya melihat animo petenis yunior khususnya di kelompok 10 tahun,12 tahun dan 14 tahun cukup besar. Artinya mereka ini masih butuh frekuensi turnamen diperbanyak, karena selama ini turnamen khusus untuk kelompok umur ini sangat minim sekali diwilayahnya sendiri. Kalau tidak ada perhatian bibit seperti ini akan menghilang secara alamiah. Sayang sekali kalau sampai terjadi demikian. Saya cukup bersyukur di provinsi yang saya baru adakan turnamen RemajaTenis mulai tertarik selenggarakan sebanyak mungkin turnamen. Provinsi NTB sudah mulai merintisnya, sudah ada 2 TDP Nasional kelompok yunior (RemajaTenis) dan mudah mudahan bisa 3 TDP ditahun 2010, kemudian Sulawesi Tengah juga baru satu kali sebagai tuan rumah TDP Nasional RemajTenis, tetapi mudah mudahan beberapa bulan lagi akan hadir TDP Nasional dikota Palu. Sekarang saya masih menunggu kota Medan yang sudah sekali sebagai tuan rumah RemajaTenis. Sebaiknya dikota Medan minimal ada 2 TDP nasional, karena memiliki sarana dan prasarana memadai. Bisa dibayangkan salah satu kota diluar JAKARTA memilki 9 lapangan outdoor dan 2 lapangan indoor dalam satu lokasi. Kota mana yang bisa menyaingi Medan kecuali Jakarta dan Solo. Bisa dilihat Bandung, Surabaya, Semarang, D.I.Y masih kalah dengan Medan. Kota Solo sebenarnya cukup potensial sekali hanya yang menjadi pertanyaan saya adalah pandangan salah satu petinggi di Pelti setempat masih belum satu visi dengan saya, sehingga saya mencoba mengalihkan pikiran kekota lainnya, bukan berarti Solo akan dilupakan, karena saya akan tetap konsentrasi di Solo nantinya.
Hal yang sama saya perlakukan dengan turnamen RemajaTenis yang saya prakarsai mengantisipasi kebutuhan turnamen bagi atlet tenis khususnya yunior. Bisakah RemajaTenis ditingkatkan kualitasnya. Jawabannya tentunya bisa sekali.
Kualitas apa yang akan dilakukan. Ada pendapat kualitas pesertanya yang harus ditingkatkan sehingga kategori turnamen akan naik. Banyak cara dilakukan untuk meningkatkan kualitas dengan menarik petenis berkualitas. Sehingga lebih mudah mendapatkan sponsor yang bisa mengatasi kebutuhan klasik yaitu dana. Contohnya dengan memberikan hadiah-hadiah yang menarik. So pasti akan menarik perhatian bagi petenis berkualitas. Tetapi sebenarnya ini salah satu strategi marketing untuk menarik perhatian peserta. Tetapi dalam hal ini seperti dari dulu sejak saya perkenalkan Persami kemudian turnamen yunior lainnya, bagi saya hadiah bukanlah cara yang mendidik diberikan kepada peserta. Tetapi bisa saja pendapat saya tidak sepaham dengan rekan lainnya. Saya harus konsisten, karena tujuannya buat turnamen untuk memenuhi kebutuhan atlet, juga ada unsur pendidikan.
Tetapi ada satu hal yang akan saya lakukan adalah membenahi manajemen turnamennya, buka berikan iming iming hadiah. Sedangkan turnamen RemajaTenis itu bisa berjalan tanpa sponsor. Ini satu pembuktian yang sudah saya laksanakan, tetapi ada konsukuensi lainnya adalah saya dibuat tidak tenang alias saya harus berkorban waktu dan pikiran agar turnamen tidak membuat saya rugi besar. Yang bisa berakibat saya berhenti selenggarakan Turnamen. Alias kapok. Masalah rugi waktu dan pikiran bukan masalah.
Selama ini saya melihat banyak kelemahan didalam pelaksanaan RemajaTenis. Saya sudah 3 kali membatalkan pelaksanaannya karena minimnya peserta. Ini terjadi di tahun 2009 disaat pertama kali menggelar RemajaTenis. Dua kali di Jakarta dan sekali di Pekanbaru Riau. Tetapi alasan di Pekanbaru sudah tidak bisa diatasi karena saat penutupan pendaftaran ternyata hanya 5 peserta saja. Ini akibat tidak dibantu penyebaran informasi ke masayarakat tenis di Riau oleh rekan saya di Pekanbaru dimana sebelumnya sudah berjanji mau melakukannya. Akibatnya muncul ketidak percayaan masyarakat keberadan RemajaTenis, yang dikenal tidak pasti.
Tahun 2010, saya belum pernah membatalkan karena minimnya peserta, karena saya menjaga citra RemajaTenis. Konsukuensinya kerugian finansial sudah terjadi. Kalau pembatalan di Solo ( 2-4 April_) karena saat itu saya terima permintaan dari Semarang dimana rekan rekan ingin selenggarakan TDP dikota Semarang. Keinginan itu disampaikan bukan kepada saya tetapi disampaikan ke rekan di PP Pelti, Ketua Bidang Pertandingan. Sehingga sayapun tawarkan untuk mengalah. Banyak keluhan dari masyarakat tenis di Jawa Tengah dan DIY dilontarkan kepada saya tetapi saya bisa salurkan ke Semarang agar bisa ikuti turnamen tenis nasional lainnya. Sedangkan RemajaTenis di Banjarmasin yang semula tanggal 13-16 Mei 2010 diundur sesuai permintaan tuan rumah karena saat itu adalah minggu tenang dari Pilgub Kalsel.
Langganan:
Postingan (Atom)