Palu, 26 Februari 2010. Ada satu kebanggaan saya di Palu ini karena bisa menggelar satu turnamen nasional RemajaTenis . Ternyata selama ini Sulawesi Tengah belum pernah menjadi tuan rumah turnamen nasional tenis, sedangkan saat ini sudah ada 6 lapangan didalam satu lokasi yang baru direnovasi oleh Pemda Sulawesi Tengah. Sebelum direnovasi Gubernur Sulawesi Tengah pernah menantang Pengrov Pelti Sulteng adanya satu event nasional diatas lapangan tenis ini.
Jadi saya bisa menggelar Turnamen Nasional RemajaTenis ini mencatat sejarah pertenisan di Sulawesi Tengah. Ini hanya satu kebanggaan selaku pelaku tenis di Indonsia bisa memberikan sesuatu kepada masyarakat tenis di Sulawesi Tengah.
Sambutan masyarakat tenis datang dari Sulawesi Utara ( Manado dan Tondano), Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Gorontalo, Kalimanan Timur, Sulawesi Tengah. Ada 6 propinsi belum lagi beberapa kabupaten di Sulteng maupun Sulsel ikut hadir.
RemajaTenis mulai diperkenalkan muai tahun 2009, diawali di Jakarta kemudian ke DIY, Medan dan Cirebon. Tahun 2010 masuklah di Mataram NTB, kemudiandi gelar di Jakarta, Bandung, Solo dan Palu. Saat yang bersmaan saya bisa menggelar RemajaTenis di Palu dan Solo.
Peristiwa yang tidak kalah penting selama menggelar RemajaTenis , baru kali ini dibukan oleh pejabat tertinggi di Provinsi yaitu Gubernur. Terjadinya justru di kota Palu Sulawesi Tengah.
Sayapun langsung bisa menggoda rekan rekan dari Manado dan Tondano yang datang ke Palu membawa petenis yuniornya. Walaupun kota Manado pernah menggelar turnamen nasional Yunior Maesa Paskah dan internasional, tetapi tidak permah dibuka oleh pejabat tertinggi diwilayahnya. Ini keluar sombongnya saya kepada rekan rekan dari Manado. " Masak ngoni kalah deng Palu. Coba lia, ele Gubernu tu buka turnamen." sayapun berkoar dengan mereka dengan tujuan untuk membangkitkan semangat agar bisa laksanakan kegiatan sejenis.
Sabtu, 27 Februari 2010
Hari Pertama Jalan Kaki
Palu, 25 Februari 2010. Hari pertama menginjakkan kaki di kota Palu Sulawesi Tengah, saya bikin rekan rekan di Palu kebingungan. Tiba siang kemudian sore harinya pukul 16.00 waktu setempat, saya mau ke lapangan tenis GOR Palu yang baru direnovasi.
Karena menunggu agak lama penjemputan, sayapun sudah tidak sabar. Keputusannya adalah jalan kaki saja karena biasanya letaknya tidak terlalu jauh. Akibatnya rkan rekan bingung cari. Sewaktu masih 50 meter dari hotel saya terima telpon dari Victor Marunduh , mantan petenis yunior dari Palu. Sayapun sudah berniat jalan kaki sekalian ingin keluar keringat maka saya katakan sudah jalan kaki tapi tidak tahu letaknya dimana.
Saya tahu mereka bingung juga karena sudah ditugaskan untuk menjemput, tapi gagal. Sayapun jalan kaki terus , akibatnya jaraknya akin jauh . Ini karena tidak tahu letaknya.
Tetapi sudah terbiasa kalau mencari lapangan tenis bukan masalah, so pasti gampang dapatnya.
Begitu sampai depan GOR sudah menunggu pelatih Abdul Radjab yang sudah lama saya kenal.
" Aduh bos jalan kaki nih. Maaf ya." ujarnya. Sayapun tidak mempermasalahkan tetapi mereka seperti kebakaran jenggot. Bagi saya lebih enak jalan kaki karena ternyata keluar juga keringat dibadan sebagai ganti olahraga. Saya sendiri sudah lama tidak main tenis sehingga haus akan keluarkan keringat
Karena menunggu agak lama penjemputan, sayapun sudah tidak sabar. Keputusannya adalah jalan kaki saja karena biasanya letaknya tidak terlalu jauh. Akibatnya rkan rekan bingung cari. Sewaktu masih 50 meter dari hotel saya terima telpon dari Victor Marunduh , mantan petenis yunior dari Palu. Sayapun sudah berniat jalan kaki sekalian ingin keluar keringat maka saya katakan sudah jalan kaki tapi tidak tahu letaknya dimana.
Saya tahu mereka bingung juga karena sudah ditugaskan untuk menjemput, tapi gagal. Sayapun jalan kaki terus , akibatnya jaraknya akin jauh . Ini karena tidak tahu letaknya.
Tetapi sudah terbiasa kalau mencari lapangan tenis bukan masalah, so pasti gampang dapatnya.
Begitu sampai depan GOR sudah menunggu pelatih Abdul Radjab yang sudah lama saya kenal.
" Aduh bos jalan kaki nih. Maaf ya." ujarnya. Sayapun tidak mempermasalahkan tetapi mereka seperti kebakaran jenggot. Bagi saya lebih enak jalan kaki karena ternyata keluar juga keringat dibadan sebagai ganti olahraga. Saya sendiri sudah lama tidak main tenis sehingga haus akan keluarkan keringat
Selasa, 23 Februari 2010
PON XVIII 2010, batas usia 21 tahun
23 Februari 2010. Suasana Rakernas sempat tegang juga diakhir rapat setelah masing masing komisi menyampaikan laporannya. Karena apa, karena masalah pembatasan usia untuk PON XVIII 2012 di Riau. Komisi A memutuskan batas usia 21 tahun, kemudian komisi B memutuskan 23 tahun, dan omisi C minta 21 tahun.
Sayapun ingin tahu, kenapa ada perbedaan masalah usia ini, karena sepengetahua saya PP Pelti telah menyampaikan ke KONI Pusat permintaan batasan usia 21 tahun, artinya kelahiran 1991.
Tak dsangka waktu Gde Nurjaya membaca laporannya, diakhir kata disebutkan narasumber nya Johannes Susanto, langsung rekan rekan daerah tepuk tangan. " Hidup Santo." begitulah yel yang keluar.
Setelah itu diputuskan , karena ada 2 komisi yang menghendaki usia 21 tahun. Maka menjadi keputusan 21 tahun. Dana Martina Widjaja langsung angkat bicara , menantang kepada peserta kalau PP Pelti akan selenggarakan turnamen dengan batasan usia 19 tahun, maka Pengprov Pelti yang tidak kirim akan kena sangsi.
Waduh, langsung pesertapun setuju dengan permintaan Martina Widjaja.
Perbedaan pendapat masalah umur 21 tahun bisa saja terjadi , ada pihak yang mengatakan daerah belum siap dengan usia 21 tahun ini, bahkan minta ke 23 tahun saja.
Nah, ini PON sudah lama tidak menunjukkan PON Prestasi. Saya lebih cenderung katakan PON ini yang sebelumnya adalah PON PRESTISE saja. Akibatnya terjadi jual beli atlet.Dengan adanya pembatasan usia dan kualifikasi peserta lainnya maka diharapkan PON kali ini menjadi PON prestasi.
Bisa dibayangkan, olahragawan Indonesia yang pemegang medali Olimpiade, Asian Games dan SEA Games juga ikut PON. Ini yang harus diubah, kalau menghendaki prestasi olahraga bisa berkembang dengan baik. Harus "Go International"
Sayapun ingin tahu, kenapa ada perbedaan masalah usia ini, karena sepengetahua saya PP Pelti telah menyampaikan ke KONI Pusat permintaan batasan usia 21 tahun, artinya kelahiran 1991.
Tak dsangka waktu Gde Nurjaya membaca laporannya, diakhir kata disebutkan narasumber nya Johannes Susanto, langsung rekan rekan daerah tepuk tangan. " Hidup Santo." begitulah yel yang keluar.
Setelah itu diputuskan , karena ada 2 komisi yang menghendaki usia 21 tahun. Maka menjadi keputusan 21 tahun. Dana Martina Widjaja langsung angkat bicara , menantang kepada peserta kalau PP Pelti akan selenggarakan turnamen dengan batasan usia 19 tahun, maka Pengprov Pelti yang tidak kirim akan kena sangsi.
Waduh, langsung pesertapun setuju dengan permintaan Martina Widjaja.
Perbedaan pendapat masalah umur 21 tahun bisa saja terjadi , ada pihak yang mengatakan daerah belum siap dengan usia 21 tahun ini, bahkan minta ke 23 tahun saja.
Nah, ini PON sudah lama tidak menunjukkan PON Prestasi. Saya lebih cenderung katakan PON ini yang sebelumnya adalah PON PRESTISE saja. Akibatnya terjadi jual beli atlet.Dengan adanya pembatasan usia dan kualifikasi peserta lainnya maka diharapkan PON kali ini menjadi PON prestasi.
Bisa dibayangkan, olahragawan Indonesia yang pemegang medali Olimpiade, Asian Games dan SEA Games juga ikut PON. Ini yang harus diubah, kalau menghendaki prestasi olahraga bisa berkembang dengan baik. Harus "Go International"
Kata kata terakhir
Jakarta,22 Februari 2010. Pembukaan Rakernas Pelti 2010 berlangsung tanggal 21 Februari 2010 pkl. 19.00 di Cengkeh Room Hotel Menara Peninsula, oleh Ketua Umum KON/KOI Rita Subowo dihadiri oleh utusan 31 Pengprov Pelti. Yang absen adalah Bangka Belitung dan Kepulauan Riau.
Setelah dibuka secara resmi, dilanjutkan dengan makan malam diselingi oleh band mengiringi acara makan malam tersebut.
Ada yang aneh malam ini, salah satu rekan Christian Budiman yang sepengetahuan saya tidak pernah minum bir ternyata malam ini berbeda. Sayapun minum segelas sudah cukup untuk menghangatkan suasana. Terlihat dari jauh wajah rekan Christia sudah merah, akibat minum bir tersebut. Sayapu tidak tahu berapa gelas yang diminumnya.
Esok harinya ( 21 Febr), langsung acara Rapatnya berlangsung dimana Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja menyampaikan laporan kerjanya untuk masa kerja 2007 - 2009. Diakhir laporannya, Martina langsung sampaikan uneg unegnya atau kekecewaannya terhadap hasil dari Pembinaan Senior. San keluarlah dari mulut Martina keinginan untuk mundur.
Mundur atau tidaknya Martina, sebelum Rakernas saya terima telpon dari rekan wartawan yang menanyakan masalah Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa). Inipun berkembang dan saya suka terima telpon dari beberapa rekan menanyakan masalah ini. Karena sepengetahuan saya, tidak semudah itu dari Rakernas menjadi Munaslubyang tujuannya untuk mengganti Ketua Umum PP Pelti. Jika Ketua Umum berhalangan tetap maka dialihkan kepada salah satu Pengurus Harian, bukan dengan Munaslub. Kecuali terlibat kriminal.
Ternyata sambutan dari rekan rekan daerah, justru mendukung Martina agar menyelesaikan tugasnya sampai 2012. Karena merekapun merasa gagal didalam pertenisan Indonesia. Gagal di pusat dan gagal juga didaerah. Begitulah suasana Rakernas yang hanya sehari itu.
Sewaktu dirapat Komisi yang dibagi 3 yaitu Komisi A membahas masalah Organisasi dan Dana, Komisi B membahas masalah pembinaan, Komisi C membahas pertandingan dan pemasayaran. Saya sendiri dimasukkan dalam Komisi C sebagai Narasumber. Suasana di Komisi tersebut saya tidak tahu, karena saya duduk di Komisi C.
Sewaktu awal rapat di Komisi C untuk memilih Ketua dan Sekretaris, saya diminta maju kedepan mendampingi Johannes Susanto dan Prasetyo Singgih sebagai Nara sumber, sayaopun menolak karena mengangap sudah cukup 2 narasumber dari PP Pelti. Ketua terpilih Mustafa Mashyur dari DKI dan Sekretaris Gde Nurjaya dari Bali.
Disaats edang seru serunya pembahasan, saya terima SMS dari ajudan Menpora, yang mengatakan sudah dekat hotel. Sayapun keluar ruangan melalui ruangan Komisi B dimana terlihat Martina Widjaja sedang menyampaian pendapat. Karena buru buru sayapun langsung turun kebawah agar tidak terlambat.
Setelah Menpora memberikan pengarahan dimana seluruh rapat Komisi ditundan dan berkumpul kembali, sayapun menunggu sampai akhir rapat komisi. Disaat rapat mau ditutup ,sayapun diberikan kesempatan menyampaikan pendapat. Oleh Ketua Rapat disampaikan untuk saya memberikan kata kata terakhir. Sayapun kaget, waduh sepertinya saya aka meninggal saja. Semua pada tertawa, akhirnya ketua sidangpun minta maaf.
Setelah dibuka secara resmi, dilanjutkan dengan makan malam diselingi oleh band mengiringi acara makan malam tersebut.
Ada yang aneh malam ini, salah satu rekan Christian Budiman yang sepengetahuan saya tidak pernah minum bir ternyata malam ini berbeda. Sayapun minum segelas sudah cukup untuk menghangatkan suasana. Terlihat dari jauh wajah rekan Christia sudah merah, akibat minum bir tersebut. Sayapu tidak tahu berapa gelas yang diminumnya.
Esok harinya ( 21 Febr), langsung acara Rapatnya berlangsung dimana Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja menyampaikan laporan kerjanya untuk masa kerja 2007 - 2009. Diakhir laporannya, Martina langsung sampaikan uneg unegnya atau kekecewaannya terhadap hasil dari Pembinaan Senior. San keluarlah dari mulut Martina keinginan untuk mundur.
Mundur atau tidaknya Martina, sebelum Rakernas saya terima telpon dari rekan wartawan yang menanyakan masalah Munaslub (Musyawarah Nasional Luar Biasa). Inipun berkembang dan saya suka terima telpon dari beberapa rekan menanyakan masalah ini. Karena sepengetahuan saya, tidak semudah itu dari Rakernas menjadi Munaslubyang tujuannya untuk mengganti Ketua Umum PP Pelti. Jika Ketua Umum berhalangan tetap maka dialihkan kepada salah satu Pengurus Harian, bukan dengan Munaslub. Kecuali terlibat kriminal.
Ternyata sambutan dari rekan rekan daerah, justru mendukung Martina agar menyelesaikan tugasnya sampai 2012. Karena merekapun merasa gagal didalam pertenisan Indonesia. Gagal di pusat dan gagal juga didaerah. Begitulah suasana Rakernas yang hanya sehari itu.
Sewaktu dirapat Komisi yang dibagi 3 yaitu Komisi A membahas masalah Organisasi dan Dana, Komisi B membahas masalah pembinaan, Komisi C membahas pertandingan dan pemasayaran. Saya sendiri dimasukkan dalam Komisi C sebagai Narasumber. Suasana di Komisi tersebut saya tidak tahu, karena saya duduk di Komisi C.
Sewaktu awal rapat di Komisi C untuk memilih Ketua dan Sekretaris, saya diminta maju kedepan mendampingi Johannes Susanto dan Prasetyo Singgih sebagai Nara sumber, sayaopun menolak karena mengangap sudah cukup 2 narasumber dari PP Pelti. Ketua terpilih Mustafa Mashyur dari DKI dan Sekretaris Gde Nurjaya dari Bali.
Disaats edang seru serunya pembahasan, saya terima SMS dari ajudan Menpora, yang mengatakan sudah dekat hotel. Sayapun keluar ruangan melalui ruangan Komisi B dimana terlihat Martina Widjaja sedang menyampaian pendapat. Karena buru buru sayapun langsung turun kebawah agar tidak terlambat.
Setelah Menpora memberikan pengarahan dimana seluruh rapat Komisi ditundan dan berkumpul kembali, sayapun menunggu sampai akhir rapat komisi. Disaat rapat mau ditutup ,sayapun diberikan kesempatan menyampaikan pendapat. Oleh Ketua Rapat disampaikan untuk saya memberikan kata kata terakhir. Sayapun kaget, waduh sepertinya saya aka meninggal saja. Semua pada tertawa, akhirnya ketua sidangpun minta maaf.
Jumat, 19 Februari 2010
Pelajaran Menarik di RemajaTenis Bandung
Jakarta, 19 Februari 2010. Kalau dikuti setiap turnamen tenis, ada saja kejadian kejadian yang perlu mendapatkan perhatian, khususnya pengetahuan bagi pelaksana turnamen maupun orangtua ataupun petenisnya sendiri. Ada satu kasus terjadi di RemajaTenis Bandung yang sedang berlangsung di lapangan tenis Siliwangi, yang kebetulan saya tidak hadir di Bandung.
Khususnya kelompok umur 14 tahun putra dimana ada satu pemain yang lupa dimasukkan dalam undiannya. Kenapa saya katakan lupa, karena pemain tersebut sudah terdaftar dari luar kota Bandung sehingga untuk mengejar waktu sign-in bisa terlambat kalau tidak diatasi dengan telpon langsung ke Referee yang bertugas. Sebenarnya sign-in pertelpon tidak diperkenankan, harus on site sign-in. Yang perlu diketahui maksud dari sign-in sendiri, artinya agar kehadiran peserta sudah ada dilapangan karena setelah sign-in biasanya langsung dipertandingkan setelah undian sehingga menghindar kasus pertandingan w.o. Kebijakan Referee menerima sign-in pertelpon adalah mau menolong peserta yang masih dalam perjalanan menuju ketempat pertandingan. Ini sebenarnya kebijakan Referee sendiri dengan menanggung resiko jika dibohongi peserta. Banyak juga Referee lainnya yang tidak mau menerima sign-in pertelpon. Sebelumnya banyak orangtua maupun pelatih yang meminta ijin terlambat hadir waktu sign-in karena masih sekolah atau dalam perjalanan dari luar kota. Semua itu saya arahkan agar langsung saja bicara dengan Referee sebagai penanggung jawab jalannya turnamen.
Kasus itu bermula dari peserta yang sudah confirm pertelpon dan sudah ada persetujuan Referee, tapi Referee lupa menulis nama peserta tersebut. Akibatnya sewaktu diundi nama peserta tersebut tidak masuk undian.
Sayapun ditelpon oleh Referee menceritakan dan mengakui kesalahannya. Dan saya menanyakan apa tindakannya, karena ini semua wewenang dari Referee, sehingga fungsi saya hanya mengarahkan dan tanggung jawab dari Referee.
Memang pengalaman saya diturnamen internasional , tindakan yang dilakukan Referee asing atas kasus seperti ini . Kasus karena kesalahan Referee bukan peserta. Kalau kesalahan peserta maka peserta yang akan terima akibatnya sendiri.
Ada beberapa tindakan berdasarkan logika, karena kalau berdasarkan peraturan pemain tersebut tidak boleh main karena tidak sign-in, bukan sign-in pertelpon. Jadi karena kebijakan Referee maka tindakan Referee harus berdasarkan kebijakan yang telah dijalankan.
Nah beberapa tindakan berdasarkan pengalaman saya. Kalau peserta sudah sign-in tetapi namanya tidak ada dalam undian maka tindakan Referee harus re-draw.
Nah mengenai kasus diatas maka tindakan dapat dilakukan dengan menempatkan pada bye yang tersedia. Biasanya bye berada ditempat unggulan. Walaupun pertandingan sudah berjalan.Karena di Bandung ini ada 4 bye ditempatkan untuk unggulan 1,2,3 dan 4. Maka pemain yang kelupaan dimasukkan kedalamnya ditempatkan melawan unggulan 4.
Andaikan saya jadi Referee, kebijakan itu tetap dijalankan tetapi setelah pembicaraan pertelpon dilakukan juga dengan permintaan tertulis melalui SMS saja sehingga ada bukti kuat nantinya.
Inilah liku liku disetiap turnamen, dimana setiap petugas Referee harus bisa mendaptkan informasi lebih banyak dari Referee yang berpengalaman. Bukan hal yang tabu, karena saya sendiri pernah alami dari Referee Men's Futures (di Balikpapan) berkonsultasi dengan Referee di Women's Circuit (di Jakarta). Waktu itu saya yang mengajukan pertanyaan, dan diapun berkonsultasi didepan saya dengan Referee di Jakarta. Tidak perlu malu untuk menambah pengalaman , karena ini sudah menyangkut berbagai aspek termasuk kebijakan ataupun penafsiran terhadap peraturan peraturan. Tidaklah heran kalau didalam setiap Rules of Tennis yang berubah hanyalah contoh contoh kasus, karena peraturan tenis tidak berubah.
Khususnya kelompok umur 14 tahun putra dimana ada satu pemain yang lupa dimasukkan dalam undiannya. Kenapa saya katakan lupa, karena pemain tersebut sudah terdaftar dari luar kota Bandung sehingga untuk mengejar waktu sign-in bisa terlambat kalau tidak diatasi dengan telpon langsung ke Referee yang bertugas. Sebenarnya sign-in pertelpon tidak diperkenankan, harus on site sign-in. Yang perlu diketahui maksud dari sign-in sendiri, artinya agar kehadiran peserta sudah ada dilapangan karena setelah sign-in biasanya langsung dipertandingkan setelah undian sehingga menghindar kasus pertandingan w.o. Kebijakan Referee menerima sign-in pertelpon adalah mau menolong peserta yang masih dalam perjalanan menuju ketempat pertandingan. Ini sebenarnya kebijakan Referee sendiri dengan menanggung resiko jika dibohongi peserta. Banyak juga Referee lainnya yang tidak mau menerima sign-in pertelpon. Sebelumnya banyak orangtua maupun pelatih yang meminta ijin terlambat hadir waktu sign-in karena masih sekolah atau dalam perjalanan dari luar kota. Semua itu saya arahkan agar langsung saja bicara dengan Referee sebagai penanggung jawab jalannya turnamen.
Kasus itu bermula dari peserta yang sudah confirm pertelpon dan sudah ada persetujuan Referee, tapi Referee lupa menulis nama peserta tersebut. Akibatnya sewaktu diundi nama peserta tersebut tidak masuk undian.
Sayapun ditelpon oleh Referee menceritakan dan mengakui kesalahannya. Dan saya menanyakan apa tindakannya, karena ini semua wewenang dari Referee, sehingga fungsi saya hanya mengarahkan dan tanggung jawab dari Referee.
Memang pengalaman saya diturnamen internasional , tindakan yang dilakukan Referee asing atas kasus seperti ini . Kasus karena kesalahan Referee bukan peserta. Kalau kesalahan peserta maka peserta yang akan terima akibatnya sendiri.
Ada beberapa tindakan berdasarkan logika, karena kalau berdasarkan peraturan pemain tersebut tidak boleh main karena tidak sign-in, bukan sign-in pertelpon. Jadi karena kebijakan Referee maka tindakan Referee harus berdasarkan kebijakan yang telah dijalankan.
Nah beberapa tindakan berdasarkan pengalaman saya. Kalau peserta sudah sign-in tetapi namanya tidak ada dalam undian maka tindakan Referee harus re-draw.
Nah mengenai kasus diatas maka tindakan dapat dilakukan dengan menempatkan pada bye yang tersedia. Biasanya bye berada ditempat unggulan. Walaupun pertandingan sudah berjalan.Karena di Bandung ini ada 4 bye ditempatkan untuk unggulan 1,2,3 dan 4. Maka pemain yang kelupaan dimasukkan kedalamnya ditempatkan melawan unggulan 4.
Andaikan saya jadi Referee, kebijakan itu tetap dijalankan tetapi setelah pembicaraan pertelpon dilakukan juga dengan permintaan tertulis melalui SMS saja sehingga ada bukti kuat nantinya.
Inilah liku liku disetiap turnamen, dimana setiap petugas Referee harus bisa mendaptkan informasi lebih banyak dari Referee yang berpengalaman. Bukan hal yang tabu, karena saya sendiri pernah alami dari Referee Men's Futures (di Balikpapan) berkonsultasi dengan Referee di Women's Circuit (di Jakarta). Waktu itu saya yang mengajukan pertanyaan, dan diapun berkonsultasi didepan saya dengan Referee di Jakarta. Tidak perlu malu untuk menambah pengalaman , karena ini sudah menyangkut berbagai aspek termasuk kebijakan ataupun penafsiran terhadap peraturan peraturan. Tidaklah heran kalau didalam setiap Rules of Tennis yang berubah hanyalah contoh contoh kasus, karena peraturan tenis tidak berubah.
Kamis, 18 Februari 2010
Pemain Kehilangan Poin
Jakarta,18 Februari 2010. Disela sela menghadapi ujian National ITF Level-1 coaches course hari Sabtu 13 Februari 2010 di lapangan tenis Kemayoran, saya diberi pertanyaan menarik yang ada didalam ujian tertulis didapat mereka.
"Jikalau petenis melakukan servis sempurna tetapi bola tidak kena, apakah diulang atau dianggap salah.? " begitulah pertanyaan diberikan oleh peserta dari Ternate Dina pelatih putri disamping Wukirasih Sawondari.
Dikatakan pula informasi yang didapat mengatakan kalau hal ini bisa saja diulang atau salah.
Memang selama ini peraturan perwasitan banyak sekali kemajuan sehingga setiap tahun bisa terjadi penafsiran atas kasus kasus seperti ini selalu menambah pengetahuan wasit.
Untuk kasus ini, secara logika mengatakan jika ada unsur kesengajaan petenis tersebut pura pura memukul bola tetapi niatnya tidak maka dianggap membuat kesalahan sehingga kehilangan poin.
Tetapi jika pemain siap memukul dan melakukan gerakan ingin memukul kemudian dipertengahan jalan ada hambata seperti mata silau kena sinar matahari, sehingga gerakan memukul dibatalkan atau tidak diselesaikan maka bisa diulang.
Jadi jawaban dari pertanyaan tersebut adalh pemain kehilangan poin.
"Jikalau petenis melakukan servis sempurna tetapi bola tidak kena, apakah diulang atau dianggap salah.? " begitulah pertanyaan diberikan oleh peserta dari Ternate Dina pelatih putri disamping Wukirasih Sawondari.
Dikatakan pula informasi yang didapat mengatakan kalau hal ini bisa saja diulang atau salah.
Memang selama ini peraturan perwasitan banyak sekali kemajuan sehingga setiap tahun bisa terjadi penafsiran atas kasus kasus seperti ini selalu menambah pengetahuan wasit.
Untuk kasus ini, secara logika mengatakan jika ada unsur kesengajaan petenis tersebut pura pura memukul bola tetapi niatnya tidak maka dianggap membuat kesalahan sehingga kehilangan poin.
Tetapi jika pemain siap memukul dan melakukan gerakan ingin memukul kemudian dipertengahan jalan ada hambata seperti mata silau kena sinar matahari, sehingga gerakan memukul dibatalkan atau tidak diselesaikan maka bisa diulang.
Jadi jawaban dari pertanyaan tersebut adalh pemain kehilangan poin.
Peringkat Menyesatkan

Jakarta, 18 Februari 2010. Saat bertemu dengan salah satu pelatih tenis di Jakarta, mempertanyakan ulah dari salah satu orangtua yang selalu vokal terhadap setiap kegiatan PP Pelti, saya sendiri tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukannya. Karena saya pribadi tidak bisa dan tidak mau terlalu memfokuskan diri terhadap ulah pelaku tersebut yang selalu berlindung dibawah LSM seperti pengakuannya terhadap petinggi Pelti lainnya.
"Tapi itu mencoreng citra Pelti." ujarnya untuk meyakinkan saya. Keinginannya agar oknum tersebut diberi sangsi. Memang sebenarnya orang tersebut bisa dituntut oleh Pelti karena mengatas namakan PP Pelti tanpa seijin PP Pelti. Sebagai contoh sudah berani meluncurkan website dengan nama Pelti, yang akhirnya dihilangkan situs tersebut setelah mendapatkan teguran keras dari salah satu petinggi Pelti.
Tetapi kita harus menghormati upayanya sebagai orangtua yang mati matian membela putra tercintanya lebih besar dibandingkan putra orang lain sebagaimana didalam LSM tersebut. Walaupun caranya tidak etis begitu pendapat masyarakat lainnya.
Sebagai contoh, saat ini sudah diklaimnya kalau putranya itu menduduki peringkat pertama berbeda dengan PNP yang dikeluarkan oleh induk organisasi tenis yang resmi Pelti yang ternyata jauh dibawahnya.
Saya mencoba melihat data yang ditonjolkannya, ternyata dimasukkan pula data tahun 2008, dimana PNP yang diterbitkan Pelti itu masa berlakunya poin yang didapat maksimum 52 minggu saja setelah itu dihapus. Bahkan turnamen yang tidak diakui Peltipun dimasukkan sebagai hasil kerja kerasnya mengejar angka PNP. Memang heibat sekali didalam membela putra tersayang sehingga bisa meyakinkan segelintir masyarakat yang percaya sekali. Tetapi saya ini selama ini dianggap sebagai musuhnya tidak bisa ditipu dengan cara cara tersebut. Dalam setiap statement dilakukan terhadap petingi Pelti saya melihat banyak kebohongan yang disampaikannya.
Dugaan saya sudah lama ada andaikan pelaksanaan PNP dilakukan oleh pihak luar Pelti apalagi pihakpihak tersebut mempunyai kepentingan pribadi sendiri. Kekuatiran saya itu yang menyebabkan saya secara resmi dalam rapat Pelti menolak semua update peringkat dilakukan oleh pihak luar yang banyak kepentingan pribadinya. Walaupun selama ini Pelti diklaimnya suka memanipulasi peringkat.
Masyarakat tenis di Indonesia sebaiknya sadar kalau Peringkat itu dikeluarkan oleh Pelti bukan oleh pihak lainnya. Saya sendiri ada yang minta agar buat juga peringkat Persami. Tapi saya tidak mau membingungkan masyarakat, karena saya masih duduk didalam kepengurusan Pelti.
Harus saya akui kalau turnamen perlu promosi atas kegiatan kegiatan turnamen yang saya lakukan sendiri, seperti anjuran rekan lainnya agar saya membuat peringkat Persami.
Selasa, 16 Februari 2010
Wanita Minahasa Sejajar Dgn Pria Sejak Dulu
Jakarta, 17 Januari 2010. Saya terima tulisan dari Sulut-Bohusami group berupa tulisan tentang wanita Minahasa. Cukup menarik untuk diketahui oleh teman teman.Dahulu kala dan malah masih terasa sampai sekarang di Negara tertentu, kaum wanita menempati tempat kedua dalam masyarakat. Hal demikian tidak terjadi di tanah Minahasa. Sejak semula cara hidup wanita Minahasa tidak pernah berdiri sendiri , berbeda dengan kaumnya di daerah lain. Di Minahasa kehidupan anak remaja baik pria maupun wanita sama keberadaannya. Dengan demikian mereka berhak mendapat pendidikan yang sama dengan pria. Karena sederajat dengan pria maka wanita Minahasa juga terbiasa melakuakn pekerjaan yang berat sehingga berakibat pada kekokohan tubuhnya serta kesehatan. Kesan atas kesegaran dan kekuatan mental tercermin pada raut mukanya. Banyak dari mereka mempunyai bentuk badan yang bagus dan tidak jarang terdapat wanita cantik.
Cara melangkah yang ringan, warna kulit muka yang terang dengan mata terbuka- bebas bertanya serta rambut tebal merupakan cirri khas mereka.
Mereka lincah serta ramah, suara dalam bercakap-cakap wanita remaja jelas dan terang.
Pada umumnya mereka penurut. Akan tetapi mereka dapat menunjukan keinginannya yang mana tidak akan terjadi tawar menawar, dalam pertemuan apakah secara umum atau rapat demi kepentingan negeri, dimana menurut pendapatnya kaum pria bertindak kurang tegas umpamanya dalam pembagian harta (budel) atau dalam soal perbatasan maupun perang.
Sebagai contoh terjadi di Tondano tahun 1837. Suku Tondano berada dalam perselisihan dengan suku Tombulu mengenai perbatasan. Kejadian seperti ini dimana emosi dan amarah yang meluap dapat mengakibatkan peperangan. Kaum pria Tondano berangkat menuju perbatasan negeri Tataaran-Touliang dimana orang-orang Tombulu telah hadir. Sebelum mereka tiba ditempat tujuan, mereka tersusul pekabar injil Johan Friedrich Riedel yang menjadi gembala dari Suku Tondano. Ia berusaha meredakan suasana sambil berjanji, soal ini akan ia ajukan pada residen (saat itu JPC Cambir, residen dari tahun 1831-1842 agar diusut).
Usulan ini terjadi kemudian dimana residen bersama komisi penengah menunjuk di mana letak bata yang harus di beri tanda. Tanda tersebut berupa tanaman Tawaang (Coryline Terminales Kunth). Walaupun Suku Tondano tidak sependapat dengan komisi penengah tersebut mereka pasrah saja. Seusai perkara ini residen yang menganggap persoalan telah selesai, pergi bermalam di Tondano sebelum kembali ke Menado.
Perkiraannya ternyata meleset, karena ia tidak memperhitungkan sifat “Wewene ne Toudano”. Mereka sama sekali tidak puas atas keputusan yang telah berlangsung di antara kaum pria mereka. Di malam hari mereka mengadakan “sumpah persekutuan” yaitu “setia antara sesame mereka untuk tidak menerima putusan tersebut”.
Malam itu juga berangkatlah mereka keperbatasan dan seluruh tumbuhan tawaang sebagai tanda batas mereka cabut.
Dini hari saat residen berada di beranda tempat ia menginap, sambil mengangkat muka ke atas terlihat olehnya di ujung tiang bendera tergantung se ikat tawaang dimana seharusnya terdapat kain bendera. Ini adalah hasil pekerjaan wewene ne Toudano.
Dengan sangat terkejut dan hati ciut, residen yang tahu diri dari perbuatan ini serta sadar akan bahaya atas dirinya langsung angkat kaki menuju rumah pekabar injil Riedel selanjutnya berangkat kembali ke tempat kediamannya di Menado.
Dalam hal beragama, kedudukan wanita Minahasa juga sangat terpandang. Tidak jarang tenaga walian (padri) berada ditangan mereka.
Lagipula, “legenda Suku Minahasa” menunjukan, ibu dari seluruh rakyat Minahasa, yaitu Lumimuut bertemu pertama kali walian wanita Karema. Disini terbukti bahwa yang berlaku pertama di bumi Malesung / Minahasa adalah kekeluargaan secara matriarchal dan berubah menjadi patriarchal kemudian setelah dua tiga generasi.
Dalam penunanian tugas keagamaan kaum wanita lebih teliti dari kaum pria. Ini di karenakan perasaan ke agamaan dalam diri mereka pada umumnya lebih dalam serta rasa terikat dengan leluhur lebih kukuh.
Dalam hal ber organisasi juga wanita Minahasa telah terbiasa sejak dulu. Pada bula Februari 1845, Gereja tua di Tondano telah mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi sehingga harus dibongkar. Sampai dengan awal tahun 1867 pembangunan gereja ini tertunda terus dan belum terwujud. Pada pertengahan tahun 1867, dibawah pimpinan wanita-wanita terkemuka Tondano dibentuk Perkumpulan Wanita. Ini merupakan perkumpulan wanita pertama dengan tema memajukan kehidupan masyarakat Minahasa di mana-mana.
Tujuan utama perkumpulan ini membangkitkan tata hidup jemaah terutama perhatian akan membangun tempat beribadah di mana mereka mendorong kaum pria agar lebih banyak menebang pohon besar yang terdapat kurang lebih 6 KM dari Tondano. Setelah kayu-kayu yang terlebih dahulu dip roses lepas dari hutan dan telah berada di jalanan umum, maka kaum wanita memberikan aba-aba pembangkit semangat untuk menariknya masuk ke Tondano. Ratusan wanita dan gadis remaja sekitar pukul 16.00 berterika-teriak dan menyanyi memasuki Kota Tondano. Delapan puluh sampai seratus wanita sedang menarik balok besar sepanjang 28 meter terikat dengan rotan dengan konstan sambil menyanyi. Kaum pria tidak diperkenankan untuk membantu.
Akhirnya usah sendiri membangun gerja berhasil dilaksanakan dengan pengawasan pekabar injil Hessel Rooker.
Mungkin ini adalah organisasi wanita tertua di Indonesia.
Selanjutnya kita mengenal Maria Walanda Maramis yang mendirikan Pencinta Ibu Kepada Anak dan Turunanya (PIKAT) pada tahun 1817. Apa yang dilakukan Walanda Maramis jauh lebih dahulu dari RA Kartini yang baru lahir 21 April 1879.
Dari : Silsilah Keluarga Gerungan 1500-1990noleh Boeng Dotulong.
Cara melangkah yang ringan, warna kulit muka yang terang dengan mata terbuka- bebas bertanya serta rambut tebal merupakan cirri khas mereka.
Mereka lincah serta ramah, suara dalam bercakap-cakap wanita remaja jelas dan terang.
Pada umumnya mereka penurut. Akan tetapi mereka dapat menunjukan keinginannya yang mana tidak akan terjadi tawar menawar, dalam pertemuan apakah secara umum atau rapat demi kepentingan negeri, dimana menurut pendapatnya kaum pria bertindak kurang tegas umpamanya dalam pembagian harta (budel) atau dalam soal perbatasan maupun perang.
Sebagai contoh terjadi di Tondano tahun 1837. Suku Tondano berada dalam perselisihan dengan suku Tombulu mengenai perbatasan. Kejadian seperti ini dimana emosi dan amarah yang meluap dapat mengakibatkan peperangan. Kaum pria Tondano berangkat menuju perbatasan negeri Tataaran-Touliang dimana orang-orang Tombulu telah hadir. Sebelum mereka tiba ditempat tujuan, mereka tersusul pekabar injil Johan Friedrich Riedel yang menjadi gembala dari Suku Tondano. Ia berusaha meredakan suasana sambil berjanji, soal ini akan ia ajukan pada residen (saat itu JPC Cambir, residen dari tahun 1831-1842 agar diusut).
Usulan ini terjadi kemudian dimana residen bersama komisi penengah menunjuk di mana letak bata yang harus di beri tanda. Tanda tersebut berupa tanaman Tawaang (Coryline Terminales Kunth). Walaupun Suku Tondano tidak sependapat dengan komisi penengah tersebut mereka pasrah saja. Seusai perkara ini residen yang menganggap persoalan telah selesai, pergi bermalam di Tondano sebelum kembali ke Menado.
Perkiraannya ternyata meleset, karena ia tidak memperhitungkan sifat “Wewene ne Toudano”. Mereka sama sekali tidak puas atas keputusan yang telah berlangsung di antara kaum pria mereka. Di malam hari mereka mengadakan “sumpah persekutuan” yaitu “setia antara sesame mereka untuk tidak menerima putusan tersebut”.
Malam itu juga berangkatlah mereka keperbatasan dan seluruh tumbuhan tawaang sebagai tanda batas mereka cabut.
Dini hari saat residen berada di beranda tempat ia menginap, sambil mengangkat muka ke atas terlihat olehnya di ujung tiang bendera tergantung se ikat tawaang dimana seharusnya terdapat kain bendera. Ini adalah hasil pekerjaan wewene ne Toudano.
Dengan sangat terkejut dan hati ciut, residen yang tahu diri dari perbuatan ini serta sadar akan bahaya atas dirinya langsung angkat kaki menuju rumah pekabar injil Riedel selanjutnya berangkat kembali ke tempat kediamannya di Menado.
Dalam hal beragama, kedudukan wanita Minahasa juga sangat terpandang. Tidak jarang tenaga walian (padri) berada ditangan mereka.
Lagipula, “legenda Suku Minahasa” menunjukan, ibu dari seluruh rakyat Minahasa, yaitu Lumimuut bertemu pertama kali walian wanita Karema. Disini terbukti bahwa yang berlaku pertama di bumi Malesung / Minahasa adalah kekeluargaan secara matriarchal dan berubah menjadi patriarchal kemudian setelah dua tiga generasi.
Dalam penunanian tugas keagamaan kaum wanita lebih teliti dari kaum pria. Ini di karenakan perasaan ke agamaan dalam diri mereka pada umumnya lebih dalam serta rasa terikat dengan leluhur lebih kukuh.
Dalam hal ber organisasi juga wanita Minahasa telah terbiasa sejak dulu. Pada bula Februari 1845, Gereja tua di Tondano telah mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi sehingga harus dibongkar. Sampai dengan awal tahun 1867 pembangunan gereja ini tertunda terus dan belum terwujud. Pada pertengahan tahun 1867, dibawah pimpinan wanita-wanita terkemuka Tondano dibentuk Perkumpulan Wanita. Ini merupakan perkumpulan wanita pertama dengan tema memajukan kehidupan masyarakat Minahasa di mana-mana.
Tujuan utama perkumpulan ini membangkitkan tata hidup jemaah terutama perhatian akan membangun tempat beribadah di mana mereka mendorong kaum pria agar lebih banyak menebang pohon besar yang terdapat kurang lebih 6 KM dari Tondano. Setelah kayu-kayu yang terlebih dahulu dip roses lepas dari hutan dan telah berada di jalanan umum, maka kaum wanita memberikan aba-aba pembangkit semangat untuk menariknya masuk ke Tondano. Ratusan wanita dan gadis remaja sekitar pukul 16.00 berterika-teriak dan menyanyi memasuki Kota Tondano. Delapan puluh sampai seratus wanita sedang menarik balok besar sepanjang 28 meter terikat dengan rotan dengan konstan sambil menyanyi. Kaum pria tidak diperkenankan untuk membantu.
Akhirnya usah sendiri membangun gerja berhasil dilaksanakan dengan pengawasan pekabar injil Hessel Rooker.
Mungkin ini adalah organisasi wanita tertua di Indonesia.
Selanjutnya kita mengenal Maria Walanda Maramis yang mendirikan Pencinta Ibu Kepada Anak dan Turunanya (PIKAT) pada tahun 1817. Apa yang dilakukan Walanda Maramis jauh lebih dahulu dari RA Kartini yang baru lahir 21 April 1879.
Dari : Silsilah Keluarga Gerungan 1500-1990noleh Boeng Dotulong.
Langganan:
Postingan (Atom)