Jumat, 15 Februari 2008

Tahun 2007 Telah Berakhir, Bagaimana tenis Indonesia Mendatang

Tahun 2007 telah berakhir . Tahun yang penuh dengan aneka peristiwa terutama olahraga khususnya tenis. Banyak peristiwa yang bisa diungkapkan selama tahun 2007. Keberhasilan maupun kegagalan kalau bisa dikatakan demikian atau dengan kata lain yaitu keberhasilan yang tertunda, sehingga bisa memunculkan berbagai tanggapan atau kritik yang kadang kadang nadanya sedikit emosional dan terlalu subjeltip. Tim Davis Cup belum berhasil kembali ke grup 1 dan tetap bertahan di grup 2 setelah kalah dari Kazakstan. Tim Fed Cup tidak bisa bertanding akibat kena hukuman tidak boleh ikut komepetisi karena tahun lalu Indonesia menolak bertanding ke Israel karena larangan Pemerintah. Tim Yunior putri 14 tahun masuk final round bersama sama 15 negara lainnya di Prostejov setelah berhasil lolos dari penyisihan zona Asia Oceania. Tim Junior Fed Cup ( 16 th putri) tidak berhasil ke final round begitu juga tim Junior Davis Cup ( 16 th putra). Petenis putra kelompok umum belum bisa berbicara di turnamen internasional yang berlangsung di Tanah Air baik itu Bakrie Men’s Futures ataupun Salonpas International Men’s Futures. Semua 6 turnamen internasional putra, tidak ada satupun gelar juara tunggal putra jatuh ke petenis tuan rumah, baru satu yang sampai final tapi gagal juara. Presatasi petenis putri masih lebih baik, Sandy Gumulya sebelum mengantongi medali emas tunggal SEA Games XIV Thailand sempat keluar sebagai juara Women’s Circuit ( $ 25,000 ) di India. Gagalnya mencapai target 2 medali emas di SEA Games dengan hasil yang diluar perkiraan tim tenis Indonesia yaitu ditargetkan medali emas datang dari tim putrid yang diperkuat oleh mantan petenis elit Indonesia Angelique Widjaja, Wynne Prakusya,Romana Tedjakusuma, Sandy Gumulya dan Jessy Rompies, dan juga satu medali emas diharapkan dari ganda Angelique Widjaja dan Wynne Prakusya tetapi justru medali datang dari Sandy Gumulya. Bisa dianggap kekeliruan besar tim tenis yang dibentuk hasil kerjasama antara pelatih dan Satgas SEA Games XIV, menghadirkan Angleique Widjaja maupun Wynne Prakusya yang sudah mundur dari pertenisan nasional maupun pronya. Lihat hasil perjuangan Angie/Wynne yang punya beban berat karena sebagai penentu final beregu tapi tak bisa berbuat maksimal sehingga target tersebut gagal.
Peristiwa besar lainnya yang cukup sengit sebagai penentu masadepan tenis Indonesia adalah kegagalan bagi segelintir masyarakat yang kecewa terhadap kepengurusan induk organisasi tenis (PELTI) pusat selama tahun 2002-2007,untuk menggusur kedudukan Martina Widjaja sebagai Ketua umum PB Pelti dengan figur lainnya yang dianggap mampu. Akibat lebih menjurus kepentingan segelintir pelaku yang memotivasi diri menjadi dasar gagasan mereka ternyata menjadi boomerang didepan peserta Musyawarah Nasional Pelti yang notabene pelaku pelaku tenis didaerah yang tidak merasakan hasil program pembinaan senior karena lebih merasakan program2 lainnya yang lebih mendasar yang hasilnya tidak bisa diharapkan dalam 5 tahun, sehingga dianggap perlu penanganan lebih berkesinambungan dengan mempertahankan Martina Widjaja selaku Ketua Umum PB PELTI mendatang. Banyak hasil dari Munas tersebut untuk masa mendatang. Harus pula diingat kembali atas VISI dan MISI Martina Widjaja sewaktu mencalonkan diri selaku Ketua Umum PB Pelti 2002-2007 di Munas Pelti 2002 di Makassar. Untuk misinya ada 3 yaitu peningkatan mutu SDM , peningkatan turnamen dan mengoptimalkan potensi daerah. Sebagai implementasi point 3 ini utusan Munas mengharapkan dimasa mendatang ada keseragaman prestasi di daerah daerah yang sebenarnya sebagai pemasok petenis nasional dengan membentuk sentra sentra pembinaan didaerah daerah dibawah koordinasi Pengurus Pusat (bukan Pengurus Besar lagi). Saat ini kendaraan yang membawa PP Pelti sedang diperbaiki karena kendaraan PB Pelti sudah harus masuk bengkel untuk direparasi. Ada pemikiran apakah bannya dan mesinnya diganti atau penumpangnya yang diganti. Semua terpulang kembali kepada Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja dan Sekjen PP Pelti Soebronto Lras yang telah dipilih di Munas Pelti 2007 di Jambi.

Rabu, 13 Februari 2008

Komitmen Tenis dipertarungkan


Maraknya turnamen membuat setiap insan tenis sudah harus memikirkan komitmennya. Mau jadi petenis nasional sajakah atawa petenis internasional. Kenapa begitu ! Ya, sudah mulai sekarang saatnya bagi Pembina tenis bersama sama anak asuhnya baik itu petenis yunior ataupun senior untuk memilah milah keikutsertaan nya dalam turnamen nasional atau internasional..
Saya secara pribadi sekali lagi secara pribadi sudah bisa melihat apa yang harus dikerjakan oleh Pembina tenis. Bisa kah dibayangkan, mulai tahun 2008 sudah tercatat 56 turnamen nasional dan internasional terpajang dibumi nusantara kita ini untuk turnamen yunior maupun senior yang dikategorikan turnamen professional karena memberikan prize money dalam rupiah maupun dolar.. Bisa dibayangkan sekali ada 56 turnamen atau 56 minggu waktu yang digunakan.

Apakah harus diikuti semua ?
Pertanyaan yang sering muncul.dari pecinta tenis. Saya jawab , tidak perlu tergantung kemampuan masing masing atlit. Apalagi bagi petenis yunior yang mulai beranjak terjun ke professional istilah ITF.
Lihat saja , mulai banyak petenis yunior diatas 24 tahun, mulai berkecimpung di turnamen senior. Tapi masih ada yang belum sadar mengikut sertakan semua turnamen. Bisa saja dilihat akibatnya nanti, so pasti prestasinya tidak bisa maksimal.
Usia muda sangat riskan kalau tidak mengukur kekuatan otot maupun tulang tulangnya. Apalagi masuk kancah internasional alias turnamen professional yang notabene permainannya cukup keras bagi petenis yunior.
.
Memang kita akui kalau induk organisasi tenis di Indonesia yaitu PELTI hanya sebagai fasilitator, memberikan kesempatan dengan sediakan sarana turnamen sebanyak mungkin, tetapi bukan berarti diharuskan ikuti semua.

Sudah saatnya memilah milah tujuan dari petenis tersebut. Mau cukup sebagai petenis nasional maka terjunlah ke TDP Nasional. Tapi kalau mau terjun ke professional maka konsentrasilah ke turnamen internasional baik di dalam negeri maupun luar negeri. Maka dari itu sudah saatnya semua Pembina mulai memilah milah komitmen atletnya dimasa mendatang. Kalau atelt mungkin belum mengetahuinya karena apa yang dianjurkan oleh pembinanya wajib diikutinya. Janganlah terlalu ambisi dengan mengorbankan atletnya dimasa mendatang.
Banyak kekecewaan yang muncul karena banyak petenis nasional tidak aktip lagi ikuti turnamen internasional didalam negeri karena diselenggarakan diluar pulau Jawa yang artinya petenis tersebut harus keluar uang transportasi dan akomodasi. Kans dapatkan prize money sangat kecil karena lawan lawan petenis asing ternyata kelasnya lebih tinggi. Akibatnya jika bertubrukan waktunya dengan turnamen nasional di Indonesia maka petenis tersebut lebih memilih turnamen nasional. Kenapa ? Ya, karena kesempatan meraih rupiah lebih mudah.
Ini sebagai sumbang saran dari salah satu pecinta tenis , kalau mau didengar alhamdulilah.

Mutasi Atlit Identik Pembinaan Instant



Mutasi atlit dalam rangka Pekan Olahraga Nasional 2008, dibahas sengit oleh peserta Rapat Paripurna Anggota (Raparnas) KONI Pusat pada tanggal 6 Februari 2006 di Jakarta. KONI Pusat telah membentuk Kelompok Kerja (POKJA) beberapa bulan lalu. Pokja telah merumuskan konsep mutasi atlit yang akan dibahas dalam Raparnas KONI Pusat. Setelah dimatangkan dalam Raparnas kemudian dibawa ke Musornas (Musyawarah Nasional ) pada tanggal 20 Februari 2006 di Bali untuk pengesahannya.

Pembahasan mutasi oleh Pokja yang telah makan waktu beberapa bulan karena ada dari PB/PP yang bertahan memakai aturan dari cabang cabang olahraganya, tetapi lupa kalau PON ini bukan milik PB/PP tetapi penyelenggara yang ditunjuk KONI Ada yang ingin agar tidak perlu 2 tahun domisili, bisa saja kurang dari satu tahun. Tapi lupa kalau peraturan PON sudah diputus, soal domisil minimal 2 tahun. Sehingga hanya perlu dibuatkan mekanisme mutasi yang diusulkan 2,5 tahun sebelum PON.
Semua pihak menyadari selama ini telah terjadi kebohongan public dilakukan dalam upaya meloloskan masing masing kehendak dengan tujuan mendapat medali bukannya prestasi sebagai target Disadari atau tidak kalau selama ini telah terjadi pelanggaran yang bisa dituding criminal. Contoh jelas atlit bisa memiliki 2 KTP dengan 2 daerah yang berbeda .Asli, tapi bisa juga bisa dikatakan palsu. Kenapa bisa begitu. Karena didukung oleh Pembina Pembina didaerah yang jelas punya wewenang mendapatkan KTP. . Dengan menghalalkan segala macam cara agar bisa ikut PON atau medali di PON
Hasil Pokja telah merumuskan mekanisme mutasi. Mulai dari dihormatinya hak atlit bermutasi dengan ikuti aturan aturan mainnya. Atlit harus buat surat yang formatnya sudah ada, ditujukan ke Klub/Pengcab dengan tembusan ke Pengda/KONIDA, dengan mencantumkan pindah kedaerah mana. Dilampirkan surat keterangan pindah domisili dan foto copy surat bukti sesuai alasan mutasi seperti mengkuti orangtua, pindah tugas/mutasi kepegawaian, mendapat pekerjaan di daerah tujuan,diterima di sekolah/Perguruan Tinggi didaerah tujuan . Alasan lainnya tidak diterima. Jangka waktu adalah 2,5 tahun sebelum PON 2008. Padahal PON 2008, rencananya sedang diajukan oleh KONI Prop.Kaltim ke Maret 2008. Klub/Pengcab dalam waktu 30 hari sudah harus mengeluarkan Surat Rekomendasi Mutasi (SRM) dengan mencantumkan menerima atau menolak dengan alasannya. Begitu juga Pengda/KONIDA dalam waktu 30 hari jarus sudah bisa keluarkan SRM menerima atau menolak. Yang menarik adalah Klub/Pengcab berhak minta uang kompensasi bagi atlit yang masuk dalam program pembinaan KONIDA untuk PON. Atlit yang ditolak bisa ajukan protes ditujukan ke KONI Pusat yang membentuk badan arbitrase, dan dalam waktu 30 hari harus ada keputusannya yang final.
Dari pengamatan saya selama ini, atlit tenis termasuk paling cerdik, Kenapa bisa begitu. Menyadari akan pola pikir pembinaan instant oleh Pembina di daerah daerah terutama sebagai calon tuan rumah,, tanpa dibekali pengetahuan masalah pertenisan nasional, maka yang untung adalah atlit tenis, Sana sini bisa sabet duit yang berbunyi puluhan juta rupiah bahkan bisa ratusan juta. Ada yang mengatakan agar bisa ikut PON saja sudah cukup, tapi ada yang dibohongi oleh pelatih2 cerdik dengan janjikan dapat medali. Yang penting medali, tidak masalah perunggupun jadilah. Tetapi apakah sesuai dengan pengeluaran dana yang disiapkan dalam 3-4 tahun sebelum PON .. Tetapi alasan klasik dikeluarkan Pembina tsb adalah cara ini merupakan salah satu cara membina atlit tenis yang sangat butuh dana. Tapi kenapa tidak memanfaatkan atlit dari daerah sendiri. Disinilah masalahnya.
Tahun 2005, banyak daerah telah lakukan Pekan Olahraga Daerah (PORDA) sebagai ajang persiapan menjaring atlit Pelatda menghadapi PON 2008 di Kaltim. PORDA termasuk sasaran empuk bagi petenis. Banyak atlit berlomba lomba kirim surat ke Pengda asal menyatakan pindah daerah. Yang menjadi masalah, ada yang ikuti PORDA di Tahun 2005 di 2 daerah. Pernah terjadi final PORDA dibatalkan karena belum ada kesepakatan soal status atlit
Anjuran saya dalam mengatasi ini, adalah dibuatnya peraturan PORDA yang bisa menghambat masuknya atlit siluman tersebut. Ada tim keabsahan dibuat KONIDA sehingga jika sudah dikeluarkan daftar nama2 atlit dari KONIDA, sebenarnya tidak bpleh diprotes lagi. Sama seperti PON.
Menyadari hal hal tersebut, pembinaan instant sebaiknya dihindari. Memang butuh waktu, tetapi tugas kita sebagai Pembina justru menaikkan pertenisan diwilayah masing masing. Kewajiban kita mencerdaskan bangsa, mulailah dengan mini tenis dengan target kelahiran atlit yunior dan pelatih tenis dari guru guru sekolah dasar. Ada atlit yunior, ada pelatih sehingga dipoles pengetahuannya melalui penataran pelatih diwilayahnya masing2. Sudah ada atlit, pelatih, maka perlu pertandingan. Awali saja dengan Persami, ditingkatkan menjadi TDP (Turnamen Diakui Pelti). Tapi harus disadari jika kita mulai cara ini, hasilnya bisa bertahun tahun, bahkan minimal 5 -10 tahun. Lama juga ya, dan bisa habiskan dana cukup besar. Tapi ini merupakan program jangka panjang Dari pada anak anak terlibat narkoba, mendingan main tenis ya !

Boikot Mewarnai Tugas di PB Pelti


Pertama kali sebagai wakil direktur turnamen Astra Internasional Junior Champs saya pernah alami boikot oleh rekan rekan wartawan yang meliput turnamen tersebut. Hal ini baru diketahui sehari setelah welcome party di Hotel Hilton Jakarta. Salah satu rekan wartawan Sinar Harapan ( Pitoy) datang esok harinya dengan menyampaikan kalau ada instruksi wartawan senior untuk boikot liputan turnamen Astra International Junior Champs.
Tapi saya cari tahu masalahnya kepada rekan Pitoy. Ternyata saat welcome party relan wartawan merasa dilecehkan, tidak dapat tempat duduk yang baik, karena didudukan dibelakang panggung. Memang malam itu saya datang agak terlambat karena siangnya sibuk mengatur turnamennya. Dan melihat rekan rekan wartawan tidak duduk ditempat yang disediakan. Akhirnya saya harus mengalah, menghilangkan rasa gengsi karena merasa tidak bersalah. Akhirnya saya datang meminta maaf kepada rekan rekan wartawan satu persatu, dan mendudukkan persoalan sebenarnya. Saat itu rekan wartawan datang lebih awal belum ada tamu, sehingga ikut bergabung dengan panitia lainnya yang pegawai secretariat PB Pelti. Memang saat saya kena skorsing dari Sekjen PB Pelti saya melewatkan waktu untuk belajar Public Relations di School of Communications ASMI Jakarta. Dan berhasil lulus terbaik kedua.
Peristiwa kedua yang tidak bisa saya lupakan adalah di boikot oleh wasit tenis di Samarinda. Saat itu tahun 1990 diadakan Munas Pelti untuk menggantikan Ketua Umum PB Pelti Moerdiono dan bersamaan pula diadakan turnamen Masters bagi petenis Indonesia seperti Yayuk Basuki, Suzanna Anggar Kusuma, Irawati Moerid, Bonit Wiryawan, Daniel Haryanto dll.
Judul turnamen adalah Marlboro Masters dengan sponsor utamanya perusahaan rokok Marlboro di lapangan tenis Segiri Samarinda. Untungnya Ketua Komite Pertandingan Martina Widjaja menyetujui saya membawa 6 wasit nasional dari Jakarta karena saat itu di Samarinda tidak ada wasit nasional kecuali Rudy (Dede) yang sebelumnya telah ikuti penataran wasit nasional di Manado.
Hari pertama turnamen saya sudah mulai bertindak tegas ke petugas meja turnamen yang disediakan oleh Panitia setempat yaitu Moh Idris M (ayah sari Abdul Kahar MIM) dan satu nama yang saya lupa bwerdarah Maluku. Masalahnya Marlboro memberikan 3 set T-shirt Marlboro untuk panitia, dan hari pertama saya datang melihat kedua petugas tersebut tidak menggunakan T-shirt Marlboro sebagai seragam resmi Panpel Marlboro Masters 1990. Saya hanya bertanya kemana seragam yang sudah diberikan, dan mendapatkan jawaban yang tidak bisa saya terima yaiotu dibawa anak2nya. Saya mulai berikan penjelasan mengenai sponsorship, maksud dan tujuannya mensponmsor turnamen. Akhir kata saya katakan jika dalam 5 menit tidak pakai seragam tersebut, tempat Anda bulkan dimeja pertandingan. Setelah itu saya tinggalkan mereka untuk berpikir. Lima menit kemudian saya kembali ternyata seragam tersebut sudah digunakan
Hari pertama saya mencek wasit wasit lokal yang akan bertugas, ternyata ada satu yang datang terlambat. Alasannya adalah macet. Ini saya tidak bisa terima. Sebenarnya saya menekankan disiplin bagi wasit juga penting. Akhirnya saya katakan Anda hari ini tidak bertugas sebagai hukumannya, dengan catatan besok bisa bertugas. Setelah itu saya tinggalkan pertemuan dengan wasit wasit tersebut.Ini semua terjadi sebelum turnamen dimulai dihari pertama. Tidak lama kemudian saya dihubungi oleh wasit Samarinda Rudy atau dikenal dengan panggilan Dede. “Pak saya diminta ikut boikot sebagai wasit sebagai tanda solidaritas mereka.” Saya hanya menjawab kalau Anda itu bukan anak kecil bisa bedakan mana yang baikl dan tidak. Akhirnya dia tidak ikut boikot. Saat itu saya kumpulkan 6wasit yangs aya bawa dengan refereenya Wardjitodari Jakarta dan juga peserta Marlboro Masters. Saya tekankan kesediaan mereka bertanding tanpa wasit garis (Linesmen). Ada kesepakatan dengan pemain maka pertandingan tidak ada masalah. Turnamen di Samarinda ini juga menyebabkan Yayuk Basuki menangis akibat teriakan penonton terhadap dirinya yang kulitnya hitam.
Situasi panas berlangsung dan hari itu juga saya sengaja masukkan ke media massa setempat dan nasional. Gegerlah Samarinda, ada event nasional di boikot oleh wasit tuan rumah. Kemudian datanglah Gubernur Kaltim Ardan (lupa nama lengkapnya) dan Kastaf Kodam Brigjen Yunus Yosfiah yang sudah saya kenal sewaktu beliau masih bertugas di Kopassus karena kompetisitenis Jakarta Timur sering bertandang antara klub Sparta Maesa melawan klub Kopassus AD.
Semua pertanyaan dan penawaran bantuan saya tolak dengan halus karena saya anggap masalah olahraga cukup diselesaikan dengan cara olahraga.Kemudian Pengda Pelti Kaltim mengundang wasit2 yang boikot dengan Referee Wardjito dan saya untuk dudku berdamai. Suasana cukup menakutkan jika kita tidak tabah. Keluar yel yel suruh bunuh saja saya yang dianggap arogan saat ini. Tetapi begitu saya mengetahui kalau mereka ini berasal dari Sulawesi Selatan, maka inilah senjata saya melumpuhkan kemarahan mereka. Saya memperkenalkan diri terlebih dahul dengan mengatakan jika tak dikenal maka tak disayang. Ada saat saat saya keras berbicara tapi ada juga kelembutan saya keluarkan. Saya katakana saya lahir di Makassar bukan di Ujung Pandang (sat itu Makassar sudah menjadi Ujung Pandang). Jadi darah Makassar saya masih ada. Disini saya berbicara dengan nada keras supaya menguasai suasana pertemuan tersebut. Memang saya katakana kalau mereka jauh berpengalaman di pertenisan Kaltim tetapi begitu saya perkenalkan kalau keluarga Raturandang sudah mulai berkecimpung di olahraga nasional bukan Kaltim. Mulai Pekan Olahraga Nasional I (Solo) oleh kakak ayah saya dan setiap PON selalu ada nama Raturandang, sampai saat saya pun terlibat di PON IV Bandung 1961 dan Andrian Raturandang yang menjadi juara yunior Indonesia saat itu disampingadik saya Alfred Raturandang sebagai pelatih tenis saat itu. Begitu juga saya tonjolkan pengalaman saya sebagai direktur turnamen internasional (sengaja tidak sebutkan turnamen nasional) Kesimpulannya dimata mereka kalau bicara soal tenis keluarga Raturandang sudah lama terlibat. Disini saya harus sombong terhadap mereka dengan tujuan agar mereka tahu diri sedikit. Trik ini ternyata berhasil dan akhirnya ditutup saling memaafkan. Selesai sudah permasalahnnya.Dan setelah itu rombongam PB Pelti seperti Ponco Sutowo, Martina Widjaja datang utuk Munas 1990. Martina sendiri sempat menegur saya dengan menanyakan kenapa tidak lapor masalah boikot ini karena sudah dibaca Koran nasional. Saya hanya katakana kalau saya ada masalah selalu saya selesaikan dulu baru laporkan keatasan bukan sebaliknya.
Ada satu lagi pengalaman saya di boikot oleh wartawan sewaktu selenggarakan Tigaraksa Lari 10 K tahun 1993 di Tangerang. Saat itu saya cukup dekat dengan wartawan Ibulota tetapi belum dekat dengan wartawan Tangerang yang semuanya bukan wartawan olahraga. Saya tidakkuatir karena sal pemberitaan saya bisa langsung ek rekasi koran di Jakarta langsung. Kegiatan berjalan sebagaimana biasa dan selesai dengan baik termasuk pemberitaannya di Harian nasional

Bagaimana Saya Bisa Masuk PB Pelti

Bagaimana saya bisa masuk ke PB Pelti.
Suatu perjalanan panjang bagi saya mulai mengenal organiosasi tenis di Jakarta melalui klub Sparta Maesa di Jakarta Timur yang saat itu dengan Ketua Umum dr. Nico Lumenta.
Rekan dokter Nico Lumenta ini (yang juga anak permandian orangtua saya) yang mengajak saya masuk kedalam kepengurusan PB Pelti dibawah Ketua Umum Moerdiono ( 1986-1990). Saat itu dr. Nico Lumenta sudah duduk di Komite Pembinaan Senior dibawah Bidang Pembinaan (Ketuanya Ponco Sutowo). Kalau tidak salah di tahun 1987 saya diajak duduk bersama dr. Nico Lumenta di Komite Pembinaan Senior. Jadi hanya berdua saja sedangkan di bawah Bidang Pembinaan ada Komite Tim Nasional terdiri dari A. Qoyum, Yunus Yamani. Kemudian di Komite Pembinaan Yunior ada Danny Walla dan Grace Lumenta. Saat itu suatu kebanggaan dudku di bidang Pembinaan karena atas inisiatip dr. Nico Lumenta sehingga bisa lahir Peringkat Nasional Pelti yang dikenal dengan PNP sampai sekarang masih digunakan di pertenisan nasional Indonesia.
Melihat kompaknya Bidang pembinaan PB Pelti sehingga diajaklah oleh Komite Pertandingan dr. Eddy Katimansjah duduk bersama dalam kepanitiaan turnamen nasional dan internasional. Saat itu di PB Pelti sebagai tenaga sukarela. Pengalaman pertama sebagai wakil direktur turnamen internasional yunior Astra Internasional,. Melihat sepak terjang saya di pertandingan, saat itu PB Pelti membutuhkan tenaga professional yang digaji penuh. Oleh Sekretaris Eksekutif PB Pelti Tien Indradjit menawarkan jabatan sebagai Manajer Program Pertandingan PB Pelti dibawah Komite Pertandingan, dengan konsekuensi harus berhenti bekerja sebagai Sales Manager di distributor perusahaan farmasi nasional di Jakarta.
Tawaran ini membuat saya tergetar juga, karena sudah ada posisi yang cukup mapan di perusahaan nasional. Konsultasi langsung ked r. Nico Lumenta yang saya anggap sebagai senior saya. Dia hanya katakan pikir baik baik saja, karena ini menyangkut masa depan karena saya sudah berkeluarga dengan 2 putra/putri. Apa yang harus saya lakukan. Sebelum memutuskan saya menyempatkan diri berdoa sebagai orang yang percaya kepada Tuhan Jesus Kristus.
Akhirnya saya putuskan berhenti dan menerima tawaran PB Pelti. Disini saya melihat ada yang bisa saya lakukan. Dan tidak melenceng dari pengalaman di marjeting.Bertemu dengan banyak orang dan saat itu turnamen tenis belum dibenahi bahkan tournament regulation masih mengacu ke ITF. Nah disini kesempatan saya membuat tournament regulation. Literatur literature dari ITF saya pelajari termasuk dari ATP-Tour dan WTA Tour.
Saat itu ada perubahan posisi Ketua Komite Pertandingan PB Pelti dari dr. Eddy Katimansah ke Martina Widjaja. Sebelumnya Martina sudah duduk di bagian Dana PB Pelti bersama Tanri Abeng . Disinilah awal kerjasama dengan Martina Widjaja.
Mulailah saya bertugas mengatur jadwal turnamen nasional yang saat itu baru ada 24 TDP dan saya programkan menjadi 32 dan meningkat setiap tahunnya. Begitu juga tugas lainnya yang cukup menarik adalah mencari sponsor untuk turnamen turnamen nasional dan internasional.
Tahun 1988, Indonesia sebagai tuan rumah Davis Cup . Pertandingan pertama Indonesia melawan Thailand 4-1 di stadion tenis Gelora Bung Karno (gravel). Kemudian Davis Cup melawan China (saat itu penonton membludak karena pertama kali masyarakat Indonesia melihat tim China di Jakarta. Indonesia menang dan finalnya zone Asia Ozeania Grup 1 melawan Korea di Stadion tenis Gelora Bung Karno. Penontonpun membludak, seluruh tenmpat duduik terisi penuh (lebih dari 5.000 penonton). Oleh Ketua Komite Pertandingan Martina Widjaja mendatangkan petenis juara Grand Slam Frech Open 1988 yaitu Micahel Chang (AS) melawan Slobodan Mecir dibulan Oktober 1988. Begitu selesai acara eksibisi yang ternyata menghasilkan uang masuk sebesar sekitar Rp 200 juta, saya diutus ke Pattaya Thailand ikuti Seminar DAVIS Cup. Hadir cukup banyak teman dari Australia, New Zealand, Singapore, Hongkong, Filipina, Thailand, Sri Langka, India, China, Korea , Jepang, Chinese Taipei. Disini saya mulai mengenal tenis internasional melalui rekan rekan penurus tenis dinegfara tersebut.
Kemudian oleh Tanri Abeng yang juga pengurus meminta saya menggantikan rekan saya Benny Mailili (alm) sebagai Circuit Administrator turnamen internasional Green Sands Satellite Circuit. Ini tahun 1989. Ini pengalaman pertama turut bertanggung jawab pelaksana turnamen internasional kelas satellite circuit. Begitu juga Nugraha Santana Challenger di Hilton Hotel dipercaya sebagai Direktur Turnamen setiap tahunnya.
Tetapi keberadaan saya bersama dengan Martina Widjaja membuat rekan pengurus lainnya timbul kecemburuan, karena aktivitas turnamen makin meningkat. Disinilah mulai muncul popularitas Martina Widjaja karena sebagai Ketua Komite Pertandingan PB Pelti. Sayapun mulai dikenal karena nama mulai muncul dalam pemberitaan di media massa sebagai direktur turnamen. Akibatnya hubungan saya dengan dr. Eddy Katimansyah (Ketua Komite Pengembangan PB Pelti) mulai terasa kurang harmonis. Karena ada keinginannya membuat turnamen Indonesia Open (World series, minimal US$ 100,00)) tidak saya tanggapi karena saat itu saya menganggap petenis Indonesia kelasnya baru dikelas satellite circuit ($ 25,000) dan Challenger ($ 25,000). Bicara kuantitas lebih penting baru setelah tercapai kuantitas maka akan terjadi kualitas.
Akibatnya saat Ketua Umum PB Pelti beralih ke Cosmas Batubara, Eddy Katimansay sebagai Sekretaris Jenderal PB Pelti. Karena keberpihakan saya ke Martina Widjaja yang duduk sebagai Ketua Bidang Promosi dan pemasaran PB Pelti (1990-1994) sehingga saya dianggap membangkang dan kena skors. Sedangkan Tanri Abeng duduk sebagai Ketua Bidang Pertandingan PB Pelti. Waktu itu istilah Manajer (ada 4 manajer full time saat itu ) diubah menjadi administrator dibawah komando Sekjen PB Pelti. Saya sempat ditanya oleh Martina Widjaja didepan Tanri Abeng untuk memilih sebagai Adminstrator Pertandingan atau Administrator Promosi dan Pemasaran. Saat itu saya menjawab memilih Adminstrator Promosi dan Pemasaran dibawah Ketua Bidang Promosi dan Pemasaran PB Pelti Martina Widjaja. Alasan saya , ketertarikan akan promosi dan pemasaran berdasarkan background saya selama 13 tahun berkecimpung di bidang marketing. Tugas saya mencari sponsor untuk kegiatan PB Pelti. Disini saya punya 2 atasan, yaitu dibawah Sekjen dan Ketua Bidang Promosi dan Pemasaran. Sedangkan keduanya mempunya pola pikir yang berbeda. Akhirnya saya memutuskan berhenti sebagai Adminstrator Promosi dan Pemasaran PB Pelti setelah mendapatkan skorsing selama 1-2 minggu. Hal ini tidak banyak yang tahu, karena saya lebih cenderung ikuti perintah Martina Widjaja dibandingkan Sekjen.

Mengenal Organisasi Tenis Melalui MAESA


Mengenal organisasi tenis bukanlah suatu kebetulan bagi saya, karena orangtua saya sejak saya belajar tenis di Singaraja Bali (1953-1959) sudah menjadi sekretaris MAESA suatu kumpulan kawanua asal Sulawesi Utara dalam perantauan. Kemudian waktu pindah ke Ampenan Lombok kembali lagi ayah saya Jooce Albert Raturandang(alm) memegang kedudukan sekretaris Maesa dengan ketua GRA Wenas (alm).
Ikuti orangtua disetiap turnamen tenis Pasklah Maesa di Jakarta atau Surabaya dan Bandung ( 1953-1961) dan juga iktuio turnamen tenis nasional di Malang (jalan Tenes dan jl. Suranaya) , Bandung(Pasir Kaliki) dan Jakarta(Lap.Kebon Binatang dan IKADA)
Beranjak dewasa setelah meningalkan bangku kuliah , saya bergabung dengan klub tenis Sparta di Jakarta yang merupakan salah satu klub tenis di Jakarta Timur dibawah bendera Maesa. Berlatih dan bermain bersama adik saya Alfred Raturandang membela klub Sparta Maesa di ajang kompetisi Pelti Jakarta Timur. Bahkan keluar sebagai juara kompetisi antar klub Pelti se Jakarta Timur. Berpasangan dengan benny Herungan merupakan pasangan yang cukup kuat bagi klub Jakarta Timur yang bermarkas di lapangan tenis Tanah Mas.
Sayua sendiri tinggal di Matraman Dalam yang termasuk Jakarta Pusat dan berlatih dan ikuti kegiatan pertenisan di Jakarta Timur
Disinilah saya mulai dikenalkan soal mengatur turnamen oleh rekan satu klub Frans Kambey (alm) karena Maesa merupakan salah satu klub tenis yang sejak tahun 1924 selalu aktip bahkan sampai sekarang dengan turnamen Paskah Maesanya. Sewaktu Sparta sebagai pelaksana turnamen tahunan dibulan Paskah, sayapun diajak masuk dalam panitia pelaksana membidangi pertandingan bersama Frans Kambey (alm). Inilah awal saya menggeluti turnamen tenis. Setelah dikenal maka Pengurus Cabang Pelti Jakarta Timur mengakak untuk duduk sebagai panitia pelaksana Gubernur Cup DKI yang juga secara rutin diselenggarakan oleh Pengda Pelti DKI Jakarta.
Begitu juga saat dilibatkan menjadi panitia turnamen Paskah Maesa saya mulai pelajari tata cara selenggarakan turnamen tenis. Saat itu belum ada peraturan turnamen tenis yang dikeluarkan oleh induk organisasi tenis yaitu PELTI (Persatuan Lawn Tennis Indonesia, nama saat itu) Mu;ailah sok tahui saya dengan membuat peraturan turnamen Paskah Maesa dengan mengacu kepada peraturan yang sudah dibuat sebelumnya. Ini terjadi di tahun 1980-1986. Bahkan membuat order of play bersama Sukardi yang lebih dikenal di Senayan sebagai Pak Kumis karena bentuk tubuh pendek tapi punya kumis cukup lebat supaya kelihatan berwibawa. Bisa dibayangkan Turnamen Paskah Maesa itu terdiri dari kelompok umur 10 th, 12 th, 14 th, 16 th dan 18 tahun. Bajlan kelompok umum dan veteran sehingga total; jenis pertandingan selama 3 hari (mu;lai Jumat, Sabtu dan Minggu) sudah harus selesai. Pekerjaan rumah cukup berat mulai ditahun 1983 dirumah saya sampai larut pagi untuk menyusun order of play. Tingkat kesulitannya cukup tinggi karena masalahnya setiap pemain bisa bermain 3 jenis pertandingan. Ada pengalaman lucu yang saya tidak lupa, saat itu Sukardi sebagai Referee sampai lari ngumpet di kantor PB Pelti diatas stadion tenis Gelora Bung Karno. Saat itu saya tanyakan kepadanya kenapa ngumpet. Jawabannya cukup singkat, pusing melayani ibu ibu di Maesa ini. Sehingga dia juluki kalau Maesa itu artinya Mau Enak Saja. Saya sendiri juga pernah punya pengalaman pahit dimarahi marahi oleh seorang Ibu pejabat (saat itu) dari Angkatan Laut (Letkol) didepan istri saya karena kena walk over dipertandingannya di Paskah maesa. Tetapi setelah dijelaskan duduk permasalahannya , Ibu tersebut akhirnya minta maaf. Akibat dari peristiowa tersebut salah seorang teman baik Ibu tersebut, Ibu Henny Sitepu yang suaminya juga dari Angkatan laut, menyebut nama Ibu tersebut sebagai pacar saya. Dan saya setiap menyapanya selalu memanggiul apa kabar pacar. Ini maksudnya suatu guyonan saja. Dan semua pihak teman temannya vbisa menerimanya dengan maksud baik.
Peristiwa yang saya tidak lupa sebagai panitia Piala Gubernur Jakarta adalah salah seorang petenis asal Manado, Bunge Nahor pernah menampar wasit setelah pertandingannya selesai. Tetapi peristiwanya bukan dalam lapangan tetapi masih dilingkungan pertandingan yaitu sekitar klub house. Sehingga saat itu ada rekan yang seorang Sarjana Hukum mau meperkarakan ke Polisi. Tapi saya cegah karena turnamen tenis juga ada aturannya yang tidak perlu sampai ke Polisi.
Ada suatu kenangan selama bergaul dengan Maesa di Jakarta Timur. Salah satu teman petenis Usman asal Padang pernah bertanya kepada saya soal resepnya Maesa bisa secara rutin selenggarakan turnamen tenis Paskah Maesa, karena pernah Masyarakat Sumatra Barat di Jakarta selenggarakan turnamen . Kalau tidak salah namanya Piala Imam Bonjol dimana pemenangnya dapat hadiah tiket ke Padang. Saat itu dukungan Gubernur Sumatra Barat Azwar Arnas. Turnamen ini hanya sekali saja tidak berlanjut.
Saya mengatakan sulit bisa ikuti jejak Kawanua. "Kalau bisa merubah mind setnya baru bisa. Apa itu ? Kalau orang Padang keluarkan uang Rp 1 tentunya ingin kembali Rp 1 juta. Ini karena jiwa pedagang. Tapi kalau Kawanua, keluar uang Rp 1 juta dianggap hilang. Karena rasa kangen untuk berkumpul. Itu resepnya." Akhirnya rekan saya hanya bisa tertawa.

Selasa, 12 Februari 2008

"Goblok Kamu. Pakai Otak Dong"

Begitulah salah satu komentar pelatih atau Ortu yg saya lihat dan dengar disela sela turnamen. Muncullah dibenak saya saat itu juga, kenapa setiap kesalahan yang fatal petenis dilapangan, kadang kala menyebutkan kata kata goblok sebagai external feedback untuk anak anak tersebut. Timbullah pertanyaan dipikiran saya, kenapa anak anak itu buat kesalahan fatal dalam suatu pertandingan. Apakah tidak dibuat latihan latihan yang membuat mereka lebih terampil meminimize kesalahan seperti itu. Kembali kepada kata kata Goblok ataupun kata2 mutiara tersebut, tidak akan terlontarkan bila sudah diberikan situasi situasi latihan yang sangat mirip atau identik dengan pertandingan.
Akibat dari tingkah laku orangtua ataupun pelatih teresebut tanpa disadari atlet akan merasa tertekan dan bisa salah tingkah.
Coba sekali kali bertanya kepada anak asuh atau anak sendiri. Setiap kali selesai menang atau kalah, langsung tanya kenapa bisa menang atau kalah. Mayoritas akan menjawab TIDAK TAHU, terutama petenis yunior, tidak menutup kemungkinan terjadi juga di pemain senior. Pengalaman saya waktu melihat pertandingan antara Joice Riana Sutedja di Hongkong (1991-1992) melawan petenis top asal Taipei yaitu Wang Shie Ting di Asian Championship. Set pertama Joice unggul kemudian set kedua kalah dan set ketiga kalah. Saya mencoba mencatat setiap games mulai dari berapa kali memberikan pukulan winner dan force error maupun unforce error. Saya iseng bertanya kepada atlet tersebut yang waktu itu bukan event yunior . Jawabannya tidak tahu.Aneh kan, dia yang main tapi tidak tahu. Kelelahan menutup pikiran wajar dari setiap insan jika tidak dilatih sejak awal. Dari data2 yang saya bacakan dia baru sadar kesalahannya. Kejadian ini juga saya coba tanyakan kepada atlet yang kalah di turnamen tahun 2006, khususnya petenis muda usia. Ternyata situasi ini masih sama seperti tahun 1991-1992. Sehingga timbul masalah kalau atlet itu dididik sebagai robot saja. Ini yang harus dirubah.
Saya pernah melihat dalam latihan petenis yunior dgn pelatihnya. Sang Pelatih saya lihat hanya berteriak teriak kaki kaki goyang dong, tapi tidak memberikan HOW to goyang dalam latihannya Atau berikan porsi latihan yang bisa membuat kaki goyang saat tidak memukul bola. Kebiasaan goyang kali sudah harus bisa dilakukan juga diluar lapangan sehingga atlet tanpa sadar dilapangan sudah otomatis lakukan hal tersebut. Kelincahan kaki bisa diajarkan bukan dengan cara latihan skipping, keliru karena skipping untuk endurance atau daya tahan. Akibatnya anak tersebut bingung tidak tahu solusinya tapi tidak berani bertanya karena takut kepada pelatihnya.
Yang perlu diperhatikan adalah latihan tehnik selama ini sudah dikerjakan tetapi lupa kalau melatih atlet berpikir memecahkan masalahnya sendiri harus mendapat porsi dalam latihan. Misalnya dengan cara melemparkan masalah sehingga atlet akan berpikir sebelum mendapatkan jawabannya. Pembinanya hanya menggiring masalah tersebut sehingga atlet tersebut yang akan menjawab sendiri.
Begitu juga dalam latihan ada salah satu pukulan bolanya OUT. Tanyalah kepada anak tersebut kenapa bola out. Bukannya katakan GOBLOK. Biarlah dia menjawab.
Intinya dalam latihan diterapkan how to decide dalam setiap pukulan. Yaitu Decision making, itu yang terpenting. Atlet bukanlah robot tetapi biasa gunakan otaknya untuk membuat suatu keputusan didalam lapangan. Buatlah suatu dialog sehingga terjawab masalahnya sendiri. Saya hanya melihat ada kecendrungan atlet takut terhadap pelatihnya. Dan jangan lupa setiap atlet tentunya beda juga treatmentnya.

Sepengetahuan saya, cara melatih ada 3 macam style yaitu Command Style dimana pelatih membuat keputusan2 sendiri. Ada yangdisebut juga Submissive Style (gaya pasif) dan terakhir Cooperative Style.
Kalau Command style, peran atlet hanya mendengar danberi respons terhadap poerintah pelatih. Kalau Submissive style, pelatih buat keputusan sangat minim. Pelatih yang gunakan cara ini dapat dikatakan kurang mampu memberikan instruksi dan bimbingan dan terlalu malas untuk penuhi tanggung jawab dalam melatih akibat dari sangat kurang informasi tetang cara melatih. Untuk Coorporate Style, dalam mengambil keputusan, pelatih berbgai dengan atlet.
Dari ketiga gaya ini, yang mana yang cocok diterapkan. Menurut pendapat saya, ketiga gaya bisa digunakan tergantung permasalahannya dan jika bisa mengkombinasikan ketiganya tentunya lebih baik. Tapi apakah bisa.? Tapi kalau hanya gunakan Submissive style saja, maka sudah tidak cocok . Sebaiknya jangan digunakan. Sedangkan Command Style sebenarnya dilakukan oleh pelatih pelatih lama. Bagi pelatih baru yang mantan petenis, akibat gaya ini digunakan oleh pelatih lama , tentunya akan menerpakna cara cara ini mengingat mengingat keberhasilannya sebagai atlet disebabkan gaya ini diterapkan oleh pelatihnya dulu kala. Dari luar kelihatannya gaya komando ini berhasil, tapi lupa kalau cara otoriter ini sangat melumpuhkan motivasi atlet, sehingga rasa FUN bermain tenis akan hilang sama sekali. Jaman sudah berubah demikian pula gaya melatih akan berubah. Bisa terjadi penolakan terutama oleh atlet muda ada kecendrungan meningkat.
Karena Command style memperlakukan atlet adalah robot, tidak mendidik atlet untuk berpikir. Andaikan tujuan Anda untuk Bantu atlet muda bertumbuh secara fisik, psikologi dan social melalui olahraga, begitu juga melatih atlet membuat keputusan sendiri, membuat atlet mandiri, maka Command Style sudah tidak cocok lagi.
Bagaimana dengan Cooporative Style? Intinya disini diciptakan 2 ways communications. Pelatih menghargai pendapat atlet. Ada yang berpikiran kalau cooperate style, pelatih meninggalkan tanggung jawab dengan membiarkan atlet melakukan kehendak sendiri. Ini pendapat yang keliru sekali, karena cooperative style pelatih tetap mempertahankan disiplin yang tinggi. Atlet belajar mengenal tujuan tujuan mereka sendiri dan tentunya harus berjuang mengejar tujuannya sendiri itu. Pelatih yang menggunakan Cooperative style harus bisa menerapkan secara individu.

Sportivitas Hanya Slogan Saja

Sportivitas sudah lama dikenal dalam dunia olahraga umumnya. Seharusnya sportivitas sudah harus dijalankan. Kalau didalam sepakbola menjelang pertandingan selalu diawali dengan barisan anak anak dengan membawa spanduk FAIR PLAY.Begitu juga pengakuan pemegang 5 medali emas Olimpiade Sydney 2000 Mation Jones asal USA berani memberikan pernyataan resmi masalh penggunaan doping di Olimpiadetersebut. Bagaimana dengan tenis. Baru bari ini dunia tenis internasional dikejutkan dengan mundurnya Martina Hingis karena dugaan menggunakan kokain, dan akhirnya menyatakan mundur. Punya rasa salah karena mengejar prestasi dengan cara tidak spotif. Bagaimana dunia tenis di Tanah Air ?

Sejak saya mengenal tenis mulai usia12 tahun selalu diajarkan oleh orangtua agar bertanding dengan sportif. Begitu juga diarena turnamen resmi atau sekarang dikenal dengan Turnamen Diakui Pelti(TDP) Tetapi kenyataannya dalam pelaksanaannya sampai sekarang masih sering terlihat perilaku yang tidak terpuji dilakukan oleh pelaku pelaku tenis dilapangan. Tapi akhir akhir ini dunia tenis yunior terlihat makin menggila. Tidak lupa saat saya masih sebagai Manager Program Pertandingan di Pengurus Besar PELTI (Persatuan tenis seluruh Indonesia) tahun 1989-1993, saya pernah menemukan satu atlet tenis asal Surabaya mempunyai 2 akte kelahiran dengan tahun yang berbeda. Apakah Akte tersebut bisa dikategorikan PALSU. Tidak jawabannya, karena instansi yang mengeluarkannya sama. Jadi ASLI. Tidak kurang akal saya saat itu untuk mendatangi Kantor Catatan Sipil kota Surabaya. Memang benar ada 2 akte kelahiran dengan nama , orangtua yang sama. Bedanya hanya tahun kelahiran , nomer akte dan tanggal dikeluarkannya akte tersebut yang beda. Cukup bahan didapat langsung saya laporkan ke Referee yang bertugas Sdr Rory Anggoro. Tindakannya yaitu dengan petenis tersebut di larang bertanding.

Tahun 2006 keluhan bertubi tubi datang dari orangtua petenis yang selalu rutin ikuti turnamen tenis yunior Persami Piala Ferry Raturandang, mengatakan kalau masalah pokok disetiap TDP Yunior ada saja masalah atelt dicurigai catut umur, tetapi saya hanya minta bukti dalam bentuk akte kelahiran. Kemudian saking kesalnya merasa keinginan mereka tidak diikuti maka muncullah kata kalimat kalimat yang tidak enak yaitu kalau ini dilaporkan ke PB Pelti sama saja disimpan ditong sampah. Ini yang membuat hati saya sedikit panas, dan ingin membuktikan kalau masalah ini hanyalah masalah kecil bagi saya yang pernah menemukan atlet tenis Surabaya yang punya 2 akte kelahiran tsb di turnamen Widjojo Soejono Cup . Tapi saya tidak berada di posisi bidang pertandingan PB Pelti karena hanya Wakil Sekretaris Jenderal PB Pelti (2002-2007). Karena punya rasa tanggung jawab ingin ikut memperbaiki pertenisan Indonesia, saya berinisiatip untu minta dukungan Ketua Bidang Pertandingan PB Pelti Enggal Karjono. Disambutlah dengan baik, ini membuat saya sedikit lebih leluasa.

Yang menjadi pertanyaannya, kenapa ditahun 2007 ini sejak awal tahun sampai Oktober 2007 sudah ada 17 petenis yunior yang terlibat tidak Sportif. 2 atlet aktenya dipalsukan. Dan 15 atlet memiliki 2 akte kelahiran dgn tahun berbeda. Asal mereka dari 1 Jawa Barat, 1 Sulawesi Utara dan 15 dari Jawa Tengah. Begitu juga yang diragukan. Sebenarnya bisa didapatkan jika diminta langsung Akte Kelahiran ASLI karena dalam database diberikan hanyalah copy Akte Kelahiran.
Bahkan ada yang lebih gawat yaitu atlet tenis dari Tegal mempunyai 2 akte berbeda tahun , beda instansi Kantor Catatan Sipil dan beda nama kedua orangtuanya, tapiorangnya sama. Heibat sekali niat tidak sportif ini.
Apakah mereka berpikir kalau mencatutkan umur untuk mencapai keinginan besar menjadi JUARA merupakan tindakan terpuji. Saya yakin mereka baik Orangtua maupun Pelatihnya so pasti tahu kalau tindakan ini tidak terpuji. Keyakinan ini muncul karena ada orangtuanya pendidikan Sarjana Pendidikan (S.Pd). Menurut pendapat saya mereka berprinsip kalau PB Pelti itu tidur dan tidak akan memperhatikan. Masalahnya kenapa mereka tidak sportif sebagai jalan pintas mengejarJUARA. Ternyata menurut pendapat saya ini akibat tidak konsistennya pelaku Panitia Pertandigan khususnya dengan aturan aturan yang dibuat oleh International Tennis Federation (ITF) maupunPB Pelti dengan Ketentuan TDP Kelompok Yumior. Aturan apa yang dilanggar.? Yaitu masalah PRIZE MONEY yang tidak diperkenankan dalam pemberian hadiah disetiap TDP Kelompok yumior. Jelas dilarang tetapi banyak kamuflase dilakukan oleh Panpel sehingga banyak orangtua petenis berusaha mencari hadiah uang tersebut di TDP yunior.
Bukan hanya petenis yunior masalah ini muncul. Hebatnuya di kelompom veteranpun demikian. Coba lihat setiap ada kejuaraan veteran masalah umur juga mencuat. Dulu yunior dimudakan usianya begitu veteran dituakan umurnya juga.
Saya pernah didatangi oleh ayah dari salah satu orangtua petenis Andrea Guntara dari Kudus. Dia minta kepastian status anaknya apakah dihukum berapa lama tapi lebih mementingkan nasib anaknya. Satu sisi berani mengakui kesalahannya juga patut dipuji, tetapi pengakuannya bahwa baru sekali turnamen dilakukannya itu yang perlu dipertanyakan. Karena menurut saya mana ada maling mau ngaku lakukan dua kali.
Kelihatannya faktor ekonomi yang menuntut agar anaknya bisa hidup di tenis. Bahkan seperti setengah mengemis kepada saya tanpa memikirkan perasaan dari anak anak lainnya yang pernah dikalahkan putranya dengan tidak sportif itu. Ketika itu saya katakan sebagai pendapat pribadi saya yang terang terang tidak setuju atau anti masalah pencurian umur. "Janganlah Anak itu dikorbankan." demikianlah salah satu permintaannya. Saya sangat setuju kalau anak jangan dikorbankan. Yang harus dikorbankan adalah Ayahnya, karena menyangkut pemalsuan Akte Kelahiran atau memberikan informasi salah ke kantor Catatan Sipil sehingga dikeluarkannya Akte Kelahiran Pemutihan, itu namanya PIDANA. Konsukuensinya adalah masuk PENJARA.

Masalah lain adalah tidak sportifnya pelaku pelaku tenis ini. Sebagai contoh, Pekan Olahraga Nasional XVII maupun sebelumnya. Banyak daerah terutama tuan rumah menggunakan atlet bukan hasil pembinaannya. Semuanya so pasti sah sah saja. Apa sih yang dicari Palupi ?
Yang dicari sebenarnya adalah prestise bukannya prestasi. Memang diakui kalau pembinaan itu makan waktu dan beaya yang besar. Sehingga keinginan pimpinan tertinggi Komite Olahraga Nasional , dulu KONI Provinsi yang notabene adalah Pimpinan Pemerintahan Daerah menginginkan prestise sebagai JUARA UMUM atau mencari Medali Emas sebanyak mungkin, membuat jalan pintas dilakukan pelaku pelaku olahraga lainnya dan juga tenis. Akibatnya dibelilah petenis yang sudah ada nama. Hal ini sangat disadari sekali oleh petenis nasional yang menurut saya sangat SMART. Inilah ladang dapat uang sebanyak mungkin oleh petenis nasional Indonesia. Akibat minimnya pengetahuan pelaku pelaku2 tenis didaerah dimanfaatkan segelintir pelatih sehingga bisa menikmati indahnya uang daerah masuk ke kocek sendiri yang mayoritas berdomisili di Jakarta.
Begitu jugaPekan Olahraga Daerah (PORDA) atau sekarang disebut Pekan Olahraga Provinsi (POR PROV) , selalu setaip Kabupoaten atau kotamadya membawa atlet dari Jakarta, Suranbaya atau kotabesar lainnya di Jawa. PORDA Jawa Barat tahun 2007 ternyata pesertanya terbaik Indonesia mulai peringkat 1 sampai 20 atau 30 bisa mewakili provinsi Jawa Barat. tetapi setelah selesai maka mayoritas pindah daerah lain.

Masalah lainnya yaitu disetiap Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional yang saat ini (Nop 2007) berlangsung di Banjarmasin. Coba telusuri atlet nasional yang ikut berlaga. Betulkah mereka MAHASISWA ? Ataukah sekarang Olahraga di Mahsiswakan atau Mahasiswa diolahragakan. Ini tentunya berbeda. Kenapa bisa terjadi demikian, kita kembalikan kepada pelaku pelaku tenis yang menggunakannya. Ini semua bukannya PRESTASI yang dikejar tetapi PRESTISE.
Jika dibandingkan dengan dinegara Paman Sam (USA), atlet nasional yang membawa medali emas disetiap Olimpiade ternyata adalah atlet mahasiswa beneran. Yaitu Mahasiswa yang jadi atlet.
Pernah ditahun 1992, di kejuaraan mahasiswa Asia di Hongkong salah satu petenis putri kita yang jelas jelas tidak sekolah dikirim ikuti sebagai wakil Indonesia. Dan ini sempoat mencuat ke media massa, sehingga sewaktu tiba di Cengkareng bersama tim saya sempat ditanya petugas Bea Cukai menanyakan yang mana atlet tenis bukan mahasiswa tersbut. Malu sekali.

Kita coba mengingatkan kembali, melalui olahraga kita bisa menciptakan fair play dan menunjukkan sikap a good sportmanship. Sangat mengherankan sekali pelaku pelaku olahraga dilapangan justru seharusnya memberikan contoh yang benar kepada atlet2nya tetap berlaku sebaliknya. Lupa sekali kalau melalui olahraga yang bukan hanya sekedar suatu permainan tetapi ada nilai nilai nilai luhur dan moral dimasyarakat . Ini sangat menentukan nilai nilai moral kehidupannya.
Pertanyaannya, kapankah kelakuan kelakuan seperti diatas bisa dihentikan sehingga olahraga khusus tenis Indonesia bisa menunjukkan prestasi mendunia bukan sekedar kebutuhan lokal.
Maukah kita merubah semua perilaku yang tidak jujur ini. Kembali kepada komitmen.