Rabu, 10 Januari 2018

PP Pelti Membuka resmi RemajaTenis Jakarta-67 Piala SIWO PWI Pusat

Jakarta, 9 Januari 2018. Sewaktu selenggarakan Kejurnas RemajaTenis Jakarta ke 67, saya mendapatkan kawan alias mitra baru yaitu SIWO PWI Pusat yang ingin bekerjasama membantu pertenisan nasional khususnya kelompok yunior. Hal ini tentunya akan sangat membantu khususnya disektor Publikasi.

Kemudian idea bersama Ketua Harian SIWO PWI Pusat Gungde Ariwangsa rekan lama yang juga pernah duduk di Humas PP Pelti era Martina Widjaja. Saya tanyakan kepadanya kira kira kalau mengundang Ketua Umum PP Pelti yang masih baru dan masih simpang siur masalah susunan pengurus nya, maka dapat jawabannya yang ikut mendukung. 

Sehari sebelumnya sudah pukul 16.00, tepatnya tanggal 26 Desember 2017, saya kirimkan undangan melalui WA salah satu saran yang cukup baik. Kirim ke Ketua Umum PP Pelti Rildo Ananda Anwar dan Ketua Harian PP Pelti Sutikno Mulyadi. Dan juga ke Wakil Ketua Pengda Pelti DKI Jakarta Johannes  Susanto maupun rekan lainnya di Pengda Pelti DKI Jakarta.

Sore itu belum ada jawabannya kecuali dari Johannes Susanto yang berhalangan hadir karena ada rapat besok pagi yang waktunya bersamaan. That's OK
Berarti besok Ketua Umum akan berhalangan.

Senin, 08 Januari 2018

Hadiah Akhir Tahun dicopot dari Asian Games

Jakarta, 7 Januari 2018. Setelah Munas selesai dan terpilihnya RAA sebagai Ketua Umum, , awal bulan Desember saya terima telpon dari salah satu rekan tenis. " Gila , Lu kena fitnah. Dibilang kalau AFR itu dipihak GW." Saya hanya tertawa saja. " Dibilangnya yang beri kabar kepihak RAA adalah BN.
 Saya katakan biarkan saja masalah ini karena saya tidak berminat duduk dalam kepengurusan baru. Cukup berbahagia diluar organisasi karena saya ternyata bisa mengembangkan tenis diluar Jawa lebih aktip. Faktanya demikian.
Dan saya sudah siap jauh jauh hari kalau jabatan saya selaku Venues Manager di panpel Asian Games cabor Tenis pasti kena copot

Beberapa Kejadian Menjelang Munas Pelti 2017

Jakarta, 7 Januari 2018. Setelah makan malam disalah satu resto di jalan Sudirman milik Raja Okta kira kira pukul 22.00 , saya disamperin oleh rekan Ferry Hadju dari kantor Kemenpora. Saat itu saya sedang ikuti rapat Panpel Asian Paragames (INAPGOC). Ferry Hadju sudah lama saya kenal dan yang mau diperkenalkan adalah rekan Ferry Kono yang juga berasal dari Gorontalo kalau lihat namanya.
Jadilah pertemuan pertama kalinya ketiga nama FERRY bisa bertemu.

Kemudian disampaikan kalau ada rekannya yang mau bertarung dalam Munas Pelti 2017 di Banjarmasin. Namanya Gde Widiade, CEO PT Perija (Persatuan Sepakbola Jakarta). Dia minta pendapat apa ada kemungkinan . Sayapun menjawab coba beritahu latar belakang keinginan tersebut dan kira kira visi dan misinya seperti apa.

Pra Munas Pelti 2017

Jakarta, 7 Januari 2018. Musyawarah Nasional (Munas) Pelti telah berakhir tgl 26 Nopember 2017 di Banjarmasin Kalimantan Selatan. Banyak cerita yang belum sempat saya catat maka saya coba angkat satu persatu disini.

Menjelang Puasa 2017 saya dua kali bertemu atau menerima undangan dari salah satu rekan dekat dari Rildo Ananda Anwar yaitu Sutikno M , yang saat itu mencalonkan diri jadi Ketua Umum PP Pelti, Awalnya dibulan Agustus berkembang ada dua calon yang akan ikut berlaga yaitu Alcandra Taher yang saat ini Wakil Menteri ESDM. Begitu gencarnya rekan saya Samudra Sangitan yang setiap saat jika jumpa selalu promosikan diri sebagai calon Sekjen PP Pelti jika Alcandra Taher menang.

Sabtu, 09 Desember 2017

Diundang oleh INAPGOC ke Solo

Jakarta, 8 Desember 2017. Kembali teringat disaat diundang sebagai sport expert menghadiri acara Inapgoc (Indonesia Asian Paragames Organizing committee ) dikota Solo untuk persiapan pembuatan Technical Handbook Wheelchair Tenis (THB) selama dua hari. Hadir dalam ruangan tersebut wakil dari NPC (National Paralympic Indonesia) rekan Yasin Onasie dan Maimun yang mewakili Tenis Kursi Roda di NPC.

Saat itu bingung juga karena kehadiran saya sebagai pribadi bukan mewakili induk organisasi tenis di Indonesia sebagaimana lazimnya. Saat itu sempat bertanya kepada salah satu panpel status saya sebagai apa. Ternyata sebagai sport expert. Jadi jelas, dan selama kegiatan ataupun penyusunan THB saya duduk bersamaan dengan kedua wakil NPC tanpa berkomunikasi membahas masalah THB karena masing masing merasa lebih berhak. 

Begitu pula saat presentasi ke Panpel keduanya lebih aktif dan saya hanya sebagai pendengar saja kecuali ditanya baru berikan masukan saja.

Disini terlihat ada keinginan seperti info yang saya dapatkan dari rekan di kantor Menpora kalau NPC berkeinginan mereka yang jadi panpelnya sedangkan kantor Kemenpora menghendaki berbeda.
Tetapi sempat pula saya bertanya kenapa tidak ada komunikasi dengan PP Pelti.

Dan dapat jawaban kalau sudah dikirimi surat tapi tidak ada responsnya
Sayapun sempat melemparkan pertanyaan kepada petinggi PP Pelti dimana dikatakan tidak pernah terima surat resmi.

Minggu, 15 Oktober 2017

Kerja LO Ngawur

Jakarta, 16 Oktober 2017. Ada peristiwa yang saya anggap lucu dan rada konyol di Kuala Lumpur. Dalam tugas sebagai Technical Delegate saya bernagkat dengan Air Asia pada pagi hari Jumat 15 September 2017 jam 06.00. Bisa dibayangkan harus berangkat dari rumah jam 03,00 pagi sekali .

Setiba di Kuala Lumpur, kaget juga sambutan diberikan panpel setempat. Bagitu keluar dari pintu pesawat ditunggu petugas LO yang tidak dikenal tapi bawa kertas nama saya. Langsung disambut dengan kendaraan (boogey) ketempat imigrasi dan bagasi. 

Semua proses berjalan lancar dan diluar sudah ditunggu oleh Sport Manager Johany Hamzah. Saya pikir ke hotel bersama dia, Tapi dibiarkan pergi ke hotel bersama sopir mobil khusus untuk saya dan LO tersebut. Pesannya istrahat dulu dihotel.

Sampai dihotel gak bisa istrahat karena kamar baru bisa masuk setelah jam 13.00. Sayapun minta antar ke National Tennis Center jalan Duta Kuala Lumpur karena sudah pernah kesana.


TENIS : TINGGAL MENUNGGU HARI

Jakarta, 10 October 2017. Tidak disangka sangka pertenisan Indonesia dlm masa penentuan nasib bagi pemangku keputusan kebijakan kebijakan masa depan . Tepatnya tgl 25 November 2017 dikota Banjarmasin Kalimantan Selatan. Acara Musyawarah nasional Pelti. Tinggal menunggu hari Karena sisa waktu 46 hari.
Kesepian melanda suasana masyarakat tenis yang saat ini menunggu nasib pertenisan Indonesia sesuai dengan sepinya prestasi didapat oleh PP PELTI 2012-2017. Jadi tidaklah heran jika ketidak pedulian masyarakat tenis terhadap Musyawarah nasional Persatuan Tenis seluruh Indonesia atau PELTI.
Teringat 5 tahun silam tepatnya Agustus 2012 sudah ada calon Ketua umum PP PELTI yang diorbitkan melalui media massa yaitu nama mantan Atlet nasional yang membuat PP Pelti saat itu terbangun kesadarannya. Karena tidak rela jika tongkat estafet kepemimpinan jatuh kepada calon ketua umum mantan petenis nasional tersebut yang dianggap tidak layak memimpin induk organisasi.

Tugas tugas Yang Ribet

Jakarta, 16 Oktober 2017. Saya mulai membuka blogger ini setelah lama terlupakan akibat kesibukan mengurus beberapa kegiatan tenis di Indonesia maupun Luar Negeri.
Di tahun 2017 ini saya ketiban urusan pertenisan di Indonesia dan juga di Kuala Lumpur. Kok yang ada juga di Kuala Lumpur. Ini ceritanya panjang.
Diawali di bulan Nopember 2016, saya terima tawaran dari Asean Para Sport Federation yang berkedudukan di Singapore. Ditanyakan apakah bersedia jadi Technical Delegate untuk acara Asean Para Games 2017 di Kuala Lumpur. Timbul pertanyaan ada apa nih kok ditengah jalan diundang, biasanya sudah lama dipersiapkan. So pasti ada yang tidak beres. Jika bersedia diminta kirimkan aplikasi dengan Curriculum Vitae diminta. Ternyata dalam waktu kurang daris emingu dapat jawaban kalau diterima.
Lsngsung minta dikirimkan surat resmi penunjukkannya sehingga sebagai dasar mulai urus paspor karena sudah expired 2015.