Senin, 20 Desember 2010

Berani Tidak keluarkan Piagam Keikursertaan

Jakarta, 19 Desember 2010. Saya mencoba melihat pelaksanaan kepelatihan pelatih tenis selama ini baik yang saya kerjakan di Jakarta maupun dilakukan oleh rekan rekan Pelti didaerah. Timbul pertanyaan yaitu yang dibutuhkan kuantitas atau kualitas. Kepelatihan pelatih merupakan salah satu program pemberdayaan SDM pertenisan kita dimana dibutuhkan pelatih pelatih berkualitas didaerah daerah. Dari hasil selama ini dikenal kepelatiahan pelatih ITF Level-1 yang merupakan jenjang kepelatihan ITF paling rendah.

Tetapi saya melihat kenyataan selama ini banyak peminat yang datang hanya membutuhkan PIAGAM nya bukan keilmuannya yang bisa diterapkan kelapangan. Nah, yang jadi pertanyaan adalah Piagam itu untuk apa jika ilmunya tidak diserap dan diterapkan dilapangan. Bahkan saya pernah awal tahun ini terima permintaan via SMS untuk mendapatkanpiagam tersebut walaupun tidak mengikuti langsung. Bisa dibayangkan pelatih tersebut mau bayar per piagam sejumlah jutaan rupiah. Gila kali ya.
Rupanya piagam tersebut bisa digunakan untuk kenaikan pangkatnya diinstansinya tempat dia bekerja. Artinya profesi pelatih ini belum merupakan jabatan profesinya tetapi jabatan sambilan saja.
Ada satu pemikiran saya disetiap penataran seperti ini apalagi yang mengeluarkan sertifikat kelulusan , kita harus berani tidak keluarkan Piagam keikut sertaannya. Cukup piagam kalau lulus saja disediakan sehingga hasilnya bisa dipertanggung jawabkan, Ini ibarat sekolah, kalau tidak lulus tidak perlu disediakan piagamnya. Tetapi apakah ini bisa diterima semua pihak. Kita harus berani melakukan perubahan demi kemajuan pertenisan kita ini.

Minggu, 19 Desember 2010

Pelayanan kepada Peserta butuh perhatian

Jakarta, 19 Desember 2010. Menjelang akhir tahun, pertenisan Indonesia masih tetap saja berlangsung khususnya pelaksanaan turnamen nasional yuniornya. Saya sendiri masih mempunyai satu keinginan agar dalam pelaksanaan dilapangan bisa berjalan lancar dimana bisa memuaskan semua pihak. Karena kita harus menyadari paling banyak keluhan justru didalam pelaksanaan turnamen kelompok yunior, jika dibandingkan dengan turnamen kelompok umum.
Kalau kita melihat akhir dari pelaksanaan semuanya berjalan dengan sukses. Tetapi saya mencoba membedah pelaksanaannya terutama diawal turnamen ternyata masih banyak yang harus diperbaiki. Saya melihat secara keseluruhan khususnya jika saya melihat langsung bisa terlihat banyak hal yang harus diperhatikan. Termasuk pelaksanaan Turnamen RemajaTenis sendiri masih banyak kelemahan yang harus diperbaiki. Saya selalu melihat pelaksanaan turnamen dari 3 kepentingan yaitu kepentingan sponsor, kepentingan penonton dan kepentingan peserta.
Mulai dari kepentingan sponsor, masih jauh dari keinginan karena terus terang tidak semua turnamen yunior memperhatikan kepentingan sponsor karena akan membebani pelaksana yang sudah sulit mendapatkan dana sponsor. Penempatan kepentingan sponsor masih sekitar acara pembukaan saja, tetapi masih kurang perhatikan masalah publikasi khususnya sebagai kunci kepentingan sponsor. Kita harus akui kesulitan dana sebagai penyebab sehingga kepentingan sponsor ini sedikit diabaikan. Untungnya masalah sponsor ini didapat karena faktor kedekatan dengan sponsor saja bukan dari aspek bisnis semata. Kalau kepentingan penonton, akibat dari sarana dan prasarana yang tersedia diturnamen masih sangat minim sekali.
Kepentingan peserta masih berjalan ditempat. Saya sendiri tidak tahu mau dari mana kita mulai perbaiki. Karena ada beberapa hal yang kurang mendidik sehingga petenis yunior kurang mendapatkan pembelajaran menghadapi turnamen. Baik itu hak maupun kewajibannya. Kita harus menyadari sekali turnamen yunior itu merupakan turnamen pembinaan. Bina dalam peningkatan prestasi juga bina hak dan kewajiban atlet perlu mendapatkan perhatian.
Hak peserta seperti jadwal turnamen maupun hasil undian sudah harus dipegang oleh atletnya sebelum pertandingan mulai. Disini dikatakan turnamen mulai bisa sehari sebelumnya sudah ada jadwal maupun undiannya ataupun beberapa jam sesudah diundi.

Coba kita perhatikan seringkali waktu sign-in dilakukan dan penutupannya membutuhkan waktu sangat lama undiannya sudah bisa dipublikasikan artinya sudah diketahui oleh pesertanya, bukan oleh panitianya. Dari tahun ketahun saya melihat masih belum ada perbaikannya khususnya turnamen nasional yunior. Kalau internasional yunior bisa dilakukan karena hanya membuat 2 jenis pertandingan yaitu putra dan putri KU 18 tahun. Tetapi kalau diikut sertakan dengan nasionalnya yaitu KU 16 th, 14 th, 12 th dan 10 tahun ternyata berbeda sekali.
Saya coba perhatikan didalam suatu turnamen nasional, masalah waktu undian itu ternyata bisa sekitar 15-20 menit saja untuk satu jenis tergantung jumlah pesertanya, misalnya mengundi tunggal KU 10 tahun putra. Tetapi kalau kita perhatikan selama ini ada yang terjadi sampai lebih dari 5 jam , belum lagi membuat order of play yang seharusnya sudah diketahui 1-2 jam setelah diundi. Tetapi apa yang terjadi selama ini, bagi orangtua so pasti bisa menjawabnya. Dan ada juga orangtua atau pelatih sudah tidak perduli lagi masalah waktu karena sudah sering terjadi. Padahal pelaksana turnamen bukan muka baru tetapi sudah berpengalaman paling banyak. Disini kelemahannya mereka ini tidak mau belajar untuk memperbaikinya.
Saya coba pelajari dimana letak kelemahan yang menghambat pelaksanaannya, karena situasi sekarang sudah berbeda dengan puluhan tahun silam dimana komputer belum ada.
Saya tidak lupa di tahun 1980 dimana saya mulai terlibat diturnamen tenis Maesa,pernah terjadi membuat undian dan order of playnya itu bisa sampai pukul 04.00 dini hari, karena turnamen maesa saat itu bisa sampai 33 eventsnya. Bisa dibayangkan sudah berkali kali waktu itu Maesa Paskah berjalan dengan situasi seperti itu.

Kesimpulan pertama adalah belum ada kemauan dari pelaksana terutama yang membuat undian, untuk memperbaikinya. Memang ada suatu kebiasaan dari rekan rekan pelaksana turnamen yang selama ini dianggap sudah sering lakukan tanpa mau mengevaluasinya maka tetap akan berlangsung terus tanpa ada perbaikan.
Jadi disini kelemahan pertama adalah perencanaannya.
Tentunya sebagai orangtua pemain berkeinginan semua itu lancar, dan jika mendapatkan pelayanan penyelenggara kepada mereka maka kepuasan ini akan membuat peserta akan tetap mengikutinya.

Waktu yang dibutuhkan penyelenggara untuk mengundi maksimal 20 menit, jika ada KU 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun dan 16 tahun putra dan putri maka dibutuhkan waktu hanya 120 menit untuk mengundinya. Saya bicara masalah mengundi saja. Yang jadi masalah adalah persiapan mengundinya, ini yangmembuat butuh waktu panjang karena kita tidak mempersiapkan sebelumnya. Disinilah masalah teknis saja yang saya perhatikan diabaikan karena terbuai dengan gaya dan caranya sendiri. Sebenarnya semua bisa dilakukan ditempat seaktu menerima sign-in, tetapi ada yang lakukan pulang kehotelnya dulu. Lebih celakanya ada petugasnya sampai dirumah langsung tidur dulu dengan catatan nanti tengah malam baru dikerjakan. Bagaimana nasibnya kalau tidurnya kebablasan sampai pagi. Pagi pagi bangun kewalahan mau mengundinya. Kacau kan.


Rabu, 15 Desember 2010

Apa Tujuan Bermain Tenis ?

Jakarta, 15 Desember 2010. Ada satu hal yang menarik untuk dibahas disini, karena jika kita bertanya kepada atlet tenis Indonesia, khususnya yang telah memasuki jenjang turnamen internasional Procircuit artinya turnamen yang telah menyediakan prize money.
"Apa tujuan Anda bermain tenis? "
Tentunya kita akan mendapatkan jawaban yang berbeda beda tergantung dari petenisnya sendiri.
Dari beberapa jawaban ada jawaban yang menurut pendapat pribadi saya kurang mendukung prestasinya sendiri. Karena pengamatan saya jawaban yang keluar adalah ...." mau cari uang".
Sulit untuk mendapatkan jawaban ' TO BE A CHAMPION " Atau mau jadi juara dunia atau mau menjadi seperti petenis dunia ( sebut satu nama favoritnya).
Tetapi kalau kita bertanya kepetenis yunior apalagi kalau usia dibawah 14 tahun maka masih bisa kita dapatkan jawaban "mau jadi juara" itu.
Nah, kekuatiran atas jawaban mau cari uang itu cukup mendasar. Walaupun bisa dikatakan sah sah saja. Tetapi menurut pendapat saya berbeda dengan jawaban kedua dimana komitmen atlet lebih besar dibandingkan yang menjawab mencari uang tersebut.
Sekarang turnamen nasional maupun interenasional profesional menyediakan prize money berbeda dengan turnamen yunior tanpa menyediakan prize money.
Masuk babak pertama (babak utama) saja sudah tersedia uang, jadi bukan hanya juaranya yang dapat prize money tersebut, sehingga berupaya mendapatkan tempat di babak utama melalui fasilitas wild card saja tanpa mau susah susah dulu.
Akibatnya mereka ini cepat puas dengan hadiah seadanya, bukan mengejar tempat sebagai juara. Karena kalau mau jadi juara dibutuhkan pengorbanan cukup besar. Harus mengejar turnamen berbobot yang seharusnya untuk mengasah prestasinya. Dan kemungkinan keluar uang lebih dulu bukan dapat uang. Inilah masalahnya.
Akibatnya bisa dilihat di turnamen turnamen, kalau kalah tanpa menunjukkan penyesalannya.

Senin, 13 Desember 2010

Mau kemana besok ?

Jakarta, 13 Desember 2010. Disela sela turnamen tenis di Hotel Sultan Jakarta, saya melihat ada keragu raguan orangtua terhadap perkembangan putra ataupun putrinya atas prestasinya. Ini sih wajar wajar saja sehingga timbul karagu raguan tersebut. Dan bukan sekarang saja dimana pertenisan nasional khususnya yunior makin semarak. Lebih parah sepuluh ataupun duapuluh tahun silam.
Ada yang mengatakan apa yang bisa didapatkan dari tenis. Lebih baik back to school.

Memang saya sendiri lebih cenderung kalau atlet itu tidak melupakan sekolahnya, apalagi sekarang belum semua sekolah masih belum mendukung olahraga apalagi tenis. Jangan sampai tidak sekolah hanya main tenis. Ini justru yang salah. Karena pendidikan disekolah atau pendidikan formal itu penting sekali dalam membentuk pribadi seseorang yang muda usia.

Sebenarnya sebagai orangtua harus jeli juga, jangan sampai karena ambisi yang lebih menjurus ke ambisius justru merupakan bumerang baginya. Kenapa demikian harus jeli. Sekolah itu penting karena seorang juara itu juga harus pintar. Tidak ada lagi bodoh tapi bisa juara.
Memang banyak orangtua tidak ada waktu lagi memonitor putra dan putrinya didalam menjalankan aktivitas olahraga diluar rumahnya.
Memang olahraga iru disamping untuk kesehatan banyak sekali manfaatnya dalam pembinaan dirinya. Adanya gangguan gangguan diluar rumah tanpa disadari masih mengancam masa depan putra putri Indonesia. Khususnya semua pihak sudah mengetahui yaitu NARKOBA. Dengan banyak kesibukan maka sulit Narkoba merongrong kehidupan disamping pendidikan agama juga mutlak.
Akibat ambisiusnya orangtua bisa menjerumuskan anak anak ke Narkoba tersebut.

Kembali ke pertanyaan diatas untuk menjawab keragu raguan orangtua terhadap pembinaan putra dan putrinya. Kita sudah harus bisa melihat sampai dimana kemajuan putra dan putri kita. Tidak perlu kuatir ada alat pantaunya yaitu yang sangat sederhana sekali yaitu PERINGKAT NASIONAL PELTI yang dikeluarkan oleh PP Pelti, atau juga bisa digunakan ITF rank dan WTA rank dan ATP rank. Jika ditanyakan kepada orang yang salah apalagi punya kepentingan maka jawabannya sangat subjektip sekali. Kembali kepada tujuannya bermain tenis.
Kalau sudah ingin go international karena mau tingkatkan prestasinya maka harus banyak pertimbangannya. Bisakah menembus peringkat dunianya ? Ini yang penting butuh kejeliannya.
Jika kiranya sulit menembus ke peringkat dunia, maka mulailah berpikir bisa berprestasi di dunia pendidikan juga bisa digunakan sebagai alat jika ingin mendapatkan bea siswa pendidikan di negeri Paman Sam (USA). Dengan syarat selaian berprestasi di tenis, juga harus berprestasi didunia pendidikan. Karena akibat melalaikan masalah sekolah selama bermain tenis maka di USA awalnya bisa ikut tetapi tidak bertahan lama karena jika prestasi tenis membaik tetapi prestasi pendidikan di Universitas menurun maka akan dikeluarkan juga. Ini masalah.

Jika dari pemantauan selama ini bisa menembus keperingkat dunia baik junior kemudian WTA rank atau ATP rank, maka barulah kita all out. Disini butuh kejelian. Tetapi jika berhasil menembus peringkat dunia maka hasil bermain tenis didunia nasional maupun internasional akan membuka mata para orangtua kalau sebenarnya tidak menyesal melepaskan putra dan putrinya ke dunia tenis. Fakta akan berkata lain.

Minggu, 12 Desember 2010

Pertanyaan masalah code of conduct

Jakarta, 12 Desember 2010. Disela sela pertandingan Garuda Indonesia Masters 2010 yang berlangsung di lapangan tenis Hotel Sultan Jakarta, saya sempat ditanya oleh salah satu orangtua petenis Jakarta, Tommy. Ini pertanyaan yang berkaitan dengan peraturan tenis yaitu menyangkut code of conduct.
"Apakah tidak ada hukuman bagi petenis dalam pertandingan membanting raket didalam lapangan." ujarnya karena menganggap banyak petenis yunior yang ikut menyaksikan event ini. Disebutkan salah satu mantan petenis nasional yang pernah ikut mewakili Indonesia di event Davis Cup kemarin sewaktu bertanding menunjukkan kekesalannya dengan membanting raket dan juga pernah melempar raketnya.
Kecemasan ini wajar sekali muncul karena sebagai orangtua tidak mau anak anak diberi tontonan yang kurang mendidik.
"Oh, kalau dalam aturan memang ada hukumannya. Ada wasit maka seharusnya wasit tersebut yang menghukum langsung. Apalagi kalau raketnya pecah, dan juga kalau lapangannya sampai rusak oleh ulah tersebut itu ada hukumannya. Untuk event seperti ini hukumannya jelas adalah denda dalam bentuk uang yang akan dipotong di prize money yang diterimanya." ujar saya menjelaskan kepada Tommy.
Saya sendiri tidak melihat kejadian tersebut karena sering turunnya hujan membuat ogah ogahan muncul ke lapangan tenis Hotel Sultan. Kalau memang benar seperti laporan tadi maka Referee akan memperkuat hukuman tersebut dari laporan wasit yang bertugas. "Pasti ada hukumannya." ujar saya meyakinkannya.
Hari ini saya sedang menunggu kedatangan rombongan dari Tulungagung yaitu Bupati Tulungangung , Ketua Pelti Kab. Tulungagung dr.Bambang Supeno yang juga teman sekelas di FK Unair Surabaya. Kedatangan rombongan ini ingin bertemu dengan Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja.
Kehadiran saya dilapangan cukup menyenangkan karena bisa bertemu dengan teman lama yaitu dr. Bambang Supeno (Tulungagung) dan dr. Firmansyah ( spesialis Anak) yang keduanya juga petenis aktif.

Rabu, 08 Desember 2010

SMS menyakitkan

Jakarta, 8 Desember 2010. Sewaktu diadakan turnamen tenis RemajaTenis di Bandung tanggal 4-7 Desember 2010 ada dua SMS masuk kedalam telpon seluler saya yang cukup berkesan bagi saya. Yang satu datang dari salah satu orangtua , cukup dimengerti karena ketidak tahuan masalahnya. Dan dianggap wajar saja. Yaitu ada pertanyaan terhadap undian tunggal putra KU 12 tahun. Kenapa si A dimasukkan kedalam unggulan 1 dan si B masuk dalam unggulan 2. Kenapa tidak digunakan acuan PNP KU 12 tahun. Ini muncul karena putranya posisinya dianggap merugikan. Sedangkan putranya lebih unggul di PNP 12 tahun tersebut.

Dalam hal ini saya jelaskan yang dimaksud dengan PNP adalah Peringkat Nasional Pelti artinya dikeluarkan resmi oleh PP PELTI. Jika ada Peringkat KU 12 bukanlah PNP KU 12 tahun tetapi peringkat tersebut dikeluarkan atas inisiatip wasit tenis dengan tujuan membantu kerja Referee TDP Nasional didalam menjalankan undian nantinya.

Andaikan tidak ada PNP KU 12 tahun ataupun KU 10 tahun, maka yang dilakukan adalah penempatan agar peserta yang satu klub atau kota atau provinsi dipisahkan sehingga peserta tersebut tidak saling ketemu dibabak awal. Setelah itu baru diundi. Ini patokan yang digunakan.
Akhirnya penjelasan tersebut masih bisa dimengerti. Khususnya KU 10 tahun dan 12 tahun perlu banyak pertandingan. Makin banyak bertanding makin baik untuk pembinaannya.
Hal seperti ini suka terjadi pertanyaan masalah PNP KU 12 ataupun KU 10 tahun yang pernah dipublikasikan oleh Tabloid Tennis sehingga dianggap sebagai PNP yang dikeluarkan oleh PP Pelti.
Bahkan Ketua Umum PP Pelti waktu itu pernah bertanya dan sudah dijelaskan dan langsung saya minta kepada Tabloid Tennis untuk tidak dipublikasikan PNP 10 dan 12 tahun.

SMS kedua datang dari Bunge Nahor ini menyebalkan karena tuduhan yang menyakitkan hati saya sendiri. Karena sebagai teman lama saya kenal, begitu manis dan baik didepan saya tetapi justru bertolak belakang jika dibelakang saya. Info seperti ini sering saya dengar dari rekan rekan diturnamen RemajaTenis ,tetapi saya suka lupakan tingkah lakunya selama ini. Tetapi kali ini yang menyakitkan adalah dikatakan MERUSAK PERATURAN TENIS INDONESIA. Yang jadi pertanyaan adalah peraturan mana sih, kok begitu gampangnya katakan demikian. Karena memasukkan nama yang tidak jelas setelah diundi. Dikatakan lebih mementingkan bisnisnya. Bagi yang kurang mengerti tentunya akan langsung menelan tuduhan tersebut. Tetapi saya sudah mengerti sekali motif nya sehingga begitu gencar mengeluarkan pernyataan seperti itu.Karena sebelumnya saya terima telponnya karena ada keinginan agar menang wo supaya bisa masuk semifinal tanpa tanding, dan saya hanya katakan serahkan kepada Referee.
SMS ini disebar luaskan ke Ketua Umum PP Pelti sehingga timbul kesan saya ada masalah dengan Bunge Nahor. Kemungkinan juga kepada pengurus lainnya. Menjelang habisnya masa kepengurusan PP Pelti ini kami semua diminta agar tidak membuat masalah sehingga berakhir dengan baik. Sehingga Ketua Umum PP Pelti cepat bereaksi.

Dalam pelaksanaan kali ini saya akui ada kelalaian penyelenggara RemajaTenis didalam menerima pendaftaran. Baru pertama kali RemajaTenis merubah sistem pendaftaran yaitu dimana setiap peserta bisa kirimkan pendaftaran melalui fax atau SMS dan uang pendaftaran ditransfer ke rekening bank BCA yang sudah disebutkan nomor rekeningnya.Yang telah mentransfer langsung diminta kirimkan bukti transfer melalui fax. Dan ada yang SMS bukti mobile banking. Dan juga saat turnamen membawa bukti transfer tersebut. Setelah itu batas waktu pendaftaran ditutup langsung nama nama yang daftar dipublikasikan melalui situsnya RemajaTenis sendiri termasuk undiannya. Tetapi tidak semua peserta suka membuka internet atau membaca disitus RemajaTenis.

Harus diakui tata cara baru ini ada yang suka dan ada yang tidak suka, sehingga dalam pelaksanannya belum semua pihak dapat menjalankan.
Menyadari adanya pendaftaran yang belum masuk dalam undian, maka saya berikan masukan kepada Referee yang bertugas Hengky Karel bahwa semua itu yang putuskan adalah Referee, dan selaku technical advisor saya akan dukung. Disamping itu saya berikan juga contoh contoh pengalaman selama ini dimana Referee pernah lakukan yaitu nama sudah sign-in tetapi di draw tidak ada. ITF Referee tersebut kalau itu kesalahannya maka diputuskan re-draw.
Kali ini karena KU 12 tahun, maka tidak perlu di redraw cukup digantikan yang mundur tersebut.

Dugaan akan terjadi belum mulusnya diikuti tata cara seperti ini, dengan tujuan suatu saat pembelajaran bisa diterima dan bisa diikuti semua pihak maka beberapa toleransi masih diberikan. Masih ada kesulitan jika merubah tata cara baru dengan konsukuensi kurang populer.
Ternyata dari 63 peserta yang daftar , hanya 10 % yang belum transfer, tetapi sudah memberikan jaminan akan melunasinya. DDan terbukti jaminan tersebut. Kenyataannya juga masih ada beberapa peserta yang belum kirimkan bukti tarnsfer dgn fax maupun membawa bukti transfer ke lapangan untuk menunjukkan benar benar sudah laksanakan. Tetapi ada toleransi diberikan oleh penyelenggara apalagi dikatakan lupa bawa bukti transfernya dengan konsukuensi belum bayar tapi bisa bertanding. Tetapi dugaan seperti itu dihilangkan karena kepentingan turnamen harus diutamakan dulu. Bukan praduga macam macam yang diutamakan.

Setiba dirumah saya dikejutkan dengan masuknya SMS dari nomor tak dikenal yaitu 021 96878464 yang isinya mengagetkan yaitu VERY TAI Ha ha ha, ada lagi orang gila masuk dimana kirimkan SMS dengan isi yang sama sebanyak 3 kali.
Ya sudah daripada pusing pusing sebaiknya lupakan saja RemajaTenis ini, sudah capek berbuat tetapi begitulah penilaiannya. Tetapi sempat juga kepala dibuat pusing. Obatnya tidur saja.

Percaya atau tidak ternyata RemajaTenis sudah memasuki yang ke 13 kalinya di tahun 2010 mulai dari Mataram, Jakarta, Sumbawa Besar, Solo, Palu, Bandung, Pontianak, Banjarmasin. Kalau tahun 2009 RemajaTenis sudah berlangsung selain di Jakarta, digelar pula di D.I.Y, Medan dan Cirebon.

"Apakah ini yang terakhir bagi RemajaTenis ?"

Jumat, 03 Desember 2010

Syarat KTA Pelti adalah KTP dan Kartu Keluarga

Jakarta, 3 Desember 2010. Hari ini sempat sedikit pembicaraan dengan rekan rekan tenis masalah Kartu Tanda Anggota (KTA) Pelti. Karena saat ini setelah pelaksanaan Pekan Olahraga Tenis Nasional di Jakarta, kebutuhan KTA Pelti sepertinya mendapatkan perhatian, apalagi dalam rapat PP Pelti diminta agar tahun 2011 sudah harus berani menerapkan salah satu peraturan persyaratan peserta TDP Nasional yaitu memiliki KTA Pelti. Ini peraturan sudah lama beredar tetapi tidak ada perhatian baik dari Pelti dari tingkat Kabupaten/Kotamadya , Provinsi maupun Pusat. Kenapa demikian, tidak ada kontrol masalah ketentuan yang dibuat sendiri.
Nah, terbuka suydah dalam rapat tersebut kekuatiran dari petugas yang diangkat berdasarkan SK Ketua Umum Pelti selaku Referee TDP Nasional yang sebenarnya sebagai alat pertama yang bisa menerapkan dan mengontrol ketentuan TDP tersebut.

Saya sudah siapkan konsep masalah KTA Pelti mulai dari tata cara pengajuan KTA Pelti daris etiap petenis. Awalnya KTA Pelti itu dipaksakan dibuat untuk menolong orangtua agar dalam setiap TDP Nasional tidak perlu membawa Akte Kelahiran ASLI, cukup dengan menunjukkan KTA Pelti.
Kalau melihat cara ITF yang perlu ditiru adalah masalah IPIN dimana setiap peserta turnamen internasional wajib memiliki IPIN (International Player's Identification Number). Refere selaku petugas merupakan kepanjangan tangan ITF yang akan menolak jika ada petenis belum punya IPIN tersebut sehingga tidak bisa ikut. Sudah ada korban petenis kita yang tidak bisa ikuti Men's Futures di Indonesia.
Memang dalam pembuatannya tidak terlalu rumit bahkan sangat gampang. Ini akhirnya menjelang PORPROV ataupun PON mulailah terasa kebutuhan KTA tersebut.
"Bagaiman caranya membuat aturan KTA ini agar tidak terlalu menggampangkan sekali pembuatannya. Saat ini cukup isi formulir dan bawa fotocopy Akte Kelahiran dan pasfoto untuk kelompok yunior atau KTP bagi kelompok umum.
Saat ini sudah beberapa sms yang saya terima permintaan petenis yunior yang tinggal di kota A (sesuai KTA Peltinya) mau pindah ke kota B karena mau ikut turnamen tenis bela nama kota B dan mau ganti KTAnya. Tapi orangtuanya tetap di kota A, sedangkan petenis ini masih KU 14 tahun, artinya belum punya KTP.
Ada satu pemikiran dalam mengisi KTA harus dilengkapi dengan Fotocopy Kartu Keluarga baik itu yunior maupun senior. Saya kira dengan cara seperti ini maka lebih bisa menertibkan KTA Pelti yang saat ini sudah lebih dari 2.000 yang dikeluarkan PP Pelti
.

Kamis, 02 Desember 2010

Aturan Mutasi KONI Pusat Terbaru

Jakarta, 2 Desember 2010. Saya tertarik juga masalah Mutasi atlet yang sulit dibendung akibat dari kurang sportifnya pembina olahraga ini. Apalagi sejak maraknya Pekan Olahraga Provinsi didaerah daerah membuat mata yang awalnya ngantuk jadi bisa terrbuka kembali. Sebenarnya saya tidak tertarik ikuti masalah mutasi atlet ini, tetapi sampai pagi ini masih ada juga telpon yang tanyakan masalah mutasi ini.
Seperti pagi ini terima telpon dari salah satu orangtua (mungkin dia juga pengurus Pelti Kotamadya). Begitu juga telpon ataupun SMS dari salah satu orangtua petenis yunior (saya kenal karena atlet ini suka ikuti turnamen yang saya jalankan yaitu Piala Ferry Raturandang dan RemajaTenis. Atlet tersebut masih masuk KU 14 tahun.

Karena mau ikut Gubernur Cup di Jakarta sedangkan domisilinya di Bekasi sehingga Kartu Tanda Anggota (KTA) Peltinya masuk Bekasi. Karena pertanyaan ini berkaitan dengan keinginan bela daerah lain maka muncul keragu raguannya sehingga ingin minta pendapat yang terus terang saya kurang memberikan respons.

Saya akhirnya coba buka Ketentuan KONI Pusat yang terbaru yaitu SK No.55 tahun 2010. Awalnya saya hanya melirik ke batas waktunya yang sebelumnya (SK No 25 tahun 2006 ) disebutkan batas waktunya mengajukan permohonan mutasi 1,5 tahun. Ternyata sekarang 2 tahun. Pelaksanaan PON XVIII 2012 di Riau adalah 9 September 2012.
Dari bab ke bab lainnya saya tidak melihat ada klausul yang melibatkan PP Pelti walaupun sebagai tembusan sekalipun. Yang dilibatkan adalah atlet, klub, Pelti Kota/Kabupaten, Pelti Provinsi dan KONI Provinsi. Artinya PP Pelti tidak ikut campur masalah ini. Ini yang perlu diketahui oleh rekan rekan di Pelti Kotamadya/Kabupaten, Provinsi dan Pusat. Sangat berlebihan kalau sampai ada dari Pelti Pusat ikut campur sekalipun diminta. Ini pendapat pribadi saya sendiri.
Apapun dalihnya tetapi ujung ujungnya adalah DUIT jika ingin pindah pindah tersebut, dan itu sah sah saja.

Disebutkan domisili adalah tempat tinggal seorang atlet disuatu provinsi yang dibuktikandengan Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga. Jadi disini asas domisili yang digunakan bukan KTA Pelti. Disini peranan Pelti Kota/Kabupaten dan Provinsi berhak dam wajib untuk memberikan rekomendasi menolak atau menerima setiap permohonan mutasi atlet sesuai dengan ketentuan yang ada dalam peraturan ini. Begitu juga alasan pindah yang diperkenankan adalah 5 alasan, diluar kelima alasan tersebut maka akan ditolak.