Senin, 23 November 2009

Mengenal sedikit petenis AS Arthur Ashe (alm)


Jakarta,23 Nopember 2009. Saya terima email dari rekan saya mengenai salah satu petenis berkulit hitam yang menyandang gelar juara Grandslam yaitu ARTHUR ASHE.
Mungkin bagi anda yang mengenal dunia tenis pasti tahu siapa Arthur Ashe, bagi anda yang juga tidak mengenal Arthur Ashe, mungkin saat ini merupakan waktu terbaik untuk mengetahui siapa dia sebenarnya .

Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; Amerika Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975).
Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi by pass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima
Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya, “Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?” Ashe menjawab, “Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis, di antaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis, 500 ribu belajar menjadi pemain tenis profesional, 50 ribu datang ke arena untuk bertanding, 5.000 mencapai turnamen grand slam, 50 orang berhasil sampai ke Wimbledon, empat orang di semi final, dua orang berlaga di final. Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon , saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’ Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan, ‘Mengapa saya?’

Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Ashe, tidak demikian. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup menekan berat.

Kebahagiaan akan membuat anda “cantik”
Cobaan akan membuat anda “kuat”
Kesusahan membuat anda “humanis”
Kegagalan akan membuat anda “baik hati”
Sukses akan membuat anda “gemerlapan”, akan tetapi hanya niat dan sikap yang baik yang akan membuat anda “dihargai” orang lain. Jadi…. jangan tanya “Kenapa harus saya?”


Kiriman email tentang Arthur Ashe ini bisa dipakai sebagai contoh baik bagi petenis muda dengan melihat apa yang sudah dilakukannya terhadap dirinya sendiri belum lagi mengharumkan nama bangsa dan negara Amerika.
Ini contoh dari seorang petenis Agung yang berjiwa besar dan rendah hati. Tuhan Memberkati !

Sabtu, 21 November 2009

Mengenal sedikit tentang Rooving Umpires


Jakarta, 21 Nopember 2009. Sudah dimulai selenggarakan turnamen tenis yunior tanpa gunakan wasit, yang tidak bertentangan dengan ketentuan yang dibuat International Tennis Federation (ITF). Banyak pihak belum mengenal hal ini sehingga sayapun mencoba memberikan masukan masukan sesuai dengan pengetahuan saya sendiri.

Pertandingan tanpa wasit, bukan berarti dilepas begitu saja. Tetapi disiapkan setiap lapangan satu petugas pengawas disetiap pertandingan sebagai pengganti wasit (chair umpires). Ini yang disebut rooving umpires. Kali ini di ITF Jakarta Jr Open diterapkan satu lapangan satu rooving umpire.
Yang saya mau ceritakan masalah tugas dan tanggung jawab rooving umpires tersebut.Karena pengamatan saya selama pertandingan ada sedikit rancu rooving umpires tersebut dalam menjalankan tugas. Begitu juga sewaktu turnamen sejenis di Surabaya di ITF Widjojo Soejono Semen Gresik 2009 yang saya terima laporan dari salah satu pelatih Malaysia (orang Indonesia).
Diceritakan sewaktu anak asuhnya (anak Malaysia) diundi oleh pengawas/rooving umpire tersebut ternyata menganjurkan lawannya (petensi Indonesia) agar memilih servis karena servis lawannya lebih bagus. Dia lupa lawannya dari Malaysia yang mengerti cakap Melayu. Ini sudah menyalahi, dimana tugasnya hanya mengundi kedua pemain untuk memilih bola atau tempat.

Sepengetahuan saya sebagai pengawas/rooving umpires bisa saja didalam lapangan dan bisa juga diluar lapangan, dimana kebutuhannya baru masuk setelah ada permintaan pemain yang tidak puas atas keputusan lawannya. Apalagi masalah bola keluar atau masuk, yang menentukan adalah pemain . Tetapi di lapangan gravel yang bisa dilihat kejelasan bekas bola jatuh itu dilapangan, pengawas/rooving umpires tidak bisa langsung mengatakan bola itu masuk atau keluar karena melihat jelas dari jauh. Jika diminta masuk, baru jalan menuju ketempat jatuhnya bola. Dan biarkan petenis yang menunjukkan jatuhnya bola, sehingga sebagai saksi bisa menyetujui kebenaran tersebut.
Tetapi dalam pelaksanaan apa yang saya lihat ternyata ada rooving umpire ini tanpa diminta sewaktu petenis melihat kepadanya langsung memberikan kode tangan kalau bola tersebut masuk dari tempat dia berdiri.

Liku liku masalah wasit sudah sering terjadi di pertenisan, tetapi sebagai atlet apa yang telah diputuskan wasit sudah harus diterima dengan bear hati, bukan langsung membuat masalah yang akibatnya akan merugikan diri sendiri. Kesal, marah dan sebagainya sehingga tidak bisa konsentrasi atas permainannya, akibatnya akan rugi sendiri.
Bukanlah suatu jaminan jika seorang wasit bisa 100 % menjalankan tugas dengan baik, namanya manusia bisa saja buat kesalahan. Dan ini terjadi di setiap turnamen. Makin sedikit buat kesalahan tentunya makin baik reputasi wasit tersebut.
Dengan adanya wasit disuatu turnamen sering terjadi kesalahan call karena berdasarkan kemampuan fisik dan visual masing masing berbeda. Maka dari itu setiap tahun ITF selalu minta laporan kegiatan wasit ITF dan laporan kesehatan khususnya mata dari dokter yang harus dikirimkan diakhir tahun ke ITF
.

Turnamen adalah Kebutuhan Atlet

Jakarta, 21 Nopember 2009. Berlangsungnya turnamen tenis dengan semarak di Tanah Air kita khususnya turnamen kelompok yunior, baik diselenggarakan oleh induk organisasi PELTI maupun diluar organisasi tenis , membuat makin semarak pertenisan Indonesia. Ini merupakan keinginan pribadi saya yang juga ikut meramaikan dengan upaya memotivasi ataupun ikut langsung selenggarakan turnamen nasional ini. Melupakan semua pertentangan kepentingan yang sering muncul dan ikut menggoda hati, tetapi yang sangat penting adalah bagaimana kita bisa memacu orang lain ataupun diri sendiri agar turnamen khususnya kelompok yunior makin berkembang bukan hanya disekitar Jakarta, Bandung, Solo,Surabaya maupu kota kota besar lainnya. Tetapi keluar kota kota besar maupun luar Jawa karena saya melihat potensi pertenisan di daerah cukup besar. Mulai dari makin banyak petenis yunior berasal dari luar Jawa yang sangat minim kegiatan turnamen.
Yang sangat penting menyatukan visi dan misi masyarakat tenis sehingga tidak terjadi benturan benturan kepentingan disemua pihak. Saya sudah capek sebenarnya mendengar maupun melihat benturan benturan kepentingan dengan saling menonjolkan ego masing masing baik secara pribadi maupun menggunakan nama organisasi. Berbagai tudingan yang diberikan kepada saya, tidak membuat saya jadi jera dan mundur terhadap visi dan misi saya selama ini. Yang harus dikerjakan mempersatukan visi dan misi masing masing lebih sulit dibandingkan selenggarakan turnamen


"Turnamen adalah kebutuhan "
Ini juga perlu disadari sekali bagi masyarakat tenis, terutama para orangtua maupun pelatih , karena banyak orangtua maupun pelatih tidak mengenal tenis sejak kecil atau bukan petenis yunior jadul yang ikut aktip disetiap turnamen nasional. Mereka mengenal turnamen sejak putra dan putrinya berlatih tenis, sehingga menurut pandangan saya belum mengenal liku likunya pertenisan kita. Akibatnya terasa sekali disetiap pelaksanaan turnamen nasional yang dikenal dengan TDP Nasional, sering muncul protes protes datangnya dari para orangtua. Hal ini wajar wajar saja menurut pendapat saya.
Kalau saya teringat masa lalu, sewaktu saya aktip ikuti turnamen nasional yunior , saat itu Indonesia baru memiliki TDP Nasional di Malang, Jakarta dan Bandung. Ini ketiga turnamen yang sudah pernah saya ikuti sehingga banyak kenal teman teman yang sekarang sudah masuk kategori VETERAN. Sekarang kegiatan TDP Nasional sudah mencapai angka 30-an. Hanya masih belum menyebar di seluruh propinsi di Tanah Air.
Dengan dasar tersebut maka sayapun sering menganjurkan kepada rekan rekan baik yang duduk diorganisasi Pelti didaerah maupun orangtua maupun pelatih yang diluar Pelti Daerah tersebut. Anjuran saya cukup sederhana yaitu lebhih baik kumpulkan beberapa orangtua ditempatnya untuk organize TDP Nasional Yunior daripada kirim atletnya ikuti TDP Nasional diluar kotanya. Lebih murah, lebih banyak atlet dikotanya bisa menikmatinya. Belum lagi promosi kota tersebut sehingga dampak sosialnya bisa dirasakan oleh masyarakat bukan tenis lainnya.
Saya bersyukur sekali keinginan saya mudah mudahan bisa terealiser kembali di Jakarta, Samarinda . Diharapkan akhir tahun di Cirebon, Medan, Mataram , bahkan tahun depan memasuki kota Bandung, Pekanbaru dan lain lainnya yang sudah direncanakan.

Rabu, 18 November 2009

Permasalahan di turnamen yunior

Jakarta, 18 Nopember 2009. Disela sela turnamen internasional ITF Jakarta Open 2009 di lapangan tenis Gelora Bung Karno, saya sempat berbincang bincang dengan para orangtua petenis yunior mengenai permasalahan yang timbul selama ini sering terjadi diturnamen tenis nasional khususnya kelompok yunior.
"Sebaiknya Om selenggarakan saja seminar sehari dengan para orangtua mengenai cara memotivasi anak anak ." ujar orang tua dari Rifanty Dwi dari Bandung.
Memang idea ini cukup positip sekali, karena keinginan orangtua mendukung putra dan putrinya cukup besar sekali bahkan ada kecendrunagn berlebihan yang mempunyai dampak yang tidak disadari sekali justru menjadi kendala perkembangan putra dan putrinya.

Saya langsung memberikan beberapa kejadian selama ini yang saya perhatikan disetiap turnamen tenis. Mulai dari persiapan menghadapi turnamen , sebaiknya mulai mendidik anak anak dari mengetahui kebutuhan kebutuhannya mempersiapkan peralatan pertandingan. " Kita mulai dari hal kecil, ajarkan anak anak mempersiapkan perlengkapan pertandingan seperti pakaian, kaos kaki, sepatu, air minum, handuk , snaar extra dll. " ujar saya kepadanya. Sebagai orangtua bisa mulai dengan mendikte agar ditulis sendiri kebutuhan kebutuhan tersebut dan minta anaknya sendiri yang persiapkan. Sikap orangtua hanya mengawasi saja, dan yang lakukan semua adalah anaknya sendiri. "Saya kira ini ada beberapa anak ataupun orangtua berat lakukan hal ini, seperti menyediakan pakaian dengan mengambil sendiri dilemari pakaian."

Begitu juga ada yang menghendaki agar disosialisasikan code of conduct kepada anak anak maupun orangtua, sehingga semua pihak menyadari ada kelakuan kelakuan dilapangan yang sudah melanggar ketentuan tenis sendiri. Disamping itu juga orangtuapun juga harus ketahui hak dan kewajiban putra dan putrinya , dan juga orangtua sendiri. Saya sendiri lebeih menekankan kalau posisi orangtua maupun pelatih disetiap turnamen bukanlah sebagai PESERTA, tetapi sebagai PENONTON saja, sehingga tidak punya hak untuk protes , apalagi berlebihan.

Men's Futures akan digelar tahun 2010

Jakarta,19 Nopember 2009. Menghadiri undangan press conference dari Sportama di Cempaka Room Executive Club Hotel Sultan Jakarta siang ini, saya bertemu dengan Glen Sugita yang juga sebagai pemilik dari Sportama yang akan menggelar Garuda Indonesia Tennis Masters 2009 minggu depan.

Kesempatan yang baik saya kemukakan kepada Glen Sugita mengingat saya sudah terima email rencana Sportama menggelar turnamen sejenis di tahun 2010. Saya menganggap apa yang sudah dilakukan oleh Sportama selama tahun 2008 dan 2009 sudah keluar dari rencana pemikiran dari Glen Sugita. Tujuannya cukup brilian tetapi kenyataan dilapangan jadi bertentangan. kenapa ? Karena justru dengan makin banyak turnamen nasional yang digelar oleh Sportama justru membuat petenis nasional tidak ada keinginan ikuti turnamen internasional. Sedangkan tujuan awal, untuk memacu atlet lebih giat berlatih karena makin banyak eventnya. Ini sempat dikemukakan oleh PP Pelti, kenapa setiap digelar turnamen Men's Futures di Indoesia peserta tuan rumah tidak berminat mengikutinya.

"Glen, sebaiknya turnamen Sportama ditahun 2010 dijadikan Men's Futures saja." ujar saya kepadanya didepan Johannes Susanto ketua Bidang Pertandingan PP Pelti. Glenpun menanggapi posisitf terhadap gagasan tersebut. Akhirnya dipanggillah Teddy Tanjung untuk dibuatkan rencana tahun depan semua turnamen Sportama dijadikan internasional. Sayapun berjanji akan melihat kalender ITF tentang Men's Futures di tahun 2010.

"Kalau begitu kita buat 5 Men's Futures." ujar Glen. Sayapun menjelaskan kalau Men's Futures itu harus berurutan waktunya. Berarti 3 Men's Futures dengan prize money US $ 10,000 setiap minggunya dan 2 Men's Futures dengan prize money US$ 15,000 setiap minggunya. "Saya akan membantu melihat ke kalender ITF." ujar saya kepadanya.

Laporan FORKOPI terhadap pelaksanaan ITF Widjojo Soejono Semen Gresik :
Beberapa hari lalu saya menerima email dari Indriatno yang saya kenal sebagai juga Humas FORKOPI (Forum Komunikasi Orangtua Petenis Indonesia. Isinya mempertanyakan dan juga mempermasalahakn cara kerja dari Referee TDP tersebut. Ada beberapa kekeliruan yang saya baca dari surat edaran yang ditujukan kepada Ketua Umum PP Pelti. Dalam email tersebut disebutkan untuk disebar luaskan.
Kesalahan sebenarnya adalah menyebutkan Riyat sebagai Referee TDP, sehingga sayapun melihat SK Ketua Umum PP Pelti tentang penujukkan Referee TDP itu sebenarnya kepada Sony Irawan sebagai Referee. Ini salah alamat. Dalam pelaksanaan tersebut Sony Irawan meminta bantuan Riyat sebagai asistennya menangani pertandingan kelompok umur 16 tahun , 14 tahun.
Saya sendiri ingin tertawa atas penjelasan dari Ketua FORKOPI terhadap alasan alasan yang dikemukakan. Sebenarnya ada conflict of interest yang ada didalam kasus kasus di turnamen tersebut, sehingga mengatas namakan FORKOPI. Ada yang bertanya , apakah secepat itu bisa mengatas namakan organisasi. Bukannya kepentingan pribadi dengan menggunakan nama organisasi. Ya, begitulah sudah bukan hal yang aneh bagi saya atas sikap sikap seperti itu terjadi dalam beberapa tahun kebelakang. Jikalau saya suka dituding dengan istilah conflict of interest ternyata sipenudinglah yang lakukan hal tersebut.

Sabtu, 14 November 2009

Ada miskomunikasi


Jakarta, 14 Nopember 2009. Adanya keluhan dari Surabaya kepada Aga Soemarno karena merasa tidak adanya perhatian dari PP Pelti kepada penyelenggara turnamen Widjojo Soejono Semen Gresik yang sedang berlangsung di Surabaya. Disampaikan pula ketidak hadiran petinggi PP Pelti sewaktu acara pembukaan turnamen. Oleh Aga disampaikan kalau panitia sudah mengirim undangan ke PP Pelti.

Langsung oleh Johannes Susanto selaku Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti mengatakan kalau dia tidak diundang. Aga juga mengatakan kalau dia ditunjukkan bukti surat undangan ke PP Pelti. Sayapun langsung mengatakan kalau PP Pelti telah menerima undangan dari Panitia yang ditujukan kepada Ketua Umum PP Pelti. Sedangkan untuk Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti tidak ada. "Yang jadi masalah surat undangan kepada Ketua Umum PP Pelti sedangkan kami tidak menerima disposisi dari Ketua Umum. Ini karena sewaktu surat datang Ketua Umum sedang diluar negeri." ujar saya kepada Aga Soemarno. "Kalau begitu seharusnya undangan dikirim ke PP Pelti saja sehingga bisa diwakili oleh petiggi lainnya." ujar Aga setelah mengetahui permasalahannya. Sayapun merasa pernah dihubungi pertilpon oleh penyelenggara tetapi hanya bertanya masalah kemungkinan kehadiran Menegpora, tetapi tidak sekalipun minta kehadiran saya ke Surabaya.

Saya sadari sekali kalau ada kecemburuan dari rekan rekan di Surabaya, karena untuk turnamen UFO yang notabene masih baru keberadaannya, bisa hadir Ketua Bidang Pertandingan dan Wakil Sekjen. Hal ini langsung oleh Johannes Susanto ditanggapi.
" Kalau TDP UFO mereka mengundang saya dan Ferry hadir, sedangkan turnamen ini tidak mengundang saya hadir." Sayapun membenarkan pernyataan Johannes Susanto, kalau kehadiran saya karena diundang oleh UFO, begitu juga Johannes Susanto.

Memang hal ini sering terjadi dan suka dilupakan oleh penyelenggara turnamen. Satu sisi ada yang menganggap kehadiran petinggi PP Pelti sudah mutlak harus dilakukan oleh petinggi PP Pelti, tetapi lupa kalau petinggi Pelti juga harus mengatur waktunya sehari hari karena punya kesibukan dikantor masing masing. Tidak semua turnamen mempunyai acara pembukaan, sehingga rencana panitia tidak diketahuinya.

Beberapa hari lalu, Johannes Susanto menerima telpon dari Surabaya, yang melaporkan soal kedekatan saya dengan penyelenggara turnamen UFO. Mereka lupa kalau TDP UFO itu merupakan hasil kerjasama saya dengan rekan2 dari Surabaya. "Saya tahu apa yang dilakukan Ferry dengan penyelenggara UFO." demikian cerita Johannes Susanto kepada saya per tilpon setelah menerima telpon dari Surabaya.
Bisa dibayangkan kecemburuan muncul akibat kedekatan saya dengan pihak penyelenggara TDP yang baru. Saya sendiri sudah melihat gejala gejala ini, sedangkan bagi saya sangat memperhatikan sekali penyelenggara penyelenggara TDP yang baru dimana keberadaan TDP tersebut merupakan hasil pendekatan saya kepada masyarakat tenis yang peduli dengan tenis tetapi mereka ini bukan anggota pengurus Pelti dikota masing masing. Saya sendiri cukup bangga bisa membina rekan rekan baru ini seperti turnamen Oneject (Bandung), UFO (Surabaya) sehingga mereka bisa mandiri selenggarakan TDP tersebut. Akibatnya saya diminta oleh mereka setiap pelaksanaan TDP tersebut saya harus hadir disaat pembukaan atau pelaksanaannya. Inilah resikonya dan yang membuat kecemburuan. Tetapi juga saya pernah tidak bisa hadir sewaktu pelaksanaan TDP UFO yang ketiga karena saya sedang selenggarakan Persami di Palangka Raya. Begitu juga Johannes Susanto ada kesibukan lain.

Keributan sekitar Turnamen di Surabaya

Jakarta, 14 Nopember 2009. Menjelang sign-in turnamen tenis internasional yunior Jakarta Open yang sebagai pengganti Solo Open, telah bertemu rekan rekan Johannes Susanto, Kent W, Aga Soemarno, saya dikejutkan dengan laporan dari Suparman salah satu petugas pertandingan yang juga bertugas di turnamen ini. "Di Surabaya, si Gin... bikin kacau." ujarnya kepada Johannes Susanto bersama sama rekan rekannya. Dan terlihat Aga Soemarno geleng geleng kepala mendengarnya tanpa berikan komentar. Hal ini sudah saya dengar sebelumnya karena sudah mendapatkan laporan dari Surabaya, sehingga sayapun tanpa komentar kepada mereka.

Oleh Parman langsung diceritakan kalau yang dipermasalahkan adalah permintaannya tidak bisa dipenuhi oleh Referee untuk pertandingan putranya dimajukan. Hanya karena ingin mengejar pesawat akibat dari telah pesan tiket sedangkan putranya masih bertanding. "Saya dibilang menghambat anaknya." ujar Parman sedikit kesal.

Oleh Riyat yang juga hadir sebagai asisten Referee turnamen Widjojo Soejono Semen Gresik yang saat ini masih berlangsung di Surabaya, mengatakan kalau permintaan awalnya sudah dibantu tetapi waktu kemarin tidak bisa dipenuhi sehingga membuat yang bersangkutan sudah pusing kepala sehingga mengeluarkan kata kata tidak simpatik.
" Kita disebutnya monyet monyet." ujar Riyat kepada August Ferry Raturandang didepan Slamet Widodo dan Parman. Oleh August Ferry Raturandang hanya menanggapi dengan mengatakan wewenang Referee untuk mengeluarkan penonton yang sangat mengganggu jalannya pertandingan. "Wewenang Referee bukan hanya didalam lapangan tetapi juga berlaku di tournament site. Club House itu masuk dalam tournament site" ujarnya. Masalah ini sebenarnya harus disadari oleh orangtua ataupun pelatih disuatu turnamen itu statusnya hanya sbagai penonton, bukan sebagai peserta turnamen. Tindakan memalukan yang dilakukan oleh orangtua secara tidak langsung membuat malu bagi putra dan putrinya. Ini juga merupakan beban tersendiri tanpa disadari sekali.

Menanggapi hal ini August Ferry Raturandang hanya bisa menyayangkan kejadian ini Dan oleh Riyat disampaikan kalau sudah minta bantuan petugas keamanan untuk menyingkrkannya, tetapi tidak ketemu petugas keamanan yang berpakaian dinas.

Disamping itu pula dilaporkan adanya kejadian yang tidak simpatik terjadi diantara penonton yang juga adalah 2 pelatih dari DKI(B) dan Semarang (D)sehingga petugas keamanan dengan pakaian dinas datang ke lapangan untuk mencegah agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

"Itulah tenis kita, kadang kadang ada saja orangtua dan pelatih tidak tahu diri , sehingga membuat suasana pertandingan jadi hangat."

Rabu, 11 November 2009

Jadikanlah The best of 5 sets untuk Putra


Jakarta, 11 Nopember 2009. Salah satu kelemahan atlet tenis Indonesia adalah fisik. Ini sudah lama terjadi sejak saya mulai memperhatikan petenis nasional. Kalau dulu sering dikeluhkan dengan masalah kurangnya dana, tetapi bukan itu sebenarnya yang terjadi saat ini menurut pengamatan saya. Boleh saja setiap petenis maupun pelatihnya mengatakan selalu memperhatikan masalah fisik atletnya. Itu sah sah saja, tetapi saya melihat sendiri hasilnya dilapangan , yang bisa digunakan sebagai ukuran sewaktu ikuti turnamen turnamen baik nasional maupun internasional. Apalagi kalau pertandingan sampai 3 set, dimana hasil diset terakhir sangat menyedihkan. Bisa kalah 6-0, ataupun 6-1. Dimana letak kesalahannya.
Kali ini saya tidak berbicara masalah tehnik , karena sudah wewenang pelatih. Sebenarnya bisa dikatakan masalh rendah, belum setingkat atlet internasional.

Memang saya akui ada teori kepelatihan mengatakan ada 3 kategori yaitu Tehnik 10 %, Fitnes 10 % dan physiologis atau dikenal dengan mental 80 %. Ini khususnya bagi tournament player, artinya sudah menjadi petenis prestasi atau juga nasional.
Walaupun hanya 10 % fitnes sangatlah penting. Bagaimana komponen lainnya bisa menunjang jika fisik sudah hancur, maka tidak bisa berbuat apa apa lagi.

Saya melihat saat ini masih ada kelemahan fisik terjadi bagi atlet tenis nasional. Yang menjadi pertanyaan kenapa bisa begitu ? Kembali kepada diri masing masing petenis, jika mau jadi petenis profesional tentunya datang dari diri sendiri. Mulai dari mendisiplinkan dirinya sendiri diluar lapangan maupun didalam lapangan.
Ada satu kendala yang tidak terlihat bagi orang luar. Diera teknologi informasi yang cukup pesat ini ada satu pemainan yang menjadi racun sebenarnya menurut saya. Yaitu yang dikenal sebagai "play station." Karena sudah sulit dikontrol baik orangtua mauapun pelatihnya. Jika didalam kamar tidur, apakah bisa diketahui atlet tersebut sudah istrahat, bukannya justru keasyikan bermain PS (play station). Kalau sudah asyik, maka bisa sampai larut malam bahkan sampai subuh. Nah, jika sudah demikian makan disetiap try out badan sudah capek, tetapi ditempat tidur masih bisa menyalurkan hobi tersebut. Ini bahayanya. Belum lagi kecanduan FB (facebook). Saya sendiri kalau lagi keasyikan dengan FB, pernah lupa waktu. Begitu lihat jam sudah menunjukkan pukul 03.00 pagi.

Tetapi ada satu solusi bisa dilakukan untuk petenis nasional. Kita sudah mengenal ditahun 2009 ini sudah makin banyak turnamen nasional kelompok umum, menyediakan prize money menggiurkan. Mulai dari Rp. 100 juta sampai Rp. 500 juta. Bagaimana caranya agar petenis menjalankan kegiatan untuk peningkatan fisiknya bisa dilakukan tanpa disadari. Kok bisa. Karena saya melihat sepertinya jika disuruh latihan fisik, atlet merasa seperti beban. Maka yang timbul berbagai alasan agar tidak mengikuti latihan fisik tersebut.
Caranya adalah turnamen nasional kelompok umum itu diubah sistem pertandingannya. Kalau saat ini menggunakan sistem the best of 3 sets, maka sudah saatnya ditingkatkan menjadi the best of 5 sets. Ini khusus untuk putra, sedangkan putri tetap the best of 3 sets.
Teringat masa lalu, turnamen masih sedikit tetapi sistem yang digunakan adalah the best of 5 sets. Saksi saksi hidupmasih ada yaitu Diko Moerdono, Soegiarto Soetarjo merasakannya. Nah , kembali kepada penyelenggara turnamen, apakah mau merubah sistem tersebut. Ini untuk kepentingan nasional
.