Rabu, 04 Februari 2009

FED CUP : INA vs UZBEKISTAN 2-1

Jakarta, 4 Februari 2009. Tim Fed Cup Indonesia yang terdiri dari Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti, Lavinia Tananta dan Jessy Rompies mengawali dengan gemilang ketika hari ini menumbangkan tim Uzbekistan 2-1 dalam kejuaraan dunia beregu putri Fed Cup by BNP Paribas zone Asia Oceania grop 1 di Perth Australia.
Disaksikan oleh Menegpora RI Adhyaksa Dault didampingi Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja dan Sekjen PP Pelti Soebronto Laras, tim Indonesia berhasil menumbangkan Uzbekistan yang diperkuat petenis elit berperingkat 80 dunia Akbul Amanmuradova.
Keberhasilan tim Indonesia setelah kedua tim saling mengambil 1 angka dari kedua tunggal yang dipertandingkan berasal dari ganda Sandy Gumulya/Ayu Fani Damayanti yang berhasil kalahkan pasangan Akbul Amanmuradova/Albina Khabibulina 64 76(5).
Turun pertama Ayu Fani Damayanti (peringkat 568) sebagai tunggal kedua berhasil unggul 1-0 setelah mengalahkan tunggal kedua Uzbekistan Vlada Ekshibarova (peringkat 470) 57 64 62. Kemudian Uzbekistan mendapatkan satu angka dari tunggal pertama Akbul Amanmuradova yang mengalahkan Sandy Gumulya (peringkat 295) dalam 3 set, 26 63 16.
Keberhasilan awal ini membuat kedudukan Indonesia untuk terdegradasi ke group 2 makin kecil, bahkan jika berhasil mengalahkan India yang tidak diperkuar petenis topnya Sania Mirza (peringkat 100) maka membuka peluang masuk ke final berhadapan dengan pool B yng diperebutkan oleh Australia, Thailand, Chinese Taipei dan Korea.
"Peluang selalu ada bagi tim Indonesia karena lawan lawannya hanya mengandalkan satu petenis elit berperingkat dibawah 100 dunia. Ini contohnya Uzbekistan dilibas begitu juga tahun lalu Australia kena imbasnya. Bertanding di event beregu berbeda dengan event perorangan." ujarAugust Ferry Raturandang. Dikatakan pula peluang lolos juga besar setelah ketemu New Zealand.

Makan Makan di Everfresh

Jakarta, 4 Februari 2009. Hari ini tepatnya pukul 11.00 sesuai dengan undangan dari Johannes Susanto diadakan pertemuan makan siang bersama rekan rekan di Restoran Everfres di Pejompongan Jakarta. Hadir Diko Moerdono, Danny Walla, Christian Budiman, Slamet Utomo, Johannes Susanto dan August Ferry Raturandang. Menu yang dipilih udang rebus 3,5 kg, kemudian ikan bandeng, telor ikan dan sayur Johannes Susanto selaku host pintar memilih menu sehingga semua yang hadir cukup puas dan kenyang.
Diko Moerdono yang beberapa minggu lalu masuk rumah sakit karena penyakit jantungnya, kelihatan cukup segar dan ketagihan dengan makanan ikan ini.
Diselingi pembicaraan cukup seru karena semacam rapat yang dilakukan diluar kantor PP Pelti. Tetapi pertemuan seperti ini sangat bermanfaat karena bisa saling tukar menukar informasi tentang segala macam policy Pelti ataupun masalah kejadian kejadian dipertenisan Indonesia.
Kali ini yang cukup hangat adalah masalah Seleknas usia 16 tahun di Padang . Pro dan kontra termasuk hal yang wajar wajar saja. Dari rekan rekan ada yang tidak setuju tetapi ada juga yang tetap mempertahankan tetap dilaksanakan di Padang. Disatu sisi PengProv Pelti Sumatra Barat sudah memastikan kesediaan sebagai tuan rumah dengan memberikan akomodasi gratis kepada peserta seleknas baik putra maupun putri.
Semua menyadari sekali jika pihak orangtua lebih mementingkan kepentingan mereka sendiri dan kepentingan sesaat, sedangkan rekan rekan di PP Pelti melihat kebih kedepan seperti pembinaan didaerah daerah luar Jawa.
Selama ini selalu pelaksanaan di Jakarta, sehingga banyak permohonan datangnya juga dari orangtua peserta Seleknas yang minta agar diselenggarakan diluar Jakarta. Ada juga permintaan agar diberikan akomodasi selama seleknas.
Keinginan ini sudah setiap tahun selalu dikemukakan orangtua. Tahun 2009 induk organisasi Pelti mulai memperhatikan keinginan orangtua peserta, dengan memindahkan tempat pertandingan diluar Jakarta. Dan juga ditambah dengan akomodasi dtanggung pula.
Perubahan dilakukan sesuai dengan permintaan orangtua peserta Seleknas, artinya dari Orangtua sendiri keinginannya. Kemudian keinginan yang sudah bertahun tahun disampaikan, baru saat ini dipenuhinya.
Tapi justru muncul lagi semacam protes agar tidak dilaksanakan di Padang. Jadi ada saja yang salah dimata mereka sehingga tidak puas. Christian Budiman selaku penangung jawab pelaksanaan Seleknas dibuat pusing karena yang berhubungan langsung dengan orangtua pemain. bahkan mendapatkan kado kena semprot oleh orangtua. "Capek deh "

FED CUP: Kans Indonesia besar bisa bertahan di group 1

Jakarta, 3 Februari 2009. Tim tenis Fed Cup Indonesia dengan bermateri pemain Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti, Lavinia Tananta dan Jessy Rompies masuk dalam pool bersama dengan tim Uzbekistan, New Zealand dan India, Melihat materi pemain lawan lawanya maka India termasuk tim lemah karena pemain utamanya Sania Mirza tidak ikut.
Berbagai pertanyaan datang dari wartawan kepada August Ferry Raturandang diminta komentarnya dan kans yang didapat atas hasil undian hari ini Peth Australia dalam pertandingan Fed Cup by BNP Paribas zone Asia Oceania Group 1. Mengenai kans tim Indonesia dikatakan kemungkinan tim Indonesia bisa bertahan di group 1 lebih besar. Karena kemungkinan mengalahkan India cukup besar sehingga tidak ada kemungkinan jadi nomor buntut.

"Kans tim Indonesia cukup besar. Karena lawan lawannya seperti Uzbekistan dan New Zealand hanya mengandalkan 1 pemain dengan perngkat dunia 100 besar sedangka anggota lainnya sama dengan peringkat peteis Indonesia. Yang cukup berat adalah Sandy Gumulya yang akan menghadapi tungga pertama lawan lawannya. Sehingga diharapkan Ayu Fani Damayanti akan mengambil angka. "Tetapi saya tidak tahu kondisi atlet kita disana, Yang tahu so pasti pelatih Suzanna Wibowo. Tapi kans Indonesia cukup besar, apalagi suhu udara sangat panas sampai 40 derajat Celcius. Ini pertandingan beregu bukan perorangan sehingga pressure terhadap pemain lebih besar sebagai pertanggungan jawab kepada negara." ujarnya

Selasa, 03 Februari 2009

No Prize Money in any form Should be Paid

Jakarta, 3 Februari 2009. Permasalahan prize money diberikan kepada pemenang petenis dalam turnamen nasional yunior sering menimbulkan berbagai persepsi yang kebanyakan membenarkannya melihat dari sisi kaca mata pembinaan, tetapi tanpa disadari justru merupakan bomerang bagi pembinaan tenis yunior. Kasus turnamen nasional yang masuk dalam kategori Turnamen Diakui Pelti (TDP) yang secara diam diam melakukannya akan menjadi polemic dikalangan pertenisan terutama bagi petinggi Pelti sendiri.

Tahun 2008, Pelti mulai menertibkan segala aturan tenis baik yang dikeluarkan oleh International Tennis Federation (ITF) dan Pelti sendiri, telah memakan korban. Baik turnamennya maupun karyawannya yang dipercayakan menangani pertandingan tersebut.

Selama ini banyak kekeliruan yang telah dilakukan oleh Pelti terutama ditingkat Daerah maupun kota ataupun kabupaten didalam melaksanakan turnamen tennis yunior khususnya turnamen yang bersifat local bukannya nasional. Selama ini August Ferry Raturandang sendiri mengikutinya sejak sebagai orangtua dimana putra dan putrinya ketika keluar sebagai pemenang turnamen Piala Walikota Jakarta Timur menerima hadiah selain Piala dan Piagam juga menerima hadiah uang dalam bentuk Tabanas (Tabungan Nasional) . Saat itu belum menyadari sekali karena belum terjun langsung dipertenisan nasional . Begitu pula rekan rekan di kepengurusan tenis banyak yang tidak tahu dan tidak mengerti akan adanya aturan. Karena hanya menerima tradisi yang dilakukan oleh rekan rekan sebelumnya.

Mencermati peraturan yang dikeluarkan oleh International Tennis Federation (ITF) pasal 64 Prize Money disebutkan. “ No prize money in any form shall be paid at any junior tournament, either to the players or to their National Association. Wild Cards into professional level events are not considered as Prize Money.” Kemudian Pasal 65. Gifts . “ The value of a gift to the winner of a tournament may not exeed the value of US $ 500.00.

Pengertian aturan tersebut adalah tidak diperkenankan berikan prize money yang menjadi pertentangan dikalangan masyarakat tennis selama ini, sudah jelas dari sisi pengertian aturannya. Dalam bentuk apapun , seperti uang transport, uang pembinaan adalah sangat tidak tepat atau dilarang. Yang diperkenankan adalah hadiah dalam bentuk barang seperti gift/sovenir.

Jikalau ada keinginan membantu petenis, bisa dilakukan dalam bentuk lain yang tidak bertentangan dengan aturan yang sudah tidak bisa ditawar tawar lagi.
Misalnya, penyelenggara berikan fasilitas free akomodasi untuk seluruh peserta atau yang lazim adalah kepada peserta yang masuk babak utama (32 atau 64).

Dengan jalankan aturan ini sebenarnya kalau disadari sekali akan membantu pelaksana turnamen , ada penghematan pendanaan. Tidak perlu malu mengakui kesalahan yang selama ini disebabkan kurang mengertinya aturan aturan yang baku dengan merintis dan mengikuti semua aturan aturan ini dan juga ikut membantu pelaku pelaku tenis di masyarakat Indonesia yang sangat kompleks.
Sekarang kembali kepada pelaksana turnamen nasional, mau jalankan turnamen yang merupakan kebutuhan atlet didalam program pembinaannya atau mau merusak mental atlet dengan cara cara yang selama ini sudah salah dijalankan dengan akibat motivasi atlet ikuti turnamen menjadi kejar hadiah (UANG). Ini sah sah saja jika memasuki kelas senior atau kelompok umum atau professional. Karena masih kategori yunior maka hal hal ini harus dihilangkan . Ini yang perlu mendapatkan perhatian masyarakat tenis Indonesia.

Seleknas di Padang, banyak pertanyaan2

Jakarta, 3 Februari 2009. Ditentukannya tempat Seleksi Nasional KU 16 tahun di Padang tanggal 23 Februari 2009 membuat banyak pertanyaan dari orangtua petenis. Salah satunya datang SMS ke Johannes Susanto, yang di forward kepada August Ferry Raturandang.
Sebagai hasil rapat antar bidang 27 Januari 2009 dihadir oleh Ketua Umum PP Pelti, Sekjen, Ketua Bidang Pembinaan Yunior, Ketua Bidang Pertandingan , Wakil Ketua Bidang Pembinaan Yunior, Wakil Sekjen PP Pelti, telah diputuskan tempatnya adala Padang jika Pemprov Pelti Sumbar menyetujuinya. Ternyata hari ini surat persetujuan diterimanya.
"Jika sudah merupakan keputusan rapat, sebagai anggota Pelti sudah harus menerimanya walaupun tidak setuju." ujar August Ferry Raturandang kepada Johannes Susanto.
Tujuan memajukan tenis didaerah merupakan salah satu program Pelti agar daerah bergairah dengan pertenisannya dengan cara sebagai tuan rumah. Sewaktu seleknas usia 14 tahun di Temanggung juga awalnya ada saja kritik dari orangtua. Tetapi dari peserta 16 petenis yang ajukan kritik hanya 1 orangtua saja.
Nah, sekarang di Padang yang jauh dari Jakarta. Berbeda dengan Temanggung yang jangkauannya masih termasuk dekat bagi orang Jakarta. Sudah bertahun tahun seleksi nasional yunior diadakan di Jakarta. Saat itu banyak orangtua juga yang berasal dari luar Jakarta mengeluh dan menganjurkan sekali kali diluar Jakarta. Sekarang tiba saatnya diadakan di luar Jakarta, tetapi tetap saja keluhan itu masih keluar. Belum puas, kapan puasnya ya !
Salah satu SMS datang juga dari pelatih Sulistyono, yang menanyakan jika Pelti mau menanggung beaya transportasinya juga. Langsung diberitahu kalau hanya akomodasi yang akan disediakan free untuk peserta.
Tahun 2009, ada beda dengan seleknas tahun tahun sebelumnya.Yaitu peserta ditanggung akomodasinya seperti juga usul dari orangtua petenis sewaktu ikut seleknas tahun sebelumnya dan diluar Jakarta.
Keluhan terhadap pemilihan tempat di Padang kali ini juga mencuat, yang ketiban banyak pertanyaan adalah Johannes Susanto selaku Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti sedangkan penanggung jawab seleknas adalah Ketua Bidang Pembinaan Yunior Danny Walla.
Memang sempat dalam pembicaraan dikatakan sewaktu dibuat di Jakarta, ada petenis dari luar Jawa ikut dan harus keluar beaya, tidak ribut. Sekarang bikin diluar Jawa, orang Jakarta yang ribut. Adil kah !

Piala Ferry Raturandang diminta diadakan di Garut

Jakarta, 2 Februari 2009. Malam ini terima telpon dari rekan rekan di Garut dan Tasikmalaya. Dari Garut datang dari Kapten Tukiman yangdikenal juga sebagai pelatih tenis, sedangkan dari Tasikmalaya datang dari Ani Susana yang dikenalnya sebagai salah satu orangtua petenis yunior di Caringin dan juga sekretaris klub tenis di Caringin. Pada intinya keduanya menghendaki adanya kegiatan tenis diwilayah masing masing setelah mengetahui ada Piala Ferry Raturandang di Cirebon.
Tukiman menanyakan masalah kemungkinan pelaksanaan turnamen tenis Piala Ferry Raturandang di Garut. Olehnya dikatakan lebih baik dibuatnya di Ciamis karena jumlah lapangan dalam satu lokasi lebih baik di Ciamis. Sedangkan Ani Susana menceritakan sudah beberapa bulan pindah ke Tasikmalaya, dimana putrinya sudah tidak berlatih tenisselama di Tasikmalaya. Tetapi dikatakannya sekarang putrinya sudah ingin berlatih kembali lagi, dan disadarinya kalau keinginan putrinya ini harus difasilitasinya.
"Jumlah petenis di Tasik masih kurang." ujarnya kepada August Ferry Raturandang. "Jika ada kegiatan kompetisi maka saya jamin akan banyak yang bermain tenis." ujarnya kepada Ani Susana.
Ani Susana menjanjikan akan menghubungi pengelola lapangan tenis di Ciamis, agar rencana pelaksanaan turnamen tenis Piala Ferry Raturandang bisa terealiser di Ciamis. Mudah mudahan keinginan ini bisa terealiser.

Senin, 02 Februari 2009

Ingin Jalan Jalan Ke Lombok

Jakarta, 2 Februari 2009. Setelah berhasil selenggarakan Turnamen tenis Piala Ferry Raturandang dikota dimana kenangan semasa kecil karena pernah tinggal sekolah dikota kota tersebut, maka timbulah lagi satu keinginan bernostalgia dikota lainnya. Salah satunya di Singaraja Bali.
Saat ini timbul juga pemikiran untuk kota setelah Singaraja adalah Mataram/Ampenan di Nusa Tenggara Barat. Sekalian jalan jalan bernostalgia bertemu teman teman semasa sekolah (SMP,SMA). Ingat akan pepatah mengatakan sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Disamping itu sebagai petenis daerah NTB (Nusa Tenggara Barat), pernah mewakili NTB di perelatan Pekan Olahraga Nasional V tahun 1961 di Bandung, tentunya sudah waktunya melihat atau mendorong pertenisan daerah NTB. Karena saat ini tenis di NTB belum berkembang dikancah nasional. Belum ada turnamen nasional, begitu juga program program Pelti sendiri belum semuanya dijalankan seperti coaching clinic ( baru sekali dalam 3 tahun terakhir), mini tenis.
Yang menjadi pertanyaan adalah mau buat Piala Ferry Raturandang atau mau buat turnamen nasional baik yunior atau kelompok umum. Semua itu tergantung kebutuhannya. Adakah atletnya ? Adakah lapangan tenis yang strategis, dll ? Masalah atlet setiap daerah sepertinya sudah ada atlet , hanya jumlahnya yang menjadi pertanyaan. Begitu pula lapangan tenis yang sudah pasti lokasinya dibeberapa tempat. Semua ini bukanlah masalah jika ingin meningkatkan kualitas tenis di daerah. Semoga saja keinginan jalan jalan ke Lombok bisa dipenuhi . Doakan, ini juga suatu tantangan !

Minggu, 01 Februari 2009

Rapat gelap nih yee !

Jakarta, 2 Februari 2009. Setelah kirim SMS ke Alfred Henry Raturandang sebagai ungkapan ucapan selamat atas hari ulang tahunnya hari ini ke 61, terima telpon dari Enggal Karjono agar segera ke Kedai Tiga Nyonya di Pancoran. Ini kegiatan rutin dengan rekan rekan di induk organisasi selama lima tahun. Enggal Karjono yang dulunya adalah ketua Bidang PB Pelti ( 2002-2007), sekarang digantikan oleh Johannes Susanto, masih tetap berteman dengan rekan rekan di PP Pelti periode 2007-2012 yang setiap waktu saling undang untuk makan siang bersama. Saat itu juga Christian Budiman, Diko Moerdono yang ada di kantor PP Pelti, diminta ikut hadir. " Kalau makan sih OK," ujar teman teman.
Di Kedai Tiga Nyonya berkumpul Danny Walla, Enggal Karjono, Johanes Susanto, Diko Moerdono, Christian Budiman dan August Ferry Raturandang. Iseng iseng disebutkan rapat gelap walaupun ruangan Kedai Tiga Nyonya cukup terang.
Biasanya dibicarakan masalah pertenisan Indonesia yang sedang hangat hangatnya seperti masalah PAL (Program Atlet Andalan) salah satu program Menegpora, seleksi nasional usia 16 tahun maupun lain lainya.
Oleh Diko Moerdono yang bersama Christian Budiman minggu lalu ikuti Rapat PAL di Gunung Geulis, disampaikan juga masalah PAL. Atlet tenis yang diterima di PAL adalah Sandy Gumulya, Christopher Rungkat, Elbert Sie. Kemudian Ayu Fani Damayanti masuk juga tetapi Elbert Sie dikeluarkan. Begitulah salah satu program yang dibicarakan. Sedangkan masalah Seleknas yang direncanakan di Padang, ternyata ada tanggapan dari salah satu orangtua yang mengatakan "Bukan begini caranya, atlet yang ikut seleknas jadi korban ." Begitulah setiap keputusan induk organsisasi selalu ada yang kritik, tetapi yang pasti kritik selalu datang dari orangtua peserta karena lebih mementingkan kepentingan anaknya.
Berbagai tanggapan dilakukan sebagai reaksi atas keputusan rapat antar bidang tanggal 27 Januari 2009.
" Karena ini keputusan rapat maka sudah harus didukung semua pengurus." ujar Christian Budiman.
Setelah acara makan siang ini, maka undangan berikutnya adalagi acara makan siang di Ever Fresh di Pejompongan Jakarta tanggal 4 Februari 2009