Selasa, 20 Juli 2021

Dari Optimis ke Pesimis Tentang Tenis Indonesia


Jakarta, 20 Juli 2021. Beberapa hari yang lalu AFR terima pesan di WA dari salah satu pelatih kita yang sekarang lagi naik daun peserta sekolah tenisnya di Jakarta dimasa pandemi Covid-19

Pesannya " Kayaknya dia pemain bagus sambil tenis sekolah saja atau kerja atau jadi pelatih tenis karena untuk menjadi juara nasional senior sangat sangat sulit dengan kwalitas yang dia miliki sebaiknya agar tidak tidak mubazir tenaganya lakukan yang obyektif saja seperti kuliah  atau kerja sambil main tenis atau berpeluang bagus bisa jadi bagus begitu menurut saya pak AFR "


AFR pun merespons atas cerita tersebut " Tergantung goalsnya "

" Karena jadi pemain senior nasional sangat sangat berat boleh dikatakan peluangnya di bawah tipis karena masih ada ratusan bahkan lebih pemain yunior seumur bahkan dibawahnya umur dia dengan prestasi dan kualitas jauh diatas dia."

Terpukul juga sesaat melihat pandangan pelatih yang sudah dikenal baik. Tadinya AFR cukup optimis dengan keadaan pertenisan Indonesia sehingga bersemangat dengan menyumbangkan tenaga dan pikiran dengan turnamen skala nasional RemajaTenis selama ini bahkan dalam situasi pandemi Covid-19 pun masih berkarya. 

 Masalah sekolah sejak dari dulu sangat setuju karena ada pandangan yang bertentangan dengan  beberapa pelatih yang  mengatakan tidak perlu sekolah sehingga anak asuhnya dikorbankan tidak sekolah tapi full tenis dilakukan. Bagaimana hasilnya ? Ternyata sampai hari ini tidak terbukti adanya prestasi dunia. .


Apalagi kondisi saat ini dimana PPKM Darurat di Jawa dan Bali. Kesempatan bermain tenis dibatasi bahkan lapngan tenis pun ditutup. Sampai kapan kondisi seperti ini akan berakhir karena atlet sangat butuhkan turnamen. Karena tidak ada yang bisa menjamin berakhirnya kondisi ini akan berakhir maka sudah sepatuhnya back to school. Lebih lagi kalau petenis itu berada diluar pulau Jawa.

Sekarang coba dilihat berdasarkan peringkat yang dimiliki petenis nasional maupun petenis yunior kita dalam level internasional. Sebagai parameter untuk melihat kondisi pertenisan nasional Indonesia per bulan Juli 2021.

Berdasarkan ATP-Tour rank tercatat hanya segelintir petenis putra tercatat memiliki peringkat dunia DOUBLES yaitu Christopher Rungkat peringkat 157, Justin Barki peringkat 1345, David Agung Susanto 1379, Antony Susanto peringkat 1794, M.Rifki Fitriadi 1887. Ini peringkat Doubles sedangkan peringkat SINGLES hanya seoramg petenis Indonesia yaitu David Agung Susanto 1439. 

Disini menunjukkan hanyalah beberapa petenis putra ada prospek kedepan atau juga bisa disebutkan akan meneruskan kiprahnya didunia internasional hanyalah Christopher Rungkat ( yang sudah mengkhususkan dalam permainan Doubles) dan Justin Barki. Sedangkan beberapa pemain yang masuk dalam pemusatan letihan nasional (pelatnas) yang dibeayai oleh Pemerintah tidak kelihatan khususnya petenis putra.

Untuk putri patut kita apresiasi perjuangannya yang sampai saat ini masih berjuang untuk menaikkan prestasinya  , ternyata tercatat peringkat SINGLES hanyalah Aldila Sutjiadi ( peringkat 387,  Beatrice Gumulya perigkat  1022, Jessy Rompies peringkat 1026. Untuk eringkat DOUBLES tercatat Aldila Sutjiadi peringkat 148, Jessy Rompies peringkat 217, Beatrice Gumulya peringkat 220. Nadia Ravita peringkat 1311, Fitriani Sabatini perinkat 1478, Fitriana Sabrina peringkat 1478. Disamping itu juga sudah mulai terjun ke dunia Pro yaitu Priska Nugroho.

Apa solusinya karena situasi ini tidak bisa didiamkan jika tidak mau tenggelam tenis Indonesia

Pada usia 17 tahun sudah kritis sekali nasibnya jika tidak ada upaya try out keluar negeri karena di Indonesia sendiri tidak ada turnamen internasional sehingga kesempatan petenisnya tertutup sudah. Usia yang cukup krusial. Terutama bagi petenis potensial yang mempunyai postur tubuh ideal sebagai petenis sekitar 175 cm apalagi ada beberaoa yang mencapai 180 cm. Dalam catatan AFR ada beberapa nama yang patut dipikirkan nasibnya.

Ini merupakan kelemahan nasional sejak dulu kala hanya saja lebih parah keadaan sekarang dimana justru perhatian terhadap kelompok senior setelah lepas dari yunior tidak ada sarana turnamen sebagai ajnang prestasi mereka. Harapan satu satunya hanya menungu saat PON dimasa depan.

Awalnya sudah bagus berjenjang ada turnamen inernational tingkat bawah ( Satellite circuir, ProCircuit, World tour) kemudian ada challenger dan world series kemudian mulai tergususr sampai saat ini.

Bagaimana nasib petenis potensial yang berada diluar pulau Jawa yang ternyata minim turnamen. Satu satunya harapan berada di Pekan Olahraga Nasional ( PON) XX di Papua.

Sekolah merupakan satu atunya jalan pilihan agar tidak ketinggalan bahkan bisa digunakan sebagai alat untuk mendapatkan bea siswa sekolah sambi tenis di Amerika,

Mau jadi pelatih sedangkan pelatihan pelatih juga sangat minim disamping turnamen internasional. Apakah mau jadi pelatih otodidak ? 

Sebaiknya sekolah selesaikan SMA kemudian melanjutkan di Perguruan Tinggi sambil menunggu kegiatan turnamen tenis mulai bergairah di Indonesia. Alih lain bisa jadi sarjana. Itu lebih baik

Tugas berat dialami induk organisasi tenis di Indonesia untuk mulai pikirkan tugasnya demi kemajuan tenis Indonesia, Mulailah dipikirkan sarana turnamen bagi petenis senior ( lepas dari yunior) yang sangat minim sekali.

Solusinya agar digiatkan turnamen nasional Piala Gubernur, Piala Walikota . kalaupun memungkinkan ditingkatkan jadi internasional setingkat $ 15,000 ( kalau tidak salah aling rendah) dan jika memungkinkan kelas Challenger putra maupun putri ( $ 25,000)

Mulailah di tahun 2022 direncanakan dengan situasi saat ini masih memungkinkan diadakan turnamen internasional dengan Pro Kes yang ketat. Kesempatan diadakan untuk petenis lokal dimana pemain asing ada kesulitan atau beaya mahal dengan aturnamen hars isoliasi mandiri 14 hari ( maksimum). 

Kesempatan pemain nasional mencapai peringkat dunia. Jika makin tinggi peringkat dunianya makin membuka jalan ketingkat dunia. Kalau tidak ada turnamen tersebut maka habislah karier petenis nasional Indonesia  

Sebagai induk organisasi tenis di Indonesia, sebaiknya petinggi2 nya mulai berpikir ke internasional serahkan turnamen nasional kepada pengprov/pengkab/pengkot dan pihak swasta lainnya

Minggu, 18 Juli 2021

Kegiatan RemajaTenis Bulan Juli 2021 Terhenti

Jakarta, 18 Juli 2021. Melihat keadaan Jakarta saat ini sangat prihatin dimana Pemerintah akhrnya berlakukan keadaan PPKM Darurat, sehingga sebagai pelaksanan RemajaTenis untuk mematuhi aturan . Akhirnya kegiatan RemajaTenis selama bulan Juli 2021 dihentikan sementara karena Pemerintah berlakukan PPKM Darurat berlaku 3-20 Juli 2021.

Walaupun hati kecil menyayangkan tetapi mengingat masyarakat luas sendiri kurang disiplin menjalankan  Protokol Kesehatan sehingga dampaknya terasa dengan meningkatnya kasus Covid1-19 di Jakarat makin meningkat.

Selama ini tetap dilakukan hubungan dengan rekan rekan terutama didaerah daerah yang selama ini sangat membutuhkan turnamen. Bahkan dari Bangka Belitung begitu semangat mengajak AFR kembali menggelar Remaja Tenis di Sungailiat Bangka Belitung. Begtiu juga reka rekan di Bali yang sebenarnya sudah diprogramkan di Bali tapi terhenti. Begitu pula rekan rekan lainnya sudah berkeinginan ikuti turnamen di Bali sekalian liburan katanya.. Ada masalah lain yang tidak terduga adalah PPKM Darurat itu berlaku di Jawa dan Bali. Bahkan lirikan terhadap kota Kupang untuk diadakan RemajaTenis juga terkendala PPKM Darurat ini. Teringat waktu selenggarakan RenmajaTenis di Surabaya, ada peserta yunior berasal dari Kupang. 

Adapun dalam bulan Juli 2021 ada Hari Anak2 Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli 2021, terpaksa dibatalkan karena situasi keadaan Jakarta. Bahlan dalam rangka Hari Olahraga Nasional ( HAORNAS) yang atuh tanggal 10 Septeber 2021 yang direncanakan juga RemajaTenis dengan terpaksa diundur pula. Begitulah keadaan pandemi Covoi-19 melanda Indonesia berdampak buruk dengan olahraga.

Sapai kapan situasi ini berhenti. Tidak ada yang bisa menjaminnya,Tindakan pertama dilakukan semua tergantung masyaraat sendiri. Disiplin terhadap Pro Kes. 

Kapan aktivitas RemajaTenis mulai berkjalan karena dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat tenis khususnya. Semua tergantung situasi kota Jakarta. Tetapi program sudah siap dijalankan

Semoga situasi ini sempat selesai.  

Senin, 28 Juni 2021

Kekuatiran Selama Ini Terjadi Juga


 Jakarta, 28 Juni 2021
. Timbul kekuatiran dalam melaksanakan RemajaTenis sudah pernah diungkapkan AFR sewaktu pertama kali selama pandemi selenggarakan RemajaTenis Jakarta, Sewaktu bulan Oktober 2020 sampai saat ini terbukti juga. Rasa was was selalu ada karena kelalainan petugas, Maka setiap hari diingatkan melalui WA kepada petugas akan hal ProKes tersebut sehingga harus waspada. Selain masker disediakan juga Rapid test tetap bisa dilakukan sehingga ada atlet takut akan jarum suntik sehingga tidak jadi ikut serta.

Akibat laporan dilakukan oleh salah satu orangtua peserta RemajaTenis ke Pemkot Jakarta Timur sehingga AFR dihubungi oleh Babinsa Kelurahan Cawang,  mau tahu kebenaran laporan tersebut tentang dugaan terjadi kerumunan . Sebenarnya orang tua tersebut adalah pemain lama karena putra putri awalnya sangat aktip ikuti Remaja Tenis tetapi sebalum pandemi Covid-19

Walaupun rekan lainnya sebagai orangtua peserta turut mengomentari kejadian tersebut, sangat menyayangkan laporan tersebut/ Bahkan mengatakan orantua tersebut kurang etis 

Tetapi sempat buat pusing kepala tetapi untungnya sebelum laporan dilakukan penyelenggara sudah persiapkan diri Protokol Kesehatan. Disiapkan Thermo Gun dan pintu masuk hanya satu pintu dan setiap peserta didata dan difoto untuk dokumentasi , Disamping itu peserta masuk diwajibkan untuk cuci tangan di wastafel yang disediakan dengan sabun. Bahkan jika mau masuk kelapangan diwajibkan cuci tangan dulu begitu juga setelah tanding wajib cuci tangan bahkan berlaku juga untuk wasit yang bertugas. Rasa was was selalu ada terhadap pelaksanaaan tersebut, sehingga kontrol harus juga dilakukan terhadap kerja rekan rekan sendiri. Ini memang perlu ekstra kerja. 

Sewaktu Babinsa datang melihat kejadian sebenarnya ternyata kesan positip dengan penyelenggara yang dikatakan tidak ada pelanggaran Pro Kes. Bahkan sempat foto keadaan yang sepi akan penontonnya. Karena panitia mengundang hanya 58 peseta, belum lagi yang batal sehingga jumlah peserta makin sedikit. Kira2 30 % 

Begitulah keadaan selama pandemi Covid-19 , kalau tidak diwaspadai maka tentunya akan timbul cluster baru Kesadaran akan masalah kesehatan ini sudah lama dirasakan bahkan setiap minggu terinma berita di WA group tentng adanya kolega meningal dunia.

Semangat meningkatkan immunitas tubuh juga timbul dengan adanya turnamen tenis juga sebagai cara juga untuk memutus rantai pandemi Covid -19

Kamis, 17 Juni 2021

Kelalaian Atlet Kena W.O

 Jakarta, 16 Juni 2021. Ada yang perlu diketahui dalam mengikuti turnamen turnamen diluar negeri. Setiap turnamen ITF selalu mencantumkan Official hotel sehingga diharapkan seluruh peserta bisa ditampung di hotel tersebut.  .

Maksud dari peninjukkan hotel turnamen agar komunikasi dengan panitia baik dengan Referee dapat berlangsung dengan baik. Karena Referee setiap hari mengeluarkan order of play pada hari esoknya. Dimana Referee berkewajiban meletakkan order of play tersebut. Di tampat pertandigan dan di official hotel. Panitia tidak wajib berikan kelain hotel walaupun banyak yang tinggal bukan dihotel yang telah ditunjuk panitia., dengan maksud murah mau menghemat.

Pernah kejadian di Pusat Tenis Kemayoran. petenis Thailand mengikuti turnamen INA Challenger $ 25,000 Dia tidak tinggal di hotel yang telah ditunjuk panitia. Padalahal hotel ynag ditunjuk hanya berseberangan letaknya tidak lebih dari 100 meter dari hotel tersebut.

Waktu itu sebagai Venues manager AFR dari Pusat Tenis Kemayotan mengetahui hal itu. Karena bukan sebagai panitia hanya lapangan yang digunakan adalah Pusat Tenis Kemayoran.Untuk menoilongnya setiap malam dikirimkannya order of play tersebut. Satu kali kelupaan mengirimkan order of play  ke hotel yang diinapi petenis terkenal dariThailand, Kebetulan dalam order of play tersebut jadwal mainnya adalah urutan pertama kurang lebih pkl 09,00.


Karena kebiasaan terima order of play, maka petenis tersebit santai aja datang kelapangan ternaya sudah di W,O oleh Referee. Itu contoh kesalahan sendiri

Trik Trik Untuk Beri Kesempatan Petenis Tuan Rumah Dapat ATP Point

 Jakarta, 18 Juni 2021. Teringat masa lalu apa yang telah diberikan untuk beri kesempatan petenis tuan rumah bisa lolos ke final, Karena saat ini sangat prihatin sekali atas prestasi petenis tuan rumah . Khususnya petenis putra dibndingkan petenis puteri yang melenglang buana ke Luar Negeri mengikuti turnamen turnamen .

Prihatin terhadap petenis putra sehingga teringat masalalu. Sewaktu dipercaya sebegai Circuit Administratror Green Sands Satellite Circuit. Dulu masih ada turnamen ITF Satelllite Circuit dimana memperebutkan prize money $ 25,000 dibagi dalam 3 circuit dan 1 masters. Point ATP baru didapat setelah masuk master hanya 16 petenos putra mendpaatkan pointnya. Setiap putaran atau circuit berlangsung seminggu maka sstu satellite Circuit memakan waktu 1 bulan

Prize money juga setiap putaran hanya berkissr $ 6,250, Maka total sebulan hanya US $ 25,000. Memeang makan waktu dan beaya tapi menampung atlet yang tidak memiliki point ATP mengumpulkan point. Ini turnamenterkecil wakil waktu otu kemudian naik tingkat Challenger dengan prize money US $ 25,000

Peserta Satellite Circuit adalah petenis manca negara bisa dari USA, Jerman, Inggris dan Asia seperti Jepang, Korea, China , India, Thailand, Filipina dll. Mereka tidak mempunyai point ATP sehingga adanya Satellite Circuit sangat memabantu petenis mendapatkan point.
ATP Begitu juga petenis,  tuan rumah.

Jadi sebagai Circuit Administrator memfasilitasi kehendak ITF Referee atas kebutuhan turnamen dan nanti dibantiu Direktur Turnamen setiap putarannya. Sewaktu itu dilaksanakan di Surabaya putaran pertama kemudian putaran kedua Semarang, putararn ketiga Bandung dan terakhir Jakarta.

Karena pesertanya muda muda sehingga gampang digoda. Karena sponsornya PT Multi Bintang maka AFR minta kepada sponsor dosetiap kota voucher masuk ke diskotik diskotik disetiap kota, Bermodalkan voucher diskotik itu setia malam mengajak petenis asing tersebut. Maksudnya agar terganggu kondisi fisiknya. Bagaimana bisa. Kalau setiap malam pulang hotel jam larut malam sekitar jam 02,00 tentunya ada pengarus waktiu esok 'Bahkan pernah di Bandung esoknya petenis tersebut masuk final tentunya menolak, tapi berkat rayuan sehingga tidak bsa menolaknya. " Ada pemilihan miss Dangdut, Jangan kuatir besok final mainnya jam 10,00;" ujar AFR

Nah betul terjadi seperti yang diduga, Sewaktu mingu terakhir di Jakarta yang masuk final salah satu petenis tuan rumah ( Daniel Heryanto). Begitulah cara dilakukan selama jadi Circuit Administrator. Dan undangan ke diskotik tersebut tidak pernah ditawarkan kepada
petenis tuan rumah

Selasa, 11 Mei 2021

Selenggarakan Turnamen Tidak Tenang, Kenapa ?

Jakarta, 12 Mei 2012. Selama hidup menyelenggarakan turnamen,  baru pada saat pandemi Covid-19 merasa tidak tenang, Timbul kekuatiran selalu pada  hari pelaksanaannya. Itulah yang dialami oleh AFR selama ini.

Dimulai dari  Remaja Tenis Jakarta bulan Oktober 2020 di Elite Club Club Epicentrum Rasuna perasaan tidak tenang selalu menghantui AFR siang dan malam, Karena ada perasaan kuatir dalam pelaksanaan nanti muncul hal hal yang tidak diharapkan sehingga mengacaukan pelaksanaannya nanti.Untung tidak terjadi. Bersyukurlah semuanya.

Tetapi sebagai konsekuensi dalam pelaksanaan harus dikontrol kerja rekan rekan dilapanagan, Apalagi diadakan Rapid Test yang dalam pelaksanaan ada yang tidak lancar. Hal ini dimaklumi karena kerja selama ini sangat santai maka masalah Rapid Test dianggap sepele. Awalnya tidak ada kerja sama antara petugas media dan Referee sehingga tidak 100 prosen seluruh peserta sudah menjalankan Rapid Test. Ternyata ada satu dua peserta saja tidak menjalani Rapid Test karena takut, Maka dari itu pelaksanaan kedua harus ditekankan antara kedua petugas tersnbut harus bisa laksanakan sesuai anjuran AFR. Sekali lagi harus dikontrol baru bisa terlaksana.

Masalah lain muncul jika melaksanaakan protokol kesehatan , maka beaya turnamen akan meningkat. Apa yang harus dilakukan? Biasanya petugasnya dikurangi, Ketika dibicarakan dengan ekan ekan ainnya, rencana petuagas wasit dihilangkan maka timbl kesan ada kemunduruan nagiReaja Tenis. Karena selamainisudah pakai wasit, kok sekaranag tidak, Maka batalah. Tetapi turnamen harus jalan tidak ada kata mundur demi kepentingan tenis belaka.

Syukurlah turnamen berjalan lancar, tidak jadi ada pengurangan tenaga pelaksanaan

Sportivitas Enak Didengar, Tidak Enak Dilaksanakan


 Sportivitas itu sering didengung-dengungkan dalam dunia olahraga. Sportivitas adalah sikap yang menunjukkan perilaku etis dan berintegritas , mengakui keunggulan lawan dalam kompetisi/kejuaraan ataupun menerima kemenangan. Sehingga sportivitas dijunjung tinggi dalam olahraga

Bagi atlet, pelatih, pembina dan tentunya juga para insan olahraga sportivitas seharusnya wajib hukumnya untuk dijalankan. Namun apakah harapan itu bisa dilaksanakan seindah aslinya? Jawabannya memang harus hati-hati karena banyak kisah para pelaku olahraga yang menjunjung soprtivitas. Namun di bagian lain banyak pula yang melenceng dari nilai-nilai luhur olahraga itu.

Bagaimana perwujudan sportivitas itu bisa tercermin bukan saja dari suatu pertandingan atau kejuaran maupun pesta olahraga namun juga dari apa yang ada di balik sebelum pelaksanaan event olahraga itu. Dari sorotan terhadap pelaksanaan pertandingan tenis di Pekan Olahraga Nasional (PON) menarik untuk diamati bagaimana sportivitas itu dipertaruhkan.

Pekan Olahraga Nasional ( PON ) yang tujuan awalnya adalah untuk mempersatukan bangsa. Karena PON I tahun 1949  masih suasana perang, diperlukan untuk mempersatukan bangsa. Perkembangan PON berlangsung berubah kemudian menjadi PON Prestasi sesuai dengan tuntutan jaman.

Kemudian tuan rumah PON sudah tidak mampu  menampung pesertanya sehingga peserta PON mulai dibatasi, jadi berdasarkan kuota, khusus tenis berkisar 96 peserta. Akibatnya tidak semua daerah menikmati dalam keikutsertaannya.

Begitu pula saat itu hanya 12 daerah dari 34 provinsi bisa mengikutinya. Dan sayangnya akibat kurangnya turnamen diakui Pelti didaerah luar Jawa sehingga mayoritas petenis berperingkat nasional seputar pulau Jawa.  

Inisiatif Pelti saat itu mencapai tujuan agar PON Prestasi maka daerah daerah tersebut ditawarkan petenis yang memiliki PNP ( peringkat nasional Pelti) sehingga tersebar keseluruh daerah.

Daerahpun menyambut baik tawaran ini. Karena free of charge. Jadi tidak dibisniskan. Dampak  PON Prestasi maka berlomba lomba daerah mengimport petenis berperingkat dengan iming iming disamping bonus dan dana transfer. Kita akui seharusnya diterapkan Tennis is Businnes seperti yang dicanangkan ketua umum PB Pelti 1986-1990, Drs Moerdiono (alm), tetapi sekarang berubah menjadi atlet dibisniskan. Itulah yang terjadi perubahan drastis.

 Pengalaman sebagai Technical Delegate Tenis PON XVI Palembang 2004, PON XVII Balikpapan, PON XVIII Riau 2012, sering terjadi protes peserta karena merasa atlet binaannya sudah berpindah kedaerah lainnya. Ini akibat ketidak sportivitasnya para pembinanya yang memanfaatkan kelemahan daerah lain yang tidak berhasil melakukan pembinaannya. Karena daerah sekarang lebih bangga atau mengutamakan Prestise dari pada Prestasi. Lebih murah dan cepat mentransfer pemain yang sudah jadi dari pada membina sendiri. Menjadikan seorang juara tidak bisa instan. Dan beaya akan jadi mahal sehingga dipilih cara instan.

 Upaya mengatasi masalah perpindahan atlet sesaat PON oleh KONI Pusat diatur dengan menerbitkan Aturan Mutasi dalam PON, yang dalam hal ini selalu  bisa saja aturan itu diakalin oleh pembinanya untuk memuluskan transfer pemain tersebut karena ada keuntungan tersendiri bagi perantaranya.

Selama daerah berlomba mengejar prestise maka sulit dibendung karena yang punya dana adalah daerah melalui KONI Provinsi. Suatu permainan akal-akalan antara petugas Pelti dan KONI Provinsi memanfaatkan kelemahan pembinaan organisasi Cabor didaerah daerah tersebut.

Transaksi terjadi dalam jumlah ratusan juta rupiah bahkan sudah mencapai miliar. Dan pula sangat rawan terjadi percaloan dilakukan oleh pembina itu sendiri

Penyakit ini sudah menjalar ke tingkat kabupaten dan kotamadya untuk mempersiapkan tim dalam multi event Pekan Olahraga Provinsi ( Porprov).

Tidaklah heran sampai keluarlah pernyataan dari salah satu pimpinan provinsi bahwa PON itu sebaiknya dibubarkan. Alasannya bahwa itu hanya akal akalan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia didaerah.

Begitu pula dalam Seminar Olahraga di Aula Kemenpora saat itu didepan Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, August Ferry Raturandang selaku Wakil Sekjen PP Pelti menyatakan bahwa " Sportivitas Itu Hanya Berlaku Untuk Atlet, Tidak Berlaku Untuk Pembinanya". ***

* August Ferry Raturandang – penggiat tenis ( www.suarakarya.co.id)

Senin, 03 Mei 2021

NIAT lebih penting Daripada Dana


 Jakarta, 4 Mei 2021. Apa kunci dari kebehasilan buat turnamen selama ini yang merupakan modal dasar kita ? Tak lain dan tak bukan adalah NIAT. Bukannya DANA yang selama ini dianggap perlu untuk segala kegiatan kita.

Tetapi AFR selalu katakan bahwa tak ada NIAT maka walaupun ada DANA tidak bisa dilaksanakan keinginan bikin turnamen. Ini ditunjukkan dalam merencanakan Remaja Tenis yang khusus untuk yunior sejak tahun 2009 yang sampai sekarang sudah dilaksanakan di 22 Provinsi di Indonesia  dengan total pelaksanaan mencapai 207 turnamen. Bahkan didalam pandemi Covid-19 juga bisa dilaksanakan pelalsanaan RemajaTenis.

Belum lama ini bulan lalu AFR telah membuktikan juga dalam pelaksanaan Turnamen Maesa Paskah yang termasuk turnamen tertua di Indonesia. Padahal perencanaan turnamen Maesa Paskah hanya sebulan saja tetapi bisa dilaksanakan.Karena tidak ada yang bisa menggerakkan tenis Kawanua ini, maka AFR berinisiatip sendiri , Disini AFR tidak memerlukan DANA tetapi NIAT leih penting, karena nantnya DANA itu bisa dicari dengan sendirinya.

Awalnya dimulai dengan melemparkan niat itu dengan memancing emosi warga Kawanua yang peduli atau merindukan adanya turnamen yang merupakan turnamen tradisional tersebut, Memancing emosi kuncinya dengan melemparkan pwrtanauaan tentang Maesa Paskah yang terhenti cukup lama, Kemudain berkembang tentang kepengurusan Maesa, tapi tetap AFR tidak singgung masalah tersebut,a tetap fokus akan turnamen Maesa Paskah atau dulu dikenal dengan Paastournooi

Kemudain diundanglah rekan rekan petenis Kawanua melaui group WA dengan sambutan cukup besar menunjukkan mereka sangat menginginkan turnamen Maesa Paskah terealiser. Langkah berikutnya diundang untuk pertenuan pertama di lapngan tenis Kota Wisata. Hadir pada sotre itu Stanley Rondonuwu, Johan Tumanduk, Jerry Tangkilisan, Army Pantouw, Eric Lumanauw, Angky Rattu,Lucky Tumbelaka  Nico Sompotan,Billy Pakasi, Ilham Saputra-Tumanduk , Agus Mandera dan AFR sendiri. Maka kesepakatan membentuk Panitia Pelaksanaan yaitu Ketua Jerry Tangkilisan dan Johan Tumnduk Sekretaris, Karena waktu sudah dekat kira kira 3 mingu lagi maka dipituskan rapat kedua di lapangan tenis Yolanda Soemarno. Yang hadir saat itu Yolanda Soemarno, Mona Sigar, Harmen Tompodung , Corry Tompodung, Ine Pasla, Anneke Pakasi, Lucky Tumbelaka, Armand Monoarfa, Ginny Monoarfa, Johan Tumanduk, Stanley Rondonuwu, Army Pantouw, Eric Lumanauw, Angky Rattu,Billy Pakasi, Irawati Moerid, Adrian Tapada dan istri, Agus Mandera, Albert Polohindang. dan AFR selaku penggagas saja karena ada masalah dengan pita sura sehingga kesulitan mengeluarkan pendapat. Tapi itu tidak jadi masalah karena kalau ada kingingan dikeluarkan melalui WA saja.

Terjadi perubahan panitia karena Jerry Tangkilisan sedang sakit saat ini, Maka disepakati sebagai AdrianTapada  dan sekertaris Stanley Rondonuwu.

Langkah pertama adalah penentuan waktu pelakanaan dan jenis pertandingan baru bisa diputusakn budget yang diperlukan. Terlaksana sudah turnamen Maesa Paskah 2021 pada tanggal 3-4 April 2021 di lapangan tenis Bea Cukai Rawamangung Jakarta.Karena masa pandmi Covid-19 peserta dibatasi hantya Jakarta dan sekitarnya.Tapi ternyata datang juga dari Makassar, Gorontalo dan Manado

Inilah kisah sehingga keinginan adakan turnamen Maesa Paskah bisa terlaksana. Padahal dana belum ada tetapi dicari kemudian. Tanpa NIAT kemungkinan tidak akan terjadi turnamen Maesa Paskah.

Begitu juga selama ini rahasia pelaksanaan Remaja Tenis bisa terlaksana karena adanya NIAT., Kuncinya juga jika mendengar ada keininginan suatu daerah adakan Turnamen, maka segera ditangkap keinginan tersebut karena ini suatu kesempatan sudah terbuka. Jangan dipersulit maka larilah keinginan itu dari tangan kita sendiri.

Banyak kejadian AFR dengan rekan rekan tenis didaerah daerah. Sebagai contoh di Jayapura jauh disana bisa terlaksana demikian juga di Medan bisa terlaksanna..Begitu juga Palangka RayaKalimantan Tengah. 

Sebenarnya banyak tokoh olhraga baiuk diorgnsiasi tenis maupun klub klub tenis memiliki DANA sebagai pengusaha, Sebenarnya bisa menurut teorinya, tapi kenyataannya tidak bisa. Itu tidak bisa dipungkiri, suatu kenyataan didepan maya kita. Kalau ditanya selalu mengatakan ada niat untuk memajukan Tenis Indnesia , tetapi itu kebanyakan hanyalah Lipservice belaka karena tidak dengan hati mengatakan demikian