Kamis, 16 Februari 2017

Kesempatan Lari dari Tanggung Jawab

Jakarta, 17 Februari 2017. Jika tahun lalu banyak cerita  muncul yang dimintakan oleh masyarakat tenis agar ada perubahan didalam kepengurusan PP Pelti periode 2012-2017. Karena prestasinya sudah tidak bisa dipertanggung jawabkan. Maka muncullah keinginan agar ada Munaslub Pelti saat itu.
Nah, saat itu muncullah pertanyaan siapa kandidat yang dijagokan oleh masyarakat tenis. Ada yang menjagokan mantan Humas PB Pelti (1986-1990). Tetapi disisi lain muncul lagi usulan datang dari mantan Ketua Umum PB Pelti ( 1998-2002 ) yang menjagokan Dirut Pertamina saat itu yang juga mantan Ketua Pengda Pelti Sumatra Barat dan Pengda Pelti Jawa Timur.

Ternyata Tim Davis Cup ada Masalah

Jakarta, 17 Februari 2017. Sebelum pertandingan Davis Cup antara Indonesia dan Filipina, saya mendapatkan pertanyaan dari rekan2 melalui WA setelah ada pemberitaan tik Indonesia yang terdiri dari David Agung Susanto, Sunu Wahyu Trijati, Aditya Hari Sasongko, Anthony Susanto dengan didampingi oleh Suharyadi selaku pelatih kepala tim nasional. Untuk diketahui ada perubahan bentuk dalam penanganan tim nasional yang dulu terdiri dari Goenawan Tedjo menggantikan Donald Wailan Walalangi selaku High Performance Director diikuti Andrian Raturandang selaku pelatih tim putra ( menggantikan Roy Therik) diikuti pelatih tim putri Sri Utaminingsih. Kemudian diubah menjadi Pelatih Kepala Suharyadi diikuti kedua pelatih yang tidak dirubah.

Selasa, 24 Januari 2017

Evaluasi Kejurnas dan Munas Baveti 2016

Jakarta, 24 Januari 2017. Mengingat kembali sewaktu pelaksanaan Munas Baveti 2016 dan Kejurnas Baveti 2016 di lapangan tenis Klub Elite Epicentrum Rasuna Jakarta, maka saya sebenarnya ingin menunggu rapat evaluasi pelaksanaannya. Tetapi ternyata belum juga dilaksanakan tetapi diberitakan kalau pembubaran Panpel sudah dilaksanakan. Masalah ini menurut saya sangat penting karena kesan negatip harus segera dikembalikan menjadi positip. Karena Baveti yang dikenal sebagai Badan Veteran Tenis Indonesia yang sekarang sejak Munas 2016 berubah nama menjadi Barisan Atlet Veteran Tenis perlu ditegakkan. Ya, karena sudah masuk kedalam kepengurusan tentunya Baveti itu harus dijaga nama baiknya.
Sebelumnya sudah tahu kalau mengurus petenis Veteran tidak semudah mengurus Junior yang juga cukup ribet karena ikut campurnya orangtua maupun pelatih.

Senin, 23 Januari 2017

Keterlibatan di Baveti

Jakarta, 23 Januari 2017. Saya mencoba mencatat kembali keterlibatan saya di Baveti sampai saat ini.  Sewaktu diundang langsung oleh Ketua Umum Baveti Theo L Sambuaga untuk ikut membantu dalam kepengurusan Pengurus Pusat Badan Veteran Indonesia yang saat itu masih jadi satu dengan PP Pelti. Kurang lebih 2 tahun lalu. Sayapun tidak bisa menolak karena waktu itu Theo L Sambuaga dari Manado tilpon dalam rangka mau menikahkan putranya di Jakarta, jadi perlu alamat rumah untuk dikirimkan undangannya. Tetapi setelah itu Theo langsung mengajak saya untuk duduk dalam kepengurusan PP Baveti atau melengkapi susunan pengurus yang ada. Saya tahu Baveti itu sidah lama dalam kepengurusan PP Pelti.
Dan rekan saya sendiri juga duduk didalam kepengurusan PP Baveti sebagai Sekretaris Umum, dan sering cerita ( curhat) kejadian kejadian didalam kepengurusan tersebut dimulai saat pelaksanaan Kejurnas Baveti tahun 2014 dalam rangka HUT Kemerdekaan RI dibulan Agustus. Jadi situasi didalamnya sudah ada bayangannya.

Kamis, 19 Januari 2017

Mari Galakkan Tenis dari Turnamen

Jakarta, 20 Januari 2017. Saya teringat disaat tahun 1989 sudah mendapatkan tugas di kepengurusan Pelti disaat ketua umumnya Moerdiono (alm). Terima kalender turnamen di Australia itu sudah tercantum sekitar 100 turnamen yunior dalam setahun. Oleh karena itu langsung bertekadi Indonesia harus bisa juga meniru negara tetangga yang tenisnya jauh lebih maju daripada Indonesia.
Itulah awal dari "kegilaan" saya agar makin banyak turnamen di Indonesia, baik waktu masih duduk dikepengurusan maupun setelah diluar kepengeurusan PP Pelti.

Setelah bisa kembangkan turnamen dipulau Jawa, maka teringat sewaktu masa muda bermain tenis diluar Jawa yaitu Bali, Singaraja dimana tenis mulai saya kenal karena orangtua sendiri sebagai petenis mewakili Nusa Tenggara diajang PON II Jakarta-PON IV Makassar

Rabu, 18 Januari 2017

AFR Mau Dituntut Ke Polisi Pencemaran Nama Baik

Jakarta, 18 Januari 2017. Ada satu kasus yang perlu saya catat disini ditahun 2016 yang belum saya catat. Ketika itu sedang kalau tidak salah bulan Agustus 2016 . Dalam grup WA yang saya bentuk dengan tujuan untuk saling berikan informasi tentang tenis rencana awalnya tetapi kadang kala dimanfaatkan untuk berbicara agama. Mengingatkan akan Tuhan dari masing masing Agama. Ada yang protes dan ada juga yang setuju. Tetapi yang ingin saya angkat adalah satu peristiwa dimana saya buat statement di Forum Komunitas Tenis

" Ada yang aneh hari ini babak final ganda campuran....kong x  kong." kira kira begitu. Kemudian dapat sambutan dari rekan rekan lainnya, maksud dan tujuan statement tersebut. Tetapi saya becandain saja karena bahasa Manado Kong x Kong itu artinya berbeda dengan Kong Kali Kong secara Bahasa Indonesia.

Diluar dugaan  ada tanggapan lain dari grup WA lain yang saya buat juga. Yang menyatakan minta klarifikasi statemen saya tersebut. Dia mengakunya kalau dia itu tim manajer Tenis Papua di PON XIX 2017 Ketika baca permintaan klarifikasi tersebut saya sedang nyetir mobil dijalan sehingga belum ada waktu untuk segera menjawabnya.

Tidak lama kemudian karena saya tdak menjawab muncul pernyataannya kira kira sebagai berikut. Nanti Senin (karena hari itu kalau tidak salah hari Jumat) akan dilaporkan kepada Ketua (mungkin maksudnya Ketua Pengda) dan Kapolda yang akan bertemu, sebagai tuntutan mencemarkan nama baik. 
Wow, keren. Baru kali ini saya mau dituntut gara gara pencemaran nama baik. Ini lagi hangat hangatnya UU IT sedang disosialisasikan dan banyak kejadian tuntutan tuntutan pelanggaran UU IT.

Pro Kontra Prize Money Turnamen Yunior ( 3 )

Jakarta, 18 Januari 2017.  Dalam beberapa hari ini saya sempat berkomunikasi melalui WA dengan rekan rekan didaerah. Baik yang sudah pernah kenal maupun yang belum kenal. Biasanya kalau yang duduk di Pengda sebagian besar masih atau sudah kenal sama saya. Tetapi bukan berarti saya tidak berkomunikasi dengan rekan rekan di Pengcab Pelti. Tetap ada.
Ada yang menarik dalam komunikasi minggu ini Karena saya bertanya mengapa daerahnya minim turnamen (bukan berarti tidak ada, karena dalam catatan saya setahun kira2 1-2 turnamen). Yaitu ada pengakuan kalau didaerahnya (Sumatra), diutamakan ada hadiah prize money untuk turnamen yunior.

Dalam hal ini saya hanya sampaikan masalah ketentuan yang dibuat oleh Pelti maupun ITF dan tentunya ITF buat ketentuan ada tujuannya.

Saya juga katakan kalau daerah tetangganya itu juga sering kemukakan kalau berminat adakan turnamen nasional. Tetapi menurut saya hanya lip service saja, Faktanya sudah ada 3 orang dari 3 kota yang kemukakan sejak 2 tahun silam. Realisasinya tidak ada. Bukan masalah bagi saya.

Pengamatan saya juga sering mendengar adanya turnamen yunior tetapi bukan TDP sehingga bebas mau berikan hadiah sesuai kehendak hatinya sendiri. Tetapi saya juga kemukakan kalau yang selenggarakan adalah Pengcab Pelti ataupun Pengda Pelti maka saya hanya bisa katakan disayangkna. Kalau PP Pelti tidak mungkin berikan hadiah uang karena berarti memberi contoh pelanggarannya.

Pro Kontra Prize Money Turnamen Yunior (2)

Jakarta, 18 Januari 2017. Kira kira bulan Desember 2016 saya sempat bertemu dengan Ketua Bidang Pembinaan Junior PP Pelti Aga Soemarno dilapangan tenis Hotel Sultan disaat ada kejuaraan nasional tenis (PGN).

Ada satu pernyataan dari Aga masalah prestasi petenis yunior Indonesia, Yang dipermasalahkan adalah mindset para orangtua kita, Yaitu tidak bisa membedakan masalah junior dan senior. Kalau junior tentunya tidak boleh ada hadiah uang tetapi kalau senior tentunya hadiahnya adalah uang. Akibatnya sering kali yang dicari adalah turnamen berhadiah uang yang  beredar diluar jangkauan Pelti. Tetapi bagi para orangtua yang mengejar prestasi tentunya bukan turnamen tersebut yang dikejar, kecuali pada waktu itu tidak ada jadwal turnamen TDP.

Saya cukup senang melihat tanggapan dari pihak Pelti yang masih menghormati masalah ketentuan yang sudah dibuat oleh Pelti sendiri. Yang jadi masalah apakah rekan rekan lainnya khususnya dari bidang pertandingan masih awas terhadap kegiatan yang melanggar ketentuan TDP tersebut. 

Menurut saya pribadi dari yang tugasnya mengawasi pertandingan pertandingan resmi tidak ada waktu atau tidak mau tahu (tentunya beda) terhadap pengawasan turnamen turnamen yunior. Tetapi ada juga yang rajin hadir diturnamen junior apalagi diluar kota kemudian ditanggung segala galanya, tetapi kagak ngerti tentang ketentuan TDP tersebut. Kelihatannya hanya plangak plongok saja demikian cerita rekan rekan lainnya terhadap dirinya ketika saya tanyakan siapa yang hadir dari PP Pelti.