Minggu, 30 September 2012

Buat Turnamen di Palembang

Jakarta, 30 September 2012. Sewaktu berada di Pekanbaru saya sempat bertemu dengan Katue Pengprov Pelti Sumatra selatan Ade Karyana yang juga Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sumatra Selatan. Saya kemukakan kalau saya ingin adakan turnamen nasional yunior di Palembang tepatnya distadion Bukit Asam Jakabaring. Jawabannya mengagetkan. " Saya tidak ada duit." Waduh jangan kira langsung melemahkan keinginan saya ini. Saya cuma sampaikan kalau tidak perlu uang sari mereka. Nanti saya akan tanggung sendiri asalkan lapangan disediakan. Ternyata keinginan ini diterimanya. Langsng saya kontak Ketua Umum KONI Sumsel yang saya kenal sewaktu SEA Games untuk menanyakan masalah penggunaan Wisma Atlet ex SEA Games di Jakabaring. Ternyata dapat repons positip dengan berikan tarifnya cukup murah yatu Rp 75.000/orang dluar makan. Tapi setahu saya di Wisma itu juga tersedia kantin untuk makan. Mudah mudahan tanggal 19-21 Oktober 2012 rencana selenggarakan Turnamen RemajaTenis di Palembang bisa terealiser. Inilah gaya "provokator" untuk bisa sukseskan turnamen tenis yunior sebagai kebutuhan atlet tenis di Palembang dan sekitarnya. Doakan saja berhasil.

Permintaan buat turnamen di Balikpapan

Jakarta, 30 September 2012, Hari ini terima telpon dari rekan di Balikpapan yang menyampaikan keinginan agar di Balikpapan bisa digelar Turnamen RemajaTenis. Karena agar bisa meramaikan pertenisan Balikpapan diwaktu yang sama akan ada tenis Gembira yang lebih berkesan hura hura. Keinginan tersbut saya sambut dengan baik dengan catatan saya harus siapkan semua perangkat kecuali lapangan yang disedaiakan mereka. Ya, bagi saya yang penting bisa menyambut keinginan rekan saya ini ingin memjaukan tenis di Kaltim. Saya sudah beberapa kali kerjasama dengan dia, dan tentunya tidak akan saya sia siakan saja. walaupun nantinya saya akan alami kerugian karena tanpa sponsor turnamen saya bisa berjalan dengan resiko rugi. Ya, apa boleh buat. Akhirnya saya spakati tanggal 19-21 Oktober 2012 di Balikpapan . Kalau melihat pertenisan di Kalimantan, saya sebenarnya prihatin sekali dengan Kalimantan Tengah. Tiga tahun lalu saya sering buat turnamen Persami Piala Ferry Raturandang di Palangka raya. Maksud saya waktu iru Pemerintah Daerah bisa tergerak dengan memperbaiki lapangan Mantekai yang ada ( 6 lap) bisa direnovasi 4 lapangan yang sudah tidak layak pakai. tapi hari ini saya dapat informasi dari rekan di Palangka Raya kalau lapangan tersbut beum direnovasi. Gimana bisa maju dong tenisnya.

Habis PON, what next?

Jakarta, 30 September 2012. Setelah Pekan Olahraga Nasional XVIII di stadion tenis PTPN-V Pekanbaru, what next? Begitulah muncul dari pemikiran saya setelah selesai lakukan tugs ke Pekanbaru sejak 2-20 september 2012. Melihat fasilitas yang dimilki dan kemampuan selaku BUMN , PTPN-V bisa diharapkan bisa memajuka pertenisan Riau dan Indonesia. Kenapa ? Ya, so pasti dengan fasilitas 1 stadion dan 7 lapangan begitu bagus sayang kalau tidak dimanfaatkan Sedangkan kemampuannya selaku BUMN tidak perlu diragukan. Yang penting petinggi petinggi PTPN-V ada niat memajukan tenis dengan fasilitas yang dimilikinya. Dari hasil bincang bincang dengan rekan rekan di PTPN-V terlihat ada keinginan besar dari petinggi petinggi PTPN-V mau menjadikan Pusat prtenisan di Riua. Nah, jika melihat hal ini seharusnya petinggi Pelti setempat bisa memanfaatkannya. Karena salah satu program sentra pembinaan daerah oleh PP Pelti, kota Pekanbaru sudah masuk dalam programnya. Hanya akibat ulah salah satu petinggi Pelti Riau lapangan yang digunakan untuk sentra yang sedang berlangsung kena gusur. Waduh, apa kata dunia ? Nah, sekarang lapangan tenis PTPN V sudah ada, tidak ada alasan lagi kalau tidak dimanfaatkan. Asal pendekatan yang baik dilakukan rekan Pelti riau kepada manajemen PTPN-V. Ini harus dilakukan kalau menghendaki hasil yang besar didapat dimasa mendatang. Saya sendiri secara pribadi sudah sampaikan akan membantu dengan menggelar turnamen nasional yunior RemajaTenis di Pekanbaru. Disamping itu pula bisa lakukan coaching clinic baik melalui Pelti ataupun pribadi AFR sendiri bisa lakukan.

Rabu, 26 September 2012

Calon Ketua Umum PP Pelti

Jakarta, 26 September 2012. Berbeda dengan MUNAS Peltui tahun 2007 atau sebelumnya. Bedanya sampai awal September 2012 belum ada figur calon Ketua Umum PP Pelti 2012-2017 yang muncul kepermukaan. Hanya banyak rumor saja dan sampai hari ini calon calon yang beredar secara tidak resmi belum berani memberanikan diri maju. Baru hari ini saya baca di Kompas ada figur baru yaitu Menteri Pariwisata Mari Pangestu. Tapi setelah keluar berita di Harian Kompas saya terima telpon dari salah satu orangtua petenisyunior yaitu Freddy umambi di Jakarta. Tanya kapan bisa ambil formulir pendaftaran kandidat Ketua Umum PP Pelti 2012-2017. Silahkan saja datang ambil ke sekretariat PP Pelti. Dia tidak sebutkan untuk siapa tapi menyampaikan kalau siapa saja bisa mencalonkan diri. " Betul sekali." Banyak pertanyaan dari rekan rekan didaerah masalah calon Ketua Umum PP Pelti berikutnya karena Ketua Umum PP Pelti Martina Widjaja sudah dua kali terpilih sehingga berdasarkan AD&ART Pelti tidak boleh mencalonkan diri lagi. Karena waktu itu memang belum ada figur yang mau jadi Ketua Umum PP Pelti maka saya katakan kalau belum ada. "Bingung deh" Kita tunggu kelanjutan calon Ketua Umum PP Pelti 2012-2017 apakah nanti Mari Pangestu yang jadi Ketua Umum PP Pelti atau lainnya kita serahkan kepada peserta MUNAS Pelti 2012 di Manado. Yang penting adalah sudah ada kandidatnya.

Sumatra sudah dikuasai

Jakarta, 25 September 2012. Apa saja yang saya lakukan untuk mensukseskan Martian Widjaja bisa jadi Ketua Umum PB Pelti 2002-2005? Sewaktu itu 2000 saya dipangil Martina duduk dalam kepengurusan PB Pelti di posisi yaitu Wakil Ketua Bidang Hub LN. Karena Martina dipanggil kembali oleh Ketua Umum PB Pelti 1998-2002 Tanri Abeng duduk sebagai Ketua Bidang Pengembangan, Hubungan Luar Negeri. Tahun 2002 sebagai salah satu strategi saya usulkan diadakan turnamen tenis regional Sumatra di Jambi. Kalau tidak salah turnamen beregu antar Pengda.Maka dikumpulkannya Pengda Pelti dari NAD, Sumut, Sumbar, Bengkulu, Riau, Sumsel, Lampung, Babel dan Jambi. Maka saya atur dengan Ketua Pengda Pelti Jambi Ade Syuhada selaku tuan rumah dan disela sela pertandingan malamnya saya minta Ade Syuhada mengundang rekan rekan Pengda rapat dan saya sebagai tamu bukan tuan rumah untuk menghindari dari tujuan sebenarnya untuk menghimpun dukungan terhadap Martina. Akhirnya semua setuju dibuatlah Kriteria dulu seperti permintaan Ketua Pengda Pelti Bengkulu. Sebenarnya adakekuatirans aya waktu itu ketika Ketua Pengda Pelti Bengkulu yang mantan Kapolda Bengkulu yangbicara cukup keras dengan permintaan asal jangan wanita.. Berabe juga nih. Sayapun cari akal sewaktu di Makassar mengatasi masalah ini. Dan secara terslubung mayoritas kedelapan Pengda dukung Martina. Pulang ke Jakarta dengan optimis saya sampaikan kalau Sumatra sudah dikuasai Disamping itu pulasayapun dengan gencar kirimka surat surat ke Pengda seluruh Indonesia masalah program program pengembangan seperti penawaran mini tenis, kepelatihan didaerah supaya nama Martina dikenal orang Pengda. Dan ternyata cara ini cukup ampuh karena banyak pengurus Pelti didaerah muka muka baru yang belum kenal beliau

Persiapan Munas dengan Laptop Kreditan

Jakarta, 26 September 2012. Saya telah ikuti pelaksanaan Musyawarah Nasional Pelti sejak tahun 1990 seaktu pergantian Ketua Umum Moediono ke Cosmas Batubara di Samarinda, di Bali sewaktu Sarwono Kusumaatmaja terpilih, kemudian 2002 di Makassar ketika Martina Widjaja terpilih dan 2007 di Jambi ketika Martina terpilih. Sewaktu di Samarinda saya tidak aktip dalam proses pemilihan karena say ditugaskan menjalankan Indonesia Masters di amarinda juga. Sedangkan sewaktu di Bali saya sebagai utusan tambahan dari Pengda Pelti DKI Jakarta. Tugas saya waktu itu memanaskan suasana pemilihan dengan menyebarkan klipping surat kabar kedalam kamar kamar peserta dan sayapun kena tegur tidak langsung dari PB Pelti, harus ada ijin karena saya tidak duduk di PB Pelti tetapi di Pengda Pelti DKI Jakarta. Waktu itu tujuannya memuluskan Sarwono Kusumaatmaja sebagai pilihan Pengda PeltiDKI Jakarta. Jadi saya menjalankan tugas Pengda PeltiDKI Jakarta. Ini pelajaran pertama tentang Munas. Jadi masih belum tahu liku liku permaian politik di Munas. Sayapun belajarnya di Munas Makassar. Teringat sudah saat menjelang di Munas Makassar. Mualilah dihimpun mantan petenis nasional di Surabaya dalam rangka mensukseskan Martina lolos jadi Ketua Umum PB Pelti (2002-2007). Menghimpun mantan atlet tidaklah mudah, maka dilakukan pertandingan Wismilak Nostalgia ditahun 2002 dilapangan tenis Embong Sawo Surabaya. Iniawalnya dicetuskannnya Martina sebagai kandidat permintaan mantan atlet nasional. Sayapun ikut aktif bertanding bernostalgia. Mulailah dibulan Agustus 2002. Setelah itu dimainkan peranan Media Massa dengan gencar mengangkat Martina Widjaja sebagai kandidat Ketua Umum PB Pelti (2002-2007). Saingan juga ada yaitu mantan Direktur Bea Cukai RI. Sayapun mendapat berita kalau stafnya saingan tersbut ahli dalam komputer sedangkan saya belum ahli. Dengan modal hasil Persami saya beli laptop NEC dengan cicilan perbulan menggunakan unag dari hasil lebih turnamen Persami. Bayangkan tidak ahli buat Power Point, sayapun bertanya kepada putri saya yang waktu itu kuliah di Bina Nusantara. Tetapi anak sayapun berkilah. " aya belajar 3 tahun mana mungkin bisa dalam sehari dua hari ." uajrnya. Ini tantangan saya, dengan belajar sendiri sakhirnya bisa gunakan Power Point. Sewaktu presentasi seharusnya ada back up dengan USB tetapi saya tidak ngerti dan percaya sekali laptop NEC yang baru dibeli Juli 2002 so pasti tidak ngadat. Dan bersyukurlan tidak ngadat.

Ruangan Istimewa Menarik Perhatian

Jakarta, 26 September 2012. Setiap petugas PON XVII disediakan ruangan kerja dengan pendingin udara (AC). Ruangan saya kerja selaku Technical Delegate diisi 3 orang yaitu bersama 2 petugas Referee dan Asisten Referee. Ruang tidak terlalu besar karena dengan 3 meja saja sudah terasa penuh. Tetapi menjadi tempat duduk duduk beristrahat karena panasnya udara diluar stadion. Mulai dari rekan Atet Wijono dari Bandung paling sering duduk dudk dan ngobrol selaku teman dari PP Pelti juga. Begitu juga rekan dari Lampung Eddy Sunarso. Dan tidak kalah pula rekan dari Riau sendiri yaitu Medizon yang sering dipangil Soni. Dan dia ini menitipkan tasnya dalam ruangan saya ini. Dan hanya ruangan saya saja yang diberikan meminjam kunci. Karena semua ruangan dipegang oleh sekuriti stadion (kalau tidak salah masih securiti kontraktornya). Permintaan saya pinjam kuncinya merupakan kehormatan juga karena ruangan lainnya kuncinya dipegang securiti. Hari pertama karena saya menyadari panasnya udara bisa menyebabkan kesehatan menurun maka sayapun berinisiatip membeli keperluan sendiri sepeti tissue, buah buahan mulai apel, anggur, jeruk. Karena belinya cukup banyak sehingga setiap tamu yang datang saya tawarkan juga. Begitu juga rekan panpel lainnya ketika masuk kamar saya kaget juga melihat makanan tersebut ada. Sebagai provokator ketika ditanya sama teman Soni dapat dari mana semua ini karena ruangan lainnya tidak ada. " Disediakan oleh PB PON XVIII." Percaya atau tidak saya sengaja lemparkan masalah ini, sampai dia menyadari kalau saya ini provokator. " Memang ini kamar Provokator" ujarnya sambil geleng geleng kepala, setelah dikomporin juga sama Referee dan rekan Sukardi (Pak Kumis) selaku Asisten Teknis. " Ha ha ha, belum tau dia." Begitulah hiburan yang saya lakukan untuk menghilangkan pusing kepala menghadapi panasnya Pekanbaru.

LO Jalankan Tugas dengan Baik dan Benar

Jakarta, 26 September 2012. Satu pengalaman baru dalam kehidupan saya dipertenisan Indonesia. Ditunjuk sebagai Technical Delegate di PON (Pekan Olahraga Nasional) mulai dari 2004 (Palembang), Balikpapan (2008) dan Pekanbaru (2012). Di Palembang mulus, tetapi di Balikpapan menjelang PON saya diganti oleh induk organisasi tetapi saya cukup legowo karena menyadari saya gagal mengupayakan keinginan kualifikasi PON itu seminggu sebelum PON . Padahal ini melanggar ketentuan PON yang menyebutkan minimal 6 bulan sebelum PON. That's OK. Diganti dan saya masih berkomunikasi dengan rekan pengganti saya dan komunikasi ini masih berlangsung sampai selesai. Bahkan saya diminta sama rekan saya untuk mengisi kekosongan waktu yang dia tinggalkan ke Jakartasewaktu pelaksanaan PON sedang berlangsung. Inipun saya jalani dengan baik. Menjelang PON XVIII Riau saya tetap bertugas sampai akhir PON selesai dan sehari setelah pertandingan tenis sayapun kembali ke Jakarta karena akan mengikuti PilGubDKI Jakarta. Saya terkesan kali ini dengan LO yang mendampingi saya, seorang mahasiswa di Pekanbaru. Saya tiba dijemput sama dia, walaupun dia sudah dapat instruksi agar tidak perlu dijemput. Diapun menggunakan akal sehatnya berkonsultasi dengan atasannya dan diperintahkan tetap menjemput saya. Karena berbekal dengan SK KONI maupun Gubernur Riau selaku Ketua Umum PB PON XVIII maka diapun tetap menjalankan tugasnya. Hebatnya apa yang diceritakan kalau dia diberitahu sebagai petugas LO PON agar melakukan tugas tidak sampai mengecewakan tamunya. Kalau perlu gunakan mobil pribadi kalau tidak disediakan kendaraan oleh PB PON. Sayapun kaget ketika dikatakan akomodasi saya sudah beres, karena sebelumnya saya sudah cek hotel yang disebutkan sebagai tempat penginapan para Technical Delegate PON yaitu hotel Pangeran dan hotel Labersa. Tidak ada nama saya. Ternyata dipindah ke hotel Grand Central. Perjalanan dilakukan dengan mobil pribadi. Setiba dihotel saya langsung check in dan nama saya sudah ada tetapi kuncinya dipegang petugas akomodasi PB PON XVIII. Firasat saya mengatakan ada masalah karena so pasti petugas ini terprovokasi. Saya biarkan LO saya berbincang bincang dengan petugas tersebut ( kalau tidak salah namanya A). Sayapun dengan tenang duduk dilobi dengan koper saya. Perjuangan LO saya terlihat berhasil juga. Saya didatangi oleh petugas A tersebut." Bapak bawa SK penunjukkan?" Langsung saya berikan karena sudah siapkan semua berkas nya dan tunjukan SK tersebut dan langsung kunci kamar diberikan. Ya, tenang sudah karena bisa tidur malam ini. Tidak jadi gembel.