Selasa, 13 Agustus 2019

TENIS : Sudah Saatnya Sumsel Bangkit

Jakarta, 13 Agustus 2019. Akhirnya tim tenis Sumatra Selatan berhasil lolos ke PON 2020 Papua. 
Setelah itu sudah harus lebih cerdik menghadapinya, karena waktu persiapan hanya 12 bulan untuk mengejar prestasi mengejar medali . Persiapan PON butuh beaya , tugas  bersama KONI Provinsi Sumatera Selatan dan Dispora Provinsi bersama Pengprov Pelti Sumatra Selatan

Tenis, walaupun olahraga tak terukur tapi bisa dicari patokan ukuran untuk mengejar ponit peringkatnya untuk undiannya. Dari Referee untuk memakai undian adalah Peringkat Nasional Pelti  (PNP), Yang bisa didapat melalui turnamen nasional (TDP) Kelompok Umumnya, Makin sering ikuti TDP Kel Umum maka makin tinggi pointnya.

Kesempatan ikuti TDP Kel Umum hanya sedikit karena saat ini justru makin galak kelompok yunior bisa bayang kan ada sekitar 60 an TDP Kelimpok Yunior dalam kalender PP Pelti.
Nah , untuk Kelompok Umum ternyata hanya 6 TDP untuk tahun 2019. Dan mayoritas diluar Sumatra. 

Tapi dalam hal ini bisa dibuat sendiri dengan status TDP Kelompok Umum. Kenapa Pelti Sumatra Selatan tidak menbuat TDP Kelompok Umum sejak dilantik Pengprov Pelti Sumatra Selatan, belum pernah bikin turnamen TDP Kelompok Umum, justru menonjol buat kelompok Veteran/.

Sudah waktunya Pengprov Pelti Sumsel selenggarakan TDP Kelompok Umum dengan prize money Rp 50 juta saja, Biasanya ada pemikiran prestise belaka buat dengan prize money Rp 100 juta, Akibatnya petenis dari Jawa datang berbondong bondong sehingga petenis tuan rumah yang praktis memiliki peringkat yang lebih rendah tidak bisa ikut karena tida memiliki PNP . 
Andaikan dibagi dua setiap turnamen Rp 50 juta maka bisa selenggarakan 2 kali. Coba selenggarakan TDP Kelompok Umum prize money Rp 50 juta sedangkan putri cukup prize money Rp 10 juta. Bagaimana dengan beaya pelaksana, tentunya juga bisa dibuat seminimal mungkin , tidak perlu anggota panitya seabrek abrek, cukup tenaga Referee, Direktur Turnamen dan Tournament desk atau turnament staf. Paling banyak 6 ( enam ) orang Dan wasit 9 orang saja, Beaya tidak lebih dari prize money, bahkan lebih rendah, Buatlah Panitya seminimal mungkin karena kalau Panitya besar sekali beayanya. Kendala selama ini adalah panitya sebesar mungkin yang pasti kurang efisien ,

Senin, 12 Agustus 2019

Pra PON munculkan bintang baru Sumsel

Palembang, 12 Agustus 2019. Setelah MedcoEnergi Junior Tennis Champs-2 telah hadir salah satu bintang tenis junior dari Sekayu, Muba Sumatera Selatan, yaitu Jones Pratama.

Putra kelahiran 7 Januari 2003 Dengan  tinggi badan yang ideal untuk petenis 188 cm dan berat badan 68 kg, cukup garang kalau tampil didepan net. Hanya saja minim pengalaman  membuat kurang konsisten

Keuntungan daerah yang sering adakan turnamen bisa menghasilkan petenis petenis potensial. Disinilah terbukti sudah kemujuran Sumsel disamping memiliki fasilitas mamadai skala Internasional Stadiun Bukit Asam Jakabaring Sport City, dan pula cukup aggresivnya Sumsel rajin mengejar turnamen diluar Sumsel,

Memang harus diakui daerah Sumatra kelihatan Sumatera Selatan mempunyai kelebihan dibandingkan daerah daerah lainnya. Petenis daerah lain boleh iri melihat keberuntungan petenis Sumatra Selatan.

Saat Pra PON yang baru berakhir 11 Agustus 2019, sempat bertemu antar Sumatra yaitu dengan Sumatra Barat terlihat kematangan masih menjadi milik Sumatra Selatan. Sempat Sumsel leading 2-1. Sedangkan Sumatra Barat  juga memiliki atlet potensial seperti dimiliki Sumsel hanya saja kurang berani untuk ikut Turnamen diluar daerah. Jika diikuti sering kali ikut serta keluar daerah ternyata atlet Sumbar belum bisa mengikuti jejak Sumsel

Mulai kelihatan permainan Jonas Pratama diawal tahun tahun. Waklu ketika Jones Pramata muncul dalam pertandingan final RemajaTenis Sumsel awal tahun 2019, terlihat perbedaan pola main Jones Pratama yaitu service and volley . Semula tidak terbayangkan kalau ada pola main yang beda ditunjukkan sebagai pola main yang berbeda . Sejak itu mulai tertarik menonton Jones Pratama. Teringat John McEnroe petenis legendaris Amerika Serikat, Sudah lama tidak lihat pola main tersebut. Jones Pratama mempunya kelebihan tinggi badan yang ideal yaitu 188. Kaki panjang dan tentunya modal bagus bagi dirinya

Tentunya permainan ini butuh stamina, sehingga sudah sewaktunya dipikirkan pelatihnya. Dan juga pola makan atau gizi juga perlu perhatian khusus. Apalagi didaerah , kemungkinan hal ini sangat tidak mendukung. Apalagi sempat melihat makan anak2 petenis Pelatda Pra PON Sumsel hanyalah nasi  bungkus, Bukan hanya asal kenyang bagi atlet tenis.  

Sabtu, 10 Agustus 2019

Pra PON , Apa Kelanjutannya ?

Jakarta, 10 Agustus 2019. Pekan Olahraga Nasional ( PON ) sebagai tolak ukur keberhasilan pembinaan Pelti didaerah. Begitulah harapan pembinaan kita selama ini. Tetapi apa lacur yang  terjadi selama ini , ternyata selama ini makin rusak pembinaan tenis khusus didaerah. 
Kalau dulu orang berlomba lomba pindah ke DKI Jakarta karena fasilitas yang dimiliki. Orang boleh iri melihat fasilitas lapangan tenis GBK kemudian ada Kemayoran disamping adanya lapangan tenis Rasuna , disamping itu pelatih yang dimiliki kebanyakan berdomisili di DKI Jakarta. Tetapi sekarang justru tidak ada kebanggaan jadi petenis DKI Jakarta. Coba lihat sejak PON XVIII ke PON XX perlahan lahan atlet tenis DKI Jakarta hijrah keluar DKI Jakarta.

Sah sah saja tidak ada yang boleh melarang. Justru atlet atlet nasional yang hijrah ke daerah memafaatkan fasilitas try out yang didapatkan, Hanya saja cara berpikir demikian tidak dimiliki oleh petenis putra kita kecuali Christoper Rungkat.

Dulu gudang atlet Jawa Barat, sempat ternodai pada saat jadi tuan rumah PON XIX dimana menggunakan atlet atlet bukan sendiri akibatnya tidak satu pun mendapat medali emas, sungguh  terpukulnya sebagai daerah tuan rumah yang tidak mendapatkan medali emas  satupun.

Setelah melihat hasil Pra PON ternyata ada juga daerah yang tetap konsisten sejak dahulu kala seperti Bali yang tetap konsisten , Demikian juga ada Sumatra Selatan dengan tetap membina atlet atlet sendiri. Jawa Tengah walaupun tetap menggunakan tenaga old crack belum terkalah tetap dengan tenaga lokal.

Kamis, 08 Agustus 2019

Perubahan Acara Pra PON Tidak Dikomunkasikan

Jakarta, 10 Agustus 2019, Suatu pelajaran bagi membuat event tanpa program yang jelas dan tertulis akan memakan korban bagi sesama anggota Pengurus Pelti. Nah kalau dilihat dari kasus ini maka terjadi salah urus kesannya  dari luar,

AFR menerima laporan kalau Ketua Bidang Hubungan Daerah PP Pelti akan membuka acara Pembukaan Pra PON tgl 5 Agustus 2019. Ditambah berita oleh tuan rumah, Sekretaris Pengprov Pelti Sumsel akan ada rencana Pembukaan Pra-PON pada tanggal 5 Agustus 2019. Rencana cukup jelas ketika dikemukakan yaitu acara defile peserta Pra PON dengan pakaian daerah nya , kesan nya begitu hebat walaupun timbul kesan apa mungkin. Kenapa timbul kesana demikian. Karena mendatangkan ketua Pengprov Pelti Sumsel yang notabene atasan langsung tentunya tidak mudah melihat cara kerjanya.
Sempat AFR melaporkan kepada Kabid Hub Daerah PP Pelti, agar siap siap menghadapi tata cara kerja , dengan pengalaman seperti dialami. Prediksi sudah ada indikasi demikian.

Apa lacur, Ternyata acara Pembukaan telah dilakukan pada welcome dinner, yaitu Minggu 4 Agustus 2019 malam langsung sudah dilakukan Pembukaan . Lucunya Kabid Hub Daerah tidak ada pemberitahuan kepada yang bersangkutan. Sehingga ketika Kabid Hub Daerah tiba Senin 6 Agustus 2019 datang dengan pengharapan ada acara Pembukaan Pra PON ternyata tidak ada , Begitu datang langsung ke Stadium Bukit Asam Jakabaring, jadi bengong . Entah ketua Penpel Pra PON telah memberitahukan kepada yang bersangkutan apa tidak . Betapa kecewanya   

Selasa, 06 Agustus 2019

Teringat test event Asian Games 2018

Jakarta, 7 Agustus 2019 , Semenjak tidak duduk dalam kepengurusan PP Pelti ( 2012), AFR sudah berkomitmen tetap konsisten menjalankan turnamen khususnya junior, sehingga beberapa Pengurus Pusat Pelti bisa melihat kenyataan dilapangan tetap menggunakan tenaga AFR untuk bisa membantu. Bahkan dari Singapore yaitu SEA ParaGames Federatian juga tertarik menggunakan tenaga AFR sehingga mengundang sebagai Technical Delegate dalam acara Asean Paragames 2017 di Malaysia khusus nya Tennis.

Kemudian timbul pro dan kontra bisa mencul dari Pelti maupaun instansi terkait. bahkan Organizing Commmitte Tennis Asean Paragames 2017 Kuala Lumpur juga bertanya tanya kenapa Technical Delegate dari Indonesia tapi Indonesia tidak kirim team.

Kemudian awal tahun 2017 turut diundang duduk dalam kepanitiaan INASGOC oleh PP Pelti. Inipun muncul pro dan kontra dan berachir dengan diganti pada 15 Desember 2017 oleh PP Pelti yang baru baru terpilih karena diisukan termasuk  tim sukses kandidat lawan nya.

Teringat kembali Jakaring Sport City. Disini ada 2 masalah yang muncul yaitu test event Asian Games 2018  dan kedua MedcoEnergi Junir Champs-2 yang lalu.

Dalam persiapan test event Asian Games 2018 pada awal November 2019. Selaku Ketua Panpel adalah Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti. Muncul lah masalah, tetapi AFR disuruh mengatasi nya dengan datang duluan ke Palembang, Sehari sebelum ke Palembang saya terima WA dari Wakil Sekretaris Pengprov Pelti Sumsel yaitu tagihan sewa lapangan Stadion Bukit Asam Jakabaring Sport City sebesar Rp 200 jutaan. Wow kok dikirim ke AFR karena mengetahui Direktur Turnamen adalah AFR. Urusan Pengprov Pelti Sumsel, dikembalikan keoada Pengprov Pelti Sumsel.

Ditunjuk Oleh PP Pelti Jadi Direktur Turnamen Tidak didukung Tuan Ruanh


Palembang, 24 Juli 2019. Untuk pertama kali dalam kehidupan kami menjalankan pertandingan justru mendapatkan tantangan cukup besar, Dengan penugasan cukup besar diberikan oleh PP Pelti kepada kami dengan tim AFR Remaja Tenis untuk menjalankan MedcoEnergi Tennis Junior Champs - 2 tanggal 24 - 28 Juli 2019.

Gejala gejala akan mendapatkan hambatan sudah mulai kelihatan . Kerjasama dengan Pengprov Pelti Sumsel sudah mulai terasa dari awal. Ini akibat titik awal justru diperlihatkan oleh PP Pelti dimana tidak professional.

Suatu hari  terima WA dari Kabid Pertandingan PP Pelti yang menyatakan bahwa disetujui oleh Wakil Ketua Umum PP Pelti sebagai Direktur Turnamen dan dipersilahkan hubungi Sekretaris Pengprov Pelti Sumatra Selatan, karena dia sudah menghubunginya pertilpon Dari kata kata ini terlihat tidak tahu berorganisasi. Karena ketika diminta agar dibuat surat penujukan AFR sebagai Direktur Turnamen, dijawab tidak perlu cukup dengan tilpon saja. Mereka tidak mengerti betapa pentingnya surat penunjukkannya. Betul juga ketika info AFR ditunjuk sebagai Direktur Turnamen disampsaikan AFR kepada Sekretaris Pengprov Sumsel maka didapat jawaban, " Kami belum dapat surat penunjukan sebagai host"

Dari peristiwa MedcoEnergi Junior Tennis Champs-2 ini terima side effectnya kurang mendapatkan sambutan positip. antara lain kenapa AFR yang justru banyak mengkritik PP PELTI justru diberi kepercayaan oleh PP Pelti. Ini tidak masuk akal, Kira kira begitu, Pro kontra di Jakarta maupun Palembang sudah bermunculan.

Ini AFR anggap saja tatangan , soal ini masalah kecil karena membawa armada pelaksana sehingga tidak ada kekuatiran sama sekali hanya makan perasaan saja berdampak terhadap kesehatan, Apalagi setir mobil sendiri yang diperkirakan jalan tol sudah selesai semua Bakaeuhuni ke Palembang, ternyata belum

Selasa, 11 Juni 2019

Prestasi atau Prestise, beda beda tipis

Jakarta, 11 Juni 2019. Setiap mendekati acara Pekan Olahraga Nasional selalu disediakan wadah Pra PON karena kuota peserta PON dibatasi oleh KONI Pusat. Sehingga tidak semua daerah bisa ikuti PON tersebut. Pekan Olahraga Nasional (PON) awalnya bertujuan untuk mempersatukan bangsa Indonesia. Ini awalnya karena saat pertama kali dikota Solo 1949, Indonesia masih suasana pasca kemerdekaan dan masih amburadul.

Jika tujuannya masih seperti dulu maka yang jadi pertanyaan sekarang apakah prestasi dimasukkan dalam tujuan PON saat ini setelah Indonesia telah menjalani Pekan Olahraga Nasional ke 19 kalinya, dan telah merayakan kemerdekaan RI ke 73.

Akibatnya saat ini PON sudah bukan lagi menjadi ajang prestasi lagi karena sudah menjurus ajang PRESTISE belaka. Bahkan pernah saat itu salah satu Gubernur diluar Jawa menyatakan sebaiknya PON itu dibubarkan saja, karena sudah tidak dibutuhkan lagi. Saat ( 2002-2012) itu saya sepakat dengan pendapat beliau, karena khusus tenis frekuensi turnamen di Indonesia cukup baik.

Muncul masalah Keabsahan atlet PRA PON 2019


Jakarta, 11 Juni 2019. Sebagai tindak lanjut dari pengumuman peserta Pra PON/PON 2020, maka ada beberapa Pengprov Pelti yang telah ajukan surat protes ke PP Pelti dan oleh PP Pelti telah disiapkan wadah yang akan mengatur yaitu tim keabsahannya.


Dari keputusan tim keabsahan maka ada yang dipenuhi protesnya dengan akibat daerah tersebut harus mengganti personalianya yang dianggap tidak berhak ikuti Pra PON ataupun PON mendatang.

Melihat dari Technical Hadbook yang dikeluarkan oleh PP Pelti tentunya mengacu kepada technical handbook untuk PON sendiri. Salah satu klausul yang sering kali dipupakan adalah masalah perpindahan atlet. Karena akibat pembinaan yang timpang di Indonesia, maka salah satu cara yang efisien dan efektip adalah transfer atlet dari daerah (mayoritas) Jawa kedaerah diluar Jawa.  

Yang harus ditelusuri lagi adalah surat perpindahan atlet sesuai ketentuan mutasi yang dikeluarkan oleh KONI Pusat tahun 2016 lalu. Yang jadi pertanyaan apakah ada atlet yang tanpa mengunakan surat perpindahan sesuai ketentuan mutasi KONI bisa lolos karena tidak diketahui oleh daerah lainnya. Harus bisa dimakulumi karena saat ini banyaknya muka muka baru di Persatuan Tenis seluruh Indonesia (PELTI) ditingkat provinsi sehingga belum atau tidak bisa mengenal atlet yang digunakan oleh daerah lainnya. Tetapi ada yang tahu (bahkan sudah ajukan surat protes ke PP Pelti) kalau atlet daerahnya digunakan daerah lainnya. Bagaimana nasib yang dialami oleh atlet yang menyalahi aturan mutasi ini tapi tidak diketahui daerah lainya.? Apakah ada ? Kalau melihat materi atlet yang ada, kecenderungan ada kasus seperti ini.