Kamis, 28 Mei 2009

Apa Yang Diperlukan Atlet Tenis

Jakarta, 28 Mei 2009. Apa yang diperlukan seorang atlet tenis ? Ini pertanyaan muncul dengan makin banyaknya kegiatan maupun dukungan orangtua terhadap putra dan putrinya yang berkiprah dipertenisan nasional. Memang perlu juga diketahui masyarakat tenis sehingga tidak perlu muncul kekecewaan terhadap dunia tenis Indonesia yang penuh dengan berbagai macam intrik.
Saya, mencoba berbagi pengalaman dan pengetahuan selama ini berkecimpung di tenis Indonesia. Walaupun bukan pakar dalam pembinaan atlet tenis.

Secara umum yang sangat dibutuhkan sorang atlet tenis adalah sarana latihan, pertandingan. Didukung pula dengan pelatih maupun fasilitas latihan sebagai pendukungnya seperti gizi dan kesehatan. Pokoknya harus melibatkan multi disiplin. Disamping itu pula pengetahuan tentang tenis juga sangat dibutuhkan sekali. Pengetahuan IT sangat mendukung semua kegiatannya, karena melalui dunia IT ilmu pengetahuan baik pertenisan bisa diikutinya sebagai referensinya.
Kembali ada pertanyaan dari kebutuhan atlet tenis diatas adalah siapa yang bertanggung jawab. Secara umum tentunya yang bertanggung jawab adalah atlet yang didukung oleh orangtuanya . Dimana peranan induk organisasinya seperti Pelti. Dalam hal ini saya bukannya mau membela diri selaku salah satu anggota pengurus pusat Pelti. Tapi harus diketahui sekarang kalau Pelti hanya sebagai fasilitator, regulator. Bukannya eksekutor. Jadi beban semua dilimpahkan kepada orangtua, atlet maupun klubnya.Jangan lupa sebagai ujung tombak pembinaan adalah Klub.

Kembali kepada pertanyaan pertama, apakah yang dibutuhkan seorang atlet. Bagi pemula atau anak anak, awalnya yang harus dipikirkan adalah bagaimana upaya agar anak anak itu mulai menyenangi olahraga tenis. Karena selama ini banyak petenis itu berasal dari keluarga tenis dimana orangtuanya suka bermain tenis. Yang jadi masalah adalah jika orangtuanya tidak bermain tenis. Dan harus diperhatikan justru yang berkeinginan anak main tenis datangnya dari orangtua, bukan sebaliknya. Ini sangat penting. Cara untuk membuat anak anak tertarik main tenis itu banyak ragamnya.

Nah, jika sudah mulai tertarik main tenis, harus dipikirkan juga sarana latihannya. Sebaiknya adalah ikuti sekolah sekolah tenis, bukannya private training. Mungkin ada yang bisa private training asalkan orangtuanya pelatih tenis.
Dengan masuk sekolah tenis, maka ada anak tersebut bisa bersosialisasi dengan teman teman sebayanya. Mulailah ada kerjasama, , kompetisi sehat dll.
Sekarang mencari sekolah tenis yang baik. Khususnya di Jakarta sudah banyak sekolah tenis bertebaran. Di Jakarta Pusat , Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, Jakarta Barat. Begitu juga disetiap kota memilikinya yang selama ini dikelola oleh pelatih2 tenis.
Saya menganjurkan memilih sekolah tenis yang dekat dengan rumahnya. Karena hidup di Jakarta terkenal dengan macetnya membuat waktu terbuang dalam perjalanan dari rumah ke tempat latihan. Bahkan ada yang dijemput dari sekolah dengan siapkan segala peralatan dan makan siang anak langsung ke tempat latihan. Bisa dibayangkan anak2 bisa saja merasa tersiksa walaupun naik mobil ber AC, akibatnya tertidur di mobil setelah makan siang. Kemudian cari sekolah tenis yang ada program yang jelas. Ada pelatih berkualitas, ada fasilitas latihannya dll.
Tetapi khususnya anak anak, saya tetap berpendapat agar anak anak masih sekolah formal. Memang banyak yang saya lihat ikuti home scholling istilahnya. Apakah keuntungan kalau sekolah formal. Masa anak anaknya masih tetap terpelihara, sehingga tidak membosankan hidup hanya sekitar pertenisan saja. Etika bisa terbentuk dalam sekolah formal disamping dari dalam rumah sendiri juga dididik orangtua sendiri masalah etika. Pengamatan saya, banyak atlet tenis yunior yang tidak sekolah menunjukkan kurang mengenal etika dalam pergaulannya. Ini hal sepele menurut segelintir orang tetapi menurut pendapat saya pribadi ini bukan hal sepele, tetapi lebih mendasar. Sebagai contoh berdasarkan pengalaman selama ini, jika memasuki kantor Pelti (paling banyak atlet yunior) tidak ada sopan santunnya. Tanpa kulonuwun langsung masuk tanpa mengucapkan selamat pagi/siang/sore padahal yang kerja di kantor Pelti itu semuanya sudah menjadi orangtua alias sudah berumah tangga. Ada juga orangtua berperilaku sama dengan anaknya. Ini mah lain lagi, tapi memang ada. (berlanjut)

Totok Gani Ingin adakan TDP di Solo

Jakarta, 27 Mei 2009. Keinginan selenggarakan turnamen nasional atau dikenal sebagai TDP datang juga dari rekan2 di Solo. Kedatangan Totok Gani rekan dari Solo telah menyampaikan keinginan selenggarakan turnamen di GOR Manahan Solo.
Saya sendiri menyambut baik keinginannya selenggarakan turnamen yunior. Apalagi Totok bisa mendapatkan sponsor di Solo membuat lebih mudah menjalankannya.Langsung diterangkan isi perut suatu turnamen tenis mulai dari pembeayaannya dari sewa lapangan, bola, tenaga pelaksana seperti ballboys, wasit, referee, tournament desk dan kebutuhan kebutuhan sponsor.
Saya juga ceritakan kalau akan selenggarakan turnamen nasional lebih sering di GOR Manahan bekerjasama dengan Anna Supriyadi dan Irsyad, karena kedua rekan ini juga tertarik selenggarakan kegiatan kegiatan turnamen di GOR Manahan.
Sekarang kita tunggu saja relaisasinya jika bisa dilaksanakan oleh Totok Gani sehingga kegiatan turnamen maki semarak di Indonesia dan bukan hanya milik satu dua orang saja. Segala ilmu tentang turnamen saya kemukakan saja kepada siapa saja yang berkeinginan selenggarakan turnamen karena merupakan kebutuhan atlet tenis

Rabu, 27 Mei 2009

Naik LEXUS ketemu Konglomerat Media

Jakarta, 26 Mei 2009. Menikmati kendaraan berharga diatas Rp 2 miliar tentunya merupakan impian setiap insan. Saya, kemarin mendapat kesempatan duduk didalamnya padahal mobil LEXUS ini sering dilihat tanpa duduk didalamnya. Sayangnya tidak bisa merasakan nikmatnya kendaraan mewah tersebut.Kok bisa begitu kalau cerita sama orang lain.

Rencananya ketemu konglomerat media Eric Tohir sehingga wajar kalau datang dengan mobil LEXUS tersebut. Bersama dengan Ketua Umum PP Pelti dan juga Wakil Bendahara PP Pelti Zandra Darmawan, saya diajak untuk ikut ketemu konglomerat media di Hotel Ritz Carlton Senayan.
Dari Senayan menuju ke kantor KONI Pusat lantai 10 bertemu dengan anggota Komite Olimpiade Indonesia yang menunggu Wakil Sekjen KOI Martina Widjaja sebagai persiapan Olympic Day yang waktunya bersamaan dengan Pekan Olahraga Nasional Tenis tanggal 27 Juni 2009.

Setelah itu berangkat ke Hotel Ritz Carlton yang jaraknya cukup dekat karena letaknya dibelakang kompleks POLDA Metro dibunderan Semanggi. Ternyata perjalanan makan waktu 45 menit.
Menikmati 45 menit seperti cukup puas bisa menikmati kendaran Rp 2 miliar ini, tetapi ternyata tidak juga karena akibat macet dijalur lambat jalan Sudirman sehingga tidak bisa menikmati bagaimana keistimewaan mobil Lexus tersebut. Memang ada pendingin mobil itu wajar wajar saja, audio system dan juga TV.
Apa sebab dikatakan belum bisa menikmati keistimewaan mobil mewah ini. Jikalau mau merasakan enaknya mobil mewah tentunya kalau ada kesempatan mengemudi sendiri dijalan tol. Sehingga bisa mencoba lajunya mobil. Bukan seperti saat ini dalam waktu 45 menit duduk disamping sopir karena semua ada 3 penumpang, dan jalannya sama saja dengan mobil lainnya . Karena bisa dibayangkan kalau mobil maju 1 meter berhenti, maju lagi 1 meter kemudian berhenti lagi kalau ada tempat lowong didepannya.

Ya, begitulah bisa dikatakan oleh Tukul, dasar katrok deh !

Senin, 25 Mei 2009

Kenapa TDP minim peserta ?


Jakarta, 25 Mei 2009. Sempat muncul setengah protes datang dari rekan Amin Pujanto masalah TDP atau kejuaraan / turnamen nasional yang berlangsung akhir akhir ini cukup marak tetapi dianggapnya tidak layak sebagai TDP.Keluhan ini disampaikan akhir tahun 2008 lalu. Karena melihat hasil TDP disalah satu kota diluar Jakarta waktu itu. Pemahaman TDP masih belum semua pihak memahaminya. Satu sisi memandang perlunya kuantitas bukannya kualitas. Saya pribadi memang lebih cenderung akan kuantitas dulu baru kemudian jika sudah berjalan maka secara tidak langsung menuju ke kualitas. Karena pengamatan saya selama ini banyak daerah masih membutuhkan turnamen, tetapi pelaku pelakunya didaerah belum tahu mau start dari mana.
Memang ada yang sudah membutuhkan kualitas tetapi menurut saya sendiri masih banyak petenis yang sangat membutuhkan kesempatan menikmati turnamen sehingga lebih cenderung kepada kuantitas.
Masalah apa yang timbul sehingga timbul pertanyaan dari rekan saya tersebut. Karena melihat jumlah peserta yang sangat minim sudah dianggap tidak sesuai lagi dengan sebutan TDP. Misalnya peserta tersebut kurang dari 8 peserta disetiap event (jenis pertandingan), karena dalam aturan TDP untuk mendapatkan PNP (Peringkat Nasional Pelti) disebutkan minimal 8 peserta dianggap layak bertanding.

Yang jadi pertanyaan adalah masalah minimnya peserta, kenapa demikian. Seperti yang terjadi di Jakarta, minimnya peserta RemajaTenis-2 sehingga oleh penyelenggara diundurkan saja agar nama TDP bisa dipertahankan sebaik mungkin. Ini cara cukup bijaksana. Alasan Lucky Mosal selaku Direktur Turnamen mengatakan agar menjaga citra TDP dimata masyarakat tenis. “Sebagai pelaku tenis, kita tidak boleh merusak citra TDP yang dengan susah payah diciptakan oleh Pelti.” ujar Sinyo panggilan sehari-hari Lucky Mosal.

Kenapa sampai minim peserta.? Saya melihat karena minimnya promosi sehingga turnamen tersebut belum diketahui oleh petenis yunior maupun orangtua dan pelatih. Bisa juga pemilihan waktu turnamen sebagai penyebab gagalnya peserta. Iming iming apapun tidak akan mempan disituasi seperti ini.
Bulan Mei dan Juni merupakan bulan yang sangat sibuk bagi petenis yunior. Ada kegiatan O2SN baik antar SD maupun SMP, sehingga atlet yunior lebih cenderung ikuti seleksinya maupun kegiatan tersebut yang biasanya dilakukan di Ibukota Provinsi.
Begitu juga jika dilakukan diluar Jawa, menunjukkan daerah tersebut kurang pembinaan petenis yuniornya. Kenapa bisa minim petenis yunior , karena menurut saya karena kurang kegiatan turnamen yunior ditempat tersebut, sehingga disaat mau diangkat ketingkat nasional terpaksa diundanglah petenis dari Jakarta kedaerah tersebut. Idea ini cukup baik kalau bicara soal pembinaan tetapi kurang jeli melihat kekuatan pasarnya jika lihat dari strategi marketing. Akibatnya kembali kepada finansialnya yang akan berteriak. Nah, sekarang apakah semua orang mau jadi sinterklaas, tentunya TIDAK. Janganlah lupa kalau tujuan buat turnamen adalah mencari keuntungan finansial sehingga bisa berlangsung langgeng dan konsisten disaat krisis ekonomi melanda kita semua.
Saya sendiri tidak terlalu gegabah jika hendak memasarkan TDP didaerah daerah khususnya luar Jawa. Selain ada lapangan tentunya juga harus ada atletnya sendiri yang memadai. Jika belum dapat gambarannya maka diawali saja dengan Persami. Ini anjuran yang bijak , agar sedikit hati hati dalam memasarkan turnamen didaerah daerah. Tetapi saya wajib hukumnya harus berterima kasih juga jika ada rekan rekan kita yang mau jadi sinterklaas didaerah daerah
.

Perlu Dialog Capres dengan Masyarakat Olahraga

Jakarta, 25 Mei 2009. Saya menonton pertunjukan yang ditayangkan melalui televisi yang sangat getol menyorotin masalah politik di Nusantara ini terutama dalam debat Capres kita mulai dari JK kemudian SBY dan Megawati, agak kuatir juga karena semua dengan semangat tinggi untuk meyakinkan masyarakat Indonesia agar masing masing programnya yang terbaik agar bisa dipilih kembali menduduki jabatan Presiden Republik Indonesia. Masalah pokok adalah masalah Ekonomi.
Tidak ada satupun yang bertanya ataupun menyinggung masalah olahraga kita. Karena olahraga masih dipandang sebelah mata saja. Akibatnya tahu sendiri prestasi olahraga Indonesia jangan diharapkan bisa melejit karena kurangnya perhatian penuh dikalangan petinggi Republik Indonesia.

"Masih adakah Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dimasa mendatang ?" ini pertanyaan yang wajar akan datang dari praktisi olahraga Indonesia. Teringat sudah dimasa pemerintahan dipimpin oleh Gus Dur dan Megawati , Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga dihilangkan, masuk kedalam Departemen Pendidikan. Hampir pasti rekan rekan praktisi olahraga lainnya berpikiran yang sama dengan saya. Kekuatiran selalu muncul diakhir masa kepemerintahan. Upaya telah dilakukan oleh Menegpora saat ini agar dimasa mendatang ada peningkatan Kemengpora menjadi suatu Departemen sendiri.

Sehingga, saya anggap perlu juga dilakukan dialog seperti dilakukan oleh KADIN terhadap Calon Presiden, khususnya dengan masyarakat olahraga sehingga masyarakat olahraga bisa juga menentukan siapa pemimpin negara kita ini.
Yang jadi pertanyaan sekarang siapa yang mau jadi sponsornya ! Seharusnya ada keberanian datang dari masyarakat Olahraga sendiri.

Gagasan Fiesta Pacific di Sulut

Jakarta, 23 Mei 2009. Bertemu diacara HUT salah satu keluarga di Tebet, Harry Kawilarang tokoh media yang cukup senior yang kebetulan masih ada hubungan famili cukup menarik dan menyadarkan tentang kecintaan terhadap Sulawesi Utara sebagai bagian dari negeri tercinta Indonesia.
"Apa yang saya bisa lakukan untuk Sulawesi Utara." pertanyaan ini sengaja dilemparkan kepada Harry Kawilarang yang cukup kocak dalam pembicaraan sehari hari yang kadang kala cukup serius dalam membaca situasi sekelilingnya. Begitulah profil seorang wartawan senior Suara Pembaruan yang termyata langkahnya diikuti putra tercinta Renee Kawilarang dimata August Ferry Raturandang.

Memang diakuinya jika terlalu mendambakan kepedulian dari dalam sendiri seperti dari Pemerintah Daerah Sulawesi Utara kurang mendapatkan porsi sedikitpun. Hal ini sudah pernah dilemparkan dalam FB group Pemerintahan Sulut, telah mencoba berikan masukan kepada Pemda Sulut dibawah pimpinan Gubernur Sinyo Harry Sarundayang yang sebenarnya masih ada keterikatan famili dari keluarga Ratumbuysang.
Tetapi selaku praktisi olahraga melihat selama ini Pemerintah Indonesia termasuk Pemda kurang ada perhatian lebih terhadap dunia olahraga. Padahal Olahraga merupakan wadah yang bisa mengangkat citra dan martabat bangsa disaat situasi krisis seklaipun. Bisa dilihat betapa kecilnya anggaran di Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga R.I. Akibatnya peranan Pemerintah sesuai dengan Undang Undang R.I. tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional seharusnya ikut bertanggung jawab dengan olahraga sehingga olahraga mendapatkan porsi yang lebih baik lagi.

Kembali kepada Sulawesi Utara, sempat tercetuskan juga agar diadakan pertandingan olahraga yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat kecil di Sulawesi Utara. Diakuinya oleh August Ferry Raturandang tahun 2009, kota Manado kehilangan 2 turnamen internasional yang sudah didaftarkan ke ITF tetapi kembali dibatalkan karena ketidak adaanya dana cukup yang bisa menopang kegiatan tersebut. Disatu sisi Pemerintah sedang menggalakkan Visit Indonesia year tetapi melupakan salah satu event olahraga internasional didepan mata sudah jelas datangkan atlet asing ke Indonesia dipandang sebelah mata saja.

Timbulah ide dimasa mendatang agar diadakan Fiesta Pacific dengan Trilathon yang cukup dikenal dengan 3 jenis olahraga yaitu lari kemudian berenang dan akhirnya balap sepeda. Idea brilian ini tentunya sangat menguntungkan masyarakat Sulut karena ini olahraga yang bisa diikuti oleh masyarakat Sulut.
Yang menjadi masalah adalah dana, tentunya tidak bisa diharapkan dari Pemderintah Daerah Sulut. Nah, kemana kita harus mencarinya.
Ada pemikiran mencari dana dari Luar Negeri. Tetapi keterbatasan August Ferry Raturandang dengan LSM diluar negeri tentunya meruapakan kedala. Kalau bisa tenis dengan pihak luar negeri bukanlah masalah, tetapi menarik dana dari LSM diluar negeri merupakan kesulitan sendiri. Nah, siapa yang bsia bantu !

Jumat, 22 Mei 2009

Internet adalah Kebutuhan Atlet


Jakarta, 22 Mei 2009. Kalau Turnamen adalah kebutuhan seorang atlet maka sekarang ada tambahan lagi dari kebutuhan kebutuhan seorang atlet tenis. Yaitu INTERNET adalah kebutuhan. Kenapa demikian ?
Di era sekarang ini segala urusan tenis melalui internet. Cari informasi turnamen seperti waktu, tempat, dan pendaftaran maupun penutupan pendaftaran semua bisa dilihat melalui internet dengan mengakses situs resmi turnamen ataupun institusi tenis di Indonesia maupun dunia. Begitu juga kewajiban mencari tahu apakah pendaftarannya sudah diterima atau belum dengan melihat daftar nama2 peserta yang didapat melalui internet. Begitu juga ingin tahu mengenai turnamen turnamen lainnya dan juga peringakatnya. Semua ini bisa dilakukan di rumah atau keluar sedikit ke Warnet. Cepat dan efisien .Menjamurnya situs situs yang membahas tenis juga sangat membantu seperti www.pelti.or.id, www.remajatenis.blogspot.com dll.


Apakah masalah komunikasi masih merupakan kendala di era reformasi ini ? Jawabannya adalah tidak juga, karena di Nusantara ini semua komunikasi bisa dilakukan baik melalui telpon maupun telpon seluler dan juga internet yang sudah bisa dijangkau hamper seluruh Indonesia.

Khususnya internet , pengalaman August Ferry Raturandang jalan jalan ke luar kota Jakarta sepertinya tidak alami kesulitan jika mengakses internet, karena seluruh kota sudah ada warnet. Adanya IM2 bersama laptopnya juga sangat membantu berhubungan dengan internet . Bisa juga menggunakan telpon seluler.

Atlet tenis Indonesiapun saat ini sudah sangat familiar dengan internet. Ada yang memilikinya dirumah masing masing tetapi ada juga yang berupaya melalui warnet. Hal yang sama bisa dilihat jika ada turnamen internasional, hampir semua atlet membawa laptop untuk berkomunikasi keluar. Bagi atlet tenis di era sekarang ini internet adalah kebutuhan selain turnamen. Jika ingin go international maka sudah harus memiliki email. Kenapa ?. Karena semua pendaftaran turnamen selalu menggunakan internet. Mulai dari harus memiliki IPIN ( International Players Identification Number ) yang pendaftaran langsung ke ITF dengan memiliki email. Memasuki ke kelompok umum pun pendaftaran ke ITF langsung memalui internet. Dengan mewabahnya Facebook , terlihat banyak juga atlet tenis sudah keranjingan FB ini.

Hal yang sama seharusnya juga dirasakan bagi pelaku pelaku tenis dilapangan. Orangtua petenis juga sudah menyadari atas kebutuhan informasi ini. Bisa melihat berita tenis bukan hanya dari Koran Koran lokas dan nasional tetapi bisa diikuti juga setiap hari di internet. Sudah banyak situs situs tenis yang berada di dunia maya ini.

Sekarang terpulang kembali kepada pelaku pelaku tenis, apakah mau mengikutinya atau kembali dengan cara lama yang makan waktu, beaya yang juga cukup besar.

Rabu, 20 Mei 2009

Daerahpun banyak masalah


Jakarta, 18 Mei 2009. Terima berita dari Surabaya melalui rekan Johannes Susanto Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti masalah turnamen UFO ke 2 di Surabaya. Sudah disadarinya kalau saat ini tdak semua pengurus PELTI khususnya didaerah daerah mengenal tentang aturan aturan yang sudah baku sejak 1990 khususnya tentang Turnamen Diakui Pelti. Kenapa ? Karena saat ini banyak muka muka baru yang dikenalnya duduk dalam kepengurusan Pelti ditingkat provinsi maupun kotamadya/kabupaten. August Ferry Raturandang pertama kali melibatkan diri dalam kepengurusan Pelti di tingkat Pusat tahun 1988 banyak mengenal rekan rekan di Pelti daerah. Bahkan banyak pula yang baru mengenal olahraga tenis sebagai salah satu hobinya sehari hari. Sehingga muncullah birokrasi yang dilakukan seperti dalam pekerjaan sehari hari dari pengurus yang mayoritas adalah kerja di Pemerintahan Daerah setempat, ataupun instansi pemerintah lainnya.

Saat ini ada masalah yang muncul disaat panitia UFO Junior Open berkeinginan untuk bertemu dengan Pengurus Pelti Kota Surabaya justru mendapatkan sambutan kurang menyenangkan, sehingga langsung konsultasi ke Johannes Susanto maupun August Ferry Raturandang. Hal yang sama terjadi disaat pertama kali August Ferry Raturandang menrintis bersama sama Freddy Tedja, Pudji Haripin, Poedji Harianto sebagai orangtua petenis dan UFO Electronic sebagai sponsor kegiatan.
Kali ini dari Pengkot Pelti Surabaya dimintakan untuk presentasi kegiatan tersebut dengan anggota pengurus Pelti Surabaya. Harus dijelaskan maksud dan tujuannya dan lain lain. Ini yang membuat kebingungan bagi penyelenggara yang sudah berkeinginan dan komit akan selenggarakan 7 kali turnamen dalam tahun 2009.

Oleh August Ferry Raturandang, disampaikan agar dibuatkan surat pemberitahuan saja kepada mereka dan jikalau bertemu maka langsung serahkan surat tersebut dan ceritakan saja rencana kerjanya Panitia terhadap turnamen tersebut.

Yang jadi masalaha adalah timbul kesan seolah olah akan dipersulit dan sepertinya harus minta ijin kepada Pelti Surabaya. Ini yang harus diluruskan sehingga anggota pengurus Pelti didaerah harus mengerti dulu dengan ketentuan ketentuan yang sudah dibuat oleh Pelti sendiri. Tidaklah heran ketidak tahuan mereka atas kebijakan kebijakan PP Pelti selama ini dalam menangani turnamen turnamen nasional. Dan lebih penting lagi kebutuhan atlet terhadap turnamen suka diabaikan. Inilah masalahnya.
Saat PP Pelti sedang mempromosikan ke daerah daerah agar membuat Turnamen Nasional sebaiknya tidak dihambat oleh birokrasi yang diciptakan oleh Pelti setempat.

Sewaktu August Ferry Raturandang hendak selenggarakan Turnamen Persami Piala Ferry Raturandnag, mendapatkan SMS dari Sunoto Wakil Ketua Pengprov Pelti Jawa Tengah yang mengatakan terima pertanyaan berupa SMS dari Pengkot Pelti Solo tentang apa tugas yang Pelti dalam pelaksanaan Persami Piala Ferry Raturandang tersebut. setelah menerima berita rencana Persami Piala Ferry Raturandang. Begitu juga SMS datang langsung dari Ketua Pengkot Solo menanyakan apa tugas Pengkot Pelti Solo. Jawaban August Ferry Raturandnag hanya tolong didukung dan informasikan kepetenis Solo saja. Hal ini positip saja bagi August Ferry Raturandang setelah menerima SMS tersebut, mungkin ingin membantu juga tapi masih malu malu.

Dalam bulan ini beberapa kejadian didaerah yang justru menghambat kinerja Pelti Provinsi. Ada kejadian dimana sponsor ingin bertemu Ketua Pengprov Pelti tetapi harus ajukan permohonan dulu dan ditentukan waktunya. Tidak mau terima kalau hanya per tilpon. Begitu juga setelah pengurus dikantik dengan meriah, untuk adakan rapat saja sudah sulit sekali sehingga berbulan bulan kepengurusan tersebut belum lakukan rapat pleno, karena Ketuanya belum ada waktu. Inilah dia repotnya Ketua Pelti didaerah daerah. Jadi, tahu sendiri gimana nasib pertenisan didaerah tersebut.
Pekan Olahraga tenis nasional 2009 merupakan test case bagi tenis didaerah. Berapa banyak Pelti Provinsi yang akan berpartisipasi. So pasti hanya 50 % saja !