5 Juni 2008. Memenuhi undangan dari Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bapenas) hari ini dalam forum diskusi penyusuan RPJM 2010-2014 Bidang Pemuda dan Olahraga yang sebagai pembicara tokoh teknokrat olahraga seperti Prof.Drs. Toho Cholik Mutohir MA,Ph.D, Prof Imam Suyudi, Dr.Taufk Yudi Mulyanto, Dr. Tandyo Rahayu, Dr.Mulyana cukup pusing karena terlalu sibuk dengan teori2 yang sangat menarik tetapi belum tentu bisa diterapkan didalam kehidupan berolahraga.
Oleh Prof. Toho Cholik Mutohir dengan judul Identifikasi Permasalahan, Peluang dan Tantangan Keolahragan 5 tahun mendatang disebutkan adalah permasalahan Sistem Manajemen Keolahragaan,Pemasalahan rendahnya Akses dan Partisipasi.
Mengenai permasalahan sistem manajemen keolahragaan, disebut kurang efektif dan efisiennya sistem manajemen keolahragaag dapat diidentifikasi dari berbagai faktor penyebab antara lain, pendanaan bidang keolahragaan sangat terbatas, kebijakan pembangunan olahraga belum integratif, faktor tenaga keolahragaan yang kurang memenuhi standar, dan organisasi kelembagaan yang menangani olahraga belum mantap.
Begitu pula nilainya partisipasi masyarakat hanya 42,2 % sedangkan 57,8 % tidak ikut berpartisipasi. Sistem pemanduan dan pengembangan bakat belum berjalan efektif karena faktor faktor belum adanya tes standar yg digunakan. Disamping itu pula prasarana dan sarana olahraga didalam pengelolaan masih belum tertata secara baik. Begitu pula tenaga keolahragan yangs angat terbatas baik jumlah maupun mutunya sangat mempengaruhi pembinaan dan pengembangan keolahragaan.
Kompetisi tingkat nasional dan interasional sangat dibutuhkan, sayangnya belum tertata dan berjalan secara teratur, dan berjenjang dan berkelanjutan.
Sistem informasi, media dan promosi belum mendukung sport intelligence. Untuk menghasilkan kinerja/prestasi dalam bidang jeolahragaan memerlukan informasi yang akurat, lengkap dan dapat diakses setiap saat.
Industri olahraga belum terbina dengan efektif, tumbuhdengan lamban. Kegiatan olahraga sebagai bisni dalam bentuk produk barang dan jasa belum disadari dan diapresiasi dan dikelola dengan baik oleh masyarakat dan kalangan industri.
Standardisasi, Akreditasi dan Sertifikasi belum dapat berjalan efektif seperti yang diharapkan karena beberapa faktor belum adanya pedoman penerapan standardisasi, akreditasi dan sertifikasi kelembagaan yang diamanatkan dala UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional.
Doping dalam Olaharag belum tersosialisasikan ke seluruh masyarakat olahraga. Akibatnya belu dipatuhinya CODE anti doping, dan belum dipahaminya bahaya doping bagi kesehatan, keselamatan olahragawan dan kemurnian nilainilai luhur olahraga.
Dalam diskusi ini disampaikan pertanyaan maupun himbauan August Ferry Raturandang selaku praktisi olahraga, masalah pendidikan jasmani akhir akhir ini terabaikan. "Coba kita semua mengingat masa lalu sewaktu masih di Sekolah Rakyat (SR) atau Sekolah Dasar (SD). Olahraga yang diberikan adalah atletik. Saya tidak belajar tenis disekolah karena ini kemauan orangtua saja. Disekolah pelajaran olahraga adalah ke lapangan dan latihan lari, lompat dan lempar." ujar August Ferry Raturandang. Selanjutnya disampaikan kalau selama ini kalau berbicara olahraga dalam forum forum remi selalu ditekankan kepada perebutan medali, bukan prestasi, apalagi masalah grass root yang sebagai fondasi olahraga yang paling kuat. Berbagai keadaan gagalnya medali emas atau juara umum dalam multi event, tapi lupa kalau masalah grass root tersebut. "Untuk itu kami mohon Pemerintah agar pendidikan jasmani lebih mendapat perhatian. Semua itu porsi dari Departemn Pendidikan Nasioanal."
Disamping itu pula saat ini olahraga bagi anak anak bagaikan momok karena sudah tidak ada unsur FUN. Anak anak agar bisa berolahraga lebih ditekankan masalah FUN dulu, baru bisa mengenal cabang olahraga yang diinginkan. Bukan sebaliknya.
Sedangkan hadirnya UU Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional sudah memasuki tahun ketiga. Tetapi dalam perjalanannya masih saja banyak lapangan olahraga dibabat menjadikan peruntukan lainnya seperi bangunan bangunan. seperti dicantumkan dalam UU Nomor 3 Tahun 2005 tidak jalan.
Kamis, 05 Juni 2008
Rabu, 04 Juni 2008
Penting Bagi Penderita Kencing Manis
4 Juni 2008. Penyakit kencing manis atau bahasa keren-nya diabetes melitus banyak diidap orang Indonesia. Seorang penderita diabetes melitus memiliki kadar gula dalam darah yang tinggi sehingga si penderita harus hati-hati dalam menerapkan pola makan. Dokter pun sering menganjurkan agar penderita disiplin dalam mengonsumsi obat, berdiet, dan melakukan olahraga, serta menjauhi stres. Banyak memang obat yang beredar di pasaran untuk
mengobati diabetes tersebut, namun sering harganya mahal karena bahan-bahannya haruslah diimpor. Bagaimana mau menjauhi stres jika untuk membeli obat yang harganya selangit saja susah.
Beruntung, kini telah ditemukan obat yang murah meriah dan dapat diperoleh dengan mudah. Di pasar-pasar tradisional yang becek ketika hujan dan penuh debu saat musim kemarau, "obat" ini bisa dengan mudah didapatkan. Di supermarket-supermarket pun ada, tapi kalau mau lebih murah memang lebih baik memilih di pasar tradisional. Kalau malas bepergian, kita cukup menunggu tukang sayur yang lewat depan rumah.
Lalu "obat" apa yang murah meriah itu?
Buncis. Ya, tepat. Tanaman yang buahnya mirip kacang panjang,
tapi lebih pendek dan gemuk itu ternyata mampu mengobati penyakit diabetes melitus. Hal tersebut terungkap dalam disertasi Yayuk Andayani, yang telah mempresentasikan penelitiannya berjudul "Mekanisme Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Buncis pada Tikus Diabetes dan Identifikasi Komponen Aktif" untuk memperoleh gelar doktor di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, beberapa waktu lalu.
Dalam penelitiannya, Yayuk menggunakan tikus putih sebagai binatang percobaan. Tikus putih berusia tiga bulan itu oleh Yayuk diberi perlakuan induksi diabetes. Artinya, "dengan sengaja" si tikus putih dibuat mengidap diabetes melitus. Sebelum diinjeksi dengan diabetes, tikus tersebut telah diberi ekstrak buncis. Ternyata dalam waktu 30 menit setelah "dengan sengaja" dibuat menderita diabetes, tekanan gula darah tikus-tikus percobaan kembali normal, tanpa mengalami penurunan pada tingkat hipoglikemik (di bawah kadar gula normal-red.).
Timbul pertanyaan, apa sih "kesaktian" buncis sehingga hanya dalam waktu setengah jam bisa menurunkan kadar gula dalam darah hingga batas normal. Berdasar analisis Yayuk, di dalam buncis terkandung zat yang dinamakan B-sitosterol dan stigmasterol. Kedua zat inilah yang mampu meningkatkan produksi insulin.
Insulin adalah suatu hormon yang dihasilkan secara alamiah oleh tubuh kita dari organ tubuh yang dinamakan pankreas. Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Seseorang mengalami diabetes melitus bila pankreas hanya sedikit menghasilkan insulin atau tidak mampu memproduksi sama sekali.
Ternyata dua zat tadi mampu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulinnya.
Selain dua zat tadi, Yayuk memperoleh data bahwa dari 100 gram ekstrakbuncis terkandung karbohidrat 7,81 persen, lemak 0,28 persen, protein 1,77 persen, serat kasar 2,07 persen, dan kadar abu 0,32 persen.
Bagi dunia kedokteran dan farmasi, penemuan Yayuk ini tentu bisa dijadikan referensi untuk membuat obat diabetes dengan mengekstrak buncis. Tentunya banyak keuntungan yang diperoleh, terutama bagi masyarakat, karena obat diabetes akan lebih murah dan mudah didapat dengan banyaknya bahan yang tersedia.
Bagi masyarakat, terobosan Yayuk itu bisa melegakan hati banyak orang pengidap diabetes melitus, khususnya mereka dari kalangan tidak mampu. Cukup membeli sayur buncis dan memakannya secara teratur, kadar gula dalam darah bisa turun. Pengolahannya pun tidak sembarangan.
Manfaat buncis lebih terasa bila dimakan sebagai lalapan. Kalau dimasak dalam bentuk oseng-oseng, dengan tambahan daging, tentunya sama saja.
Berbahagialah mereka yang kerap makan lalapan buncis. Ternyata selain manis, buncis juga bisa mencegah dan menghilangkan penyakit kencing manis. Mau coba?
mengobati diabetes tersebut, namun sering harganya mahal karena bahan-bahannya haruslah diimpor. Bagaimana mau menjauhi stres jika untuk membeli obat yang harganya selangit saja susah.
Beruntung, kini telah ditemukan obat yang murah meriah dan dapat diperoleh dengan mudah. Di pasar-pasar tradisional yang becek ketika hujan dan penuh debu saat musim kemarau, "obat" ini bisa dengan mudah didapatkan. Di supermarket-supermarket pun ada, tapi kalau mau lebih murah memang lebih baik memilih di pasar tradisional. Kalau malas bepergian, kita cukup menunggu tukang sayur yang lewat depan rumah.
Lalu "obat" apa yang murah meriah itu?
Buncis. Ya, tepat. Tanaman yang buahnya mirip kacang panjang,
tapi lebih pendek dan gemuk itu ternyata mampu mengobati penyakit diabetes melitus. Hal tersebut terungkap dalam disertasi Yayuk Andayani, yang telah mempresentasikan penelitiannya berjudul "Mekanisme Aktivitas Antihiperglikemik Ekstrak Buncis pada Tikus Diabetes dan Identifikasi Komponen Aktif" untuk memperoleh gelar doktor di kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga, beberapa waktu lalu.
Dalam penelitiannya, Yayuk menggunakan tikus putih sebagai binatang percobaan. Tikus putih berusia tiga bulan itu oleh Yayuk diberi perlakuan induksi diabetes. Artinya, "dengan sengaja" si tikus putih dibuat mengidap diabetes melitus. Sebelum diinjeksi dengan diabetes, tikus tersebut telah diberi ekstrak buncis. Ternyata dalam waktu 30 menit setelah "dengan sengaja" dibuat menderita diabetes, tekanan gula darah tikus-tikus percobaan kembali normal, tanpa mengalami penurunan pada tingkat hipoglikemik (di bawah kadar gula normal-red.).
Timbul pertanyaan, apa sih "kesaktian" buncis sehingga hanya dalam waktu setengah jam bisa menurunkan kadar gula dalam darah hingga batas normal. Berdasar analisis Yayuk, di dalam buncis terkandung zat yang dinamakan B-sitosterol dan stigmasterol. Kedua zat inilah yang mampu meningkatkan produksi insulin.
Insulin adalah suatu hormon yang dihasilkan secara alamiah oleh tubuh kita dari organ tubuh yang dinamakan pankreas. Insulin berfungsi untuk menurunkan kadar gula dalam darah. Seseorang mengalami diabetes melitus bila pankreas hanya sedikit menghasilkan insulin atau tidak mampu memproduksi sama sekali.
Ternyata dua zat tadi mampu merangsang pankreas untuk meningkatkan produksi insulinnya.
Selain dua zat tadi, Yayuk memperoleh data bahwa dari 100 gram ekstrakbuncis terkandung karbohidrat 7,81 persen, lemak 0,28 persen, protein 1,77 persen, serat kasar 2,07 persen, dan kadar abu 0,32 persen.
Bagi dunia kedokteran dan farmasi, penemuan Yayuk ini tentu bisa dijadikan referensi untuk membuat obat diabetes dengan mengekstrak buncis. Tentunya banyak keuntungan yang diperoleh, terutama bagi masyarakat, karena obat diabetes akan lebih murah dan mudah didapat dengan banyaknya bahan yang tersedia.
Bagi masyarakat, terobosan Yayuk itu bisa melegakan hati banyak orang pengidap diabetes melitus, khususnya mereka dari kalangan tidak mampu. Cukup membeli sayur buncis dan memakannya secara teratur, kadar gula dalam darah bisa turun. Pengolahannya pun tidak sembarangan.
Manfaat buncis lebih terasa bila dimakan sebagai lalapan. Kalau dimasak dalam bentuk oseng-oseng, dengan tambahan daging, tentunya sama saja.
Berbahagialah mereka yang kerap makan lalapan buncis. Ternyata selain manis, buncis juga bisa mencegah dan menghilangkan penyakit kencing manis. Mau coba?
Selasa, 03 Juni 2008
Kejuaraan Antar Panti Jompo
4 Juni 2008. Hari ini, Rabu 4 Juni 2008 terjadi percakapan singkat tetapi lucu di Senayan. Setelah latihan tenis di Senayan, Diko Moerdono, Christian Budiman dan August Ferry Raturandang sempat berbincang bincang masalah usia yang sudah tidak masuk muda lagi, karena ketiganya sudah berusia diatas 55 tahun bahkan diatas 60 tahun.
"Sekarang main tenis kelihatan bego. Beda dengan waktu masih muda sangat gesit.Jagoan lagi dan juara. Sedih deh." ujar Diko Moerdono sambil mengenang masa jaya jayanya main tenis. Kemudian disambut lagi oleh Christian Budiman, mengingat sudah tua siap siap aja masuk panti jompo. "Ya kalau anak2 masih ingat kita , karena sekarang kesibukan anak anak sangat tinggi, bisa lupa orangtuanya." ujar Christian Budiman. Disambut oleh August Ferry Raturandang , untuk siap siap masuk panti jompo. "Kita main tenis disana tapi mini tenis karena sudah tidak mampu main tenis." Akhirnya semua ketawa. Oleh Fahmi Mahbub disambut . "Jangan takut Pak, kita buat Kejurnas Panti Jompo saja." Kelihatan ini upaya mantan pengurus Pelti sehingga punya idea buat turnamen antar panti jompo.
"Bagaimana kalau kita atur kalau masuk Panti Jompo sama sama saja," ujar Christian. Bahkan dianjurkan kita buat usaha Panti Jompo sekalian untuk menampung mantan petenis Indonesia sebelum dipanggil yang Maha Kuasa. Ini idea brilian juga.
Memang harus diakui saat ini pengurus inti dari PP Pelti 2002 - 2007 maupun 2007-2012mayoritas sudah berusia diatas 55 tahun dan bahkan 60 tahun keatas.
"Bisa bisa kita mati masih menjabat di PP Pelti nih." ujar Diko Moerdono (63 th)
Anggota PP Pelti saat ini sudah saling mengenal dilapangan tenis bahkan dikejuaraan nasional tenis yunior di Malang (jl. Tenes) , Bandung (Lap.tenis pasir Kaliki) maupun Jakarta (lap. IKADA, Lap. Kebon Binatang ) Bahkan menurut August Ferry Raturandang pernah kalah bertanding di Malang lawan Diko Moerdono yang saat itu sebagai unggulan di kelompok remaja. Saat itu pembagian kelompok umur sudah berbeda dengan saat ini. Dulu menggunakan istilah kelompok anak anak, kelompok remaja, kelompok taruna.
"Sekarang main tenis kelihatan bego. Beda dengan waktu masih muda sangat gesit.Jagoan lagi dan juara. Sedih deh." ujar Diko Moerdono sambil mengenang masa jaya jayanya main tenis. Kemudian disambut lagi oleh Christian Budiman, mengingat sudah tua siap siap aja masuk panti jompo. "Ya kalau anak2 masih ingat kita , karena sekarang kesibukan anak anak sangat tinggi, bisa lupa orangtuanya." ujar Christian Budiman. Disambut oleh August Ferry Raturandang , untuk siap siap masuk panti jompo. "Kita main tenis disana tapi mini tenis karena sudah tidak mampu main tenis." Akhirnya semua ketawa. Oleh Fahmi Mahbub disambut . "Jangan takut Pak, kita buat Kejurnas Panti Jompo saja." Kelihatan ini upaya mantan pengurus Pelti sehingga punya idea buat turnamen antar panti jompo.
"Bagaimana kalau kita atur kalau masuk Panti Jompo sama sama saja," ujar Christian. Bahkan dianjurkan kita buat usaha Panti Jompo sekalian untuk menampung mantan petenis Indonesia sebelum dipanggil yang Maha Kuasa. Ini idea brilian juga.
Memang harus diakui saat ini pengurus inti dari PP Pelti 2002 - 2007 maupun 2007-2012mayoritas sudah berusia diatas 55 tahun dan bahkan 60 tahun keatas.
"Bisa bisa kita mati masih menjabat di PP Pelti nih." ujar Diko Moerdono (63 th)
Anggota PP Pelti saat ini sudah saling mengenal dilapangan tenis bahkan dikejuaraan nasional tenis yunior di Malang (jl. Tenes) , Bandung (Lap.tenis pasir Kaliki) maupun Jakarta (lap. IKADA, Lap. Kebon Binatang ) Bahkan menurut August Ferry Raturandang pernah kalah bertanding di Malang lawan Diko Moerdono yang saat itu sebagai unggulan di kelompok remaja. Saat itu pembagian kelompok umur sudah berbeda dengan saat ini. Dulu menggunakan istilah kelompok anak anak, kelompok remaja, kelompok taruna.
27 Pengprov Pelti ikuti Kualifikasi PON XVII di Samarinda
4 Juni 2008. Kualifikasi Pekan Olahraga Nasional XVII 2008 di Samarinda yang berlangsung tanggal 27 Juni – 2 Juli 2008 diikuti oleh 24 tim putra dan 14 tim putri. Dari ke 27 Pengprov yang ikuti Kualifikasi PON XVII ini memperebutkan 4 tempat dibabak utama PON XVII yang akan berlangsung di Balikpapan tanggal 6 – 15 Juli 2008.
Yang menjadi pertanyaan , tim mana saja yang diperkirakan lolos ke Balikpapan. Sebelum memperkirakan tim yang lolos ternyata masih ada daerah yang status atletnya bermasalah, karena didaftarkan oleh 2 daerah. Contohnya adalah Bella Destriana didaftarakan oleh Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat. Begitu juga Dina Azwar didaftarkan oleh Sumatra Barat dan Kepulauan Riau. Pengprov Pelti yang mendaftarkan atlet tersebut telah diberitahukan oleh PP Pelti untuk diselesaikan sendiri. Karena Pengprov Sumsel dan Kalimantan Barat , masing masing tetap mempertahankan atlet tersebut , oleh PP Pelti masalah ini diserahkan ke Badan Arbitrase Olahraga KONI Pusat untuk memutuskan. Masalah Dina Azwar akhirnya terpecahkan karena Pengprov Sumatra Barat sudah mencabut pendaftarannya.
Dari data peserta maka saat Kualifikasi akan dilakukan pemilihan unggulan berdasarkan Peringkat Nasional Pelti yang akan dikeluarkan tanggal 15 Juni 2008.
Dari data ini maka 4 tim akan keluar sebagai unggulan sehingga memasuki grup terpisah. Saat ini tercatat berdasarkan PNP yang dikeluarkan tgl 15 Mei 2008 yaitu untuk tim putra Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Bali, Kalimantan Tengah. Tim putri keluar sebagai unggulan adalah Sumatra Utara, DIY, Sumatra Barat dan Bali.
Yang ikuti Kualifikasi adalah tim putra terdiri dari Pengprov Pelti Nangroe Aceh Darusalam, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku , Maluku Utara, Papua. Tim putrid terdiri dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Lampung, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku,Bangka Belitung , Sulawesi Selatan, dan DIY.
Yang menjadi pertanyaan , tim mana saja yang diperkirakan lolos ke Balikpapan. Sebelum memperkirakan tim yang lolos ternyata masih ada daerah yang status atletnya bermasalah, karena didaftarkan oleh 2 daerah. Contohnya adalah Bella Destriana didaftarakan oleh Sumatra Selatan dan Kalimantan Barat. Begitu juga Dina Azwar didaftarkan oleh Sumatra Barat dan Kepulauan Riau. Pengprov Pelti yang mendaftarkan atlet tersebut telah diberitahukan oleh PP Pelti untuk diselesaikan sendiri. Karena Pengprov Sumsel dan Kalimantan Barat , masing masing tetap mempertahankan atlet tersebut , oleh PP Pelti masalah ini diserahkan ke Badan Arbitrase Olahraga KONI Pusat untuk memutuskan. Masalah Dina Azwar akhirnya terpecahkan karena Pengprov Sumatra Barat sudah mencabut pendaftarannya.
Dari data peserta maka saat Kualifikasi akan dilakukan pemilihan unggulan berdasarkan Peringkat Nasional Pelti yang akan dikeluarkan tanggal 15 Juni 2008.
Dari data ini maka 4 tim akan keluar sebagai unggulan sehingga memasuki grup terpisah. Saat ini tercatat berdasarkan PNP yang dikeluarkan tgl 15 Mei 2008 yaitu untuk tim putra Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Bali, Kalimantan Tengah. Tim putri keluar sebagai unggulan adalah Sumatra Utara, DIY, Sumatra Barat dan Bali.
Yang ikuti Kualifikasi adalah tim putra terdiri dari Pengprov Pelti Nangroe Aceh Darusalam, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku , Maluku Utara, Papua. Tim putrid terdiri dari Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Lampung, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Gorontalo, Sulawesi Barat, Maluku,Bangka Belitung , Sulawesi Selatan, dan DIY.
Christo Kehilangan Raket
3 Juni 2008. Petenis potensial Indonesia Christopher Rungkat yang sedang try out ke Eropa ikuti turnamen turnamen internasional yunior alami nasib sial dalam perjalanannya tahun ini. Biasanya nasib sial dialami karena kalah dalam pertandingan. Tetapi yang terjadi sama Christopher adalah kehilangan raket dan tasnya sehingga dompetpun ikut melayang. Tetapi masih ada untung juga yaitu Paspor tidak ikut hilang maupun tas yang berisi laptop yang selalu dibawa bawa dalam perjalanan try out keluar negeri. Ya, nasib apes.
Senin, 02 Juni 2008
Bahaya NARKOBA mengintai
2 Juni 2008. Kesibukan orangtua kadang kadang suka melupakan kewajibannya terhadap putra dan putrinya. Jikalau disibukkan dengan permainan tennis tentunya masih bisa menolong , karena selain tenis adalah olahraga , tenis pun bisa ditanamkan sportivitas kepada putra dan putrinya.
Hal ini bukan saja bisa terjadi dikota kota besar seperti Jakarta tetapi ada kemungkinan sudah mulai melebar kekota kota kecil.
Permasalah yang patut diwaspadai adalah masalah DRUG atau dikenal dengan NARKOBA.
Oleh karena itu sangat bijaksana jika dianjurkan putra maupun putri belajar bermain tenis mulai dari usia sedini mungkin. Saat ini sudah banyak lapangan tenis bertebaran di Tanah Air. Begitu juga banyaknya pelatih tenis bersama sekolah sekolah tennis yang ada. Sedangkan induk organisasi tenis dunia (ITF) maupun di Indonesia (PELTI) sudah memperkenalkan cara termudah belajar tenis dengan target anak anak muda usia. Dikenal dengan permainan Mini Tenis.
Penyalur Narkoba juga melihat kelemahan kelemahan pada anak anak yang yang merupakan pangsa pasar cukup besar. Dari mulai sekitar sekolah sudah mulai berkeliaran bahaya Narkoba ini.
Perlu kita waspadai, telah beredar disekolah-sekolah sesuatu yang mengerikan. Bagaimana bentuk Narkoba tersebut.
NARKOBA , Crystal berbentuk bulat, mirip dengan permen POP ROCK rasa Strawbery (kalau kita kemut bisa berdesis di dalam mulut). Aromanya persis seperti Strawbery dan saat ini sudah beredar bebas di lingkungan sekolah. Namanya Strawberry Meth atau Strawberry Quick.
Anak2 berpikir bahwa barang tersebut adalah PERMEN (gula-gula), berhati-hatilah karana permen ini dapat menyebabkan kondisi sang anak bisa masuk Rumah Sakit dan ketagihan.
Selain rasa diatas dapat juga dalam rasa Coklat, kacang, Cola, chery, anggur dan rasa jeruk.
Peringatkan anak kita untuk tidak menerima Permen Jenis ini dari orang-2 yang tidak kita kenal, meskipun dari teman mereka atau dari siapapun
Pesan seperti ini perlu mendapatkan perhatian sekali jika tidak ingin melihat korban berjatuhan terutama disekitar rumah tangga sendiri.
Hal ini bukan saja bisa terjadi dikota kota besar seperti Jakarta tetapi ada kemungkinan sudah mulai melebar kekota kota kecil.
Permasalah yang patut diwaspadai adalah masalah DRUG atau dikenal dengan NARKOBA.
Oleh karena itu sangat bijaksana jika dianjurkan putra maupun putri belajar bermain tenis mulai dari usia sedini mungkin. Saat ini sudah banyak lapangan tenis bertebaran di Tanah Air. Begitu juga banyaknya pelatih tenis bersama sekolah sekolah tennis yang ada. Sedangkan induk organisasi tenis dunia (ITF) maupun di Indonesia (PELTI) sudah memperkenalkan cara termudah belajar tenis dengan target anak anak muda usia. Dikenal dengan permainan Mini Tenis.
Penyalur Narkoba juga melihat kelemahan kelemahan pada anak anak yang yang merupakan pangsa pasar cukup besar. Dari mulai sekitar sekolah sudah mulai berkeliaran bahaya Narkoba ini.
Perlu kita waspadai, telah beredar disekolah-sekolah sesuatu yang mengerikan. Bagaimana bentuk Narkoba tersebut.
NARKOBA , Crystal berbentuk bulat, mirip dengan permen POP ROCK rasa Strawbery (kalau kita kemut bisa berdesis di dalam mulut). Aromanya persis seperti Strawbery dan saat ini sudah beredar bebas di lingkungan sekolah. Namanya Strawberry Meth atau Strawberry Quick.
Anak2 berpikir bahwa barang tersebut adalah PERMEN (gula-gula), berhati-hatilah karana permen ini dapat menyebabkan kondisi sang anak bisa masuk Rumah Sakit dan ketagihan.
Selain rasa diatas dapat juga dalam rasa Coklat, kacang, Cola, chery, anggur dan rasa jeruk.
Peringatkan anak kita untuk tidak menerima Permen Jenis ini dari orang-2 yang tidak kita kenal, meskipun dari teman mereka atau dari siapapun
Pesan seperti ini perlu mendapatkan perhatian sekali jika tidak ingin melihat korban berjatuhan terutama disekitar rumah tangga sendiri.
Minggu, 01 Juni 2008
Masalah Peringkat Ayu Fani Damayanti
1 Juni 2008. Ada ketidak puasan atas hasil PNP (Peringkat Nasional Pelti) karena salah satu andalan Indonesia yaitu Ayu Fani Damayanti juara Cigna Open'08, Juara Sportama-1 , Juara OKE SHOP 2008 hasilnya sampai tanggal 1 Juni 2008 masih bercokol di PNP- 5.
Memang PNP yang dikeluarkan setiap tanggal 15 setiap bulan, harus dilihat juga turnamen yang dimasukkan dalam PNP yang dikeluarkan tanggal tersebut. Sebagai contoh PNP yang dikeluarkan tanggal 15 Mei 2008 , TDP baru dimasukkan adalah Sportama 1 dan Piala Gubernur DKI'08. Berarti Women's Circuit 2008 di Balikpapan, Tarakan dan Bulungan dan OKE SHOP di Surabaya belum dimasukkan dan diharapkan masuk ke PNP yang dikeluarkan tanggal 15 Juni 2008. Sedangkan hasil TDP yang dikeluarkan adalah TDP Palazzo Open 2007.
Hasil yang didapat oleh Ayu Fani Damayanti dari 7 TDP yaitu Piala Gubernur DKI th 2007 (Kategori 32), Piala Gubernur Jabar 2007(Kategori 29), Women Circuit Manila -1 ’07 (Kategori 40) dan WC Manila-2 ’07(Kategori 40), Cigna Open 08 (Kategori 32), Sportama 1 (Kategori 30) dan Piala Gubernur DKI 08(Kategori 31).
Angka didapat Ayu adalah Angka Dasar dari TDP tersebut adalah 330, 300, 52, 1, 330, 310, 320 sedangkan Angka Bonus didapat masing masing 0, 0, 160, 120, 45, 0 dan 45 sehingga didapatlah APT 2013 dibagi dengan AP=12 maka APR= 167.7500.
Jika dibandingkan dengan PNP-4 yaitu Vivien Silfany yang memiliki APR= 195.8333 yang didapat dari 14 TDP sehingga AP menajdi 12. Vivien ikuti TDP yaitu Women Circuit Balikpapan’07, WC Tarakan’07 dan WC Jakarta’07, Thailand WC-1’07,Thail WC-2’07,Thai WC-3’07, Commonwealth’07, WC Manila-1 ’07, WC Manila’2’07, Cigna Open’08, Sportama-1, WC Egypt-1’08, WC Egypt-2’08, WC Egypt-3’08. Hasilnya Angka Dasarnya adalah 1, 1, 103, 205, 0, 0, 0, 103, 52, 165 78, 52, 0, 0 dan Angka Bonusnya sebagai berikut 120, 120, 190, 215, 70, 70, 85, 190, 160, 0, 0, 195, 105, 70. Total APT= 2350. Sehingga APR = 195.8333.
Ini sebagai gambaran antara PNP-4 dan PNP -5 yang dimiliki oleh Vivien Silfany dan Ayu Fani Damayanti Begitu pula dengan PNP-1 Sandy Gumulya ikuti 11 TDP, PNP-2 Lavinia Tananta ikuti 13 TDP, PNP-3 Jessy Rompies ikuti 11 TDP.
PNP atau Peringkat Nasional Pelti telah berlaku sejak diluncurkan tahun 1988 dan berlangsung setiap tahunnya. Jadi bisa dibayangkan bagi masyarakat tenis yang baru menampakkan diri dipertenisan nasional tentunya masih bingung karena belum mengenalnya. Hal yang pelu disini adalah pengetahuan tentang kategori TDP yang seyogyanya diumumkan sebelum TDP berlangsung. Pertanyaan masalah kategori TDP belum dipusingkan karena adanya TDP saja sudah cukup memuaskan semua petenis. Secara gamplang bisa dilihat makin besar prize money maka kategorinya makin besar pula berarti angka dasar yang didapat makin besar pula, kecuali kalah dibabak pertama tetap 1.
Jawaban diatas tentunya masih belum bisa memuaskan semua pihak, tetapi malu bertanya langsung ke induk organisasi tetapi dilontarkan dalam bentuk negative thinking melalui media maya. Semua masalah bisa diatasi dengan baik sesuai dengan sportivitas dan tennis is a gentleman sports, sehingga kompetisi bisa meningkatkan prestasi pertenisan Indonesia dimasa depan. Itulah harapan semua pelaku pelaku tenis pada umumnya.
Memang PNP yang dikeluarkan setiap tanggal 15 setiap bulan, harus dilihat juga turnamen yang dimasukkan dalam PNP yang dikeluarkan tanggal tersebut. Sebagai contoh PNP yang dikeluarkan tanggal 15 Mei 2008 , TDP baru dimasukkan adalah Sportama 1 dan Piala Gubernur DKI'08. Berarti Women's Circuit 2008 di Balikpapan, Tarakan dan Bulungan dan OKE SHOP di Surabaya belum dimasukkan dan diharapkan masuk ke PNP yang dikeluarkan tanggal 15 Juni 2008. Sedangkan hasil TDP yang dikeluarkan adalah TDP Palazzo Open 2007.
Hasil yang didapat oleh Ayu Fani Damayanti dari 7 TDP yaitu Piala Gubernur DKI th 2007 (Kategori 32), Piala Gubernur Jabar 2007(Kategori 29), Women Circuit Manila -1 ’07 (Kategori 40) dan WC Manila-2 ’07(Kategori 40), Cigna Open 08 (Kategori 32), Sportama 1 (Kategori 30) dan Piala Gubernur DKI 08(Kategori 31).
Angka didapat Ayu adalah Angka Dasar dari TDP tersebut adalah 330, 300, 52, 1, 330, 310, 320 sedangkan Angka Bonus didapat masing masing 0, 0, 160, 120, 45, 0 dan 45 sehingga didapatlah APT 2013 dibagi dengan AP=12 maka APR= 167.7500.
Jika dibandingkan dengan PNP-4 yaitu Vivien Silfany yang memiliki APR= 195.8333 yang didapat dari 14 TDP sehingga AP menajdi 12. Vivien ikuti TDP yaitu Women Circuit Balikpapan’07, WC Tarakan’07 dan WC Jakarta’07, Thailand WC-1’07,Thail WC-2’07,Thai WC-3’07, Commonwealth’07, WC Manila-1 ’07, WC Manila’2’07, Cigna Open’08, Sportama-1, WC Egypt-1’08, WC Egypt-2’08, WC Egypt-3’08. Hasilnya Angka Dasarnya adalah 1, 1, 103, 205, 0, 0, 0, 103, 52, 165 78, 52, 0, 0 dan Angka Bonusnya sebagai berikut 120, 120, 190, 215, 70, 70, 85, 190, 160, 0, 0, 195, 105, 70. Total APT= 2350. Sehingga APR = 195.8333.
Ini sebagai gambaran antara PNP-4 dan PNP -5 yang dimiliki oleh Vivien Silfany dan Ayu Fani Damayanti Begitu pula dengan PNP-1 Sandy Gumulya ikuti 11 TDP, PNP-2 Lavinia Tananta ikuti 13 TDP, PNP-3 Jessy Rompies ikuti 11 TDP.
PNP atau Peringkat Nasional Pelti telah berlaku sejak diluncurkan tahun 1988 dan berlangsung setiap tahunnya. Jadi bisa dibayangkan bagi masyarakat tenis yang baru menampakkan diri dipertenisan nasional tentunya masih bingung karena belum mengenalnya. Hal yang pelu disini adalah pengetahuan tentang kategori TDP yang seyogyanya diumumkan sebelum TDP berlangsung. Pertanyaan masalah kategori TDP belum dipusingkan karena adanya TDP saja sudah cukup memuaskan semua petenis. Secara gamplang bisa dilihat makin besar prize money maka kategorinya makin besar pula berarti angka dasar yang didapat makin besar pula, kecuali kalah dibabak pertama tetap 1.
Jawaban diatas tentunya masih belum bisa memuaskan semua pihak, tetapi malu bertanya langsung ke induk organisasi tetapi dilontarkan dalam bentuk negative thinking melalui media maya. Semua masalah bisa diatasi dengan baik sesuai dengan sportivitas dan tennis is a gentleman sports, sehingga kompetisi bisa meningkatkan prestasi pertenisan Indonesia dimasa depan. Itulah harapan semua pelaku pelaku tenis pada umumnya.
Sekilas Mengenal Peringkat Nasional Pelti (PNP)
1 Juni 2008. Masalah PNP (Peringkat Nasional Pelti) sering jadi bahan komentar atau guncingan hangat bagi ketidak puasan masyarakat tenis di Indonesia. Kadang kadang sudah menjurus kearah negative. Memang harus diakui kekurang tahuan masyarakat terutama yang baru masuk ke pertenisan Indonesia membuat panasnya situasi. Bagi yang ahli computer sangat menggampangkan soal membuatnya, sedangkan lupa kalau sewaktu membuatnya PNP 1987 di Indonesia belum canggihnya dunia komputer. Kemudian diperkenalkan tahun 1988 sedangkan buku panduan dibuat tgl 10 Januari 1993 oleh dr.Nico A Lumenta. Muncul ketidak puasan sehingga timbul kesan induk organisasi Pelti menutup nutupi masalah PNP tersebut.
Peringkat diperlukan sejak mulai semaraknya turnamen turnamen tenis baik diluar negeri maupun dalam negeri. Perlu diketahui ATP-Tour sendiri mulai menetapkan tahun 1973
Tujuan dari PNP adalah system PNP akan menghasilkan secara berkala tingkatan petenis atas dasar prestasi petenis dalam berbagai pertandingan dan selajutnya digunakan untuk penentuan unggulan (seedig), dan system PNP bertujuan untuk meningkatkan semangat kompetitif yang merupakan kekuatan pokok bagi petenis untuk menjalani pembinaan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dengan system PNP petenis didorong untuk memanfaatkan arena TDP (Turnamen Diakui Pelti) untuk peningkatan peringkat dan prestasi, dan diharapkan meningkatkan kualitas dan kuantitas TDP.
Perlu diketahui bahan untuk PNP adalah Hasil Pertandingan yang sah masuk dalam proses perhitungan system PNP adalah TDP Peringkat. Jadi bukan semua turnamen tenis yang bisa diperhitungkan. Faktor yang juga penting adalah Kategori Turnamen. Jika turnamen kelompok umum maka patokan dipakai adalah jumlah prize money. Makin besar prize money makin besar pula kategorinya sehingga makin besar pula angka didapat. Selaku petenis harus diperhatikan adalah nama yang konsisten digunakan dalam setiap keikut sertaannya dalam TDP.
Jika dari hasil pertandingan yang dilihat dari draw keseluruhan, mulai main dari kualifikasi sampai babak utama dimulai dari ronde pertama sampai final. Angka akhir diambil adalah APR (Angka Peringkat Rata rata) yang merupakan hasil pembagian Angka Peringkat Total (APT) dibagi dengan Angka Pembagi (AP). Sedangkan APT adalah penjumlahan dari Angka Dasar (AD) dan Angka Bonus (AB). Kalau kalah disuatu babak pertandingan maka diberikan angka sebagai Angka Dasar (AD)
Yang dimaksud dengan Angka Pembagi (AP) adalah jumlah turnamen yang diikutinya.
Kedudukan peringkat seseorang diambil dari makin besarnya APR. Biasanya setiap PNP dikeluarkan sering terjadi perubahan angka didapat karena adanya penambahan angka angka baru dari pertandingan yang baru diikutinya dan juga dikuranginya angka lama ( usia 52 minggu) yang didapat setahun lalu. Disamping itu juga diperhatikan perubahan APR dari pesaingnya.
Angka Dasar (AD) didapat dari kekalahan disetiap pertandingan tetapi kalau kalah dibabak pertama maka AD = 1. Petenis yang mendapat “bye” atau menang WO kemudian dibabak berikutnya kalah maka dianggap baru sekali bertanding sehingga kekalahannya dianggap berada dibabak I . Tapi kalau sudah menang dibabak pertama kemudian menang WO dibabak kedua dan kalah dibabak ketiga maka dihitung angka dasar dibabak ketiga.
Angka Bonus, yaitu bentuk apresiasi atas upayanya. Dibagi atas AB Peringkat yaitu bila mengalahkan lawan yang mempunyai Peringkat (PNP atau Internasional) didalam babak utama. Besarnya AB ada tabelnya. AB Kualifikasi, didapat jika menang dibabak kualifikasi dan lolos kebabak utama. Besarnya AB adalah 50 % dari AD babak ke II.
AB Luar Negeri, didapat bila bertanding dalam TDP Internasional baik didalam negeri maupun diluar negeri . AB Luar Negeri ini didapat setiap babak, ada tabelnya. Tapi kalau kalah WO tidak mendapat AB pada babak tersebut.
Angka Peringkat Total (APT) adalah hasil penjumlahan AD dan AB. Angka Pembagi (AP) angak yang menunjukkan jumlah pertandingan yang diikuti petenis. Tetapi perlu diketahui untuk pertandingan yang pertama sampai ke 12 maka AP=12. Tetapi setelah pertandingan lebih dari 12 , besarnya AP dapat dilihat dari table AP. Tetapi bagi TDP Kelompok Yunior tidak ada AP
Peringkat diperlukan sejak mulai semaraknya turnamen turnamen tenis baik diluar negeri maupun dalam negeri. Perlu diketahui ATP-Tour sendiri mulai menetapkan tahun 1973
Tujuan dari PNP adalah system PNP akan menghasilkan secara berkala tingkatan petenis atas dasar prestasi petenis dalam berbagai pertandingan dan selajutnya digunakan untuk penentuan unggulan (seedig), dan system PNP bertujuan untuk meningkatkan semangat kompetitif yang merupakan kekuatan pokok bagi petenis untuk menjalani pembinaan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dengan system PNP petenis didorong untuk memanfaatkan arena TDP (Turnamen Diakui Pelti) untuk peningkatan peringkat dan prestasi, dan diharapkan meningkatkan kualitas dan kuantitas TDP.
Perlu diketahui bahan untuk PNP adalah Hasil Pertandingan yang sah masuk dalam proses perhitungan system PNP adalah TDP Peringkat. Jadi bukan semua turnamen tenis yang bisa diperhitungkan. Faktor yang juga penting adalah Kategori Turnamen. Jika turnamen kelompok umum maka patokan dipakai adalah jumlah prize money. Makin besar prize money makin besar pula kategorinya sehingga makin besar pula angka didapat. Selaku petenis harus diperhatikan adalah nama yang konsisten digunakan dalam setiap keikut sertaannya dalam TDP.
Jika dari hasil pertandingan yang dilihat dari draw keseluruhan, mulai main dari kualifikasi sampai babak utama dimulai dari ronde pertama sampai final. Angka akhir diambil adalah APR (Angka Peringkat Rata rata) yang merupakan hasil pembagian Angka Peringkat Total (APT) dibagi dengan Angka Pembagi (AP). Sedangkan APT adalah penjumlahan dari Angka Dasar (AD) dan Angka Bonus (AB). Kalau kalah disuatu babak pertandingan maka diberikan angka sebagai Angka Dasar (AD)
Yang dimaksud dengan Angka Pembagi (AP) adalah jumlah turnamen yang diikutinya.
Kedudukan peringkat seseorang diambil dari makin besarnya APR. Biasanya setiap PNP dikeluarkan sering terjadi perubahan angka didapat karena adanya penambahan angka angka baru dari pertandingan yang baru diikutinya dan juga dikuranginya angka lama ( usia 52 minggu) yang didapat setahun lalu. Disamping itu juga diperhatikan perubahan APR dari pesaingnya.
Angka Dasar (AD) didapat dari kekalahan disetiap pertandingan tetapi kalau kalah dibabak pertama maka AD = 1. Petenis yang mendapat “bye” atau menang WO kemudian dibabak berikutnya kalah maka dianggap baru sekali bertanding sehingga kekalahannya dianggap berada dibabak I . Tapi kalau sudah menang dibabak pertama kemudian menang WO dibabak kedua dan kalah dibabak ketiga maka dihitung angka dasar dibabak ketiga.
Angka Bonus, yaitu bentuk apresiasi atas upayanya. Dibagi atas AB Peringkat yaitu bila mengalahkan lawan yang mempunyai Peringkat (PNP atau Internasional) didalam babak utama. Besarnya AB ada tabelnya. AB Kualifikasi, didapat jika menang dibabak kualifikasi dan lolos kebabak utama. Besarnya AB adalah 50 % dari AD babak ke II.
AB Luar Negeri, didapat bila bertanding dalam TDP Internasional baik didalam negeri maupun diluar negeri . AB Luar Negeri ini didapat setiap babak, ada tabelnya. Tapi kalau kalah WO tidak mendapat AB pada babak tersebut.
Angka Peringkat Total (APT) adalah hasil penjumlahan AD dan AB. Angka Pembagi (AP) angak yang menunjukkan jumlah pertandingan yang diikuti petenis. Tetapi perlu diketahui untuk pertandingan yang pertama sampai ke 12 maka AP=12. Tetapi setelah pertandingan lebih dari 12 , besarnya AP dapat dilihat dari table AP. Tetapi bagi TDP Kelompok Yunior tidak ada AP
Langganan:
Postingan (Atom)