Rabu, 11 Februari 2009

Buka Sekolah Tenis di Bandung


Jakarta, 10 Februari 2009. Mempunyai adik kandung yang berprofesi pelatih tenis dengan sertifikat ITF Level-2, ternyata telah berhasil mendidik pelatih tenis di berbagai daerah selama ini, karena sebagai Tutor yang dipercayakan oleh International Tennis Federation (ITF). Keberhasilannya selama ini mencetak atlit nasional diawali dengan putra sendiri Andrean Raturandang, kemudian Grace Sari Ysidora. Sebelumnya dari tahun 1980, Alfred H Raturandang konsentrasi kepengembangan petenis, dengan mempunyai sekolah tenis di Jakarta.
Perjalanannya sebagai pelatih juga sampai dipanggil oleh Pengurus Besar Pelti sebagai pelatih tim SEA Games.

Suatu saat dia mulai membuka sekolah tenis di Bintaro, August Ferry Raturandang meminta agar lebih konsentrasi ke pembinaan prestasi karena selama ini kebehasilannya mendidik petenis yunior sudah terbukti berhasil dengan puncak Andrean Raturandang keluar sebagai petenis nomor satu Indonesia.

Dan memenuhi pandangan tersebut, Alfred Raturandnag menutup sekolah tenis di Bintaro dan membuka sekolah tenis di Senayan. Setelah itu mulailah Alfred pergi pulang ke Bandung khusus melatih Grace Sari Ysidora yang masih berdomisili di Bandung. Dan mulailah Grace Sari melejit sehingga terpilih masuk tim nasional usia 14 tahun.

Setelah pindahnya Grace kepelatih lain setelah berdomisili di jakarta, Alfred masih tetap melatih dikota Kembang Bandung. Dengan melatih untuk prestasi petenis Bandung.

Melihat waktunya pulang pergi Jakarta dan Bandung dimana 3 hari dalam seminggu sudah menetap di Bandung, diusia sudah mencapai 61 tahun ( 2 Febr), August Ferry Raturandang menyarankan agar membuka juga sekolah tenis di Bandung.

"Mau nggak buka sekolah tenis di Bandung, nanti gua yang memegang management-nya." Selanjutnya diminta agar memilih pelatih yang bersertifikat di Bandung (minimal ITF Level-1) sebagai asistennya. Nanti akan bisa dilihat calon calon petenis yunior (usia dibawah 14 tahun) untuk dibina prestasinya.

August Ferry Raturandang sendiri sedang mencari lokasi yang tepat di Bandung sebagai tempat latihannya, karena ada 3 hari waktunya yang lowong untuk turun langsung dan 3 hari lainnya bisa dikerjakan oleh asistennya sendiri. Ada pilihannya yaitu lapangan tenis Caringin atau di Universitas Pendidikan Indonesia ( Setiabudi) yang akan direnovasi menjadi lapangan indoor. Menegnai waktru yang tepat sedang dipertimbangkan sehingga kota Bandung bisa mendapatkan sekolah tenis baru. Permintaan ini sebenarnya sudah ada dari orangtua petenis Bandung yang pernah disampaikan kepada August Ferry Raturandang. " Ya, tunggu tanggal mainnya ."

Selasa, 10 Februari 2009

" Hehehe tidak kalah dr wartawan memang "


Jakarta, 9 Februari 2009. Saran yang positp datang dari salah satu rekan wartawan yang juga Humas PP Pelti Amin Pudjanto setelah membaca blogger ini. "Mau tanya apakah blogger ini yang update orang lain atau Om sendiri." ujarnya setelah membaca terkesan yang menulis blogger ini adalah orang lain atau tim sendiri
Berbeda dengan blogger lain yang bentuk isinya bukan sebagai berita.
Diberitahukan juga kalau yang mengisi August Ferry Raturandang sendiri, maka ditanyakan keinginan mengisi blogger ini sebagai berita atau pengalaman pribadi. "Kalau maunya sebagai berita maka sudah benar caranya. " ujar Ami Pudjanto.
Kemudian diberitahukan juga kalau maksud buat blogger adalah menceritakan pengalaman selama ini di pertenisan Indonesia, sehingga seperti membuat buku saja. "Oh kalau itu maksudnya maka sudah betul bentuknya."

Setelah itu dicoba kirim SMS kepada salah satu rekan wartawan Kompas Aryo Wisenggeni yang berdomisili di Makassar dan mendapat komentar. " Hehehe tidak kalah dr wartawan memang." dan komentar lain darinya " Tdk apa-apa Pak Ferry , yg sekrg udah mantap, gaya penulisan apa pun tetap sah. Itu otoritas penulis. Hehehe." ujar Aryo yang baru dikenalnya di PON XVII Balikpapan bulan Juli 2008.
Timbul juga pemikiran , alangkah baiknya gaya penulisan dikombinasikan keduanya sehingga bisa lebih aneh dan siapa tahu lebih menarik. Memang selama ini yang akan lebih banyak diberitakan adalah kejadian kejadian pribadi disekitar pertenisan Indonesia yang sangat bervariasi, dan sulit diketahi oleh pelaku pelaku tenis lainnya. Sehingga diambil judul blogger adalah CATATAN RINGAN TENIS INDONESIA.
Respons terhadap kehadiran blogger ini cukup baik, bahkan dijadikan bahan untuk menghina, fitnah terhadap diri August Ferry Raturandang. Karena iri hati dan sirik sekali sehingga rajin membuat komentar komentar di situs Pelti. Ini akibat dari ketidak mampuan berbuat baik untuk tenis Indonesia, sehingga melontarkan komentar komentar miring. Hal ini bisa dimakluminya karena mereka ini mengenal tenis setelah jadi orang.
Ini semua tidak membuat August Ferry Raturandang berhenti berkarya, justru memacu agar mereka tambah iri dan menambah bualan bualan sendiri. Tapi ini tidak akan lama lagi sehingga mereka ini sayangnya tidak bisa lagi menyalurkan aspirasi yang sinting alias gendeng lagi. Tunggu saja tanggal mainnya.

Senin, 09 Februari 2009

" Gua pusing tujuh keliling "


Jakarta, 9 Februari 2009. Persiapan Seleknas tenis usia 16 tahun membuat pusing kepala rekan Christian Budiman selaku Wakil Ketua Bidang Pembinaan Yunior PP Pelti yang bertanggung jawab masalah seleksi nasional yunior. Hal ini dikemukakan kepada August Ferry Raturandang pagi ini. " Hanya gara gara seleknas gua pusing tujuh keliling. Capek deh. "
Sewaktu memberitahukan pertilpon kepada orangtua petenis yang dinominasikan ternyata mendapatkan sambutan yang tidak terduga bagi Christian. " Gua ini dimarah-marahin orangtua. Apa salah gua. Cuma menyampaikan apa hasil keputusan Pelti, kok dapat sambutan seperti ini ."
Sehingga sering digodain oleh rekan rekan lainnya, seperti Johannes Susanto sampaikan jika telpon ke August Ferry Raturandang. " Gimana tampang Korea, masih banyak ploi. Ha ha ha." ujarnya ngeledek Christian.
Begitulah nasib anggota pengurus Pelti, karena ini yang pertama kali baginya menghadapi orangtua yang banyak ulahnya sehingga pusing kepala. "Gua maunya loe ikut juga ke Padang." ujarnya minta kesediaan August Ferry Raturandang yang sedang sibuk persiapkan pelaksanaan Davis Cup di Solo tanggal 6-8 Maret 2009.

Pagi pagi, terima telpon dari Diko Moerdono mengajak makan jam 11.00 di Resto Everfresh. Ayo kita ngobrol ngobrol di Everfresh. Ditraktir Santo." ujarnya kepada August Ferry Raturandang. Setiap acara undangan makan siang antara anggota Pengurus Pelti dilakukan sambil bincang bincang dengan tujuan saling berkomunikasi, dibayar oleh kantong sendiri dari anggota pengurus seperti Johannes Susanto, Danny Walla dan bahkan Enggal Karjono rekan lama yang sudah tidak duduk dalam kepengurusan. Ada saja orang yang beranggapan makan makan ini menghabiskan uang PELTI. Melupakan kemampuan rekan rekan yang duduk dalam kepengurusan PELTI. Tetapi tidaklah heran jika orang yang sirik dan iri hati atas kerukunan anggota kepengurusan Pelti saat ini. Menurut pengamatan August Ferry Raturandang selama ini kepengurusan PP Pelti yang paling solid adalah kepengurusan tahun 2002-2007 dan 2007-2012. Sehingga ada kemungkinan ada pihak pihak tertentu berkeinginan mengadu domba antar pengurus supaya tidak solid seperti ini. Karena seringnya komunikasi antar pengurus yang cukup dekat karena sewaktu muda sering berantem di turnamen tenis yunior, sehingga setiap saat bisa berkomunikasi dalam mengatasi permasalahannya yang muncul.
Menjelang pukul 11.00, berangkatlah Diko Moerdono, Slamet Utomo dan August Ferry Raturandang ke resto Everfresh. Johannes Susanto sudah menunggu diresto tersebut. Sudah dekat dengan resto tersebut , Johannes Susanto tilpon beritahukan kalau tempat tersebut penuh dipakai Polisi. Maka pindahlah ke Nasi Uduk di Patal Senayan.
Memang semuanya hobi makan, sehingga acara makan siang tetap ramai dan bersahabat. Dan rekan Christian Budiman mulai cerah tampangnya. Pertemuan penuh pertemanan tetap berjalan penuh canda dan gurau yang bagi oranglain tentunya akan tersinggung. Sebagai contoh seaktu pesan makanpun masih ada. "Untuk Opa kasi yang empuk-empuk saja.Maklum sudah tua." guyon Johannes Susanto menjuluki August Ferry Raturandang.
Kembali ke kantor Pelti, ketemu Hudani Fajri Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Daerah PP Pelti. "Kok nggak ngajak ngajak makannya." Langsung ditanggapi oleh Diko. " Loe belum level, belum umur." Ini karena usia Hudani masih dibawah golden age dibandingkan kelima rekan ini sudah diatas 50 tahun
Tetapi oleh August Ferry Raturandang disampaikan kalau acara makan makan dilakukan jika kumpul di Senayan langsung ide kumpul muncul dan diangkut ke resto. Memang nasibnya ibarat iklan saja " kalau belon tua belon bole bicara "
"Loe musti baca gua punya blogger tentang mengatasi ketersinggungan dalam kehidupan kita. Sehingga loe tidak perlu stress berat. OK." ujarnya ke Christian Budiman . Diakuinya kalau harus belajar banyak menghadapi orangtua petenis yunior. Beginilah nasib anggota pengurus induk organisasi tenis di Indonesia, yang sering dituding macam macam oleh pihak pihak yang iri hati saja. "Cobalah setiap pagi waktu didepan kaca, lihatlah tampang sendiri dan katakan loe ini cuma pelayan masyarakat tenis. " Maka legalah hati kita yang juga punya ego sangatlah besar karena punya latar belakang yang juga terhormat

Kembali ke Jakarta dari Cirebon


Cirebon, 8 Februari 2009. Hanya dua event dari turnamen tenis yunior Piala Ferry Raturandang-63 yang berhasil diselesaikan tepat waktu, akibat turunnya hujan tanpa kompromi melanda kota Cirebon. Walaupun sudah dipindahkan kelapangan indoor hanya tunggal putra KU 10tahun dan tunggal putri KU 12 tahun yang selesai, sedangkan yang lainnya berkat inisiatip orangtua dilanjutkan di Tegal karena yang lolos ke final semuanya dari Tegal.
Final tungal putra KU 10 tahun antara Mohamad Fikri (Cirebon) melawan Dhani Dwiputra Kurniawan asal Tegal dimenangkan oleh Dhani Dwiputra Kurniawan dalam 3 set, 24 53 10-3. Disemifinal Dhani mengalahkan Akbar Pambudi dari Brebes 42 24 10-7, sedangkan Moh.Fikri mengalahkan Debri asal Brebes 04 41 10-9
Keluar sebagai juara tunggal putri KU 12 tahun adalah petenis Tegal Arryn Damasari yang tidak terkalahkan, sedangka peringkat kedua adalah Sarah Ayutami dari Cirebon dan peringkat 3 adalah Maria Agatha Christie (Cirebon) dan keempat petenis Indramayu Shafira Nurulhuda.
Final yang tertunda dan akan ditandingkan di Tegal adalah tunggal putra KU 12 tahun antara Andro Deantara Nugroho melawan Dwi Arif Alfianto. Disemifinal Andro mengalahkan Ivan Andrew Djajadi (Tegal) 54(1) 40 sedangkan Dwi Arif mengalahkan Dicky Juniata Dwi Suprana (Brebes) 40 24 10-6.
Final tunggal putra KU 14 tahun ikut tertunda antara Irawan Bagus (Tegal) melawan Muhammad Adam (Tegal). Disemifinal Irawan kalahkan Candika Pratama (Cirebon) 40 40. Sedangkan Muhammad Adam mengalahkan Zulfikar (Brebes) 41 54 7-4.
Final tunggal putra 16 tahun antara Dwi Wijayanto (Tegal) melawan Achmad Syauqi (Tegal) akan dilanjutkan di tegal. Disemifinal Dwi Wijayanto (Tegal) melawan Zain Maulana (Cirebon) 42 54 (4), Achmad Syauqi mengalahkan Tresnadi Safrudin (Cirebon) 42 41.
Tunggal putri KU 14 tahun, Rifliani Achir Putri (Cirebon) bertemu dengan Mutiara Bur Fatma (Pemalang) aka dimainkan di Tegal pula. Disemifinal Rifliani mengalahkan Inas Safira (Pemalang) 41 40. Mutiara Nur fatimah mengalahkan Desy ratnasari asal Indramayu 42 42.
Final tunggal putri KU 16 tahun akan bertemu antara Nurma Farida (Pemalang) dan Laksmi Nuraini (Tegal). Disemifinal Nurma mengalahkan Arum Mananti Pradita (Cirebon) 41 40, sedangkan Laksmi mengalahkan Dian Kartika (Pemalang) 53 54 (3). Pertandingan antara Dian Kartika melawan Laksmi memakan waktu paling lama karena kedua pemain saling adu reli sehingga akhirnya fisiklah yang paling menentukan. Type permainan yang sama dan sudah saling mengenal perainan keduanya.
Dari hasil pengamatan August Ferry Raturandang, yang sempat diperhatikan adalah bibit muda asal dari Cirebon, Maria Agatha Christie yang masih berusia 8 tahun sudah bertanding dikelompok 12 tahun karena tidak adanya peserta KU 10 tahun putri. Permainannya cukup memikat karena tidak terkesan bermain mencari menang. Keberanian memukul bola kecuali dalam keadaan terjepit membuat daya tarik menontonnya. Begitu juga permainan cukup menarik dari Laksmi N.
Setelah selesai pertandingan tunggal putri KU 12 tahun, langsung diserahkan hadiah kepada pemenang oleh Pak Jauw didampingi oleh August Ferry Raturandang dan Dien Hendra, Karman dari Pengkot Pelti Cirebon.
Setelah selesai, AugustFerry Raturandang langsung kembali ke Jakarta dengan mobil Panther, sedangkan rekan2 di Cirebon menawarkan menginap semalam lagi. Karena waktu sudah malam sehingga singgah makan malam dulu setelah keluar kota Cirebon dan tepat pukul 21.30 langsung tancap gas ke Jakarta. Melihat telah berhasil laksanakan Piala Ferry Raturandang-63 membuat kepuasan tersendiri baginya dengan penuh harapan ada kebangkitan tenis di Cirebon dan sekitarnya sebagai hasil nyata jalan jalan keluar kota Jakarta. Ini tugas yang harus diemban selaku pelaku tenis di negeri tercinta ini, dengan karya nyata dalam olahraga bukan olahrasa. Apapun yang dicelotehkan masyarakat tenis yang sebenarnya karena sirik dan iri hati tidak akan menggoyangkan niat August Ferry Raturandang berjalan-jalan kedaerah terutama yang belum pernah dikunjungi sebagai prioritas utama yang semuanya demi kemajuan tenis didaerah walaupu buka putra daerah tersebut. "Yang penting punya NIAT dan TEKAD maka mimpi mimpi ini bisasegera terealiser. Ini harapan dilakukan juga oleh insan tenis lainnya."
Tiba dengan selamat tepat pukul 00.30 dirumah. Dan semua ini bisa terjadi berkat Tuhan Yang Maha Pengasih telah memberikan kesempatan kepadanya menjalan tugas " jalan jalan " kedaerah. Amin

Tenis Galatama di Cirebon

Cirebon, 8 Februari 2009. Ditengah tengah turnamen Piala Ferry Raturandang-63 terpaksa dihentikan karena pemesanan lapangan indor Sakapura hanya sampai pkl 16.00, yang akan digunakan pelanggan yang tidak mungkin ditunda tunda karena turunnya hujan tiba tiba di Cirebon. Menerima tawaran gunakan lapangan indoor Sakapura disaat turnamen sedang berlangsung terhenti hujan di lapangan Pertamina Country Club Stadion Bima, merupakan penawaran yang sangat menolong pelaksana agar tidak terhenti.
Disaat itu banyak orangtua saling menyayangkan pihak pelanggan tersebut tidak mau mengalah dengan petenis yunior. Bahkan ada yang mengatakan dikotanya, Walikota sedang berlatih mau dihentikan untuk petenis yunior. Tetapi semua itu diredam oleh August Ferry Raturandang karena sesuai komitmen dengan pelaksana yang bisa menerima penggunaannya sampai pkl 16.00 dan setelah itu pkl 18.00 bisa digunakan. "Jangan disalahkan pengelola disini karena saya sangat berterima kasih mereka menawarkan penggunaan lapangan tersebut ketika tahu kalau Piala Ferry Raturandang-63 sedang berlangsung."
Lebih seru lagi pelanggan yang datang dikenal sebagai petenis galatama, maksud bermain tenis dengan taruhan. Cara mainpun berbeda yaitu 3 lawan 3, atau 2 lawan 3 dimana ada yang menggunakan papan. Inilah dia dunia perjudian ditenis sudah berlangsung lama terutama di Cirebon.
Sambil menunggu waktunya pukul 18.00 tetapi peserta dari luar Cirebon sudah gelisah. Langsung dari Tegal menawarkan agar pelaksanaan turnamen Piala Ferry Raturandang-63 babak final yang kebetulan terjadi "All Tegal Final" dibeberapa kelompok umur semuanya peserta dari Tegal. Mendapat penawaran yang sangat membantu, tidak ditolaknya sehingga diberi kesempatan lakukannya.
Yang menjadi permasalahan adalah Kelompok umur 12 tahun putri, karena sistem round robin disatu pool sampai saat ini belum selesai seluruh pertandingannya.
Datanglah beberapa orangtua dari peserta KU 12 tahun putri menanyakan kelanjutannya.
" Saya tunggu setelah pkl 18.00 baru dimainkan. Tapi kalau kalian menghendaki lain silahkan ajukan." ujar August Ferry Raturandang. Terjadi kesepakatan kalau posisi saat sekarang sebagai acuan penentuan pemenang. Hal ini dijalankan , tetapi setelah diberi tahukan hasilnya muncullah ketidak setujuan dari salah satu ibu dari petenis Cirebon. "Tadi suami Ibu sudah setuju, kok sekarang berubah." Langsung dipanggilnya suaminya dan menanyakan kebenaran persetujuan tersebut. "Saya hanya katakan lihat dulu, bukan setujua." ujarnya
Langsung dikumpulkan para orangtua karena ada satu orangtua tidak merasa diajak berunding. "Saya minta satu saja yang mewakili anaknya." ujarnya kepada para orangtua yang hadir.
Disampikan pula ada 2 opsi yaitu pertandingan dimainkan seluruhnya atau diambil hanya 4 pertandingan dari 5 pertandingan yang harus dijalankan. Ternyata disetujui dimainkan semua karena tujuan ke Cirebon adalah untuk bertanding bukan cari juaranya.
Setelah itu 3 orangtua berunding lagi dan didengar August Ferry Raturandang tetapi tidak melihat siapa yang berbicara hanya mendengar suara suaranya. Ternyata disepakati yang dimainkan adalah yang belum melengkapi karena baru 3 pertandingan yaitu putri Maria Agatha Christie. Setelah itu Suwita melaporkan kepada August Ferry Raturandang.
Tetapi ternyata Ibu dari Maria Agatha Christie protes setelah dengar ada perubahan komitmen yaitu dimainkan yang belum main dulu. Oleh Suwita dipertanyakan kenapa Ibu tersebut protes merasa tidak diajak berbicara sedangkan suaminya sudah menyetujuinya. " Kalau begitu suami ibu itu plin plan. "
Akhirnya August Ferry Raturandang mengambil alih permasalahan yang cukup menonjol ego masing masing. " Bagaimana sekarang, apakah semua keputusan diberikan kepada sepenuhnya atau tidak? Kalau ya right or wrong my decision harus diterima semuanya. OK " ulas August Ferry Raturandang. Ketika semua menyetujuinya maka diputuskan sesuai jadwal. Semua ikuti dan patu atas keputusan tersebut.
August Ferry Raturandang dengan sengaja membiarkan permasalahan ini karena ikut campur orangtua yang lebih mementingkan kepentingannya. Ketika mereka sendiri buntu perundingannya baru diambil alih dan semuanya mengikutinya. Selesai sudah, akibatnya pulang ke Jakarta pukul 20.30 . "Maaf ya Pak Ferry " ujar mereka.

Cirebon, Indramayu dan Tegal Tertarik Buat Turnamen Nasional

Cirebon, 8 Februari 2009. Pengalaman pertama selenggarakan turnamen Piala Ferry Raturandang-63 dikota udang Cirebon ternyata bermanfaat bagi masyarakat Cirebon sendiri. Paling sedikit apa yang diungkapkan oleh pengurus lapangan tenis Sakapura Bapak Jauw kepada August Ferry Raturandang menjadi modal dasar bisa terealisernya tambahan kegiatan turnamen tenis bagi petenis diwilayah Cirebon.
"Saya lebih suka pembinaan yunior dengan adakan Persami lagi di Cirebon." ujarnya setelah mendapatkan penjelasan mengenai persiapan turnamen Ferry Raturandang -63 cukup menggunakan internet dan telpon seluler. "Saya bisa bantu memberitahukan kepada peserta baik di Jawa Barat maupun Jawa Tengah dan DKI Jakarta." ujar August Ferry Raturandang.
Langsung oleh Pak Jauw dipanggilnya Mukti salah satu karyawannya untuk segera siapkan Persami tanggal 14-15 Maret 2009 di lapangan tenis Sakapura Cirebon. " Koordinasi dengan Pak Ferry, ya !" perintahnya.

Ketika ditawarkan selenggarakan turnamen nasional junior, Jauw-pun berkeinginan besar dengan meresponsnya. " Kira kira berapa beayanya Pak Ferry ? "
Melihat terbukanya keinginan selenggarakan turnamen nasional, August Ferry Raturandang tidak mau melepas peluang tersebut. " Kemampuan Bapak cari dana berapa. Satu jutakah, sepuluh jutakah, seratus jutakah. Saya bisa selenggarakannya berdasarkan kemampuan pelaksana." ujarnya kepada Pak Jauw yang terkaget kaget juga kemungkinan ini karena pengalaman selama ini beaya turnamen cukup besar dan tidak bisa ditawar tawar. Prinsipnya, untuk tidak memberikan pandangan tingkat kesulitan yang besar sehingga niat mau selenggarakan kegiatan tidak hilang tetapi memacu agar bisa berkembang. Ini semua karena minimnya pengalaman sehingga ada ketakutan pelaku pelaku dilapangan.
Disamping itu pula kesempatan berbincang bincang dengan dengan orangtua yang hadir, baik yang duduk dalam Pelti dikota masing masing, seperti Purnomo (Tegal), Suwita (Indramayu), Dien Hendra (Cirebon), Karman(Cirebon), memberikan respons positif agar dikota masing masing harus diadakan turnamen tenis mulai Persami sampai nasional. Ini membuat August Ferry Raturandang sangat bergairah berkunjung kedaerah daerah melihat langsung kegiatan kegiatan tenisnya. Terutama kota kota sangat minim kegiatan turnamen tenis yunior.
Purnomo langsung beritahukan kalau Tegal di tahun 2009 sedang persiapkan 3 kegiatan turnamen nasional. " Kami segera kirim surat ke PP Pelti ." ujarnya dengan semangat tinggi.
Sedangkan sambutan juga datang dari Suwita , yang juga Pelti Kabupaten Indramayu, berkeinginan sekali adakan Piala Ferry Raturandang di Indramayu, sedangkan August Ferry Raturandang menginginkan diadakan turnamen nasional karena memiliki cukup banyak lapangan tenis. "Saya ingin dibulan Oktober 2009 ada turnamen nasional. Apa Bapak bisa aturkan. " ujar Suwita. Langsung ditanggapi akan segera disiapkan untuknya.

Sabtu, 07 Februari 2009

Akibat Hujan Makan EMPAL GENTONG dan TAHU GEJROT

Cirebon, 8 Februari 2009. Hari ini udara kota Cirebon kurang bersahabat. Pagi hari sudah mulai gerimis, tetapi masuk ke lapangan tenis PERTAMINA Country Club Stadion Bima ternyata lapangan kering, sehingga pertandingan mulai pkl 08.00 bisa dimulai.
Tetapi tepat pkl 10.00 turun hujan deras sehingga beberapa pertandingan terhenti. Hujan deras membuat terganggunya pertandingan Piala Ferry Raturandang-63 yang sudah berlangsung sejak kemarin.
Tiba tiba telpon seluler berbunyi datang dari salah satu pelatih di Cirebo Chepy yang menawarkan menggunakan lapangan Sakapura yang sebenarnya sudah tidak asing lagi karena lapangan tersebut menjadi saksi turnamen nasional Cirebon Open tahun 1990.
Penawaran ini tidak ditolaknya karena akan sangat membantu pelaksnaan, walaupun ada yang mengatakan kemungkinan hujan akan segera berhenti. Tapi tanda tanda berhenti belum ada, dan jika ada akan muncul kesulitan lainya karena ketiadaan peralatan untu mengeringkannya. Akhirnya diumumkan agar seluruh peserta menuju kelapangan Sakapura.
Ada keistimewaan lapangan Sakapura selain memiliki lapangan tertutup ( 2 ) tersedianya makananpun terjamin. Ada yang disebut EMPAL GENTONG dan juga TAHU GEJROT.
Sambil menunggu jalannya pertandingan kesempatan menimati makanan ini benar benar dinikmatinya.
Ternyata yang dimaksud dengan Empal Gentong, sama dengan gulai sapi. Selama ini gulai itu dengan daging kambing, kali ini daging sapi. Rasanya cukup nikmat apalagi dalam situasi perut kosong karena sudah waktnya jam makan siang).
Selesai itu menikmati jalannya pertandingan yang cukup menarik adalah penampilan tungal putri KU 12 tahun antara petenis tuan rumah Maria Agatha Christie ( 8 th) melawan petenis Indramayu Shafira Nurulhuda (10 th 8 bulan) 54 () 14 10-4. Ternyata permainan keduanya cukup menarik karena bertanding tanpa beban sehingga berani memukul bola. Dukungan suporter keduanya membuat makin riuhnya lapangan Sakapura.
Hujan berhenti, ada 2 lapangan outdoor langsung dikeringkan. Tetapi ternyata belum kering betul, turun lagi hujan. Begitulah nasib turnamen Piala Ferry Raturandang-63 yang baru pertama kali diselenggarakan di Cirebon Jawa Barat.
Hujan setiap 15 menit setelah berhenti turun lagi sehingga udara dingin menusuk tulang membuat perut mulai minta perhatian besar.
Untuk mengisi agar tidak kedinginan, tersedia makanan khas Cirebon lainnya yaitu TAHU GEJROT. Makanan apalagi ini dianya.
Keinginan mencoba muncul akibat dinginnya udara. Ternyata tahu goreng dicampur sambal yang diulek diatas colekan dengan air cuka. " Lumayan juga ya ! " Maknyuss ! Bikin iri pembaca sehingga aktip menulis dikomentar situs Pelti yang sirik karena sudah termasuk pasien RSJ.
Dikiranya jalan jalan ini menggunakan uangnya Pelti. Mana tahaan bleh !

Petenis Tuan Rumah Mulai Berguguran

Cirebon, 7 Februari 2009. Petenis tuan rumh mulai bergugura di turnamen tenis yunior Piala Ferry Raturandang-63 yang berlangsung di lapangan tenis Bima Cirebon. Disaksikan oleh sejumlah pengurus Pelti kota Cirebon, Indramayu, Tegal. Hadir Din Hendra Sekretaris Pelti Kota Cirebon beserta anggota pengurus lainya seperti Karman dan beberapa pelatih lainnya. Menurut August Ferry Raturandang terlihat beberapa petenis tuan rumah yang minim ikuti turnamen gagal maju kebabak berikut dan bertanding tidak seperti biasanya seperti yang diungkapkan pelatih Cirebon Yadi.
Tunggal putra usia 10 tahun petenis tuan rumah Irvin dikalahkan petenis Brebes Debri 14 04. Begitu juga Bayu dikalahkan oleh Akbar dari Brebes 35 04. Dhani Dwiputra asal Tegal mengalahkan M.Azzam Saifudin (Cirebon) 40 40. Hal yang sama dialai ditungal 12 tahu putra. Andro Deantara (Tegal) mengalahkan Lukman dari Ciebon 41 53. Dicky Julianto (Brebes) mengalahkan Benedict Ivan (Cirebon) 40 41. Dwi Arif Alfianto (Tegal) mengalahkan Ahmad Ilham (Cirebon) 40 40. Ivan Andrew (Tegal) menang dari Muh Vernando (Cirebon) 40 40.
Untuk tunggal 14 tahun putra, ternyata petenis tuan rumah berhasil berjaya setelah kalahkan lawan lawan dari luar kota. Candika Pratama(CRB) mengalahkan Ekan Himawanto (Tegal) 53 35 (2-7) Begitu pula rekannya Irawan Bagus mengalahkan Prastia Safrudin 40 40. Muhamad Adam (Tegal) mengalahkan Kevin (CRB) 41 42. Zulfikar (Brebes) mengalahkan Adam Maulana (CRB) 53 41.
Kelompok 16 tahun putra Zain Maulana (CRB) mengalahkan petenis Majalengka Dimas Aditya 40 40. Tresnady Safrudin (CRB) mengalahkan petenis Bandung Faizal Amir B 40 41.
Kelompok 12 tahun putri, Shafira Nurulhuda mengalahkan Lina 40 41, Sarah Ayutami kalah dari Arrum Damasari 04 04. Maria Aghata Christi mengalahka Aulia Salsabila N 40 41.
Untuk kelompok 14 tahun putri petenis tuan rumah Riflani Achir Putri mengalahkan Ghyna Rosdyana asal Indramayu 40 40. Inas Sfira (Pemalang) mengalahkan petenis Indramayu Dea Putri Utama 40 40, kemudian Imas mengalahkan Tiara AW (CRB) 40 40 dimana sebelumnya Tiara AW berhasil tumbangkan petenis Peringkat 54 Silvia Shofiya Tunissa (Indramayu) 40 35 53.
Desy Ratnasari (Indramayu) menumbangkan unggulan 4 asal Indramayu Apriyonda 53 41. Unggulan 2 asal Pemalang Mutiara Nur fatma berhasil melaju ke semifinal setelah kalahkan Tyssa SP (CRB) 42 41. Hari ini disemifinal Desy ratnasari ketemu Mutiara Nur fatma sedangkan Riflini Achir Putri ketem Inas Safira. Tidak kalah serunya di tunggal putri 16 tahun, Laksmi Nuraini asal tegal mengalahkan Norma Insan Muslimah (CRB) 40 40.
Turnamen Piala Fery Raturandang-63 ini berlangsung dua hari yaitu tanggal 7-8 Februari 2009 dilapangan tenis Stadio Bima Cirebon diikuti 53 petenis asal Tegal, Pemalang, Brebes, Majalengka, Bandun, Indramayu dan Cirebon. Yang mendaftar awalnya sudah mencapai 63 tetapi banyak juga yang no show. Beberapa darinya bersal dari petenis tuan rumah yang tidak memanfaatkan keberadaan turnamen dirumah sendiri.