Selasa, 11 Mei 2021

Selenggarakan Turnamen Tidak Tenang, Kenapa ?

Jakarta, 12 Mei 2012. Selama hidup menyelenggarakan turnamen,  baru pada saat pandemi Covid-19 merasa tidak tenang, Timbul kekuatiran selalu pada  hari pelaksanaannya. Itulah yang dialami oleh AFR selama ini.

Dimulai dari  Remaja Tenis Jakarta bulan Oktober 2020 di Elite Club Club Epicentrum Rasuna perasaan tidak tenang selalu menghantui AFR siang dan malam, Karena ada perasaan kuatir dalam pelaksanaan nanti muncul hal hal yang tidak diharapkan sehingga mengacaukan pelaksanaannya nanti.Untung tidak terjadi. Bersyukurlah semuanya.

Tetapi sebagai konsekuensi dalam pelaksanaan harus dikontrol kerja rekan rekan dilapanagan, Apalagi diadakan Rapid Test yang dalam pelaksanaan ada yang tidak lancar. Hal ini dimaklumi karena kerja selama ini sangat santai maka masalah Rapid Test dianggap sepele. Awalnya tidak ada kerja sama antara petugas media dan Referee sehingga tidak 100 prosen seluruh peserta sudah menjalankan Rapid Test. Ternyata ada satu dua peserta saja tidak menjalani Rapid Test karena takut, Maka dari itu pelaksanaan kedua harus ditekankan antara kedua petugas tersnbut harus bisa laksanakan sesuai anjuran AFR. Sekali lagi harus dikontrol baru bisa terlaksana.

Masalah lain muncul jika melaksanaakan protokol kesehatan , maka beaya turnamen akan meningkat. Apa yang harus dilakukan? Biasanya petugasnya dikurangi, Ketika dibicarakan dengan ekan ekan ainnya, rencana petuagas wasit dihilangkan maka timbl kesan ada kemunduruan nagiReaja Tenis. Karena selamainisudah pakai wasit, kok sekaranag tidak, Maka batalah. Tetapi turnamen harus jalan tidak ada kata mundur demi kepentingan tenis belaka.

Syukurlah turnamen berjalan lancar, tidak jadi ada pengurangan tenaga pelaksanaan

Sportivitas Enak Didengar, Tidak Enak Dilaksanakan


 Sportivitas itu sering didengung-dengungkan dalam dunia olahraga. Sportivitas adalah sikap yang menunjukkan perilaku etis dan berintegritas , mengakui keunggulan lawan dalam kompetisi/kejuaraan ataupun menerima kemenangan. Sehingga sportivitas dijunjung tinggi dalam olahraga

Bagi atlet, pelatih, pembina dan tentunya juga para insan olahraga sportivitas seharusnya wajib hukumnya untuk dijalankan. Namun apakah harapan itu bisa dilaksanakan seindah aslinya? Jawabannya memang harus hati-hati karena banyak kisah para pelaku olahraga yang menjunjung soprtivitas. Namun di bagian lain banyak pula yang melenceng dari nilai-nilai luhur olahraga itu.

Bagaimana perwujudan sportivitas itu bisa tercermin bukan saja dari suatu pertandingan atau kejuaran maupun pesta olahraga namun juga dari apa yang ada di balik sebelum pelaksanaan event olahraga itu. Dari sorotan terhadap pelaksanaan pertandingan tenis di Pekan Olahraga Nasional (PON) menarik untuk diamati bagaimana sportivitas itu dipertaruhkan.

Pekan Olahraga Nasional ( PON ) yang tujuan awalnya adalah untuk mempersatukan bangsa. Karena PON I tahun 1949  masih suasana perang, diperlukan untuk mempersatukan bangsa. Perkembangan PON berlangsung berubah kemudian menjadi PON Prestasi sesuai dengan tuntutan jaman.

Kemudian tuan rumah PON sudah tidak mampu  menampung pesertanya sehingga peserta PON mulai dibatasi, jadi berdasarkan kuota, khusus tenis berkisar 96 peserta. Akibatnya tidak semua daerah menikmati dalam keikutsertaannya.

Begitu pula saat itu hanya 12 daerah dari 34 provinsi bisa mengikutinya. Dan sayangnya akibat kurangnya turnamen diakui Pelti didaerah luar Jawa sehingga mayoritas petenis berperingkat nasional seputar pulau Jawa.  

Inisiatif Pelti saat itu mencapai tujuan agar PON Prestasi maka daerah daerah tersebut ditawarkan petenis yang memiliki PNP ( peringkat nasional Pelti) sehingga tersebar keseluruh daerah.

Daerahpun menyambut baik tawaran ini. Karena free of charge. Jadi tidak dibisniskan. Dampak  PON Prestasi maka berlomba lomba daerah mengimport petenis berperingkat dengan iming iming disamping bonus dan dana transfer. Kita akui seharusnya diterapkan Tennis is Businnes seperti yang dicanangkan ketua umum PB Pelti 1986-1990, Drs Moerdiono (alm), tetapi sekarang berubah menjadi atlet dibisniskan. Itulah yang terjadi perubahan drastis.

 Pengalaman sebagai Technical Delegate Tenis PON XVI Palembang 2004, PON XVII Balikpapan, PON XVIII Riau 2012, sering terjadi protes peserta karena merasa atlet binaannya sudah berpindah kedaerah lainnya. Ini akibat ketidak sportivitasnya para pembinanya yang memanfaatkan kelemahan daerah lain yang tidak berhasil melakukan pembinaannya. Karena daerah sekarang lebih bangga atau mengutamakan Prestise dari pada Prestasi. Lebih murah dan cepat mentransfer pemain yang sudah jadi dari pada membina sendiri. Menjadikan seorang juara tidak bisa instan. Dan beaya akan jadi mahal sehingga dipilih cara instan.

 Upaya mengatasi masalah perpindahan atlet sesaat PON oleh KONI Pusat diatur dengan menerbitkan Aturan Mutasi dalam PON, yang dalam hal ini selalu  bisa saja aturan itu diakalin oleh pembinanya untuk memuluskan transfer pemain tersebut karena ada keuntungan tersendiri bagi perantaranya.

Selama daerah berlomba mengejar prestise maka sulit dibendung karena yang punya dana adalah daerah melalui KONI Provinsi. Suatu permainan akal-akalan antara petugas Pelti dan KONI Provinsi memanfaatkan kelemahan pembinaan organisasi Cabor didaerah daerah tersebut.

Transaksi terjadi dalam jumlah ratusan juta rupiah bahkan sudah mencapai miliar. Dan pula sangat rawan terjadi percaloan dilakukan oleh pembina itu sendiri

Penyakit ini sudah menjalar ke tingkat kabupaten dan kotamadya untuk mempersiapkan tim dalam multi event Pekan Olahraga Provinsi ( Porprov).

Tidaklah heran sampai keluarlah pernyataan dari salah satu pimpinan provinsi bahwa PON itu sebaiknya dibubarkan. Alasannya bahwa itu hanya akal akalan pengurus Komite Olahraga Nasional Indonesia didaerah.

Begitu pula dalam Seminar Olahraga di Aula Kemenpora saat itu didepan Ketua Umum KONI Pusat Rita Subowo, August Ferry Raturandang selaku Wakil Sekjen PP Pelti menyatakan bahwa " Sportivitas Itu Hanya Berlaku Untuk Atlet, Tidak Berlaku Untuk Pembinanya". ***

* August Ferry Raturandang – penggiat tenis ( www.suarakarya.co.id)

Senin, 03 Mei 2021

NIAT lebih penting Daripada Dana


 Jakarta, 4 Mei 2021. Apa kunci dari kebehasilan buat turnamen selama ini yang merupakan modal dasar kita ? Tak lain dan tak bukan adalah NIAT. Bukannya DANA yang selama ini dianggap perlu untuk segala kegiatan kita.

Tetapi AFR selalu katakan bahwa tak ada NIAT maka walaupun ada DANA tidak bisa dilaksanakan keinginan bikin turnamen. Ini ditunjukkan dalam merencanakan Remaja Tenis yang khusus untuk yunior sejak tahun 2009 yang sampai sekarang sudah dilaksanakan di 22 Provinsi di Indonesia  dengan total pelaksanaan mencapai 207 turnamen. Bahkan didalam pandemi Covid-19 juga bisa dilaksanakan pelalsanaan RemajaTenis.

Belum lama ini bulan lalu AFR telah membuktikan juga dalam pelaksanaan Turnamen Maesa Paskah yang termasuk turnamen tertua di Indonesia. Padahal perencanaan turnamen Maesa Paskah hanya sebulan saja tetapi bisa dilaksanakan.Karena tidak ada yang bisa menggerakkan tenis Kawanua ini, maka AFR berinisiatip sendiri , Disini AFR tidak memerlukan DANA tetapi NIAT leih penting, karena nantnya DANA itu bisa dicari dengan sendirinya.

Awalnya dimulai dengan melemparkan niat itu dengan memancing emosi warga Kawanua yang peduli atau merindukan adanya turnamen yang merupakan turnamen tradisional tersebut, Memancing emosi kuncinya dengan melemparkan pwrtanauaan tentang Maesa Paskah yang terhenti cukup lama, Kemudain berkembang tentang kepengurusan Maesa, tapi tetap AFR tidak singgung masalah tersebut,a tetap fokus akan turnamen Maesa Paskah atau dulu dikenal dengan Paastournooi

Kemudain diundanglah rekan rekan petenis Kawanua melaui group WA dengan sambutan cukup besar menunjukkan mereka sangat menginginkan turnamen Maesa Paskah terealiser. Langkah berikutnya diundang untuk pertenuan pertama di lapngan tenis Kota Wisata. Hadir pada sotre itu Stanley Rondonuwu, Johan Tumanduk, Jerry Tangkilisan, Army Pantouw, Eric Lumanauw, Angky Rattu,Lucky Tumbelaka  Nico Sompotan,Billy Pakasi, Ilham Saputra-Tumanduk , Agus Mandera dan AFR sendiri. Maka kesepakatan membentuk Panitia Pelaksanaan yaitu Ketua Jerry Tangkilisan dan Johan Tumnduk Sekretaris, Karena waktu sudah dekat kira kira 3 mingu lagi maka dipituskan rapat kedua di lapangan tenis Yolanda Soemarno. Yang hadir saat itu Yolanda Soemarno, Mona Sigar, Harmen Tompodung , Corry Tompodung, Ine Pasla, Anneke Pakasi, Lucky Tumbelaka, Armand Monoarfa, Ginny Monoarfa, Johan Tumanduk, Stanley Rondonuwu, Army Pantouw, Eric Lumanauw, Angky Rattu,Billy Pakasi, Irawati Moerid, Adrian Tapada dan istri, Agus Mandera, Albert Polohindang. dan AFR selaku penggagas saja karena ada masalah dengan pita sura sehingga kesulitan mengeluarkan pendapat. Tapi itu tidak jadi masalah karena kalau ada kingingan dikeluarkan melalui WA saja.

Terjadi perubahan panitia karena Jerry Tangkilisan sedang sakit saat ini, Maka disepakati sebagai AdrianTapada  dan sekertaris Stanley Rondonuwu.

Langkah pertama adalah penentuan waktu pelakanaan dan jenis pertandingan baru bisa diputusakn budget yang diperlukan. Terlaksana sudah turnamen Maesa Paskah 2021 pada tanggal 3-4 April 2021 di lapangan tenis Bea Cukai Rawamangung Jakarta.Karena masa pandmi Covid-19 peserta dibatasi hantya Jakarta dan sekitarnya.Tapi ternyata datang juga dari Makassar, Gorontalo dan Manado

Inilah kisah sehingga keinginan adakan turnamen Maesa Paskah bisa terlaksana. Padahal dana belum ada tetapi dicari kemudian. Tanpa NIAT kemungkinan tidak akan terjadi turnamen Maesa Paskah.

Begitu juga selama ini rahasia pelaksanaan Remaja Tenis bisa terlaksana karena adanya NIAT., Kuncinya juga jika mendengar ada keininginan suatu daerah adakan Turnamen, maka segera ditangkap keinginan tersebut karena ini suatu kesempatan sudah terbuka. Jangan dipersulit maka larilah keinginan itu dari tangan kita sendiri.

Banyak kejadian AFR dengan rekan rekan tenis didaerah daerah. Sebagai contoh di Jayapura jauh disana bisa terlaksana demikian juga di Medan bisa terlaksanna..Begitu juga Palangka RayaKalimantan Tengah. 

Sebenarnya banyak tokoh olhraga baiuk diorgnsiasi tenis maupun klub klub tenis memiliki DANA sebagai pengusaha, Sebenarnya bisa menurut teorinya, tapi kenyataannya tidak bisa. Itu tidak bisa dipungkiri, suatu kenyataan didepan maya kita. Kalau ditanya selalu mengatakan ada niat untuk memajukan Tenis Indnesia , tetapi itu kebanyakan hanyalah Lipservice belaka karena tidak dengan hati mengatakan demikian 


Petenis Berdarah Kawanua Dalam Bingkai Tenis Indonesia oleh August Ferry Raturandang

 Cukup banyak petenis berdarah Kawanua di pertenisan Indonesia bahkan banyak juga ikut andil dalam membela tim nasional Indonesia dalam ajang internasional baik itu multi event dan team event seperti Davis Cup, Fed Cup, Davis Cup Jr, Fed Cup Jr, World Junior Competition.

Petenis Kawanua mewarnai pertenisan nasional kita seperti Samudra Sangitan, Jacky Wullur, Lanny Kaligis- Lumanauw, Lita Soegiarto, Yolanda Mangadil-Soemarno, Danny Walla, Willy Walla, Emric Walla, Donald Wailan Walalangi, Waya Walalangi, Ronny Pasla, Johnny Pasla, Vonny Rompis, Letsy Mantiri, Reintje Saerang, Peter Dumanauw, Unang Mardana, Albert Polohindang, Bunge Nahor, Alfred Raturandang, Ferry Raturandang, Rendy Pangerapan, Max Widi, Luciana Lolong, Conny Maramis, Johan Tumanduk, Wanda Tumanduk, Jimmy Tumanduk, Michael Sitepu, Marco Sitepu, Irawati Moerid, Solihati Moerid, Lamsriati Moerid, Derby Sugondo, Wibawa Sugondo, Dirgawan Sugondo, Ricky Ticoalu, Beno Ticoalu, Ruby Rungkat, Ira Rungkat, Titi Rungkat, Clifford Wuisan, Ferry Faried, Franky Faried, Julia Rampen, Aga Soemarno, Tanya Soemarno,,


Joanne Kussoy, Tony Sangitan, Waya Mandang ,Maya Mandang, Vivi Rogi, Vera Lumi, Yova Sumampouw, Damopolii, Yvo Hubner, Reza Hubner, Patrick Waworuntu, David Waworuntu Andrew Sondakh, Andrew Mamahit, Ivan Tulis, Dave Makamian, Andrian Raturandang, Rivelino Raturandang, Anasthasa Raturandang, Dino Raturandang, Christina Raturandang, Stanley Mamangkey, Rocky Wawolumaya, Pingkan Lumenta, Bianca Soegiarto, Andre Pasla, Ivan Pasla, Lia Boediono, Ruthy Watupongoh, Hannoch Watupongoh, Ferly Montolalu, Jane Maukar, Yerry Pattinasarany, Stanley Sanger, Michael Pakasi, James Memah, Greatna Subandi, Stanley Mandei, Septi Mende. Muncul lagi Angel Lontoh, Ana Kawengian, Daniel Kawengian, Daniel Sanger, Yulia Sanger, Sharon Watupongoh, Christine Watupongoh, Ricky Sondakh, Rendy Reo, Skia Sumual . Ibaratnya reuni saat itu jika dalam kejuaraan-kejuaraan nasional baik yunior maupun senior.

Generasi berikut muncul Armando Soemarno, Fabian Soemarno, Giorgio Soemarno, Samantha Nanere, Christopher Rungkat, Jessy Rompies, Jeje Nahor, Jonathan Nahor, Patrick Mahone, Claudio Lumanauw, Giovanny Lumenta, Kayla Paath.

Jika melihat nama nama tersebut, ciri khas petenis Kawanua berasal dari Tenis Keluarga. Dimulai dari Orangtuanya turun ke anak anaknya dan bahkan sampai ke cucunya.

Turnamen tenis Paskah Maesa yang awalnya sebagai persyaratan ikut serta wajib dari keluarga Kawanua. Bertahun tahun turnamen traditional dipertahankan sehingga banyak hadir petenis keluarga tersebut.

Kegigihan Tjok Muntu saat Surabaya selaku tuan rumah mempertahankan Turnamen Tenis Paskah Maesa hanya boleh diikuti oleh Kawanua murni. Karena cabang cabang olahraga lainnya banyak simpatisan non Kawanua yang membuktikan kesetiaannya sebagai anggota POR Maesa. Akibatnya pintu Maesa sudah dibuka ” OP EN KIERTJE” . Namun masih sangat kecil. Tetapi khusus tenis masih ada pembatasan yang cukup ketat.

Tahun 1988, tokoh tokoh Maesa berpikir bahwa sudah beberapa petenis Kawanua menjadi petenis nasional dan perlu diorbitkan menjadi produk Maesa. Diberikan wadah kejuaraan nasional Maesa Super yang dipisahkan dengan Paskah Maesa dalam kepanitiaan.

Sebagai juara tunggal putra Maesa Super adalah Dede Suhendar, Ganda putra Sulistiono/Bunge Nahor. Tunggal putri Utaminingsih dan ganda putri Utaminingsih/Lukky Tedjamukti.

Tahun 1989 berlanjut Maesa Super yang juga merupakan kalender Turnamen Diakui Pelti( TDP) sebagai juara tunggal putra Suharyadi, juara tunggal putri Yayuk Basuki, ganda putra Bonit Wiryawan/Daniel Herjanto dan ganda putri Irawati Moerid/ Yayuk Basuki. Kemudian juga selain Paskah Maesa juga terselenggara Maesa Super.

Kemudian yang akhir-akhir ini diselenggarakan di Jakarta kemudian dipindahkan ke Makassar dan Menado dengan tujuan untuk meningkatkan pertenisan daerah sesuai program PP Pelti. Tetapi ini awal dari kelesuan Paas Tournooi alias Turnamen Tenis Paskah Maesa. Terakhir kali di Manado 2018. Setelah itu tidak kedengaran lagi gaungnya.

Ada pesan singkat yang bermakna tidak bisa dilupakan datang dari tokoh Kawanua Surabaya, N.Rumeser. ” Marilah torang samua, torang pe anak anak deng cucu cucu, marilah torang samua berusaha mati matian supaya POR Maesa deng segala macam up and down-nya tetap berdiri dan akan mencatat suatu umur yang tinggi, yang tak dapat disangka”. Ungkapan inDai dikaitkan hampir tercapai 100 tahun Paas Tournooi pada tahun 2024 nanti yang lahir pada tahun 1924. Patut juga direnungkan bagi insan tenis Kawanua.(Penulis adalah pemerhati tenis dan promotor RemajaTenis Nasional).

Jumat, 30 April 2021

Menelusuri Turnamen Tenis Tertua di Indonesia oleh August Ferry Raturandang

 Kalau ditanya turnamen tenis tertua di Indonesia maka sulit akan menjawabnya. Yang banyak dialami atau diikuti masyarakat tenis saat ini adalah era 1990. Dan hanya beberapa yang lenggeng seperti Thamrin Cup( Jakarta), Fiks ( Bandung), New Armada ( Magelang), dan beberapa turnamen baru diera 2000.

Siapakah yang masih ingat akan Paas Tournoi? Tidak banyak yang tahu kalau Paas Tournoi lahir pada tahun 1924 sehingga namanya berbau ke belanda2an. Hanya petenis kawanua yang masih ingat walaupun sudah mulai cenderung melupakan.

Kalau turnamen Paskah Maesa so pasti diingat, yang sebenarnya berkembang dari Paas Tournoi menjadi turnamen Paskah Maesa karena diselenggarakan pada liburan Paskah. Nah sebentar lagi liburan Paskah yaitu 2-4 April 2021, mengingat kembali turnamen Paskah Maesa.

Awalnya sekumpulan pemuda Kawanua dari perantauan berkumpul di Bandung untuk bermain tenis di lapangan tenis Pasir Kaliki. Tercetus idea untuk liburan Paskah maupun Natal diadakan turnamen tenis. Rasa persaudaraan cukup kental dan ciri khas orang dari Minahasa adalah senang.

Kangen akan kampung halaman sudah cukup dengan mewujudkan pertemuan baik dilapangan tenis pun jadi. Turnamen tenis berlangsung di liburan Paskah dan Natal. Seterusnya hanya liburan Paskah sehingga namanya Paas Tournoi.

Mengingat agar langgeng dibentuk organisasi tenis yang terdiri dari kawanua Surabaya, Bandung dan Batavia ( Jakarta ) namanya MITO ( Menadonese Interstedelijke Tennis Organisatie).

Pemuda tersebut adalah Anton Najoan bersama Willem Laoh, Wim Najoan, Ferdie Lapian dari Bandung, dan Paul Rumate , David Ranti, Wim Ranti, F.Laoh,dan Wim Gontha dari Batavia atau Jakarta bersama pemuda Salem Ngion dari kota Surabaya.

Pada tahun 1924 juga para penggemar sepakbola mendirikan VVM ( Voetbal Vereniging Minahasa) yang kemudian cikal bakal klub sepakbola Maesa.
Pada tahun yang ssma didirikan klub Catur DE PION.

Tahun 1934 dibentuk organisasi kepemudaan yang diberi nama J.V. Maesa ( Jongeren Vereniging Maesa = Persatuan Pemuda Maesa)

Dari masing2 cabang olahraga timbullah pertandingan pertandingan dengan nama yang dikaitkan dengan libura Paskah yaitu Paas Tournoi.

Kegiatan Paas Tournoi ini berlangsung setiap tahun dan kota terakhir sebelum pecahnya perang dunia kedua berlangsung di Surabaya, untuk kemudian kegiatan terhenti beberapa tahun sampai sesudah perang dunia kedua bahkan sampai sampai pada masa perang kemerdekaan dan sesudahnya.

Kegiatan turnamen tenis Paskah Maesa bangkit kembali sekitar tahun 1954 di Jakarta, 1955 di Surabaya, 1956 di Bandung, 1957 di Jakarta. Tahun 1958-1960 kegiatan antar kota terhenti.

Kemudian dicetuskan ” PON Mini” di Senayan Jakarta pada hari Paskah dengan cabang cabang olahraga Bridge, Catur, Tenis, Bulutangkis, Sepakbola, dengan kontingen peserta berasal dari Medan, Palembang, Bogor Jakarta Bandung, Jogja, Semarang, Surabaya, Malang Denpasar, Ampenan, Ujung Pandang, Manado dan Tondano.

Sebenarnya tahun 1965 direncanakan lagi tapi keburu dilarang oleh Presiden Soekarno karena sukuisme. (Penulis adalah pemerhat tenis dan promotor RemajaTenis Nasional).

Apa ciri khas Paas Tournoi sehingga secara tidak langsung bisa melahirkan petenis Kawanua setiap dekade?
Secara tidak langsung dengan rasa kangen untuk berkumpul dilapangan tenis timbul saling berkompetisi untuk berprestasi. Apalagi adanya jenis pertandingan pasangan suami istri, suatu pertarungan yang cukup bergengasi dimata Kawanua. Istilah Kawanua akar katanya adalah ” WANUA” atau ” BANUA” atau suatu daerah pemukiman atau kampung yang dihuni oleh penduduk anak suku Minahasa.
Istilah ” Kawanua” timbul dan populer di rantau biasanya digunakan oleh perantau yaitu mereka yang datang dari Menado/Minahasa (Disalin dari www.tribunolahraga.com


Tolong Beri Kami Turnamen

 Pembinaan tenis butuh waktu yang panjang untuk bisa menikmati hasilnya. Demikian pula prosesnya tidak kelihatan secara nyata selama ini. Tetapi turnamen bisa dilihat secara nyata adanya suatu kegiatan di satu tempat. Faktanya turnamen itu termasuk salah satu unsur di dalam pembinaan. Bukannya terpisah seperti dipikirkan selama ini.

Pemikiran selama ini selaku pembina tenis baik ditingkat klub atau induk organisasi tenis daerah maupun pusat, terfokuskan kepada peningkatan kwalitas atlet dan pelatih. Justru dilupakan adalah pemassalan atau menciptakan atlet-atlet baru.

Contoh positiF selama ini adalah apa yang dilakukan sejak tahun 1924 secara rutin adalah " Paas Tournooi" atau Turnamen Tenis Paskah dilakukan oleh sekumpulan masyarakat Kawanua di perantauan dengan label Maesa yang artinya " Bersatu". Muncullah atlet tenis berasal dari masyarakat Kawanua di perantauan, sebagai tulang punggung tim nasional Indonesia.

Siapa yang tidak kenal nama nama yang tidak asing didengar seperti Lita Soegiarto, Yolanda Soemarno, Lanny Kaligis, Samudra Sangitan, Jacky Wullur diikuti Donald Wailan Walalangi, Waya Walalangi, Aga Soemarno, Irawati Moerid, Solihati Moerid. Kemudian datang pula era Andrian Raturandang, Septi Mende,  Christopher Rungkat, Jessy Rompies dalam membela nama Indonesia baik di multi event dan single event.


Sedangkan Maesa khususnya tenis  sendiri tidak membina langsung, hanya fokus kepada turnamen turnamen yang rutin sejak tahun 1924. Walaupun sempat terputus oleh keadaan yang tidak memungkinkan seperti Perang Dunia dan sebagainya, tapi semangat itu masih ada sampai sekarang.

Turnamen itu ibarat "show room" baik untuk atlet, pelatih, klub maupun induk organisasi tenis tersebut. Tempat untuk menunjukkan hasil pembinaan atau memperlihatkan kegiatan yang nyata bagi klub maupun induk organisasi tenis itu sendiri. Ada berapa klub yang ada di Indonesia. Ini belum sampai tercatat, mungkin sudah pernah dilakukan tapi tidak pernah di expose sehingga tidak diketahui.

Sayangnya, sempat pula ada Turnamen Antarklub dilaksanakan di Jakarta tapi tidak berkelanjutan sehingga data klub tenis tidak terdeteksi. Tapi ada berapa induk organisasi tenis baik tingkat provinsi maupun kabupaten atau kotamadya so pasti bisa diketahui berdasarkan jumlah provinsi dan kabupaten/kotamadya. Tapi sempat pula diadakan di Jakarta turnamen antar provinsi. Sama nasibnya dengan turnamen antar klub tanpa kelanjutannya.

Begitu juga turnamen antarperguruan tinggi. Sempat terlaksana turnamen antarperguruan tinggi. Sayang tidak berlanjut sama nasibnya dengan turnamen antarklub. Begitu pula tenis sudah tidak tercatat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan di Pekan Olahraga Pelajar Nasional (POPNAS).

 Kuncinya keberhasilan adalah rutinitas diselenggarakan

Turnamen diselenggarakan baik untuk kelompok junior sebagai bagian dari pemassalan, untuk kelompok umum yang biasa disebut dengan kelas prestasi bagi segelintir orang menamakannya, kemudian kelompok veteran (bukanlah kelas pejuang perang). Istilah veteran tidak digunakan ditingkat internasional tetapi istilah Seniors yang lebih tepat. Sejak dahulu kala sampai saat ini yang paling sering (bukan paling banyak) adalah turnamen veteran. Bahkan induk organisasi yang menangani kelompok veteran (mulai usia 30 tahun keatas) ada 2 organisasi sejak sekitar tahun 2014 lahirlah organisasi baru yang menangani turnamen veteran.

Justru organisasi baru menangani veteran lebih agresif menyelenggarakan turnamen tenis veteran.

Penghormatan Bendera Republik Indonesia diiringi Lagu Indonrsia Raya hanya terjadi sewaktu kunjungan Presiden Republik Indonesia ke manca negara dan juga terjadi ketika dalam upacara pemenang dimulti event maupun team event seperti Davis Cup dan Fed Cup. Jadi suatu kebanggaan jika terjadi hak itu.

Nah betapa pentingnya turnamen itu sendiri patut dipikirkan kembali baik oleh pemerintah maupun induk organisasi olahraga tenis maupun klub tenis itu sendiri.

Saat ini jika ditanyakan kepada atlet tenis baik junior maupun senior apa yang dibutuhkan mereka. Jawabannya apakah butuh raket, bola, atau pelatih tapi kenyataannya bukan itu jawaban mereka. Mayoritas jawabannya sama yaitu "tolong, beri kami turnamen".

Begitu polosnya jawaban diberikan mereka. Yang memprihatinkan sekali sejak terjun jadi petenis yang berkecimpung dalam turnamen nasional 1961, yang sampai saat ini masih terjadi khususnya petenis luar Jawa. Bayangkan sudah 60 tahun kenyataan itu masih terjadi.

Siapa yang peduli nasib mereka, kalau tidak dimulai dari diri sendiri. Karena hanya satu permintaan mereka adalah berikan turnamen baru bisa menuntut prestasi mereka  Ibaratnya tanpa turnamen tidak akan bis
a nenuntut prestasi.

Yang lebih sedih kalau pemerintah menuntut prestasi tapi kenyataannya lapangan tenis lebih banyak kena gusur khususnya Ibukota Jakarta. ***


* August Ferry Raturandang – penggiat tenis  dikutip dari www.suarakarya,co,kid

Minggu, 25 April 2021

Dampak Positive Dari Pandemi Covid-19

Jakarta,25


April 2021
. Semenjak pandemi Covid-19 melanda dunia maka kegiatan turnamen sempat terhenti termasuk turnamen akbar sekalipun. Tetapi secara bertahap kegiatan itu akan pulih sedemikian rupa karena kegiatan olahraga termasuk salah satu program peningkatan immunitas tubuh manusia.

Hal ini juga diqlami oleh Turnamen Diakui Pelti. Yang sementara pandemi Covid-19 menutup pintu bagi semua kegiatan TDP nasional maupun internasional. Sampai pada tahun 2021 PP Pelti membuka pintu untuk kegiatan TDP Nasional dengan syarat asal mendapatkan ijin oleh Pemerintah Darah setempat. Maka dari itu, turnamen yang pertama masuk dalam kalender TDP Nasional adalah turnamen Piala Rektor UNP di Padang tetapi khusus kelompok  umum sala. 

Memang saat ini yang memenuhi persyaratan adalah kelompok umum karena pesertanya terbatas tidak melebihi 100 peserta untuk putra maupun putri sehingga kalau mau selenggarakan adalah harus terpisah antara putra dan putri. Untuk kelompk yunior sulit untuk diterapkan karena pesertanya cukup besar . Saat ini sekitar 300 peserta bisa terjadi.

Tetapi turnamen tenis tidak berhanti dengan keadaan pandemi Covis-19 ini, ternyata turnamen tenis dimeriahkan oleh turnamen veteran didaerah daerah begitu semaraknya dilaksanakan karena kebutuhan petenis.

Satu satunya turnamen yunior dilaksanakan sejak Oktober 2020 adalah RemajaTenis, dengan syarat jumlah peserta dibatasi. Dibawah 100 peserta. Berbagai cara dilakukan untuk merealisasikan keinginan adakan turnamen.sehingga keluar aturan yang baku tetapi karena turnamen itu kebutuhan atlet maka peminatnya pun banyak. Sehingga timbul organizer turnamen banyak bermunculan muka muka baru. Dampak positive dari situasi ini.