Rabu, 14 November 2018

" Yang Bikin Ramai Tenis adalah Orang Manado "

Jakarta, 15 Nopember 2018. Dalam suatu kesempatan berjumpa dengan rekan tenis veteran di Jakarta, Husni Madjid dilapangan tenis UMS, ada satu pernyataan yang mengejutkan disampaikan olehnya. Karena dia sendiri mendapatkan pernyataan tersebut datang dari salah satu " pelatih " tenis di Jakarta.

" Yang bikin ramai tenis itu orang Manado ".: ujarnya yang tentunya tidak bisa dipungkiri . Katanya barusan dapat pernyatan tersbut dari rekan lainya Darminto. Lihat saja turnamen yang paling sering dilakukan di Indonesia itu datang dari orang Manado. Disebutkan pula keberadaan Baveti yang mengurusin turnamen tenis veteran di Indoneia dipimpin putra Kawanua Theo Sambuaga jug cukup semarak.

Baru kali ini dikatakan anggota pengurus PP Pelti tidak ada orang Manadonya. Ini statemen tambahanya. Memang faktanya demikian.

Coba ditelusuri kegiatan tenis di Indonesia kecuali dikota Manado. tetapi bisa dilihat di Jakarta ada AGS International yang merupakan gagasan dari rekan Aga Soemarno yang mengkhususkan diri di turnamen ITF Junior dalam setahun ada 2 event yang dibuatnya sejak 2013  sedangkan yang lainnya tambahan ada 2 ITF Junior Internasional yaitu Piala Thamrin diselengarakan oleh Pengda Pelti DKI Jakarta dan Piala Wodjojo Soejono oleh Pengda Pelti Jawa Timur.

Selasa, 13 November 2018

Pembinaan Bukan Pembinasaan

Jakarta, 14 Nopember 2018. Ketika PP Pelti edarkan undangan masalah National Junior Trainning Camp diakhir Nopember 2018 di Magelang, muncullah berbagai pertanyaan datang dari masyarakat tenis baik itu orangtua maupun pelatih. Bahkan dari kalangan pelatih sudah menganggap cara yang dilakukan oleh PP Pelti adalah bukan pembinaan tenis tetapi pembinasaan. Ini sangat ekstrim kesan tersebut.
Melihat surat edaran tersebut tanpa disebutkan kriteria pemilihan atlet maupun tujuannya maka dimaklumi saja muncullah berbagai tanggapan negatip. Ini perlu mendapatkan perhatian bagi pemangku jabatan pembinaan sebagai pelaksana program tersebut. Harus diakui kalau program tersebut cukup bagus kedepannya hanya saja tata cara atau kriteria atlet yang diundang itu yang tidak jelas bahkan pelatih siapa yang akan menanganainya. Kesannya akan dilakukan oleh pelatih asing asal Belanda Frank  tetapi andaikan tidak jadi oleh pelatih asal Belanda tersebut maka kekecewaan akan muncul,.
Sebagai organisasi tentunya diawali dengan pemberitahuan awal atau jauh hari sebelumnya tentang program tersebut dan dijelaskan tujuan program tersebut dan dilakukan oleh pelatihnya siapa saja.. 
Kesan yang muncul sangatlah memojokkan PP Pelti sendiri karena ketika ditanyakan kepada penanggung jawabnya maka akan muncul berbagai tanggapan yang berbeda beda jika yang bertanya berbeda orang pula.

Peranan Humas Pelti Sangatlah Lemah

Jakarta, 14 Nopember 2018. Jika menghendaki  pertenisan nasional menarik perhatian sponsor maka peranan Humas dari induk organisasi perlu mendapatkan perhatian serisu. Dalam dua era kepemimpinan PP Pelti akhir akhir ini peranan Humas induk organisasi sangatlah lemah bahkan dera 2012-2017 terjadilah tumpang tindih didalam humas tersbut karena lebih menonjol peranan humas panitia penyelenggara turnamen yang dikelola oleh PP Pelti dibandingkan dengan Humas PP Pelti.

PP Pelti telah memiliki website resmi tetapi sejak 2013 sampai saat ini sangatlah lemah. Bahkan sejak 2018, ada edikiti perubahan dalam menue website tersebut. Tetapi informasi yang diberikan masih sangat lemah. . Sehingga bagi masyarakat tenis jika menghendaki berita tenis Indonesia maka akan menghadapi menu yang sudah basi. Begitu juga program kerja PP Pelti tidak dihamparkan dalam website tersbut. Termasuk produk yang dikeluarkan PP Pelti yaitu Peringkat Nasional Pelti.
Entah dimana letak kelemahan ini tetapi jika dibiarkan maka tenis Indonesia hanya menungu prestasi atlet saja yang didambakan agar menarik investor dalam pertenisan Indonesia.

Sebenarnya keberadaan humas di PP Pelti juga harus bisa berperan didalam website Pelti tersbut. Tetapi saat ini masih belum kelihatan peranannya. Bahkan komunikasi dengan Pengda sekalipun sangat lemah. Salah satu tugas Humas juga selain external communication perlu juga menciptakan internal communication yang lebih kondusip.

Sabtu, 10 November 2018

Pembatalan Mendadak Mempunyai Dampak Positive juga

Jakarta, 11 Mopember 2018. Ketika sedang mempersiapkan kejurnas RemajaTenis Sumsel-XVII (16-18 Nopember 2018)  di Palembang sudah membuka pendaftaran peserta dan pula sudah terdaftar peserta dari Bengkulu, Pangkal Pinang, Pekanbaru  dan Manado, terima kabar kalau tanggal 11-18 Nopember 2018 diadakan Pekan Olahraga Kotamadya Palembang . Tentunya akan digunakan lapangan tenis Pemkot Palembang untuk cabang olahraga Tenis. Yang tidak habis pikir rencana RemajaTenis Sumsel XVII itu sudah beberapa minggu lalu diketahui oleh Pengkot Pelti Palembang, Anehnya kok diam diam saja ketika mendapatkan berita rencana RemajaTenis Sumsel XVII tersebut.
Sedangkan rekan kami yang juga ikut membantu rencana pelaksanaan tersebut baru ttahu hari Jumat 9 Nopember 2018 sedangkan dia anggota Pengkot Pelti Palembang.

Alasannya , kalau awalnya tenis dianggap tidak banyak pesertanya maka dianggap tidak jadi dilaksanakan, tetapi akhirnya diputuskan tetap dilaksanakan cabor Tenis. Andaikan tidak dilaksanakan tenis di PORKOT maka itu tanggung jawab Pengkot Peltio yang boleh dianggap gagal membina tenis di Palembang, Tetapi bersyukur akhirnya tenis tetap dipertandingkan.

Dengan pemberitahuan tersebut, akhirnya RemajaTenis Sumsel XVII diundurkan waktunya saja ke 23-25 Nopember 2018.

Kamis, 08 November 2018

Masalah Mudah Tidak Perlu Dipersulit

Jakarta, 9 Nopember 2018. Dalam dua hari berturut turut terima telon dari 2 petinggi induk organisasi Pelti dengan permasalahan berbeda. Yang pertama datang dari Wakil Ketua Umum yang juga Ketua Bidang Pembinaan PP Pelti. Ternyata setelah menerima masukan dari masyarakat tenis maupun wakilnya di Binpres, Wakil Ketua Umum menyampaikan secara organisasi Pelti tidak bisa berbuat apa apa atas kasus dugaan ketidak sportipan atlet ataupun  orangtua yang juga pelatih putrinya.

Disingung pula sudah berkoordinasi dengan bidang Legal diinduk organisasinya. Tetapi ketika didesak bahwa yang gampang tidak perlu dipersulit. Karena dugaan adanya pemalsuan usia atlet ini sudah ada buktinya. Diminta untuk sebagai pelapor atas kasus ini baru mau ditelusuri.

Saat itu juga disampaikan pengalaman AFR ketika 10 tahun silam dalam 6 bulan bisa membuktikan ada sekitar 30 atlet yunior yang memalsukan usia. Semua itu setelah ada konfirmasi dari Lembaga Negara yang sebagai tempat mengeluarkan surat dokumen negara yang asli. Dia katkan kalau sudah diminta kepada orangtuanya untuk berikan bukti, dimana diberikan fotocopy Kartu Keluarga. Yang diutamakan adalah Kartu Akte Kelahiran , bukan Kartu Keluarga sebagai peserta TDP dan ini ada ketentuannya.

Selasa, 06 November 2018

Dipertanyakan Tim Keabsahan PON

Jakarta, 17 Nopember 2018. Ada satu pertanyaan diberikan oleh salah satu anggota Pengurus Pelti didaerah masalah dibentuknya Tim Keabsahan oleh PP Pelti untuk persiapan Pekan Olahraga Nasional XX di Papua.
Alasannya saat ini dengan diberlakukan e-KTP maka dianggap tidak perlu ada tim keabsahan oleh PP Pelti. Disebutkan dalam e-KTP tersebut dicantumkan juga tanggal adanya e-KTP tersebut sehingga bisa dianggap tanggal tersebut sudah tidak bisa ditawar tawar lagi. Ini sebagai masukan karena dikuatirkan dalam tim keabsahan tersebut duduk person yang tidak menguasai masalah tersebut dalam bahasa tenis.

Harus diakui kalau KONI Pusat sebagai pemilik Pekan Olahraga Nasional atau PON telah mengeluarkan ketentuan persyaratan peserta PON yang selama ini selalu jadi biang keributan karena perpindahan atlet.
Aturan Mutasi tersebut jika belum ada perubahan maka tetap berlaku seperti yang sudah sudah yaitu minimal 2 (dua) tahun batas perpindahan domisili,

Sebenarnya e-KTP bisa dipakai sebagai acuan, tetapi yang jadi pertanyaan apakah setiap cabang olahraga itu selalu mematuhi ketentuan mutasi terebut. Kok bisa petinggi cabor melanggar ketentuan tersebut, ini akibat ada "oknum" petinggi cabor tersebut terlibat sebagai " makelar" jual beli atlet yang sudah dikenal dalam olahraga khususnya tenis. Jadi ada kepentingan pribadi.

Aneh Tapi Nyata dan Sudah Terjadi

Jakarta, 7 Nopember 2018. Ketika membuka foto foto lama maka terungkap kembali saat kejadian diundang ikuti kegiatan diluar rekomendasi induk organisasi tenis. Sewaktu itu sudah tidak duduk dalam organisasi tenis atau Pelti, tapi bisa ikuti kegiatan internasional yang biasanya undangan melalui induk organisasi tenis yaitu Pelti. Ini diluar kelaziman selama ini, tetapi bisa terjadi khususnya untuk AFR.

Suatu kebanggaan tersendiri walaupun tidak duduk dalam kepengurusan Pelti tetapi masih diperhatikan juga oleh dunia Internasional. 

Sekitar tahun 1993-1995, ada kegiatan internasional dilaksanakan oleh ITF (International Tennis Federation) di Singapore. Kegiatan Leadership Course.  PB  Pelti mengirim dua tenaga Pelti yatu rekan Benny Mailili (alm) dan Ny Tien Indradjit sebagai executive secretary PB Pelti. Dan AFR mendapatkan undangan langsung dari tuan rumah.

Kemudian kejadian ditahun 2016 bulan Nopember, diundang sebagai Technical Delegate Whelchair Tennis untuk ASEAN Paragames 2017 di Kuala Lumpur. Inipun tidak melalui mekanisme induk organisasi tenis (Pelti) ataupun National Paralympic Committee (NPC), sehingga bisa bertugas di Asean Paragames September 2017 di Kuala Lumpur.

Kamis, 01 November 2018

Kesibukan Lupa akan Tugas Utama

Jakarta, 1 Nopember 2018. Kesibukan besar untuk dua event akbar sehingga melupakan tugas utama . Inilah yang terjadi saat ini di Induk organisasi Tenis kita. Ada Asian Games kemudian Asian Paragames melibatkan petinggi Pelti dan juga tenaga administrasi sekretariatnya. Ini kebiasaan kurang baik sebagai petugas melayani masyarakat tenis. Karena pertenisan kita tidak bergantung kepada Asian Games dan Asian Paragames.

Keluhan muncul khususnya diturnamen nasional yang sedang giat giatnya berlangsung tiada hentinya. Setiap bulan selalu ada TDP Nasional maupun TDP Internasional di Indonesia. Hal ini dibiarkan tanpa kontrol jelas dari penanggung jawab sekretariat yaitu Sekjen.

Salah satu contoh adalah Peringkat Nasional Pelti sering terlambat di update. Jadi tidak heran jika PNP yang digunakan itu PNP yang beberapa bulan lalu punya. Padahal PNP itu harus dikeluarkan setiap awal bulan, Jadi bisa dibayangkan khususnya TDP Nasional Kelompok Yunior setiap minggu selalu ada kegiatan tersebut sehingga kadang kala para orangtua kecewa melihat website Pelti tidak terupdatenya PNP tersebut. Kenapa pelayanan PP Pelti sangat menyedihkan, hanya Pelti yang tahu jawabannya.