Jumat, 13 Februari 2009

" Apa syarat Turnamen itu menjadi TDP ? "


Jakarta, 13 Februari 2009. Pagi ini saya kedatangan rekan Hudani Fajri yang juga Wakil Ketua Bidang Pembinaan Prestasi Daerah PP Pelti. " Om dikomentar situs Pelti cukup rame soal turnamen tanpa Referee. Seharusnya Bidang Pertandingan yang menanggapinya." Dia juga menanyakan masalah Turnamen Diakui Pelti. "Apa syarat turnamen itu menjadi TDP ", ujarnya. Ini penting sekali karena tidak semua pelaku tenis tahu aturannya, padahal di situs Pelti ( www.pelti.or.id) sudah ada ketentuan TDP tersebut, caranya klik saja Turnamen, maka bisa dipilih atau klik ketentuan TDP.

Untuk itu perlu dijelaskan kepada seluruh pelaku tenis apa yang dimaksudkan Turnamen Diakui Pelti. "Syarat pertama adalah mengisi Formulir Pendaftaran TDP yang disediakan oleh PP Pelti. Kemudian dikirimkan ke PP Pelti setelah diketahui oleh PengProv Pelti setempat untuk didaftarkan. Setelah itu kewajiban berikutnya adalah membayar sanction fee yang besarnya Rp. 500 ribu untuk turnamen yunior nasional dan untuk turnamen kelompok umum nasional sebesar 10 % dari total prize money ( dibawahRp. 60 juta) dan 6 % dari prize money jika totalnya diatas Rp 60 juta. Ini persyaratan administratipnya." jawaban saya kepadanya. Disamping itu pula yang penting pengajuan TDP dilakukan sebelum turnamen berjalan, karena Ketua Uumm PP Pelti yang akan keluarkan SK TDP tidak akan menandatangani kalau sudah berlangsung turnamennya.

Perlu juga diketahui kalau sudah terdaftar maka kewajiban berikutnya adalah mengikuti Ketentuan TDP yang harus diikutinya antara lain harus ada Referee yang akan ditunjuk oleh PP Pelti. Bisa saja penyelenggara mengajukan usulan nama Referee yang bertugas, tetapi penentu terakhir adalah PP Pelti. Begitu juga penggunaan bola harus yang sudah terdaftar di PP Pelti (Official Ball Pelti)

Setelah itu ada yang harus diingat bahwa TDP ada dua juga selain TDP Nasional dan TDP Internasional yaitu TDP yang Peringkat dan Non Peringkat. Sebagai contoh TDP Peringkat setiap Turnamen yang dikaitkan dengan Peringkat Nasional Pelti, seperti turnamen Kelompok Umur 14 tahun, 16 tahun, 18 tahun dan kelompok Umum dan Veteran. "Yang mana TDP Non Peringkat ?"
TDP Non Peringkat artinya yang tidak ada kaitannya dengan PNP seperti KU 12 tahun, 10 tahun maupun 8 tahun (kalau ada pertandingan). Begitu juga turnamen2 yang bersifat pertandingan profesi atau turnamen instansi-instansi bisa dimasukkan TDP Non Peringkat. Saat ini menurut saya, masyarakat hanya mengetahui semua TDP ada kaitannya dengan PNP. Sehingga belum ada turnamen instansi atau profesi yang mengajukan sebagai TDP ke PP Pelti. Yang ada hanya pemberitahuan aktivitas tersebut saja.

Kamis, 12 Februari 2009

Mimpi-mimpi Turnamen Nasional Mendatang


Jakarta, 12 Februari 2009. Mulai dari “mimpi mimpi” saya untuk kedepan Indonesia akan memiliki sekitar 450 turnamen nasional. Mimpi ini sudah ada sejak tahun 1990 sewaktu duduk sebagai Manajer Program Pertandingan PB Pelti .

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah mungkinkah ? Semua pihak akan menjawab
“ tidak mungkin “, atau “sangat tidak mungkin “. Kenapa demikian ?
Bagi masyarakat yang tidak peduli akan pertenisan cukup melontarkan ketidak senangannya atas rencana yang sangat fantastis tersebut, tidak merasakan dambaan bagi petenis yunior dimana saat ini sebagian besar petenis senior sudah mulai merasakan nikmatnya dalam kehidupan di pertenisan. Makin banyak turnamen bagi petenis diatas usia 18 tahun sudah sangat berbahagia sekali dengan adanya turnamen turnamen berhadiah jor joran mulai dari Rp. 75 juta sampai dengan Rp. 500 juta.
Sebagai contoh, betapa indahnya Dewi Fortuna (nama petenis) yang bisa menikmati uang dalam waktu kurang dari 1 jam bisa menghasilkan Rp. 728 ribu. Hal yang sama untuk petenis putra diturnamen ini bisa menikmatinya Rp 790 rb jika kalah dibabak pertama. Ikut babak utama turnamen Cigna Open 2009 di Hotel Sultan Jakarta, kalah dibabak pertama sudah bisa menikmatinya. Begitu juga sosok Christopher Rungkat diakhir tahun 2008 karena ikut Masters Indonesia keluar sebagai juara bisa mengantongi lebih dari Rp. 100 juta. Fantastik sekali diusia 18 tahun saat itu bisa menikmati uang sebesar itu.

Tetapi dasar pemikiran saya masih ada kemungkinan, asal semua pihak baik rekan rekan Pelti di tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten maupun Klub klub tenis menyadarinya dan ikut berperan serta.
Saat ini ada 33 Pengurus Provinsi Pelti diseluruh Indonesia, dan 483 kabupaten dan kotamadya diseluruh Indonesia. Dari jumlah kepengurusan ini, saya melihat ada peluang besar jika setiap Pelti memiliki 1 turnamen nasional. Berati lebih dari 400 turnamen. Apakah lapangan tenis sudah tersedia di daerah daerah tersebut. Saya yakin sekali ditingkat kabupaten dan kotamadya sudah ada lapangan tenis, baik itu peninggalan Belanda ataupun yang baru dibangunnya.

Tetapi yang membuat kaget juga, datang berita kalau satu turnamen nasional yunior (Puputan Junior) di Bali minta absent tahun ini karena ada kesibukan Kejurda. Apakah ini akan mengganggu mimpi mimpi tersebut ? Mudah mudahan tidak, karena secara diam diam saya sudah menjalin dengan orangtua di Bali untuk adakan turnamen nasional. Langkah pertama adalah mencari sponsor dulu baru mereka akan kontak saya. Begitu juga Bakrie Group melalui Tony Sangitan sudah merencanakan 2 turnamen nasional di Jawa Tengah dan DIY. Disamping itu pula akan digarapnya di Medan dan lain lain kota di Sumatra. Maluku yang sudah cukup lama tertidur walaupun saat ini Pelti Maluku dikomado oleh mantan petenis top Maluku, terdengar mulai mencari solusi untuk ada turnamen nasional. Kalau melihat adanya semangat dari luar Pelti dan rekan rekan Pelti maka saya sangat optimis jika akan ada kecendrungan kenaikan aktivitas turnamen di Indonesia mulai menyebar. Yang jadi pertanyaan adalah Sulawesi, karena baru Sulawesi Utara dan Selatan yang ada kegiatan turnamen nasional/internasional. Ini tunggu waktunya saja.
Agar mimpi mimpi ini terwujud, kita harus bisa melihat kendala kendala yang ada selain DANA yang merupakan cerita klasik.
Mulai dari internal problem. Saya melihat dilapangan selama jalan jalan keluar kota, banyak pihak belum tahu bagaimana memulainya. Sedangkan induk organisasi didaerah tersebut juga belum mendukungnya terutama memberikan solusinya. Saya sering minta kepada rekan rekan didaerah jika duduk dalam kepengurusan Pelti setempat agar tidak menjadi penghambat, tetapi justru sebagai motivator bagi pelaku pelaku tenis diwilayahnya. Saya sendiri baik secara pribadi maupun dalam kapasitas di Pelti akan sangat membantu jika ada yang alami kesulitan. Begitu juga permasalahan dana yang bisa diatasinya dalam pemecahannya. Bukan berarti saya bisa carikan dananya karena saya sendiri bukan sinterklas

Piala Ferry Raturandang Minta di Matikan


Jakarta, 12 Februari 2009. Beberapa minggu silam saya sedikit kaget dan terkejut ketika diminta untuk menghentikan turnamen Piala Ferry Raturandang digantikan dengan turnamen dengan nama lain. Alasannya disebutkan ada conflict of interest. Padahal saat ini sedang menggalakkan turnamen tenis yunior didaerah daerah terutama daerah yang sangat dan amat minim turnamen tenis yunior. Bisakah Anda bayangkan bagaimana perasaan saya saat itu. Bukan Pelti yang minta dihentikannya. Induk organisasi tenis PELTI tidak mungkin menghendaki turnamen ini dihentikan karena turnamen ini merupakan salah satu program pengembangannya. Turnamen yang diselenggarakan oleh pihak luar non Pelti tentunya akan dapat respons positip dari induk organisasi Pelti. Turnamen Persami(pertandingan sabtu-minggu) yang sejak tahun 1996 dijalankan sendiri setiap bulannya secara rutin diselenggarakan sampai saat ini dan setelah itu menggunakan nama Piala Ferry Raturandang karena permintaan salah satu orangtua peserta dan sekarang sudah memasuki ke 63 kalinya di Cirebon. Kota kota yang sudah dijalankan program Persami (Piala Ferry Raturandang) ini langsung sendiri turun di Palembang, Cilegon, Bandung, Jakarta, Sidoarjo, Singaraja , Manado, Balikpapan, Palangka Raya dan Cirebon. Saat itu ada perasaan marah, tetapi karena yang minta adalah salah satu teman sendiri maka hanya senyumlah yang bisa diberikan. Ya, senyum kehancuranlah.

Beberapa tahun lalu memang ada permintaan yang lebih bijaksana yaitu agar dibuatkan turnamen nasional (TDP) Piala Ferry Raturandang sebagai peningkatan turnamen Persami. Bukan sebaliknya. Tetapi permintaan itu saya tolak karena nama Piala Ferry Raturandang sudah identik dengan turnamen Persami sebagai solusi minimnya turnamen dimana Piala Ferry Raturandang bisa berlangsung tanpa sponsor. Bahkan semangat selenggarakan Persami sudah ditularkan kepada rekan rekan lainnya baik di Jakarta, Jawa Tengah, Surabaya, Medan, Lampung, Makassar sudah dijalankan walaupun tidak rutin setiap bulan.
Kalau mau masuk ke turnamen yang kelasnya lebih tinggi (TDP) maka namanya bukan Piala Ferry Raturandang tetapi akan menjadi TDP Piala RATURANDANG asalkan mendapat sponsor. Saya sabar menunggu datangnya sponsor TDP tersebut. Saya yakin dan percaya suatu saat mimpi saya bisa dapatkan sponsor sehingga membawa nama Piala Jooce RATURANDANG sebagai penghormatan tehadap ayah sendiri yang telah membawa saya dan adik2 ke tenis.

Bagaimana mungkin Piala Ferry Raturandang dihilangkan sedangkan saat ini petenis yunior sangat membutuhkan sarana turnamen. Makin banyak petenis sebagai new comer ditingkat grass root sangat butuh ajang bermain ini untuk meningkatkan kecintaan terhadap pemainan tenis ini. Ada kepuasan tersendiri jika adakan Piala Ferry Raturandang seakan akan tetap muda saja. Bisakah Anda bayangkan, anak anak, kedua orangtuanya kalau panggil saya adalah OM, tidak ada yang panggil OPA kecuali anaknya Aga Soemarno. Begitu pula jika berjalan jalan ditempat umum jika ada yang panggil Om Ferry, so pasti anak anak itu peserta Piala Ferry Raturandang. Kalau keponakan sendiri sudah besar besar bahkan sudah berkeluarga. Nah, inilah yang tidak akan didapat kecuali di turnamen tenis yuior Piala Ferry Raturandang.

Menurut saya sendiri , mungkin Jakarta sudah tidak perlu diadakan Piala Ferry Raturandang, karena sudah banyak rekan rekan seperti Sekolah Tenis KTC (Kemayoran),Rasuna Club, YBTA, hanya agak tersendat sendat pelaksanaannya. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka ini tidak bisa rutin seperti yang saya lakukan. Menurut saya mereka ini sangat tergantung kepada sponsor, dan juga tidak menyelami dalam menjalankannya. Disamping itu pula pelaksnaannya terlalu banyak orang yang dilibatkan. Makin banyak orang yang dilibatkan maka makin ribet.
Saya sendiri tidak mau tergantung kepada sponsor, karena jika ada ketergantungan disuatu saat sponsor berhenti (karena tidak ada sponsor yang akan kerjasama terlalu lama), maka akan ada kesulitan. Sedangkan saya menyadari kalau turnamen itu adalah kebutuhan bagi atlet tenis khususnya petenis cilik atau yunior, bahkan yang senior sekalipun. Bagaimana dengan Piala Ferry Raturandang selama ini, apakah pernah dapat sponsor ? Memang pernah yaitu dari INDOMILK, OREO, INDOBALL dengan berikan produk susu Indomilk kue Oreo dan bola tenis Indoball. Tetapi pernah juga menerima uang kontan dari Bapak Jahja T Tjahjana dari Bandung dan langsung dibelikan voucher isi ulang Simpati, XL, Mentari dan M3 yang diberikan kepada pemenang turnamen Piala Ferry Raturandang

Setiap jalan jalan keluar kota, saya selalu menawarkan kerekan-rekan didaerah turnamen Piala Ferry Raturandang, asalkan dikota tersebut ada 3-4 lapangan dalam satu lokasi. Kenapa satu lokasi butuh minimal 3-4 lapangan karena lebih mudah selenggarakannya.
Begitu tahu mereka bisa dapatkan sponsor maka langsung ditawarkan selenggarakan turnamen nasional yunior. Ya, Puji Tuhan karena sudah ada hasilnya yaitu turnamen nasional yunior d Pekanbaru, Samarinda,Balikpapan dan Tarakan. Sedang menunggu giliran di Tenggarong, Cirebon dan Tegal. Semoga semua keinginan saya ini bisa terealiser sehingga petenis yunior dikota kota tersebut bisa meningkatkan prestasinya.
Saya tidak mau terjadi seperti sewaktu saya masih yunior, karena waktu itu hanya ada turnamen nasional yunior di Malang, Bandung (Pasir Kaliki sudah digusur) dan Jakarta (sekarang Tm Ismail Marzuki) saja. Zaman sudah berubah.

Persiapan Revisi PNP

Jakarta, 12 Februari 2009. Tepat sudah setahun lalu bergulirnya www.afraturandang.blogspot.com kepermukaan dunia maya dilakukan August Ferry Raturandang sendiri untuk mencatat seluruh kejadian kejadian yang belum diketahui oleh masyarakat tenis di Indonesia. Banyak pihak setelah membaca dari awal menyatakan langsung kepadanya tidak menyangka selama ini sudah lama terjadi ketidak cocokan antara pelaku pelaku tenis sendiri sehingga yang jadi sasaran tembak adalah induk organisasi tenis yaitu PELTI, khususnya Pengurus Besar yang telah menjadi Pengurus Pusat Pelti.Begitu juga masuknya SMS ketepon selulernya menyatakan terima kasih bisa mengetahui berbagai peristiwa dipertenisan nasional yang tidak pernah terungkap dimedia massa.
Tetapi setelah berjalan berbulan bulan, akhir akhir ini justru cemohan yang muncul dilampiaskan ke situs resmi Pelti yaitu www.pelti.or.id. Ada keisengan yang diungkapkan sebagai bentuk kecemburuan atau sirik istilah lainnya atas semua apa yang diungkapkannya dalam blogger ini. Bahkan ada yang mempertanyakan maksud dan tujuan membuat blogger ini, yang sebenarnya sudah diungkapkan dalam tulisan sebelumnya. Untungnya semua itu dianggap sepi oleh August Ferry Raturandang sendiri, dengan memiliki resep cukup jitu sehingga tidak mempan dari berbagai serangan melalui komentar negatip kepadanya.

Pagi ini, saya diundang oleh Grace Lumenta yang menangani masalah peringkat didalam komitenya untuk melanjutkan pertemuan revisi Peringkat Nasional Pelti. Hadir juga Danny Walla, Slamet Utomo, Johannes Susanto, Christian Budiman dan Harmony Ginting yang dalam hal ini sedang mempersiapkan konsep perubahan Peringkat Nasional Pelti (PNP). Melihat personalia yang hadir teringat pula sewaktu tahun 1989 disaat kepengurusan PB Pelti dengan Ketua Umum Moerdiono, dimana mempersiapkan launching PNP yang pertama kali dibuat Pelti, juga melibatkan Danny Walla, Grace Lumenta dan August Ferry Raturandang. Waktu itu sama sama duduk di Bidang Pembinaan PB Pelti dengan Ketua Bidang Ponco Sutowo bersama dr. Nico Lumenta sebagai konseptor PNP.

Selaku penanggung jawab Grace Lumenta memberikan masukan masukan agar beberapa poin diubah atau dihilangkan sama sekali. Karena PNP yang diakui oleh Pelti adalah untuk KU 14 tahun, 16 tahun dan 18 tahun untuk kelompok yunior. Dalam proposal diajukan kelompok 8 tahun, 10 tahun dan 12 tahun. Saya sendiri kurang sepakat, karena ada beberapa pertimbangan seperti dilakukan oleh ITF (International Tennis Federation). Ada batasan bagi petenis yang boleh ikuti KU 12 tahun sudah harus berusia 10 tahun. Ini menutup kemungkinan usia 8 tahun bertanding di KU 12 tahun. Begitu juga ada pembatasan KU 18 tahun atau kelompok umum , bisa diikuti oleh petenis yang sudah berusia 14 tahun.
" Maksud ITF sendiri ada dalam hal ini, ditingkat usia dini lebih mementingkan fun bagi petenisnya, sehingga tidak perlu faktor kompetisi yang ditonjolkan. Ini penting dan harap dimengerti semua pihak. Jika ada yang mau membuat peringkatnya sah sah saja. Tapi tidak oleh Pelti yang lebih banyak mengacu ke ITF." ujar August Ferry Raturandang. Hal ini bisa diterima yang hadir.

Disamping itu juga Grace menanyakan masalah siapa yang akan meng-update hasil turnamen tersebut. Ketika oleh Harmony dikatakan bisa dilakukan oleh Referee langsung on line dari tempat pertandingan. Tapi hal ini kurang disetujui oleh August Ferry Raturandang karena juga mengacu ke ITF. Setiap Referee harus mengirimkan hasilnya ke ITF bukan langsung meng-updatenya. Pelti selaku penanggung jawab TDP harus bisa menyeleksi dan menentukan turnamen itu termasuk TDP. "Bukan ditentukan oleh Referee."

Diakui oleh Grace sendiri kalau sebagai penanggung jawab TDP, seharusnya semua hasil pertandingan dikontrol oleh Pelti, karena Referee itu bukan pengurus Pelti tetapi ditunjuk oleh Pelti dalam melaksanakan TDP tersebut.

Rabu, 11 Februari 2009

Berapa Anggaran Turnamen Nasional ?


Jakarta, 11 Februari 2009. Jalan jalan kedaerah selama ini , August Ferry Raturandang sering mendapatkan pertanyaan disaat mengkampanyekan turnamen tenis dikota kota tersebut. Hal ini dilakukannya saat ke Palangka Raya, Samarinda dan Cirebon. Bahkan pula disaat bertemu ataupun berkomunikasi dengan rekan rekan pecinta tenis dari daerah selalu mendapatkan jawaban yang sama. Dan pula jawaban ini tentunya diluar dugaan mereka.

Tidak ingin kejadian terulang kembali seperti tahun 1995 disaat mau selenggarakan Turnamen Nasional Piala Thamrin di Jakarta, August Ferry Raturandang yang tidak bertugas di PB Pelti, menelpon ke administrator Turnamen PB Pelti Sdr Zulkarnain.
" Saya mau buat turnamen nasional tapi tidak punya uang." Ingin dapatkan solusi disaat ada kesulitan sehingga bertanya ke induk organisasi paling tinggi di Indonesia yaitu PB Pelti.
Jawaban yang didapat sungguh sangat diluar dugaan , karena diberikan oleh induk organisasi Pelti ditingkat Pusat. Jawabannya adalah jika tidak ada uang jangan bikin turnamen. Bisa dibayangkan ! Sehingga saat itu juga marah kepada Zulkarnaen. "Kamu jangan sekali kali menjawab seperti itu, apalagi kamu di PB Pelti. Jawaban itu bukan solusinya. Orang bertanya untuk mendapatkan solusi. Jawaban itu sangat mematikan niat orang mau buat turnamen, yang jelas jelas kebutuhan atlet." Seharusnya ditanyakan masalahnya. Mulailah melihat rincian anggarannya, dan berikan solusi dalam mengatasi anggaran tersebut yang kadang kala sangat di mark up tinggi tinggi.

Mengatasi masalah Piala Thamrin saat itu, langsung muncul akal untuk mendapatkan perhatian. Dibuatlah Press Release tentang penyelenggara Piala Thamrin kesulitan mendapatkan dana. Dan hasilnya ternyata benar benar menakjubkan. Langsung hari itu juga terima telpon dari beberapa pejabat yang akan membantunya.

Sehingga sekarang jika mendapatkan pertanyaan seperti diatas maka jawabanya adalah
" berapa kemampuan Anda mendapatkan sponsor, karena saya bisa selenggarakan turnamen nasional sesuai kemampuan Anda." Ini jawaban yang sangat tepat membuat niat rekan tersebut masih tetap menyala nyala, bukan langsung padam saat itu pula.
Karena banyak sekali sektor-sektor yang bisa dihilangkan tetapi tidak mengganggu jalannya pertandingan tanpa menyalahi ketentuan yang dibuat induk organisasi tenis (Pelti/ITF).

August Ferry Raturandang diundang ke Surabaya oleh salah satu pecinta tenis untuk bertemu dengan salah satu calon sponsor yang bekeinginan selenggarakan turnamen nasional di Surabaya, tetapi masih mencari waktu yang lowong. Maklum jadi "PENGACARA" artinya PENGANGGURAN BANYAK ACARA

Ada Sponsor Pilihlah Turnamen Nasional


Jakarta, 11 Februari 2009. Akhir akhir ini August Ferry Raturandang rajin berjalan jalan keluar kota sebagai hiburan melepaskan penat selama berada didalam kota metropolitan Jakarta. Dari perjalanannya itu sekalian memanfaatkan melihat pertenisan daerah. Semua daerah yag dikunjunginya mayoritas sangat lemah kegiatannya , terutama kegiatan turnamen tenis yunior. Keadaan ini sama seperti situasi beberapa puluh tahun silam disaat masih sbagai petenis yunior. Kenapa masih terjadi situasi dizaman sekarang. Ini yang tidak berkenan didalam hatinya. Melihat minimnya kegiatan turnamen tenis yunior, dimanfaatkan olehnya untuk terjun langsung dengan memberikan contoh bagaimana selenggarakan turnamen tenis mulai dari kelas Persami (Pertandingan Sabtu-Minggu) .
Awalnya ada ketidak percayaan dari rekan rekan didaerah terhadap idea gila darinya. Karena sudah tidak sabar lagi untuk menunggu realisasinya maka langsung terjun kedaerah tersebut untuk selenggarakan Piala Ferry Raturandang yang perencanaannya cukup 3-5 hari diselesaikan langsung dengan berikan informasi gunakan SMS yang lebih cepat.

Ada lagi yang mengeluh karena hambatan datangnya dari rekan rekan di organisasi Pelti sendiri didaerah tersebut. Ketika diminta konfirmasi siapa person yang menghambatnya, jawaban yang diterima kurang jelas juga karena hanya melihat kalau person tersebut yang sering dilihat dalam kepanitiaan turnamen nasional.Ini masalahnya, kemungkinan bukan anggota pengurus Pelti tetapi anggota kepanitiaan yang banyak bukan duduk sebagai anggota Pengurus Pelti. Bukan berarti tidak ada, ternyata dugaan ini memang ada. Rekan rekan seperti ini perlu diberi pengertian yang baik.

Selama ini dalam kunjungan jalan jalan kedaerah ini, August Ferry Raturandang lebih cenderung agar diselenggarakan turnamen nasional yunior dibandingkan Persami Piala Ferry Raturandang. Karena ada sponsor. Piala Ferry Raturandang tidak gunakan sponsor. Itu bedanya. Lebih sedih lagi kadang kadang dipaksakan harus gunakan tenaga pelaksana dari Pelti. Ini pendapat yang salah. Kenapa harus TDP ?Banyak keuntungan jika turnamen dijadikan turnamen nasional (TDP) , yaitu turnamen tersebut mempunyai daya tarik lebih, salah satunya adalah lebih mudah mendapatkan sponsor turnamen, begitu juga mendapatkan pesertanya. Mudah diketahui seluruh masyarakat tenis karena langsung masuk Kalender Turnamen Nasional Pelti

Sesuai ketentuan TDP disebutkan setiap TDP harus ada tenagaReferee yang ditunjuk oleh PP Pelti, penyelenggara hanya diperkenankan merekomendasikannya. Tenaga pelaksana lainnya diserahkan sepenuhnya kepada penyelenggara untuk memilihnya. Begitu juga tenaga wasit, penyelenggara dipersilahkan memilih tenaga wasit sendiri kecuali turnamen internasional yang ada kriteria menggunakan wasit internasionalnya.
Jika dikatakan TDP tanpa gunakan Referee, maka pendapat itu salah besar. Andaikan dikatakan TDP tetapi tidak ada Referee yang ditunjuk oleh PP Pelti, maka turnamen tersebut so pasti bukan TDP. Sedangkan PP Pelti menunjuk Referee berdasarkan latar belakang sebagai wasit Pelti. Dunia tenis internasional tenaga Referee itu harus mengikuti pendidikan Referee dan juga berlatar belakang wasit dulu jenjangnya. Saat ini ada dua macam wasit Indonesia yaitu wasit nasional dan wasit internasional. Wasit Internasional yang dimilikinya diarahkan menjadi Referee Nasional, tetapi tidak semua wasit internasional ini punya kemampuan sebagai Referee Nasional. Ada juga 2-3 wasit nasional yang punya kapasitas sebagai Referee dan sudah menjalankan TDP tersebut.

Berbeda dengan Persami yang bukan TDP, tidak diperlukan referee, karena ini merupakan program pengembangan bukan program bidang pertandingan. Dan perhitungan Peringkat Nasionalnya juga berbeda sangat jauh dengan TDP.

Hilangkan Kesempatan dan Keberuntungan


Jakarta, 11 Februari 2009. Seminggu ini cukup hangat dengan berita berita dimedia massa tentang tidak ikut sertanya petenis putri papan atas di turnamen nasional Cigna Open 2009 di Jakarta. Siapakah petenis papan atas putri itu. Ternyata yang dimaksud adalah Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti, Lavinia Tananta. Kemanakah mereka ? Kemarin ketemu di Press Conference Tim Fed Cup Indonesia di kantor PP Pelti di Senayan.

Ketiga petenis tersebut bersama Jessy Rompies baru kembali dari Perth Australia mengikuti Kejuaraan Dunia Beregu Putri Fed Cup by BNP Paribas zone Asia Oceania grup 1 dan berhasil menjadi peringkat 4 . Sesuai dengan targetnya.

Apa sih yang diributkan ? Yaitu penyelenggara Turnamen Cigna Open kecewa tidak diikuti oleh ketiga petenis tim Fed Cup. Turnamen ini telah memasuki tahun ke-10 pelaksanaannya. Kenapa demikian ? Melepas kesempatan mendapatkan uang melalui turnamen ini dengan prize money total Rp. 280 juta. Begitu juga rekan rekan PP Pelti yang sangat menghendaki ikut di turnamen ini.
Tetapi kenapa mereka tidak dipaksakan ikut seperti pendapat rekan rekan dari luar PP Pelti. Terlepas dari alasan ketidak ikutsertaan, PP Pelti sangat menghormati sekali atlet tenis. Lihat kepada Pokok pokok program kerja PP Pelti 2007-2012 jelas ada disebut program kemandirian sebagai puncak dari seluruh program yang seperti kerucut. Paling dasar adalah program kepelatihan kemudian paling atas adalah program kemandirian. Artinya setiap atlet ditujukan menjadi atlet profesional. Sehingga sangat menghormati hak azasi atlet sendiri.
Pernah ada yang menanyakan kepada August Ferry Raturandang, kenapa atlet yang tidak mau membela nama negara tidak dihukum. Ini pertanyaan muncul karena ditahun 1990-1992 pernah kejadian salah satu petenis Joice Riana Sutedja asal Cirebon dikenakan sangsi hukuman 2 tahun diskors oleh Pengurus Besar Pelti. Hanya karena Joice lebih mementingkan program tour turnamennya ketika diminta bergabung ke tim nasional yang ditolaknya. Ini kekeliruan yang telah dibuat sehingga saat itu juga Joice meninggalkan dunia tenisnya bersama adiknya Diana Sutedja. Keduanya sekarang kembali ke kota asalnya yaitui kota udang CIREBON dan telah berumah tangga. Informasi di Cirebon mengatakan Joice masih aktip main tenis tetai Diana sudah tidak pernah bemain tenis di lapangan SAKAPURA.
Menurut August Ferry Raturandang yang semenjak tahun 2002-2007 kepengurusan PB Pelti dan dilanjutkan periode 2007-2012 PP Pelti duduk sebagai Wakil Sekjen, sering bergaul dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PELTI. Walaupun bukan berlatar belakang hukum, tidak menemukan pasal pasal yang bisa menghukum atlet jika menolak bergabung. Hal yang sama juga pernah ada petenis nasional tidak mau bergabung dengan tim Davis Cup Indonesia, oleh PP Pelti tidak dikenakan sangsi.

Jadi melihat progra kemandirian dan juga AD & ART Pelti yang sangat menghormati hak dari atlet tenis, maka tidak ada alasan yang kuat untuk bisa menghukum atlet tenis.
Mengenai kasus diatas, tentunya PP Pelti hanya bisa menghimbau kepada atletnya saja.

Pelti sangat sulit mendapatkan sponsor, sehingga segala upaya akan diberikan kepada sponsor agar tidak kecewa. Tetapi dalam hal ini sudah tidak bisa berbuat apa apa.Hanya bisa menyayangkan sekali, atlet tenis tidak mau memanfaatkan kesempatan yang ada didepan mata begitu juga atletnya kehilangan keberuntungan yang bisa didapat dari turnamen ini dengan hadiah uang cukup besar, tanpa keluar beaya besar dibandingkan harus bertanding jeluar negeri

"Apa tugas bidang pengembangan ?"


Jakarta, 11 Februari 2009. "Mau tanya ya, bidang pengembangan itu kerjanya apa ya." ujar Harmony Ginting kepada Wakil Ketua Bidang Pengembangan PP Pelti Slamet Utomo disela sela nonton turnamen tenis Cigna Open 2009 di hotel Sultan. Pertanyaan diselingi guyon guyon sebelumnya, dan langsung dijawab dengan guyonan juga oleh Slamet Utomo. " Yang mau dikembangkan itu apa ? ". Tertawalah semua yang ada disekitar pembicaraan santai , Johannes Susanto, Christian Budiman, Diko Moerdono dan August Ferry Raturandang. Oleh Johannes Susanto langsung ditanggapi . " Musim hujan begini yang dikembangkan sendiri bunga bunga, tanaman."

Muncul lagi pertanyaan dari Diko Moerdono kepada Harmony Ginting." Siapa ya petenis yunior kita yang berperingkat tertinggi." Langsung secara guyon pula dijawabnya, kalau dia tidak tahu karena punya anak putra. Tapi karena tidak mau kalah langsung disampaikan kalau dia itu Ketua Forkopi (Forum Komunikasi Orangtua Petenis Indonesia). " Ya itulah hanya ngurusin orangtua nya, bukan anaknya." ujarnya tidak mau kalah karena suasana saat itu cukup senang semuanya saling ledek. Semua yang mendengar langsung tertawa.

Sebelumnya Diko Moerdono mengajak Christian Budiman dan August Ferry Raturandang menonton pertandingan Cigna Open sekalian bertemu dengan tim Davis Cup yang sedang ikuti pertandingan. "Gua mau telpon Santo biar datang dan kita makan makan lagi." ujar Diko. Langsung Christian tilpon Susanto untuk segera meluncur ke hotel Sultan nonton pertandingan tenis Cigna Open 2009. Memang betul tidak lama kemudian datanglah Johannes Susanto.

Kalau secara internasional tidak ada perbedaan antara pembinaan dan pengembangan. Itu hanya satu yaitu " development ", dimana di Indonesia dibagi dua yaitu pengembangan dan pembinaan. Bahkan pembinaan awalnya dibagi dua yaitu pembinaan yunior dan pembinaan senior. Tapi periode 2007-2012 ditambah satu lagi yaitu pembinaan prestasi daerah yang akan menangani sentra sentra pembinaan daerah. Sentra sentra ini ditangani oleh pelatih pelatih aktif dibawah komandannya Tintus Arianto Wibowo dengan wakil ketuanya Hudani Fajri. Anggotanya adalah Bonit Wiryawan (Surabaya), Bunge Nahor dan Eko Yuli (Jambi)

Program dari bidang pengembangan adalah mini tenis dan play & stay tennis, coaching clinic, penataran pelatih, penataran wasit, bea siswa, Persami dll.
Dalam kunjungan kedaerah daerah, August Ferry Raturandang selalu menawarkan kepada klub atau Pelti setempat program program pengembangan ini. Terakhir kalinya sewaktu berada di Cirebon, bertemu dengan Sekretaris Pengkot Cirebon Dien Hendra dan Karman sebagai pembianaan. Program yang ditawarkan adalah Program Mini Tenis. Induk organisasi Pelti menyediakan tenaga pelatih dan peralatannya (bola, raket dll). Mereka diminta kontak Diknas setempat untuk menyediakan guru guru sekolah dasar, akan dilatih selama 2 hari penuh.