Rabu, 10 Desember 2008

Maknyus Kepiting Kenari

Balikpapan, 8 Desember 2008. Hari Idul Adha berada di Balikpapan tidak ada kegiatan tenis, karena sudah selesai pelaksanaan turnamen Piala Ferry Raturandang-59. Memanfaatkan waktu luang August Ferry Raturandang bersama Sarah Hariette Raturandang berkeliling kota Balikpapan, karena selama ini di Balikpapan yang sudah berkali kali dikunjungi belum sempat melihat keindahan kota Balikpapan seluruhnya. Tujuan ke Kebon Sayur, tempat belanja oleh oleh. Ternyata turup karena hari raya. Tapi masih ada 2-3 toko yang buka. Singgah dan melihat lihat sovenir yang ada. Setelah itu meluncur ke Kampung Baru (Bugis) tempat mayoritas penduduk asal Bugis (Makassar). Masuk terus tidak tahu kemana ujungnya, melihat rumah rumah berada diatas air laut. Sampailah di pelabuhan kapal kayu kemudian belok kekanan masuklah ke jalan Wahab Syahrani. Kiri kanan penuh dengan tanaman mangrove, tetapi banyak pula yang sudah rusak karena diisi penduduk. Sayang sekali, dikuatirkan muncul bencana bisa berakibat lain. Tidak berhenti terus berjalan mengitari kota Balikpapan, ternyata bisa tembus ke bangunan DOM dekat dengan lapangan tenis Balikpapan Baru. Berarti perjalanan awal dari utara keselatan bisa tembus lagi dari utara ke selatan. Menikmati kota Balikpapan dengan santai menunggu waktu kembali ke Jakarta dengan Lion Air pukul 19.00.
Karena perut sudah minta diisi, singgah lah ke restoran Kepiting Kenari yang cukup terkenal di Balikpapan. Maknyus kepiting saos tiram ataupun Kepiting Lada Hitam

Piala Ferry Raturandang-59 Disaksikan Gubernur dan Wakil Walikota

Balikpapan, 7 Desember 2008. Akhirnya selesai juga pelaksanaan turnamen tenis Piala Ferry Raturandang-59 di Family Club Bukit Damai Indah Balikpapan. Hanya dengan 4 lapangan tersedia, August Ferry Raturandang mencoba selenggarakan turnamen tenis Persami khusus yunior bisa berjalan .
Disaksikan oleh Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundayang SH bersama dengan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi dan Ketua Pengkot Pelti Balikpapan Susan Soebakti SH, yang menyempatkan diri bermain tenis.
Gubernur SH Sarundayang sempat bertanya. " Mana pialanya Fer?" karena tidak menyangka turnamen ini memperebutkan Piala Ferry Raturandag-59.
Sedangkan Wakil Walikota Rizal Effendi menyempatkan menyerahkan hadiah berupa Piala dan T-Shirt kepada pemenang Tunggal Putra Kelompok Umur 16 tahun yang terdiri dari Faisal Prata dari Tenggarong yang difinal mengalahkan Cardova Okta H dari Samarinda 62. Disemifinal Faisal mengalahkan Faturrahman dari Samarinda 63, sedangkan Cardova mengalahkan Reza Fahrial Anwar dari Samarinda 63.
Sedangkan juara tunggal putri usia 14 tahun keluar sebagai juara Putri Purnama Sari dari Balikpapan yang difinal mengalahkan petenis Balikpapan Levana Levana Setya Violani 61. Disemifinal Putri mengalahkan Qonita dari Samarinda 64, sedangkan Levana mengalahkan Monica Valensia dari Samarinda 63.

Untuk tunggal putra usia 14 tahun keluar sebagai juara M.Noor Husaini, runner up Hary Wibowo, semifinalis Kamzu Ramadhan dan M.Rizky Radianyta. Untuk tunggal putri kelompok umur 12 tahun keluar sebagai juara Kintan Pratiwi (Samarinda) yang difinal mengalahkan Nurul Hutabarat 64 (Samarinda), disemifinal Kintan mengalahkan Salasabila (Balikpapan) 60 sedangkan Nurul mengalahkan Monica H dari Balikpapan 60.
Yang cukup menarik adalah tunggal putra usia 12 tahun. Keluar sebagai juara petenis Tenggarong Sangaji yang difinal mengalahkan petenis tuan rumah Balikpapan, M. Azhur Annas (10 th) 61. Bakat besar ada di M.Azhur Anas karena berani memukul bola walaupun kalah postur dibandingkan lawannya.
"Kami tidak menyangka sambutan petenis Kaltim dengan adanya turnamen ini. Dan kami akan kembali lagi bulan depan di Samarinda. Akan diprogramkan juga di Balikpapan, Tenggarong, bahkan Bontang sudah memintanya." ujar August Ferry Raturandnag sebagai pemekarsa turnamen Piala Ferry Raturandang.
Jikalau lapangan lebih banyak, maka kesempatan atlet yang kalah masih bisa bertanding. Tetapi jumlah lapangan belum memadainya. Dua hari sebelum pelaksanaan Susan Soebakti Ketua Pengkot Pelti Balikpapan memberi angin untuk menggunakan lapangan Balikpapan Baru yang digunakan PON XVII, tetapi dipikirnya sudah ada komitmen dengan Johnny Santoso selaku pemilik Family Club sehingga menganjurkan tetap di Bukit Damai Indah.

Menurut August Ferry Raturandang, pengalaman selama selenggarakan turnamen Piala Ferry Raturandang belum pernah disaksikan oleh petinggi pemerintahan setempat maupun Pelti. Baru sekali ini mendapatkan kehormatan disaksikan oleh Gubernur Sulawesi Utara dan Wakil Walikota Balikpapan maupun Ketua Pengkot Balikpapan Susan Soebakti SH. Ini kehormatan bagi pelaksana Piala Ferry Raturandang maupun petenis yunior setempat bisa berkomunikasi langsung dengan pejabat setempat.
Diakhir turnamen peserta diundang makan panganan kue kue yang tersedia di lapangan. Dan penawaran ini tidak ditolak anak anak peserta Persami.


Ana Tidak kenalin Ente

Balikpapan,7 Desember 2008. Keinginan hadir terjadi dalam acara pernikahan di Balikpapan begitu besar dalam diri August Ferry Raturandang. Entah apa yang membuatnya demikian. Hal yang tidak biasa dilakukannya selama ini. Sewaktu Johnny Santoso mengundang acara pernikahan putrinya di Surabaya, tidak bisa dipenuhinya. Percaya tidak percaya, keinginan besar ini bisa mempertemukan rekan lama dari Ampenan Lombok Chalid Al Huradi (lahir 7 Oktober 1946) rekan keturunan Arab yang sangat familiar dikalangan keluarga Raturandang maupun Kawanua di Lombok.. Yang punya hajatan Johnny Santoso berasal dari Ampenan Lombok dimana August Ferry Raturandang menikmati SMP dan SMA di Mataran Lombok.

Saat berlangsungnya Piala Ferry Raturandang-59 di Family Club Bukit Damai Indah, muncullah rekan satu angkatan di Ampenan Lombok bersama Johnny Santoso. Langsung disambut oleh August Ferry Raturandang. “Chalid ya ! “ ujar AF Raturandang. Karena Chalid sendiri tidak menyangka ketemu August Ferry Raturandang masih terbengong bengong . Kemudian dibisikin. “Raturandang.” ujar Ferry kepadanya. “ Oh Ferry Raturandang ya !” sambutnya dengan gembira langsung memeluknya. “ Bagaimana dengan Ongek, Neni dan Joan.” Tanyanya tentang adik adik August Ferry Raturandang yang cukup familiar dengannya. Hanya rekan rekan di Lombok yang memanggil sang adik Alfred Henry Raturandang dengan panggilan Ongek.

Pertemuan terakhir tahun 1965, saat August Ferry Raturandang melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. “Ana (saya) tidak kenalin karna ente (kamu) pake songkok.” ujarnya terbengong bengong karena tidak disangka sangka bisa bertemu di Balikpapan setelah berpisah 43 tahun. Pembicaraan berlangsung hangat mengingat ingat rekan rekan sekolah SMA di Mataram. Chalid Al Huraidi menyampaikan teman teman banyak yang sudah dipanggil Tuhan.

Satu satunya keturuan Arab yang bisa bergaul dengan semua golongan saat itu adalah Chalid Al Hurabi, bahkan bisa berbahasa Cina bisa dilakukan karena saking familiarnya bergaul termasuk dengan masayarakat Kawanua. “Saya ingat dulu Mami pernah minta ana main tenis, tapi ana lebih suka basket.” Kemudian diceritakannya kalau sering numpang mobil gaz (jeep buatan Rusia) bersama Stien Raturandang kalau mau ke sekolah di Mataram. Keakraban masa lalu terungkap semua disaat bertemu kembali di Balikpapan.
“Istri ane orang Arab dan mamanya Bali. Putih, kalau ditanya ane bilang dari Filipina.” Ujarnya terbahak bahak. “Ketemu dimana ?.” Diceritakan pula ketemunya di Denpasar, sewaktu sering ke Denpasar, dia punya took kaset. “Memang ente bahlul, pintar merayu dari dulu.” Ujar AF Raturandang.

“Ente harus ke Mataram, karena Ongek (Alfred ) pernah ke Mataram sama pelatih Australia waktu itu.” ujarnya.
August Ferry Raturandang menjanjikan akan ke Mataram dengan membawa turnamen tenis Piala Ferry Raturandang. Ingat sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. “OK ane janji akan ke Lombok.”

Malam Natal di Balikpapan

Balikpapan, 6 Desember 2008. Setelah acara perkawinan di Family Club Bukit Damai Indah, August Ferry Raturandang bersama Sarah Hariette Raturandang menyempatkan diri ke acara Malam Natal dari Perkumpulan Keluarga Toulour (perkumpulan asal Tondano ) dari Balikpapan. Karena Raturandang berasal dari Tondano Tidak disangka bisa bertemu dengan keluarga sendiri Ben Raturandang bersama istri. Selama ini kunjungan ke Balikpapan sering dilakukan baik untuk kepentingan POR Maesa ( 2 kali kunjungan) dan Pelti yang paling sering sejak awal pembibingan Panpel turnamen Women’s Circuit US $ 10,000 maupun Davis Cup by BNP Paribas Indonesia melawan Malaysia dan terakhir kali setelah PON XVII adalah Turnamen internasional yunir Asia Oceania (closed) . Memang selama bertugas ke Balikpapan yang singkat sekitar 3-7 hari untuk persiapan turnamen dan 3 minggu untuk Pekan Olahraga Nasional XVII 2008, tidak pernah ketemu dengan Keluarga Raturandang lainnya kecuali dengan Tyrone Warouw- Raturandang. Tidak disangka kalau di Balikpapan banyak juga berkumpul keluarga Raturandang karena mereka bekerja di Pertamina maupun Oil Company lainnya dan juga di Bontang.

Perkumpulan warga Kawanua yang ada di Balikpapan cukup banya mewakili kampung masing masing di Sulawesi Utara (Minahasa). Bulan Desember merupakan pertemuan paling banyak, boleh dikatakan setiap malam ada acara Malam Natal. Dan sekian banyak perkumpulan ada wadah lainnya seperti Wakor (Wadah Koordinasi) Maesa dan KKK (Kerukunan Keluarga Kawanua). Tetapi dengan adanya 2 wadah ini ternyata merupakan bibit perselisihan yang terjadi. Awalnya muncul adalah Wadah Koordinasi Maesa (Wakor Maesa) yang sudah berlangsung lama . Kemudian muncullah KKK yang awalnya ada di Jabotabek saja dan sudah melebar ke Balikpapan. Pengamatannya, jika acara dilaksanakan oleh KKK, maka pengurus Wakor Maesa tidak mau datang. Sayang sekali. So jauh jauh merantau dinegeri orang kok tidak rukun. Tapi begitulah Kawanua , tidak mau kalah karena gengsi saja. Teringat juga akan cerita cerita Jangan Kalah Aksi Biar Kalah Nasi. " Manado dilawan " ujar rekan yang kawin dengan orang Sonder di Jakarta

Lagi lagi ke Balikpapan

6 Desember 2008. Kunjungan ke Balikpapan hari ini memenuhi undangan perkawinan dari rekan Johnny Santoso pemilik Family Club Bukit Damai Indah Balikpapan dimanfaatkan sekali oleh August Ferry Raturandang yang sudah lama menginginkan adanya turnamen tenis yunior Persami dengan selenggarakan turnamen tenis yunior Piala Ferry Raturandang-59.
Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Begitulah peribahasa selama ini sering didengar.

Berangkat bersama Sarah Hariette Raturandang yang belum pernah melihat kota Balikpapan karena selama ini hanya transit di Bandara Sepinggan kalau mau ke Manado. Sehari sebelumnya August Ferry Raturandang menerima telpon dari Susan Soebakti SH Ketua Pengkot Pelti Balikpapan yang menanyakan soal penjemputan di Bandara Sepinggan. Ditawarkannya penjemputan di Bandara Sepinggan, yang dengan halus ditolaknya. Karena selama ini ke Balikpapan Susan Soebakti bersama rekan rekan Pengkot Pelti Balikpapan ikut sibuk menjemputnya di Bandara Sepinggan karena kapasitas selaku Wakil Sekjen PP Pelti. Sedangkan ini kunjungan istimewa karena bukan dalam rangka tugas dari PP Pelti, alias kunjungan pribadi sehingga olehnya tidak ada keinginan membebankan Pengkot Pelti Balikpapan. Akhirnya agar tidak mengecewakannya, minta agar dipinjamkan kendaraan pada hari Senin bertepatan Hari Idul Adha.

Perjalanan lancar dari Cengkareng dan tiba di Bandara Sepinggan dengan selamat. Hanya ada satu kejadian lucu akibat keteledoran pramugari udara Lion Air hari ini. Begitu pesawat mendarat seperti lazimnya pramugari memberikan informasi . “ Selamat Datang para penumpang di Bandara Hang Nadim dstnya.” Seluruh penumpang yang mayoritas asal kalimantan Timur kaget juga mendengar ucapan yang salah. Karena Hang Nadim itu di Batam , Kepulauan Riau. Karena kurang percaya, August Ferry Raturandang menunggu ucapan dalam bahasa Inggris. Ternyata pramugari Lion Air belum sadar kalau keliru ucapannya. Sewaktu turun singgung masalah kesalahan ini ke pramugari lainnya dipintu keluar. " Hang Nadim itu dimana ?" Langsung pramugari yang disapanya minta maaf.

Malam hari tepat pukul 19.00 langsung dari Town House Bukit Damai Indah menuju ke Family Club BDI yang jaraknya hanya 100 meter. Ketemu dengan Wakil Walikota Balikpapan Rizal Effendi beserta istri dan juga Purba Widjaja pejabat Pemkot Balikpapan dan juga Pelti Balikpapan yang sudah tidak asing lagi di pertenisan Kalimantan Timur.

Kamis, 04 Desember 2008

Piala Ferry Raturandang-59 di Balikpapan

4 Desember 2008. Tanggal 1 Desember terima undangan perkawinan dari salah satu rekan di Balikpapan yang mempunyai acara pernikahan putranya pada tanggal 6 Desember 2008 di Family Clun Bukit Damai Indah. Johnny Santoso selaku pemilik Bukit Damai Indah adalah bekas petenis meja handal asal Nusa Tenggara Barat. Kota Ampenan tempat August Ferry Raturandang tinggal sama dengan Johnny Santoso sewaktu mudanya ingin memenuhi undangan tersebut karena Johnny Santoso ikut juga membantu sewaktu pertama kali turnamen internasional Women's Circuit dilaksanakan di Family Club Bukit Damai Indah dan juga pelaksanaan Davis Cup by BNP Paribas antara Indonesia dan Malaysia.

Setelah melihat acara 6 Desember 2008 dan esoknya ada waktu kosong, maka timbuil inisiatip adakan kegiatan turnamen tenis Piala Ferry Raturandang-59 di Balikpapan. Langsung hubungi salah satu putrinya Novi yang juga Manajer Family Club mengutarakan rencana turnamen tenis tersebut dan disambut dengan baik. Langsung kirim SMS ke nomer tilpon seluler pelatih pelatih yang ada di Kalimantan Timur. Dan telpon langsung ke Ketua Pengkot Pelti Balikpapan Susan Soebakti SH mengutarakan maksud dan tujuannya. Surat dikirimkan pula ke Pengkot Pelti Balikpapan.

"Om, apa serius atau becanda." ungkapan SMS dari salah satu pelatih Pargiyanto yang juga salah satu pengurus Pelti Balikpapan. Sudah sering August Ferry Raturandang menyampaikan keinginan adakan kegiatan turnamen tenis baik Persami maupun Nasional (TDP) kepada rekan rekan di Samarinda dan Balikpapan tetapi baru berhasil dengan turnamen internasional di Balikpapan. Begitu juga keinginan selenggarakan Persami dibumi Kaltim. Tiba saatnya untuk bekerja langsung dilapangan dan bisa memacu semangat atlet atlet, pelatih maupun dukungan orangtua bisa didapatkan.

Masalah lapangan hanya 4 merupakan kendala sehingga direncanakan pertandingan kelompok umur 12 tahun dan 14 tahun. Tetapi kemudian terima telpon dari salah satu pelatih di Kaltim minta agar diadakan juga KU 16 tahun, karena ada 8 petenisnya bisa ikut . Begitu juga datang permintaan KU 10 tahun datang dari orangtua petenis. Tapi yang bisa diadakan hanya KU 16 tahun.

Ini satu kebiasaan August Ferry Raturandang yang segera secara cepat adakan suatu kegiatan yaitu Persami walaupun waktu sangat pendek, tetapi bisa diatasi dengan kemajuan IT sehingga informasi ini bisa diketahui seluruh masyarakat tenis di Kaltim.
Ternyata sudah ikut mendaftarkan 56 atlet tenis. Karena hanya 1 peserta KU 16 tahun putri, maka yang dipertandingkan adalah KU 12 tahun, 14 tahun putra dan putri dan KU 16 tahun putra saja.

Tetaplah Berlari

1 Desember 2008. Ada satu nasehat cukup baik untuk diketahui oleh petenis Indonesia didalam kehidupan sehari hari dalam pertenisan Indonesia. Karena terus terang petenis perlu suatu motivasi besar sehingga bisa mencapai kesuksesan dalam kariernya.
Ini naasehat diterima dari email oleh August Ferry Raturandang yang bunyinya seperti demikian :

AnakKu yang terkasih, Aku hampir tidak percaya ketika membaca suratmu.
Bukankah baru beberapa minggu yang lalu engkau berjanji tidak akan menyerah? Aku tahu, mungkin minggu-minggu ini terasa sangat sulit bagimu, tapi, anakKu, kuatkan hatimu. Tetaplah berlari dalam track yang sudah kusediakan karena Aku tahu yang terbaik bagimu. Bila kau merasa lelah, berhentilah sejenak, ambil roti dan air hidup yang PutraKu telah tawarkan dan makanlah. Aku yakin, setelah kau mendapatkan keduanya, kau akan merasa segar kembali. Setelah itu, tarik nafas dalam-dalam dan mulai langkahkan kakimu untuk bergerak maju. Fokuskan pandanganmu pada apa yang ada di depanmu, pada tujuan yang kau miliki, yaitu menyelesaikan perlombaan dan menjadi juara.
Buanglah kemarahan dan sakit hati yang menghantui pikiranmu. Amarah dan sakit hati itu tidak ada gunanya, hanya menguras tenaga dan menghambatmu mencapai tujuan. Terkadang Aku mengijinkan hal-hal yang buruk terjadi karena Aku ingin melatihmu. Aku ingin kaki-kakimu
menjadi lebih kuat daripada sebelumnya. Dengan begitu engkau dapat berlari dengan lebih cepat. Berhentilah mengasihani dirimu sendiri, berdirilah tegap, dan punyailah mental seorang pemenang. Seorang pemenang, bukan dilihat dari berapa kali ia sukses meraih gelar juara. Di mataKu, seorang pemenang adalah seorang yang tidak pernah menyerah terhadap kegagalan, yang mau bangkit setiap kali ia jatuh. Karena itu, jangan pernah menyerah ketika kau jatuh tersandung kerikil-kerikil di sepanjang jalanmu. Jangan pula kau merasa malu terhadap dirimu sendiri. Angkat kepalamu dan teruskan perjalananmu mencapai finish.
Ketika pertandingan dimulai, Kuharap kau bisa mengacuhkan omongan orang-orang yang menonton di bangku stadion. Jangan merasa sombong karena pujian atau karena kau diunggulkan. Pujian dan pengagungan yang keluar dari mulut mereka terkadang hanya sekedar basa-basi di depan para juara. Tak jarang, kata-kata manis itu akan segera berubah menjadi kritikan pedas dan kecaman ketika para juara itu gagal. Karena itu, kau juga tidak perlu risau ketika mendengar pernyataan-pernyata an skeptis yang mengatakan engkau pasti kalah. Kau bukan bertanding atas kemauan mereka. Kau juga tidak hidup berdasarkan omongan mereka.
Pelari yang berpengalaman tahu akan hal itu. Karena itu, tidak usah pusing dengan perkataan-perkataan mereka. Fokuskan pikiranmu pada tujuan yang semula, bukan untuk mendapatkan pujian atau penghargaan dari orang lain, tapi untuk menyelesaikan pertandingan. Aku, Pelatihmu, tidak pernah meragukan kemampuan yang kau miliki. Aku tahu seberapa besar potensi yang ada padamu dan Aku tahu kau pasti bisa mencapai garis finish dengan gemilang.
Selamat berjuang anakKu, Aku menunggumu di garis finish.
Yang mengasihimu; Ayahmu, Pelatihmu, Sahabatmu, Penonton setiamu

Diminta hadir Dalam Turnamen

30 Nopember 2008. Hari Minggu cerah pagi ini, telpon berdering dari Johannes Susanto Ketua Bidang Pertandingan PP Pelti. Intinya minta tolong agar bisa hadir di final turnamen tenis nasional ALFAMART Cup di hotel Sultan Jakarta. Sedangkan hari ini (30/11) punya banyak acara yaitu Persami Piala Ferry Raturandnag-58 di Senayan, dan keluarga punya acara juga di Cireunde Jakarta Selatan. Tidak lama setelah meletakkan telpon seluler, berdering pula telpon dari Christian Budiman meminta bantuan bisa hadir di turnamen tersebut.
Setelah itu pula datang telpon dari Diko Moerdono Ketua Bidang Pembinaan Senior PP Pelti. Meminta hal yang sama juga, karena semua petinggi PP Pelti tidak berada ditempat. Keinginan rekan rekan tersebut akhirnya dipenuhi olehnya.

Tugas pertama selesaikan masalah Piala Ferry Raturandang-58 di Senayan, setelah itu berangkat ke Hotel Sultan, Ketemu dengan Glenn Sugita selaku promotor dari PT Sportama, dan Teddy Tanjung selaku Direktur Turnamen.

Babak final Alfamart Cup antara Angelique Widjaja melawan Liza Andriyani untuk putri dan pertandingan kedua antara Elbert Sie melawan Christopher Rungkat dilapangan yang sama.

“Bagaimana pendapat Anda dengan hasil final Alfamart Cup. Kenapa yang muda muda pada kalah. Bukannya berarti pembinaan tidak jalan.” pertanyaan dari wartawan Sinar Harapan Ray S kepada August Ferry Raturandang. Langsung ditanggapi dengan menanyakan siapa siapa saja yang turun di Alfamart Cup ini, ternyata ada 3 petenis nasional tidak hadir yaitu peringkat pertama Sandy Gumulya, Ayu Fani Damayanti dan Beatrice Gumulya.
“Janganlah melihat hasil dari satu event. Harus lihat juga siapa pesertanya. Karena disemifinal ada 2 petenis nasional yaitu Lavinia Tananta dan Jessy Rompies yang ikut bertanding Alfamart Cup. Sepengetahuan saya, Jessy Rompies dan Lavinia Tananta, Ayu Fani Damayanti minggu lalu ikut turnamen selama 2 minggu di Manila. Sedangkan Angie dan Liza tidak ikuti turnamen berarti masih fresh. Bukan berarti meremehkan hasil kedua petenis yang masuk final hari ini.”

Ada kecendrungan setiap hasil suatu turnamen di Indonesia, selalu memberi suatu kesimpulan dini yaitu suatu kegagalan dari pembinaan induk organsasi tenis yaitu Pelti. Begitu juga pertanyaan muncul dari wartawan lainnya yang kelihatannya masih baru terjun ke dunia tenis Indonesia. Kesimpulan dini ini yang selalu diungkapkan dalam tulisan tulisan negatip terhadap induk organisasi. Ini karena belum mengetahui jika membina atlet tenis tidak bisa dilihat hasilnya dalam waktu singkat. Bahkan setelah masa akhir kepengurusan hasilnya belum kelihatan.
Lebih sadis lagi kesimpulan tersebut dikait kaitkan karena ketidak sukaaannya terhadap anggota pengurus Pelti. Diungkapkan dalam situs resmi Pelti maupun SMS liar ke August Ferry Raturandang.

Ditengah tengah final tungal putra antara Elbert Sie dan Christopher Rungkat, August Ferry Raturandang bersama Ken Widyasetiabudi, denga iseng kirim SMS ke Michael Rungkat yang sedang serius menonton putranya. “ Kelihatannya Christopher sudah punya selera baru, pakai handuk karapan sapi.” Begitulah bunyinya.
Terlihat dari jauh Michael sedang membaca SMS tersebut. Dan sambil tersenyum mencari sipengirim SMS tersebut. “ Ha ha ha.” Tidak lama kemudian datanglah Teddy Tanjung selaku Direktur Turnamen meminta August Ferry raturandang ikut memberikan hadiah kepada pemenang ganda putra maupun putrid.