Selasa, 14 Agustus 2012

Tidak ada protes dari Pelti Provinsi

Jakarta, 14 Agustus 2012. Setiap pelaksanaan PON selalu ada saja masalah khususnya masalah status atletnya yang sering jadi perdebatan antara Pelti Provinsi dengan Panpel. Untuk mengatasi hal ini tentunya harus jelas dibuat aturan mainnya. Harus diingat pula kalau setiap event punya aturan yang bisa berbeda beda. Ini yang disebut Tournament Regulations karena lebih banyak mengatur non tehnis nya saja. Sewaktu membuat Technical Handbook dicantumkan kalau dalam Technical Meeting tidak menerima protes masalah keabsahan atlet karena sudah dibentuk tim keabsahan PON XVIII. Sewaktu PON XVII Kaltim tahun 2008, masalah status atlet diperebutkan antara Bali dan DKI Jakarta. Hal ini sebenarnya tidak perlu jika sudah dibentuk tim keabsahan yang sudah bekerja jauh jauh hari atau setelah entry by name dikeluarkan. Saat ini untuk PON XVIII tahun 2012 Riau, tim keabsahan yang dibentuk KONI Pusat telah kirimkan daftar nama sementara atlet dari setiap cabang olahraga dengan maksud agar tidak ada protes disaat hari-H. Apakah kali ini semua lancar lancar saja. Rasanya tidak lancar juga, karena dari daftar nama yang dikirimkan ke KONI Provinsi peserta PON dan ke induk organisasi dengan maksud agar dicek kembali apakah ada kesalahan administratif apa tidak ternyata ada kesalahan kesalahan. Dari daftar nama sementara saya melihat ada kejanggalan kejanggalan mulai dari provinsi kirim nama lebih dari kuota ( 4 putra dan 4 putri ). Ada yang kirimkan 5 - 6 nama. Tentunya mereka berpikir akan menanggung sendiri kelebihan pesertanya. Tapi ini juga tidak diperkenankan. Dan keanehan lainnya adalah Kalsel tercantum 1 putra saja sedangkan Pelti Kalsel daftar 4 putra. Begitu juga nama atlet Sumut ada Fernando Alfons Bangun, setahu saya itu nama 2 orang kakak beradik yaitu Fernando Bangung dan Alfonso Bangun. Langsung oleh Pelti dikirimkan pemberitahuan kepada provinsi tersebut dan juga ke Tim Keabsahan PON XVIII dan PB PON XVIII Bidang Pertandingan. Setelah semua atlet yang didaftaran di cek KTA Pelti, sayapun cukup lega karena semua sudah memilikinya. Aman sudah masalah aturannya sedangkan KTP atlet saya tidak langsung melihatnya dan saya kira KONI Provinsi sudah tahu kewajibannya untuk memenuhi aturan tersebut. Untungnya kali ini cabang olahraga tenis memberlakukan pembatasan umur, sehingga mayoritas atlet tersbut belum pernah ikuti PON. Ada beberapa saja yang sudah pernah dan bisa dihitung dengan jari saja. Yang jadi pertanyaan sekarang bagi yang ikuti PON sebelumnya jika pindah provinsi sudah harus ikuti ketentuan Mutasi. Ini saya tidak bisa cek karena komunikasi antara atlet dengan Pelti Provinsi tidak pernah dikirimkan tembusannya.Ini masalah intern saja. Disni butuh kejelian Pelti Provinsi yang menerima atlet tersbut meneliti ketentuan yang berlaku apa sudah diikuti dengan benar. Yang jadi masalah jika Pelti Provisni sendiri tidak menguasai aturan mutasi tersebut. Ini baru masalah Tim keabsahan sudah edarkan surat ke KONI Provinsi dengan cantumkan protes ditutup tanggal 7 Agustus 2012. Ini juga masalah karena ada aturan lainnya bertentangan dengan SK no. 73 Tahun 2010 ditanda tangani oleh Ketua Umum Rita Subowo tentang Pokok-pokok penyelenggaraan PON XVIII tahun 2012 di Provinsi Riau. Dalam Bab VI Atelt dan Official Peserta PON XVIII tahun 2012 Pasal 1 b tentang syarat keabsahan atlet peserta PON XVIII tahun 2012 diayat 4 c disebutkan antara lainProtes dan sanggahan harus dilakukan secara tertulis dengan dukungan data data cukup, diajukan kepada PB PON XVIII/2012 paling lambat 10 (sepuluh) hari sebelum PON XVIII/2012 dimulai. Nah dari sini bisa jadi pertanyaan besar. Tim keabsahan jangan buat aturan baru lagi. Sampai hari ini belum ada protes datang dari Pelti Provinsi ke PP Pelti, semoga aman aman saja sehingga semua petenis bisa bertanding dengan baik.

Mengenal Mutasi Atlit di PON

Jakarta, 14 Agustus 2012. Ada satu pertanyaan yang datang dari adik sendiri kepada saya hari ini yang berkaitan dengan Pekan Olahraga Nasional XVIII th 2012 Riau. Karena menjelang PON XVIII saat ini tim keabsahan PON yang dibentuk oleh KONI Pusat sedang menyusun daftar nama nama peserta PON XVIII. Sebelumnya tim keabsahan sudah menyusun daftar sementara nama peserta PON XVIII th 2012. Daftar yang dibuat itu ternyata masih bermasalah karena ada daerah yang mengirim nama peserta melebihi kuota yaitu 4 baik putra maupun putri. Tetapi ada yang agak lebih aneh yaitu KONI Provinsi Kalimantan Selatan yang mendaftarkan nama pesertanya hanya satu putra dari 4 jatahnya. Setelah saya cek ke Pelti setempat ternyata merekapun agak kaget karena merasa telah daftarkan 4 nama. Begitu juga nama yang salah dari Sumatra Utara yaitu Fernando Alfonso Bangun, setahu saya itu 2 nama atlet kakak beradik. Dan langsung pula saya kirim pemberitahuan kepada Tim Keabsahan dan juga ke Pelti provinsi. Pertanyaan dari adik saya itu menyangkut aturan perpindahan atlet dari satu provinsi ke provinsi lainnya. KONI Pusat sudah buat aturan mutasi (SK KONI Pusat No. 56 Tahun 2010 ) dan sudah berlaku cukup lama dari sejak PON XVII 2008 Kaltim. Memang banyak pihak sering salah mengerti atas aturan tersebut. Banyak pelaku tenis sendiri masih menganggap enteng aturan tersebut. Jika atlet yang belum pernah ikut PON maka aturannya kembali ke aturan perserta yang dibuat oleh KONI dan Pelti. Yaitu memiliki KTA Pelti dan KTP atas domisilinya. Bagi atlet yang pernah ikut PON maka aturannya sebagai berikut atlet ajukan surat permohonan ke Pelti Kota/Kabupaten atau Provinsi dengan menyebutkan alasan pindah ( hanya 5 alasan yang dibenarkan yaitu pindah sekolah, pindah kerja, dapat pekerjaan dilain provinsi, ikut orangtua, ikut istri atau ikut suami ). dan menyebutkan pindahnya keprovinsi tujuan. Sedangkan alasan provinsi tersbut tidak mau membina lagi itu alasan yang tidak bisa diterima dalam aturan ini. Pandangan pelatih ataupun orangtua kalau provisni tidak mau membina lagi maka berhak keluar cari daerah yang mau. Ini juga keliru besar karena tugas pokok orangtua atau klub untuk membina atletnya. Banyak kesalahan yang dilakukan atlet sewaktu mengajukan masalah mutasi. Kesalahan yang saya monitor adalah tidak mencantumkan tujuan pindah ke provinsi karena belum punya tujuan karena masih mau negosiasi dengan Pelti tujuan (ini prakterk alam jual beli atlet). Sewaktu atlet ajukan mundur tanpa tujuan jelas oleh Pelti Provinsi dijawab menyetujui permintaan surat tersebut, tanpa emble embel lain. Nah biasanya surat atlet diajukan langsung ke Pelti Provinsi. Ini bukan masalah. Langkah berikutnya Pelti Provinsi wajib keluarkan surat rekomendasi mutasi menyetujui atau tidak menyetujuinya. Jika tidak menyetujui maka wajib sebutkan alasan menolaknya. Setelah itu atlet mengajukan surat ke KONI Provinsi dengan melampirkan surat rekomendasi mutasi dari Pelti Provinsi tersbut. Hal yang sama KONI Provinsi wajib ajukan jawabannya menolak dengan alasan atau menerimanya. Surat itu dikirimkan ke KONI Provinsi tujuannya. Memang beberapa tahun lalu saya sempat berbeda pendapat dengan rekan saya sendiri masalah ini. Karena saya diminta pendapatnya yang berbeda dengan pendapatnya maka saya malas mau berdebat karena dia katakan sudah bertanya ke pengacaranya.Dikatakan kalau sudah habis kontrak dengan Provinsi maka atlet tersebut bebas mencari provinsi baru. Saya hanya katakan itu benar saja tapi jangan lupa ini Olahraga diacara PON yang punya aturan sendiri. Jadi kalau mau ikut PON maka yang diikuti adalah aturan PON. Tetapi sayangnya rekan saya masih ngotot minta pembenarannya. Dan sayapun tetap ngotot dengan pendapat saya sendiri. Suka lupa didunia tenis itu ada aturan yaitu Rules of Tennis dan Tournament Regulation yang digunakan. Jadi jangan coba coba gunakan diluar aturan tersbut. Hal yang sama di PON termasuk Tourament Regulation. Hanya saya sayangkan ada atlet yang jadi korban akibat misinformasi atau bersikekeh dengan pendapat sendiri atau dari orang lain. Yaitu ada orangtua atlet yang sependapat dengannya, walaupun sudah mau mengerti kalau tidak sulit ikuti aturan tersebut. Dan ketika saya ditunjukkan surat keluar dari Pelti Provinsi saya hanya katakan bahwa ini jebakkan saja. Karena dikatakan menyetujui permohonannya untuk keluar dari provinsi tersbut diaman tidak disebutkan tujuan provinsi yang ingin dituju. Dan juga tidak diurus ke KONI Provinsi awalnya. Akibatnya atlet tersebut tidak ikut PON XVIII tahun 2012. Ini saya berikan sebagai masukkan kepada masyarakat tenis agar mau mengerti aturan mutasi khusus PON. Anjuran ini juga saya minta perhatian kepada rekan rekan di Pelti Provinsi agar hati hati jika menerima lamaran dari atlet melalui pelatih ataupun orangtua petenis. Yang jadi pertanyaan apakah rekan rekan Pelti Provinsi tidak mau membaca aturan mutasi tersebut yang sudah pasti dikirim juga ke KONI Provinsi.

Senin, 13 Agustus 2012

Bursa Ketua Umum PP Pelti sepi

Jakarta, 13 Agustus 2012. Biasanya dibulan Agustus menjelang Musyawarah Nasional PELTI sudah mulai hangat calon Ketua Umum PP Pelti yang akan diadakan 24-25 Nopember 2012 di Manado. Teringat 5 tahun silam ketika mau diadakan Munas PELTI di Jambi. Sudah mulai ramai dibicarakan calon Ketua Umum PP Pelti. Saya teringat dirumah Martina Widjaja, Menko Kesra saat itu Aburizal Bakrie bertemu dengan Martina Widjaja dan oleh rekan Diko Koerdono disampaikan langsung kepada Ical dengan pertanyaan menarik yaitu apakah mau maju sebagai Ketua Umum PP Pelti. Jawabnya adalah "iya" Dan mulailah ramai dimedia massa keinginan Menko Kesra saat itu. Tetapi beberapa hari ini saya bertemu dengan rekan wartawan olahraga yang beritahu kalau ada yang mau dijagokan untuk menjadi Ketua Umum PP Pelti. Sayapun sampaikan kalau kami semua merespons menyambut baik jika ada yang mau maju sebagai Ketua Umum PP Pelti. Ada 2 yaitu satu Menteri dan satu lagi pengusaha. " Apa sih syaratnya jadi Ketua Umum PP Pelti?' itu pertanyaan menarik. Tapi kedua rekan ini belum mau menyebutkan nama kedua tokoh tersebut yang mau dijagokan mereka. Ya, kita tunggu saja.

Gagal di London, adakan diskusi

Jakarta, 12 Agustus 2012. Menghadiri undangan SIWO Jaya dengan diskusi yang topiknya ada perdebatan, timbul keinginan mengetahui apa yang dibicarakan. Karena selama ini setiap diskusi tidak ada kelanjutan saja. Hanya merupakan wacana saja. Begitu juga hari itu banyak kritikan muncul, padahal pembicaranya seperti Sumartomo atau Tommy (MetroTV),Indra Jati, Frits Simanjuntak. Utut Ardianto dan moderatornya Ian Sitomurang. Inisiatp datang dari Max Sopacua yang mantan reporter TVRI dan sekarang duduk sebagai anggota DPR dari Fraksi Demokrat.Kegagalan Indonesia di Olimpiade dijadikan bahan pembicaraan. Saya sendiri berpendirian selama ini munculnya diskusi setelah ada kegagalan, tetapi semua pihak melupakan basicnya saja seperti pembinaan usia dini, karena pembinaan instan itu sudah tidak benar. Pembinaan olahraga harus melalui sekolah formal juga dipakai sebagai masukan. Sedangkan menurut saya selama ini tidak ada target Olimpiade dan terlalu terfokus kepada SEA Games saja, bukannya Olimpiade. Menpeora Andi Mallarangeng sendiri mengatakan kalau perolehan medali di SEA Games itu sangat penting. Oleh Frits Simanjuntak sendiri sudah memaparkan kalau China sendiri hanya memfokuskan kepada olahraga yang benar benar menghasilkan medali. Dan sudah dipersiapkan sebelum menjadi tuan rumah Olimpiade 2008 di Beijing. Dan juga hasilnya di Londonpun sebagai urutan kedua. Saya melihat kelemahan olahraga Indonesia itu adalah tidak ada pembatasan keikutsertaan atlet. Sebagai contoh atet pemegang medali perak Olimpiade setelah kembali ke Tanah Air akan ikuti PON XVIII di Riau. Hal yang sama pemain bulutangkis ikut Olimpiade dan masih ikuti PON XVIII. Jika olahragawan ikut PORDA/PORPROV dan ikut PON , SEA Games , Asian Games dan Olimpiade masih dengan atlet yang sama. Maka menurut pendapat saya artinya tidak ada keinginan menjadi atlet dunia. Seharusnya yang ikuti PON adalah atlet yang dari PORDA/PORPROV. Sedangkan atlet Olimpiade tidak perlu ikuti PON, ini menunjukkan kita kekurangan atletnya. Yang sudah ikut Olimpiade atau Asian Games seharusnya konsentrasi ke kejuaraan dunia bukan ke nasional lagi. Jadi dari setiap lapis akan muncul atlet atlet tersendiri. Tapi ini hanya pendapat saya saja, maybe right, maybe wrong.

Rabu, 08 Agustus 2012

Permasalahan Intern nomor satu

Jakarta, 8 Agustus 2012 Sekembali dari Pekanbaru banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dikerjakan. Karena keterlambatan datang dari Panpel PB PON sendiri. Sebagai contoh waktu pelaksanaan sudah tinggal 1 bulan (30 hari) kebutuhan perlengkapan yang sudah diajukan oleh Ketua Panpel Tenis ternyata belum siap. Sepengetahuan saya selama ini di PON setiap perlengkapan itu harus ada persetujuan dari Technical Delegate. Tapi kali ini sepertinya hanya oleh Ketua Panpelnya saja yang sudah melihat langsung dan saya hanya menerima laporannya. Ya, tambah enteng lah tugas saya. Dari perlengkapan saya melihat banyak yang belum tuntas seperti Scoring board manual sedangkan yang elektronik sudah ada 2 buah. Begitupula ID card belum terurus, karena kebiasaan selama ini baik PON maupun SEA Games selalu ada formulir akreditasinya.Saya juga tanyakan soal seragam panpel, baru dibicarakan sewaktu saya di Pekanbaru dan didata kebutuhannya. Sebelumnya dalam komunikasi dengan Ketua Panpel sudah saya tanyakan masalah ini. Dan soal seragam hanya dikatakan sudah pesan tapi hanya pukul rata ukurannya yaitu S,M.XL dan XL. Padahal ukurannya berbeda beda setiap anggota. Dan saya sudah pernah protes kalau cara begitu tidak tepat. Dan akhirnya dalam kunjungan konsultasi tanggal 3-4 Agustus 2012 langsung saya katakan beri waktu seminggu saya akan kirim ukuran seragam dari petugas diluar Riau. Tanggal 7 Agustus 2012 PP Pelti baru terima surat tertanggal 25 Juli 2012 dari PB PON XVIII (Ketua III bagian SDM) permintaan akreditasi petugas seperti wasit dll. Setelah itu saya langsung kirimkan SMS ke wasit yang bertugas agar siapkan fotocopy akte kelahiran, pasfoto dan ukuran kaos petugas. Karena surat itu mencantumkan batas waktu yang harus diterima mereka tanggal 10 Agustus 2012. "Ini kerja gila namanya." Beginilah cara kerja Panpel PB PON XVIII, sayapun hanya bisa bersabar saja. Karena saya sudah tahu permasalahan intern sendiri masih banyak sehingga saya harus bersabar saja. Begitu juga permintaan ice box maupun HT belum ada realisasinya. Tapi saya sudah katakan kepada rekan saya di Pekanbaru, kalau saya akan bantu siapkan kedua kebutuha tersebut dari Jakarta. Nah, masalah apa lagi yang belum tuntas. Yaitu susunan Panpel sendiri belum tuntas kenapa begitu karena susunan Panpel tersebut dibuat oleh Ketua Panpel sendiri. Saya sendiri baru sekali ketemu dalam form resmi di Pekanbaru dengan anggota Panpel Tenis PON XVIII. Susah sekali mengumpulkan seluruh anggota Panpel seperti yang dikemukakan oleh Ketuanya sendiri. Ya, bagi saya bukan masalah karena itu urusan intern mereka. Kalau masalah tehnis pertandingan bukan masalah lagi karena sudah diatur dari rekan2 di Jakarta. Sewaktu di Pekanbaru, saya sempat berkonsultasi dengan PB PON XVIII dan sudah bertemu dengan petugass dari konsusmi,akomodasi maupun transportasi. Yang belum adalah dengan kesehatan. Dijanjikan oleh Ketua Panpel akan ada pertemuan sewaktu saya di Pekanbaru. Dijadwalkan tanggal 3-4 September 2012. Mudah mudahan.

Senin, 06 Agustus 2012

Bisakah Ikut PON via wild card?

Jakarta, 6 Agustus 2012. Ajang multi event olahraga dikenal didunia adalah Olimpiade, Asian Games, SEA Games dan juga PON ataupun PORPROV. Tenis salah satu cabang olahraga yang ikut dipertandingkan. Apakah perbedaan dan persamaan dari kelima multi event tersebut. Persamaan semuanya adalah tanpa ada Prize money. Mulai dari PORPROV, PON, SEA Games, Asian Games yang dipertandingkan sama yaitu Beregu Putra, Beregu Putri, Tunggal putra dan Putri, Ganda Putra dan Putri, Ganda Campuran. Diperebutkan 7 medali emas. Tapi kalau Olimpiade hanya 5 medali emas. Bedanya tanpa ada beregu. Karena ini event ada beregu maka yang ikut adalah mewakili Kabupaten/Kotamadya (PORPROV), Provinsi (PON), Negara (SEAG dan Asian Games). Artinya bukan perorangan dimana semua atlit bisa ikut. Bedanya dengan Olimpiade cabang tenis, karena pesertanya adalah perorangan yang mewakili negara. Status peserta berdasarkan Peringkat Dunia. Dan juga disediakan jatah wild card yang ditunjuk oleh ITF. Menghadapi PON XVIII tahun 2012 di Riau, beberapa tahun lalu saya pernah ditanya oleh salah satu orangtua petenis yunior yang berkeinginan ikut PON XVIII. Karena atlet tersebut tidak dipanggil oleh Pelti Provinsi maka tidak memupus keinginan ikut serta PON. Berbeda dengan ada satu orangtua petenis yunior potensial yang pernah juga ikut PON XVII Kaltim , kali ini pernah menyatakan kepada saya kalau anaknya tidak perlu ikut PON. Karena masalah mutasi yang dianggap bertele tele maka keluarlah statement dari orangtua atlet tersebut disampaikan kepada saya. Dan memang sekarang anaknya tidak ikut PON XVIII 2012. Apakah bisa daftar langsung tentunya tidak bisa karena yang daftarkan adalah KONI Provisni ke PB PON. Dan juga harus diingat tidak ada fasilitas wild card seperti Olimpiade.

Minggu, 05 Agustus 2012

Situasi seperti pasar saja

Pekanbaru, 5 Agustus 2012. Kesibukan bukan hanya di jalan masuk Pekanbaru, tetapi di Kantor PB PON XVIII terlihat sudah. Diundang hadir dalam rapat konsultasi dengan PB PON XVIII diikuti hampir 40 lebih Technical Delgate maka terlihat kantor PB PON XVIII seperti pasar saja sehingga mau ketemu panpelnya yang super sibuk sangat sulit. Akhirnya sayapun kembali ke hotel karena giliran saya ketemu jam 15.00. Ada waktu istrahat istilahnya. Setelah berkonsultasi dengan Ketua Bidang Pertandingan PB PON XVIII saya didampingi oleh Ketua Panpel Tenis Sukirno , saya melihat kekurangan yang akan dihadapi oleh Panpel Tenis karena belum ada persetujuan ataupun kepastian tentang kebutuhan kebutuhan yang sudah lama diajukan ke PB PON oleh Ketua Panpel Tenis. Sayapun sampaikan kepada Ketua Panpel Tenis , item mana yang kiranya belum bisa dipenuhi segera beritahu karena ada beberapa item bisa dibantu oleh PP Pelti. Tetapi yang saya tekankan adalah scoring board manual segera disiapkan dan dibuat di Pekanbaru. Koordinasi dengan bagian akomodasi , transportasi, konsumsi sudah dilakukan tetapi yang belum adalah dengan bidang kesehatan. Ini tugas Ketua Panpel Tenis sendiri harus bisa kontak ke bidang Kesehatan. Sayapun menyadar karena situasi di Pekanbaru penh keragu raguan karena masalah dana yang untuk PON XVIII masih belum tuntas , belum lagi masalah pengadilan tipikor tentang korupsi melibatkan mantan KaDispora LA . Tentunya semua pihak muncul keragu raguan kuatir salah bertindak bisa panjang urusannya..

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kembali ke Pekanbaru

Pekanbaru, 3 Agustus 2012. Memasuki kota Pekanbaru yang lagi bebenah memperbaiki diri sebagai tuan rumah Pekan Olahraga Nasional XVIII tahun 2012 mulai terlihat dari pintu masuk di Bandara Pekanbaru. Dua minggu lalu saya baru kembali dari Pekanbaru, menggunakan Bandara yang sama. Kali ini semua penumpang pesawat disambut oleh Bus diantar ketempatnya yang sebenarnya tidak terlalu jauh kurang lebih 100 meter melingkar bangunan lama yang mau dibongkar. Masuklah kebangunan baru dan mempunyai pintu keluar sendiri. memang bangunan baru lebih besar dan masih bau cat istilahnya karena masih baru. Timbul pertanyaan , apakah selesai bangunan baru ini disaat PON XVIII yang mulai berdatangan diawal September 2012. Jika semua dijemput dengan bus, betapa padatnya bus itu melayani penumpang kontingen peserta PON XVIII. Setelah sampai dihotel mulailah ambil inisiatip untuk cek lapangan tenis PTPN-V. Dari luar terlihat sudah mulai nampak pembenahannya . Lapangan parkir sudah mulai dibenahin, hanya belum ada perubahan di lapangan luar yang ada kejanggalan atau kesalahan kesalahan yang dibuat untuk diperbaiki. Ini akibat pemborongnya belum selesai kerjakan. Tetapi ada kemajuan lainnya adalah lapangan stadion mulai di cat, dan kursi kursi di tribun sudah mulai dipasang. Begitu selesai ada sedikit kejanggalan tetapi saya tidak mau permasalahkan karena tidak ada gunanya kalau harus merubahnya kembali. " Ini kesalahan design awal." cuma itu yang saya bisa katakan. Kekurangan2 dipembangunan tersebut sudah saya kemukakan kepada pemiliknya yaitu PTPN-V. Saya hanya berharap saja semoga awal September 2012 sudah bisa digunakan atau sudah selesai. Yang perlu diperhatikan juga adaah landscapenya. Ini agar tidak terlihat gersang.