Jakarta,12 Februari 2010. Masalah seleknas yang tertunda dibaha spagi ini (12/2) disekretariat PP Pelti. Hadir Danny Walla, Christian Budiman, Johannes Susanto, Diko Moerdono, Slamet Utomo, dan Slamet Widodo yang ditugaskan sebagai notulis rapat.
Sebelumnya Pelti menentukan Seleknas KU 16 tahun putra dan putri dilaksanakan awal Februari 2010, kemudian Pelti terima surat bernada protes tentang waktu pelaksnaan khusus putri tidak disamakan waktunya. Sehingga muncullah rapat Forkopi dengan Pelti yang seharusnya bukan untuk memutuskan. Dalam rapat tersebut Pelti terbuai dengan kesepakatan itu dimana saya juga ikut hadir tidak berdaya. Rapat ini membuat sedikit ketidak harmonisan sesama pengurus tetapi karena masing masing pihak menyadari kekeliruan tersebut sehingga tidak ada perpecahan didalamnya. Kembali seperti semula, akrab dengan rekan rekan sendiri.
Menerima alasannya kalau sudah dibuat program sesuai dengan jadwal dalamkalender TDP yang dikeluarkan Pelti 1 Maret 2010, sehingga akan mengacaukan program atletnya yang satu ini. Tetapi setelah diterima dimana Pelti mau selenggarakan Seleknas, tiba tiba Pelti terima surat masukan lagi dari orangtua atlet yang telah membuat program pelatihan putrinya untuk siap ikyuti seleknas 1 Maret. Bingung deh, alasannya pun masuk akal sehingga membuat sedikit kebimbangan bagi rekan Christian Budiman. "Maunya apa."
Pendapat saya sendiri yang sering diajak konsultasi oleh rekan Christian yang sudah pusing mengatasinya, inilah akibat terlalu banyak kompromi sehingga terima akibatnya. "Kase hati minta jantung."
Sayapun menyadari seleknas akan datang kapanpun keputusannya so pasti ada yang tidak puas. Inilah nasib duduk di Pelti.
Jumat, 12 Februari 2010
Kamis, 11 Februari 2010
Wacana Kepelatihan Versi Baru

Jakarta,11 Februari 2010. Saat ini sedang diselenggarakan penataran pelatih tenis atau dikenal dengan National ITF Level-1 Coaches Course di Senayan. Dalam perbincangan saya dengan Dr. Pung, staf dari Kentor Menegpora RI, saya sampaikan kalau saat ini jumlah pelatih tenis yang bersertifikat yang dikeluarka oleh PP Pelti sebelumnya sudah mencapai lebih dari angka 1.000. Tetapi dari sejumlah tersebut, adakah yang masih aktip sebagai pelatih ? Itu pertanyaan saya, dan saya memprediksi adalah hanya 10 % saja. Bisa dibayangkan kondisi seperti ini sangat memprihatinkan.
Harus diakui kegiatan penataran pelatih yang dilakukan sudah memakan beaya cukup besar, yang hasilnya sangat bertentangan sekali. Sehingga sayapun mulai berpikir, kondisi seperti ini sudah harus diperbaiki demi peningkatan pretasi tenis Indonesia.
Selama ini setiap calon pelatih termotivasi ikuti penataran resmi disebabkan kebutuhan pribadi bukan sebagai pelatih tenis, tetapi lebih banyak kepada kebutuhan akan secarik kertas atau Piagam yang dikeluarkan oleh penyelenggara atau Pelti.
Bahkan akhir Januaria sayapun menerima permintaan untuk membeli sertifikat yang akan dikeluarkan Pelti. Ini sangat memalukan sekali.
Ada pemikiran mengatasi permasalahan seperti ini. Pelatih itu sangat diperlukan begitu juga kualitas pelatih juga harus mendapatkan perhatian. Sehingga saya mau mencoba selenggarakan penataran pelatih berdasarkan kriteria yang lain dari yang lain. Kalau selama ini lebih ditekankan bisa bermain tenis, minimal SMA, dan mengerti bahasa Inggris. Maka saya akan tambahkan lagi persyaratan baru. Yaitu setiap pelatih harus mempunyai murid petenis yunior. Dan sewaktu ikut penataran harus dibawa. Ini ada keuntungannya adalah langsung bisa memperbaiki atau ikuti hasil penataran dengan melihat perkembangan atletnya sendiri.
Ada satu lagi yang menurut saya harus dirubah juga yaitu setiap peserta mendapatkan Piagam keikutsertaan dan bagi yang lulus akan terima Sertifikat Kelulusan sehingga berhak menjadi PELATIH. Andaikan Sertifikat keikutsertaan ini tidak dikeluarkan dan hanya Sertifikat dikeluarkan jika Lulus. Ini seperti juga di Pendidikan formal lainnya. Ini baru pemikiran saya sendiri, belum tentu diterima semua pihak.
Bayu Ekha Listyanto Palsukan Akte Kelahirannya
Jakarta,11 Februari 2010. Setelah menerima konfirmasi mengenai keabsahan salah satu atlet tenis asal Kudus tentang tidak sahnya dokumen akte kelahiran yang digunakan dan dipakai oleh atlet tersebut dikegiatan turnamen maupun pembuatan KTA Pelti, maka terpanggil pula saya menmbongkar kebusukan kebusukan yang dilakukan oleh atlet atlet tertentu. "Karena nila setitik rusak susu sebelanga." begitulah pribahasa yang saya ketahui. Ini merusak nama salah satu kota "suci" dibelahan Jawa Tengah.
Nama atletnya sendiri BAYU EKHA LISTYANTO yang selama ini(sebelum dan ditahun 2009) diturnamen kelompok umur 12 tahun. Mengenai tepat kelahirannya saya sendiri tidak tahu benar.
Saat ini saya sendiri sudah laporkan kepada Pengurus Harian PP Pelti, dan sudah beritahukan kalau sesuai ketentuan TDP akan kena skorsing 1 tahun. Tetapi pemalsuan data di KTA Pelti tentunya akan saya konsultasikan dengan Komite Hukum dan Tata Tertib yang dipegang ole rekan Kombes Pol DR Petrus Golose untuk menindaklanjuti masalah ini.
Saya pernah kirimkan SMS ke salah satu pelatih yang menampung salah satu atlet putri yang baru pindah dari salah satu kota di Jawa Tengah tersebut, untuk minta fotocopy akte kelahiran atlet tersebut. Atlet ini terpilih ikuti turnamen keluar negeri, artinya sudah memiliki Paspor resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi.
Awalnya pelatih tersebut menyanggupinya karena dia ini yang awalnya juga berkoar koar masalah pencatutan umur di Pemalang Open dimana Bayu Ekha dicurigainya. Esok harinya saya kejar kesanggupannya ternyata tidak dikirimkan juga , sampai hari ini. Tapi saya buka file di Pelti dan sayapun menemukan fotocopy yang sangat mirip dengan fotocopy rekanrekannya dari kota ini.
Hari ini saya terima pemberitahuan dari rekan Christian berita dari ayahnya kalau anak ini mengundurkan diri ikuti turnamen diluar negeri. Dengan alasan tidak ada dana. Awalnya pelatihnya ngotot akan dapat dana dari Pemda sebagai sponsornya.
Ya, kita tunggu saja hasil penelitian saya dalam bulan ini. Semoga berhasil !
Nama atletnya sendiri BAYU EKHA LISTYANTO yang selama ini(sebelum dan ditahun 2009) diturnamen kelompok umur 12 tahun. Mengenai tepat kelahirannya saya sendiri tidak tahu benar.
Saat ini saya sendiri sudah laporkan kepada Pengurus Harian PP Pelti, dan sudah beritahukan kalau sesuai ketentuan TDP akan kena skorsing 1 tahun. Tetapi pemalsuan data di KTA Pelti tentunya akan saya konsultasikan dengan Komite Hukum dan Tata Tertib yang dipegang ole rekan Kombes Pol DR Petrus Golose untuk menindaklanjuti masalah ini.
Saya pernah kirimkan SMS ke salah satu pelatih yang menampung salah satu atlet putri yang baru pindah dari salah satu kota di Jawa Tengah tersebut, untuk minta fotocopy akte kelahiran atlet tersebut. Atlet ini terpilih ikuti turnamen keluar negeri, artinya sudah memiliki Paspor resmi yang dikeluarkan oleh Kantor Imigrasi.
Awalnya pelatih tersebut menyanggupinya karena dia ini yang awalnya juga berkoar koar masalah pencatutan umur di Pemalang Open dimana Bayu Ekha dicurigainya. Esok harinya saya kejar kesanggupannya ternyata tidak dikirimkan juga , sampai hari ini. Tapi saya buka file di Pelti dan sayapun menemukan fotocopy yang sangat mirip dengan fotocopy rekanrekannya dari kota ini.
Hari ini saya terima pemberitahuan dari rekan Christian berita dari ayahnya kalau anak ini mengundurkan diri ikuti turnamen diluar negeri. Dengan alasan tidak ada dana. Awalnya pelatihnya ngotot akan dapat dana dari Pemda sebagai sponsornya.
Ya, kita tunggu saja hasil penelitian saya dalam bulan ini. Semoga berhasil !
Rabu, 10 Februari 2010
Palembang akan Bangun Kompleks Tenis
Palembang,10 Februari 2010. Tiba sore hari di Palembang disambut dengan turunnya hujan yang melanda kota Palembang, bahkan sampai malampun hujan turun lagi. Kedatangan ke Palembang atas undangan KONI Prov.Sumatra Selatan yang sedang berupaya sebagai tuan rumah SEA Games tahun 2011.
Sebenarnya Palembang tidak termasuk dalam cabang olahraga SEA Games , tetapi upaya dari Gubernur Sumsel Alex Noerdin agar tenis bisa dimainkan di Palembang.
Dalam paparan malam ini oleh Ir. Rizal Abdullah sebagai penanggung jawab prasarana dan sarana ternyata belum semua anggota induk organisasi lainnya yang pola berpikirnya menurut saya masih tidak mendukung akan keinginan Palembang mendirikan venue venue baru yang dikuatirkan akan mubazir karena pasca SEA Games tidak akan digunakan. Saya mencatat ada 3-4 cabang olahraga lainnya yang dalam kesempatan diminta untuk berikan masukan atas rencana venue venue tersebut.
Sayapun tidak terburu buru memberikan masukan, dan giliran terakhir baru saya angkat tangan dengan tanpa menyebutkan nama dan cabang olahraganya, karena ingin mengetahui apakah Ir Rizal Abdulah masih ingat sama saya karena tahun lalu sempat bertemu dan menyampaikan keinginan Gubernur Sumsel mendirikan kompleks olahraga tenis di Palembang. Secara pribadi maupun organisasi tentunya keinginan membangun kompleks lapangan tenis sudah seharusnya didukung dan berterima kasih karena akan menambah lapangan tenis dengan harapan kedepan harapan akan termotivasi untuk membuat kegiatan turnamen maupun pembinaan tenisnya.
Sehingga sayapun sampaikan dukungannya. Tetapi jika untuk SEA Games, persoalannya berbeda, karena ada beberapa usulan yang harus dipenuhi tuan rumah Tetapi sebenarnya mereka juga lebih mengutamakan pembangunan bukan hanya untuk SEA Games saja.
"Saya bingung juga pola pikir rekan rekan kita ini, yang terlalu mempermasalahkan cabang olahraganya belum tentu diadakan di Palembang. Seharusnya mereka berterima kasih mau membangun venue di Palembang."
Dengan adanya kompleks tenis dengan banyak lapangan, sayapun berterima kasih karena sayapun suatu saat bisa selenggarakan turnamen didalam satu lokasi sehingga memudahkan pelaksanaan turnamen. Semoga !
Sebenarnya Palembang tidak termasuk dalam cabang olahraga SEA Games , tetapi upaya dari Gubernur Sumsel Alex Noerdin agar tenis bisa dimainkan di Palembang.
Dalam paparan malam ini oleh Ir. Rizal Abdullah sebagai penanggung jawab prasarana dan sarana ternyata belum semua anggota induk organisasi lainnya yang pola berpikirnya menurut saya masih tidak mendukung akan keinginan Palembang mendirikan venue venue baru yang dikuatirkan akan mubazir karena pasca SEA Games tidak akan digunakan. Saya mencatat ada 3-4 cabang olahraga lainnya yang dalam kesempatan diminta untuk berikan masukan atas rencana venue venue tersebut.
Sayapun tidak terburu buru memberikan masukan, dan giliran terakhir baru saya angkat tangan dengan tanpa menyebutkan nama dan cabang olahraganya, karena ingin mengetahui apakah Ir Rizal Abdulah masih ingat sama saya karena tahun lalu sempat bertemu dan menyampaikan keinginan Gubernur Sumsel mendirikan kompleks olahraga tenis di Palembang. Secara pribadi maupun organisasi tentunya keinginan membangun kompleks lapangan tenis sudah seharusnya didukung dan berterima kasih karena akan menambah lapangan tenis dengan harapan kedepan harapan akan termotivasi untuk membuat kegiatan turnamen maupun pembinaan tenisnya.
Sehingga sayapun sampaikan dukungannya. Tetapi jika untuk SEA Games, persoalannya berbeda, karena ada beberapa usulan yang harus dipenuhi tuan rumah Tetapi sebenarnya mereka juga lebih mengutamakan pembangunan bukan hanya untuk SEA Games saja.
"Saya bingung juga pola pikir rekan rekan kita ini, yang terlalu mempermasalahkan cabang olahraganya belum tentu diadakan di Palembang. Seharusnya mereka berterima kasih mau membangun venue di Palembang."
Dengan adanya kompleks tenis dengan banyak lapangan, sayapun berterima kasih karena sayapun suatu saat bisa selenggarakan turnamen didalam satu lokasi sehingga memudahkan pelaksanaan turnamen. Semoga !
Sabtu, 06 Februari 2010
Pelatih ITF dipertanyakan
Jakarta, 6 Februari 2010. Disela sela turnamen nasional RemajaTenis yang berlangsung di lapangan tenis GOR Rawamangun Jakarta Timur, bertemu dengan sesama rekan tenis baik itu pelatih, orangtua maupun pendatang baru cukup menarik hati bagi saya. Bertemu muka dengan berbagai cara, baik duduk maupun berdiri menyempatkan diri berdiskusi (istilah kerennya) mengenai pertenisan Indonesia.
Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu datangnya dari salah satu pelatih tenis yaitu Handono Murti. "Mana hasil kerja dari pelatih ITF Level-2 Indonesia.?ujarnya didepan pelatih Pudjo Prayitno, Ariawan Poerbo dan saya sendiri. Mengingat beberapa hari lagi di Senayan diadakan National ITF Level-1 Coaches Course yang cukup menarik perhatian pelatih pelatih daerah sehingga bisa menolak pendaftar yang terlambat.
Kenapa menarik perhatian saya, karena sebenarnya menurut saya ini salah satu kendala prestasi petenis muda ini adalah lemahnya pengetahuan pelatih Indonesia. Handono sendiri mengakuinya pula. Kenapa bisa demikian. Sepengetahuan saya dari data pelatih tenis yang terdaftar di induk organisasi Pelti melebihi angka 1.000 pelatih. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak sedikit sudah ada. Sekarang kita pertanyakan kembali, dari 1.000 pelatih terdaftar itu ada berapa orang yang aktip melatih, khususnya anak anak. Menurut pengamatan saya tidak lebih dari 10 %. Kok bisa begitu. Ini yang perlu dikaji bersama.
Mayoritas pelatih tenis yang terdaftar tidak seratur prosen menjadi PELATIH sebagai PROFESInya, artinya predikat pelatih hanya diperlukan untuk membantu profesinya yang lain khususnya sebagai PNS, dibutuhkan berbagai sertifikat yang bisa mengangkat status kepegawaianya. Ini dia masalahnya. Cukup besar kalau tidak dibenahi.
Mayoritas calon pelatih jika ingin ikut kepelatihan pelatih hanya membutuhkan SERTIFIKAT belaka. Walaupun sertifikat keikut sertaan itu sangat besar pengaruhnya. Padahal kepelatihan sekarang kebanyakan ada ujiannya.Bukan seperti seminar. Maka dari itu jika ada kepelatihan pesertanya cukup membludak, karena yangdikejar adalah sepotong kertas belaka.
Kembali kepertanyaan pelatih Handono Murti. Dimana hasil dari pelatih berpredikat ITF Level-2 yang jumlahnya terbatas di Indonesia, yaitu 13. Tecatat nama nama dari Jakarta seperti Agustina Wibisono, Hudani Fajri, Rani Jacob, Roy Morison, Peter Susanto, Marieke Gunawan, Tjahjono dan Alfred Raturandang. Dari Bandung ada Wibowo Hadisubroto, dari Jogja ada Ngatman Suwito, dari Surabaya ada Irmantara Soebagyo, Patricia Budiono dan Raymond Alimwidodo.
Kembali ke pribadi masing masing pelatih yang telah menyandang predikat pelatih ITF.
Ada satu pertanyaan yang cukup menggelitik yaitu datangnya dari salah satu pelatih tenis yaitu Handono Murti. "Mana hasil kerja dari pelatih ITF Level-2 Indonesia.?ujarnya didepan pelatih Pudjo Prayitno, Ariawan Poerbo dan saya sendiri. Mengingat beberapa hari lagi di Senayan diadakan National ITF Level-1 Coaches Course yang cukup menarik perhatian pelatih pelatih daerah sehingga bisa menolak pendaftar yang terlambat.
Kenapa menarik perhatian saya, karena sebenarnya menurut saya ini salah satu kendala prestasi petenis muda ini adalah lemahnya pengetahuan pelatih Indonesia. Handono sendiri mengakuinya pula. Kenapa bisa demikian. Sepengetahuan saya dari data pelatih tenis yang terdaftar di induk organisasi Pelti melebihi angka 1.000 pelatih. Bisa dibayangkan jumlah yang tidak sedikit sudah ada. Sekarang kita pertanyakan kembali, dari 1.000 pelatih terdaftar itu ada berapa orang yang aktip melatih, khususnya anak anak. Menurut pengamatan saya tidak lebih dari 10 %. Kok bisa begitu. Ini yang perlu dikaji bersama.
Mayoritas pelatih tenis yang terdaftar tidak seratur prosen menjadi PELATIH sebagai PROFESInya, artinya predikat pelatih hanya diperlukan untuk membantu profesinya yang lain khususnya sebagai PNS, dibutuhkan berbagai sertifikat yang bisa mengangkat status kepegawaianya. Ini dia masalahnya. Cukup besar kalau tidak dibenahi.
Mayoritas calon pelatih jika ingin ikut kepelatihan pelatih hanya membutuhkan SERTIFIKAT belaka. Walaupun sertifikat keikut sertaan itu sangat besar pengaruhnya. Padahal kepelatihan sekarang kebanyakan ada ujiannya.Bukan seperti seminar. Maka dari itu jika ada kepelatihan pesertanya cukup membludak, karena yangdikejar adalah sepotong kertas belaka.
Kembali kepertanyaan pelatih Handono Murti. Dimana hasil dari pelatih berpredikat ITF Level-2 yang jumlahnya terbatas di Indonesia, yaitu 13. Tecatat nama nama dari Jakarta seperti Agustina Wibisono, Hudani Fajri, Rani Jacob, Roy Morison, Peter Susanto, Marieke Gunawan, Tjahjono dan Alfred Raturandang. Dari Bandung ada Wibowo Hadisubroto, dari Jogja ada Ngatman Suwito, dari Surabaya ada Irmantara Soebagyo, Patricia Budiono dan Raymond Alimwidodo.
Kembali ke pribadi masing masing pelatih yang telah menyandang predikat pelatih ITF.
Rabu, 03 Februari 2010
Berdayakan Pelatih tenis

Jakarta,3 Februari 2010. Berbicara masalah prestasi tenis melibatkan berbagai unsur sebagai pendukungnya. Mulai dari orangtua kemudian atletnya sendiri, pelatih dan program programnya dan akhirnya adalah dana, karena tanpa dana maka sulit mendapatkan prestasi.
Minggu depan Tabloid Tennis bersama Pelti didukung oleh Kantor Menegpora RI, diadakanlah National ITF Level-1 Coaches Course. Respons cukup besar datang dari Papua, Sumbawa, Makassar, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Riau, Kepulauan Riau dll.
Yang mnejadi pertanyaan sekarang adalah kenapa olahraga Indonesia bisa menurun prestasinya. Kecendrungan menurun sudah lama terlihat hampir disemua cabang olahraga termasuk tenis. Apa yang bisa dilakukan. Khususnya tenis, kegiatan turnamen yang merupakan salah satu program pembinaan bukan menurun tetapi meningkat.
Ada satu pemikiran agar prestasi tenis Indonesia bisa berkembang dengan baik dimana selama ini saya perhatikan hampir dilupakan. Peningkatan kualitas atlet sudah dijalankan kemudian peningkatan kualitas pelatih melalui penataran penataran pelatih yang hampir setiap tahu diadakan di Indonesia.
Berita bagus, dengan diusulkannya ketentuan pembatasan umur di kegiatan akbar PON XVIII tahun 2010. Yaitu kelahiran tahun 1991. Ini tentunya membuka peluang bagi atlet yunior bisa berkembang. tetapi ada yang dilupakan yaitu pelatih. Coba diperhatikan kualitas pelatih Indonesia saat ini. Dari ketentuan ITF ada tingkatan pelatih tenis Internasional. Mulai dari ITF Level-1 kemudian diatasnya Level-2 dan seterusnya Level-3. Sampai saat ini Indonesia baru sampai ke Level-2 yang jumlahnya terbatas pula. Sisanya Level-1.
Kita seharusnya bisa meniru ITF, karena sesuai ketentuan ITF, setiap kegiatan kejuaraan beregu yunior diminta pelatih pendamping adalah yang bersertifikat ITF Level-1 (minimal). Berarti menghargai programnya sendiri yaitu mengangkat pelatih ITF . Nah bagaimana dengan Indonesia.
Ada pemikiran saya, kegiatan beregu cukup banyak di 33 provinsi Indonesia ini. Setiap 2 tahun ada yang disebut Pekan Olahraga Daerah (PORDA) dan sekarang menjadi Pekan Olahraga Provinsi yang pesertanya adalah dari Kotamadya, Kabupaten. Setelah itu ada PON .
Alangkah manisnya kalau Pelti bisa memberdayakan pelatih pelatih yang ada,. Mulai dari setiap PON pelati pendamping adalah bersertifikat ITF Level-1 atau Level-2. Karena Indoneia belum memiliki pelatih ITF Level-3.
Sehingga setiap provinsi akan terpacu memiliki pelatih ITF Level-1 ini. Begitu juga jika tingkatProvinsi, bisa juga menggunakan pelatih dibawahnya yang diakui Pelti seperti pelatih dasarPelti dan seterusnya.
Begitulah kira kira pemikiran saya dikegiatan multi event, dimana dilakukan pemberdayaan pelatih yang dimilikinya.
Selasa, 02 Februari 2010
Terbuka sudah kasus catut umur atlet KUDUS
Jakarta, 2 Februari 2010. Hari ini saya menerima jawaban dari instansi penerbit Akte Kelahiran Kabupaten Kudus yang menjawab surat PP Pelti tentang keabsahan satu atlet asal Kudus yang sempat diributkan di turnamen nasional Pemalang Open akhir Desember 2009. Memang saat turnamen berlangsung saya ditilpon oleh salah satu pelatih dari Sumatra mempertanyakan masalah usianya yang diragukan karena masih umur 12 tahun tetapi sudah kelas 2 SMP. Saat itu saya langsung buka file yang ada di Kartu Tanda Anggota Pelti. Waktu itu saya melihat kecurigaan atas fotocopy Akte Kelahiran dan juga cipy Buku rapor SD dan SMP yang dikirimkan ke PP Pelti. Tetapi saya harus lihat akte kelahiran yang asli begitu juga yang buku rapor. Sebelum turnamen New Armada di Magelang , saya sudah minta Panpel New Armada (Januari 2010) untuk menghubungi atlet tersebut untuk membawa yang asli walaupun yang bersangkutan ikut di KU 14 tahun. Pelanggaran terjadi di Pemalang Open.
Karena tidak berhasil Referee membuktikan karena kurang faham sehingga bisa lolos. Tetapi ini tidak mengurangi kecurigaan saya karena model copy Aktenya saya ragukan keasliannya. Maka sayapun kirim surat ke Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus mempertanyakan copy akte No. 2465/1966 tertanggal 15 Oktober 1996 dan juga Nomor 2973/1997 tanggal 30 Oktober 1997 . Klarifikasi yang kami minta ternyata mendapatkan jawaban dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kudus tertanggal 25 Januari 2010 dengan Nomor 474.1/66/1203 yang menyatakan kedua kutipan akta kelahiran tidak dikenal dan tidak dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus.
Nah kalau begini jawabannya maka apa maksudnya. Pengertian saya so pasti PALSU. Nah kecurigaan makin menjadi jadi, maka saya akan buka file atlet atlet yang secara kasep mata saya bisa katakan mencurigakan. Ini sepengetahuan saya waktu tahun 2007 saya sudah kumpulkan filenya tetapi saya lupa letakkan dimana. Tetapi karena sudah tekad saya maka akan saya cari dan publikasikan segera.
Kali ini sudah tidak bisa menghindar maka akan segera dilaporkan untuk ditindak.
Sesuai ketentuan TDP yang dikeluarkan PP Pelti maka hukumannya adalah 1 (satu) tahun tidak bisa bertanding disemua TDP baik kelompok yunior maupun kelompok umum. Tinggal menunggu siapa gerangan korban berikutnya ? Masih banyak jawabannya !
Karena tidak berhasil Referee membuktikan karena kurang faham sehingga bisa lolos. Tetapi ini tidak mengurangi kecurigaan saya karena model copy Aktenya saya ragukan keasliannya. Maka sayapun kirim surat ke Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus mempertanyakan copy akte No. 2465/1966 tertanggal 15 Oktober 1996 dan juga Nomor 2973/1997 tanggal 30 Oktober 1997 . Klarifikasi yang kami minta ternyata mendapatkan jawaban dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Kudus tertanggal 25 Januari 2010 dengan Nomor 474.1/66/1203 yang menyatakan kedua kutipan akta kelahiran tidak dikenal dan tidak dikeluarkan oleh Kantor Catatan Sipil Kabupaten Kudus.
Nah kalau begini jawabannya maka apa maksudnya. Pengertian saya so pasti PALSU. Nah kecurigaan makin menjadi jadi, maka saya akan buka file atlet atlet yang secara kasep mata saya bisa katakan mencurigakan. Ini sepengetahuan saya waktu tahun 2007 saya sudah kumpulkan filenya tetapi saya lupa letakkan dimana. Tetapi karena sudah tekad saya maka akan saya cari dan publikasikan segera.
Kali ini sudah tidak bisa menghindar maka akan segera dilaporkan untuk ditindak.
Sesuai ketentuan TDP yang dikeluarkan PP Pelti maka hukumannya adalah 1 (satu) tahun tidak bisa bertanding disemua TDP baik kelompok yunior maupun kelompok umum. Tinggal menunggu siapa gerangan korban berikutnya ? Masih banyak jawabannya !
Senin, 01 Februari 2010
Pelti dikatakan " DO NOTHING "
Jakarta, 2 Februari 2010. Tudingan PELTI "DO NOTHING" kepada altetnya dilemparkan oleh Ketua Forkopi kepada Danny Walla Ketua Bidang Pembinaan Yunior PP Pelti yang disaksikan juga oleh Christian Budiman langsung dibantah oleh Danny Walla.
Cukup menarik perhatian saya karena sebagai pendamping kedua rekan saya karena Johannes Susanto sedang berhalangan hadir dalam pertemuan ini, disela sela Seleksi Nasional KU 16 tahun yang berlangsung di Pusat Tenis Kemayoran Jakarta.
Entah darimana asal mulanya sehingga muncul tudingan seperti itu. Saya banyak mendengar tudingan dilontarkannya hanya berdasarkan asumsi, dugaan atau penafsiran sendiri sehingga banyak pula dimentahkan oleh Danny Walla.
"Do Nothing", salah satunya dan langsung diminta buktinya. Diberinya contoh pengalamannya baru baru ini ke Australia, dimana asosiasi memberikan bea siswa kepada atletnya. Langsung disampaikan oleh Danny Walla, diberikannya beasiswa karena sudah ada PRESTASI baru asosiasi membantunya. Bukannya belum apa apa sudah menuntut asosiasi memberikan bantuannya. Langsung diberikan contoh contoh dimana peranan Pelti cukup besar kepada atletnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tudingan itu seharusnya cepat cepat diralat, bukan asal bunyi.
Menarik juga kalau saya menilai pembicaraan ini karena beberapa hal yang diungkapkan tidak selamanya benar. Kedengarannya benar bagi orang awam, tetapi sebaliknya bagi yang sudah mengenalnya.
Begitu juga jikalau setiap orang sudah berbuat baik tetapi masih dituding yang tidak tidak apalagi yang menuding punya interest tertentu, maka bisa saja yang bersikap awalnya tenang bisa menjadi gelombang besar. Hal ini juga terjadi sewaktu dikatakan SALAH maka secara otomatis dibantahnya dengan katakan KAMU yang salah. Begitulah dialog sekelumit yang saya dengar, cukup menarik bagi saya, sebagai pendengar yang baik.
Ada ada saja setiap seleknas selalu muncul perdebatan dengan masing masing keinginannya sendiri sehingga kadang kala selalu mendeskreditkan pihak lawannya.
Satu sisi Pelti akan mencoba memperbaiki sistemnya jikalau dianggap keliru, bukan salah. Marilah kita dengan kepala dingin saling membantu memberikan solusi dengan baik sehingga pertenisan bisa maju.
Pengalaman selama ini yang selalu ribut adalah bagi atlet yang ternyata urutan 7-10 besar, bukannya urutan 5 besar.
Kemarin saya baru ikuti Seminar Kecil Pengarusutaan Olahraga Menuju Kebangkitan Prestasi Olahraga Nasional di kantor Kementerian Negara Pemuda Olahraga. Hadir teknokrat berasal dari berbagai instansi. Banyak teori dikeluarkan para ahli dari Perguruan Tinggi disampaikan untuk Menteri Pemuda dan Olahraga DR Andi Alfian Mallarangeng.
Sehingga ada pemikiran agar Pelti bisa juga membuat seminar untuk tenis dimana pelatih ataupun tenaga ahli dari Perguruan Tinngi diundang menyumbangkan pemikirannya. Ini baru idea saya saja, apakah mungkin dan adakah yang mau menjadi sponsornya karena tentunya perlu dana juga.
Cukup menarik perhatian saya karena sebagai pendamping kedua rekan saya karena Johannes Susanto sedang berhalangan hadir dalam pertemuan ini, disela sela Seleksi Nasional KU 16 tahun yang berlangsung di Pusat Tenis Kemayoran Jakarta.
Entah darimana asal mulanya sehingga muncul tudingan seperti itu. Saya banyak mendengar tudingan dilontarkannya hanya berdasarkan asumsi, dugaan atau penafsiran sendiri sehingga banyak pula dimentahkan oleh Danny Walla.
"Do Nothing", salah satunya dan langsung diminta buktinya. Diberinya contoh pengalamannya baru baru ini ke Australia, dimana asosiasi memberikan bea siswa kepada atletnya. Langsung disampaikan oleh Danny Walla, diberikannya beasiswa karena sudah ada PRESTASI baru asosiasi membantunya. Bukannya belum apa apa sudah menuntut asosiasi memberikan bantuannya. Langsung diberikan contoh contoh dimana peranan Pelti cukup besar kepada atletnya. Sehingga bisa dikatakan kalau tudingan itu seharusnya cepat cepat diralat, bukan asal bunyi.
Menarik juga kalau saya menilai pembicaraan ini karena beberapa hal yang diungkapkan tidak selamanya benar. Kedengarannya benar bagi orang awam, tetapi sebaliknya bagi yang sudah mengenalnya.
Begitu juga jikalau setiap orang sudah berbuat baik tetapi masih dituding yang tidak tidak apalagi yang menuding punya interest tertentu, maka bisa saja yang bersikap awalnya tenang bisa menjadi gelombang besar. Hal ini juga terjadi sewaktu dikatakan SALAH maka secara otomatis dibantahnya dengan katakan KAMU yang salah. Begitulah dialog sekelumit yang saya dengar, cukup menarik bagi saya, sebagai pendengar yang baik.
Ada ada saja setiap seleknas selalu muncul perdebatan dengan masing masing keinginannya sendiri sehingga kadang kala selalu mendeskreditkan pihak lawannya.
Satu sisi Pelti akan mencoba memperbaiki sistemnya jikalau dianggap keliru, bukan salah. Marilah kita dengan kepala dingin saling membantu memberikan solusi dengan baik sehingga pertenisan bisa maju.
Pengalaman selama ini yang selalu ribut adalah bagi atlet yang ternyata urutan 7-10 besar, bukannya urutan 5 besar.
Kemarin saya baru ikuti Seminar Kecil Pengarusutaan Olahraga Menuju Kebangkitan Prestasi Olahraga Nasional di kantor Kementerian Negara Pemuda Olahraga. Hadir teknokrat berasal dari berbagai instansi. Banyak teori dikeluarkan para ahli dari Perguruan Tinggi disampaikan untuk Menteri Pemuda dan Olahraga DR Andi Alfian Mallarangeng.
Sehingga ada pemikiran agar Pelti bisa juga membuat seminar untuk tenis dimana pelatih ataupun tenaga ahli dari Perguruan Tinngi diundang menyumbangkan pemikirannya. Ini baru idea saya saja, apakah mungkin dan adakah yang mau menjadi sponsornya karena tentunya perlu dana juga.
Langganan:
Postingan (Atom)