Minggu, 07 Juni 2009

INTERNET semacam CANDU

Jakarta, 11 Juni 2009. Hari ini benar benar tidak berdaya menghadapi kondisi badan yang makin lama makin tidak bisa diajak kompromi. Mau bangun kepalapun sempoyongan, lebih baik tidur saja. Tetapi sampai pukul 15.00 baru bisa bangun. Satu penyakit yang sudah merupakan habit adanya laptop dirumah. Karena tidak bisa diam, ada kecanduan melihat surat surat masuk melalui e-mail.
Kebiasaan setiap harus membuka email dan menjawab surat surat yang masuk, begitu juga adanya facebook bisa melupakan waktu istrahat. Kadangkadang larut malam baru sadar harus istrahat. Ini salah satu penyebab jadi kurang istrahat. Ini yang terjadi pada diriku. Bisakah melupakan sehari saja tanpa internet ? Ini yang harus dicoba. Apa mungkin disaat saat mengahadpi persiapan turnamen internasional, lupakan internet, rasanya tidak mungkin. Karena komunikasi paling efektip dan efisien adalah internet. Begitu juga kalau jalan jalan keluar kota , walaupun tidak membawa laptop, tetap dicarinya Warnet dikota kota tesebut. Apakah ini kebiasaan buruk atau tidak saya tidak bisa menjawabnya dengan pasti.

Hari ini jam 11.30 ada acara press conference Pekan Olahraga Nasional Tenis 2009 di hotel Menara Peninsula, tetapi kondisi bada tidak memungkinkan untuk ikut serta. Lebih baik istrahat saja, supaya besok bisa seperti semula. Penyakit batuk, flu hanya bisa diatasi dengan banyak istrahat. Biasanya kalau capek, saya jadi gemuk karena makannya banyak, tetapi akhir akhir ini makanpun ditahan tahan agar gula darah tidak naik. Sadar kesalahan besar selama ini adalah tidak pernah olahraga tenis, walaupun sering diajak teman teman main tenis. Baru sampai ke jalan pagi saja dimana saya coba hitung langkah sampai 1.000 langkah. Tapi hanya sekali seminggu, mana cukup !

Sebenarnya pagi ini ingin mencoba tidak membaca email atau yang berhubungan dengan laptop, tapi hanya bisa bertahan sampai pukul 15.30. Ya, keinginan ini tidak bisa dibendung. Dasar "Pengacara" (Penganguran Banyak acara)

Benar juga, banyak email masuk yang harus cepat dijawab, termasuk komunikasi dengan ITF (International Tennis Federation), khususnya persiapan turnamen internasional yunior Thamrin Cup ( 15 Jun) dan Oneject Indonesia (22 Juni). Setelah menerima daftar peserta Oneject Indonesia dari Pelti, maka langsung dikirimkan ke ITF, karena setiap minggu harus dikirimkan daftar baru karena adanya nama nama yang mengundurkan diri. Ini harus dilakukan, tidak bisa ditunda tunda.

Tetapi karena badan sudah mulai membaik, sehingga dicoba bangun supaya tidak terlalu memanjakan badan sendiri, tentunya juga diimbangi minum obat. Aanggap saja ini hiburan. Bisa ikuti berita berita tenis melalui internet. Cukup banyak bahan bahan yang bisa diikuti di website tenis.

Melihat lihat Stadion Sultan Agung di Bantul


Yogya, 7 Juni 2009. Keingian melihat langsung lapangan tenis Sultan Agung di Bantul sangat besar, karena lapangan tenis ini beberapa tahun silam diselenggarakan turnamen internasional Men's Futures. Biasanya setiap daerah ingin selenggarakan turnamen internasional, saya yang selalu dikirim oleh Pelti untuk mencek kepatutannya. Terutama daerah yang baru pertama kali selenggarakan maka tugas saya untuk memberikan panduan langsung ke daerah tersebut. Khusus lapangan tenis Sultan Agung di Bantul saya tidak dikirim karena langsung akan ditinjau oleh Enggal Karjono selaku Ketua Bidang Pertandingan PB Pelti periode 2002-2007.

Hari ini langsung cari taxi sekalian jalan jalan dimanfaatkan melihat langsung ke Bantul. Memang jaraknya terasa jauh, apalagi mengambil jalan yang kecil sehingga terasa sekali berada di desa karena masih banyak sawah sawah yang menghijau. Cukup menarik melihat kehijauan epanjang jalan, Disamping itu pula rumah rumah yang ada tidak telihat bekas korban gempa yan mnghancurkan rumah rumah yang ada di Bantul.

Sepanjang jalan dengan sopir taksi yang suka bercerita membuat perjalanan ini cukup menarik sepertinya turis dalam negeri saja. Sebelumnya dalam bayangan saya lapangan Sultan Agung ini ada mini stadium dengan 6 lapangan terbuka. Tetapi yang ada stadionnya justu lapangan sepak bolanya yang terletak bersebelahan dengan lapangan tenis. Sebenarnya ada keinginan selenggarakan turnamen nasional yunior di Bantul melihat adanya fasilitas yang cukup memadai.

Udara hari ini cukup panas sekali, dan sekitar lapangan masih kurang ditanami pohon pohon, sehingga terasa panasnya udara. Lapangannya cukup bagus karena belum terlalu lama dibangun Pemda Kabupaten Bantul yang dipimpin oleh Bupati Idham Samawi yang pernah menjadi Ketua Pengda Pelti D.I.Y.

Dari hasil kunjungan ke kota Gudeg ini ada kesimpulan sendiri yaitu kota Gudeg alias Yogyakarta sudah seharusnya mempunyai turnamen nasional

Merasa seperti sapi perah

Yogya, 7 Juni 2009. Selama berada di kota Gudeg sempat berbincang bincang dengan komunitas tenis di Yogya yang ternyata sangat haus dengan event turnamen. Keinginan ini pula langsung saya sampaikan kepada Sekretaris PengProv Pelti DIY Soemaryanto yang juga mendukung kegiatan turnamen di DIY. Kesempatan jalan jalan ke kota Gudeg ternyata mendapatkan sambutan positip. Bahkan semat bertemu salah satu rekan dari Harian Republika Herry Purwata yang khusus muncul di lapangan UGM karena ingin melihat dan ketemu saya. Memang sudah lebih dari 10 tahun sejak Herry bertugas di Yogya. Tidak disangka sangka masih bisa bertemu. Begitu pula rekan pelatih Ngatman menyempatkan diri datang bertemu dilapangan Lembah UGM.

Dalam pertemuan dengan Sumaryanto yang juga Dekan Fakultas Ilmu Keolahragan Universitas Negeri Yogyakarta, saya sampaikan salah satu gagasan agar ada kerjasama antara FIK UNY dengan Pelti dalam program pelatih tenis yaitu di FIK ada program study kepelatihan tenis, dimana setelah lulus S1 maka mahasiswa itu juga membawa gelar pelatih National ITF Level-1. Caranya, ada mata pelajaran yang belum didapat di Fakultas maka akan diberikan oleh Pelti.

Saya, sebenarnya tidak ingin selenggarakan turnamen dikota Gudeg karena sepengetahuan saya beberapa bulan lalu sudah pernah diadakan turnamen yunior di lapangan UNY dan UGM oleh rekan rekan dari Jakarta. Sukses, karena respons cukup besar sekali dimana peminat datang bukan hanya dari Yogya bahkan datang juga dari Jawa Tengah. Itu yang saya dengar sendiri dari penyelenggara turnamen berseri tersebut, sehingga timbul keinginan agar secara rutin diselenggarakan seterusnya.

Tetapi tidak disangka sangka saya mendapatkan laporan dari komunitas DIY ini yang diungkapkan sangat malu malu, dimana makin banyak yang berani ungkapkan kekecewaannya. Bahkan sangat mengharapkan saya turun langsung bukan hanya selenggarakan Piala Ferry Raturandang saja tetapi dikehendaki pula turnamen nasional yunior. Laporan seperti ini sudah pernah saya dengar juga dari rekan rekan dikota Bengawan yaitu Solo. Kenapa sampai kecewa, itu yang paling penting. Karena jika tidak ada lagi pihak pihak penyelenggara turnamen tentunya akan merugikan atlet tenis sendiri.

Memang sepengetahun saya, turnamen tersebut banyak memberikan janji janji kepada pemenangnya, tetapi realisasinya jauh dari perkiraan saya. Bahkan sebelum ke Bandara di lapangan tenis Lembah UGM, salah satu orangtua petenis yunior yang juga pelatih menyampaikan hadiah berupa raket hak putranya sebagai pemenang sampai saat ini belum direalisasikannya. Saya sendiri tidak mau ikut campur masalah ini, karena tidak berani mengumbar janji janji apalagi akhirnya tidak bisa direaliser.

"Saya lebih senang kerjasama dengan Opa, karena Opa lebih memperhatikan dan menghargai kerja kami ini. Bisa dibayangkan penghargaan yang diberikan oleh Opa untuk kerja 2 hari jauh lebih besar dibandingkan dengan dia berikan untuk 3 hari tidak sampai setengah dari Opa berikan. Dan selesai tugas langsung menerima tepat waktu tidak perlu ditunda tunda." ujar salah satu rekan yang ikut membantu pelaksanaan Piala Ferry Raturandang. Kemudian diungkapkan pula "jangan ada dusta diantara kita."

Sabtu, 06 Juni 2009

Manfaat Dunia Maya


Yogyakarta, 6 Juni 2009. Selama ini saya mengenal dunia maya cukup lama artinya sejak tahun 1997-98. Diperkenalkan oleh rekan saya di Singapore S Uthrapathy. Dari perkenalan dunia maya untuk berkomunikasi jarak jauh sudah bukan hambatan lagi. Bisa sangat murah jika dilihat dari beaya kehidupan sehari hari.

Malam ini di Yogya, saya bertemu teman teman komunitas tenis DIY. Salah satunya adalah Joko Wahyono yang dari TELKOM. Saya sendiri baru kenal, hanya memalui dunia maya, dan akhirnya bisa berjumpa di Solo saat Davis Cup by BNP Paribas bulan Maret 2009. Penasaran juga , langsung menanyakan awalnya bisa berkenalan. Sepengetahuan saya sebelum bertemu di Solo, sayapun belum mengenalnya. Terungkap dalam ceritanya karena membaca Tabloid Tenis masalah Turnamen Piala Ferry Raturandang sehingga Joko mencoba search ke internet nama Raturandang, maka didapatlah blogger ini.
Dibacanya seluruh cerita di blogger ini dari awal, berarti mulai diikuti ceritanya tahun 2008 karena blogger ini mulai muncul 12 Februari 2008. Sehingga membuat suatu kesimpulan yang cukup positip, dan berusaha menghubungi dengan cara berkomunikasi melalui email.

Memang selama mengenal dunia maya, pernah juga berkenalan tapi belum kenal. Yaitu rekan Eddy Suryanto dari Pontianak. Eddy mulai kenal tenis dan sering membaca situs ITF dan mulai tertarik dengan MINI TENIS. Dicarinya nomer kontak dengan Pelti di Indonesia. Dikirimkannya email ke PB Pelti menanyakan masalah Mini Tenis. Ternyata oleh sekretariat PB Pelti ( tahun 2000-2001 ) di forward emailnya ke email saya sendiri. Terjadilah komunikasi dua arah. Eddy bertanya, sayapun menjawab sebagai petugas PB Pelti .Kontak di dunia maya selama setahun akhirnya Eddy datang ke Jakarta singgah ke Pusat Tenis kemayoran untuk bertemu dengan August Ferry Raturandang yang saat itu sebagai manajer sport Pusat tenis Kemayoran.
.

Inilah manfaatnya bisa berkomunikasi dengan rekan rekan diluar daerah dengan cepat dan bermanfaat bagi pertenisan Indonesia. Tetapi ada juga kejadian tidak kenal tetapi justru dunia maya digunakan untuk menyerang pribadi maupun organisasi. Saya sendiri menyadari tidak smua masyarakat yang senang atas sepak terjang saya selama ini. Ini yang harus dimaklumi pula.

Jalan Jalan Ke Kota Gudeg

Yogyakarta, 6 Juni 2009. Sudah lama sekali tidak jalan jalan ke Yogyakarta atau dikenal dengan nama kota Gudeg. Rasanya sudah beberapa tahun silam bersama keluarga dari Semarang mnginap di Hotel IBIS yang dekat dengan jalan Malioboro yang cukup terkenal. Masih ingat hotel IBIS ini ada jalan masuk langsung ke Mall sehingga memudahkan tamu tamu yang bisa langsung shopping di Mall tersebut. Hari ini berangkat dari Jakarta dengan Garuda Indonesia, saya sendiri dijadwalkan jam 12.50 berangkat dari Bandara Soekarno Hatta.

Mendarat dengan selamat di Bandara Adi Soetjipto yang kelihatannya kalah besar dan mewah dibandingkan dengan Bandara Adi Soemarno di Solo yang bulan Maret 2009 diresmikan pemakaiannya oleh Presiden SBY.

Setelah singgah ke Lembah UGM dimana ada pertandingan tenis Piala Ferry Raturandang-66 yang dipimpin oleh tenaga muda dari Solo Irsyad, singgah ke rumah salah satu orangtua petenis Yogyakarta Indrawan bersama Irsyad dari Solo. Letak rumahnya dekat sekali dengan Hotel IBIS. Akhirnya menginap di Hotel ISD artinya Ibis Sonoan Dikit. Teringat istilah BSD di Jakarta diplesetkan menjadi Bekasi Sonoan Dikit

Setelah mandi sore, dilanjutkan makan malam di salah satu resto Pak Ndoet tempat makan bebek goreng. Tempat duduk lesehan artinya sambil bersila dimana mejanya sangat rendah. Karena tidak terbiasa maka saya memilih yang bisa sandaran badan.
Bebek Goreng. Teringat juga dengan bebek goreng H Slamet di Solo. Cukup nikmat makan bersama Indrawan, Joko W, Erman, Irsyad dan Deo salah satu petenis Yogyakarta.
Cukup nikmat dengan sambel khasnya agak pedes dikit, dan minum es beras kencur. Karena sudah lama tidak minum beras kencur, sehingga dicobanya kali ini.

Saya sempat bertanya, Yogya disebut kota Gudeg tetapi dari siang sampai malam ini tidak terlihat yang jualan gudeg. Ternyata gudeg baru muncul agak malam setelah toko toko di jalan Malioboro tutup. Penasaran juga, sudah sampai Yogya kenapa tidak coba makanan khas nya yaitu Gudeg.

Mengisi waktu dengan mengobrol mulai dengan masalah turnamen tenis yang akan diselenggarakan oleh rekan rekan orangtua petenis di Yogya sampai masalah lainnya. Tetapi yang paling asyik, bicara masalah olahraga tidak satupun yang bercerita masalah Pilpres yang sedang hangat hangatnya dimedia massa Jakarta maupun daerah. Inilah dunianya olahraga, kenapa pusing dengan masalah politik.

Tepat pukul 22.30, saya pamitan dulu dengan berjalan kaki. Karena hanya 50 meter dari rumah Indrawan. Tetapi sewaktu mau masuk hotel, muncul keinginan menikmati suasana Yogya dimalam hari. Sudah datang jauh jauh, kenapa belum menikmati makanan khasnya yaitu Gudeg dan lain lain. Keinginan mencicipi makanan khas disetiap daerah yang dikunjungi merupakan salah satu kegemaran tersendiri. Akhirnya tidak jadi masuk kamar tetapi berjalan kaki menelusuri jalan Malioboro yang terlihat sudah tutup toko tokonya. Tapi bukan berarti langsung jalan Malioboro mati. Justru muncul kehidupan baru, yaitu sepanjang trotoar adanya tempat makan lesehan. Sepanjang kaki melangkah terlihat berbagai makanan yang dijualnya. Dan makin banyak juga masyarakat Yogya maupun pendatang dan bahkan ada bule juga ikut menikmatnya. Ada Anak Ayam Kampung Goreng, Pecel lele, dan gudeg. Tetapi kaki masi ingin jalan terus sampai melewati kantor Gubernur DIY, dan hitung hitung kaki telah melangkah sepanjang 950 langkah maka berhentilah karena ada tempat juala khusus Gudeg. Ada yang duduk lesehan tapi saya pilih duduk dibangku yang tersedia. Perut sebenanya sudah kenyang tetapi tidak mau melepaskan kesempatan menikmati makan Gudeg dimalam Minggu di jalan Malioboro yang cukup dikenal seantero dunia. Dari pilihan makana Gudeg saya tidak memilih ayam popor. Karena sudah kenyang akhirnya tidak bisa menghabiskan seluruh hidangan di piring.
Pulang kembali dengan mencoba iseng hitung hitung lgi ternyata 959 langkah sampai ke hotel untuk berisitrahat. Inilah Kota Gudeg dimalam Minggu yng tidak pernah mati. Ada lagi satu gangguan yaitu setiap berjalan kali selalu ada saja tawaran dari tukang tukang becak yang cukup banyak menunggu penumpang. Menawarkan jalan naik becak keliling. Untungnya yang ditawarkan adalah melihat toko toko batik yang lebih murah harganya langsung dipabriknya. Malam malam mau lihat toko batik. Apa tidak salah nih !

Jumat, 05 Juni 2009

Siapa Menang kalau masing masing menang dan kalah sama


Jakarta, 5 Juni 2009. Pengetahuan masalah aturan turnamen masih belum sepenuhnya dikenal baik oleh pelaku pelaku tenis di Indonesia sehingga saya tertarik mencoba berikan infiormasi setelah berkonsultasi dengan yang lebih mengetahuinya. Kita tidak perlu malu bertanya kepada yang lebih mengenal aturan aturan turnamen khususnya petenis, pelatih maupun organizer turnamen tenis. Khususnya petugas pertandingan seperti Referee seharusnya sudah menguasainya. Tetapi tidaklahheran masih banyak yang belum mengetahuinya jikalau tidak mau belajar dengan membaca peraturan2 yang mudah didapat jika belum mempunyai bukunya, yaitu melaui internet semua aturan bisa diakses. Khususnya bagi official (wasit) sudah punya akses khusus ke ITF dimana tidak semua orang termasuk saya bisa mengaksesnya karena tidak terdaftar sebagai wasit internasional.

Malam ini saya terima pertanyaan dari Surabaya masalah penentuan pemenang jika gunakan sistem round robin. Dimana ada 3 pemain ternyata saling kalah menang artinya ketiga tiganya menang 2 kali tapi kalah sekali. Kerena menerima telpon sambil menyetir kendaraan sehingga tidak bisa konsentrasi sehingga sayapun tidak gegabah memberikan keputusan maka sayapun menganjurkan agar menghubungi Admintrator Pertandingan Sdr Slamet Widodo yang juga sebagai Referee TDP. Mau menjelaskan berdasarkan feeling saja bukanlah suatu tindakan yang bisa dipertanggung jawabkan. Tidak usah malu membuka buku aturan aturan tersebut.

Jika kasusnya demikian berarti kemenangannya sama yaitu 2-1. Sekarang kita lihat prosentase setnya. Jika terlihat ada yang lebih unggul maka dinyatakan sebagai peringkat 1 kemudian jika 2 petenis lainnya sama setnya maka bukan head to head seperti perkiraan semua orang tetapi dilihat prosentase gamesnya. Jika masih sama pula maka tindakan terakhir adalah di UNDI

Kamis, 04 Juni 2009

Penawaran Akomodasi Atlet tenis di Surabaya


Surabaya, 4 Juni 2009. Ada penawaran yang menarik bisa dimanfaatkan oleh penyelenggara turnamen nasional maupun internasional di Surabaya. Masalah akomodasi khususnya di Surabaya, termasuk cukup pelik bagi petenis Indonesia karena jarak antara penginapan (murah) dengan lapangan Brawijaya cukup jauh sehingga bagi peserta luar kota Jakarta harus menggunakan taksi atau kendaran umum. Memang saat ini bagi petenis asing butuh hotel internasional sudah bisa berlapang dada karena sekitar 150 meter ada hotel di Surabaya Town Square (SUTOS).
Hari ini sebelum kembali ke Jakarta, singgah di lapangan Brawijaya ketemu Kolonel Agus yang ternyata Komandan BekAng Kodam Brawijaya yang bermaksud melihat latihan tim tenis Kodam Brawijaya yang dipersiapkan menghadapi Pekan Olahraga Angkatan Darat di Magelang. Sewaktu Kolonel Agus tiba kebetulan saya sedang duduk dekat pintu masuk berbincang bincang dengan rekan dari Surabaya Didik C Winardi membahas turnamen tenis Veteran.

Begitu melihat ada perwira menengah mau memasuki lapangan, langsung sayapun menyambutnya dengan ramah. Diapun tidak tahu kalau ada turnamen nasional UFO junior Open yang sedang berlangsung di Surabaya ini. Kemudian saling memperkenalkan diri, beliau menawarkan penginapan untuk atlet tenis di jalan Hayam Wuruk. Ada mess yang bisa dimanfaatkan dengan harga yang cukup terjangkau dibawah Rp. 100 ribu dengan adanya pendingin udara dan tempat tidur yang memadai karena mess tersebut digunakan untuk perwira Angkatan Darat. Langsung cari pengurus Pelti Provinsi dilapangan tetapi tidak kelihatan , akhirnya ambil inisiatip panggil Sony Irawan Referee UFO Junior Open yang juga salah satu Wasit White Badge di Surabaya. Diharapkan jika adakan turnamen Widjojo Soejono Semen Gresik yang di bulan Nopember 2009 bisa memanfaatkan fasilitas tersebut.
Jikalau jauh jauh hari sudah persiapkan dengan petugas Kodam maka semua bisa diatur dengan baik.

Memang uluran tangan dari perwira menengah Kodam Brawijaya ini sangat bermanfat untuk petenis daerah yang sangat butuh fasilitas akomodasi yang murah.
Disamping itu pula bisa juga memanfaatkan mess Kodam Brawijaya di Jakarta (jalan Matraman Raya) jika masih diperlukan untuk kegiatan turnamen tenis di Jakarta.
"Waduh, tidak percuma jalan jalan ke Surabaya bisa bertemu dengan pecinta tenis lainnya dan diteruskan kepada penyelenggara turnamen. Ini manfaat yang bisa dirasakan karena saya bisa memanfaatkan kesempatan yang didapat untuk tenis Indonesia juga."
Setelah itu Kol Agus selaku koordinator PTAD (Persatuan Tenis Angkatan darat) Kodam Brawijaya minta ijin melihat atlet atlet Kodam Brawijaya berlatih.

Perbincangan sejak semalam dengan rekan Didik C Winardi didapatkan informasi kalau akan diadakan juga turnamen tenis VETERAN pada tanggal 7-9 Agustus 2009 di lapangan tenis Brawijaya dengan hadiah Rp. 50 juta. Waduh, dapat lagi info menarik agar para petenis veteran ada lahan pertandingan. Kelihatannya BAVETI belum tahu rencana ini. Ya, sudah beritahu saja kepada mereka. Bravo VETERAN

Rabu, 03 Juni 2009

Jalan Jalan Ke Surabaya


Surabaya, 3 Juni 2009. Meninggalkan kota Jakarta yang sudah sumpek karena kebisingannya merupakan salah satu solusi menghilangkan kesibukan sehari hari. Semalam selesai ikuti rapat persiapan PON Tenis di sekretariat PP Pelti di Senayan.
Tepat pukul 04.00 pagi sudah harus bangun persiapkan diri menuju ke Bandara Soekarno Hatta untuk terbang dengan Batavia Air ke Surabaya.

Ini untuk yang ketiga kalinya ke Surabaya di tahun 2009 dalam rangka turnamen tenis nasional UFO Junior Open yang dibuka hari ini oleh Johannes Susanto Ketua Bidang Pertandingan P Pelti di lapangan tenis Brawijaya Surabaya.

Tepat pukul 12.00 sudah waktunya makan siang, berangkatlah ke restoran IBC didaerah Darmo, menikmati ikan Nila bakar dan gurame. Dengan sambalnya yang kurang pedas, berbeda dengan sambal makanan Manado yang bisa membuat seluruh baju akan penuh keringat. Tetapi akhirnya ikan Nila bakar habis juga bersama gurame. Ini lapar atau memang enak sulit membedakannya. Dasar lapaar lebih tepat.

Selesai tugas makan siang maka masuk hotel Singgasana yang dulu dikenal dengan hotel Hilton Surabaya. Waktunya dinner, tepat pukul 20.15 keluar menuju ke SUTOS (Surabaya Townsquear) yang di Jakarta dikenal dengan CITOS didaerah Cilandak. Masuk ke tempat ini penuh dengan resto modern, dan masuk ke Malay Village. Berbagai makanan ikan maupun kangkung dan makanan lainnya seperti layaknya di Singapore. Ada lagi minuman es cendol durennya. Semua ini cukup bisa dinikmati bersama Freddy Tedja, Didit, Bonit Wiryawan ngobrol sampai pukul 24.00.
Karena waktu sudah malam maka kembalilah ke hotel Singgasana untuk beristrahat.